Daerah

Kualitas Udara di Sumbar Menurun, Ini Penjelasan GAW Bukit Kototabang

Dibaca : 255

Padang, Prokabar — Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang menemukan adanya indikasi penurunan kualitas udara yang terpantau di Bukit Kototabang. Tiga parameter kualitas udara utama, PM10, CO, dan O3 menunjukkan peningkatan konsentrasi sejak tanggal 1 Maret 2021 pukul 22:00 WIB.

“Hingga pukul 08:00 WIB pagi ini menunjukkan konsentrasi per jam PM10 tertinggi tercatat sebesar 60 μg/m3 pada pukul 03:00 WIB; CO sebesar 405 ppb pukul 00:00 WIB; dan O3 sebesar 34 ppb pukul 02:00 WIB,” kata Wan Dayantolis, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang seperti yang dilansir dari gawbkt.id.

Analisis sementara menunjukkan penurunan kualitas udara ini karena masuknya partikulat dari wilayah di sekitar Sumbar yang memiliki kejadian hotspot.

Masuknya partikulat tersebut karena perubahan komponen angin dari biasanya utara-timur laut menjadi timur-tenggara. Hal ini karena munculnya beberapa sirkulasi angin tertutup yang disebut “Eddy” pada Barat Sumatera.

Luaran model ECMWF untuk parameter PM2.5 mengindikasikan kondisi kualitas udara untuk periode 2-4 Maret 2021 yang BAIK, dengan konsentrasi rerata 24 jam PM2.5 berada pada level 12 μg/m3 (Batas atas konsentrasi rerata 24 jam PM2.5 untuk kategori kualitas udara BAIK berdasarkan PERMEN LHK No.14/2020 adalah 15,5 μg/m3).

Namun demikian, ada kecenderungan peningkatan konsentrasi PM2.5 di beberapa kabupaten dan kota untuk tanggal 4 Maret 2021. Pada tanggal tersebut diprediksi konsentrasi rerata 24 jam PM2.5 di wilayah-wilayah tersebut berada di atas 15,5 μg/m3. Kabupaten dan kota tersebut antara lain Padang Pariaman (16,9 μg/m3), Sijunjung (16,2 μg/m3), Tanah Datar (16 μg/m3), Kota Padangpanjang (16,1 μg/m3), Kota Sawahlunto (16,5 μg/m3), dan Kota Solok (17,4 μg/m3).

Berdasarkan data dari LAPAN, pantauan hotspot di Riau dalam tiga hari terakhir mencatatkan 81 hotspot yang terdeteksi dengan rincian 2 hotspot dengan tingkat kepercayaan TINGGI, 67 hotspot SEDANG, dan 12 hotspot RENDAH.

Selain dari pola pergerakan massa udara yang masuk ke Sumatera Barat, potensi peningkatan konsentrasi PM2.5 juga dapat berasal dari sumber-sumber lokal dari aktivitas pertanian, perkebunan, dan transportasi.

Halaman : 1 2

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top