Oleh : Rudi Yudistira. S.S
Keteladanan Buya Hamka yang belum Tergantikan.
Agam, Prokabar — Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal Buya Hamka, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional semasa Presiden Susilo Bambang Yudoyono memimpin NKRI pada Selasa, 8 November 2011 lalu. Ia dikenal garang dan hebat dalam berdakwah, konsisten dan teguh pada pendirian.
Untuk menjadi sosok ulama multitalen tersebut, jelas dipengaruhi proses dan waktu yang panjang, sehingga ia mencapai titik puncak yang sungguh luar biasa hebatnya. Hebat dalam arti penuh perjuangan, pengorbanan, kesungguhan dan pengabdian pada keyakinan maupun cita-citannya.
Seorang ulama sekaligus sastrawan dan wartawan terkemuka empat zaman. Ketegasan dan konsistensinya dalam menegakan kebenaran dan keadilan sosial Islam dikagumi semua umat. Tidak hanya umat muslim, sejumlah bangsa penjajah dan beberapa negara muslim turut mengakui keteguhan mempertahankan keyakinannya. Ia tidak gentar sedikit pun menentang dan mengkritik penguasa.
Dibalik keteguhan dan ketokohan Buya Hamka, tersimpan sejuta rahasia yang membangun sederatan proses pencarian jati diri hingga membentuknya menjadi sosok ulama multitalen. Dan sederet pengalaman hidup yang dilalui, ternyata dia keturunan dari ulama-ulama terkemuka yang pernah hidup dan mengembangkan Islam dengan baik di Minangkabau bahkan di Tingkat Nasional. Termasuk sosok Ayahnya, Syekh Abdulkarim Ambrullah (Haji Rasul) sebagai Ulama Pembaharuan Islam (Tokoh Muda) di Indonesia.
Buya Hamka dikenal Pejuang Empat Zaman. Ia sempat berjuang dimasa penjajahan lahir pada masa penjajahan Kolonial Belanda pada 17 Februari 1908, di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya (dulunya Ampek Koto), Kabupaten Agam, Sumbar. Menurut tulisan Saiful Falah, (Edisi : 125 – 6-20 Muharram 1433 H / 2-16 Desember 2011), pada masa revolusi 1945-1949, Hamka ditunjuk Wapres Mohammad Hatta sebagai Sekretaris Front Pertahanan Nasional yaitu Himpunan Parpol Sumatera Barat dalam bersatu melawan Belanda. Dia juga ikut mendirikan Badan Pembela Negara dan Kota (BPNK), yaitu pasukan rakyat sebagai basis kekuatan perang gerilya di Sumbar.
Saat Belanda menguasai Sumbar, Hamka selaku Ketua BPNK, turut bergerilia melawan Kolonial Belanda. Berjalan menelusuri hutan rimba sebagai upaya mengobarkan semangat perlawanan penjajahan, merebut kembali Sumbar. Ia juga turut memperkenalkan Komisi Tiga Negara (KTN) dan disambut baik masyarakat berkat orasinya menjelaskan pentingnya keberadaan KTN dalam proses kemerdekaan Indonesia tersebut.
Mulai masa penjajahan Jepang hingga Kepemimpinan Soekarno, Hamka yang dikenal seorang Jurnalis (wartawan) sering mendapat perlakuan yang tidak baik dari para penguasa tersebut. selain kritis juga selalu menegakan syariat Islam sebagai bagian utama redaksi majalahnya. Dimulai masa Jepang, Majalah Pedoman Masyarakat dibrendel. Kemudian ia terbitkan lagi Majalah Semangat Islam bersama Yunan Nasution dan Yusuf Ahmad.
Pada masa Kepemimpinan Soekarno, Hamka selalu mengkritisi Presiden pertama RI tersebut melalui Majalah Panji Masyarakat di Medan. Terutama karena sangat mesra dengan Partai Komunis. Majalah ini akhirnya dibrendel penguasa, setelah memuat tulisan Mohammad Hatta yang berjudul “Demokrasi Kita”. Tulisan tersebut mengkritik keras Demokrasi Terpimpin Soekarno. Ia mengurai semua pelanggaran-pelanggaran konstitusional pada resim orde lama tersebut. 27 Agustus 1964 dengan dalih UU Antisubversif, rezim Orba memenjarakan Hamka bersama pemimpin Masyumi lainnya.
Di zaman Orde Baru, Hamka juga bergejolak dengan Presiden Soeharto di terpilh menjadi Ketua MUI RI kedua kalinnya. Puncak perselisihan saat penguasa tersebut memaksakan asas tunggal Pancasila dan mencabut fatwa haram perayaan Natal bersama. Hamka mundur dari MUI karena menolak dengan tegas permintaan penguasa Orde Baru tersebut.
















