<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#surau Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/surau/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/surau/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Nov 2021 12:01:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#surau Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/surau/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Surau Tinggal di Pangian Lintau Buo Terbakar</title>
		<link>https://prokabar.com/surau-tinggal-di-pangian-lintau-buo-terbakar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi3]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2021 12:01:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[#EYM]]></category>
		<category><![CDATA[#Kebakaran]]></category>
		<category><![CDATA[#lintaubuo]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<category><![CDATA[#suraupapan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=97826</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanah Datar, Prokabar- Surau tinggal di Jorong Tago Palange, Nagari Pangian, Kecamatan Lintaubuo terbakar, Senin (22/11) sekira pukul 17.00 Wib. Beruntung tidak ada korban...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/surau-tinggal-di-pangian-lintau-buo-terbakar/">Surau Tinggal di Pangian Lintau Buo Terbakar</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanah Datar, Prokabar-</strong> Surau tinggal di Jorong Tago Palange, Nagari Pangian, Kecamatan Lintaubuo terbakar, Senin (22/11) sekira pukul 17.00 Wib. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun gudang dan barang-barang yang ada didalamnya ikut terbakar.</p>
<p>Meski warga telah berupaya memadamkan api dengan cara menyiram memakai alat seadanya, namun kalah cepat oleh kobaran api yang merayap melalui bagian atap mushollah yang sering disebut Surau Padang Datar itu.</p>
<p>Kejadian itu menggemparkan warga sekitar dan pengendara yang melintas, hingga berduyun-duyun melihat kelokasi.  Belum diketahui penyebab terjadinya kebakaran, karena saat kejadian bangunan gudang yang terpisah dengan bangunan surau terlebih dahulu ludes terbakar.</p>
<p>Kejadian itu pertama kali diketahui oleh seorang warga yang bernama Nono (43), dia yang saat itu tengah bekerja di sawah yang letaknya tidak jauh dari lokasi surau, melihat kepulan asap. Nono pun berlari memberi tahu kepada warga lainnya dan kembali kelokasi untuk memadamkan api.</p>
<p>Dengan dibantu warga lainnya, mereka berusaha memadamkan api yang sudah membakar bagian atap surau yang memang sudah beberapa tahun terakhir tidak aktif lagi.</p>
<p>Lokasi surau tersebut berada dibelakang rumah warga dan dipinggir areal persawahan.</p>
<p>Melalui pesan berantai, kejadian itu kemudian dilaporkan kepada petugas Posko Damkar di Lintaubuo. Saat petugas datang, warga masih berusaha memadamkan api dengan mengambil air kolam yang berada didepan surau, namun karena menggunakan alat seadanya, upaya warga kalah cepat dengan api.</p>
<p>Selain meludeskan gudang dan nyaris menghabiskan bangunan utama surau, api juga membakar dua pohon kelapa yang berada didekat bangunan gudang surau yang terlebih dahulu ludes terbakar.</p>
<p>Api baru dapat dipadamkan setelah satu unit Mobil Damkar Posko Lintaubuo turun kelokasi bersama lima petugas. Petugas yang dibantu warga akhirnya berhasil memadamkan api yang nyaris meludeskan semua bangunan utama surau.</p>
<p>&#8220;Kami tadi langsung terkejut karena diberitahu surau terbakar, karena tidak ada seorangpun yang tahu jika surau terbakar, &#8221; ujar Hertati, warga setempat saat ditemui dilokasi.</p>
<p>Dia menyebutkan, jika surau itu memang tidak aktif lagi sebagai tempat ibadah. Bangunan itu digunakan untuk menyimpan barang-barang oleh keluarga pemilik surau.</p>
<p>Hertati yang saat kejadian tengah berada di rumah langsung mengabari sang suami yang saat itu berada ditempat usahanya. Beruntung saat itu, sang suami yang tengah ditemani oleh beberapa temannya langsung menghubungi petugas damkar unit Lintaubuo. <strong>(eym)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/surau-tinggal-di-pangian-lintau-buo-terbakar/">Surau Tinggal di Pangian Lintau Buo Terbakar</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sungai Batang Program Akademisi Surau, Bercita Lahirkan Generasi Hamka</title>
		<link>https://prokabar.com/sungai-batang-program-akademisi-surau-bercita-lahirkan-generasi-hamka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Nov 2021 05:59:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#buyahamka]]></category>
		<category><![CDATA[#generasihamka]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#sungaibatang]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=97719</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar &#8211; Mendapat Program Pemajuan Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, riset dan teknologi (Kemendikbud) RI, Daya Desa bersama Pemerintah Nagari, Kerapatan Adat Nagari...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sungai-batang-program-akademisi-surau-bercita-lahirkan-generasi-hamka/">Sungai Batang Program Akademisi Surau, Bercita Lahirkan Generasi Hamka</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar</strong> &#8211; Mendapat Program Pemajuan Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, riset dan teknologi (Kemendikbud) RI, Daya Desa bersama Pemerintah Nagari, Kerapatan Adat Nagari (KAN), Bamus, Walijorong (Ketua RW) dan mubaliq Nagari Sungai Batang mengangkat Akademisi Surau sebagai objek dan sasarannya.</p>
<p>Setelah melakukan Tahapan Temukenali dan Pengembangan, kini berlanjut Tahapan Rencana Aksi dan Aksi, Sabtu (20/11).</p>
<p>Pemajuan Kebudayaan Desa di Sungai Batang mengangkat judul Akademisi Surau dengan tema Membangkitkan Generasi Islam Minangkabau. Sungai Batang sudah terkenal dengan Nagari Ulama dan Sastra.</p>
<p>&#8220;Kita sudah mengenal dan mengetahui, negeri ini lahirnya Buya Hamka beserta ayah dan kakeknya sebagai ulama termasyhur Di zamannya. Hendaknya, kita bangkit mengambil energi positif dari ketokohan mereka,&#8221; ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Agam, Isra saat membuka kegiatan Akademisi Surau di Balairuang KAN Sungai Batang, Jum&#8217;at siang, 19/11).</p>
<p>Sungai Batang kaya warisan budaya dengan keulamaan dan kesusastraan. &#8220;Syekh Muhammad Amrullah atau Tuanku Kisai merupakan kakek Buya Hamka dengan paham Naqsyabandi. Sejarahnya meninggalkan Makam dan Masjid di Jorong Nagari. Sedangkan Dr. H. Abdul Karim Amrullah merupakan ayah kandung Hamka, sosok ulama pembaharuan Islam Minangkabau dan menjadi sosok panutan di zamannya,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Patut kiranya kita masyarakat terutama pemerintahan nagari untuk menggali, mempelajari, memahami dan mengamalkan kembali tatanan nilai-nilai religius dan budaya ulama besar itu. Potensi ini juga akan memperkuat kesejahteraan secara mental, karakter, intelektual dan kepribadian masyarakatnya. &#8220;Hendaknya ini dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai mestinya,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ketua KAN Sungai Batang, S. Datuak Mangkudum mengungkapkan, segala potensi di Sungai Batang menjadi andalan untuk diangkat dan dilestarikan. Sehingga membangkitkan tatanan sosial masyarakat yang lebih maju. &#8220;Kami sangat setuju dan mendukung penuh Akademisi Surau. Dan kami sangat bersyukur ini dapat terlaksana,&#8221; terangnya.</p>
<p>Tanggungjawab dunia dan akhirat antara anak dan kemenakan, ditambah lagi tanggung jawab mempertahankan nama baik dan mengharumkan kampung ulama nan terpandang ini jadi beban moral yang amat tinggi.</p>
<p>&#8220;Momentum dan terobosan ini, diharapkan membawa perubahan pada kita semua. Mencambuk diri lebih keras lagi, agar kita semakin paham dan kerja keras memperjuangkan kesejahteraan dunia akhirat ini. Dan cita-cita kami, dapat melahirkan kembali ratusan generasi pengganti Buya Hamka,&#8221; tutupnya. <strong>(rud)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sungai-batang-program-akademisi-surau-bercita-lahirkan-generasi-hamka/">Sungai Batang Program Akademisi Surau, Bercita Lahirkan Generasi Hamka</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Y. Dt. Parpatiah: Kembalikan Peran Ganda Laki-Laki Minangkabau dan Pendidikan Surau!</title>
		<link>https://prokabar.com/y-dt-parpatiah-kembalikan-peran-ganda-laki-laki-minangkabau-dan-pendidikan-surau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Sep 2021 00:24:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#Datuk]]></category>
		<category><![CDATA[#Datukyus]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=94794</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar &#8211; Angku Yusbir Bandaro Bodi atau lebih dikenal Angku Yus Datuak Parpatih, sastrawan dan budayawan Minangkabau, kembali meluangkan waktu khusus kepada generasi penerusnya...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/y-dt-parpatiah-kembalikan-peran-ganda-laki-laki-minangkabau-dan-pendidikan-surau/">Y. Dt. Parpatiah: Kembalikan Peran Ganda Laki-Laki Minangkabau dan Pendidikan Surau!</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar</strong> &#8211; Angku Yusbir Bandaro Bodi atau lebih dikenal Angku Yus Datuak Parpatih, sastrawan dan budayawan Minangkabau, kembali meluangkan waktu khusus kepada generasi penerusnya di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.</p>
<p>Sejumlah pemuda ingin bangkit dan belajar, terkait Pendidikan Adat Minangkabau dengan filosofi Adat Basandi Syarat, Syarak Basandi Kitabullah.</p>
<p>Kegiatan sudah dimulai Minggu malam (5/9) lalu. Dan Minggu malam (12/9) ini, merupakan hari kedua dan akan terus berlanjut satu kali dalam seminggu diantara hari Rabu malam dan Minggu Malam.</p>
<p>Kegiatan selain di Rumah Adat Angku Yus Datuak Parpatih, Jorong Nagari, Kenagarian Sungai Batang, kemungkinan juga dapat dilaksanakan di Surau Jorong Muaro Pauah dan Masjid Inyiak De Er.</p>
<p>Kondisi itu sangat berhubungan dengan situasi dan kondisi. Baik secara fisik dari beliau, maupun kondisi cuaca untuk melaksanakan kegiatan.</p>
<p>Penanaman nilai-nilai dengan mengurai batang tubuh Adat Minangkabau itu sendiri. Menyikap Wajah Minangkabau sesuai judul buku yang akan diterbitkannya.</p>
<p>&#8220;Sudah saatnya kita memikirkan serius berkampung bernagari, menjalankan peran kita masing-masing,&#8221; saat beliau memulai Pendidikan Adat setelah sebelumnya, dibuka oleh Fitrah Katik Rajo Mudo, selaku moderator, Minggu (12/9).</p>
<p>&#8220;Kita bermasyarakat selaku laki-laki, berat membeban tanggungjawab. Itulah resiko menjadi orang Minangkabau. Selain bertanggungjawab di Rumah Gadang, juga bertanggungjawab di Rumah Orang (keluarga inti). Indak panuah kateh, panuah ka bawah. Itulah tanggungjawab laki-laki di Minangkabau,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Laki-laki punya power di persukuan dan di masyarakat lanjutnya, tapi tidak berpunya harta pusaka (harta warisan nenek moyang). Sementara perempuan, ibaraik dimanjakan karena mereka harta pusaka tinggi atau warisan leluhur berupa harta benda.</p>
<p>Mamak atau paman dalam sistem kekerabatan matrilineal hanya bertanggungjawab menambah, mengawasi, mengolah, manjaga dan melintaui batas wilayah kepemilikan harta pusaka agar tidak dicuri dan diganggu orang lain.</p>
<p>Laki-laki tidak memiliki, karena sebagai pemimpin harus lebih tau mensejahterakan anak kemenakan, memperhatikan prilaku moralitas atau adab bermasyarakat, melintaui kebutuhan hidup, pendidikan, pergaulan, dan sebagainya.</p>
<p>&#8220;Salinteh lalu untuk kamanakan padusi memang disanangi, dimanjoi dan induak pasukuan adolah makluk lemah berfikir, lemah fisik dan lemah mental. Mako wajib laki-laki melindungi dan menjago padusi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Orang lemah yang harus dijaga dari gangguan mental dan kejahatan. Laki-laki harus berkorban, untuak anak kemenakannya terutama yang perempuan.</p>
<p>Sementara, anak kemenakan laki-laki, wajib mandiri melatih diri untuk memimpin dimasa akan datang. Mempersiapkan diri mengemban tanggungjawab atau peran ganda yang telah melekan dalam dirinya.</p>
<p>&#8220;Mamak bersifat menasihati, membimbing dan melindungi kemenakan laki-laki sehingga dapat melanjutkan perjuangan sebagai kader mamak berikutnya di kemudian hari,&#8221; ulasnya.</p>
<p>Sekarang tanggungjawab ini, tidak terjalankan betul secara ideal dan semestinya. Sehingga hubungan antara mamak dengan kemenakannya renggang. Jauh silahturahmi dan komunikasi. Berdampak lemahnya peran mamak dan kemenakan saat ini.</p>
<p>Seperti gurindam filsafat hidup masyarakat Minangkabau :</p>
<p><em>Kaluak Paku Kacang Balimbiang,</em><br />
<em>Tampurung lenggang lenggokan,</em><br />
<em>Baok manurun ka Saruaso.</em><br />
<em>Tanamlah siriah jo gagangnya,</em><br />
<em>Anak dipangku kamanakan dibimbiang,</em><br />
<em>Urang Kampuang dipatenggangkan,</em><br />
<em>Tenggang nagari jan binaso,</em><br />
<em>Tenggang sarato jo adatnyo.</em></p>
<p><em>Panakiak Pisau Sirauik,</em><br />
<em>Panungkek Batang Lintabuang,</em><br />
<em>Salodang ambiak ka Nyiru,</em><br />
<em>Satitik jadikan Lauik,</em><br />
<em>Sakapa jadikan Gunuang,</em><br />
<em>Alam takambang jadikan Guru.</em></p>
<p>Anak dipangku, sesuai ajaran Islam, ayah jelas bertanggungjawab penuh dunia akhirat kepada anak. Sesuai surat At Tahrim ayat 6 :<br />
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا&#8230;<br />
Artinya, Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka&#8230;</p>
<p>Sedangkan kepada kemenakan harus dibimbing, yakni Mamak dalam kaumnya, bertanggung jawab hanya melakukan pengawasan, pembinaan, memberi nasihat dan membimbing anak-anak dari adik-adik perempuannya itu tidak melakukan prilaku menyimpang.</p>
<p>Mamak tidak memiliki tanggungjawab membiayai dan memenuhi kebutuhan hidup kemenakannya, kecuali sudah yatim dan piatu. Tidak ada tanggungjawab memberi uang atau kebutuhan materi, namun ini yang sering salah kaprah dan keliru.</p>
<p>Konsep materialistis dan kapitalis liberal, telah merusak otak dan sudut pandang komunal masyarakat Minangkabau. Racun dan virus materialisme telah merusak konsep dasar atau prinsip hidup manusia Minangkabau.</p>
<p>Masa Kejayaan Surau yang mesti dikembalikan.</p>
<p><em>Dijaja di sawah sahalai, </em><br />
<em>Bisuak indak taganang lai.</em><br />
<em>Diaja iduik marasai, </em><br />
<em>Bisuak indak tagamang lai.</em></p>
<p>Surau berfungsi menjauhkan anak laki-laki terlalu manja, pasif, pemalas dan tidak bertanggungjawab. Surau melatih anak laki-laki mandiri, kreatif, tangkas, tegas, lugas, berfikir cerdas, pandai, pintar, cepat dan tepat.</p>
<p>Ia sedikit direnggangkan hubungannya dengan saudara perempuannya, agar tidak kebablasan dan tabu akan sisi kewanitaannya. Islam mengajarkan hal itu, meski jarak berjauhan, namun batin adalah tanggungjawab untuk mesti dilindungi dan dijaga nantinya.</p>
<p>&#8220;Dikenang masa kejayaan dan kebahagiaan masa lalu, dimasa sayalah terakhir menikmati surau sebagai pusat pendidikan anak-anak Minangkabau. Mendapatkan hidup di Surau, dilatih diajarkan, dididik mandiri, tangguh, tegas, kerasnya hidup dirasakan namun lembut menyikapi dan ikhlas dijalani. Paham dan mengetahui mana yang baik dan yang buruk,&#8221; terangnya.</p>
<p>Surau, dilatih keras untuk melatih kerasnya peran ganda laki-laki di Minangkabau imbuhnya. Ke Surau hanya membawa kain sarung sehelai untuk tidur saja di malam hari. Saat tidur, hanya berlantai bambu yang sangat terasa dingin sangat tidur.</p>
<p>Itu melatih kekebalan tubuh dan membiasakan diri melalui kehidupan yang keras. Itulah yang membuat orang-orang tua terdahulu, memiliki kepribadian yang tangguh-tangguh, keras, tegas namun berhati lembut dan rendah hati.</p>
<p>Setelah mendapat ilmu dan didikan keras melalui Surau, ia harus melanjutkan pendidikan ke daerah luar. Orang Minang menyebutnya, Merantau.</p>
<p>&#8220;<em>Karatau madang di hulu, </em><br />
<em>Babuah babungo balun, </em><br />
<em>Ka rantau bujang dahulu </em><br />
<em>Di rumah paguno balun&#8221;</em></p>
<p>Begitulah prinsip dan pendidikan karakter laki-laki di Minangkabau. Alim, jujur, disiplin, arif bijaksana, cerdas, pintar, keras, tegas dan pandai bergaul.</p>
<p>Setelah pulang dari rantau pantang membawa masalah dan membuat masalah. Malah daerah rantau akan diperjauh agar mencapai keberhasilan tertentu untuk dapat dibawa pulang ke kampung halaman. Malu adalah sifat wajib dan menjadi prinsip hidup dimilikinya.</p>
<p>Manusia tidak ada malu, tidak ada ubahnya dengan makhluk berkaki empat. Hanya raganya saja manusia, namun jiwanya hanya hewan yang tidak memiliki akal.</p>
<p><em>Bajalan lewat jam gadang, </em><br />
<em>Elok lewat ampek puluah,</em><br />
<em>Dari pado gagal dibaok pulang, </em><br />
<em>Elok rantau dipajauah.</em></p>
<p>Surau telah melatih mental dan karakter tangguh anak laki-laki Minang. Dilatih kreatif, rela berkorban, mandiri, dan siap menderita. Tidak instan, tidak pasif, tidak mudah putus asa dan pejuang tangguh.</p>
<p><em>Raso Jo Pareso, </em><br />
<em>Raso dibaok baiak, </em><br />
<em>Pareso dibaok turun</em>.</p>
<p>Apa makasuidnya? Lanjut Angku Yus Datuak Parpatih. Segala sesuatu nan terasa dari luar dibawa kelam diri dan akan dicerna dengan akal logika. Otak mencerna yang terkait logis/masuk akal atau tidaknya sesuatu hal berupa sifat atau perbuatan.</p>
<p>Terus, apakah langsung disikapi dengan aksi dan reaksi? Tidak! Itulah guna hati dan nurani, timbang rasa yang harus dicek dan ricek lagi, tabayum lagi agar sikap yang akan keluar dari mulut atau perbuatan, tidak melakukan perilaku menyimpang.</p>
<p>Tidak berbuat salah, &#8220;<em>Patuik Saraso Mungkin</em>&#8220;. Disitu baru kita tau, mana yang elok dan mana yang buruk. Mana yang halal dan mana yang haram.</p>
<p>Tapi prakteknya, hati nurani sering kalah dengan akal yang cendrung memperturutkan hawa nafsu sehingga sering salah dan berbuat tidak elok.</p>
<p>Salah satu kasus yang sering terjadi terkait dengan harta pusako tinggi. Sering ninik mamak atau mamak pusako salah kaprah. Pihak keluarga di rantau begitu juga.</p>
<p>Karena mungkin sering tidak memahami lagi hukum adat. Sebenarnya tidak ada lagi hak pakai harta pusaka bagi perantau yang telah menyambung hidup diperantauan. untuak manuntuik harato pusako tinggi.</p>
<p>Karena yang berhak secara hukum adat Mengelol harta pusako tinggi adalah milik kaum atau keluarga saparuik (keluarga se-ibu/Sistem Matrilineal) yang berada di kampung halaman.</p>
<p>Sementara, orang yang di rantau dan memulai hidup baru di parantauan. Jika ingin juga dapat bagian dan mengelola harta pusako tinggi, harus pulang ke kampung dan menggarapnya sendiri.</p>
<p>Harta pusako tinggi didapat dari hasil &#8220;Manaruko&#8221; nenek moyang terdahulu yang secara adaik melakukan tradisi ekspansi atau merantau mencari lahan baru yang tidak berpunya. Musuhnya hanyalah alam gaib yang menghuni sebuah hutan rimba yang akan dijadikan lahan baru dan pemukiman baru.</p>
<p>Dalam Adat Sabatang Panjang Alam Minangkabau itu disebut &#8220;Adaik Bakarilahan&#8221; antara perantau dengan keluarga yang berada di kampung halaman. Dalam ajaran Islam &#8220;Hukum yang Tertinggi itu adalah berkerelaan (ikhlas)&#8221;.</p>
<p>Antara keluarga yang menetap dengan keluarga yang melanjutkan penjelajahan daerah baru harus siap &#8220;<em>bakarelaan</em>&#8220;. Mereka menyepakati &#8220;<em>Nan Ringan Tabaok, Nan Barek Ditinggakan</em>.&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Nan Ringan Tabaok, </em><br />
<em>Nan Barek Tingga.</em><br />
<em>Kabau pai ka kubangan, </em><br />
<em>Nan wilayah pulang ka nan punyo</em>.&#8221;</p>
<p>Maksutnya, harta pusaka tinggi itu hak pakai suatu kelompok kecil (saparuik) bukan hak milik. Sementara berhak memiliki atau hak milik adalah Kaum pasukuan, terutama yang saparuik. Jika tidak atau statusnya &#8220;punah&#8221;, (artinya, tidak ada keturunan perempuan) maka harta pusako tinggi akan kembali kepada kaum. <strong>(rud)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/y-dt-parpatiah-kembalikan-peran-ganda-laki-laki-minangkabau-dan-pendidikan-surau/">Y. Dt. Parpatiah: Kembalikan Peran Ganda Laki-Laki Minangkabau dan Pendidikan Surau!</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DPMN: Surau dapat Hidup jika Program Nagari Madani Dioptimalkan Di Agam</title>
		<link>https://prokabar.com/dpmn-surau-dapat-hidup-jika-program-nagari-madani-dioptimalkan-di-agam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2021 22:58:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#dpmn]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Nagari]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=94011</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar &#8211; Surau merupakan lembaga pendidikan, berperan dalam proses akulturasi Islam dengan Adat Minangkabau. Surau berfungsi dan bergerak dinamis seperti sistem pembelajaran. Lembaga...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/dpmn-surau-dapat-hidup-jika-program-nagari-madani-dioptimalkan-di-agam/">DPMN: Surau dapat Hidup jika Program Nagari Madani Dioptimalkan Di Agam</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar</strong> &#8211; Surau merupakan lembaga pendidikan, berperan dalam proses akulturasi Islam dengan Adat Minangkabau. Surau berfungsi dan bergerak dinamis seperti sistem pembelajaran.</p>
<p>Lembaga Surau melalui peran &#8220;Tigo Tungku Sajarangan, Tigo Tali Sapilin&#8221; ini berhasil mencetak ulama hebat dan tokoh masyarakat yang membakar semangat perjuangan masyarakat Minangkabau, melepaskan diri dari penjajahan. Hal itu disampaikan Irja Padriano, Kasi Sosial Budaya dan Lembaga Adat Nagari DPMN (Dinas Pemberdayaan Masyarakat Nagari) Kabupaten Agam, di Sungai Batang, Kamis (2/9) lalu.</p>
<p>Irja melanjutkan, Surau merupakan basis masyarakat madani Minangkabau. Dan Pemerintah Kabupaten Agam telah menggagasnya melalui Peraturan Bupati Nomor 74 Tahun 2016 tentang Pedoman Gerakan Nagari Madani.</p>
<p>&#8220;Dalam hal ini, tentu bergantung pada Pemerintah Nagari untuk mengoptimalkan perannya ke setiap jorong. Bekerja sama melibatkan seluruh Ninik Mamak dan Alim Ulama dalam nagari. Regulasi mengelola keuangan dana desa telah diatur, kini bagaimana berperan untuk memajukan kebudayaan terutama kemajuan Adat Salingka Nagarinya sendiri,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Gerakan Nagari Madani merupakan program Pemerintah Kabupaten Agam mewujudkan visi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2006 hingga 2025.</p>
<p>Program yang bercita-cita mengembalikan kejayaan surau sebagai produk nenek moyang Minangkabau paling mendasar dan belum tergantikan pendidikan formal saat ini.</p>
<p>&#8220;Lembaga Pendidikan Surau dahulu itu, telah melahirkan ulama hebat dan sampai saat ini belum tergantikan hingga sekarang. Sebut saja Dr. Abdul Karim Ambillah, Inyiak Djambek, Inyiek Canduang, Dr. Abdullah Ahmad, Inyiak Parabek, Inyiak Daud Rasyidi Balingka, AR. Sutan Mansyur, Masyur Daud Datuak Palimo Kayo dan Buya Hamka,&#8221; terangnya.</p>
<p>Walinagari jelas penentu kebijakan dan harus visioner dalam memimpin masyarakatnya.</p>
<p>Manajemen pengelolaan dan merangkul seluruh Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kandung dan pemuda mewujudkan kembalinya kejayaan Surau melalui Gerakan Nagari Madani.</p>
<p>&#8220;Khusus di Sungai Batang, adalah Nagari lahirnya ulama besar hasil didikan Surau. Pondasi dasar melalui catatan sejarah Buya Hamka itu jelas menjadi peluang besar. Kini dibutuhkan kejelian pemerintah nagari bersama seluruh komponen masyarakatnya untuk mampu mengangkat kembali potensi hebat itu ke permukaan. Sehingga mengembalikan kejayaan dan mensejahterakan masyarakatnya,&#8221; tutup Irja Padriano. <strong>(rud)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/dpmn-surau-dapat-hidup-jika-program-nagari-madani-dioptimalkan-di-agam/">DPMN: Surau dapat Hidup jika Program Nagari Madani Dioptimalkan Di Agam</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Nasihat Angku Yus: Indahnya Surau Hilang sejak Orde Lama</title>
		<link>https://prokabar.com/nasihat-angku-yus-indahnya-surau-hilang-sejak-orde-lama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ade]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2021 01:40:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<category><![CDATA[Angku Yus]]></category>
		<category><![CDATA[Datuak Parpatiah]]></category>
		<category><![CDATA[Ninik Mamak]]></category>
		<category><![CDATA[Tali tigo sapilin]]></category>
		<category><![CDATA[Tungku Tigo Sajarangan]]></category>
		<category><![CDATA[Yus Parpatiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=93966</guid>

					<description><![CDATA[<p>Prokabar.com, Agam &#8211; Pemuda Minangkabau sebelum orde lama dan orde baru masih merasakan indahnya surau. Masa-masa itu adalah yang terakhir generasi Minangkabau mendapatkan pendidikan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/nasihat-angku-yus-indahnya-surau-hilang-sejak-orde-lama/">Nasihat Angku Yus: Indahnya Surau Hilang sejak Orde Lama</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://prokabar.com/">Prokabar.com</a>, Agam &#8211;</strong> Pemuda Minangkabau sebelum orde lama dan orde baru masih merasakan indahnya surau.</p>
<p>Masa-masa itu adalah yang terakhir generasi Minangkabau mendapatkan pendidikan dari Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai.</p>
<p>Tokoh adat Minangkabau Angku Yus Datuak Parpatiah kembali bernostalgia saat memberikan materi implementasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah bagi masyarakat Milenial.</p>
<p>Angku menyampaikan materi itu saat mengisi program Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat (BPNB) dengan tema menyapa Nagari 2021, Kamis (2/9).</p>
<p>&#8220;Di masa itu, Surau masih dapat kami rasakan dan nikamti. Kerasna pendidikan serta indahnya kebersamaan orang tua beserta Ninik Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai,&#8221; cerita Angku Yus.</p>
<p>Pelantun Piataruah Ayah ini melanjutkan, di masa mudanya, Tigo Tungku Sajarangan ini melatih para pemuda untuk mandiri dan cerdas menjalani hidup.</p>
<p>Berbeda dengan sekarang, pemuda cengeng dan manja, perengek, meminta-minta, bahkan bermental pengemis dalam menjalani hidup.</p>
<p>Sikap pemuda yang seperti ini mulai sejak orde lama dan orde baru.</p>
<p>Tatanan kehidupan masyarakat kacau karena pemberontakan PRRI dan PKI.</p>
<p>Peran Surau hilang karena peran Tigo Tali Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan sudah tak terlihat.</p>
<p>&#8220;Roh surau itu terletak pada Tigo Tali Sapilin, Tungku Tigo sajarangan, siapa mereka? mereka adalah Ninik Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai,&#8221; ungkap Angku Yus.</p>
<p>&#8220;Ketika satu saja di antara mereka tidak berperan atau melenceng, hancur Minangkabau dalam suatu nagari,&#8221; lanjutnya.</p>
<h4>Surau sebelum Order Lama</h4>
<p>Pria yang juga seorang sastrawan ini kembali bercerita, di Surau, pengkaderan tongkat estafet berjalan secara baik dari satu generasi ke generasi berikutnya.</p>
<p>Pemuda tak belajar secara formal, mereka belajar sendir dengan menelaah dan mencari secara mandiri.</p>
<p>Bahkan kepekaan berpikir pada eranya sangat kuat. Mencontoh, bersikap elok, serta berupa sopan santun.</p>
<p>&#8220;Nan baik budi, nan indah bahaso,&#8221; katanya lagi.</p>
<p>Di sini, lanjutnya, Tali Tigo Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan itu saling menguatkan dan mengisi prinsip hidup masyarakat dengan pedoman Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.</p>
<p>Namun, budaya ini semakin sirna dan seakan-akan menjauh dari kehidupan masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Jati diri mereka hilang sehingga jauh dari prinsip hidup dan tuntunan menjadi Minangkabau yang kental dalam beragama Islam an Surau sebagai wadah pemersatu.</p>
<p>&#8220;Mereka seakan bercerai-berai dengan pola hidup baru, pola pendidikan modern atau sekolah formal, teknologi modern dan hingga saat ini anak-anak dan remaja sudah sibuk bermain game online,&#8221; keluh Angku Yus.</p>
<p>&#8220;Persoalan ini hampir terjadi di seluruh pelosok negeri. Anak-anak jauh dengan kearifan dan keelokan budaya karena dunia dalam genggaman jari mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kesombongan datang dan budaya lokal mereka anggap kuno, kolot, dan tidak bermanfaat lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini seakan ada upaya penghancruan jati diri bangsa dan harus kital lawan dengan segenap kekuatan,&#8221; ajaknya. (rud)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/nasihat-angku-yus-indahnya-surau-hilang-sejak-orde-lama/">Nasihat Angku Yus: Indahnya Surau Hilang sejak Orde Lama</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Surau Tetap jadi Solusi Bangkitkan Minangkabau Kekinian</title>
		<link>https://prokabar.com/pendidikan-surau-tetap-jadi-solusi-bangkitkan-minangkabau-kekinian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2021 05:01:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=93936</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar &#8211; Buya Hamka dalam Bukunya &#8220;Ayahku&#8221; menceritakan, Tuanku Nan Tuo menyiarkan Islam berpusat di Koto Tuo, Balai Gurah, Kecamatan Ampek Angkek. Meski demikian...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pendidikan-surau-tetap-jadi-solusi-bangkitkan-minangkabau-kekinian/">Pendidikan Surau Tetap jadi Solusi Bangkitkan Minangkabau Kekinian</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar</strong> &#8211; Buya Hamka dalam Bukunya &#8220;Ayahku&#8221; menceritakan, Tuanku Nan Tuo menyiarkan Islam berpusat di Koto Tuo, Balai Gurah, Kecamatan Ampek Angkek.</p>
<p>Meski demikian juga menyiarkan Islam di Lareh Ampek Koto (Kecamatan Tanjung Raya) yang berpusat di Jorong Nagari, Kenagaraian Sungai Batang, peradapan Islam lahir dengan dilanjutkan generasi penerusnya.</p>
<p>Saat tokoh Padri perintis Tarikat Cangkiang atau Tarikat Naqsabandiyah itu meninggal, langsung digantikan cucunya, Syekh Muhammad Amrullah hasil pernikahan anaknya Siti Saerah dengan minantunya Syekh Abdullah Saleh atau Syekh Guguk Katur.</p>
<p>Tuanku Nan Tuo Cangkiang sendiri mendapatkan pendirikan melalui Tuanku Mansiang Nan Tuo yang berguru kepada Syekh Burhanuddin di Ulakan.</p>
<p>Pola pendidikan pemondokan yang memusatkan masjid atau surau sebagai pusat pendidikan Ilmu Pengetahuan.</p>
<p>Jadi, surau tidak hanya pusat pendidikan Agama Islam semata, jauh lebih lengkap segala ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu.</p>
<p>Namun, semuanya tetap merujuk pada Al Quran dan Hadis. Semua ilmu harus tetap merujuk dan tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam. Sesuai moto Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.</p>
<p>Syekh Burhanuddin memberikan ruang dan waktu untuk belajar, kepada semua kelompok di berbagai wilayah Minangkabau maupun luar daerah.</p>
<p>Belajar menuntut ilmu Agama Islam dan ilmu pengetahuan umum dengannya. Para santri itu diberi kesempatan mendirikan surau kecil dan pemondokan sendiri mengelilingi Surau Gadang milik Syekh Burhanuddin.</p>
<p>Menurut Profesor Duski Samad dalam penelitiannya menyebutkan, Pemondokan Pola Surau ini tidak hanya pendidikan biasa, bahkan setara Universitas yang berkembang saat ini.</p>
<p>Semakin hebat dan luas ilmu pengetahuan seorang Guru setara ulama di Surau itu, maka akan semakin hebat pula kemajuan dan perkembangannya.</p>
<p>Pola Pendidikan Surau ini pula lah yang akhirnya melahirkan generasi emas Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia seperti Tuanku Imam Bonjol, Haji Agus Salim, M. Hatta, M. Natsir, Buya Hamka, Rasuna Said, Tan Malaka dan sebagainya.</p>
<p>Karena mereka terlahir dimasa kejayaan Surau, mencetak generasi siap pakai. Mencetak generasi berkarakter tegas, lugas, cerdas, cendikiawan, sederhana, mandiri, bermartabat, amanah, jujur, adil, kesatria, patriot dan hebat berdiplomat.</p>
<p>Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah menjadi pondasi dasar dengan filosifi &#8220;<em>Alam Takambang Jadi Guru</em>&#8221; dalam diri mereka. &#8220;<em>Raso Pareso</em>&#8221; adalah ketajaman jiwa dalam berinteraksi sosial, sehingga sikap kehati-hatian memperhalus budi, bertutur kata yang indah. Pituah itu seperti :</p>
<p><em><strong>Nan Kuriak Kundi, </strong></em><br />
<em><strong>Nan Merah Sago. </strong></em><br />
<em><strong>Nan Baiak Budi, </strong></em><br />
<em><strong>Nan Indah Bahaso.</strong></em></p>
<p>Budaya inilah sebagai rel kereta yang mendidik melalui Pendidikan Surau untuk berpijak di atas Bumi, berfikir dalam alam logika, merasa di hati sanu bari, bergerak melangkah dan bertindak dengan panca indra.</p>
<p>Surau tidak hanya mematangkan Ilmu Agama Islam yang menjadi hubungan dengan Sang Kaliq, juga melatih diri kepada sesama Makluk-NYA. Habluminannas wa Habluminallah.</p>
<p>Di surau lah orang tua, guru, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai mendidik mengasah ketajaman lahir dan bathin dengan Silat. Silat Lahiriah, Silat Bathiniah dan Silat Lidah. &#8220;<em>Lahia mencari kawan, Bathin mencari Tuhan</em>&#8220;.</p>
<p>Merujuk lagi kepada tatanan sosial matrilineal Minangkabau, terdapat tiga komponen penting, yang bahu membahu, saling melengkapi dan menjaga generasi menjadi lebih baik dimasa akan datang. Istilah &#8220;<em>Tigo Tali Sapilin, Tungku Tigo Sajarangan</em>&#8221; merupakan tiga tokoh wajib ada, berperan dan bertanggungjawab.</p>
<p>Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cadiak Pandai terhimpun dalam wadah Kerapatan Adat Nagari. Memegang beban pengawasan, kontrol sosial bahkan memberi sanksi sesuai Adat Salingka Nagari yang tetap merujuk pada Al Quran dan Hadis.</p>
<p>Pertanyaannya, sudahkah ini berjalan sebagaimana mestinya? Hanya masyarakat itu sendiri yang bisa menjawab.</p>
<p>Pada dasarnya, tiga komponen ini hanya bisa dicetak dan dikader melalui pendidikan surau, sementara program tersebut tidak lagi berfungsi dan bahkan hampir punah.</p>
<p>Alasan klasiknya, pendidikan formal telah menggantikan posisi Surau. Apakah pemangku itu tidak bisa menggagas lagi aturannya sendiri agar Pendidikan Surau ini dapat tetap berjalan? Tidak ada yang tidak mungkin, jika azas musyawarah mufakat dilaksanakan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Surau yang menyesuaikan kondisi saat ini tentunya. <strong>(***)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pendidikan-surau-tetap-jadi-solusi-bangkitkan-minangkabau-kekinian/">Pendidikan Surau Tetap jadi Solusi Bangkitkan Minangkabau Kekinian</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Surau Terpa Mental Generasi Muda Geragahan</title>
		<link>https://prokabar.com/pendidikan-surau-terpa-mental-generasi-muda-geragahan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 May 2021 05:15:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#generasimuda]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=86690</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar &#8211; Pendidikan Surau kembali mengapung dan mulai dilirik generasi muda saat ini. Program asli khas kearifan lokal Minangkabau yang melahirkan Tokoh dan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pendidikan-surau-terpa-mental-generasi-muda-geragahan/">Pendidikan Surau Terpa Mental Generasi Muda Geragahan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar</strong> &#8211; Pendidikan Surau kembali mengapung dan mulai dilirik generasi muda saat ini. Program asli khas kearifan lokal Minangkabau yang melahirkan Tokoh dan Pahlawan Nasional itu diinginkan kembali, agar terealisasikan seiring zaman saat ini.</p>
<p>Seperti yang dilakukan Karang Taruna Nagari Geragahan, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat ini. Menggelar Pendidikan Surau, di Mesjid Nurul Hidayah, Jorong Taratak Jorong III Geragahan, Jumat (30/4) hingga Minggu (2/5). Berharap terus berlanjut sebagai agenda tahunan nantinya.</p>
<p>Ketua Panitia Nagari Geragahan, Johan Utoyo mengatakan, kegiatan ini digelar bertujuan untuk membina pemuda dan pemudi agar berkepribadian, berakhlakul karimah, bertaqwa kepada Allah SWT dan beradab sesuai adat istiadat beserta nilai-nilai budaya Minangkabau.</p>
<p>&#8220;Intinya dari kegiatan ini yaitu membentuk karakter pemuda dan pemudi agar memiliki asas adat Basandi Syara&#8217;, Syara&#8217; Basandi Kitabullah,&#8221; Ungkapnya.</p>
<p>Kegiatan ini berlangsung 3 hari dan diikuti 40 orang peserta dari setiap jorong. &#8220;Kegiatan dimulai Jum&#8217;at, 30 April sampai 2 Mei 2021. Selain itu, peserta harus menginap disana sampai penutupan acara,&#8221; terang Johan.</p>
<p>Program Pendidikan Surau disambut baik Bupati Agam, Andri Warman. Hadir dalam pembukaan bersama Niniak Mamak dan tokoh masayarat se-Nagari Geragahan.</p>
<p>&#8220;Saya sangat mendukung dan senang atas pelaksanaan Pendidikan Surau ini. Sejalan dengan program yang saya gagas dalam visi dan misi. Yaitu Program Tahfiz, Pembinaan Budaya atau adat dan Pembelajaran Bahasa Inggris,&#8221; tutur Bupati Agam.</p>
<p>Di Surau, dahulu kala tidak hanya belajar Agama Islam saja. Juga mengajarkan adat beserta bahasa asing seperti Berbahasa Arab, Belanda dan Bahasa Inggris. Makanya, Tokoh dan Pahlawan Nasional seperti Haji Agus Salim, Mohammad Hatta, Sutan Syahril, Rohana Kudus, Rasuna Said dan lainnya mampu berbahasa asing. <strong>(rud)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pendidikan-surau-terpa-mental-generasi-muda-geragahan/">Pendidikan Surau Terpa Mental Generasi Muda Geragahan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masjid Legend Padang Panjang Itu Bermula dari Surau Jembes</title>
		<link>https://prokabar.com/masjid-legend-padang-panjang-itu-bermula-dari-surau-jembes/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2021 15:57:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[#jembes]]></category>
		<category><![CDATA[#legend]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#PadangPanjang]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=85363</guid>

					<description><![CDATA[<p>Padang Panjang, prokabar &#8211; Surau Jembes, mungkin nama ini agak asing ditelinga sebagian masyarakat Kota Padang Panjang.  Tapi itulah cikal bakal sebuah masjid legend...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/masjid-legend-padang-panjang-itu-bermula-dari-surau-jembes/">Masjid Legend Padang Panjang Itu Bermula dari Surau Jembes</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang Panjang, prokabar</strong> &#8211; Surau Jembes, mungkin nama ini agak asing ditelinga sebagian masyarakat Kota Padang Panjang.  Tapi itulah cikal bakal sebuah masjid legend di kota itu.</p>
<p>Sekitar tahun 1990-an ada percakapan begini; Seorang amak-amak rajin benar pergi pengajian ke Mesjid Jembes.</p>
<p>Setiap pulang dari masjid itu,  dia selalu cerita pengalamannya. Sampai akhirnya gaek itu dipergarahkan seorang anak cucunya.</p>
<p>&#8220;Baa rajin bana mak mangaji ka Jembes?&#8221;<br />
&#8220;Kajinya rancak&#8221;<br />
&#8220;Baa rancaknyo?&#8221;<br />
&#8220;santiang&#8221;<br />
&#8220;Baa santiangnyo?&#8221;<br />
&#8220;Gagah&#8221;<br />
&#8220;Baa gagahnyo?&#8221;<br />
&#8220;Ntah.. ndak tantu den..</p>
<p>Marah dia rupanya, gaek itu berturo-turo.</p>
<p>Tapi yang jelas, orang tua itu tetap saja pergi pengajian kesana, makin rajin.</p>
<p>Itulah salah satu ilustrasi panggilan yang teramat kuat dari Surau jembes itu kepada jamaahnya.</p>
<p>Banyak jamaah yang datang, tidak hanya dari Padang Panjang melainkan juga dari nagari-nagari di Batipuh X Koto. Tetap begitu sejak dulu.</p>
<p>Gaek itu hanya salah satu dari banyak orang dari luar kota yang rutin datang.</p>
<p>Surau Jembatan Besi adalah surau yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1895.</p>
<p>Istilah penamaan Surau Jembatan Besi ini terinspirasi dari jembatan kayu beratap yang berada di dekat Surau tersebut.</p>
<p>Pada zaman penjajahan Belanda jembatan itu diganti dengan jembatan besi, disanalah Padang Panjang pertama kali memiliki jembatan besi.</p>
<p>Sehingga untuk memudahkan masyarakat mencari surau tersebut maka dinamailah dengan sebutan Surau Jembatan Besi.</p>
<p>Surau ini merupakan tempat berkumpul dan pusat perkumpulan para ulama dan zuama Islam dalam belajar dan menyebarkan agama Islam.</p>
<p>Hingga saat ini Surau tersebut dikenal dengan Masjid Zu&#8217;ama Jembatan Besi (Jembes) yang berada di Kelurahan Pasar Usang,</p>
<p>Penamaan Masjid Zu&#8217;ama Jembatan Besi ini dikarenakan telah banyaknya lahir ulama-ulama besar dalam menyebar pengajian Islam.</p>
<p>Sebut saja, dahulunya Ayah Buya Hamka atau Inyiak haji Rasul, bersama ulama terkemuka pernah memberikan khotbah Jum&#8217;at atau memberi ceramah pengajian disana.</p>
<p>Bahkan pada tahun 1911, pimpinan pengajian Surau Jembatan Besi dipegang Inyik Haji Rasul.</p>
<p>Semasa diasuh Inyiak Rasul, pengajian di surau ini, semakin maju. Pelajaran kitab Arab bertambah meningkat.</p>
<p>Penuntut ilmu agama bertambah banyak. Mereka berdatangan dari nagari nagari di Minangkabau dan juga dari daerah lain seperti Tapanuli, Aceh, Bengkulu dan Riau.</p>
<p>Pada tahun 1916 ketika usia Buya Hamka menginjak delapan tahun, beliau masuk Diniyah School. Tempatnya di Mesjid Jembes Pasar Usang ini.</p>
<p>Kini, Surau Jembatan Besi atau Masjid Zu&#8217;ama masih menjadi tempat kegiatan keagamaan, mengaji dan sholat lima waktu berjamaah bagi masyarakat setempat. Juga menjadi TPA/TPSA tempat anak-anak disana mengaji.</p>
<p>Mesjid Zu&#8217;ama memang tak sebesar atau semegah masjid Raya Jihad Padang Panjang, apalagi dibanding Islamic Center Padang Panjang, yang kini menjadi salah satu icon kota.</p>
<p>Tapi, Surau Jembes adalah legend, sejarah pendidikan Islam kota Serambi Mekkah itu tersimpan dalam perjalanan sejarahnya, tidak akan bisa dilepaskan.<strong>(mht)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/masjid-legend-padang-panjang-itu-bermula-dari-surau-jembes/">Masjid Legend Padang Panjang Itu Bermula dari Surau Jembes</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sekolah Mimpi, Menuju Kembali Ke Surau di Bayur</title>
		<link>https://prokabar.com/sekolah-mimpi-menuju-kembali-ke-surau-di-bayur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2021 01:37:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#bayur]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=79808</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bayur, Prokabar — Berawal ide dari hasil insiasi dari salah seorang pemuda Jorong Sungai Rangeh Sawah Liek, Yudi Gucandra sekaligus mahasiswa Pascasarjana IAIN Bukittinggi dan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sekolah-mimpi-menuju-kembali-ke-surau-di-bayur/">Sekolah Mimpi, Menuju Kembali Ke Surau di Bayur</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bayur, Prokabar — </strong>Berawal ide dari hasil insiasi dari salah seorang pemuda Jorong Sungai Rangeh Sawah Liek, Yudi Gucandra sekaligus mahasiswa Pascasarjana IAIN Bukittinggi dan penggerak bidang literasi, lingkungan dan HAM. Mengajak dua orang rekannya Yoji Azhara G (Mahasiswa Fakultas Syari&#8217;ah IAIN Bukittinggi) dan Yogi Ashidiq Z (Mahasiswa ISI Padang Panjang).</p>
<p>Berunding dan sepakat membahas gagasan tentang Sekolah Mimpi dengan menguatkan kembali pendidikan karakter para remaja di Jorong Sungai Rangeh. Melalui kegiatan Sekolah Mimpi ini, dua kawan tadi menyambut baik gagasan tersebut dengan konsep &#8220;Babaliak Ka Surau&#8221;. Setelah rundingan selesai hasil diskusi itu dibawa kepada Wali Jorong untuk dibahas dan dimintai pendapat sebagai Pemerintah di Jorong Sungai Rangeh.</p>
<p>Yudi Gucandra saat ditemui Prokabar.com menjelaskan, akhir perundingan kegiatan disetujui Wali Jorong, Muhammad Yunan Imam Putiah. Melalui beliau, mengabarkan kepada para tokoh masyarakat dan pemuda.</p>
<p>&#8220;Proses pengangkatan kegiatan di awali dengan rapat bersama tokoh masyarakat, pemuda dan wali jorong. Hal rapat membahas terkait konsep yang digagas Yudi Gucandra dan menerima masukan dari para peserta rapat,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Dari rapat itu, diputuskan untuk membentuk panitia pelaksana Sekolah Mimpi, setelah terbentuknya, panitia mulai mengeksekusi kegiatan bersama-sama. Mulai penyiapan kebutuhan, administrasi dan pendanaan.</p>
<p>&#8220;Kepanitiaan kegiatan Sekolah Mimpi diKetuai Ridho Khairul Azmi. Panitia berjumlah lebih kurang 15 orang. Alhamdulillah acara bisa terlaksana dengan lancar,&#8221; ungkap Yudi.</p>
<p>Pro dan kontra dalam pengangkatan kegiatan merupakan hal biasa terjadi di setiap pelaksanaan kegiatan. Mayoritas masyarakat sangat menyambut baik kegiatan ini karena mereka menilai, sudah semestinya kegiatan seperti yang seharusnya diadakan di setiap jorong dan nagari.</p>
<p>&#8220;Selain memberikan aktivitas kepada anak-anak remaja, kegiatan ini dapat membantu orang tua dalam memberikan pendidikan tambahan terhadap anak-anaknya,&#8221; terang Mahasiswa Pascasarjana IAIN Bukittinggi tersebut.</p>
<p>Sebagaian besar pandangan masyarakat mengenai Sekolah Mimpi merupakan kegiatan yang positif dilakukan oleh Urang Mudo Jorong Sungai Rangeh-Sawah Liek ini. Karena kegiatan seperti inilah yang seharusnya diperbanyak untuk membentuk dan melahirkan kembali generasi-generasi muda. Paham akan agama dan adat, serta mampu mengaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.</p>
<p>Sementara itu, Wali Nagari Bayur, Hadi Fajrin menyambut sangat baik terhadap kegiatan Sekolah Mimpi ini. Dikatakannya, kegiatan ini merupakan sebuah gerakan yang seharusnya dilakukan setiap jorong di Nagari Bayua. Bahkan di Minangkabau secara umum, karena kegiatan seperti ini yang menjadi wadah penguatan Karakter anak-anak remaja.</p>
<p>Pihak Wali Nagari memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan Sekolah Mimpi. Selain di Pemerintahan Nagari harus melakukan pembangunan fisik, juga tidak kalah penting pembangunan Sumber daya manusia.</p>
<p>&#8220;Merupakan hal yang sangat vital dan penting untuk dilakukan. Percuma saja suatu nagari melakukan pembangunan fisik tetapi minim melakukan pembangunan sumber daya Manusia. Nantinya fisik yang dibangun akan dihancurkan oleh manusia-manusia yang tidak memiliki mental dan karakter yang baik. Maka dari itu perlu keseimbangan pembangunan diantara keduanya dalam sebuah nagari,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Wali Nagari Bayua juga berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut. Dan pihak siap mendukung dengan bantuan materil maupun non materil nantinya.</p>
<p>Yoji Azhara menjelaskan Sekolah Mimpi dilakukan untuk menguatkan kembali pendidikan karakter para remaja di Jorong sungai Rangeh Sawah Liek dengan target penguatan Karakter di bidang agama dan adat. Harapan kedepannya para remaja yang ikut kegiatan ini bisa menjadi generasi yang alim dan beradat.</p>
<p>&#8220;Kegiatan Sekolah Mimpi dilaksanakan selama 3 hari 3 malam dengan menginap di Masjid Istiqomah bagi peserta yang laki-laki. Sementara, peserta perempuan diperbolehkan pulang dan kembali lagi jam 06.30 WIB ke masjid,&#8221; ujar Yoji.</p>
<p>Rangkaian kegiatan dilakukan dengan materi yang mendukung terbentuknya karakter para peserta. Seperti Baca Tulis Al Qur&#8217;an, Adat di Minangkabau, Program Remaja Mesjid, Peran Pemuda di Minangkabau (ABS-SBK), dan Sosialisasi Bahaya Laten Narkoba.</p>
<p>&#8220;Kegiatan Sekolah Mimpi menghadirkan pemateri yang memang mempuni di bidangnya. Yaitu Angku Yus Dt Bandara Bodi atau yang dulu memiliki gelar Angku Yus Dt Parpatiah Guguak, Angku Yasril Efendi Imam Panjang, dan Wakapolsek Tanjung Raya, Iptu. Akhiruddin,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Yogi Ashidiq turut menambahkan, kegiatan diawali dengan pembukaan di tanggal 29 Desember 2020, Ba&#8217;da sholat Isya. Dan dilanjutkan kegiatan pada tanggal 30-31 Desember dengan materi yang telah disesuaikan. Pada tanggal 31 Desember 2820, tepatnya malam pergantian tahun, panitia melaksanakan acara wirid pengajian sekaligus Penutupan acara Sekolah Mimpi Jilid 1.</p>
<p>&#8220;Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi masyarakat dan para remaja tidak pergi keluar rumah untuk kegiatan yang tidak bermanfaat,&#8221; kata Yogi.</p>
<p>Selama kegiatan berlangsung, konsumsi ditanggung langsung orang tua peserta. Dengan mengantarkan makan siang dan makan malam mereka ke Mesjid istiqomah. &#8220;Hal ini kami lakukan untuk menguatkan kembali peran orang tua dalam pendidikan anak. Dan memang telah semestinya orang tua ikut berperan. Kedatangan orang tua peserta ke lokasi acara, setidaknya memberikan pengaruh positif dalam pembentukan mental peserta beserta adanya perhatiannya,&#8221; tutup Yogi. (<strong>rud</strong>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sekolah-mimpi-menuju-kembali-ke-surau-di-bayur/">Sekolah Mimpi, Menuju Kembali Ke Surau di Bayur</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Surau dan Konsistensi Orang Minangkabau terhadap Eksistensi Budaya</title>
		<link>https://prokabar.com/pendidikan-surau-dan-konsistensi-orang-minangkabau-terhadap-eksistensi-budaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2020 02:05:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#buyahamka]]></category>
		<category><![CDATA[#hamka]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=79053</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rudi Yudistira, S.S. &#160; Agam, Prokabar — Lahirnya tokoh-tokoh Minangkabau hingga menjadi The Founding Fathers (https://prokabar.com/elang-laut-itu-bernama-minangkabau/), berakar kehidupan budaya nan elok. Mereka lahir...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pendidikan-surau-dan-konsistensi-orang-minangkabau-terhadap-eksistensi-budaya/">Pendidikan Surau dan Konsistensi Orang Minangkabau terhadap Eksistensi Budaya</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: Rudi Yudistira, S.S.</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Agam, Prokabar —</strong> Lahirnya tokoh-tokoh Minangkabau hingga menjadi The Founding Fathers (<a href="https://prokabar.com/elang-laut-itu-bernama-minangkabau/">https://prokabar.com/elang-laut-itu-bernama-minangkabau/</a>), berakar kehidupan budaya nan elok. Mereka lahir dari pola didikan yang unik dan berkarakter. Mohammad Hatta, Sutan Sjahril dan Tan Malaka. Disusul Buya Hamka, Rasuna Said, Rohana Kudus dan lainnya. Mereka terlahir dari sejarah nenek moyang berupa Pendidikan Surau.</p>
<p>Tentu zaman tempo dulu itu, hampir tidak mungkin persis diadopsi kecuali melakukan transformasi dengan pola zaman ke kinian. Buya Mas&#8217;oed Abidin menjelaskan Pendidikan Surau masih sangat relevan dengan zaman modren saat ini. (<a href="https://prokabar.com/surau-masih-relevankah-buat-anak-milenial-ini-jawaban-buya-masoed-abidin/">https://prokabar.com/surau-masih-relevankah-buat-anak-milenial-ini-jawaban-buya-masoed-abidin/</a>).</p>
<p>&#8220;Surau adalah Pusat Pendidikan Formal dan Informal. Ketika kita sudah masuk ke dalam klasikal (klasik) modren, maka terbagilah pendidikan kita formal dan informal,&#8221; terangnya. Formal masuk ke bangku sekolah. Informal disuruh dalam halaqah, lanjutnya.</p>
<p>Ia menerangkan, Ini kesalahan pendidikan budaya. Padahal pendidikan surau itu adalah pendidikan kolektif. &#8220;Yang diajarkan di sana ilmu, sikap, watak dan pergaulan,&#8221; terang Ulama Kelahiran Koto Gadang, Kabupaten Agam tersebut.</p>
<p>Dibangku sekolah yang dipelajari hanya pelajaran ilmu. Soal pelajaran berakhlak sangatlah sedikit sekali.</p>
<p>Orang minang ini terlalu naif mencampakan pendidikan komunitasnya. Pendidikan formal menjadi informal, akhirnya lahir orang berilmu tidak berakhlak atau orang berakhlak tidak berilmu. Keduanya salah.</p>
<p>&#8220;Itukan saisuak buya? Io, nan saisuaik itu masih bisa dipakai kini,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Dalam pendidikan surau yang dipakai bahasa-bahasa yang dimengerti oleh orang banyak. Karena itu berada di Minangkabau, maka sub pengantarnya digunakan Bahasa Minangkabau. Akan tetapi mereka bukan berarti mereka tidak bisa menggunakan Bahasa Belanda. Mereka pandai juga berbahasa holand meski sedikit-sedikit.</p>
<p>Di surau itu ada lapangan tempat bermain Rago. Itulah asal kata Olahraga diserap dari kata &#8220;Rago&#8221;, sejenis permainan anak nagari seperti sepak takraw melingkar.</p>
<p>&#8220;Surau itu juga diajarkan segala sikap. Bagaimana bersikap nan baik dan bagaimana bersikap nan indak baik. Bagaimana anak kecil berbicara dengan orang lebih tua, bagaimana anak kecil berbicara kepada anak yang lebih kecil. Bagaimana kita anak kecil, berbicara kepada guru. Sekarangkan tidak, agak keras guru sedikit bertinju. Tidak dapat ditinju dalam kelas di lua kelas. Itu karena pendidikan komunitas hilang. Ini persoalan kita sekarang,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>&#8220;Bisakah pendidikan komunitas (Surau) ini masuk ke pendidikan sekarang? Bisa!,&#8221; tegas Ulama kelahiran Koto Gadang, Kabupaten Agam ini. Universitas Negeri Padang sudah memulainnya.</p>
<p>Dari landasan itulah Pemuda Sungai Batang mencoba merintis pergerakannya, mengadosi pendidikan surau. Sekelompok pemuda menamakan dirinya Komunitas Pemuda Generasi Hamka (KPGH) Tanjung Raya, menggagas Program Pendidikan Surau di Masjid Inyiak DR.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-79054" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/3402772C-505B-4734-B1C7-81CD822C3C14-1024x1024.jpeg" alt="" width="1000" height="1000" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/3402772C-505B-4734-B1C7-81CD822C3C14-1024x1024.jpeg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/3402772C-505B-4734-B1C7-81CD822C3C14-300x300.jpeg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/3402772C-505B-4734-B1C7-81CD822C3C14-150x150.jpeg 150w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/3402772C-505B-4734-B1C7-81CD822C3C14-768x768.jpeg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/3402772C-505B-4734-B1C7-81CD822C3C14-80x80.jpeg 80w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/3402772C-505B-4734-B1C7-81CD822C3C14.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Berkat dukungan penuh Camat Tanjung Raya, Handria Asmi dan Jajaran beserta Pemerintahan Nagari Sungai Batang, Walijorong Batung Panjang dan Ketua Nagari Madaninya, program tersebut berjalan sukses sebagai pelopor &#8220;Mambangkik Batang Tarandam&#8221; pendidikan tersebut.</p>
<p>Hebatnya, seluruh masyarakat seperti ibu-ibu (Bundo Kandung) setempat bersemangat membantu dengan membungkuskan nasi sebagai konsumsi kebutuhan setiap kegiatan itu. Menunjukan partisipasi serius dalam semangat gotong royongnya masyarakat Minangkabau.</p>
<p>Mungkin masih terlaksana secara sederhana, terbatas ruang dan waktu. Berhubungan juga dengan pandemi covid-19 yang masih berlangsung. Tahap awal ini dimulai dari 30 orang Pelajar MTsS Muhammadiyah Sungai Batang, kebetulan berada di Kampung Kelahiran Buya Hamka Ini.</p>
<p><strong>Angku Yus Bandaro Bodi dan Sosok Buya Hamka.</strong></p>
<p>Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam memiliki latar belakang sejarah lahirnya para ulama Pembaharuan di Ranah Minang. Di awali sosok Tuanku Piaman kemudian lahir Syekh Muhammad Amrullah atau Tuanku Kisai. Generasi berlanjut melahirkan DR. Abdul Karim Amrullah atau lebih dikenal Inyiak Rasul (Inyiak DR). Hingga regenerasi berlanjut dengan kehadiran sosok Buya Hamka.</p>
<p>Di sini juga Angku Yus Bandaro Bodi (Angku Yus Datuak Parpatih Guguak) Budayawan yang terkenal dengan &#8220;Pitaruah Ayah&#8221;. Berkarya melalui gurindam memberikan nasihat kepada generasi muda melalui media kaset dan video. Memanfatkan media publikasi, agar pembinaan karekter muda dapat tercapai, meski tidak berjumpa langsung dengan Anak muda-mudi.</p>
<p>&#8220;Pada 12 Desember 2020 ini, saya sudah bisa menyebutnya hari Kebangkitan Pemuda Sungai Batang. Beragam pergerakan telah dicetus dan membanggakan. Saya kagum dengan pergerakan ini,&#8221; Angku Yus Bandaro Bodi).</p>
<p>Dulunya, tepat saya berada di sini. Di depan halaman ini, Komplek Masjid Syekh Muhammad Amrullah ini terdapat Surau dan pemondokan murid-murid Syekh Muhammad Amrullah dan DR. H. Abdul Karim Amrullah.</p>
<p>Terbayangkan, dulunya di sini terdapat sebuah pemukiman atau pemondokan berupa Surau. Namun sangat disayangkan kini, hampir tidak ada lagi jejak sejarah kecuali menyisakan Makam Ulama, Kutubchanah dan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka.</p>
<p>Tikam jejak hanya bisa dikupas dari Buku &#8220;Ayahku&#8221; karangan Buya Hamka serta beberapa catatan sejarah lainnya, serta sedikit peninggalan manuskrip yang masih tersisa di sana.</p>
<p>Buya Hamka besar di luar sana. Di kampung halamannya sendiri, tidak terlalu aktif karena banyak persoalan dulunya. Sekarang sekelompok pemuda ingin membangkitkan sosok beliau agar dapat menyerap keteladanan yang dimiliki Buya Hamka dan Inyiak Rasul.</p>
<p>Kelompok pemuda itu memulai dari catatan itu, dibantu sejumlah tokoh alim ulama dan ninik mamak yang masih memiliki ingatan tentang adanya Surau beserta Sejarah Ulama Pembaharuan dari Sungai Batang tersebut.</p>
<p>Artinya, masih ada kesempatan untuk kembali memulainya. Membangkitkan nilai kultur budaya yang hampir punah terkikis globalisasi. Generasi saat ini hanya sibuk dengan android dengan beragam dampak negatif. Menjauhkan mereka dari karakter dan jati diri budayanya sendiri.</p>
<p>Kondisi buruk itu akan semakin parah pada 10 tahun mendatang. Seorang Bapak yang sudah banyak tidak memahami Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Termasuk Kato Nan Ampek dan Adat Nan Ampek. Nilai-nilai kesopanan dan etika bermasyarakat, hanya didapat melalui pendidikan Surau sejatinya dipelajari secara stuktur pendidikan non formal.</p>
<p>Pendidikan Surau masih bisa dibangun dengan kesepakatan dan keseriusan Pemerintah Daerah, Pemerintah Nagari duduk semeja dengan Alim Ulama, Ninik Mamak, Bundo Kanduang bersama Pemuda-pemudi yang memiliki inovasi dan kreatifitas berkemajuan berbudaya Minangkabau. (***)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pendidikan-surau-dan-konsistensi-orang-minangkabau-terhadap-eksistensi-budaya/">Pendidikan Surau dan Konsistensi Orang Minangkabau terhadap Eksistensi Budaya</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Camat dan Kelompok Pemuda Tanjung Raya Rintis Program Pendidikan Surau</title>
		<link>https://prokabar.com/camat-dan-kelompok-pemuda-tanjung-raya-rintis-program-pendidikan-surau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2020 15:15:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=79002</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar — Camat Tanjung Raya, Handria Asmi berhasil menggagas dan menggerakan sekelompok pemuda bersama Pemerintahan Nagari Sungai Batang dan Jorong Batung Panjang, dalam...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/camat-dan-kelompok-pemuda-tanjung-raya-rintis-program-pendidikan-surau/">Camat dan Kelompok Pemuda Tanjung Raya Rintis Program Pendidikan Surau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar —</strong> Camat Tanjung Raya, Handria Asmi berhasil menggagas dan menggerakan sekelompok pemuda bersama Pemerintahan Nagari Sungai Batang dan Jorong Batung Panjang, dalam rangka mengangkat kembali potensi ulama yang lama terpendam. Usai melaksanakan berbagai kegiatan seperti Festival Rinuak ( https://prokabar.com/tag/rud/ ), Kemah Bakti Pramuka Penggalang Bertema &#8220;Tikam Jejak Buya Hamka&#8221;, mengikuti lima kali pelatihan pemandu wisata, menggali situs-situs bersejarah di Sungai Batang hingga berhasil membantu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam dalam pengembangan dan pembenahan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka.</p>
<p>Terobosan terbaru sejumlah pemuda itu kali ini mengangkat &#8220;Program Pendidikan Surau&#8221;. Untuk tahap awal ini, menjalin kerjasama dengan MTsS Muhammadiyah Sungai Batang, Kenagarian Sungai Batang melalui Wali Jorong Batung Panjang, Ketua Nagari Madani Sungai Batang serta peran aktif ibu-ibu di Jorong Batung Panjang dan TPA/MDA.</p>
<p>&#8220;Kami bangga dan salut atas semangat Pemuda ini. Berhasil menggagas berbagai terobosan kegiatan, membangkitkan semangat kami dan masyarakat di sini,&#8221; ungkap Camat Tanjung Raya, Handria Asmi.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-79003" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/66DEF28B-5051-4062-B9B1-E353EB5AC2B9-1024x576.jpeg" alt="" width="1000" height="563" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/66DEF28B-5051-4062-B9B1-E353EB5AC2B9-1024x576.jpeg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/66DEF28B-5051-4062-B9B1-E353EB5AC2B9-300x169.jpeg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/66DEF28B-5051-4062-B9B1-E353EB5AC2B9-768x432.jpeg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/66DEF28B-5051-4062-B9B1-E353EB5AC2B9.jpeg 1040w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Kegiatan dilaksanakan Sabtu-Minggu (12-13) Desember 2020. Sebanyak 30 orang siswa-siswi MTsS Muhammadiyah Sungai Batang mendapat pembinaan selama dua Hari. Adapun narasumber materi yang didapatkan pertama, Angku Yus Bandaro Bodi (lebih dikenal dengan nama Angku Yus Datuak Parpatih Guguk) dengan materi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.<br />
Materi kedua dari Ustad Dasri, seorang mubaliq sekaligus pengelola Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka dengan tema Sejarah Buya Hamka dan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, serta tema &#8220;Belajar silek dan Permainan Anak Nagari&#8221; dibimbing oleh guru Ayub Sutan Nagari dan Adri Sutan Siri.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-79004" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/35F431DA-6F60-4A97-927E-29B73B8607C3-1024x768.jpeg" alt="" width="1000" height="750" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/35F431DA-6F60-4A97-927E-29B73B8607C3-1024x768.jpeg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/35F431DA-6F60-4A97-927E-29B73B8607C3-300x225.jpeg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/35F431DA-6F60-4A97-927E-29B73B8607C3-768x576.jpeg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/12/35F431DA-6F60-4A97-927E-29B73B8607C3.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Program Pendidikan Surau berawal diskusi lanjutan Camat Tanjung Raya dengan Kasi Tata Pemerintahan, Bayu Wiranata dan Koordinator/ Ketua KPGH, Rudi Rajo Intan. Wacana itu kemudian dilanjutkan dengan diskusi kepada Wali Jorong Batung Panjang, Fajri Datuak Mangkuto Nan Basa, Fitra Katik Rajo Mudo, Anggota KPGH, guru MTsS Muhammadiyah Sungai Batang berserta Pemuda-pemuda, ibu-ibu dan Tokoh Masyarakat Batung Panjang. Program Pendidikan Surau disambut baik semua pihak.</p>
<p>&#8220;Program ini sesuai dengan misi KPGH, bagaimana Kampung Buya Hamka benar-benar kembali hidup reliqius dan islami seperti cita-cita Inyiak Rasul dan Buya Hamka di Kampung Halamannya,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Menggali dan mengapungkan potensi hebat yang masih terpendam dalam, jauh di diri masyarakat dan jiwanya. Karena dasar pondasi telah dibangun utuh oleh Ulama Besar Buya Hamka beserta nenek moyangnya. Berbagai pelajaran dan peninggalan berupa buku serta catatan lainnya, menjadi sumber hebat yang harus dipelajari, dipahami hingga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Camat Tanjung raya menyampaikan dalam pembukaan acara, sangat kagum Dan bersemangat atas terwujudnya kegiatan tersebut. Kebanggaan telah bisa membina dan merintis pergerakan yang mempelopori kebangkitan pemuda Sungai Batang. Untuk meningkatkan gelora islami dan reliqius, dengan harapan generasi penerus atau regenerasinya dapat lebih baik dari generasi tua dan generasi yang hidup saat ini.</p>
<p>&#8220;Pendidikan Surau sebuah Program yang mencoba mengadopsi Pola-pola Surau tempo dulu. Meski zaman tidak bisa kembali seperti masa lalu, namun nilai-nilai positif dan kelebihan pendidikan surau tempo dulu dapat disesuaikan dengan kondisi saat ini,&#8221; tutup Camat Tanjung Raya, Handria Asmi. (<strong>rud</strong>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/camat-dan-kelompok-pemuda-tanjung-raya-rintis-program-pendidikan-surau/">Camat dan Kelompok Pemuda Tanjung Raya Rintis Program Pendidikan Surau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Alumni SMAN 1 TILKAM Bangun Surau Darul Ulum, Tingkatkan Pendidikan Karakter</title>
		<link>https://prokabar.com/alumni-sman-1-tilkam-bangun-surau-darul-ulum-tingkatkan-pendidikan-karakter/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2020 00:48:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=76579</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar — Hampir Rp3 milyar pembangunan Surau Darul Ulum dibangun dalam komplek SMAN 1 Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Surau dengan desain...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/alumni-sman-1-tilkam-bangun-surau-darul-ulum-tingkatkan-pendidikan-karakter/">Alumni SMAN 1 TILKAM Bangun Surau Darul Ulum, Tingkatkan Pendidikan Karakter</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar —</strong> Hampir Rp3 milyar pembangunan Surau Darul Ulum dibangun dalam komplek SMAN 1 Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Surau dengan desain unik dan indah, diharapkan menjadi penunjang peningkatan pendidikan berkarakter nantinya.</p>
<p>Kepala SMAN 1 Tilatang Kamang, Willia Zuwerni menjelaskan sarana dan prasana ibadah Surau Darul Ulum SMA Negeri 1 Tilatang Kamang berdiri di atas tanah berukuran 46 x 22 meter. Berkedudukan pondasi berlantai 3, dengan daya tampung sebanyak 650 orang siswa dan 60 orang lebih guru.</p>
<p>&#8220;Pembangunan Surau Darul Ulum ini berasal sumbangsih alumni bersama komite sekolah dengan total rencana keseluruhan sebesar Rp3 Milyar. Sedangkan dana yang sudah terpakai sekitar Rp 2.6 Milyar,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Kita pihak kepala sekolah, majelis guru serta komite lanjutnya, bersyukur dan berterimakasih atas perhatian dari para alumni SMA Negeri 1 Tilatang Kamang. Melalui organisasi IKASMANTIKA (Ikatan Keluarga SMA Negeri 1 Tilatang Kamang), diketuai Idris Hadi Sikumbang saat ini bertugas di Astra Patria Jakarta. Ikut serta didamping Iqbal dan Maizirwan selaku pengawas pembangunan Surau Darul Ulum SMA Negeri 1 Tilatang Kamang.</p>
<p>&#8220;Tujuan pembangunan surau dalam komplek sekolah adalah untuk meningkatkan pendidikan bagi siswa. Dimana peserta didik sejak datang mereka bisa shalat dhuha, shalat zuhur, dan bahkan sampai shalat ashar, baru mereka pulang. Dari sinilah para siswa Alan tumbuh karakter dan prilaku yang baik selama di SMA Negeri 1 Tilatang Kamang,&#8221; terangnya.</p>
<p>Untuk peresmian Surau Darul Ulum ini, pihaknya merencanakan akhir Desember, atau awal Januari 2021 nanti. Pada saat peresmian, bersama alumni direncanakan mengundang Ustad Abdul Somad.</p>
<p>Iqbal selaku pengawas pembangunan menyebutkan, Surau Darul Ulum dilengkapi fasilitas CCTV luar dan dalam ruangan. Taman bunga, sound system, ruang garin, serta petugas garin surau yang telah dipersiapkan alumni.</p>
<p>Selain itu, karpet yang terbentang satu hamparan panjang. Juga dilengkapi Mesin Pinger bagi siswa yang masuk ke surau. Gambar arsitek bangunan dibuat Cindarhadi Prabowo, alumni SMA Tilatang Kamang yang kini Ketua Fakultas Teknik di Universitas Indonesia (UI). Sebelumnya alumni juga telah menyerahkan 1 unit bus sekolah dan 1 unit sepeda motor sebagai kendaraan operasional sekolah.</p>
<p>&#8220;Pembangunan Surau Darul Ulum dimulai 2 Maret 2019 lalu. Dalam waktu satu setengah tahun tuntas dikerjakan. Cepat tuntas karena dikelola langsung alumni dibawah pengawasan kepsek,&#8221; tutupnya Iqbal. (<strong>rud</strong>).</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/alumni-sman-1-tilkam-bangun-surau-darul-ulum-tingkatkan-pendidikan-karakter/">Alumni SMAN 1 TILKAM Bangun Surau Darul Ulum, Tingkatkan Pendidikan Karakter</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Surau, Masih Relevankah Buat Anak Milenial? Ini Jawaban Buya Mas&#8217;oed Abidin</title>
		<link>https://prokabar.com/surau-masih-relevankah-buat-anak-milenial-ini-jawaban-buya-masoed-abidin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2020 15:21:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Perantau]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#surau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=69031</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar — Diskusi menarik dan sangat berharga disaat Anggun Gunawan (Mahasiswa Strata Dua, Publishing Media Oxford Brookes University UK dan CEO at Gre...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/surau-masih-relevankah-buat-anak-milenial-ini-jawaban-buya-masoed-abidin/">Surau, Masih Relevankah Buat Anak Milenial? Ini Jawaban Buya Mas&#8217;oed Abidin</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar —</strong> Diskusi menarik dan sangat berharga disaat Anggun Gunawan (Mahasiswa Strata Dua, Publishing Media Oxford Brookes University UK dan CEO at Gre Publishing) melakukan diskusi interaktif dengan Buya Mas&#8217;oed Abidin, Ulama ternama dari Sumatra Barat. Diskusi tersebut masih terdokumentasikan di sebuah media sosial https://www.instagram.com/p/CAVDz4Uh-Hu.</p>
<p>Anggun Gunawan mengangkat tema Surau: Masih Relevankah Buat Anak Milenial? Diskusi melalui Video Call atau Gre Publishing Talk tersebut berlangsung seru dan menarik. Pasalnya, Sang Buya, juga sangat antusias memaparkan Surau dari kacamata keulamaan sekaligus kisah pengalaman masa lalunya.</p>
<p>Akademisi tamatan Jurusan Philosophy of Reliqion UGM tersebut memulai diskusi sekitar pukul 09.00 WIB, Minggu (17/6) dengan Buya Mas&#8217;oed Abidin. Setelah membuka diskusi, Buya langsung memberikan penjelasan.</p>
<p>&#8220;Surau adalah Pusat Pendidikan Formal dan Informal. Ketika kita sudah masuk ke dalam klasikal (klasik) modren, maka terbagilah pendidikan kita formal dan informal,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Buya melajutkan, formal masuk ke bangku sekolah. Informal disuruh dalam halaqah.</p>
<p>&#8220;Ini kesalahan pendidikan budaya. Padahal pendidikan surau itu adalah pendidikan kolektif yang diajarkan di sana ilmu, sikap, watak dan pergaulan,&#8221; terang Ulama Kelahiran Koto Gadang, Kabupaten Agam tersebut.</p>
<p>Dibangku sekolah yang dipelajari hanya pelajaran ilmu. Soal pelajaran berakhlak, emang gua pikirin, ujarnya.</p>
<p>Tetapi pendidikan yang disebut dengan pendidikan kolektif itu, masih dipakai di zaman modren seperti sekarang ini. Yakni yang disebut dengan pendidikan komunitas. Barangkali Inggris masih berlaku pendidikan komunitasnya kan? tanya beliau ke Gunawan.</p>
<p>Dengan sigap, CEO at Gre Publishing itu menjawab, &#8220;Masih,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Orang minang ini terlalu bodoh mencampakan pendidikan komunitasnya. Pendidikan formal menjadi informal, akhirnya lahir orang berilmu tidak berakhlak atau orang berakhlak tidak berilmu. Keduanya salah. Itu kaji saisuak.</p>
<p>&#8220;Itukan saisuak buya? Io, nan saisuaik itu masih bisa dipakai kini,&#8221; jelasnya.</p>
<p>&#8220;Nah, dalam pendidikan surau yang dipakai bahasa-bahasa yang dimengerti oleh orang banyak. Karena itu berada di Minangkabau, maka sub pengantarnya digunakan Bahasa Minangkabau. Akan tetapi mereka bukan berarti mereka tidak bisa menggunakan Bahasa Belanda. Mereka pandai juga berbahasa holand meski sedikit-sedikit.</p>
<p>Di surau itu ada lapangan tempat bermain Rago. Itulah asal kata Olahraga diserap dari kata &#8220;Rago&#8221;, sejenis permainan anak nagari seperti sepak takraw melingkar.</p>
<p>&#8220;Surau itu juga diajarkan segala sikap. Ba&#8217;a basikap nan baik dan ba&#8217;a sikap nan indak baik. Ba&#8217;a anak ketek berbicara dengan orang gadang, baa anak ketek berbicara kepada anak yang lebih ketek. Baa awak anak ketek mangecek ka guru. Kini kan indak, agak kareh guru saketet batenju. Indak dapek ditenju dalam kelas di lua kelas. Itu karena pendidikan komunitas hilang. Ini persoalan kita sekarang,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>&#8220;Bisakah pendidikan komunitas (Surau) ini masuk ke pendidikan sekarang? Bisaaa!,&#8221; tegas Ulama kelahiran Koto Gadang, Kabupaten Agam ini.</p>
<p>UNP sudah mulai melakukannya itu. Mulai dilakukannya di universitas. Bagaimana bertutur, berbuat. Tetapi ada bedanya, di Universitas ada tingkatan. Di Surau juga ada tingkatannya, kelas satu, kelas dua, kelas tiga. Kelas juga namanya, tapi gurunya berganti. Kalau semakin tinggi ilmunya semakin banyak belajar dengan guru tuo.</p>
<p>&#8220;Tau lah dengan guru tuo?,&#8221; tanya ulama kelahiran 11 Agustus 1935 itu kepada Anggun Gunawan.</p>
<p>Guru Tuo adalah murid tertua yang dinilai oleh guru diberi jabatan pengganti guru tersebut. &#8220;Di Kampus namanya Asisten dosen,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Oleh karena itu, di Surau terjadilah hubungan interaksi sosial yang sangat mendalam. Rasa penghormatan terjadi, yang dipercaya dari gurunya. Bahasa dipakai, &#8220;Tau di Nan Ampek&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ampek&#8221; sahabat nabi. Sholat paling banyak ampek. &#8220;Kato Nan Ampek&#8221;. Dan &#8220;Ampek kali Ampek Anam Baleh&#8221;. Pertanyaan pertama yang akan dibaca, &#8220;Alam Takambang Jadi Guru&#8221;.</p>
<p>Tulisan yang dipakai, dekat dengan dunia dan akhirat yaitu Arab Melayu. Apalagi di Minangkabau, dahulunya segala perjanjian ditulis melalui tulisan arab melayu. Surat wasiat, surat ranji, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.</p>
<p>Didalam setiap kondisi dan didalam setiap masa, pendidikan komunitas atau Surau boleh/bisa/dapat dilakukan. Tergantung bagaimana sistem. Oleh karena itu Surau adalah sebuah sistem pendidikan. Selama ini yang kita katakan surau adalah bangunan empat sudut atau empat segi.</p>
<p>&#8220;Yang dimaksut kembali ke surau itu adalah kembali kepada pendidikan komunitas. Bukan kembali kepada bangunan fisik empat segi. Lai jaleh tu!,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Orang saisuik itu Hatta orang surau, Natsir urang surau, Yamin orang surau, Tan Malaka Urang Surau. Kenapa itu? Karena mereka orang surau.</p>
<p>&#8220;Baa kok kini ko urang surau ko urang sarungan? Kan gajia tu. Sia nan salah, awak! Awak nan mamisahkan pendidikan formal dan informal. Surau menggabung pendidikan formal dan informal. Menjadi pendidikan budaya.</p>
<p>Apa itu budaya? Berbudi dan berdaya! Ada budinya, ada daya geraknya. Ko budi sajo, ndak ado gerak. Ko daya se, hilang lo budi. Indak amuah. Jadi keduanya harus bergerak maju berbudi.</p>
<p>Nah, dima lataknyo, di formal dan informal. Dalam berkata-kata juga begitu,&#8221; ujarnya.</p>
<p>&#8220;Pertanyaan Anggun buya jawab, Lai kolah ado/layak/relevan di milenial? Musti dibuek! Aa sebab? Kalau surau sebuah sistem bukan sebuah bangunan. Apa sistemnya? Komunitas. Apa sistemnya, menggabung formal dan informal. Apa sistemnya? Menjadikan berbudi dan berdaya. Apa sistemnya? Arif dan bijaksana. Apa sistemnya? Indak takuik di zaman di apo sajo!</p>
<p>Kapan sejak sistem surau ini ada? Sejak orang Minang dan Islam ada. Mengajarkan Adat dan Islam itu hanya ada di Surau.</p>
<p>Sumpah Sati (setia) Bukik Marapalam. Sumpah yang setia itu yang telah terjadi. Jadi jangan dianggap Islam dan adat itu bersatu/bergabung setelah adanya Sumpah Sati atau Perjanjian Bukik Marapalam, salah. Andia!</p>
<p>Islam masuk ke Minangkabau sejak zaman Umar Bin Khatab, pada abad ke 7. Dimasa itu belum semua orang masuk islam, hanya dari beberapa kelompok saja. Dan lahirlah &#8220;Suluah Bendang Dalam Nagari&#8221; hanya ada di Minangkabau. Karena adanya Surau.</p>
<p>Suluah yang menerangi. Apa yang ditarangaan (terangkan), ada dua hal. Pertama adatnya, kedua agamanya.</p>
<p>Jika dikatakan sebuah bentuk, ciek jadi &#8220;sumbu&#8221;, ciek lai jadi &#8220;minyak&#8221; atau manarangi (menerangi).</p>
<p>Oleh karena itu ado nan urang yang tukang tarangi iko indak pernah tarang. Karano itu disabuik &#8220;Bak Mambaka Lilin&#8221;. Lilin habih, awak tabaka, urang tarang nan awak tingga. Lai juo Tuanku nan mode itu sampai kini. &#8220;Maaja urang sajo nan lai, nan dirinyo indak&#8221;.</p>
<p>Tetapi pendidikan di Surau seluruhnya itu komunitas. &#8220;Karano itu kok indak amuah dulu anak-anak ka surau, dilacuik dek amaknyo. Digantiak dek ayahnyo, diantakan dek inyiaknyo,&#8221; paparnya.</p>
<p>&#8220;Tuangku ajaan lah anak ambo. Akan tetapi karena di surau diajarkan pendidikan dakwah. Jo aa dakwah itu diajakan, jo budi pekerti, jo adat istiadat, dengan akidah yang benar, Laillahaiillah&#8230;</p>
<p>Bara kasantiang urang saisuak. Manyabuik Tauhid sajo &#8220;Tagak Di Nan Bana, Nan Bana Badiri Sadirinyo&#8221;.</p>
<p>Jadi Tauhid itu adalah kebenaran, ketika terjadi kesalahan-kesalahan, hilang kebenaran, nan hilang itu Tauhid! Baa kok ilang? Surau ndak ado.</p>
<p>Sakolah banyak, tapi cuma ilmu sajo nan banyak tapi imamnyo indak ado.</p>
<p>&#8220;Maka disitulah komunitas Minang itu tumbuh menjadi komunitas yang kuat. Ka rantau madang di hulu, babuah babungo balum. Marantau Bujang Dahulu, dek di rumah bagubo balum.</p>
<p>Di rantau baguno jo urang. Dikambangkannyo Islam sampai hilang kebatilan. Sesudah mengembangkan Islam, dibangun dek cucunya di pulau Nuzon, sebuah kota yakni Amallillah. Datang orang spanyol diganti menjadi Manila (Kota Besar Filipina). Di sana masih ada surau besar dan bukti peninggalan Islam orang Minang. Raja Sulaiman itu masih ada seratus tahun anak, cucu dari keturunan kerajaan. Raja Sulaiman itu bagi awak Datuak Rajo Bagindo.</p>
<p>&#8220;Jadi, karano itu yang mengembangkan Islam pada dahulu itu ke luar negeri itu angku-angku datuak yang sekaligus menjadi ulama. Tidak hanya ulama seperti saat ini saja.</p>
<p>Kini nan bapitih manjadi datuak, lai jaleh tu!</p>
<p>Dahulu indak pitih sa sen gai kalua managakan panghulu do. Anak kamanakan nan mambangun. Kabau, nan kabau ka kaum. Bareh, nan bareh ka kaum nan datang. Sayua jaa ditanyo lai, lado jaa ditanyo. Kini sagalo nan diimpor, tapaso kabau nan didabiah batagak Panghulu barang impor lai.</p>
<p>Itu dek pendidikan komunitas (surau) lah hilang!</p>
<p>Caliak ka Padang Lua, indak ado sawah lai lah hilang. Batuka bangunan nan batingkek-tingkek. Padahal kekayaan itu ada di tanah.</p>
<p>Lihat tapi lauik abrasi, di gunuang, taban, banjir, hilang tanah. Makanya tanah indak buliah di jua dan digadaikan. Di dalam pendidikan komunitas surau, harato pusako ko indak buliah digadaikan dan dijual. Indak ado tamakan jo tando. Kok buliah digadaikan ado tigo pakaro, anak gadih lah gadang, maik tabujua di ateh rumah, rumah gadang katirisan.</p>
<p>Apo penyebabnyo, dek pendidikan surau tak adoh!</p>
<p>Karena Surau merupakan penggabungan pendidikan formal dengan informal. Membuat sistem komunitas, &#8220;singkek uleh mauleh, kurang tukuak manukuak. Nan condong batupang. Itu pendidikan komunitas. Berarti sikap, sifat, lahir watak. Prodaknya &#8220;karajo kuat&#8221;.</p>
<p>Agak nan tatingga! Ingek nan ka pai.<br />
Agak-agak nan ka tingga ko. Indak di jua sae do. Ingek nan ka pai, nan kapai ko basamo awak. Pai lah! Marantau lah! Jo aa dibari, dikirimi. Indak digadaikan kan do.</p>
<p>Kok lai bamodal, apo tu tulang lapan karek, ampek di ateh, ampek dibawah. Kok indak pandai mamakai lapan karek, indak babudi dan berdaya namonyo tu. Lai babudi jo babudaya manampuang sajo? Indak babudi dan badaya itu namonyo,&#8221; pungkas Drs. Haji Mas&#8217;oed Abidin bin Zainal Abidin bin Abdul Jabbar. (<strong>rud</strong>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/surau-masih-relevankah-buat-anak-milenial-ini-jawaban-buya-masoed-abidin/">Surau, Masih Relevankah Buat Anak Milenial? Ini Jawaban Buya Mas&#8217;oed Abidin</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 40/248 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/17 queries in 0.020 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 05:24:32 by W3 Total Cache
-->