<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#UluAmbek Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/uluambek/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/uluambek/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Apr 2018 09:31:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#UluAmbek Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/uluambek/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>7 Fakta Unik Wisata di Kota Pariaman</title>
		<link>https://prokabar.com/7-fakta-unik-wisata-di-kota-pariaman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[prokabar]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2018 09:09:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[#AngsoDuo]]></category>
		<category><![CDATA[#HutanMagrove]]></category>
		<category><![CDATA[#Pariaman]]></category>
		<category><![CDATA[#Penyu]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<category><![CDATA[#Tabuik]]></category>
		<category><![CDATA[#UluAmbek]]></category>
		<category><![CDATA[#Unik]]></category>
		<category><![CDATA[#Wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=5005</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pariaman, Prokabar &#8211; Pariaman salah satu kota kecil yang terletak di Pantai Barat Provinsi Sumatera Barat. Salah satu wilayah yang hanya berjarak 25 km...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/7-fakta-unik-wisata-di-kota-pariaman/">7 Fakta Unik Wisata di Kota Pariaman</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pariaman, Prokabar &#8211; </strong>Pariaman salah satu kota kecil yang terletak di Pantai Barat Provinsi Sumatera Barat. Salah satu wilayah yang hanya berjarak 25 km dari Bandara Internasional Minangkabau dan 56 km dari Kota Padang. Kota Tabuik nama lain dari kota kecil ini memiliki 7 fakta unik dan legenda di tengah masyarakat. Dan bagi pengunjung berwisata ke Pariaman, wajib mengetahui cerita legenda tersebut. Apa saja itu? Mari kita urai satu persatu:</p>
<h4>1. Pulau Angso Duo</h4>
<figure id="attachment_5006" aria-describedby="caption-attachment-5006" style="width: 701px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-5006 size-full" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/97.jpeg" alt="" width="701" height="392" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/97.jpeg 701w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/97-300x168.jpeg 300w" sizes="(max-width: 701px) 100vw, 701px" /><figcaption id="caption-attachment-5006" class="wp-caption-text">Foto : Pulau Angso Duo</figcaption></figure>
<p>Pulau Angso Duo adalah salah satu Objek wisata pertama paling menarik dan unik untuk dikunjungi. Pasalnya, di pulau dengan luas sekitar 1 hektar ini terdapat sejarah yang belum terungkap sepenuhnya dari pakar sejarah. Di pulau itu terdapat sebuah Sumur Tua, beserta beberapa Pemakaman kecil disertai satu kuburan dengan panjang 7 meter. Masyarakat mengenal kuburan tersebut mendiang Ulama Katik Sangko.</p>
<figure id="attachment_5015" aria-describedby="caption-attachment-5015" style="width: 720px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-5015" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/93.jpeg" alt="" width="720" height="483" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/93.jpeg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/93-300x201.jpeg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/93-768x515.jpeg 768w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption id="caption-attachment-5015" class="wp-caption-text">Makam Ulama Katik Sangko</figcaption></figure>
<p>Menurut catatan naskah aksara jawi hasil transliterasi dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Addriyetti Amir dan disunting oleh Sudarmoko di buku PUITIKA Edisi Khusus Agustus 2001, Katik Sangko merupakan pengawal perjalanan Syekh Burhanuddin yang diperintah Syekh Abdulrauf as Singkili (guru dari Syekh Burhanuddin) dari Aceh kembali ke Ranah Minang. Bertujuan menyiarkan Agama Islam pada tahun 1070 Hijriah atau 1689 Masehi.</p>
<p>Singkat cerita, mereka bersama-sama kembali ke kampung halaman dalam waktu dua kali periode dengan jumlah rombongan hulu balang (pendekar) yang berbeda pula. Kepulangan pertama gagal hingga yang kedua kali berhasil, melawan kelompok jahat ahli sihir. Seperti Pasukan Basa Nan Ampek (masyhur 4 orang) yaitu Kilik-kilik Jantan, Gaga Tangah Padang, Jin Paneh dan Wama. Sebelum mendarat ke pesisir Pariaman, Syekh Burhanuddin dan Katik Sangkob terlebih dahulu berlabuh di Pulau Angso duo. Mitosnya, Angso Duo dari nama Pulau itu merupakan lambang atau simbol dari dua tokoh Ulama berseragam jubah putih tersebut. Konon mereka memiliki kemampuan terbang dan berjalan di atas air, seperti Burung Angsa. Masyarakat Pariaman mengabadikan pulau bertuah tersebut sebagai pulau kiramat nan sati dengan sebutan Pulau Angso Duo.</p>
<h4>2. Konservasi Penyu</h4>
<figure id="attachment_5007" aria-describedby="caption-attachment-5007" style="width: 510px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-5007 size-full" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/95.jpeg" alt="" width="510" height="383" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/95.jpeg 510w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/95-300x225.jpeg 300w" sizes="(max-width: 510px) 100vw, 510px" /><figcaption id="caption-attachment-5007" class="wp-caption-text">Konservasi Penyu</figcaption></figure>
<p>Kota Pariaman terletak dengan garis pantai sepanjang 12,73 km. Di samping itu juga terdapat 4 (empat) pulau kecil seperti Pulau Ujung, Pulau Tangah, Pulau Angso dan Pulau Kasiak. Pulau itu disekeliling ekosistem terumbu karang. Kawasan yang merupakan kawasan penyu bertelur setiap tahun. Jenis penyu yang banyak ditemukan adalah penyu lekang, penyu hijau dan penyu sisik. Berdasarkan potensi yang terdapat pada kawasan tersebut maka dijadikan kawasan konservasi perairan daerah Kota Pariaman oleh Walikota Pariaman pada tanggal 20 Oktober berdasarkan SK No. 334/523/2010. Kemudian berpindah ke wewenang Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera barat sesuai adanya Undang-Undang 23 Tahun 2014.</p>
<figure id="attachment_5016" aria-describedby="caption-attachment-5016" style="width: 720px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-5016" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/90.jpeg" alt="" width="720" height="405" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/90.jpeg 1280w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/90-300x169.jpeg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/90-768x432.jpeg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/90-1024x576.jpeg 1024w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption id="caption-attachment-5016" class="wp-caption-text">Konservasi Penyu</figcaption></figure>
<p>Penyu merupakan hewan yang dilindungi Indonesia sesuai Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pangawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. “Bahwa penyu berikut bagian-bagiannya termasuk telurnya merupakan satwa yang dilindungi oleh negara.” Dan peluang pemanfaatannya melalui penangkaran yang diatur PP No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.</p>
<h4>3. Taman Hutan Mangrove</h4>
<figure id="attachment_5009" aria-describedby="caption-attachment-5009" style="width: 500px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-5009 size-full" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/102.jpeg" alt="" width="500" height="375" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/102.jpeg 500w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/102-300x225.jpeg 300w" sizes="auto, (max-width: 500px) 100vw, 500px" /><figcaption id="caption-attachment-5009" class="wp-caption-text">Taman Hutan Mangrove</figcaption></figure>
<p>Hutan Mangrove di Kota Pariaman terletak antara Desa Apar dan Desa Mangguang. Awalnya Hutan Mangrove atau Bakau cukup luas dan terdapat habitan udang dan kepiting, menjadi santapan masyarakat setempat. Akibat minimnya kesadaran masyarakat, Hutan Bakau tersebut hanya tersisa 1 hektar, dan terancam musnah akibat seringnya penebangan dan perusakan secara liar. Hampir semua jenis mangrove ada di sini. Namun yang sudah ditanami ribuan bibit di sana adalah jenis Rhizophora.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-5018 size-full" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/101.jpeg" alt="" width="500" height="375" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/101.jpeg 500w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2018/04/101-300x225.jpeg 300w" sizes="auto, (max-width: 500px) 100vw, 500px" /></p>
<p>Melalui penggiat atau komunitas TDC (Tabuik Diving Club) bersama Pemerintah Kota Pariaman dan PT. Pertamina (DPPU) Minangkabau, Hutan Tersebut kemudian disulap menjadi destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi di Sumatra Barat. Taman Hutan Mangrove saat ini memiliki jembatan dengan panjang 50 meter dan lebar 1,5 meter (nantinya pembangunan dilanjutkan hingga tuntas), disertai papan informasi tentang Mangrove. Pengunjung dapat menikmati suasana asri Hutan Mangrove beserta seluk beluk manfaat Bakau bagi kehidupan Manusia.</p>
<p><a href="https://prokabar.com/7-fakta-unik-wisata-di-kota-pariaman/2/">Lanjut Halaman 2 &#8211;&gt;&gt;</a></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/7-fakta-unik-wisata-di-kota-pariaman/">7 Fakta Unik Wisata di Kota Pariaman</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tradisi Ulu Ambek, Silat Tingkat Tinggi, Hanya Ada di Sini&#8230;</title>
		<link>https://prokabar.com/tradisi-ulu-ambek-silat-tingkat-tinggi-hanya-ada-di-sini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[prokabar]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2018 10:01:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[#Pariaman]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<category><![CDATA[#UluAmbek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/tradisi-ulu-ambek-silat-tingkat-tinggi-hanya-ada-di-sini/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Padang Pariaman, Prokabar &#8211; Diawali gerak langkah, diringi liukan-tubuh kedua pesilat, menandakan seni pertunjukan Ulu Ambek dimulai di sebuah laga-laga Korong Kasai, Nagari Tapakis,...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/tradisi-ulu-ambek-silat-tingkat-tinggi-hanya-ada-di-sini/">Tradisi Ulu Ambek, Silat Tingkat Tinggi, Hanya Ada di Sini&#8230;</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Padang Pariaman, Prokabar &#8211; </b><br />
Diawali gerak langkah, diringi liukan-tubuh kedua pesilat, menandakan seni pertunjukan Ulu Ambek dimulai di sebuah laga-laga Korong Kasai, Nagari Tapakis, Kecamatan Ulakan Tapakis, Padang Pariaman.</p>
<p>Hentakan kaki kedua pemain ke lantai berajut bambu, menyentakan penonton yang hendak menyaksikan seni tradisional khas Piaman tersebut. Suara khas pedendang, memainkan perannya sebagai penghias suasana. Di sekitar tepi arena, dikelilingi puluhan masyarakat beserta belasan sesepuh dalam posisi duduk.</p>
<p>Pesilat memperlihatkan keterampilannya, sebagai seorang pendekar nan berkarakter. Tidak hanya menunjukan keindahan, juga memperagakan kekokohan, ketangkasan, kelincahan dan kecerdasan dalam bersilat. Setiap gerak memiliki filosofi dengan makna tersirat. Duo pendekar ini berlaga tanpa bersentuhan sama sekali, tidak seperti pencak silat Minang pada umumnya. Jemari tangan bergerak-gerak seakan-akan memberikan isyarat tertentu. Raut wajah dengan arah mata yang liar, tanpa saling bertatapan. Sesekali mereka mencoba saling mengadu ketangkasan dan kecepatan dalam serang dan menangkis. Gaya tangkis dan menyerang pun berbeda. Kedua pesilat biasanya berhadapan, dan secara bergantian untuk menyerang dan bertahan. Pada Ulu Ambek, pendekar yang bertahan, posisi tubuhnya menyamping dari orang yang menyerang.</p>
<p>Menurut mitos masyarakat, Ulu Ambek lahir sesuai sejarah Padang Pariaman yang menjadi pertahanan pertama maritim kerajaan Pagaruyuang. Kesenian ini identik memiliki kekuatan kebatinan atau kekuatan magis. Kekuatan tersebut digunakan sebagai upaya pengalihan tipu daya sehingga musuh tidak mudah menyerang dan memasuki wilayah teritorial Minangkabau, khususnya dari perairan pantai barat Sumatera.<br />
Ketika seorang pemain Ulu Ambek terkena serangan lawan, itu disebut buluih. Orang yang buluih akan menanggung malu sekampung. Tidak hanya dirinya, tetapi juga orang sekampung beserta ninik mamaknya, kebetulan menyaksikan kegiatan tersebut. Konsep harga diri telah lahir dan mendarah daging dalam diri masyarakat Piaman, sejak lahirnya Ulu Ambek tersebut.</p>
<p><b>Simbol-simbol</b></p>
<p>Pada laga-laga, terbentuk segi empat dengan dua belas tiang di luar dan dalam pentas. Tiang bagian luar yakni tiang utama terdapat delapan tiang, sedangkan di dalam pentas, terdapat empat tiang. Antara empat tiang tersebut terdapat hiasan bunga dan jam dinding sebagai penghias dan pengatur waktu penampilan. Di dua sisi tiang dalam saling berhadapan, terdapat pula dua buah cermin panjang. Sedangkan pada langit-langit laga itu, terdapat hiasan kain dengan corak warna yang berbeda-beda. Simbol-simbol tersebut memiliki makna dan nilai tersendiri bagi pelestari kearifan local tersebut.</p>
<p>Rusli Muslim Datuk Rangkayo Basa selaku Walinagari Tapaksi menyebutkan, Ulu Ambek merupakan kesenian anak nagari. Selain sebagai ajang silahturahmi antar kampung, juga memiliki nilai-nilai sosial budaya masyarakat.</p>
<p>“Ulu Ambek adalah kesenian asli nenek moyang kami. Tidak diketahui secara pasti asal-usul lahirnya, namun kami mengetahui bahwa Ulu Ambek adalah kesenian tradisional leluhur yang menjunjung tinggi persaudaraan. Kami akan selalu melestarikannya dengan menggelar kegiatan, rutin tiap tahun” ungkapnnya.</p>
<p>Rusli melanjutkan, Ulu Ambek identik dengan rasio batiniah yang memiliki kepekaan tinggi terhadap lingkungan dan alam sekitar. Termasuk kepekaan Hamblum Minallah Wahablum Minannas. Bagi generasi penerus, menjadi benteng jati diri mereka dalam memahami hidup berkehidupan di dunia ini.<br />
Para pemain Ulu Ambek mewakili ninik mamak dan orang kampungnya untuk menunjukan kehebatan dan keterampilan dalam memahami inti sari silat.</p>
<p>“Kontak batin kedua pemain Ulu Ambek yang berada di atas laga-laga harus tingkat tinggi. Karena mereka akan dihadapkan sebuah raso jo pareso dan ereng jo gendeng. Mereka harus mampu menghambat setiap serangan lawan agar tidak buluih,&#8221; lanjut Walinagari Tapakis tersebut.<br />
Soni, selaku Wali Korong Kasai sekaligus pemuda setempat menjelaskan, kegiatan tersebut rutin dilaksanaan masyarakat tiap tahunnya. Digelar selama lima hari berturut-turut.</p>
<p>Kegiatan tersebut diikuti tujuh belas kelompok Ulu Ambek Se-Kabupaten Padang Pariaman. Setiap kelompok selalu hadir dalam undangan pertemuan alek nagari yang digelar di suatu daerah. Persatuan dan kesatuan tersebut telah terjalin sejak dahulu kala.</p>
<p>“Kesenian Ulu Ambek selalu dilaksanakan sekali setahun di masing-masing daerah. Meski tidak semua yang mampu melaksanakan, setidak-tidaknya sebagian daerah dapat menggelarnya secara rutin termasuk di Korong Kasai, Nagari Tapakis ini” ungkap Soni.</p>
<p>“Ulu Ambek merupakan tingkat tertinggi untuk melatih batin seorang pendekar Minang. Ulu Ambek menjadi benteng mentalitas generasi muda terhadap pengaruh buruk budaya asing. Penanaman generasi berkarakter kuat menjadi tujuan utama dari kesenian tradisional masyarakat Padang Pariaman,&#8221; lanjut Tokoh Pemuda tersebut.</p>
<p>Ulu Ambek adalah salah satu kearifan lokal asli masyarakat Padang Pariaman. Pengembangan kesenian silat yang tidak dimiliki di daerah lain di Ranah Minangi.</p>
<p>Ulu Ambek juga sebagai tingkat tertinggi dari silat tradisional Padang Pariaman dan menunjukan kemampuan para pendeka di atas laga-laga yang beralas rajutan bambu.</p>
<p>Kegiatan selalu melalui dari swadaya masyarakat perantau dan masyarakat setempat. Jelas menunjukan bentuk solidaritas tinggi dari ranah dan rantau. Pada pelaksanaan Alek Nagari Ulakan Tapakis tersebut terkumpul dana sekitar Rp30 juta, yang berasal dari budaya badoncek masyarakat. Termasuk pembuatan laga-laga di Ulakan Tapakis tersebut. <b>(rudi)</b></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/tradisi-ulu-ambek-silat-tingkat-tinggi-hanya-ada-di-sini/">Tradisi Ulu Ambek, Silat Tingkat Tinggi, Hanya Ada di Sini&#8230;</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 53/67 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/10 queries in 0.126 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 22:13:02 by W3 Total Cache
-->