<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#SMRC Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/smrc/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/smrc/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 03 Apr 2022 03:23:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#SMRC Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/smrc/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ide Penundaan Pemilu dan Presiden Tiga Periode Memperlemah Penilaian Publik Atas Kinerja Presiden</title>
		<link>https://prokabar.com/ide-penundaan-pemilu-dan-presiden-tiga-periode-memperlemah-penilaian-publik-atas-kinerja-presiden/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi6]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2022 03:23:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[#mbb]]></category>
		<category><![CDATA[#SMRC]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=102224</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, Prokabar &#8211; Ide penundaan pemilu dan presiden tiga periode memperlemah penilaian publik atas kinerja presiden. Demikian temuan survei terbaru Saiful Mujani Research and...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/ide-penundaan-pemilu-dan-presiden-tiga-periode-memperlemah-penilaian-publik-atas-kinerja-presiden/">Ide Penundaan Pemilu dan Presiden Tiga Periode Memperlemah Penilaian Publik Atas Kinerja Presiden</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Prokabar</strong> &#8211; Ide penundaan pemilu dan presiden tiga periode memperlemah penilaian publik atas kinerja presiden. Demikian temuan survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Sikap Publik terhadap Penundaan Pemilu” yang disiarkan melalui kanal YouTube SMRC TV.</p>
<p>Video utuh pemaparan hasil survei tersebut bisa disimak di sini:  <a href="https://youtu.be/dWLbdMYstSI">https://youtu.be/dWLbdMYstSI</a></p>
<p>Hasil survei yang dipresentasikan Direktur Riset SMRC, Deni Irvani, ini menunjukkan bahwa kinerja Presiden Jokowi masih dinilai positif di mata publik pada umumnya.</p>
<p>Namun demikian, dalam setahun terakhir kepuasan terhadap kinerja Presiden Jokowi menurun dari 77 persen pada survei Maret 2021 menjadi 64,6 persen pada survei terakhir Maret 2022.</p>
<p>Deni memperlihatkan bahwa ada kecenderungan gagasan penundaan pemilu dan presiden tiga periode berkontribusi pada menurunnya tingkat kepuasan publik atas kinerja presiden.</p>
<p>Dalam data tabulasi silang, terlihat bahwa sikap warga yang pada umumnya menolak usulan penundaan pemilu menurunkan sentimen positif atas kinerja presiden.</p>
<p>Ada 72 persen dari pendukung penundaan pemilu karena alasan Covid-19 yang puas atas kinerja presiden.</p>
<p>Sementara pada yang menolak penundaan pemilu, hanya 60 persen yang puas pada kinerja presiden.</p>
<p>Deni menambahkan bahwa temuan ini konsisten dengan evaluasi warga atas arah perjalanan bangsa dan kinerja demokrasi. Ada 83 persen dari pendukung pemilu ditunda karena alasan Covid-19 yang menyatakan negara sedang bergerak ke arah yang benar.</p>
<p>Angka ini menurun pada mereka yang tidak setuju penundaan pemilu, 67 persen.</p>
<p>Deni menunjukkan bahwa dalam setahun terakhir, penilaian positif atas arah berjalanan bangsa turun dari 80 persen pada survei Maret 2021 menjadi 68 persen dalam survei Maret 2022.</p>
<p>Hal yang sama terjadi pada evaluasi atas kinerja demokrasi. Warga yang setuju ide penundaan pemilu karena alasan pandemi, 72 persennya puas atau sangat puas atas jalannya demokrasi.</p>
<p>Sementara yang menolak penundaan pemilu, hanya 60 yang merasa puas atau sangat puas atas jalannya demokrasi.</p>
<p>“Tren kepuasan terhadap jalannya demokrasi dalam setahun terakhir mengalami pelemahan dari 71,9 persen pada survei Maret 2021 menjadi 61,7 persen dalam survei Maret 2022,” terang Deni.</p>
<p>Survei ini dilakukan pada 1220 responden yang dipilih secara acak dengan metode stratified multistage random sampling terhadap keseluruhan populasi atau warga negara Indonesia yang sudah memiliki hak pilih, yakni mereka yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah.</p>
<p>Response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) sebesar 1027 atau 84%. Sebanyak 1027 responden ini yang dianalisis. Margin of error survei dengan ukuran sampel tersebut diperkirakan sebesar ± 3,12% pada tingkat kepercayaan 95% (asumsi simple random sampling). Wawancara tatap muka dilakukan pada 13 &#8211; 20 Maret 2022. <strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/ide-penundaan-pemilu-dan-presiden-tiga-periode-memperlemah-penilaian-publik-atas-kinerja-presiden/">Ide Penundaan Pemilu dan Presiden Tiga Periode Memperlemah Penilaian Publik Atas Kinerja Presiden</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Survei SMRC: 78,9 Persen Publik Tolak Penundaan Pemilu</title>
		<link>https://prokabar.com/survei-smrc-789-persen-publik-tolak-penundaan-pemilu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi6]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2022 03:15:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[#mbb]]></category>
		<category><![CDATA[#Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[#SMRC]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=102221</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, Prokabar &#8211; Mayoritas warga (78,9 persen) menolak ide penundaan Pemilu. Demikian salah satu temuan survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/survei-smrc-789-persen-publik-tolak-penundaan-pemilu/">Survei SMRC: 78,9 Persen Publik Tolak Penundaan Pemilu</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Prokabar</strong> &#8211; Mayoritas warga (78,9 persen) menolak ide penundaan Pemilu. Demikian salah satu temuan survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Sikap Publik terhadap Penundaan Pemilu” yang disiarkan melalui kanal YouTube SMRC TV.</p>
<p>Video utuh pemaparan hasil survei tersebut bisa disimak di sini: <a href="https://youtu.be/dWLbdMYstSI">https://youtu.be/dWLbdMYstSI</a></p>
<p>Direktur Riset SMRC, Deni Irvani, dalam presentasi hasil survei, menunjukkan 78,9 persen publik mendukung pemilu harus tetap dilaksanakan pada 2024 walaupun pandemi Covid-19 belum menentu akan berakhir dalam waktu dekat.</p>
<p>Publik berpendapat bahwa menjadi tanggung jawab presiden hasil pemilu 2024 bila wabah Covid-19 belum berakhir. Sementara yang menilai pemilu harus diundur karena alasan pandemi hanya 11,9 persen.</p>
<p>“Angka ini konsisten dengan hasil survei sebelumnya pada September 2021,” papar Deni.</p>
<p>Ide penundaan pemilu karena alasan pemulihan ekonomi juga mendapatkan penolakan besar dari publik.</p>
<p>Sebanyak 79,8 persen warga menginginkan pemilu tetap dilaksanakan pada 2024 sesuai undang-undang walaupun kondisi ekonomi akibat pandemi belum pulih.</p>
<p>Publik menilai bahwa adalah tanggungjawab pemerintah hasil Pemilu 2024 untuk menanggulangi masalah ekonomi, bila masalah ekonomi akibat Covid-19 belum berakhir pada 2024 nanti.</p>
<p>“Hanya ada 11,4 persen masyarakat yang setuju pemilu diundur karena alasan pemulihan ekonomi,” papar Deni.</p>
<p>Sementara gagasan penundaan pemilu dengan alasan pembangunan ibu kota negara (IKN) baru belum selesai, ditolak oleh 78,5 persen publik.</p>
<p>Yang mendukung penundaan pemilu ke 2027 karena alasan pembangunan IKN yang belum selesai hanya sekitar 10,9 persen.</p>
<p>Survei ini dilakukan pada 1220 responden yang dipilih secara acak dengan metode stratified multistage random sampling terhadap keseluruhan populasi atau warga negara Indonesia yang sudah memiliki hak pilih, yakni mereka yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah.</p>
<p>Response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) sebesar 1027 atau 84%. Sebanyak 1027 responden ini yang dianalisis. Margin of error survei dengan ukuran sampel tersebut diperkirakan sebesar ± 3,12% pada tingkat kepercayaan 95% (asumsi simple random sampling). Wawancara tatap muka dilakukan pada 13 &#8211; 20 Maret 2022. <strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/survei-smrc-789-persen-publik-tolak-penundaan-pemilu/">Survei SMRC: 78,9 Persen Publik Tolak Penundaan Pemilu</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Survei SMRC: Hanya 5 Persen Publik yang Mendukung Ide Presiden Tiga Periode</title>
		<link>https://prokabar.com/survei-smrc-hanya-5-persen-publik-yang-mendukung-ide-presiden-tiga-periode/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi6]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2022 03:06:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[#mbb]]></category>
		<category><![CDATA[#SMRC]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=102218</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, Prokabar &#8211; Hanya 5 persen publik Indonesia yang mendukung gagasan presiden tiga periode. Hal ini terungkap dalam hasil survei nasional Saiful Mujani Research...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/survei-smrc-hanya-5-persen-publik-yang-mendukung-ide-presiden-tiga-periode/">Survei SMRC: Hanya 5 Persen Publik yang Mendukung Ide Presiden Tiga Periode</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Prokabar</strong> &#8211; Hanya 5 persen publik Indonesia yang mendukung gagasan presiden tiga periode. Hal ini terungkap dalam hasil survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Sikap Publik terhadap Penundaan Pemilu” yang disiarkan melalui kanal YouTube SMRC TV.</p>
<p>Video utuh pemaparan hasil survei tersebut bisa disimak di sini:  <a href="https://youtu.be/dWLbdMYstSI">https://youtu.be/dWLbdMYstSI</a></p>
<p>Hasil survei yang dipresentasikan Direktur Riset SMRC, Deni Irvani, ini menunjukkan bahwa mayoritas warga, 73 persen, menilai ketentuan masa jabatan presiden maksimal dua kali harus dipertahankan. Hanya 15 persen yang menilai ketentuan tersebut harus diubah.</p>
<p>Deni menjelaskan bahwa dari 15 persen yang menilai masa jabatan presiden harus diubah, 61 persen (atau sekitar 9 persen dari total populasi) ingin masa jabatan presiden hanya satu kali (untuk 5, 8, atau 10 tahun). Yang ingin lebih dari dua kali (masing-masing 5 tahun) hanya 35 persen atau hanya sekitar 5 persen dari total populasi.</p>
<p>Deni menambahkan bahwa pendapat warga yang mayoritas ingin mempertahankan ketentuan masa jabatan presiden maksimal dua kali ini konsisten dalam 3 kali survei, pada Mei 2021, September 2021, dan Maret 2022.</p>
<p>“Ide menambah periode jabatan presiden bukanlah aspirasi yang umum di masyarakat. Hanya sekitar 5 persen warga yang setuju dengan pandangan itu. Publik pada umumnya ingin seorang presiden hanya menjabat maksimal dua periode saja,” papar Deni.</p>
<p>Survei ini dilakukan pada 1220 responden yang dipilih secara acak dengan metode stratified multistage random sampling terhadap keseluruhan populasi atau warga negara Indonesia yang sudah memiliki hak pilih, yakni mereka yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah.</p>
<p>Response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) sebesar 1027 atau 84%. Sebanyak 1027 responden ini yang dianalisis. Margin of error survei dengan ukuran sampel tersebut diperkirakan sebesar ± 3,12% pada tingkat kepercayaan 95% (asumsi simple random sampling). Wawancara tatap muka dilakukan pada 13 &#8211; 20 Maret 2022. <strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/survei-smrc-hanya-5-persen-publik-yang-mendukung-ide-presiden-tiga-periode/">Survei SMRC: Hanya 5 Persen Publik yang Mendukung Ide Presiden Tiga Periode</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SMRC : Negara Khilafah Tidak Populer di Indonesia</title>
		<link>https://prokabar.com/smrc-negara-khilafah-tidak-populer-di-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[prokabar]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Jun 2017 05:00:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[#Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[#SMRC]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=2036</guid>

					<description><![CDATA[<p>Gagasan pendirian khilafah ditolak oleh rakyat Indonesia. Demikian kesimpulan hasil survei opini publik yang dirilis oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), 4/6. Survei...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/smrc-negara-khilafah-tidak-populer-di-indonesia/">SMRC : Negara Khilafah Tidak Populer di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gagasan pendirian khilafah ditolak oleh rakyat Indonesia. Demikian kesimpulan hasil survei opini publik yang dirilis oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), 4/6. Survei yang dilakukan pada bulan Mei 2017 secara nasional itu menemukan bahwa dari 66,4% yang tahu ISIS (negara Islam Irak dan Syiria), 89,6% menyatakan tidak atau sangat tidak setuju dengan perjuangan mereka. Bahkan 91,3% di antaranya mendukung negara melakukan pelarangan.&nbsp;<br />
Lebih jauh, hasil survei yang dipaparkan oleh peneliti utama SMRC, Saiful Mujani, itu juga menemukan bahwa 9 dari 10 (89,3%) rakyat Indonesia menganggap ISIS adalah ancaman pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. 92,9% menyatakan ISIS tidak boleh hidup di Indonesia.</p>
<p>Bagaimana dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang juga memiliki gagasan dan perjuangan pendirian khilafah? Tidak berbeda dengan ISIS, penolakan pada organisasi ini juga sangat tinggi. Dari 28,2% warga yang tahu, 56,7% mengetahui HTI memperjuangkan gagasan khilafah. 68,8% warga menyatakan menolak perjuangan mereka. Sementara dari 75,4% yang tahu niat pemerintah membubarkan HTI, 78,4% menyetujuinya.&nbsp;</p>
<p>Temuan ini sejalan sikap umum masyarakat Indonesia (99%) yang bangga sebagai warga negara Republik Indonesia. Ketika ditanya apakah bersedia menjadi relawan penjaga NKRI, 84,5% menyatakan bersedia dan sangat bersedia.</p>
<p>Dukungan pada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 nampak masih sangat solid dalam temuan ini, yakni 79,3%. Namun begitu, ada 9,2% rakyat yang menganggap bahwa bentuk NKRI perlu diganti menjadi negara Islam atau khilafah yang bersandar pada al-Qur’an, hadits dan pendapat ulama tertentu.</p>
<p>Survei ini juga menemukan 14,5% warga menganggap Indonesia sekarang ini melemah dan karenanya berada dalam ancaman besar. 89,3% di antaranya menganggap hal itu adalah masalah yang sangat serius. Bahkan 75% (10% dari total populasi nasional) di antaranya menganggap Indonesia, karena itu, akan terjerumus dalam perang saudara.</p>
<p>Sementara itu, yang dianggap sebagai penyebab utama adalah karena adanya ancaman dari paham-paham agama tertentu (39,4%). Dalam jumlah yang jauh lebih rendah karena pelaksanaan negara dan elite yang hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Dalam jumlah yang lebih kecil lagi kekhawatiran itu bersumber dari ketimpangan kesejahteraan antara warga ataupun antara daerah.</p>
<p>Pertanyaan Survei</p>
<p>Survei yang menggunakan dana CSR SMRC ini bertujuan untuk merespons pertanyaan yang muncul di masyarakat terkait isu-isu fundamental negara-bangsa yang mengemuka belakangan ini, yaitu tentang apakah Indonesia dalam bentuk yang sekarang bisa bertahan? Menurut Saiful Mujani, pertanyaan itu muncul bukan terutama karena perubahan sosial ekonomi, seperti ketimpangan pendapatan, karena hal itu bukan gejala baru, sementara kekhawatiran soal kelangsungan NKRI relatif baru. Demikian pula dengan intoleransi dan teror, hal itu juga bukan gejala baru.</p>
<p>Karena itu, lanjut Mujani, kemungkinan yang paling kuat menjadi penyebab menguatnya keprihatian akan kelangsungan NKRI adalah munculnya fenomena gerakan ISIS yang secara eksplisit memperjuangkan gagasan penggantian dasar dan bentuk negara.</p>
<p>Kekhawatiran itu, menurut Mujani, tidak berlebihan mengingat expose media tentang bagaimana Irak dan Syiria hancur lebur di bawah teror dan kekuasaan ISIS begitu tinggi. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki pengalaman sejarah gerakan Darul Islam (DI) atau Tentara Islam Indonesia (TII) dan Negara Islam Indonesia (NII) yang lebih belakangan. Dan sekarang yang secara terang-terangan mengkampanyekan cita-cita pendirian khilafah adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). &nbsp;“Kecemasan itu beralasan karena ISIS seperti membangunkan “yang sedang tidur” di tanah air,” kata Saiful Mujani.</p>
<p>Faktor-faktor Terkait</p>
<p>Survei ini juga melacak faktor-faktor yang mempengaruhi sikap publik pada ISIS dan HTI. Rasa nasionalisme merupakan faktor paling penting yang memunculkan sentimen negatif warga pada ISIS, bukan sentimen terhadap demokrasi maupun kondisi sosial-ekonomi, politik, hukum, maupun keamanan.&nbsp;</p>
<p>Berbeda dengan sikap terhadap ISIS, nasionalisme bukan faktor penting bagi simpati atau antipati pada HTI. &nbsp;Yang memperlemah HTI adalah komitmen pada demokrasi, dan kondisi &nbsp;positif di tanah air dalam ekonomi, politik, hukum, dan keamanan, serta kinerja kepemimpinan nasional. Memburuknya kondisi faktor-faktor tersebut dapat memperkuat dukungan pada HTI.&nbsp;</p>
<p>Secara politik kepartaian, dukungan pada HTI beririsan dengan dukungan pada partai politik tertentu. Sikap positif pada HTI cenderung lebih banyak ditemukan pada pendukung PKS dan PPP. Secara demografis, sikap positif pada HTI dapat ditemukan lebih banyak di kalangan warga perkotaan, dan berumur lebih muda.</p>
<p>Di akhir paparannya, Saiful Mujani menyimpulkan bahwa jika sikap publik diartikan sebagai sikap kebanyakan orang, maka “ISIS, HTI, dan yang sejenis dengan itu adalah musuh publik Indonesia (public enemy).”<b> [SA]</b></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/smrc-negara-khilafah-tidak-populer-di-indonesia/">SMRC : Negara Khilafah Tidak Populer di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 52/56 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/8 queries in 0.437 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-08 06:46:41 by W3 Total Cache
-->