Maninjau, Prokabar.com – Sebuah pengalaman sangat berharga saat mendampingi Komunitas Rumah Edukasi dari Kabupaten Sijunjung, Sabtu (6/12) lalu. Nilam Cayo, penulis novel fizzo selaku pengasuh dan Ketuanya Rizal Afdhal beserta anggota.
Jauh-jauh datang menyalurkan amanah orang-orang baik, untuk saudara seiman tertimpa musibah bencana di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Dengan perjuangan sangat menantang, bahkan nyawa jadi taruhan.

Perjalanan mereka, tidak semulus pipi halus dengan glowing terbaik, tidak pula selurus jalan tol tanpa hambatan. Melintasi jalan terban dan longsor dari Sungai Landia, Kelok 44, Koto Malintang menuju ke Sigiran sampai tujuan. Dan pengalaman itu, Nilam Cayo menceritakan kisahnya dengan judul : Allah Yang Memaksa Kami ke Sungai Batang.
Kalimat itu terdengar ekstrem, tapi itu hikmah yang kami semua rasakan dan dapatkan. Awalnya bantuan orang baik yang disalurkan lewat Rumah Edukasi, rencananya untuk Palembayan.
Namun, kami tak henti dapat inbox, Sungai Batang masih minim bantuan. Sementara di sana, ada kampung yang luluh lantak oleh galodo selebar 1,5 km.
Bayangkan, 1.5 Kilometer menyapu pemukiman. Tentu rumah hancur dan terbawa ke Danau Maninjau.
Sayang, akses ke sana sangat sulit. Kalau tidak dengan boad dari Bayur, terpaksa mengelilingi danau yang jaraknya lumayan jauh, sekitar 2 jam perjalanan. Belum lagi longsoran di mana-mana.
Allah.
Kalau bukan DIA yang berkehendak, langit yang awalnya cerah seperti baju relawan, tak akan berganti hujan seperti ditumpahkan dari drom.
Lebat!
Sangat lebat.
Air danau naik, debit sungai meningkat, jalan berubah seperti payau.
Rencana kami batal semua. Bertemu anak-anak di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka pun gagal total karena gelap. Sudah tujuh hari listrik padam di sana.
Pun untuk penyaluran bantuan, awalnya mau kami bagikan langsung ke warga yang didampingi mamak Rudi Yudistira. Tetapi apa boleh buat. Hujan deras, banjir dan kecemasan lebih dahulu menghambat niat kami, atas nama seluruh donatur dan orang baik.

Untuk pulang pun, kami tetap diuji. Mungkin Allah ingin tahu, setebal apa nawaitu kami.
26 jam!
Ya, waktu yang relatif lama bagi kami untuk pergi dan pulang kembali ke Rumah Edukasi.
Terima kasih orang baik.
Bantuan tersalurkan. Tapi kami tetap berharap pada dermawan untuk segera membantu Sungai Batang.

Komunitas Rumah Edukasi Sijunjung ini, menyalurkan paket sembako sebanyak 40 kantong. Pakaian 5 karung layak pakai dan baru. Pakaian dalam anak-anak dan dewasa 1 dus, pempers 2 dus, pembalut 1 dus, sabun cuci, sabun mandi, sabun cuci piring dan obat-obatan. Bantuan itu sampai di Rumah Angku Datuak Batuah, di Jorong Nagari. Salah satu tokoh masyarakat Nagari Sungai Batang.*
















