Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

Ketika Orang Kampung Bertanya, Apa Itu New Normal?

Dibaca : 824

Oleh: Rizal Marajo
(Wartawan Utama)

Seorang perempuan paroh baya, tergopoh-gopoh datang bertanya. Dia mencirotet saja, sebelum masuk ke inti pertanyaan. Saya dengan sabar mendengarkan, sembari menghembuskan asap kretek dengan sero-nya.

“New normal tu apo lo tu Marajo, iyo lah buliah anak-anak wak sikola liak? Lai ndak baa tu? lai ndak ka kanai corona lo anak-anak wak du?. Itu berita nan kalua di Tipi santa ko ha.”

Nasrul Abit Indra Catri

Saya tergalenjek tagang mendapat rentetan pertanyaan mengketutus bak peluru yang berhamburan dari mulut AK-47 itu. Tak tentu apa yang akan saya jawab. Bukan apa-apa, saya tak menguasai bahan, kalau pertanyaannya hal-hal seperti itu. Lagi pula saya tak begitu peduli dan tak  berminat untuk terlalu kepo dengan new normal yang diusung-usung kian kemari oleh presiden Jokowi itu.

Kalau saja yang ditanyakan amak-amak tadi soal kelanjutan Liga Jerman, Liga Inggris, tentang AC Milan, soal bursa transfer pemain, atau setidaknya tentang Semen Padang FC  dan semua yang berkaitan dengan sepakbola, mungkin saya tak akan sepaniang ini. Berkepicing saja mungkin bisa saya jawab.

“Sabanta yo Ni, wak tanyoan ka mamak wak lu.” jawab saya sambil mengutak-atik android tua saya. Maksudnya  dibuka-buka dulu “mak google” , tentunya dengan menekan keyword, Apa itu new normal?. Seketika mengketutus pula dari atas sampai bawah link-link berita tentang new normal.

Makin paniang saya dibuatnya, sembari sedikit menyesali amak-amak  itu. Dikiranya wartawan itu orang yang serba tahu semuanya. Padahal tidak juga. Tapi setidaknya perempuan sebelah rumah itu telah menobatkan saya sebagai orang yang tepat sebagai tempat bertanya.

Bayangkan kalau dia bertanya misalnya kepada sesama amak-amak yang sama tak tahunya,  tentu  akan semakin tak jelas ujung pangkalnya karena terjebak opini masing-masing.  Yang seorang  bersitegang mengatakan ke mudik,  yang satu lagi mangareh pula ke hilir, alamat makin jauh panggang dari api.

Setelah mendapat definisi dari sebuah link, saya berusaha menjelaskan semampu saya apa itu new normal, dengan bahasa yang kira-kira dapat dimengertinya. Sebab, kalau dipakai pula bahasa Jokowi nan hebat luar biasa itu, bakal tambah pusing pula dia.

Dia mengangguk-angguk, entah mengerti entah tidak dia dengan penjelasan saya, yang jelas dia pamit dengan sepotong kalimat standar. “Yo lah Marajo, untuang-untuang capek barangkek corona ko,”ucapnya.

Sepeninggal perempuan itu, saya tuncik-tuncik lagi android untuk lebih memahami apa itu new normal. Nanti kalau ada yang bertanya lagi, saya tak terlalu stress menjawab seperti tadi. Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita, ternyata new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal.

Namun, perubahan ini ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Prinsip utama dari new normal, adalah menyesuaikan dengan pola hidup. Protokol kesehatan menjadi aturan yang disebutkan dalam implementasi new normal, yakni menjaga jarak sosial dengan mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Selebihnya tetap pakai masker kemana-mana dan rajin-rajin cuci tangan.

Artinya, masyarakat akan menjalani kehidupan new normal hingga ditemukan vaksin, yang dapat digunakan untuk menangkal virus corona. “Transformasi ini adalah untuk menata kehidupan dan perilaku baru, ketika pandemi, yang kemudian akan dibawa terus ke depannya sampai ditemukan vaksin untuk Covid-19,”kecek  apak tu dalam link.

Jika merujuk pendapat para ahli dan pakar kesehatan dunia, vaksin corona baru akan tersedia pada tahun 2021 mendatang. Artinya, new normal yang harus dijalani oleh masyarakat harus dilakukan paling tidak hingga tahun depan, bahkan kemungkinan lebih lama lagi.

Itu sebabnya Presiden Jokowi mengajak hidup berdamai dengan Covid-19. New normal pada akhirnya menjadi kondisi yang harus dihadapi masyarakat agar dapat hidup berdampingan dengan ancaman virus corona baru ini.

Lalu bagaimana prosedur new normal itu?
Lagi-lagi saya terpaksa mengandalkan link, menurut Keputusan Menteri Kesehatan, setiap perusahaan wajib punya Tim Penanganan Covid-19 di tempat kerja dan mengatur sejumlah kebijakan terkait pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah dan tidak. Perusahaan diharapkan meniadakan shift 3 dan kalaupun terpaksa ada, pekerja di jadwal tersebut diutamakan berusia kurang dari 50 tahun.

Pekerja diwajibkan menggunakan masker sejak perjalanan dari rumah menuju tempat kerja. Perusahaan juga wajib memastikan seluruh area kerja bersih dan menjaga kualitas udara kantor.

Di beberapa negara, pelonggaran lockdown tidak berbuah baik. Di Prancis misalnya, yang kasus positif disana mulai menurun, tetapi justru kasus positif Covid-19 meningkat lagi sehari setelah lockdown dilonggarkan. Kasus serupa terjadi di Italia.

Bagaiamana jadinya jika pelonggaran tetap  dilakukan di tengah kurva yang masih menanjak seperti di negeri +62 ini? Apakah pemerintah mengorbankan kesehatan masyarakat demi perekonomian?

Menteri Keuangan Sri Mulyani pun setengah ngeles mengatakan, kesehatan dan ekonomi tak dapat dipisahkan. Prosedur new normal ini dinilai paling tepat dilakukan. “Tidak ada trade-off (pertukaran) antara kesehatan dan ekonomi. Keduanya ibarat bayi kembar siam yang tidak dipisahkan, maka kalau tidak ada kesehatan, tidak ada ekonomi, begitu juga sebaliknya,” ujar ibuk menteri keuangan yang disebut-sebut terbaik di dunia itu.

Entahlah, setelah dua bulan lebih rakyat negeri ini terbiasa menjaga jarak dan mengurangi aktivitas di luar rumah, seharusnya, tidak akan sulit  untuk memasuki era normal baru. Tetapi, ini tidak akan berjalan ‘normal’ apabila tidak didukung dengan kebijakan yang tepat, misalnya, jam kerja kantor, operasi angkutan umum, aktifitas  pendidikan dan sekolah, mall, pasar rakyat, dan lain sebagainya.

Pemerintah diharapkan benar-benar membuat skenario yang utuh sebelum benar-benar masuk ke era normal baru dimaksud. Jika tidak, new normal hanya akan jadi senjata terbaik bagi Covid-19 untuk menciptakan gelombang kedua penularan.

Makin paniang! Saya teringat lagi amak-amak tadi, kalau betul informasi sekolah-sekolah akan dibuka normal kembali, tentunya wajar dia mencemaskan anak-anaknya yang “dilepas” kembali keluar rumah, walaupun itu  ke sekolah. Mungkin kecemasan itu mewakili kecemasan ribuan, bahkan jutaan  ibu-ibu lain di negeri ini.

Ah sudahlah, untuk saat ini saya tak tertarik dengan itu semua. Saya lebih senang memakai sepatu boot, pakai kupiah, dan pakai “seragam dinas” seperti biasanya, lalu melangkah ke parak. Rutinitas day by day yang saya lakoni beberapa bulan terakhir, dan sangat saya nikmati.

Well,  disambut hamparan hijau yang tumbuh subur dan rimbun itu luar biasa rasanya.  Bercengkrama dengan tanaman cabe, jehe, buncis, bawang prei, seledri dan terong dalam satu lahan itu, membuat mata lebih sehat, perasaan lebih tenteram, dan pikiran pun jadi jernih, sembari tak henti-henti mengucap rasa syukur.  Mudah-mudahan semua yang tumbuh subur itu menjadi rezeki yang berkah untuk keluarga. Alhamdulillah Ya Allah.(*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top