Jakarta, Prokabar – Di usia 25 tahun, artis Selena Gomez akhirnya menjalani transpalasi ginjal pada September 2017 karena penyakit lupus yang dideritanya selama lebih dari dua tahun. Toni Braxton yang terkenal dengan lagu hitsnya ‘Unbreak My Heart’ pun pernah menghabiskan waktunya terbaring ditempat tidurnya, setelah ia terdiagnosa Lupus tahun 2008.
Benarkah lupus lebih banyak menyerang wanita? Apa sebenarnya penyebab penyakit lupus? Dan benarkah dunia kedokteran belum menemukan obat penyakit seribu muka ini.
Lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun yang menyerang sistem daya tahan tubuh. Dimana tubuh penderita lupus akan memproduksi antibodi berlebihan yang malah menyerang sel atau organ tubuh sendiri. Tak ayal antibodi yang memiliki tugas melawan bakteri atau virus yang masuk ke tubuh, justru merusak organ tubuh itu sendiri, seperti ginjal, hati, sendi, sel darah merah, leukosit, atau trombosit.
Penyebab Lupus
Penyebab penyakit lupus memang belum diketahui secara matang. Tetapi ada dua faktor yang dapat mempertinggi risiko seseorang terkena lupus, Yaitu :
- Faktor Genetika
Faktor ini dipercaya sebagai salah satu penyebab Lupus karena ada penelitian yang membuktikan bahwa jika salah satu anak kembar identik menderita Lupus, saudaranya juga memiliki risiko setinggi 25% untuk terkena penyakit yang sama.
Seperti yang dialami Bintang Pop Lady Gaga, Ia harus extra hati-hati merawat dirinya. Karena anggota keluarganya disinyalir positif menderita lupus. Meski Lady Gaga mendapatkan hasil medis negatif akan penyakit lupus, tetapi ia mengaku menderita sinovitis. Dimana suatu kondisi yang menyebabkan peradangan pada lapisan sendi.
Lalu mengapa wanita lebih riskan terkena Lupus? Alasan di balik jumlah penderita lupus wanita yang lebih banyak daripada pria kemungkinan karena sebagian gen termutasi mengandung kromosom X. Kromosom adalah struktur dalam inti sel yang mengandung informasi genetika. Pria memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y, sedangkan wanita memiliki sepasang kromosom X.
Tak hanya itu, Perubahan hormon yang terjadi pada wanita, misalnya pada saat pubertas atau hamil juga menjadi pencetus terkena lupus. Itulah mengapa pengaruh hormon juga dianggap menambah peran mengapa wanita lebih rentan terkena lupus. Hal itu dikarenakan, tubuh wanita menghasilkan dan menggunakan hormon estrogen yang lebih banyak, dibandingkan tubuh laki-laki yang bergantung pada hormon androgen.
Estrogen dikenal sebagai hormon “immuno-enhancing“, yang berarti bahwa wanita memiliki sistem kekebalan tubuh lebih kuat daripada pria, mengingat kebutuhan evolusioner bagi wanita untuk bertahan hidup, berperan melahirkan, dan mengasuh anak-anak mereka. Namun akibatnya, saat sistem imun ini berbalik menyerang tubuh, wanita akan lebih mudah mengalami penyakit autoimun.
- Faktor Lingkungan
Berlebihnya paparan terhadap sinar matahari dan obat-obatan yang dapat memicu lupus. Jenis lupus ini biasanya akan berhenti/tidak aktif saat konsumsi obat yang menjadi penyebabnya dihentikan.
Selain faktor-faktor di atas, virus Epstein-Barr (EBV) juga dianggap berkaitan dengan SLE. Tetapi tetap, yang menjadi masalah adalah infeksi virus ini jarang menunjukkan gejala. Jika pun ada, gejalanya berupa penyakit demam kelenjar. (rsk)
















