Penulis: Rizal Marajo
Tanggal 17 Agustus pastinya menjadi tanggal spesial bagi rakyat Indonesia. Hari Ulang Tahun bangsa itu, masih tetap hangat diperingati setiap tahun. Ornamen merah putih bertebaran dimana-mana.
Makin lengkap, hari itu adalah hari pesta rakyat yang dimeriahkan dengan berbagai lomba khas 17 Agustus-an, karena memang itu harinya bergembira. Mulai dari level RT, desa, kampung, sampai yang level nasional ada kegiatan yang dibungkus tema baku; dalam rangka memeriahkan HUT RI.
Khas 17 Agustus itu tak akan jauh-jauh dari namanya lomba pacu karung, pacu kelereng, tarik tambang, makan kerupuk, sepakbola daster, dan sebagainya. Namun, yang paling fenomenal dan menjadi icon 17 agustusan tentulah panjat pinang.
Ibarat pertandingan tinju atau konser musik, panjat pinang adalah main event-nya atau partai utamanya. Belum lengkap 17 Agustus tanpa acara panjat pinang. Namun, sampai detik ini masih ada yang pro kontra seputar lomba panjat pinang.
Mereka yang sudah menelusuri sejarah, sangat sulit menerima panjat pinang sebagai sebuah budaya atau ajang untuk bergembira ria anak bangsa, jika melihat historis panjat pinang sebagai sebuah warisan kolonial yang dianggap merendahkan bangsa, bahkan sebuah penindasan.
Menguak Sejarah Panjat Pinang, di zaman penjajahan Belanda, perlombaan ini dikenal sebagai de Klimmast, yang memiliki arti ‘memanjat tiang’. Pada tahun 1920-an, yang dipasang di puncak untuk diperebutkan adalah bahan makanan dan pakaian.
Yang berlomba-lomba saling menginjak tak lain orang-orang lokal atau penduduk pribumi Indonesia saat itu. Yang ikut lomba pun bebas, siapa saja. Saling injak demi mendapatkan hadiah, yang umumnya makanan atau pakaian, karena dua ini merupakan kebutuhan pokok yaitu sandang dan pangan.
Orang-orang yang mengikuti permainan panjat pinang untuk memperebutkan benda-benda yang bergantung di atasnya, seperti kemeja, celana, dan lain-lain karena memang pada saat itu benda tersebut adalah barang mewah bagi pribumi.
Sementara pribumi Indonesia bersusah payah memanjat, berebut, saling injak, saling menjatuhkan untuk meraih hadiah, orang-orang Belanda hanya menonton dari bawah. Para tuan meneer, para nyonya, dan noni-noni Belanda merasa terhibur, merasa lucu, dan tertawa-tawa melihat peserta panjat pinang bertarung demi hadiah.
Almarhum Mestika Zed, dalam kelas kuliahnya yang saya ikuti sekitar 30 tahun lalu dan masih terngiang sampai sekarang, pernah menyinggung panjat pinang tak ubahnya sebuah penindasan dan pelecehan. Pribumi jadi bahan hiburan dan bahan tertawaan di negerinya sendiri.
Karena yang main panjang pinang itu hanya pribumi, para bule Belanda tak ada ikut. Mereka tertawa melihat pribumi melorot, jatuh, berkubang lumpur dan oli, bahkan tidak sedikit yang terjatuh dan meninggal.
Itu sebabnya banyak orang menganggap bahwa panjat pinang hanya membawa kenangan buruk di masa penjajahan. Masa-masa di mana kita, bangsa Indonesia, ditindas dan ditertawakan oleh bangsa lain yang menjajah kita.
Ironisnya, memori ditertawakan penjajah itu justru dipelihara berpuluh-puluh tahun dengan rasa gembira dan bangga. Bahkan dijadikan puncak perayaan HUT Kemerdekaaan bangsa.

Masih kata Mestika, panjat pinang mirip dengan minum kawa daun, yang dianggap sebagai tradisi dan mudaya yang perlu dilestarikan. Padahal, melayu minum kawa itu karena tak bisa minum bubuk kopi dari biji kopi berkualitas yang sudah diborong dengan harga murah oleh Belanda dan dibawa ke negerinya.
Sementara para Melayu cukup ngopi dengan daun kopi yang diasapi atau direbus, dan mereka minum dari tempurung kelapa. Ironi yang digambarkan ahli sejarah Sumbar itu dalam tesisnya, “Melayu Kopi Daun”.
Kembali ke panjat pinang, poin pentingnya, apakah dengan panjat pinang akan didapatkan nilai dan makna, bahwa bangsa ini bisa makin belajar sejarah bangsa sendiri. Apakah dengan panjat pinang para generasi muda semakin kenal dengan para pahlawan yang telah berjasa memerdekakan bangsa ini.
Sepertinya tidak, panjat pinang tetaplah sebuah lompa yang telah dilupakan historisnya, tetap bangga dan tertawa-tawa berpacu, berebut, saling injak dan saling menjatuhkan untuk bisa mencapai hadiah yang tak seberapa. Beberapa daerah di Indonesia, seperti Aceh misalnya melarang lomba panjat pinang.
Walau begitu, tetap ada yang menilai sisi positif dari panjat pinang, karena dianggap bisa jadi ajang meneladani perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Nilai positif yang bisa diambil, yaitu kerja sama, semangat, dan pantang menyerah untuk meraih sesuatu.
Entahlah, tergantung kita menilai apakah panjat pinang itu sesuatu yang bernilai atau sesuatu yang tak ada gunannya. Yang jelas saya sejak dulu tak pernah suka dengan panjat pinang, apapun bentuknya, dan apapun hadiah yang digantungkan dipuncak batang pinang yang licin bukan main itu.
Selamat Independence Day
Cepatlah Sembuh, Negeriku.(*)
















