Trending | News | Daerah | Covid-19

Artikel

Cukupi Gizi, Lengkapi Imunisasi dan Perbaiki Sanitasi untuk Anak-anak

Dibaca : 385

Oleh : Wiska Nofratia, Mahasiswa Jurusan Sastra Mingkabau, Unand

Padang, Prokabar — Hari Gizi Nasional Indonesia  (HGNI) diperingati setiap tanggal 28 Februari. Makna memperingati Hari Gizi Nasional Indonesia dilakukan setiap tahunnya adalah untuk mengingatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia betapa pentingnya memenuhi kebutuhan gizi untuk pertumbuhan tubuh dan kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Pentingnya Gizi initertuang dalam Undang-Undang Nomor 36 pasal 141 dan 142 tahun 2009 tentang Kesehatan. Berisi mengenai upaya untuk melakukan perbaikan atau  peningkatan mutu gizi perseorangan dan masyarakat pada seluruh siklus kehidupan sejak dalam kandungan sampai dengan usia lanjut.

Hari Gizi bukan hanya sebuah seremonial belaka, namun harus menjadi momentum untuk meneropong kenyataan masalah malnutrisi di lapangan dan melakukan strategi penyelesaian yang terpadu dan menyeluruh di semua wilayah. Karena hingga saat ini masih banyak terjadi kasus meninggal terhadap balita penderita gizi buruk di hampir semua wilayah di Indonesia. Hal tersebut menjadi bukti bahwa masih kurang perhatiannya pemerintah dan masyarakat akan masalah ini. Bahayanya kasus ini dapat mengakibatkan suramnya masa depan anak-anak bangsa sebagai generasi penerus, bahkan hal terburuk yang akan terjadi kita bisa kehilangan satu generasi harapan karena kasus kematian yang semakin merajalela.

Kasus malnutrisi atau gizi buruk ini juga dapat mengakibatkan balita yang menderita dapat menjadi seseorang yang kelainan mental atau IQ yang berada dibawah rata-rata pada saat dewasa nanti. Hal ini jelas akan menurunkan kualitas generasi penerus bangsa dan tidak bisa menjadi gambaran ideal masa depan bangsa. Hari Gizi national Indonesia, merupakan hari pengingat bagi kita untuk berusaha membangun masyarakat Indonesia yang lebih sehat dan cerdas. Berbagai permasalahan yang terjadi saat ini mengenai gizi antara lain yaitu penderita gizi buruk yang ditemukan pada anak balita (di bawah usia lima tahun), kasus kemanusiaan marasmus (busung lapar karena kekurangan kalori) dan kasus kwashiorkor (karena kekurangan protein) pada anak-anak. Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan-permasalahan seputar gizi buruk, masih ada anak-anak yang sengsara karena kurang asupan gizi, maupun mengkonsumsi makanan yang tidak sehat.

Masalah kekurangan gizi anak tak terlepas dari masalah keterbatasan ekonomi keluarga, sehingga masyarakat tak mampu membeli makanan yang sehat dan bergizi ditambah lagi semakin meningkatnya harga kebutuhan makanan bergizi, menyebabkan kaum miskin hanya mampu makan seadanya yang bahkan itupun tidak teratur. Oleh karena itu, kita sebagai bagian dari masyarakat harus juga mulai secara mandiri turut dalam penyelesaian kasus ini dengan menjadi masyarakat peduli gizi, membangun generasi penerus bangsa yang lebih sehat dari segi jasmani dan rohani dalam melakukan bermacam aktivitas yang bermanfaat.

Namun demikian permasalahan kekurangan gizi tak hanya terjadi pada masyarakat miskin, ada juga beberapa masalah kekurangan gizi di beberapa keluarga mampu. Hal tersebut mungkin terjadi karena mirisnya melihat jajanan anak-anak di sekolah yang cenderung tidak sehat dan asal-asalan. Sebagai orang tua tugasnya adalah memantau jajanan anaknya. Jika makanan tidak sehat tersebut terus dikonsumsi oleh anak, akan mempengaruhi perkembangan mental dan kecerdasan anak di masa depan. Kita masih beruntung karena tinggal di tanah yang subur dan menghasilkan makanan yang sehat. Oleh sebab itu, kita harus lebih cerdas dalam mengkombinasikan makanan mulai dari sayur-sayuran hingga buah-buahan dari alam sekitar untuk kita apalagi untuk anak-anak, guna memenuhi kebutuhan empat sehat lima sempurna.

Baru-baru ini, Indonesia juga mengalami darurat stunting. Stunting adalah masalah kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan tubuh yang pendek. Penderita stunting umumnya rentan terhadap penyakit seperti kelainan jantung dan diabetes, penderita akan memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal serta produktivitas yang rendah. Tingginya prevalensi stunting dalam jangka panjang akan berdampak pada kerugian ekonomi bagi Indonesia.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kasus stunting ini, antara lain rendahnya asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan anak, yakni sejak janin hingga bayi berumur dua tahun, buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, dan kurangnya kebersihan lingkungan hingga membuat tubuh harus secara ekstra melawan sumber penyakit sehingga menghambat penyerapan gizi. Dengan adanya beberapa faktor penyebab kasus stunting tersebut, perlu upanya untuk pencegahannya. Stunting dapat dicegah dengan cara-cara seperti, pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan kemudian dilanjutkan dengan MPASI, pemeriksaan kesehatan balita secara rutin di Posyandu, memenuhi kebutuhan air bersih, meningkatkan fasilitas sanitasi, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Harus diakui, menurunkan angka stunting adalah pekerjaan rumah yang sangat sulit. Pemerintah melalui aneka terobosan, termasuk Program Keluarga Harapan, berupaya meningkatkan daya beli masyarakat miskin dalam membeli makanan bergizi. Pemerintah juga tidak bisa  dibiarkan sendiri memberantas gizi buruk, sebagai masyarakat kita juga bertanggung jawab untuk melakukan pencegahan terhadap stunting ini. Organisasi kemasyarakatan dan keagamaan punya kewajiban moral untuk ikut memberantas stunting.

Anda dan keluarga dapat melakukan 7 langkah praktis  ini untuk menghayati pesan inti Hari Gizi Nasional, antara lain Membiasakan makan makanan bergizi untuk diri, keluarga, dan komunitas, Menanam tanaman bernilai gizi dan pengobatan, Menjadi relawan Posyandu dan penggerak PKK yang beri edukasi soal pentingnya gizi, terutama bagi ibu hamil dan balita, Menjadi relawan Posyandu dan penggerak PKK yang beri edukasi soal pentingnya gizi, terutama bagi ibu hamil dan balita, Menjadi donatur kegiatan pemberian makanan bergizi di tingkat akar rumput: RW, desa, kelurahan, sekolah, masjid, gereja, vihara, dan lain-lain, Menulis untuk memberi informasi yang benar tentang bahaya dan pencegahan stunting, Manfaatkan obrolan di warung kopi, angkringan, arisan, obrolan saat makan di tengah keluarga dan di tempat kerja untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya gizi dan pemberantasan kekurangan gizi kronis, dan Memanfaatkan media sosial untuk mendukung upaya pihak-pihak yang berkehendak baik untuk memberantas stunting. Jangan malah nyinyir pada upaya baik untuk menurunkan stunting. (***)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top