Budaya

Kisah Perjuangan Peserta 1000 Tambua Tansa Pecahkan Rekor MURI

Foto : Dhan Nikon Art

Agam, Prokabar — Pejuangan adalah suatu keharusan seseorang atau kelompok agar dapat mencapai tujuan dan harapan. Dan usaha dari perjuangan tersebut tidak semudah ucapan ketimbang upaya nyata yang dilakukan.

Begitu pula yang dilalui Group Sanggar Tambua Tansa Beruang Hitam asal Jorong Bancah, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumbar ini. Merupakan salah satu dari ribuan orang yang diundang untuk mengikuti Festival Save Danau Maninjau di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur Sabtu (6/10). Kegiatan berlangsung sampai Minggu (7/10), ditutup dengan parade rekor muri 1000 Tambua Se-Indonesia.

Kelompok group Beruang Hitam itu dipimpin Romi Datuak Maharajo. Dari awal perencanaan mengikuti kegiatan sudah dibenturkan beragam permasalahan yang rumit.

“Awalnya kami tidak bisa pergi, sebab kami tau untuak ikut ke Jakarta butuh modal besar. Namun 10 hari keberangkatan, ada teman dari Lubuak Basung kebetulan pengurus sanggar Sagagang Siriah mengajak bergabung,” kata Romi.

Awalnya mereka telah mandaftarkan 2 grup untuak ke Jakarta. Karena ada masalah dengan satu group lainnya, akhirnya satu group sebelah membatalkan berangkat. Sehingga direncanakan group Beruang Hitam dapat kesempatan untuk ikut.

“Setelah kami berembuk, kami menyanggupi ajakan sahabat di Lubuk Basung itu dengan syarat pelatih tetap orang sanggat,” tegasnya.

Romi Datuak Maharajo kembali menjelaskan setelah hari ditentukan untuk latihan, tiba-tiba setelah latihan bersama terjadi ketidakcocokan dan mereka membatalkan untuk bergabung. “Jelas pembatal tersebut membuat hati sedikit kecewa,” ungkapnya.

Namun perjuang tidak sampai disitu lanjutnya. Angin segar kembali datang ketika perantau Ikatan Keluarga Maninjau atau IKM khsusunya dari Bancah, berembuk membahas serta memperjuangkan keikutsertaan 14 orang pemuda tersebut.

“Hingga 3 hari menjelang keberangkatan, informasi dari IKM masih belum juga sampai ujung pangkalnya. pada tanggal 2 Oktober 2018, kami pun menemui Walinagari Maninjau, Alfian meminta penjelasan. Dan beliau berkata: persiapkan seluruh anggota, tanggal 3 kita berangkat ke Jakarta,” terangnya.

Perjalanan pun berlanjut dengan Bus selama 3 hari 3 malam. Baru saja sampai di Cibubur sekitar pukul 11 malam, mereka malah melanjutkan latihan hingga jam 2 dini hari dan mengalami kelelahan. Sehingga hari pertama, 6 Oktoner 2018 itu, Festival atau perlombaan berlangsung tidak semaksimal dan seoptimal yang direncanakan. Apalagi mendapat nomor lot 2 dengan terik matahari sangat dahsyat saat itu.

“Kami harus puas dengan segala keterbatasan. Setidaknya kami telah berjuang semaksimal mungkin. Dan sebagai pengalaman terbaik pertama kami dalam membangun kebersamaan dan pelestarian kesenian rang Agam ini,” tutup R. Datuk Maharajo tersebut. (Rud)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top