Prokabar.com, Opini – Keindahannya begitu manis. siapa yang tak mau duduk di sampingnya. Menatap senja dengan rona dan warna-warni bunga Krisan.
Apalagi kalau musimnya bersemi, warna apa yang tak ada. Krisan memang tiada duanya. Itulah mengapa Krisan begitu indah di Cipanas yang memiliki suhu sejuk.
Bagi pecinta keindahan Krisan di Sumatera Barat, tak perlu jauh ke Cipanas hanya untuk mengopi dan berfoto bersama keluarga.
Di Kota Solok, tepatnya di Agrowisata Payo, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, bunga ini juga bersemi.
Meski jalur menuju lokasi ini sedikit sulit, tapi bakal terbayar oleh keindahan bunga Krisan.
Sampai di sini sudah cukup memuji Krisan yang betul-betul layak mendapat pujian.
Kini, saat mengkritik, semoga kritikan ini membangun dan memajukan Agrowisata Payo, Kota Solok.
Agrowisata ini sangat menarik. Menarik untuk dikritik.
Pertama, posisi Agrowisata yang tinggi sangatlah baik untuk menenam bunga Krisan. Tapi jalur untuk sampai ke lokasi ini cukup ekstreem.
Pengunjung harus mendaki tanjakan tinggi dengan tikungan yang tajam. Kondisi jalanan ini bakal menyulitkan saat Agrowisata benar-benar terkenal.
Andai Agrowisata tersebut ramai, maka akan sangat sulit bagi pengunjung berlalu-lintas.
Meskipun jalanan sudah diaspal, tentu belum cukup aman bagi pengendara, terutama mobil.
Kedua, di Agrowisata ini terdapat bangunan dari besi, menjulang tinggi sekitar 10 meteran.
Bangunan ini berfungi untuk pengunjung yang ingin memandang Kota Solok dari atas.
Pemandangan dari atas tentu akan memperlihatkan Kota Solok lebih indah, sebab itulah nilai dari sudut pandang Bird Eye.
Sayangnya, bangunan ini tak begitu kokoh. Pernah suatu malam saya duduk di puncak gedung ini. Posisinya memang terkesan kuat. Tapi saat naik goyangannya cukup terasa.
Bangunan ini bakal berbahaya bila pengunjung banyak menaikinya. Semoga saja bangunan ini kokoh.
Ketiga, merek Agrowisata tepat berada di depan pintu masuk taman bunga Krisan.
Sebenarnya bangunan tinggi menjulang itu tak begitu penting. Cukup merek Agrowisata Payo ini pindah dari posisinya.
Kenapa merek ini perlu hilang?
Merek ini menghalangi sudut pandang yang indah bagi pengunjung yang datang. Di samping Merek ada saung-saung tempat berduaan atau bisa juga bersama keluarga.
Dari saung ini begitu indah pemandangan ke bawah, apalagi kalau bunga Krisan mengelilingi saung-saung ini.
Keempat, buah tangan bagi pengunjung.
Buah tangan begitu penting sebagai tanda pengunjung sudah pernah datang ke Agrowisata Payo.
Sayangnya pengunjung yang datang malah disuguhi bunga Krisan.
Perlu diketahui, wilayah wisatawan di sekitar Solok termasuk daerah Tropis. Masyarakat Padang paling banyak datang ke Solok ini untuk berwisata.
Geser sedikit ada Sijunjung, Dharmasraya, dan sebagainya.
Memang ada di beberapa wilayah daerah yang disebutkan ini suhunya cukup bagus untuk menanam bunga Krisan. Tapi penduduknya tak sebanyak penduduk di daerah panas.
Menjual bunga berjuluk Seruni ini sebagai oleh-oleh memang bagus. Di beberapa daerah, bunga Krisan menyumbang PAD yang cukup besar dari segi Holtikultura. Tapi bakal buruk jika bunga Krisan dari Solok dibawa ke Padang yang panasnya kerontang.
Sebagai pengetahuan, bunga Krisan ini memang bisa hidup di suhu yang panas seperti Padang. Tapi kualitasnya tentu tak sebagus di Solok yang memiliki ketinggian di atas 1000 Meter di atas permukaan laut.
Warna bunga Krisan di suhu yang panas akan lebih memudar. Tingginya lebih rendah daripada tinggi bunga Krisan di daerah dengan suhu 21 derajat.
Nahasnya, bunga ini lebih cepat mati jika lokasi tanamnya panas. Kecuali, pembeli dari Padang membuat tempat khusus yang bisa mengatur suhu.
Penjualan bunga bernama latin Chrysanthemum pada pengunjung dari wilayah dengan suhu panas bakal memperburuk citra dari Agrowisata.
Saran saja, brand yang baik bermula dari penawaran yang baik pula.
Penulis; Aidina Fitra
Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
















