<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#Waerebo Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/waerebo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/waerebo/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 Aug 2025 09:50:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#Waerebo Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/waerebo/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dari Wae Rebo ke Istana: Tabola-Bale, Politik Akulturasi, dan Kemerdekaan</title>
		<link>https://prokabar.com/dari-wae-rebo-ke-istana-tabola-bale-politik-akulturasi-dan-kemerdekaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Aug 2025 09:50:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#HUTRI80]]></category>
		<category><![CDATA[#Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[#tabolabale]]></category>
		<category><![CDATA[#Waerebo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=128634</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Revdi Iwan Syahputra Tabola-Bale yang mengguncang Istana Merdeka pada perayaan HUT ke-80 RI bukan sekadar penutup acara. Lagu rancak yang memadukan dialek Indonesia...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/dari-wae-rebo-ke-istana-tabola-bale-politik-akulturasi-dan-kemerdekaan/">Dari Wae Rebo ke Istana: Tabola-Bale, Politik Akulturasi, dan Kemerdekaan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em><strong>Oleh: Revdi Iwan Syahputra</strong></em></p>
<p>Tabola-Bale yang mengguncang Istana Merdeka pada perayaan HUT ke-80 RI bukan sekadar penutup acara. Lagu rancak yang memadukan dialek Indonesia Timur dengan bahasa Minangkabau, dinyanyikan Silet Open Up dan Diva Aurel, menjadi simbol politik kebudayaan. Presiden Prabowo Subianto berhasil menarik akulturasi ke ruang negara, menjadikannya bukan sekadar hiburan, melainkan pesan politik. Inilah seni yang masuk ke jantung kekuasaan.</p>
<p>Ingatan saya langsung terlempar pada perjalanan 17–19 Agustus 2019 lalu ke Wae Rebo. Bersama kawan-kawan—Firdaus Abi, Adrian Tuswandi, Nofal Wiska, Defri Mulyadi, Agusmardi—kami menempuh perjalanan panjang yang difasilitasi sahabat kami, Febby Dt Bangso. Dari Labuan Bajo menuju Lembor, kami singgah di pantai Nang Lili dan Pulau Molas, sebelum akhirnya tiba di Desa Denge, pintu masuk menuju negeri di atas awan.</p>
<p>Kami bermalam di rumah Blasius, seorang guru sekaligus tokoh adat yang ramah. Malam itu listrik padam tepat pukul 22.00, sinyal telepon nihil, hanya suara jangkrik menemani. Percakapan ringan mencairkan suasana. Adrian berkelakar soal istrinya yang tak bisa dihubungi karena ponselnya tak berguna. Tawa kami pecah, ditemani aroma kopi Arabika yang baru diseduh.</p>
<p>Keesokan harinya, perjalanan sesungguhnya dimulai. Jalan setapak menanjak dengan kemiringan tajam, licin karena sisa hujan malam sebelumnya. Kabut tebal menutup pandangan, membuat kami seakan masuk ke dunia lain. Sesekali suara burung dan gesekan dedaunan menjadi irama alam yang menuntun langkah. Nafas terengah, kaki gemetar, tapi ada energi aneh yang membuat kami terus mendaki. “Ini bukan sekadar jalan kaki, ini ziarah budaya,” batin saya.</p>
<p>Dan ketika kabut tersibak, tujuh rumah adat berbentuk kerucut—Mbaru Niang—tampak berdiri megah di lembah. Semua lelah sirna. Ada rasa haru, ada rasa pulang. Blasius kemudian bercerita bahwa leluhur Wae Rebo berasal dari Minangkabau, dipimpin oleh Empo Maro yang berlayar ribuan tahun lalu sebelum menetap di Flores. “Kita ini sebenarnya saudara,” ujarnya. Saya merinding mendengarnya.</p>
<p>Wae Rebo adalah bukti hidup bahwa akulturasi adalah DNA bangsa ini. Seperti Tabola-Bale yang memadukan Timur dan Minang di panggung Istana, Wae Rebo menunjukkan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan.</p>
<p>Dari perspektif sosiologi politik, langkah Presiden Prabowo menampilkan Tabola-Bale adalah upaya membangun legitimasi politik melalui simbol budaya. Ia memahami bahwa politik Indonesia pasca-reformasi kerap terjebak dalam sekat identitas, dari agama hingga etnisitas. Dalam ruang publik yang retak oleh polarisasi, simbol persatuan sulit ditemukan. Di titik inilah seni dan budaya menjadi strategi politik—lebih kuat dari jargon partai, lebih tulus dari pidato kampanye.</p>
<p>Tabola-Bale menghadirkan pesan: bangsa ini besar karena keberagaman yang tidak disembunyikan, tetapi dirayakan. Politik kebudayaan yang ditarik ke Istana adalah bentuk rekonsiliasi simbolik. Presiden Prabowo seakan berkata, “Kalau rakyat bisa menari bersama, maka elite pun seharusnya bisa duduk bersama.”</p>
<p>Namun, tentu kita perlu kritis. Politik akulturasi di Istana tidak boleh berhenti pada simbol. Ia harus mewujud dalam kebijakan: pendidikan yang menghargai keragaman lokal, pembangunan yang tidak menyingkirkan adat, serta distribusi ekonomi yang tidak memarjinalkan daerah pinggiran. Jika hanya berhenti di panggung, Tabola-Bale tak lebih dari kosmetik kekuasaan. Tapi jika dijadikan paradigma, ia bisa mengubah politik identitas menjadi politik peradaban.</p>
<p>Dari rumah adat di puncak Manggarai hingga Tabola-Bale di Istana, pesan itu sama: Indonesia adalah mosaik panjang perjumpaan budaya. Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan, melainkan juga bebas dari politik yang membelah. Kini tinggal bagaimana Presiden Prabowo membuktikan bahwa simbol persatuan itu bukan sekadar tarian di hari kemerdekaan, tetapi arah politik bangsa lima tahun ke depan.(*)</p>
<p>#Penulis adalah Jurnalis Pemegang Kompetensi Utama, Pemred Rakyat Sumbar, dan mantan Pemred media arus utama di Sumatera Barat.</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/dari-wae-rebo-ke-istana-tabola-bale-politik-akulturasi-dan-kemerdekaan/">Dari Wae Rebo ke Istana: Tabola-Bale, Politik Akulturasi, dan Kemerdekaan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Suku Modo di Wae Rebo, Sang Penjaga Warisan Leluhur</title>
		<link>https://prokabar.com/suku-modo-di-wae-rebo-sang-penjaga-warisan-leluhur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Aug 2019 10:37:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[#Flores]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<category><![CDATA[#laf]]></category>
		<category><![CDATA[#Manggarai]]></category>
		<category><![CDATA[#Waerebo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=44616</guid>

					<description><![CDATA[<p>Flores, Prokabar &#8211; Jam 4 Subuh. Dingin di Desa Denge menusuk tulang. Kamar yang dihuni oleh para jurnalis digedor Blasius. Terpaksa, air sedingin es...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/suku-modo-di-wae-rebo-sang-penjaga-warisan-leluhur/">Suku Modo di Wae Rebo, Sang Penjaga Warisan Leluhur</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Flores, Prokabar</strong> &#8211; Jam 4 Subuh. Dingin di Desa Denge menusuk tulang. Kamar yang dihuni oleh para jurnalis digedor Blasius. Terpaksa, air sedingin es dibasuhkan ke muka. Sebagian dari jurnalis bahkan memilih untuk mandi.</p>
<p>Setelah Shalat Subuh dan sarapan seadanya, tim ekspedisi ini bersiap menjajal jalan terjal. Dari homestay, kami diantar oleh ojek menuju posko pertama. Raungan sepeda motor memecah subuh buta, meliuk diantara rimba. Menggigil karena dingin.</p>
<p>Matahari belum sempurna. Kami sudah berkumpul di ujung jalan aspal. Pemandu yang akan membawa kami ke puncak Wae Rebo bernama Long melakukan briefing singkat. Menjelaskan jalur yang akan dilalui. Dan perjalanan menuju kampung saudara jauh Minangkabau itu dimulai.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44619" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0086-1024x473.jpg" alt="" width="1000" height="462" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0086-1024x473.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0086-300x139.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0086-768x355.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0086.jpg 1152w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Dua ratus meter pertama, jalur mendaki dilalui dengan mudah. Semuanya baik baik saja. Ada yang berlari, ada yang berjalan cepat. Selepas itu, nafas beberapa tim mulai sesak. Jalur pendakian itu mulai berat.</p>
<p>Dari Denge ke Wae Rebo, normalnya ditempuh 2,5 jam berjalan kaki. Itupun hanya dengan istirahat sebentar. Jalur yang dilewati penuh dengan tanjakan, nyaris tidak ada jalur mendatar atau menurun.</p>
<p>&#8220;Berat, lebih berat dari jalur Marapi, Singgalang ataupun Talang. Tidak ada bonus jalan mendatar disini,&#8221; ujar Toad sambil terengah &#8211; engah mengambil nafas.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44620" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0142-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0142-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0142-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0142-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0142.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>&#8220;Beruntung saya rajin jalan kaki ke Gunung Padang,&#8221; sambung Defri Mulyadi, atau akrab dipanggil Imung.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44622" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0065-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0065-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0065-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0065-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0065.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Selain tanjakan, pengunjung juga harus ekstra hati hati, karena jalanan lumayan licin. &#8220;Sudah banyak yang jatuh di jalur ini, bahkan ada yang masuk jurang,&#8221; jelas Long, pemandu tim ekspedisi ini.</p>
<p>Makin tinggi, jalur tanjakan makin curam. Fisik sudah terkuras. Berjalanpun semakin pelan. Posko 2 tinggal beberapa puluh meter di depan.</p>
<p>&#8220;Saya tunggu di posko dua saja, tanggung istirahat di sini,&#8221; kata Aries, staf Kemendes yang mendampingi jurnalis selama di NTT.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44625" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190814-WA0021-1024x473.jpg" alt="" width="1000" height="462" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190814-WA0021-1024x473.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190814-WA0021-300x139.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190814-WA0021-768x355.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190814-WA0021.jpg 1152w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Jarak yang harus ditempuh sekitar 5 km. 3 km adalah jalan menanjak. Sedangkan 2 km Selanjutnya jalan mulai landai dan menurun. Jalur ini terdiri dari 3 posko. Posko 1 lokasi <em>start</em> jalan. Posko 2 dengan pemandangan laut Flores. Dan Posko 3, tak jauh dari Wae Rebo.</p>
<p>Badan sudah basah oleh peluh. Akhirnya tim ekspedisi sampai di Posko 3. Artinya tidak jauh lagi akan sampai di Rumah Kasih Ibu. Rumah ini terdapat sebuah kentongan. Setiap tamu datang wajib memukul kentongan itu. Dari rumah ini sudah terlihat Mbaru Niang.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44626" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0247-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0247-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0247-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0247-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0247.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>&#8220;Sebelum masuk ke Rumah Gendang, tidak boleh mengambil foto dan video,&#8221; perintah Long.</p>
<p>Kami patuh, dan langsung masuk ke rumah utama untuk melakukan prosesi adat <em>Waelu&#8217;u.</em> Di dalam rumah, sudah menunggu tetua adat Rafael serta penerjemah Lucki. <em>Waelu&#8217;u</em> adalah prosesi untuk menyambut semua tamu. Tujuannya adalah mendoakan tamu agar selamat. Selain itu juga sebagai penghormatan terhadap arwah leluhur, yang dipercaya masyarakat bersemayam di kampung mereka.</p>
<p>&#8220;Selamat datang di Wae Rebo, kami senang dengan kehadiran bapa bapa, apalagi dari Minangkabau. Leluhur kita satu, dan jelas kita bersaudara,&#8221; kata Lucki setelah prosesi selesai.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44627" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190820-WA0016-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190820-WA0016-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190820-WA0016-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190820-WA0016-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190820-WA0016.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Kampung Wae Rebo terletak di lembah, diapit oleh pegunungan. Kampung ini berada di 1270 Mdpl. Rumah adat yang disebut Mbaru Niang, berdiri kokoh, jumlahnya 7 buah. Tidak boleh ditambah dan dikurangi. Jumlah tersebut dipercaya merupakan cerminan kepercayaan leluhur untuk menghormati tujuh arah puncak gunung di sekeliling Kampung Wae Rebo, yang dipercaya sebagai pelindung kemakmuran kampung.</p>
<p>Rumah utama di Wae Rebo adalah Rumah Gendang. Di sini tetua adat tinggal. Di dalamnya terdapat 8 kamar, mewakili 8 keluarga di Suku Modo.</p>
<p>Rumah berbentuk kerucut itu memiliki 5 lantai dengan fungsi berbeda. Lantai pertama untuk aktivitas, ditengahnya terdapat 8 tungku memasak. Lantai 2 untuk menyimpan makanan yang akan dimasak. Lantai 3 menyimpan benih yang akan ditanam pada saat Penti atau tahun baru suku Modo. Lantai 4 menyimpan stok makanan jika terjadi kekeringan, dan lantai paling atas menyimpan barang barang sakral yang hanya dipakai pada saat upacara Penti.</p>
<p>Di Wae Rebo bermukim sekitar 130 jiwa. Rata rata penduduknya bercocok tanam kopi. Sementara untuk kebutuhan lain, dibawa dari Desa Kombo. Desa ini, kampung kedua suku Modo. Rata rata mereka punya rumah di Kombo. Begitupun anak anak mereka, untuk sekolah, mereka tinggal di Kombo.</p>
<p>Tim ekspedisi menghabiskan waktu di Wae Rebo mengeksplorasi alam dan kekayaan budaya. Tidak lupa, secangkir kopi menemani di pagi yang berkabut itu.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44628" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0025-1024x472.jpg" alt="" width="1000" height="461" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0025-1024x472.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0025-300x138.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0025-768x354.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0025.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>&#8220;Apakah kalian tidak terasing di tengah globalisasi yang semakin menggila?&#8221; pancing Agusmardi kepada Lucki, Patris dan Long ketika bicara santai.</p>
<p>&#8220;Tidak bapa, kami bangga, sampai mati kami akan menjaga tradisi, adat dan budaya leluhur kami,&#8221; jawab Lucki dengan sorot mata tajamnya.</p>
<p>Tiga anak muda Wae Rebo ini menjadi gambaran, bagaimana suku Modo sangat menghargai budaya mereka. Keselarasan dengan alam membuat mereka menjadi pribadi pribadi hebat. Masa depan Wae Rebo ada di tangan mereka.</p>
<p>Tim ekspedisi tidak bisa berlama lama di Wae Rebo. Masih ada perjalanan yang harus dituntaskan. Namun, Setidaknya Wae Rebo mengajarkan kepada kami bahwa Ada kebahagiaan lebih hakiki, yaitu hidup selaras dengan alam, menjunjung tinggi kebersamaan, dan menghormati orang lain seperti saudara sendiri. Sementara teknologi tidak berarti apa apa di Wae Rebo.</p>
<p>Di tempat lain, Stafsus Mendes PDTT, Febby Dt Bangso berharap, perjalanan ini memberikan gambaran baru tentang bagaimana desa wisata bisa mensejahterakan masyarakat.</p>
<p>&#8220;Bukan tidak mungkin di Sumatera Barat ada desa wisata seperti Wae Rebo ini, yang dicari bukan kemewahan destinasi, tapi malah kesederhanaan, ini yang mahal,&#8221; kata Febby.</p>
<p>&#8220;Bayangkan orang datang dari penjuru dunia ke Wae Rebo, jalannya saja tidak mulus, tidak ada listrik, mereka pun harus membayar mahal, tapi ratusan orang datang tiap bulan ke desa ini,&#8221; sambung Febby.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44631" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0237-682x1024.jpg" alt="" width="682" height="1024" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0237-682x1024.jpg 682w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0237-200x300.jpg 200w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0237-768x1152.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0237.jpg 853w" sizes="auto, (max-width: 682px) 100vw, 682px" /></p>
<p>Cerita Wae Rebo harus kami akhiri di sini. Tapi goresan keindahan jadi memori seumur hidup. Wae Rebo tidak hanya desa terindah di dunia, tapi juga desa yang punya banyak pelajaran penting tentang kehidupan.</p>
<p>Tim ekspedisi merdeka tidak banyak bicara ketika turun dari Wae Rebo. Masing masing kami punya catatan sendiri di kepala. Kami belajar banyak dari Wae Rebo, tentang mengelola wisata, sekaligus tentang hakikat kehidupan.(laf)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/suku-modo-di-wae-rebo-sang-penjaga-warisan-leluhur/">Suku Modo di Wae Rebo, Sang Penjaga Warisan Leluhur</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wae Rebo, Rantau Jauh Orang Minangkabau</title>
		<link>https://prokabar.com/wae-rebo-rantau-jauh-orang-minangkabau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Aug 2019 15:06:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[#kemedes]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<category><![CDATA[#laf]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<category><![CDATA[#Waerebo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=44454</guid>

					<description><![CDATA[<p>Flores, Prokabar &#8211; Pagi di Labuan Bajo, gerah seperti biasa. Jam 7 pagi, aktivitas masyarakat bergerak. Ke sekolah, kantor dan pasar. Sementara di depan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/wae-rebo-rantau-jauh-orang-minangkabau/">Wae Rebo, Rantau Jauh Orang Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Flores, Prokabar</strong> &#8211; Pagi di Labuan Bajo, gerah seperti biasa. Jam 7 pagi, aktivitas masyarakat bergerak. Ke sekolah, kantor dan pasar. Sementara di depan hotel, belasan pemandu dan driver sudah menunggu tamu yang akan pergi sesuai dengan rencana liburan mereka.</p>
<p>Tim ekspedisi merdeka sudah berkumpul di lobby hotel. <em>Trip plan</em> dibahas, tujuannya adalah Wae Rebo. Untuk menuju desa di atas awan ini, bisa melalui dua jalur. Pertama melalui Ruteng dan terus ke Iteng. Jalur kedua melalui Lembor, belok kanan lewat Nang Lili. Kami memilih jalur kedua karena pertimbangan jarak dan waktu.</p>
<p>Labuan Bajo menuju Lembor ditempuh selama 2 jam. Melewati pegunungan dengan pepohonan yang kering. Tapi pemandangan tidak kalah indahnya. Melihat lautan dari ketinggian, sungguh pengalaman yang sulit dilupakan. Liukan jalan yang mulus, mengantarkan kami ke desa pemasok beras Manggarai itu.</p>
<p>Lembor tidak seperti desa sebelumnya yang dilewati. Di sini ratusan hektar sawah membentang. Hijau. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah sawah.</p>
<p>&#8220;Sawah ini dibuat tahun 80 an, sekaligus dibangun irigasi. Makanya sepanjang tahun, masyarakat bisa menanam padi. Lembor pemasok utama beras di Manggarai,&#8221; cerita Ajo Johan, orang Lubuk Alung yang berjualan nasi Padang di jantung Lembor.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan menyisiri pantai Nang Lili. Pantai berbatu dengan aspal yang kurang mulus, menemani perjalanan. Tak lama, sebuah pulau terlihat. Pulau Molas (baca moles) mengintip dibalik birunya laut. Molas dalam bahasa Manggarai adalah cantik. Jika diamati benar, pulau itu terlihat seperti perempuan yang sedang tidur menelentang. Di bawahnya terlihat pasir putih. Kami akan ke sana, tapi tidak hari ini.</p>
<p>Hampir 2 jam melewati jalan tepi pantai, akhirnya tim ekspedisi sampai di gerbang Wae Rebo. Namanya Desa Dintor. Desa ini menjadi satu satunya pintu masuk ke Wae Rebo. Di desa ini juga sinyal seluler terakhir muncul. Itupun hanya sekedar untuk melakukan sambungan telepon dengan kekuatan sinyal ala kadarnya.</p>
<p>Jam menunjukkan pukul 16.00 WITA, tim Ekspedisi menapaki Desa Denge. Di desa ini akhir dari jalan beraspal. Selepasnya hanya ada jalan setapak menuju Kampung Wae Rebo. Tempat yang kami tuju adalah Tourist Information Centre. Beruntung, kami disambut tuan rumah yang ramah, Blasius.</p>
<p>&#8220;Selamat datang di Wae Rebo, saya Blasius, lebih baik bapa bapa, tinggal di sini dulu, karena kalau berangkat sore ini, dipastikan akan sampai di Wae Rebo malam hari. Silahkan nikmati kopi kampung kami,&#8221; sapa Blasius.</p>
<p>Akhirnya setelah diskusi singkat, kami memutuskan untuk menginap di homestay sederhana milik Blasius. Alasannya, selain karena terlalu sore, ternyata upacara penyambutan oleh tetua adat, hanya bisa dilakukan sebelum matahari terbenam.</p>
<p>Sore itu dihabiskan dengan mengulik sejarah Wae Rebo. Blasius yang juga seorang guru ini bercerita panjang tentang desa adat ini.</p>
<p>&#8220;Kami adalah keturunan Minangkabau, kata orang tua saya, leluhur kami bernama Empo Maro, berlayar dari tanah Minang ke Flores ini, kita adalah saudara&#8221; tutur Blasius.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44455" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Kalimat yang kami tunggu &#8211; tunggu. Sebelumnya tim ekspedisi merdeka ini sudah membaca sejumlah literasi tentang kaitan Wae Rebo dengan Minangkabau. Lalu kami terpana sambil bertanya dengan cerita Blasius.</p>
<p>Alkisah, Empo Maro dengan saudaranya, kehabisan bekal di tengah Laut Flores. Mereka terpaksa menepi untuk bertahan hidup. Nun jauh di atas gunung dua bersaudara ini melihat kepulan asap membumbung tinggi. Filsafat alam takambang jadi guru dipakai, karena dimana ada asap, berkemungkinan besar ada kehidupan. Maka berjalanlah adik beradik ini menyusuri hutan. Tempat asap tersebut benar benar sebuah perkampungan, disebutkan nama kampung tersebut adalah Todo. Empo Maro dan saudaranya akhirnya tinggal disitu, hidup bersama warga. Dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Maro berasimiliasi dengan budaya Todo.</p>
<p>Entah terjadi konflik, atau memang ingin pindah, Maro memilih untuk meninggalkan Kampung Todo. Setelah berjalan jauh ke tengah rimba, Maro menemukan sebuah lembah. Disana dia hidup dan bercocok tanam. Anehnya, tidak sekalipun kebunnya diganggu oleh binatang buas. Akhirnya Maro membangun rumah di lokasi itu.</p>
<p>&#8220;Waktu itu belum ada nama, maka suatu malam leluhur kami itu bermimpi, untuk memberi nama tempat tinggalnya dengan Wae Rebo. Dalam bahasa Manggarai, tidak ada kata rebo. Sampai sekarang kami tidak tahu arti kata rebo itu,&#8221; tutur Blasius.</p>
<p>Kopi Wae Rebo di meja, hampir habis. Blasius mengerti, datang lagi beberapa gelas kopi panas, dan cerita itupun dilanjutkan.</p>
<p>Bicara tentang kemiripan budaya dan kata, lanjut Blasius, memang tidak ada. Begitupun dengan keilmuan, belum ada penelitian tentang keterkaitan suku kami dengan Minangkabau. Kami hanya mendapatkan cerita itu hanya secara turun temurun.</p>
<p>&#8220;Ada beberapa kemiripan, seperti kain khas Wae Rebo adalah Songkek, nah di Minangkabau katanya punya songket, lalu tentang nama Maro, dulu ada orang Minang berkunjung kesini, katanya ada nama Tuanku Maro di Minangkabau, saya tidak tahu, karena memang saya belum pernah ke tanah leluhur saya, Sumatera Barat,&#8221; cerita Blasius.</p>
<p>Blasius adalah generasi ke 21 suku Modo, suku yang tinggal di Wae Rebo. Dirinya adalah salah satu penggerak wisata di kampung ini. Dulu, sebelum dunia mengenal Wae Rebo, Blasius bersama beberapa saudaranya, merasa terenyuh, dari tujuh Mbaru Niang, hanya tersisa empat saja, itupun dengan kondisi reot. Sedangkan tiga rumah sudah hancur.</p>
<p>Blasius dengan segala keterbatasan, mencari jalan. Bagaimana warisan leluhur mereka bisa diselamatkan. Gayung bersambut, melalui sejumlah araitek yang dimotori Yori Antar, berhasil meyakinkam Yayasan Tirto Utomo untuk ikut merestorasi rumah adat ini. Bersama Laksamana Sukardi dan Arifin Panigoro, Mbaru Niang kembali ke jumlah asalnya.</p>
<p>Perjuangan banyak orang itu berbuah manis, tahun 2012 Wae Rebo dianugerahi Award of Excellence pada UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation. Sebuah penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi warisan budaya.</p>
<p>Kembali ke asal usul Wae Rebo. Dari sisi fisik terdapat perbedaan wajah mencolok antara suku Modo suku Flores lainnya. &#8220;Pak Blasius ini perawakannya lebih mirip orang minang, dibandingkan orang Flores,&#8221; kelakar Firdaus Abi.</p>
<p>Hal itu diamini Blasius, beberapa orang memang tidak berwajah Flores, kecuali turunan yang sudah terjadi perkawinan campuran beberapa generasi dengan suku lain di Manggarai.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44456" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Malam di Denge terasa hening. Yang terdengar hanya suara generator, pembangkit listrik mini. Kopi sudah habis bergelas gelas. Sungguh nikmat Kopi Arabika Wae Rebo itu. &#8220;Jam 22.00 WIB, generator akan dimatikan, tidak boleh ada lilin,&#8221; tegas Blasius.</p>
<p>&#8220;Sekarang hujan, tidak kelihatan bintang di langit, tapi saya punya bintang di lemari kaca, harganya Rp 50 ribu,&#8221; candanya.</p>
<p>Tapi kami tidak tertarik dengan bintang. Bercengkrama tanpa gangguan gadget jauh lebih menarik. &#8220;Sudah lama kita tidak merasakan suasana ini, tidak ada HP ditangan, tapi entah bagaimana kata istri di rumah, saya belum sempat kasih tahu, disini tidak ada sinyal,&#8221; kata Adrian Tuswandi.</p>
<p>Malam makin hening, sebentar lagi genset akan dipadamkan. Besok pagi pagi sekali, tim ekspedisi bergerak ke negeri di atas awan. Malam ini kami tidur berkelambu, mengingatkan pada tidur di rumah gadang yang berjarak ratusan kilometer dari Wae Rebo.(laf)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/wae-rebo-rantau-jauh-orang-minangkabau/">Wae Rebo, Rantau Jauh Orang Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Labuan Bajo, Negeri Gersang yang Mendunia</title>
		<link>https://prokabar.com/labuan-bajo-negeri-gersang-yang-mendunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Aug 2019 04:25:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[#kemendes]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<category><![CDATA[#laf]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<category><![CDATA[#Waerebo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=44346</guid>

					<description><![CDATA[<p>Labuan Bajo, Prokabar &#8211; Siang itu, matahari tegak tali. Panasnya menyentuh ubun ubun. Tergesa &#8211; gesa, rem pesawat Batik Air mencicit di landasan pacu...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/labuan-bajo-negeri-gersang-yang-mendunia/">Labuan Bajo, Negeri Gersang yang Mendunia</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Labuan Bajo, Prokabar</strong> &#8211; Siang itu, matahari tegak tali. Panasnya menyentuh ubun ubun. Tergesa &#8211; gesa, rem pesawat Batik Air mencicit di landasan pacu sepanjang 2.250 meter itu. Setelah pesawat parkir dengan sempurna, satu per satu, penumpang turun. Sengaja tidak melalui garbarata, karena terlalu sia sia jika tidak menyempatkan diri berswafoto di landasan, dengan latar belakang tulisan Bandar Udara Komodo.</p>
<p>Bandara Komodo, tidak pernah sepi pengunjung. Rata-rata, penerbangan selalu penuh. Penumpang dari Jakarta, Surabaya dan Bali, turun silih berganti. Tujuannya adalah menikmati keindahan Flores.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44350" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190812-WA0028-1-1024x473.jpg" alt="" width="1000" height="462" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190812-WA0028-1-1024x473.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190812-WA0028-1-300x139.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190812-WA0028-1-768x355.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190812-WA0028-1.jpg 1152w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Bandara ini diresmikan Desember 2015 lalu, oleh Presiden Jokowi. Bandara dengan arsitektur modern ini menjadi pintu gerbang utama untuk berwisata ke Flores. Daya tampung Bandara dengan sign LBJ ini mencapai 1,5 juta orang. Cukup mumpuni untuk menyambut tamu di Destinasi prioritas nasional ini.</p>
<p>Senin (12/8), enam jurnalis asal Sumatera Barat menginjakkan kaki pertama kali di Labuan Bajo. Mereka datang mengikuti ekspedisi yang difasilitasi oleh Kementrian Desa dan PDTT, melalu Staf Khusus Menteri, Febby Datuak Bangso. Peserta ekspedisi ini adalah Firdaus Abi, Revdi &#8220;Ope&#8221;, Adrian Tuswandi, Defri Mulyadi, Agusmardi dan Nofal Wiska.</p>
<p>&#8220;Panas, suhunya diatas rata rata,&#8221; ujar Adrian Tuswandi, ketika keluar dari bandara.</p>
<p>Flores ini memang unik. Suhunya terbilang panas. Maklum saja hujan tidak selalu datang. &#8220;Hujan terakhir di sini Bulan Februari lalu,&#8221; kata Marthen, Driver yang menyambut tim ekspedisi di pintu kedatangan.</p>
<p>Bentang alam Flores, memang terlihat unik dari udara. Pepohonan merenggas karena kekurangan air. Rumput di perbukitan tidak lagi hijau. Air bagi sebagian masyarakat NTT memang barang langka. Tapi ini adalah keunikan tanah Flores.</p>
<p>Setelah istirahat sekedarnya di hotel. Lapar menjalar. Tim melanjutkan ekspedisi berburu kuliner. &#8220;Ada Se&#8217;i dan ikan kuah asam,&#8221; kata Marthen, driver yang merangkap pemandu.</p>
<p>&#8220;Kita cari nasi Padang saja lah,&#8221; timpal Defri Mulyadi. &#8220;Dasar orang Padang,&#8221; sambut Adrian Tuswandi, diikuti tawa yang lain.</p>
<p>Alhasil, tim tersesat di Rumah Makan Padang milik Uniang Siti. &#8220;Pergedel kentangnya, rasa Pariaman sekali,&#8221; ulas Agusmardi. Uniang Siti sudah melanglang Nusantara berjualan nasi. Bahkan sampai ke Papua.</p>
<p>Keindahan Labuan Bajo adalah saat matahari terbenam. Matahari perlahan turun, dibalik pulau nan tandus. Di ujung sana Pulau Padar dan Pulau Komodo menunggu. Cara yang paling indah menikmati keindahan, dengan menginap di kapal. Tapi kami tidak ke pulau. Cukup menikmati flores di tepian dermaga.</p>
<p>Nama kawasan favorit pada malam hari adalah Kampung Tengah. Di sini, berjejer kuliner khas Labuan Bajo. Seperti pujasera. Desain pondok dibuat semenarik mungkin. Makanannya jangan ditanya, ikan panggang menjadi menu istimewa di malam itu.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44351" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190813-WA0001-1024x768.jpg" alt="" width="1000" height="750" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190813-WA0001-1024x768.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190813-WA0001-300x225.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190813-WA0001-768x576.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190813-WA0001.jpg 1040w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung harus membeli voucher. Voucher itu lalu ditukar pada saat belanja. Harganya tidak mahal mahal sekali.</p>
<p>&#8220;Pantai Padang seharusnya bisa dibuat seperti ini, tidak ada kendaraan lalu lalang, dan suasananya tertib, bersahabat dan jauh dari pakuak mamakuak,&#8221; komentar Firdaus Abi.</p>
<p>Sementara itu, disepanjang Pantai Bajo, bule lalu lalang saja, kafe, homestay dan dive centre tampak ramai. Labuan Bajo memang terus berkembang. Pariwisata mengangkat ekonomi masyarakat.</p>
<p>&#8220;Sudah seperti Legian dan Kuta, sebentar lagi mungkin lebih ramai,&#8221; komentar Nofal.</p>
<p>Malam itu, tim ekspedisi harus rehat. Besoknya akan dimulai petualangan utama, ke Kampung Wae Rebo, Negeri Diatas awan.(laf)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/labuan-bajo-negeri-gersang-yang-mendunia/">Labuan Bajo, Negeri Gersang yang Mendunia</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 41/127 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/15 queries in 0.015 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 20:58:19 by W3 Total Cache
-->