
Oleh: Rizal Marajo
Wartawan Utama
Dalam dua dekade catatan perjalanan jurnalistik saya sebagai wartawan olahraga, separohnya area peliputan saya adalah sepakbola Indonesia. Hal itu pula yang membuat saya bisa membuat list stadion-stadion yang pernah saya masuki di Indonesia.
29 Stadion di Indonesia, tercatat sudah pernah menjadi area tugas saya. Mulai dari stadion standar internasional, sampai stadion kabupaten/kota. Satu hal yang tak pernah luput dari pengamatan saya di semua stadion itu, perilaku penonton atau suporter.
Dari sini saya punya hipotesa, fanatisme penggila sepakbola Indonesia itu memang dahsyat, heboh, bahkan “gila”. Padahal dari segi prestasi, sepakbola Indonesia itu belum kemana-mana, hanya berkutat disitu-situ saja.
Bukan pemandangan aneh melihat tribune-tribune stadion penuh, disesaki orang yang ingin memberi dukungan kepada klub kesayangannya. Olahraga yang satu ini tak hanya sekdar permainan, tapi sepertinya sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia.
Suporter bola, kalau kita bicara Indonesia, memang rata-rata bersenjatakan fanatis, terutama tim-tim yang secara tradisi memang punya basis suporter yang besar. Kalau sudah bicara fanatisme, kegilaan dan kecintaan para suporter itu kepada timnya memang tak bisa ditawar-tawar lagi.
Tetapi itulah suporter, tribun adalah rumah kedua mereka. Tempat terbaik mereka menyuarakan dan mengekspresikan semuanya, tempat terindah untuk menangis haru jika tim kesayangan menang.
Tapi sebaliknya, tribun juga terkadang menjadi tempat terburuk, jika tim mengalami kekalahan. Berbagai kejadian sebagai efek kekalahan juga berasal dari tribun. Reaktif, spontanitas, dan terkadang jadi liar, adalah dunianya suporter.
Ketika dunia jurnalis membawa saya ke stadion-stadion meliput sepakbola nasional, ternyata saya justru sangat menikmati, bahkan sedikit tergila-gila dengan sepakbola negeri ini.
Sebut saja, bersama Semen Padang FC saya kerap diundang ikut tur away. Menulis reportase atau live score pertandingan memang menyenangkan. Tapi mengamati polah dan style para suporter adalah bonus yang tak kalah menarik.
Rata-rata agresif, itulah karakater suporter sepakbola Indonesia. Dari semua Stadion yang pernah saya kunjungi, disamping menikmati ternyata juga ada rasa was-wasnya, terutama jika berada di Stadion luar Sumbar dan melibatkan klub-klub besar dengan basis masa pendukung berlimpah.
Beberapa kali saya pernah berada di tengah suporter klub besar dan fanatik seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, PSM Makassar, Arema, ataupun PSM Makassar. Bahkan juga suporter Persipura Jayapura.
Pengalaman yang beragam berada ditengah-tengah mereka. Ada yang menakutkan, tapi ada juga yang bersahabat.
Bersama tim Semen Padang FC, saya pernah mencapat teror dari suporter persib di Stadion Sliwangi, atau seramnya pendukung Juku Eja di Stadion Andi Matalatta Makassar. Juga betapa liarnya Aremania saat mnendukung timnya di Stadion Kanjuruhan.
Saya juga pernah bersama para Jakmania di partai usiran di Stadion Manahan Solo tahun 2011. Tapi saya juga telah mengalami manisnya sikap pendukung Persipura di Stadion Mandala 2003.
Walau timnya kalah dari Semen Padang, tapi mereka memberikan aplaus seusai laga kepada tim tamu. Bahkan sepanjang jalan menuju hotel, bus Semen Padang FC sedikitpun tak diusik. Bahkan dari balik kaca bus terlihat mereka mengacungkan jempol dan memberikan tepuk tangan. Sungguh, Jayapura terlalu manis untuk dilupakan.
Tapi pernah juga saya berada satu stadion dengan suporter klub Divisi lebih rendah dan suporternya jumlahnya tak terlalu banyak, semacam PSAP Sigli, PSSB Bireun, atau PSBL Bandar Lampung, Persikabo Bogor, atau PSDS Deli Serdang. Walau kecil, tapi mereka bisa juga sedikit “gila” dan agresif.
Nah, sudah seringkali dibahas dan ditulis, bahwa datang ke stadion di Indonesia selalu memunculkan ketegangan dan dibayangi rasa khawatir potensi rusuh. Pertanyaannya, seseram itukah stadion-stadion di Indonesia?
Memang ada kecendrungan fanatisme pada tim kesayangan makin kesini semakin tak terkendali dan agak kebablasan. Rivalitas yang sengaja dibuat panas. Maraknya sosial media ikut membantu memudahkan terjadinya pergesekan.
Padahal antar pemain di lapangan tak ada masalah, mereka profesional dengan seragam tim masing-masing.
Akan tetapi, perlu juga digaris bawahi, tak melulu suporter sepakbola Tanah Air identik dengan hal-hal negatif.
Sekarang bukan hal aneh melihat perempuan sudah mulai ikut “nyetadion” nonton bola. Bahkan ada keluarga kecil, pasangan muda dengan anak-anak mereka datang ke stadion kompak memakai jersey klub kesayangan
Saat ini kelompok suporter berbagai klub juga bersaing kreatifitas dalam mendukung tim kesayangan. Harus diakui atraksi mereka saat memberi dukungan lewat nyanyian atau koreo menjadi elemen penting yang membuat sepak bola Indonesia lebih terasa hidup.
Kesampingkan dan harap maklum saja kalau prestasi bal-balan kita belum kelas dunia, namun bicara kalau fanatisme dan aksi-aksi suporternya di tribune kita fantastis.
Tidak percaya, bahkan klub-klub Eropa yang menjalani tur pra musim atau sambil berlibur di musim panas ke Indonesia, dipastikan akan selalu memuji fanatisme suporter Indonesia sebagai suporter paling fantastis di dunia.
Terlepas pujian itu bagian dari marketing mereka karena Indonesia adalah pasar besar merchandise mereka, tapi itulah suporter sepakbola Indonesia yang semakin “diperhitungkan” di dunia sepakbola Internasional.
Apa yang mereka cari ke stadion?
Untuk menjawab hal ini saya mendapat jawaban yang riil, karena saya banyak belajar dan banyak berkomunikasi dengan para suporter. Yang terdekat sebut saja suporter Semen Padang FC semisal spartacks atau the Kmers.
Setidaknya apa yang mereka katakan adalah suara hati para suporter bola secara universal. Karena menonton pertandingan selama 90 menit akan terasa nikmat mereka hadir di stadion. Akan jauh beda suasananya menonton pertandingan di Stadion yang kosong melompong.
Mereka datang ke stadion memang untuk mendukung, mengekspresikan kecintaan dan loyalitas kepada tim dari tribun. Tak banyak yang mereka harapkan dari tim dan para pemainnya.
Bermain dengan penampilan yang penuh spirit, berjuang dengan bangga demi lambang di dada, dan tentunya mendambakan sebuah kemenangan. Itu saja sudah cukup.
Seorang suporter tak akan berharap dapat liputan eksklusif di media, tak menuntut ikut menikmati bonus atau hadiah kalau tim menang. Mereka juga tak berfikir dan terobsesi bisa ikut memegang piala jika tim kesayangan juara. Mereka sudah cukup senang ikut bergembira dibalik pagar tribun.
Namun, jujur saja sepakbola lokal kita belum spenuhnya bisa menjadi sebuah tontonan yang nyaman di tribun stadion. Terkadang ada risiko yang ditanggung.
Hati saya bergetar, tapi salut juga melihat ayah-ayah yang berani membawa anaknya, bahkan balitanya ke stadion, terutama di laga-laga rivalitas panas. Atau para gadis-gadis remaja ikut membaur berosrak, bernyanyi, ditengah-tengah suporter.
Saya pujikan nyali mereka, padahal mereka menyadari potensi-potensi negatif yang mungkin dan bisa saja terjadi.
Saya yakin banyak orang sesama penggemar bola berpikir yang sama. Mereka ingin membawa keluarga ke stadion, tapi takut akan risikonya.

Rapor Merah PSSI
Permasalahannya, problematik kenyamanan menonton bola ini tak pernah dibenahi secara serius oleh pihak-pihak berkepentingan. PSSI sebagai otoritas tertinggi sepak bola Tanah Air, sepertinya sudah tak berdaya mencari akar masalah kenapa sepak bola Indonesia terkadang bisa begitu menakutkan.
PSSI baru sebatas berkutat pada tata tata kelola dan menghidupkan industrinya. Tapi itupun tak juga mulus, karena kompetisi dan juga prestasi timnas juga amburadul.
Bagaimana mereka akan menyentuh dan mengurus hal-hal berbau sosial seperti suporter, sedangkan untuk urusan mengatrol prestasi dan menjalankan pembinaan sepakbola saja, rapor PSSI masih banyak merahnya.
Petinggi-petinggi kelompok suporter sejatinya menyadari, konflik-konflik di jajaran akar rumput anggota mereka makin ke sini makin kebablasan. Sejumlah orang berpengaruh di kelompok suporter sudah berupaya melakukan meretas jalan damai.
Namun, itu semua tidak bisa berjalan mulus, karena nihil kesepahaman bersama di kalangan akar rumput yang jumlahnya amat besar. Makanya pergesekan dan kericuhan antar suporter tetap ada.
Kelas Sosial
Bukan rahasia lagi, kalau suporter di Indonesia kerap diidentikkan dengan sekumpulan orang dengan tingkat perekonomian menengah ke bawah, sebuah jumlah kelas sosial yang mendominasi di negara ini.
Mereka menjadikan sepak bola sebagai sarana melupakan kesusahan kehidupan. Mereka yang sudah sering kalah dalam kehidupan, menumpukkan harapan ke klub kesayangannya.
Lewat identitas klub mereka bisa merasakan kemenangan, hal yang mungkin mereka tak dapatkan dalam kehidupan. Keceriaan dalam sepak bola bisa melupakan sejenak masalah masing-masing pribadi.
Jangan heran mereka bisa begitu marahnya, saat tim kesayangan kalah. Hal terindah dalam kehidupan mereka tersakiti. Apa iya sepak bola maknanya begitu besar buat mereka? Realitanya seperti itu. Sepak bola bagi masyarakat Indonesia merupakan sebuah harapan.
Anda mungkin bisa mengolok-olok klub-klub dunia seperti Liverpool, Manchester United, AC Milan, Barcelona, Real Madrid, tanpa menderita konsekuensi. Perang fans di media sosial pun lebih kepada bersenang-senang.
Tapi jangan pernah bicara negatif tentang Persija, Persib, Persebaya, Arema dsb. di hadapan fans fanatisnya. Sekalipun satu komentar di media sosial, itu akan memunculkan keributan.
Entahlah, buat mereka klub adalah identitas yang sudah menyatu dengan kehidupan. Tak bisa dipandang remeh.

Tragedi Kanjuruhan
1 Oktober 2022, Tragedi Kanjuruhan seperti menyadarkan kita, ada bom waktu masalah di dunia sepakbola negeri ini. Persoalan Suporter memang tak pernah dianggap dan ditangani serius.
Terasa menyayat hati, lebih dari seratus orang meninggal dunia. Bahkan banyak di antara mereka bukan dari kalangan suporter kebanyakan, tapi anak kecil dan wanita.
Yang memilukan mereka bukan oknum-oknum suporter yang masuk ke lapangan meluapkan kekecewaan karena tim kesayangan kalah dari rival. Mayoritas mereka yang jadi korban adalah orang-orang yang duduk manis di area tribune.
Fans datang ke stadion dengan membayar, mereka konsumen yang semestinya dilindungi. Bukan objek eksploitasi dengan berlindung dibalik industri sepak bola. Tapi justru mereka menjadi korban sia-sia.
Tapi saya tidak atau belum ingin mengubur hasrat untuk menyaksikan pertandingan sepakbola Indonesia ke stadion. Saya dan semua penikmat sepakbola Indonesia pasti masih berharap, mereka datang ke Stadion tanpa diganggu rasa takut.
Suatu saat, hari itu akan datang. Saya percaya Indonesia bangsa pemenang yang bisa bangkit setelah tragedi Kanjuruhan.
Turut berduka cita saudara-saudaraku Aremania di Malang. Salam Satu Jiwa!
















