Padang, Prokabar — Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia (IJTI) Provinsi Sumatra Barat berkesempatan mewawancarai pakar sekaligus Kepala Pusat Dianoktis dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, melalui aplikasi zoom (video converence), Rabu malam (6/5). Sang Dokter tersebut terlihat masih berpakaian tugas di sebuah ruangan agak gelap, bersama sejumlah awak media dan unsur pemerintahan lainnya.
Ketua IJTI Provinsi Sumbar, Jhonedy langsung memandu (Host) wawancara eksklusif tersebut memberi pencerahan dan gagasan atau solusi kongkrit dalam pemutus mata rantai Covid-19 di Tingkat Nasional, terkhusus di Provinsi Sumatra Barat.
Dalam wawancara eksklusif tersebut, Dr. dr. Andani Eka Putra, MSC, Kepala Labor Biomedika RS Unand tersebut menjelaskan sejumlah perbandingan negara-negara terdampak yang sudah memiliki kelengkapan terbaik dari sisi SDM, fasilitas, obat-obatan dan bahkan memiliki anggaran yang memadai.
“Kita bandingkan sekarang, kasus ledakan di Amerika Serikat, atau di Eropa. Itu angka kematiannya itu mencapai 250 sampai 3000 perhari pada puncaknya. Sekarang sudah mulai mundur kan,” tuturnya.
Nah, coba kita bandingkan Amerika itu memiliki fasilitas yang bagus, SDM yang bagus anggaran yang bagus. Sementara kita tidak punya apa-apa. SDM kurang lengkap, kurang kompeten dibandingkan dengan Amerika, alat kita apalagi minta ampun ketinggalan dengan amerika, dana kita juga terbatas, lanjutnya.
Kira-kira dengan kondisi seperti itu, berapa perkiraan angka kematian kita? Amerika lengkap full lengkap, semua fasilitas lengkap, angka kematiannya mencapai 250 hingga 3000 jiwa per hari, terangnya.
Kita bandingkan sekarang, kasus ledakan ini?
parah kita kan, lebih parah kita kan? Parahnya berapa? Apakah 5 ribu, 10 ribu, 15 ribu? Saya rasa cuma Tuhan yang bisa memprediksi itu. Paling tidak angka tersebut lebih besar dari itu. Kita sepakat tentang hal itu? Imbuhnya.
“Oleh, sebab itu, karena kita tidak siap dari hal itu maka difase awal ini, kita selesaikanlah pemutusan mata rantai penularan itu. Itu yang paling penting dahulu kita kerjakan.
Kalau ini gagal, pemutusan mata rantai ini gagal, maka kita akan masuk ke fase ledakan atau eksponsiannya yang tentunya yang bekerja hanya pihak rumah sakit berupa antisipasi.
“Dan dengan orangnya terbatas, sarana terbatas, obatnya terbatas, saya rasa kita tidak akan siap menghadapi itu. Ini, ini yang perlu kita waspadai,” Jelasnya.
Berhubungan dengan semua pihak, bukan kita-kita saja (Pemerintah, Tenaga Medis, Kepolisian, Jurnalis dan instansi pemerintahan lainnya), semua masyarakat harus “care” (peduli) dalam hal ini. Harus kuatir dengan masalah ini. Karena menyangkut orang banyak dan mereka sendiri. menyangkut kita semua.
Jadi, jika pemerintah memberlakukan PSBB ya patuhlah! Apakah selama 14 hari atau waktu yang telah ditentukan itu. Nah, ini, ini yang jadi perhatian kita! Bagaimana kita mencegah terjadinya ledakan itu, bagaimana mencegah puncak itu.
“Salah satu langkahnya adalah indentifikasi dini secara masal, secara aktif, itu yang terpenting. Karena cara seperti itu, kita bisa eliminasi puncak ledakan. Kalau saya katakan begini, kalau lah bisa memeriksa penduduk kita 5 juta jiwa ini, dalam satu hari misalnya. Atau dalam waktu 3 hari kita periksa, misalnya kita temukan, katakanlah 50 ribu orang terinfeksi. 50 ribu orang itu kita isolasi semuannya. Setelah 15 hari mereka sembuh, kita langsung klitner, kita selesai,” kata dr. Andani.
Tidak ada Covid 19 lagi. Namun tidak mungkin kita bisa memeriksa penduduk 5,5 juta jiwa itu, tidak mungkin. Amerika Serikat saja tidak sanggup angka segitu. Apalagi kita.
“Tapi paling tidak, upaya yang kita lakukan ini adalah memeriksa sebanyak-banyaknya orang dengan berbagai tingkat usia, terutama kelompok-kelompok beresiko dari sumber penularan. ODP, OTG, PP,” pungkasnya. (rud).
















