Jakarta, Prokabar – Ini survei, bukan kejadian sebenarnya. Jika pilpres diadakan hari ini maka Jokowi menang.
Siapa pasangan Jokowi tak berpengaruh. Dolar naik sangat masalah. Hasil survei dirilis, Minggu (7/10).
Hasil survei Sjaiful Mujadi, Research & Consulting tentang tren elektabilitas capres pengalaman menjelang hari – H; temuan survei nasional, September 2018, menemukan sebagai berikut:
Jokowi dan Prabowo, jika dipilih sekarang, Jokowi: 60,2% dan Prabowo 28,7%. Tidak tahu dan tidak menjawab 11,1%.
Jika semua suara tidak tahu dan tidak menjawab semuanya lari ke Prabowo, suara yg diraih Prabowo baru 39,8%.
Tapi, masalah nilai tukar rupiah yg melemah terhadap dolar dan harga BBM bisa menjadi masalah bagi Jokowi. Tren bisa berbalik arah jika rupiah yg terus melemah terhadap dolar AS mengganggu perekonomian dan pemerintah akhirnya harus menaikkan harga BBM. Dalam 7 bulan ke depan, hal yg tak tertulis duga bisa saja terjadi.
Tren elektabilitas Jokowi terus menguat dibanding Prabowo. Cawapres tidak punya efek signifikan terhadap elektabilitas pasangan capres.
Dari pengalaman 3 kali pilpres, calon yang trennya unggul terus sulit dikalahkan pada hari H.
Petahana bisa kalah ketika menjelang Pilpres trennya memang kalah. Megawati sebagai petahana menjelang Pilpres 2004 sudah kalah beberapa bulan menjelang hari H, dan terbukti kalah pada hari H.
Petahana dipilih kembali pada hari H dan sesuai dengan tren elektabilitasnya yang unggul jauh-jauh hari. Ini dialami SBY
menjelang hari H 2009.
Tren elektabilitas Jokowi sebagai petahana menjelang 2019 lebih baik dari tren elektabilitas SBY menjelang 2009. SBY menang, dan peluang Jokowi untuk menang lebih baik.
Faktor-faktor makro yang dapat mengubah tren secara signifikan adalah ekonomi, penegakan hukum, dan kondisi kemanan.
Menjelang Pilpres 2009, kondisi makro tersebut secara umum baik, dan karena itu tidak mengubah tren keunggulan SBY.
Penilaian pemilih atas kondisi makro tersebut lebih baik menjelang 2019 di bawah Jokowi, dan kalau tidak ada perubahan berarti, peluang Jokowi untuk menang 2019 lebih besar dibanding SBY pada 2009 (yang waktu itu menang).
Masalahnya apakah kondisi makro tersebut dalam 6-7 bulan ke depan akan stabil atau bahkan lebih baik, atau sebaliknya?
Apakah kenaikan harga dollar, dan subsidi BBM yang menggerus anggaran, tidak mengubah penilaian masyarakat atas kondisi ekonomi nasional?
Bila pemerintah salah dalam mengelola masalah ini, tren positif dukungan pada Jokowi sekarang ini bisa berbalik arah.
Pemerintah SBY menjelang 2009 bisa mengatasi masalah ini, dan menang dalam Pilpres 2009. (mbb)
















