Nur Sutan Iskandar dan Potret Rumah Baca di Nagari Sungai Batang

Penulis -

Senin, 30 Juli 2018 - 20:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Prokabar – Nur Sutan Iskandar, tidak banyak orang mengenal nama ini kecuali bagi seorang sastrawan tempo dulu. Ia cukup termashur dimasa Penjajahan Belanda dan Jepang. beliau lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Sumatra Barat, 3 November 1893 dan meninggal di Jakarta, 28 November 1975 pada Umur 82 tahun. Nama aslinya Muhammad Nur, dan mendapat gelar Sutan Iskandar dari keluargannya.

Pada catatan sejarahnya (Wikipedia Ensklopedi Bebas), ia berhasil menamatkan sekolah rakyat tahun 1909 dan sempat bekerja sebagai guru bantu. Pada tahun 1919, Nur hijrah ke Jakarta dan berhasil bekerja di Balai Pustaka sebagai korektor naskah karangan. Sampai akhirnya menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Balai Pustaka (1925-1942). Pada 1942-1945 ia diangkat menjadi Kepala Pengarang Balai Pustaka.

Nur Sutan Iskandar tercatat sebagai sastrawan terproduktif di angkatannya. Selain mengarang karya asli ia juga menerjemahkan buku-buku karya pengarang asing seperti Alexandre Dumas, H. Rider Haggard dan Arthur Conan Doyle.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Banyak karya yang telah ia lahirkan seperti  Apa Dayaku karena Aku Perempuan (Jakarta: Balai Pustaka, 1923), Cinta yang Membawa Maut (Jakarta: Balai Pustaka, 1926), Salah Pilih (Jakarta: Balai Pustaka, 1928), Abu Nawas (Jakarta: Balai Pustaka, 1929), Karena Mentua (Jakarta: Balai Pustaka, 1932), Tuba Dibalas dengan Susu (Jakarta: Balai Pustaka, 1933), Dewi Rimba (Jakarta: Balai Pustaka, 1935), Hulubalang Raja (Jakarta: Balai Pustaka, 1934), Katak Hendak Jadi Lembu (Jakarta: Balai Pustaka, 1935), Neraka Dunia (Jakarta: Balai Pustaka, 1937), Cinta dan Kewajiban (Jakarta: Balai Pustaka, 1941), Jangir Bali (Jakarta: Balai Pustaka, 1942), Cinta Tanah Air (Jakarta: Balai Pustaka, 1944), Cobaan (Turun ke Desa) (Jakarta: Balai Pustaka, 1946), Mutiara (Jakarta: Balai Pustaka, 1946), Pengalaman Masa Kecil (Jakarta: Balai Pustaka, 1949), Ujian Masa (Jakarta: JB Wolters, 1952, cetakan ulang), Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas II (Jakarta: JB Wolters, 1952), Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas III (Jakarta: JB Wolters, 1952), Peribahasa (Karya bersama dengan K. Sutan Pamuncak dan Aman Datuk Majoindo. Jakarta: JB Wolters, 1946), Sesalam Kawin.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Potret Rumah Baca Nur Sutan Iskandar

Rumah Baca Nur Sutan Iskandar terletak bersebelahan Rumah Tuanya di komplek Pasar Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Sejak didirikan Dinas Pariwisata Kabupaten Agam, 2006 yang lalu, tingkat kunjungan semakin menurun atau sepi kunjungan.

Biasanya, Rumah Baca itu ramai dikunjungi pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah, karena kaya bahan bacaan. Namun beberapa tahun belakangan ini, pelajar semakin sedikit mengunjungi Rumah Baca peninggalan penulis dan pujangga nasional asal Danau Maninjau tersebut.

Menurut Jusni, pengelola rumah baca sekaligus keponakan dari almarhum Nur Sutan Iskandar menyebutkan, ia sangat prihatin atas minimnya minat baca pelajar saat ini. Seharusnya, untuk mendapatkan ilmu, dibutuhkan bahan bacaan sebagai referensi dan wawasan. Padahal perpustakaan tersebut menyediakan buku bacaan yang sangat kaya dengan ilmu pengetahuan. Bahkan ada buku karangan sastrawan asal Belanda dan Inggris.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Jusni juga berharap kepada pemerintah daerah untuk menambah buku-buku lainnya, sehingga bahan bacaan semakin menari minat baca generasi penerus, khususnya di Kecamatan Tanjung Raya Maninjau.

“Saat ini bahan bacaan semakin menipis karena banyak pengunjung yang meminjam dan sering dibawa tanpa sepengetahuan penjaga atau pengelola. Dan untuk mengatasi tersebut, saya akan memperketat pengunjung, terutama yang suka meminjam dan membawa buku keluar Rumah Baca ini. Kami juga berharap kepada Pemerintah Daerah maupun donator lainnya untuk menambahkan buku-buku terbaru yang dapat menarik pelajar membaca buku di Rumah Baca Nur Sutan Iskandar ini,” tutup Jusni. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Atlet Voli Porprov XVI Sumbar Berpeluang Tampil di Proliga 2027
Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 
Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:04 WIB

Atlet Voli Porprov XVI Sumbar Berpeluang Tampil di Proliga 2027

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB