Bagaimanakah Ciri Penyintas Lansia dalam Menghadapi Bencana? (Bagian 2)

Penulis -

Selasa, 28 Desember 2021 - 07:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lansia dan bencana (foto: ilustrasi)

Lansia dan bencana (foto: ilustrasi)

…………… Kejadian bencana alam berupa banjir, tanah longsor serta kebakan hutan dan lahan. Peristiwa yang terjadi pada banjir sebanyak 891 kejadian, 406 tanah longsor, 258 kebakaran hutan dan lahan. Hal ini banyak terjadi di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Aceh ………..

Bencana alam yang terjadi akibat ulah manusia yang pertama yaitu banjir. Banjir sering terjadi saat musim hujan dapat membuat bangunan dan tempat tinggal makhluk hidup rusak, lapisan tanah yang subur hilang karena terbawa arus air, serta tanaman menjadi rusak.

Selain karena ulah manusia, banjir juga dapat terjadi karena faktor alam, misalnya hujan terus menerus. Curah hujan yang tinggi membuat sistem pengaliran air yang dari sungai dan anak sungai alamiah meluap, serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan tidak mampu menampung akumulasi air hujan tersebut.

Secara umum, penyebab terjadinya banjir karena ulah manusia, seperti penebangan hutan secara liar tanpa reboisasi, membuang sampah sembarangan, pendangkalan sungai, pembuatan saluran air kurang baik.

Kedua adalah tanah longsor. Tanah longsor adalah salah satu jenis bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia selain gempa bumi, banjir, kekeringan, dan angin topan.

Bencana tanah longsor sering muncul di musim hujan, setelah musim kering yang menyebabkan permukaan tanah retak dan berpori. Saat tanah retak, maka air hujan makin mudah meresap ke bagian dalam tanah, membuat kandungan air dalam tanah menjadi jenuh.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Bencana alam yang terjadi akibat ulah manusia yang ketiga yaitu kebakaran hutan. Berikut penyebab terjadinya kebakaran hutan karena ulah manusia yaitu kecerobohan manusia dalam membuang puntung rokok sembarangan karena sering terjadi mereka membuang puntung rokok begitu saja tanpa benar-benar mematikannya.

Lupa mematikan api saat berkemah atau api unggun yang dinyalakan di perkemahan bisa bahaya jika tidak dimatikan dengan benar karena bisa memicu kebakaran hutan yang lebih luas, membakar sampah sering dilakukan oleh masyarakat, yang mana hal ini menjadi kebiasaan tanpa menyadari dampaknya seperti menyebabkan polusi udara hingga berisiko membakar hutan.

Seiring dengan banyaknya aktivitas manusia yang membuat lingkungan menjadi parah dan mengakibatkan kerusakan lingkungan sehingga memicu terjadinya bencana oleh ulah manusia itu sendiri, permasalahan yang tampak secara langsung mengakibatkan terjadi bencana ialah seringnya membuang sampah sembarangan.

Sampai saat ini permasalahan mengenai kondisi tersebut sulit untuk dicegah. Secara empiris mengenai efek kesehatan mental dari bencana buatan manusia pada orang dewasa yang lebih tua terkait dengan bencana alam, karena tidak mengungkapkan kerentanan diferensial yang konsisten terkait dengan usia.

Individu yang lebih tua ini lebih memiliki masalah kesehatan mental yang persisten, terutama gejala terkait kecemasan dan depresi berat lainnya. Oleh karena itu, diperlukannya upaya untuk mencegah bencana ini tidak terjadi dikarenakan oleh ulah manusia itu sendiri.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi terjadi banjir maupun longsor ialah dengan menjaga dan membersihkan saluran air agar tetap berjalan dengan baik tanpa adanya penyumbatan yang disebabkan sampah.

Bencana lainnya seperti longsor juga dapat dicegah dengan tidak menebang pohon sembarangan dan mendirikan bangunan di sekitaran sungai, untuk menjaga terjadinya banjir diupayakan juga untuk melakukan penyuluhan kepada warga. Kemudian, pencegahan pada kekeringan dapat kita lakukan dengan pembuatan waduk agar air selalu mengalir saat musim kemarau.

Dengan begitu, apapun bencana yang terjadi di sekitaran kita, hendaknya selalu menjaga lingkungan sekitar agar menjadi lebih baik dan dapat meminimalisir terjadi bencana.

Jenis bencana selanjutnya adalah bencana yang disebabkan kegagalan teknologi. Bencana ini adalah semua kejadian bencana yang diakibatkan oleh kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam penggunaan teknologi dan/atau industri.

Gagalnya sebuah sistem teknologi yang mengakibatkan terjadinya malapetaka teknologi (technological disaster) selalu bersumber pada kesalahan sistem (system error) yang bersumber pada desain sistem yang tidak sesuai dengan kondisi di mana sistem itu bekerja.

Hal ini terjadi karena perancangan sistem yang gagal mempertemukan sistem teknis dan sistem sosial. Hal yang demikian sering terjadi di Indonesia dan menjadi bencana yang mengakibatkan kerugian jiwa seperti kecelakaan transportasi (kapal laut, pesawat udara dan kereta api), kecelakaan industri (kebocoran gas, keracunan dan pencemaran lingkungan) dan kecelakaan rumah tangga (hubungan arus pendek listrik dan kebakaran).

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Kegagalan teknologi transgenik juga merupakan salah satu ancaman potensial terkait dengan posisi Indonesia sebagai pasar yang terbuka terhadap produk – produk transgenik.

Kecelakaan transportasi merupakan bencana kegagalan teknologi yang paling sering terjadi di Indonesia dan setiap tahun tercatat rata-rata 30.000 nyawa melayang karena bencana ini. Dengan angka ini Indonesia menempati peringkat ketiga di ASEAN.

Diantara penyebab terjadinya kegagalan teknologi adalah adanya kebakaran, kecelakaan industri, kesalahan desain dan prosedur, kecelakaan transportasi, dan jebolnya bendungan.

Tingkat kerentanan bencana gagal teknologi ini bergantung pada 3 faktor, yaitu manusia sebagai pengguna teknologi, teknologi sebagai media yang digunakan, serta proses dan prosedur yang dijalankan.

Hingga saat ini pembuatan mengenai standar yang terkait dengan bencana gagal teknologi, sebagai misalnya kecelakaan industry, secara teoritik hancurnya bangunan industri atau alat transportasi atau mesin – mesin buatan manusia bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor dari luar, seperti gempa, faktor dari dalam, seperti bangunan yang sudah tua, dan faktor kesalahan manusia, seperti tidak menerapkan SOP pengelolaan terhadap teknologi tersebut.

Bersambung ke bagian 3

Disusun Oleh (*):
Cikita Aidha Putri
Nabilah Dina Humaidah
Faulina Adma
Belinnaya Rachmitha Primadhiati
Riska Faradila
Hany Lutfia

*) Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Program Studi Psikologi

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
IKHLAS itu MUDAH
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB