Daerah

Cegah Kluster Keluarga, Dirut Semen Padang Ajak Insan Perusahaan Patuhi Protkes

Dibaca : 140

 

Padang, Pokabar- Mengangkat tema “Waspada Covid 19 Klaster Keluarga” menjadi tema Webinar Series #2 PT Semen Padang, Jumat (26/2). Dengan menghadirkan dua narasumber dari Semen Padang Hospital, dr. Dewi Nensi Putri, MARS , dan dr. Widya Pratiwi Radam, Direktur Utama PT Semen Padang Yosviandri dalam sambutannya berharap semua karyawan Semen Padang Group untuk terus mengingatkan kewaspadaan anggota keluarganya dengn mematuhi protokol kesehatan.

“Jangan sampai ada karyawan yang terpapar Covid-19, karena kontak dari anggota keluarga yang terpapar Covid-19. Jadi, mari ingatkan keluarga di rumah untuk mematuhi protokol kesehatan,” kata Yosviandri.

Ia meminta seluruh Insan Semen Padang Group, termasuk pihak keluarga karyawan untuk menghindari kegiatan kerumunan atau mengadakan kegiatan yang menimbulkan keramaian, termasuk liburan ke tempat wisata.

“Sekarang ini klaster keluarga menjadi trend penularan Covid-19. Semoga melalui webinar ini, semua insan perusahaan maupun pihak keluarga, bisa menjadi lebih siap dalam menjaga diri dari penularan Covid-19 di lingkungan keluarga,” ujarnya.

Sementara itu, dr.Dewi Nensi Putri, MARS dalam materinya menyampaikan bahwa saat ini, klaster keluarga semakin merebak dan menyebabkan laju kecepatan penyebaran virus Covid-19 semakin cepat dan luas.
Klaster keluarga menjadi trend disebabkan beberapa faktor diantaranya, karena tanpa disadari ada keluarga tertular dari orang/pasien yang tidak bergeja dan adanya anggota keluarga yang tidak menerapkan protokol kesehatan 3M.

Kemudian, perawatan pasien yang melakukan isolasi mandiri di rumah dilakukan oleh keluarga dan adanya kegiatan sosial bersama yang dilakukan oleh keluarga.

“Kegiatan sosial bersama ini termasuk risiko tinggi penularan Covid-19,” ujarnya.

Menurutnya, klaster keluarga sangat berbahaya dalam penularan Covid-19. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, seperti karena transimi Covid-19 telah masuk ke satuan unit terkecil dalam sebuat society, yaitu keluarga.

“Contohnya di Bogor. Di sana, terdapat satu RT yang hampir seluruh warganya positif Covid-19,” katanya.

Selain itu, adanya warga yang bergejala enggan melakukan tes swab, karena takut stigma (takut dikucilkan oleh masyarakat). Namun pada akhirnya, warga yang bergejala itu berperan sebagai spreader (penyebar,red)

Halaman : 1 2

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top