Prokabar.com – Permintaan maaf Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar, usai pelaksanaan ibadah haji 2025, dinilai sebagai langkah berani dan penuh makna.
Rektor UIN Bukittinggi, Silfia Hanani, menyebut langkah tersebut menjadi standar baru kepemimpinan keagamaan di Indonesia.
“Pengakuan terhadap kekurangan bukanlah kelemahan, melainkan titik balik untuk reformasi pelayanan umat,” tegas Silfia, Jumat (18/7/2025).
Silfia menekankan, permintaan maaf Menag menunjukkan bahwa kepemimpinan modern harus transparan, profesional, dan berorientasi nilai kemanusiaan.
“Ini adalah standar baru kepemimpinan. Pesannya jelas, tata kelola keagamaan harus lebih terbuka dan humanis,” ujarnya.
Selain itu, permintaan maaf tersebut juga sangat strategis, terutama pada usia Kementerian Agama yang ke-75, dimana publik menuntut pelayanan keagamaan yang lebih adil dan inklusif.
“Haji hanyalah satu wajah layanan umat. Permintaan maaf Menag adalah simbol bahwa Kemenag tidak alergi terhadap kritik dan siap berbenah,” tambah Silfia.
Sebagai pimpinan perguruan tinggi keagamaan, Silfia menegaskan UIN Bukittinggi siap mendukug transformasi besar pelayanan haji melalui peran akademisi dan riset.
“UIN Bukittinggi punya tanggung jawab mendukung reformasi layanan keagamaan melalui riset, inovasi digital, dan penguatan SDM berintegritas.”
“Pelayanan umat tidak hanya soal logistik, tetapi juga manajemen modern berbasis nilai,” tutupnya
















