Painan, Prokabar – Direktur PDAM Tirta Langkisau (TL) Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) Herman Budiarto, mengaku kehilangan air mencapai 40 persen per tahun akibat banyak meteran yang rusak di makan usia.
Kondisi itu memicu kerugian relatif besar, jika dikalikan dengan biaya produksi yang senilai 3.650 per kubik. Meski demikian, persoalan tersebut hingga kini belum bisa diatasi, karena investasi mahalnya biaya investasi penggantian meteran.
“Sementara neraca keuangan perusahaan sampai kini terus merugi akibat operasional yang tinggi, bahkan jelang akhir tahun ini masih tercatat kerugian Rp200 juta,” ujarnya pada Prokabar.com (31/12).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total penjualan air Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) air minum itu sepanjang 2020 tercatat 4.478.150 kubik atau senilai Rp13,2 miliar dari 25 ribu lebih pelanggan.
Sedangkan di lain sisi, lanjut Herman, biaya operasional nyaris sama besarnya dengan pendapatan, sekitar Rp1,1 miliar tiap bulan atau Rp12,3 miliar per tahun, sehingga tidak bisa mengembangkan sayap bisnis.
“Tanpa adanya tanpa suntikan modal dari pemerintah kabupaten melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sulit bagi perusahaan melebarkan sayap bisnisnya,” tururnya.
Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) meminta PDAM agar rutin mengganti meter air pelanggan yang usianya sudah di atas lima tahun untuk menghindari kebocoran air non-fisik.
Meminimalisir kebocoran fisik, dengan menjamin keandalan jaringan perpipaan akibat usia, bocor pada sambungan serta penyebab lainnya yang memicu kehilangan air. Kemudian mengantisipasi kebocoran non-fisik seperti pencurian air.
Selain menekan kerugian, pengurangan resiko kehilangan air akibat kebocoran juga mempercepat upaya perluasan jangkauan layanan pada wilayah-wilayah yang hingga kini belum terjangkau jaringan perpipaan PDAM.
Sementara, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021-2026 mengkonfirmasi keterjangkauan layanan air bersih kini sebesar 87,37 persen.
Kemudian pada 2022, pemerintah daerah yang berjuluk ‘Negeri Sejuta Pesona’ itu menargetkan jangkauan layanan air bersih meningkat menjadi 89,37 persen, dengan proyeksi pendanaan senilai Rp23,6 miliar.
Sedangkan sampai penghujung tahun usia RPJMD, pemerintah kabupaten mematok luasan pelayanan hingga 92,21 persen, dengan kebutuhan modal diperkirakan mencapai Rp137 miliar lebih.
“Dari 15 kecamatan yang ada, Ranah Ampek Hulu Tapan dan Basa Ampek Balai Tapan adalah yang terendah, dengan hanya 270 pelanggan,” jelasnya.
Sebelumnya, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Pesisir Selatan, Hanafi Herman meminta pemerintah kabupaten agar mengevaluasi status PDAM Tirta Langkisau sebagai salah satu BUMD.
Menurutnya, sikap pesimis direktur dan kondisi keuangan perseroan yang parah membuatnya sulit untuk berkembang. Sebaiknya perlu pengkajian statusnya dari badan usaha, menjadi layanan umum.
“Kalau perlu Unit Pelayanan Teknis di bawah salah satu perangkat daerah, sehingga bisa lebih efisien dan target perluasan layanan lebih cepat terealisasi,” tutup politisi asal Dapil I Pesisir Selatan itu. (min)
















