Agam, Prokabar – Ada yang menarik di Jorong Bukik Siriah, Nagari Matua Hilia, Kecamatan Matua, Kabupaten Agam, Sumbar. Di sana terdapat Goa Inyiak Janun. Goa yang memiliki batu-batu stalangtit dan stalagmit (batu tetes atau dripstone) diantara lantai, dinding dan langit-langitnya.
“Gua itu baru dijamah Dinas Pariwisata Agam tahun 2008 lalu. Karena memiliki keunikan dan keindahan memukau mata, maka lokasi itu dijadikan Destinasi Wisata Baru oleh masyarakat,” Kata Hasanadi, salah seorang tokoh masyarakat setempat.

Menurut cerita rakyat, goa itu dihuni Inyiak Janun, seorang wanita yang melarikan diri bersama keluarganya dari penjajah Belanda sekitar 1870-an. Ada juga yang memperkirakan pada masa gejolak Perang Paderi antara kaum Agama dengan kaum adat bersekutu dengan Belanda pada saat itu.
Isma Darma Yanti, pemerhati destinasi wisata dari Agam menyebutkan belum ada dokumen mencatat persis pengungsian Inyiak Janun tersebut ke pedalaman Matua itu. Namun dapat diperkirakan Perang Paderi terjadi 1827-1836. “Inyiak Janun bersama keluarganya pergi dari kampung halamannya di Pusat Matua Jorong Batu Baselo menuju Goa pedalaman itu. Menyelamatkan diri dari pertempuran antar kaum padri dengan kaum adat dan penjajah Belanda,” ungkap Yanti.

Goa Inyiak Janun milik tanah ulayat kaum pasukuan Caniago dipimpin Datuak Basa. “Tahun ini, Goa Inyiak Janun diusulkan menjadi Geopark Nasional dan selanjutnya diusulkan Geopark UNESCO dalam Badan Geopark Ranah Minang, bersamaan dengan Ngarai Sianok dan Lembah Harau,” lanjut Alumni Sastra Minangkabau Unand tersebut.
Kadis Pariwisata Agam, Jetson membenarkan Goa Inyiak Janun salah satu dari 52 objek yang diusulkan untuk menjadi Geopark Nasional diminta Tim Geopark Ranah Minang Provinsi Sumbar. “Kabupaten Agam kaya dengan taman bumi atau Geopark. Seperti Tarusan Kamang, Ngarai Sianok, Lembah Arau dan Goa Inyiak Janun. Dan kami sudah memulainya dengan mendata sampai perberdayaan masyarakat untuk memelihara dan menjaga kelestarian alamnya,” kata Jetson.
Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Oni Yulfian mendukung usulan ini. “Pengusulan untuk Lokasi geopark dari setiap daerah kabupaten dan kota, memiliki puluhan objek atau lokasi. Namun tentu tidak semua bisa diterima sekaligus oleh tim ahli yang telah ditentukan. kita harus fokus agar mendapatkan hasil yang maksimal,” kata Oni.
Saat ini ada Tim Geopark Ranah Minang terdiri dari para ahli geologi dan sejarah dalam menyeleksi prioritas yang diusung ke Permerintah Pusat. Kemudian dilanjutkan menjadi Geopark UNESCO.
“Keutamaan pengusungan Geopark ini adalah peranan dan dukungan penuh masyarakat serta peran pemerintah daerah menjaga, memelihara dan memanfaatkan alam menjadi peningkatan ekonomi, berbasis lingkungan,” tutup Oni.(rud)
















