Panorama Tabek Patah di Sini Angin Menari-nari

Penulis -

Kamis, 10 Mei 2018 - 23:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tanah Datar, Prokabar — Daun-daun cemara ditiup angin lintang. Mendesau. Sebuah kopel di puncak tempat siapa saja bisa memandang ke lereng dan lembah. Aduhai! Itulah Panorama Tabek Patah.

Panorama tua ini terletak di Nagari Tabek Patah, ibu kecamatan Salimpaung, Tanah Datar, Sumbar. Jauh di bawah arah ke timur terlihat hutan rakyat, sawah dan Nagari Tanjung Alam dan Barulak.

Panorama di ruas jalan Batusangkat-Baso/ Piladang itu, kini bersolek. Sebelumnya, panorama ini sempat mati suri dan ditinggalkan wisatawan karena tak lagi terawat. Kini, panorama terus berbenah, dan pengunjungpun mulai kembali berdatangan guna menikmati keindahan alam Luhak Nan Tuo.
Untuk bisa sampai ke Panorama Tabek Patah ini, hanya berjarak sekitar 20 kilometer atau 30 menit perjalanan dari pusat kabupaten yaitunya, Batusangkar, kota kecil nan nyaman.

Panorama tabek patah.

Untuk bisa menikmati keindahan panorama ini, Anda hanya akan dikenakan karcis masuk Rp5.000 untuk wisatawan domestik dan Rp7.000 untuk wisatawan mancangera. Di lokasi wisata ini, Anda akan mendapatkan kenyamanan engan nuansa alamnya yang masih asri dan alami khas Minangkabau. Di sinilah angin bernyanyi senandung alam nan tiada duanya.
Udaranya yang sejuk, secara otomatis membuat anda betah untuk berlama lama di tempat ini.

Dari sini Anda bakal melihat bentangan alam berupa hamparan sawah, gugusan Bukit Barisan dan Gunung Marapi yang terletak di barat panorama. Tak hanya itu, anda juga dapat melihat Kota Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota dari atas objek wisata ini. Kerenkan!

Guna memanjakan pengunjung, Saat ini, pengelola juga telah menyediakan beberapa insfrastruktur pendukung. Sebut saja, pendopo, spot selfie hingga rumah pohon yang dapat dinikmati secara gratis oleh setiap wisatawan.

Meski demikian, objek wisata ini masih membutuhkan sentuhan tangan tangan kreatif. Terlebih, saat ini persaingan pengelolaan pariwisata di Sumatra Barat kian bersaing ketat. Tak jarang, pengunjung sebuah destinasi wisata kerap mengeluhkan minimnya insfrastruktur, sarana dan prasarana dari sebuah objek wisata tersebut.

“Panorama Tabek Patah sangat indah, namun masih terdapat beberapa kekurangan, seperti tidak adanya wahana permainan, baik bagi anak-anak mapun orang dewasa.

Panorama tabek patah.

Hendaknya, kekurangan tersebut dilengkapi agar wisatawan tak bosan datang ketempat ini,” ujar Fany salah seorang wisatawan asal Kota Batiah Payakumbuh. (eym)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wonderland Hadir di CitraRaya Jambi, Tambah Pilihan Wisata Keluarga
Daerah Istimewa Yogyakarta Jalani Program Beti Dewi Kemenparekraf/Baparekraf
Dorong Pelaku Parekraf Desa Wisata di Malang, Menparekraf Kemas Paket Wisata Menarik
‘Beti Dewi’ Program Kemenparekraf Tingkatkan Promosi Digital Desa Wisata Labuan Bajo
Tingkatkan Daya Saing, Dinas Pariwisata Padang Gelar Pelatihan Pengelolaan Usaha Homestay
40 Desa Wisata Sumbar Masuk Nominasi 500 Desa Terbaik di Indonesia
Dispar Padang Berikan Pelatihan Tata Kelola, Bisnis Dan Pemasaran Destinasi Pariwisata
Pelaku Usaha di Pantai Air Manis Ikuti Pelatihan Kebersihan Lingkungan, Sanitasi dan Pengelolaan Sampah

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 21:37 WIB

Wonderland Hadir di CitraRaya Jambi, Tambah Pilihan Wisata Keluarga

Senin, 2 September 2024 - 20:53 WIB

Daerah Istimewa Yogyakarta Jalani Program Beti Dewi Kemenparekraf/Baparekraf

Selasa, 30 Juli 2024 - 21:21 WIB

Dorong Pelaku Parekraf Desa Wisata di Malang, Menparekraf Kemas Paket Wisata Menarik

Jumat, 26 Juli 2024 - 09:54 WIB

‘Beti Dewi’ Program Kemenparekraf Tingkatkan Promosi Digital Desa Wisata Labuan Bajo

Selasa, 11 Juni 2024 - 19:16 WIB

Tingkatkan Daya Saing, Dinas Pariwisata Padang Gelar Pelatihan Pengelolaan Usaha Homestay

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB