Irman Gusman: Natsir dan Bung Karno Berseberangan, Tapi Tetap Bersahabat

Penulis -

Jumat, 18 Desember 2020 - 20:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Pandangan dan pilihan politik boleh saja berbeda, tetapi persahabatan itu abadi sifatnya. Inilah yang diteladankan oleh Natsir dan Bung Karno.

“Mereka selalu berseberangan tetapi tetap bersahabat,” kata mantan Ketua DPD RI Irman Gusman yang hadir secara virtual pada acara bedah buku “Islam Sebagai Dasar Negara: Polemik Antara Mohammad Natsir versus Soekarno” dan “68 Tahun Melukis di Atas Awan, Memoar Biografi Dr. Shofwan Karim,” Jumat (18/12).

Soekarno sebagai seorang ideolog dan pemikir politik berpandangan bahwa agama harus dipisahkan dari urusan negara. Bung Karno mengkhawatirkan kalau membawa-bawa agama maka bangsa ini akan bercerai-berai.

Sementara Natsir sebagai seorang ideolog reformis muslim dan arsitek “negara Islam moderat” berpandangan bahwa Islam sebagai agama peradaban yang membimbing manusia memasuki alam modern harus disatukan dengan negara. Untuk mencapai kemerdekaan, tidak cukup hanya dengan nasionalisme. Dorongan agama Islam, jauh lebih kuat.

“Mereka berseberangan secara tajam. Meski demikian ketika Soekarno ditangkap, diadili, dan dipenjarakan di Sukamiskin, yang pertama menjenguk bukan orang-orang PNI pendukung Bung Karno, melainkan kelompok Natsir. Ini pelajaran keteladanan yang sangat berharga buat bangsa kita agar bisa berpolitik dengan hati secara matang dan bijaksana,” kata Irman.

Baca Juga :  ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Menurut Irman, berbeda dengan kondisi sekarang, terlalu banyak pemimpin tapi terlalu sedikit kepemimpinan. Terlalu banyak politisi, tapi terlalu sedikit negarawan. Terlalu banyak idola, tapi terlalu sedikit keteladanan. Terlalu banyak pembawa masalah, tapi terlalu sedikit pembawa solusi. Terlalu banyak menggunakan otak dan otot, tapi terlalu sedikit bahkan sangat jarang menggunakan hati.

“Akibatnya kita seperti hidup di bawah SUTET (Saluran Udara Tagangan Ekstra Tinggi). Semua orang tegang. Saling curiga dan berprasangka buruk. Saling hujat dan caci-maki. Berbeda pendapat dianggap sebagai permusuhan dan peperangan,” kata Irman.

Kenapa bisa terjadi begini? Karena menurut Irman, bangsa ini tidak belajar dari sejarah dan menengok ke belakang. Seperti sikap Natsir dan Soekarno yang berseberangan secara pemikiran dan sikap politik, tetapi terdapat kesamaan keyakinan di antara mereka dalam hal demokrasi.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

“Dari polemik dua tokoh bangsa ini kita dapat memetik pelajaran, meski mereka berdebat tentang hubungan agama dan negara dan tentang dasar negara kita, mereka akhirnya bersepakat untuk tidak menghapus Pancasila sebagai dasar negara,” kata Irman.
Masih Relevan

Menurut Irman, apa yang diperjuangkan Natsir masih relevan sampai hari ini, dimana sekularisme yang semakin kental mengancam dan mengikis keberagamaan, khususnya di kalangan generasi muda.

“Dalam hal ini perjuangan Natsir untuk memanifestasikan nilai-nilai ajaran Islam itu perlu kita lanjutkan, sama seperti melanjutkan perjuangan Soekarno dalam melestarikan Pancasila,” jelasnya.

Catatan lain disampaikan Irman tentang perjuangan Natsir adalah bahwa keberagamaan perlu tampak dalam realitas sehari-hari, bukan sekadar identitas belaka. Bahkan dalam mengamalkan Pancasila, misalnya sila Ketuhanan, Kemanusiaan dan Keadilan Sosial bisa diterjemahkan ke dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

“Kalau saya mencoba merekonsiliasikan pemikiran Natsir dan Soekarno adalah dua kutub yang bertolak belakang itu, maka yang mau saya katakan adalah kita harus bisa berpancasila sereligius mungkin dan beragama sepancasilais mungkin. Artinya: Mengamalkan agama di negara yang berdasarkan Pancasila dan mengamalkan Pancasila di negara yang penduduknya menjunjung tinggi ajaran agama,” kata Irman.

Jadi, lanjut Irman bukan mempersoalkan Pancasila sebagai dasar negara, atau memperjuangkan Islam sebagai dasar negara karena itu sudah final. Sebab Pancasila sudah mewakili nilai-nilai luhur dari semua agama di negeri ini bahkan mewakili jatidiri bangsa Indonesia.

“Tugas kita adalah melakukan introspeksi, sudah sampai sejauh mana kita mengamalkan lima sila itu di dalam realitas kehidupan kita sebagai bangsa, kemudian melakukan koreksi dengan menggunakan ajaran agama dan falsafah Pancasila sebagai pedoman,” pungkasnya. (*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo
ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia
Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI
Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok
Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut
Jelang Muktamar Muhammadiyah, 10 PWM Sepakati Risalah Bukitinggi
Rahmat Saleh Dorong Keterbukaan Tata Niaga Impor Gula
ADPI Sukses Launching IADP melalui Technical Guidance Book Chapter Writing – Springer.

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:39 WIB

ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Rabu, 30 September 2026 - 17:37 WIB

Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI

Rabu, 23 September 2026 - 10:46 WIB

Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok

Selasa, 22 September 2026 - 12:04 WIB

Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB