Nasional

Pelukis Amrus Natalsya Adakan Pameran Tunggal Untuk Terakhir Kalinya

Jakarta, Prokabar – Pelukis dan pematung Amrus Natalsya kembali mengadakan pameran tunggalnya yang bertajuk, “Terakhir, Selamat Tinggal dan Terima Kasih”.

Pameran ini merupakan hasil kerja sama dengan Taman Ismail Marzuki dan Etty Mustafa Art Collection yang bertempat di Galeri cipta II Taman marzuki pada tanggal 14 – 23 Juli mendatang.

Etty Mustafa mengungkapkan bahwa pameran ini dibuat untuk terakhir kalinya oleh sang perupa beraliran revolusionary realism ini mengingat umurnya yang tidak lagi muda.

Karya Amrus Natalsya

“Di dalam pameran ini Amrus Natalsya akan menampilkan sekitar 50 karya-karyanya yang banyak mengangkat tema sosial seperti lukisan kanvas dan lukisan pahat bertema pasar, Pecinan dan patung kapal Nuh,” ujar Etty dalam siaran persnya yang diterima Prokabar.com.

Pada pameran tersebut rencananya akan dihadiri langsung oleh tokoh Sanggar Bumi Tarung seperti Amrus Natalsya dan Misbach Thamrin dan dibuka langsung oleh Gubernur DKI, Anies Baswedan.

Salah satu kurator seni Indonesia Agus Dermawan menambahkan, lukisan kayu Amrus telah menghasilkan karya yang berciri khas pribadi. Dengan lukisan Amrus berhasil menemukan jejak-jejak traditionalitas.

“Pameran tunggal ini adalah bukti keberadaan (eksistensi) Sanggar Bumi Tarung dalam sejarah seni rupa indonesia sejak 58 tahun yang silam. Ketika pendirinya Amrus Natalsya berumur 28 tahun saat itu,” beber Agus.

Disisi lain, Kurator pameran Mahardika Yudha mengatakan Proyek seni kehidupan masyarakat di pecinan adalah salah satu filen fitur dari Amrus Natalsya yang kembangkan sejak reformasi 1998. Tema ini dipilih sebagai bentuk empatinya pada situasi masyarakat indonesia ketika terjadi peristiwa Mei 1998.
Sebagai informasi, Amrus Natalsya lahir pada 21 Oktober 1993, di Medan, Sumatera Utara. Putera dari pasangan Rustam Syah Alam dan Aminah, ini sejak kecil, sudah menunjukkan bakat seninya. Pada tahun 1954, Ia memulai pendidikan seni di ASRI Yogyakarta. Sejak saat itu Amrus mulai menghasilkan karya berupa patung dan lukisan.

Amrus juga dikenal sering mengangkat tema sosial dan kesulitan yang dihadapi manusia sehari-hari dalam karyanya. Di tahun 1955, patung hasil karya pertama Amrus yang berjudul ‘Orang Buta yang Terlupakan’ dibeli oleh Presiden Soekarno ketika dipamerkan dalam “LUSTRUM Pertama Asri” di Sono Budoyo, Yogyakarta. Presiden Soekarno kemudian juga mengkoleksi karya Amrus lainnya yang berjudul “Kawan-kawanku”. (beb)

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top