Akibat Bencana Banjir Sumatera, Kemenhaj dan LDII Serukan Ormas Islam Perkuat Dakwah Ekologis

Penulis -

Selasa, 9 Desember 2025 - 11:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Prokabar – Kementerian Haji dan Umrah RI memberikan kebijakan khusus berupa penundaan seleksi petugas haji serta relaksasi pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH), bagi calon jemaah haji di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan musibah banjir besar di tiga wilayah harus menjadi pendorong dakwah ekologis bagi ormas-ormas Islam.

Terkait relaksasi pelunasan biaya haji, menurut Dahnil merupakan respons pemerintah terhadap kondisi darurat yang masih berlangsung.

“Pendaftaran petugas itu ditunda dulu, khusus untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kita ingin memberikan ruang persiapan yang lebih matang untuk daerah-daerah terdampak,” ujar Dahnil.

Pemerintah memastikan adanya keringanan bagi jamaah haji yang kesulitan melunasi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH).

Pelunasan yang semula dijadwalkan berakhir pada 23 Desember 2025, diperpanjang khusus bagi jamaah dari wilayah yang mengalami musibah. Kebijakan ini sebagai bentuk kepedulian.

“Sekaligus upaya memastikan tidak ada jamaah yang kehilangan kesempatan berangkat ke Tanah Suci akibat situasi di luar kendali mereka,” jelasnya.

Dahnil menambahkan, dua wilayah yang terdampak banjir merupakan kampung halamannya, Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah.

Kedua wilayah tersebut merupakan tempat ia menghabiskan masa sekolah dasar dan menengah pertama, “Aceh Tamiang itu kampung ibu saya, dulu saya bersekolah SD di situ. Sementara Tapanuli Tengah merupakan kampung bapak, saya juga pernah sekolah SMP di sana,” kenang Dahnil.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Sebagai bentuk kepedulian pribadi sekaligus tugas moral, Dahnil bersama relawan Matahari Pagi Indonesia turun langsung untuk menyalurkan bantuan. Menurut Dahnil, musibah ini seharusnya menjadi momentum refleksi nasional terkait perawatan alam.

Ia menilai keterlibatan lembaga-lembaga agama sangat penting dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat, “Harus ada koreksi dari kita. Komitmen merawat alam, hutan, sungai. Saya ormas keagamaan Islam seperti LDII, Muhammadiyah, NU bisa membangun kesadaran jamaah,” ujarnya.

Ia menegaskan menjaga lingkungan itu fardhu ‘ain bukan fardhu kifayah, maka semua orang punya tanggung jawab,” tegasnya. Senada dengan Dahnil,

Ketua DPP LDII yang juga Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Sudarsono menegaskan sudah saatnya dakwah ekologis digencarkan, mengingat 12,7 juta hektare lahan kritis menunggu untuk dipulihkan.

“Ini kenyataan pahit. Kondisi ini semakin nyata ketika banjir dan longsor melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat,” paparnya.

Ia mengingatkan bila bangsa Indonesia hari ini tidak menanam pepohonan, maka hanya akan menanam krisis yang akan dipanen di kemudian hari.

“Pohon adalah mesin kehidupan. Ia menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menjaga siklus air, dan menahan tanah agar tidak longsor. Tanpa pohon, banjir dan kekeringan akan menjadi bencana rutin,” kata Sudarsono yang juga pakar bioteknologi tanaman.

Baca Juga :  ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Pohon juga menjadi rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna, menjaga keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan manusia. Islam mengajarkan menanam pohon merupakan sedekah, yang mendorong LDII melaksanakan program Go Green sejak 2007 dengan menanam jutaan pohon di Indonesia.

“Sementara dalam tradisi Nusantara, pohon bukan sekadar benda hidup, melainkan simbol kehidupan. Pohon beringin misalnya, menjadi lambang kekuatan dan perlindungan. Masyarakat adat di Kalimantan dan Papua memiliki ritual khusus untuk menanam dan menjaga pohon, sebagai bagian dari kosmologi mereka. Menanam pohon berarti menjaga hubungan spiritual dengan alam,” pungkasnya.

Komitmen LDII diwujudkan melalui edukasi di pondok pesantren dan sekolah di bawah naungannya, serta instrumen organisasi di tingkat pusat hingga kelurahan, untuk terus melaksanakan program penyelamatan lingkungan. Salah satu lokasi yang menjadi fokus adalah Bumi Perkemahan Cinta Alam Indonesia Wonosalam, Jombang, Jawa Timur, yang juga berfungsi sebagai pusat edukasi dan pembinaan karakter cinta lingkungan bagi generasi muda.

“Menanam pohon adalah investasi bagi generasi mendatang pohon yang ditanam hari ini akan memberi oksigen, air, dan perlindungan bagi anak cucu.

Sementara Ketua DPW LDII Sumatera Barat H Muchfiandi mengajak seluruh pihak mengambil hikmah dalam kejadian ini dan ini momentum untuk bersama-sama kembali mencintai alam dan bangkit bersama membangun lingkungan

“Kami mendorong masyarakat untuk melihat pohon sebagai penopang kehidupan dan menanam pohon sebagai bagian tindakan ibadah, sehingga Indonesia hijau, sehat, dan berkelanjutan bisa tercapai,” tanggapnya.

Baca Juga :  ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Sementara Sekretaris LDII Sumatera Barat HM Abdillah mengatakan pentingnya kolaborasi multi pihak mulai pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat harus bekerja bersama untuk rehabilitasi lahan kritis.

Menurut dia pemilihan jenis pohon sesuai lokasi, perawatan pasca tanam, serta insentif ekonomi hijau seperti perdagangan karbon dan ekowisata menjadi bagian dari strategi agar penanaman pohon berkelanjutan dan berdampak nyata.

Menurut dia menanam pohon adalah tindakan sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Bayangkan, ketika warga bersama-sama menanam pohon di bantaran sungai, beberapa tahun kemudian pohon itu tumbuh besar, akar menahan tanah, banjir berkurang, dan udara lebih sejuk.

“Pohon kecil yang dulu ditanam berubah menjadi penopang kehidupan,” tutupnya.

LDII Sumatera Barat juga terus mendistribusikan bantuan yang dikumpulkan kepada warga yang terdampak banjir dan galodo yang diantarkan langsung kepada masyarakat.

Selain itu, relawan LDII Sumbar juga ikut terjun membersihkan lingkungan warga yang tertimbun sedimen pasir dan lumpur serta ikut bergotong royong membantu warga terdampak.

“Kami berupaya memberikan bantuan sesuai dengan kapasitas yang ada dan kami minta doa masyarakat agar kondisi ini bisa kembali normal dan percepatan pembangunan di Sumbar segera dilakukan oleh pemerintah,” kata dia. (*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo
ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia
Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI
Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok
Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut
Jelang Muktamar Muhammadiyah, 10 PWM Sepakati Risalah Bukitinggi
Rahmat Saleh Dorong Keterbukaan Tata Niaga Impor Gula
ADPI Sukses Launching IADP melalui Technical Guidance Book Chapter Writing – Springer.
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:39 WIB

ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Rabu, 30 September 2026 - 17:37 WIB

Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI

Rabu, 23 September 2026 - 10:46 WIB

Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok

Selasa, 22 September 2026 - 12:04 WIB

Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB