Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Ini Faktor Buaya Serang Warga di Agam

Dibaca : 272

Tanjung Mutiara, Prokabar – Berdasarkan hasil identifikasi lapangan dan pengumpulan data BKSDA Resor Agam selama dua hari, serangan satwa buaya terhadap salah seorang warga di Jorong Mauro Putuih, Nagari Tiku Limo Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara disebabkan adanya oknum warga luar meracuni sungai, Jumat (12/2). Bertujuan memudahkan menangkap ikan dan udang di sekitar sungai tersebut.

“Berdasarkan keterangan beberapa warga kepada kami, dua hari sebelum korban dilaporkan hilang, warga melihat ada oknum warga yang berasal dari luar Nagari Tiku Limo Jorong, melakukan aksi meracuni sungai dengan cairan tertentu. Dengan tujuan mendapatkan ikan dan udang di lokasi kejadian,” ungkap Ade Putra, Kepala Resor BKSDA Agam, Sabtu (13/2) kepada Prokabar.com.

Dan selama dua hari ini lanjutnya, terlihat beberapa kali buaya mengapung dan bereaksi di permukaan air. Dengan menghempas dan membalik-balikan badannya tepat di tempat kejadian.

Hasil identifikasi lapangan lebih lanjut, diketahui tempat korban mengambil rumput di pinggir sungai merupakan daratan tergenang air dan berawa. serta juga ditemukan beberapa bekas tempat satwa buaya berdiam diri atau rumah sarangnya.

“Terhadap hasil tersebut, kami sudah menyampaikannya kepada Wali Nagari Tiku Limo Jorong beserta perangkatnya. Dan mendorong nagari membuat peraturan untuk mengendalikan aktivitas meracuni sungai dan penggunaan setrum untuk mencari ikan terutama di lokasi-lokasi yang diduga merupakan sarang buaya,” ujarnya.

Mengantisipiasi terjadinya serangan buaya, BKSDA menghimbau warga untuk waspada dan hati-hati ketika beraktivitas di dalam dan pinggir sungai atau muara. “Tidak beraktivitas pada malam hari, karena buaya merupakan satwa yang aktif pada malam hari. Selain itu menghindari sungai dengan arus tenang serta tidak beraktivitas sendirian,” imbuh Kepala Resor BKSDA Agam.

BKSDA mengajak warga agar mau berbagi ruang tempat hidup dengan buaya mengingat habitatnya yang semakin menyempit. Menurut prilaku dan siklus hidupnya, sampai bulan Juli merupakan musim kawin dan bertelurnya satwa buaya.

Buaya yang akan kawin dan bertelur cenderung akan mencari lokasi yang aman dari gangguan individu lainnya. Terutama induk buaya yang sedang menunggui sarang telurnya, akan sangat agresif dan senssitif terhadap keberadaan mahkluk lain termasuk manusia.

“Buaya merupakan jenis satwa yang dilindungi oleh peraturan perundangan di indonesia. Sesuai dengan undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya,” pungkas Ade Putra. (rud)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top