Limapuluh Kota,Prokabar: Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terus mendorong petani lokal, untuk mengekspor beragam komoditi unggulan.
Termasuk manggis asal Sumatera Barat, yang rencananya akan segera dikirim ke Tiongkok tahun ini. Hal tersebut ditegaskan Direktur Jendral Hortikultura Kementan RI Suwandi, saat berkunjung ke packaging house PT Bumi Alam Sumatera di Jorong Sawah Laweh, Nagari Tungka, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota, Sumbar beberapa hari lalu.
Sebelumnya, Kementan di bawah pimpinan Menteri Andi Amran, sukses besar mengekspor beras khusus, bawang merah, jagung, telur, daging ayam, benih sayuran dan tanaman hias.
“Sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meningkatkan ekspor, dalam waktu dekat manggis di Sumbar, akan segera diekspor ke China. Hari ini, kami datang meninjau packing house dan kebun,” sebut Suwandi, di kantor PT Bumi Alam Sumatera.
Disebutkan Suwandi, proses ekspor tidak instan, tetapi melalui proses mulai dari penyiapan kebunnya, registrasi dan penyiapan packaging house, serta pengurusan perijinan ekspor dan sebagainya.
Menurut dia, dengan semakin eratnya hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok memberikan dampak positif bagi perdagangan kedua negara. Salah satunya yaitu dibukanya kembali peluang ekspor manggis ke negeri tirai bambu tersebut, setelah empat tahun sejak dikeluarkannya larangan impor komoditas tersebut dari Indonesia.
“Tercatat nilai ekspor manggis ke Tiongkok pada tahun 2012 mencapai 8,2 ribu ton dengan pangsa pasar 18,84 persen dan menjadikan Tiongkok sebagai pasar ekspor manggis terbesar Indonesia,” ujar Suwandi.
“Dibukanya kembali ekspor manggis ke Tiongkok ditandai dengan penandatanganan protokol manggis oleh Badan Karantina kedua negara pada 11 Desember 2017 yang disusul dengan ekspor perdana 1 ton manggis pada Januari 2018 lalu,” pintanya.
Suwandi menerangkan sesuai arahan Mentan Andi Amran Sulaiman, untuk meningkatkan investasi dan ekspor, termasuk mendorong ekspor manggis dari Sumbar, maka Kementan memberi berbagai kemudahan investasi, pembinaan mutu produk petani, membantu proses registrasi kebun, standar packaging house, pelayanan perkarantinaan dan lainnya untuk ekspor.
“Ini sejalan dengan ketentuan yang tertuang dalam protokol ekspor Manggis ke Tiongkok adalah kebun yang sudah teregistrasi, rumah kemas yang sudah teregistrasi dan bebas dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti Lalat Buah (Fruit flies), Kutu Putih (Mealy Bugs), dan Kutu tempurung (Scale Insect),” terang dia.
Direktur Utama PT Bumi Alam Sumatera Anggri Purnama Agung melalui Direktur II Kerjasama dan Antar Lembaga Muhammad Bayu Vesky menyebut, perusahaannya sudah punya buyer langsung di China.
“Tahun ini, kita diminta mengirim 500 kontainer manggis ke China, atau setara 10.000 ton,” kata Muhammad Bayu Vesky. Pihaknya bersyukur, Presiden RI Joko Widodo dan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman, Dirjen terkait dan Badan Karantina serta OKPP, membuka kran ekspor ke China.
“Terimakasih bapak Presiden. Selama ini, kita mengirim manggis harus melewati Malaysia, Thailand atau Vietnam dulu. Kebijakan pak Menteri Pertanian RI dan jajaran, sangat membantu pelaku komoditi manggis dari hulu ke hilir. Sehingga, nantinya petani akan langsung diuntungkan dengan harga,” jelas Bayu Vesky.
PT Bumi Alam Sumatera juga melakukan kerjasama dengan kelompok tani dan masyarakat pemilik kebun manggis di Sumatera, Bali dan Jawa Barat. Termasuk telah mengantongi register kebun. “Pak Menteri Pertanian dan pak Dirjen Hortikultura, Badan Karantina, OKPP, sangat mensupport rencana (ekspor,-red) ini,” demikian Muhammad Bayu Vesky.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumbar, Candra saat mendampingi kunjungan mengatakan bahwa sampai saat ini Sumbar merupakan salah satu daerah yang siap menjadi tulang punggung ekspor.
“Provinsi Sumatera Barat terus berbenah untuk menggalakkan kualitas dan mendorong ekspor. Sentra produksi di Provinsi ini berada di Kabupaten Limapuluh Kota, terutama di Kecamatan Situjuah, Pangkalan, Halaban dan Harau,” ujarnya.
Untuk diketahui sentra produksi manggis di Indonesia tersebar dari Sumatera sampai Nusa Tenggara Barat. Data BPS mencatat produksi manggis nasional tahun 2017 mencapai 161,7 ribu ton dengan luas lahan 16.184 hektar.
Pada tahun 2017, jumlah produksi terbesar untuk manggis yaitu Jawa Barat 42,1 ribu ton, Sumatera Barat 34,4 ribu ton dan Jawa Timur 16,7 ribu ton.
Angka produksi di Provinsi Sumbar naik 68 persen dari tahun 2016 yaitu sebesar 23,3 ribu ton. Sumbar sebagai salah satu produsen manggis terbesar di Indonesia. (vbm)
















