Sungai Batang, Prokabar.com – Sejarah tidak akan hilang jika pelaku sejarahnya selalu hidup sebagai suri tauladan dan panutan bagi generasi penerusnya. Tikam jejak sejarah sebagai refleksi dan cerminan jati diri dari suatu bangsa yang bermartabat.
Begitu juga perjalanan sejarah dari negeri ulama pejuang perlawanan penjajahan dan pembodohan. Nagari Sungai Batang – Maninjau, Luhak Agam yang berada dalam kawasan Danau Maninjau sisa letusan Gunung Merapi Sitinjau.
Negeri penuh semangat pengorbanan melawan penindas Kolonial Belanda dari berbagai aspek perjuangan. Berawal Perjuangan Paderi hingga masa pembaharuan Islam yang menjadi cikal bakal pelopor Kemerdekaan Republik Indonesia ini.
Gerakan perubahan dan pembaharuan ini, melahirkan organisasi Islam Muhammadiyah oleh Kiyai Haji Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta pada 18 November 2012. Namun perkembangan organisasi terkemuka ini semakin besar setelah ulama Minangkabau ikut terlibat dalam kepengurusannya.
Mereka adalah Doktor Haji Abdul Karim Amrullah, Yusuf Amrullah dan Ahmad Rasyid Sutan Mansur. Ketiga tokoh ulama besar Minangkabau ini memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat di Sungai Batang, sepakat mendirikan Muhammadiyah di Sungai Batang.
Doktor Haji Abdul Karim Amrullah (1879-1945) atau lebih terkenal nama Inyiak Rasul ini merupakan anak kandung ulama besar tarekat Naqsyabandiyah yakni Syekh Muhammad Amrullah atau bergelar Tuanku Abdullah Saleh atau Tuanku Kisai dengan istri ketiganya Tarwasa di Sungai Batang, Agam.
Setelah pulang dari Mekah dan berguru dengan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi selaku Imam Besar Masjidil Haram Mekah, (dari 1894 dan kembali pulang pada 1925), sempat bertemu dengan Kiyai Haji Ahmad Dahlan yang seguru Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
Hubungan antara Ulama Pembaharuan Minangkabau dengan Ulama Pembaharuan dari Yogyakarta ini semakin kuat setelah muridnya Ahmad Rasyid Sutan Mansur (A.R Sutan Mansur) kebetulan merantau ke Pekalongan bergabung dalam organisasi Muhammadiyah.
Selain murid kesayangan Inyiak Rasul, A.R Sutan Mansur juga minantunya. Suami dari anak perempuannya bernama Fatimah Karim Amrullah.
Setelah menjadi mubaliq Muhammadiyah, A.R. Sutan Mansur kembali pulang ke kampung halamannya Maninjau – Sungai Batang pada 1924. Secara kebetulan pada saat itu Inyiak Rasul juga sengaja ke Pekalongan menemui dirinya untuk membantu pengembangan Sekolah atau Madrasah bernama “Sandi Aman” atau “Ihya Ulumuddin”.
Mereka sepakat mendirikan Muhammadiyah dan Aisyiyah, A.R Sutan Mansur selaku Pimpinan Muhammadiyah pertama di Minangkabau dan Istrinya Fatimah Karim Amrullah (Kakak Kandung Buya Hamka) sebagai Wakil Aisyiyah pertama di Minangkabau. Sekaligus mendirikan Madrasah Tsanawiah Muhammadiyah pertama di Indonesia. Pendirinya A.R Sutan Mansur, Abdul Karim Amrullah dan Yusuf Amrullah (adik kanding Abdul Karim Amrullah).
Rencana Pendirian Monumen Muhammadiyah Minangkabau
Anwar Abbas selaku Ketua Steering Committe Panitia 1 Abad Muhammadiyah di Sumayera Barat mengatakan, pihaknya sengaja langsung ke Sungai Batang untuk kembali mengangkat sejarah yang menjadi awal lahirnya Muhammadiyah pertama di Pulau Sumatera, khususnya di Minangkabau (Sumatera Barat). Mengangkat Kampung Muhammadiyah Minangkabau pertama sekaligus membangun monuman titik nol kilometer perjalanan sejarah Muhammadiyah-Aisiyah oleh tiga ulama Minangkabau yakni Abdul Karim Amrullah, Yusuf Amrullah dan Ahmad Rasyid Sutan Mansur.
“Peran Doktor Haji Abdul Karim Amrullah sangat besar terhadap Muhammadiyah. Mampu menyatukan ulama-ulama terkemula ranah dan rantau untuk mendirikan organisasi pembaharuan Islam. Pada tahun 1925, Cabang Muhammadiyah pertama di Sungai Batang namun belum mendapat SK dari Pimpinan Pusat. Pada 1926, Cabang Muhammadiyah pun lahir dari gerakan tiga ulama tadi ke Padang Panjang.” Ungkap Anwar Abbas saat berkunjung ke Sungai Batang, Sabtu (9/11) lalu.
Abdul Karim Amrullah atau HAKA sebelumnya sudah menjadi ulama besar di Padang Panjang dan telah lebih dahulu mendirikan Sumatera Thawalib atau Surau Jembatan Besi, sehingga memiliki pengaruh cukup kuat pada masa itu. Bersama Doktor Abdullah Ahmad (Pendiri Sekolah Adabiah Padang), berhasil mendirikan Surau Jembatan Besi tahun 1914.
Pada tahun 1930, Abdul Karim Amrullah bersama ulama-ulama besar Minangkabau lainnya pun sukses menggelar Kongres Mukthar Muhammadiyah Pertama. Berhasil menyatukan diaspora (perantau) dengan masyarakat Minangkabau pada saat itu.
Sementara itu, Mahardi selaku Wakil Ketua Organizing Committee Panitia 1 Abad Muhammadiyah Minangkabau didampingi Anggota Fortito mengatakan, Peringatan Satu Abad Muhammadiyah di Sumatera Barat (1925 – 2025) memperkuat ingatan kolektif Gerakan Pembaharuan di Minangkabau. Gerakan Doktor Haji Abdullah Ahmad di Padang, Doktor Haji Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang dan Agam (Bukittinggi), Syekh Muhammad Djamil Djambek di Bukittinggi dan Muhammad Thaib Sungayang menggemparkan Minangkabau bahkan sampai ke Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Singapura dan Malaysia karena adanya majalah Al Munir dari Ulama Minangkabau ini.
Agar sejarah itu tidak hilang, butuh bukti monumen titik nol kilometer perjalanan perjuangan dari Abdul Karim Amrulah, Yusuf Amrullah dan A.R Sutan Mansur yang memulai lebih awal di Sungai Batang.
Ketua Pempinam Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Agam, Mursidi,
Sekretari PDM Agam, Jendrial, Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tanjung Raya, Mayulis dan Pimpinan Ranting Batung Panjang, Fajri Datuak Mangkuto Nan Basa menyambut baik rencana Pendirian Monumen Muhammadiyah Minangkabau pertama sekaligus Kampung Muhammadiyah pertama ini.
“Kita akan dukung sesuai kesepakatan dan perencanaan. Segera berhimpun mempersiapkan diri sebagai tuan rumah,” ujarnya. (rud)
















