Tanah Datar, Prokabar – Kesedihan dan air mata Ermida (26) dan Syafri (26), pasangan suami istri warga Jorong Sungai Salak, Nagari Koto Tangah Kecamatan Tanjung Emas, Tanah Datar tak bisa terbendung saat melihat buah hatinya yang harus menanggung derita karena menderita penyakit hydrocephalus atau terjadinya penumpukan cairan pada otak.
Naira, Balita berusia 4 tahun 8 bulan ini, kini hanya bisa terbaring lemah. Jangankan untuk bergerak bebas, untuk menggerakan bagian kepalanya saja, Naira tak lagi sanggup. Hal ini tak lain karena bagian kepala Naira yang terus membesar karena penyakit yang diderita.
Sesekali, kakaknya Alfin (7) dan saudara kembarnya Nabil menatap iba kepada Naira adik bungsu yang tergeletak di tempat tidur.
“Sejak lahir Naira telah mempunyai kelainan di sekitar kepala. Pihak rumah sakit yang melakukan pemeriksaan memvonis anak kami menderita hydrocephalus dan harus mendapat perawatan,” ungkap Ermida.
Beratnya cobaan, terus ditanggung, seperti tak pernah berujung. Satu-satunya usaha yang dilakukan pasutri ini, kini hanya berdoa dan berdoa, demi kesembuhan buah hati.
Bekerja sebagai petani tentu mustahil mendapatkan pundi-pundi rupiah dalam waktu dekat. BPJS yang semestinya bisa membantu, tidak lagi bisa digunakan karena dinyatakan tidak lagi berlaku sejak 3 tahun lalu. Jangankan untuk membayar BPJS, untuk mengasapi dapur saja keluarga ini sudah pontang panting membanting tulang.
Agar kepalanya tidak membesar, dari kepala Naira dipasangi slang hingga bermuara di bagian perut yang posisinya membentang dari kepala ke perut.
“Sekali 5 tahun, selang itu harus diganti melalui operasi. Selang Naira harus diganti pada awal 2019 nanti, sementara biaya penggantian selang itu mencapai Rp100 Juta. jika pada operasi pertama kami memakai BPJS, kini BPJS Kami sudah mati sejak 3 tahun lalu karena tidak sanggup membayarnya,” ujarnya dengan perasaan pili.
Kini, sembari menunggu 2019 tiba, sang ayah serasa tidak sanggup lagi untuk memikul beban biaya yang akan harus mereka bayar.
“Hasil dari bertani dengan sawah yang kecil tentu berpenghasilan kecil pula. Jangankan untuk biaya berobat, kadang untuk makan saja mengharapkan bantuan dari sanak saudara,” keluh Syafri.
Ia berharap kepada pemerintah daerah dan dermawan bisa memberikan sedikit rezeki mereka untuk kesembuhan anak tercintanya.
“Hidup normal tanpa ada beban, itu harapan kami dan Naira dimasa akan datang.,” katanya.(eym)
















