Wisata Pedalaman Mentawai, Ekstrem tapi Disukai

Penulis -

Selasa, 8 Mei 2018 - 20:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mentawai, Prokabar– Mentawai jauh di tengah, namun jika sudah ke sana, aduhai, serasa tak ingin pulang. Yang sudak bertualang, datanglah.

“Kalau merasa bukan seorang petualang, lebih baik tidak usah bermimpi mau berwisata minat khusus ke pedalaman Mentawai,” kata Ade Permana Saputra, seorang pemandu wisata di Muara Siberut, Kepulauan Mentawai.

Ade merasa perlu mengingatkan setiap tamu yang didampinginya, gara-gara kejadian saat mengantar rombongan wisatawan lokal dari Jakarta menuju pedalaman Dusun Rogogot, Desa Madobak, Siberut Selatan pada akhir Februari lalu.

Foto : Surfing via instagram/@alaiamentawai

Ketika itu, beberapa tamu gadis muda berusia sekitar 20-an, menjerit-jerit ketakukan saat menembus gelap menyusuri sungai ke hulu, menuju Desa Madobak. Sebelumnya mereka juga histeris saat kapal yang ditumpangi dari Tuapejat, Ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai, dihantam ombak besar Samudera Hindia saat menuju Muara Siberut.

Dua orang wisatawan mancanegara bermain di pantai Pulau Awera, Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Pemkab Mentawai mencatat ada sekitar 10.500 warga negara asing yang mengunjungi Mentawai pada 2017, lebih dari 50 persen berasal dari Australia, Amerika Serikat, Brazil, Jepang dan Spanyol. (foto ant)

“Katanya petualang, masak gelap aja takut. Mungkin karena mereka anak kota yang tidak terbiasa berada di kegelapan,” kata Ade yang lebih akrab disapa Kep itu.

Mereka naik sampan kecil Di sampan kecil itulah, rombongan wisatawan harus menguji kekuatan pinggang karena harus duduk meringkuk selama empat jam saat menyusuri sungai menuju Desa Rogogot.

Perjalanan selama 30 menit pertama terasa nyaman karena sungai dengan lebar rata-rata 25 meter, memiliki arus cukup tenang sehingga sehingga sampan bermotor tersebut bisa melaju tanpa hambatan.

Nelayan yang sedang mencari ikan, petani yang sedang mengolah sagu, atau anak-anak yang bermain dengan riang sambil memanjat pohon kelapa yang menjorok ke sungai, menyuguhkan pemandangan tersendiri selama perjalanan.

Pesisir pantai di Pulau Siberut via instagram/@mentawai_backpacker

Maka datanglah. Lihat juga sejumlah perempuan Mentawai pergi ke ladang dengan membawa o’orek (tas) di punggungnya di Desa Goiso’oinan. O’orek merupakan tas asli penduduk Mentawai yang terbuat dari anyaman rotan dan digunakan untuk membawa hasil ladang dan laut oleh masayarakat tersebut. (*/nrs)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wonderland Hadir di CitraRaya Jambi, Tambah Pilihan Wisata Keluarga
Daerah Istimewa Yogyakarta Jalani Program Beti Dewi Kemenparekraf/Baparekraf
Dorong Pelaku Parekraf Desa Wisata di Malang, Menparekraf Kemas Paket Wisata Menarik
‘Beti Dewi’ Program Kemenparekraf Tingkatkan Promosi Digital Desa Wisata Labuan Bajo
Tingkatkan Daya Saing, Dinas Pariwisata Padang Gelar Pelatihan Pengelolaan Usaha Homestay
40 Desa Wisata Sumbar Masuk Nominasi 500 Desa Terbaik di Indonesia
Dispar Padang Berikan Pelatihan Tata Kelola, Bisnis Dan Pemasaran Destinasi Pariwisata
Pelaku Usaha di Pantai Air Manis Ikuti Pelatihan Kebersihan Lingkungan, Sanitasi dan Pengelolaan Sampah

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 21:37 WIB

Wonderland Hadir di CitraRaya Jambi, Tambah Pilihan Wisata Keluarga

Senin, 2 September 2024 - 20:53 WIB

Daerah Istimewa Yogyakarta Jalani Program Beti Dewi Kemenparekraf/Baparekraf

Selasa, 30 Juli 2024 - 21:21 WIB

Dorong Pelaku Parekraf Desa Wisata di Malang, Menparekraf Kemas Paket Wisata Menarik

Jumat, 26 Juli 2024 - 09:54 WIB

‘Beti Dewi’ Program Kemenparekraf Tingkatkan Promosi Digital Desa Wisata Labuan Bajo

Selasa, 11 Juni 2024 - 19:16 WIB

Tingkatkan Daya Saing, Dinas Pariwisata Padang Gelar Pelatihan Pengelolaan Usaha Homestay

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB