Padang, prokabar – Italia punya banyak pemain hebat untuk urusan mencetak gol. Mulai dari Silvio Piola ke Gianni Rivera hingga Roberto Baggio, adalah bagian sejarah Italia di Piala Dunia yang dipenuhi dengan nama-nama legendaris.
Namun mungkin yang paling terkenal dari semuanya adalah Paolo Rossi. Dia menjadi bintang ketika Gli Azzurri juara Piala Dunia 1982 di Spanyol.
Rossi adalah pahlawan yang tidak pernah diduga, karena sebelum Piala Dunia 1982 Rossi bukan siapa-siapa. Bahkan striker tersebut adalah pemain bermasalah, karena terlibat kasus pengaturan skor yang membuatnya kena sanksi.
Tapi, Pelatih Italia saat itu, Enzo Bearzot, melawan segala kritik hanya karena memasukkan Rossi dalam skuadnya. Padahal saat itu Rossi striker yang tidak fit dan kembali dari larangan bermain yang panjang.

Kekecewaan publik Italia terus meningkat ketika Italia lolos dari babak penyisihan grup pertama setelah tiga hasil imbang yang membosankan. Rossi sang striker yang dimusuuhi mendapat hujatan di media Italia sebagai “hantu”.
Publik semakain pesimis dan loyo, Ketika tim besutan Bearzot mendapat undian untuk melawan juara bertahan Argentina dan favorit juara Brasil di babak penyisihan grup kedua. Jalan mereka di Piala Dunia seperti sudah tertulis jelas, akan berakhir di babak ini.
Tapi segalanya berubah bagi Rossi dan Italia ketika mereka bertemu dengan pemain Brasil yang tampaknya sulit untuk mereka bendung dalam pertandingan yang menentukan dan berakhir tak terlupakan sampai saat ini.
“Sebelum pertandingan, Bearzot menyuruh saya untuk menekan Oscar dan Luizinho, dua bek tengah Brasil yang lamban,” kata Rossi dalam otobiografinya. “Mereka pasti akan membuat kesalahan, katanya.”
Pelatih Italia itu terbukti benar. Rossi membuat huru-hara di lini pertahanan lawan, mencetak hat-trick yang luar biasa dan menghancurkan Brasil. Dia juga berhasil membungkam para kritikus yang menyerang dirinya dan membuktikan keyakinan dan kepercayaan dari pelatihnya yang sangat teguh pendiriannya.

“Setelah pertandingan saya langsung mencari Bearzot. Saya berutang semuanya padanya, kemenangan yang luar biasa ini, momen-momen yang tak terlupakan. Saya memeluknya, hanya pelukan, tidak perlu berbicara.”
“Saya pikir pada saat itu saya mengalami tingkat kebahagiaan tertinggi, kebahagiaan yang membuat Anda terbang setelah bertahun-tahun menderita dan ragu.
“Saya akan mengatakan kemenangan melawan Brasil adalah pertandingan abad ini. Itu sangat emosional sampai detik terakhir dan penuh dengan pemain luar biasa. Itu jelas merupakan pertandingan terpenting dalam karir saya.”
Itu tentu merupakan batu loncatan dari mana Rossi kemudian meraih Sepatu Emas, setelah berhasil mencetak tiga gol lagi di semi-final melawan Polandia, dan final saat Italia mengalahkan Jerman Barart untuk kembali ke puncak dunia sepakbola.
Paolo Rossi tutup usia di usia 64 tahun pada Kamis, 10 Desember 2020, hanya berselang satu bulan setelah meninggalnya legenda sepakbola Argentina, Diego Maradona. (*)
















