<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#sejarahminangkabau Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/sejarahminangkabau/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/sejarahminangkabau/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 04 May 2021 05:19:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#sejarahminangkabau Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/sejarahminangkabau/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tikam Jejak Surau Gadang, Saksi Bisu Tarikat Naqsabandiyah Di Tanjung Raya</title>
		<link>https://prokabar.com/tikam-jejak-surau-gadang-saksi-bisu-tarikat-naqsabandiyah-di-tanjung-raya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jul 2019 00:30:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Naqsabandiyah]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#sejarahislam]]></category>
		<category><![CDATA[#sejarahminangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=42508</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanjung Raya, Prokabar — Islam sebagai agama terkuat dan mutlak diamalkan Suku Bangsa Minangkabau. Sejak dulu, pengamalannya sangat kental hingga ke seluruh pelosok negeri...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/tikam-jejak-surau-gadang-saksi-bisu-tarikat-naqsabandiyah-di-tanjung-raya/">Tikam Jejak Surau Gadang, Saksi Bisu Tarikat Naqsabandiyah Di Tanjung Raya</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanjung Raya, Prokabar —</strong> Islam sebagai agama terkuat dan mutlak diamalkan Suku Bangsa Minangkabau. Sejak dulu, pengamalannya sangat kental hingga ke seluruh pelosok negeri penganut sistem kekerabatan Matriakat ini.</p>
<p>Dulunya, Islam dengan alirannya, didomimasii Tarikat Syatariah dan Tarikat Naqsabandiyah. Islam semakin berkembang sejak Syekh Burhanuddin kembali menyiarkan Islam, setelah belajar banyak dari guru besarnya di Aceh, Syekh Abdur Rauf As-Singkili.</p>
<p>Sejak itu, penyiaran Islam di Ranah Minang terus berkembang pesat. Hal tersebut juga berkembang pesat di Selingkar Danau Maninjau berpusat di Nagari Sungai Batang dulunya. Berkembang sampai ke Nagari Duo Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.</p>
<p>Salah satu bukti kuat perkembangan tarikat Naqsabandiyah di sana adalah, masih berdiri kokohnya Surau Gadang dengan corak arsitektur beratap menjulang tinggi dan bertingkat-tingkat. Memiliki tonggak besar dibagian tengah (tongga macu), disertai 8 tonggak pendampingnya.</p>
<p>Semua bangunan terbuat dan berlantai kayu andalas. Di halaman surau tuo ini selalu ada kolam ikan dan tempat berwuduk. Bangunan tersebut sangat dirawat masyarakat setempat. Sangat langka masih ada surau tua dengan tongga macu yang utuh.</p>
<p>Menurut Haji Lukman Khatib Pamuncak (83), salah satu tokoh agama setempat, Surau Gadang dibangun pada 1800-an oleh Syekh Abdullah. Kemudian dilanjutkan muridnya Haji Hasanuddin. Kedua ulama tersebutlah yang menyiarkan Islam di Koto Baru, Jorong Mudiak, Nagari Duo Koto tersebut.</p>
<p>Ia melanjutkan kayu surau diambil dari hutan daerah Taban, 1 km dari Surau Gadang. &#8220;Sulit kita logikakan, membawa tongga macu yang sangat besar itu dibawa melalui tenaga manusia. Apalagi ditambah 8 tonggak pendampingnya yang juga lumayan panjang dan besar,&#8221; terangnya.</p>
<p>Konon menurut orang tua-tua dulu lanjutnya, untuk mendirikan tonggak macu yang besar dan tinggi sekitar 10 meter itu dengan zikir. &#8220;Orang tua-tua dulu banyak yang kiramat dan sangat dekat dengan Sang Pencipta. Sehingga doa mereka sangat mabrur dan cepat diridhoi Illahi,&#8221; ungkap Lukman.</p>
<p>Sementara itu, kegiatan keagamaan setiap malam melaksanakan pengajian, salawat dulang, zikir, dan belajar membaca hingga hafalan Al-Quran. &#8220;Dulu di saat zaman pergejolakan, ada tentara yang memanfaatkan surau sebagai tempat persembunyian. Karena sempat berbuat tidak sesuai ajaran Islam, tiba-tiba Ular besar datang dari atas tonggak macu. Seluruh tentara tersebut langsung berhamburan keluar surau,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Setiap pasukuan seperti Suku Piliang, Caniago, Koto, Guci dan lainnya memiliki surau kecil. Dan masing-masing miliki Kadi, Khatib, Imam dan Bilal. Dan setiap pasukuan mendapat giliran untuk menjadi Imam, Khatib dan Bilal khusus di hari Jum&#8217;at (Sholat Jum&#8217;at). Dan hal ini melatih masyarakat untuk siap dan taat beragama.</p>
<p>Namun sejak masjid baru telah berdiri, peranan Imam, Khatib dan Bilal di setiap pasukuan, mulai dilakukan regenerasi. &#8220;Peranan Imam, Khatib dan Bilal sudah mulai digantikan anak-anak dan remaja. Bertujuan generasi penerus memiliki bekal dan ilmu agama yang lebih baik,&#8221; ujar Haji Khatib Pamuncak tersebut.</p>
<p>Tidak hanya itu, di depan halaman surau, terdapat kolam ikan, pemandian dan tempat wuduk. &#8220;Mau hujan atau kemarau, air selalu lancar dan tidak pernah keruh. Konon air tersebut berasal dari Bonjol Pasaman,&#8221; katanya.</p>
<p>Sementara itu, Walinagari Duo Koto, Joni Safri menambahkan, Surau Gadang merupakan peninggalan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Salah satu bukti sejarah dengan peradapan Islam tempo dulu.</p>
<p>&#8220;Surau ini belum terdaftar sebagai situs cagar budaya. Dan kami berencana akan mendaftarkanya ke Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Agam serta Balai Cagar Budaya di Batu Sangkar. Untuk pelestarian, kami Pemerintah Nagari dan masyarakat akan terus menjaga dan merawatnya,&#8221; pungkas Walinagari Duo Koto tersebut. (<b>rud</b>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/tikam-jejak-surau-gadang-saksi-bisu-tarikat-naqsabandiyah-di-tanjung-raya/">Tikam Jejak Surau Gadang, Saksi Bisu Tarikat Naqsabandiyah Di Tanjung Raya</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menggali Sejarah Lahirnya Muhammadiyah di Pulau Sumatra dan Ketokohan A.R Sutan Mansur</title>
		<link>https://prokabar.com/menggali-sejarah-lahirnya-muhammadiyah-di-pulau-sumatra-dan-ketokohan-a-r-sutan-mansur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 May 2019 06:46:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#budayaminangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[#buyahamka]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Muhammadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[#MUI]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#sejarahminangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=36767</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rudi Yudistira, S.S. Kantor Cabang Muhammadiyah Pertama di Sumatra, Berubah MTsS Muhammadiyah. Sungai Batang, Prokabar — Selintas lalu, gedung pendidikan itu terlihat remeh...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/menggali-sejarah-lahirnya-muhammadiyah-di-pulau-sumatra-dan-ketokohan-a-r-sutan-mansur/">Menggali Sejarah Lahirnya Muhammadiyah di Pulau Sumatra dan Ketokohan A.R Sutan Mansur</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><em><strong>Oleh : <span class="s1">Rudi Yudistira, S.S.</span></strong></em></p>
<p class="p1"><strong><span class="s1">Kantor Cabang Muhammadiyah Pertama di Sumatra, Berubah MTsS Muhammadiyah.</span></strong></p>
<p class="p1"><span class="s2"><strong>Sungai Batang, Prokabar —</strong> Selintas lalu, gedung pendidikan itu terlihat remeh dengan kesederhana. Namun siapa sangka, lokasi ini cikal bakal dan pertama adanya Organisasi Islam terkemuka di pulau Sumatra, yakni Muhammadiyah. </span></p>
<p class="p1"><span class="s2">Lokasi tersebut telah berubah menjadi Madriasyah Tsanawiyah Swasta (MTsS) Muhammadiyah Sungai Batang. Tepatnya tapian Muaro Pauah, Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Tidak jauh MTsS tersebut terdapat Kutubchanah (Rumah Baca dan Menulis) milik Ayah dari Buya Hamka.</span></p>
<p class="p1"><span class="s2">Ada tiga tokoh ulama perintis Muhammadiyah di Ranah Minang ini, yakni Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), A.R. Sutan Mansur dan Yusuf Amrullah. Ketiga tokoh inilah penyiar dan pengembang Muhammadiyah di Sumatra. Bahkan sampai ke Kalimantan dan pulau lainnya. Sementara itu, Buya Hamka sebagai anak kemenakan dari Tiga tokoh ulama terdahulunya melanjutkan dengan memperkokoh Muhammadiyah menjadi organisasi Islam terkemuka di Indonesia.</span></p>
<figure id="attachment_36770" aria-describedby="caption-attachment-36770" style="width: 720px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-36770" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/05/1.jpeg" alt="" width="720" height="405" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/05/1.jpeg 1280w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/05/1-300x169.jpeg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/05/1-768x432.jpeg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/05/1-1024x576.jpeg 1024w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /><figcaption id="caption-attachment-36770" class="wp-caption-text">Gerbang MTsS Muhammadiyah, Kantor Cabang Pertama Muhammadiyah Di Pulau Sumatra yang telah beralih fungsi. Tidak ada bekas sejarah yang menunjukan lokasi tersebut sebagai Kantor Cabang Muhammadiyah. Foto : RUD/Prokabar</figcaption></figure>
<p class="p1"><span class="s2">Menurut catatan sejarahnya, tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatra Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam tersebut. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatra Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar ke seluruh Indonesia.</span></p>
<p class="p1"><span class="s2">Melihat potret kehidupan masyarakat saat ini, sudah banyak yang melupakan sejarah tersebut. Bahkan tingkat keimanan dan ketqwaan masyarakat tidak sehebat tempo masa Syekh Tuanku Nan Tuo atau Tuanku Pariaman pernah menyiarkan Islam di sini. Kejayaan itu dilanjutkan Syekh Guguak Katur, Syekh Muhammad Amrullah atau Tuanku Kisai.</span></p>
<figure id="attachment_36771" aria-describedby="caption-attachment-36771" style="width: 1280px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-36771 size-full" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/05/2.jpeg" alt="" width="1280" height="720" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/05/2.jpeg 1280w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/05/2-300x169.jpeg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/05/2-768x432.jpeg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/05/2-1024x576.jpeg 1024w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption id="caption-attachment-36771" class="wp-caption-text">Gedung MTsS Muhammadiyah dengan beragam gambar Tokoh beserta visi dan misi sekolah. Foto : RUD/Prokabar</figcaption></figure>
<p class="p1"><span class="s2">Hingga akirnya, Haka, anak kandung dari Tuanku Kisai melakukan pembaharuan islam moderat. Seperti melahirkan Muhammadiyah pertama di luar Pulau Jawa dan pertama di Pulau Sumatra. Kejayaan Islam di Nagari Sungai Batang, sebagai Pusat Penyiaran Islam Pembaharuan dan Referensi Intelektual Ulam di Ranah Minang ini mulai sirna hampir tidak membekas.</span></p>
<p class="p1"><span class="s2">Kehidupan religius masyarakat tidak seindah masalalu yang sangat mengharumkan nama baik Ranah Minang. Bahkan terkenal hingga ke negeri Jiran Malaysia, Brunai Darussalam dan Singapura.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1"><b>A.R Sutan Mansur Melanjutkan Perjuangan Haka</b></span></p>
<p class="p1"><span class="s2">Dapat diketahui secara umum, lahirnya Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H). Namun tidak dipungkiri, berkembang pesatnya Organisasi ini berada di Pulau Sumatra, terutama di Sumatra Barat (Ranah Minang) melalui tiga tokoh ulama ternama yang masih berkaitan erat dengan Buya Hamka sendiri.</span></p>
<p><a href="https://prokabar.com/menggali-sejarah-lahirnya-muhammadiyah-di-pulau-sumatra-dan-ketokohan-a-r-sutan-mansur/2/">Lanjut Halaman 2 &gt;&gt;</a></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/menggali-sejarah-lahirnya-muhammadiyah-di-pulau-sumatra-dan-ketokohan-a-r-sutan-mansur/">Menggali Sejarah Lahirnya Muhammadiyah di Pulau Sumatra dan Ketokohan A.R Sutan Mansur</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menggali Situs Dan Sejarah Ulama, Ini yang Dilakukan KPGH TJ</title>
		<link>https://prokabar.com/menggali-situs-dan-sejarah-ulama-ini-yang-dilakukan-pemuda-kampung-hamka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 May 2019 01:16:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#buyahamka]]></category>
		<category><![CDATA[#hamka]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#kampunghamka]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#sejarahminangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=36739</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sungai Batang, Prokabar — Catatan sejarah ulama di sejumlah daerah rata-rata mulai tidak menarik bagi generasi muda. Bahkan banyak situs-situs peninggalan sejarah dahulu itu...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/menggali-situs-dan-sejarah-ulama-ini-yang-dilakukan-pemuda-kampung-hamka/">Menggali Situs Dan Sejarah Ulama, Ini yang Dilakukan KPGH TJ</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sungai Batang,</strong> <strong>Prokabar</strong> — Catatan sejarah ulama di sejumlah daerah rata-rata mulai tidak menarik bagi generasi muda. Bahkan banyak situs-situs peninggalan sejarah dahulu itu tidak terurus sebagai mana mestinya. Padahal situs itu dapat dimanfaatkan sebagai wisata edukasi, sejarah dan reliqius (halal tourism).</p>
<p>Melalui pemikiran tersebut sekelompok pemuda di kampung halaman Buya Hamka atau yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Generasi Hamka Tanjung Raya (KPGH TJ), bersatu untuk membangkitkan kembali sejarah ulamanya. Berharap dapat mengembalikan kejayaannya dan meningkatkan segala aspek kehidupan masyarakat. Mereka sadar melalui pendekatan Agama, segala pengaruh buruk dapat terbentengi.</p>
<p>Sebelumnya, mereka telah berhasil membersihkan sebuah jenjang sangat bersejarah di Tanjung Raya. Jenjang atau jalan satu-satunya menuju pelosok perkampungan Data Kampung Dadok, Kampung Tangah, Tanah Sirah, Tanjung Sani, Batung Panjang, dan Batung Ajung.</p>
<p>Selanjutnya, mereka juga mendalami sejarah Makam Inyiak D-R beserta Kutubchanah beserta manuskrip karya Ayah Buya Hamka tersebut. Inyiak D-R atau Haji Abdul Karim Amrullah (Haka), diketahui lahir Ahad, 17 Safar 1296 Hijriah atau 10 Februari 1879 Masehi. Meninggal di Jakarta, 2 Juni 1945 dalam usia 67 tahun.</p>
<p>Berdasarkan permintaan pihak keluarga, makam Muhammad Rasul itu dipindahkan dari Jakart ke depan Kutubchanah, tempat ia biasa membaca, berfikir dan berkarya di Muara Pauh, Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang, Agam.</p>
<p>Penelusuran kemudian berlanjut ke Makam Syekh Guguk Katur dan Syekh Muhammad Amrullah di Jorong Nagari (Sungai Batang). Di Makam Syekh Guguk Katur melalu perbukitan kecil. Dan terukir nama Abdullah Saleh di menhir tersebut. Tertera pula 17 Muharam 1285 Hijriah dengan aksara jawi atau arab melayu.</p>
<p>Sekitar 100 meter dari makam Syekh Guguk Katur, menuju sebuah masjid tua terdapat pula makam. Merupakan makam Syekh Muhammad Amrullah. Menurut Buya Hamka di Buku Ayahku, Syekh Tuanku Kisa&#8217;i itu lahir pada Bulan Rajab 1256 Hijriah. Meninggal pada Rabi&#8217;ul Akhir 1325 Hijriah atau tahun 1907 Masehi dalam usia 79 tahun.</p>
<p>&#8220;Kami sangat semangat untuk menggali lagi sejarah ulama besar ini. Catatan sejarahnya seperti tidak ada tersisa dan tidak dipedulikan banyak orang. Padahal nama besar tersebut bernaung hebat di negara-negara mayorita Islam di Asia dan Timur Tengah sana.&#8221; ujar Rudi, Koordinator KPGH Tanjung Raya.</p>
<p>Sementara itu, Fajri, Wakil Koordinator sekaligus pemuda setempat mengungkapkan semangat itu tumbuh didasari dorongan Camat Tanjung Raya, Handria Asmi, digagas seorang jurnalis asal Padang.</p>
<p>&#8220;Di sini kita sudah berada di Makam Guguk Katur. Buyut dari Buya Hamka dan sangat disegani ulama serta tokoh masyarakat pada saat itu,&#8221; ungkap Fajri saat besrkunjung dan berada di Makam Guguk Katur.</p>
<p>Usai di Makam Abdullah Saleh, Komumitas diwakili 5 orang pemuda itu melanjutkan tujuan ke Makam Syekh Muhammad Amrullah. Namun perjalanan tersebut sangat beruntung. Pasalnya, salah satu tokoh besar bernama Angku Yus Datuak Perpatih berada di rumahnya yang sangat dekat di makam kakek Buya Hamka tersebut.</p>
<p>&#8220;Saya juga tidak terlalu banyak mengetahui betul sejarah Syekh Guguk Gatur. Akan tetapi catatan sejarahnya dapat kita dapati di Buku Ayahku karya Buya Hamka,&#8221; terangnya.</p>
<p>Namun meski demikian lanjutnya, beliau penganut paham tarikat yang suka berkhalawat. Salah satu sosok tokoh yang menguasai adat Istiadat Minangkabau. &#8220;Beliau seringkali menjadi penasihat dan menuntaskan pertikaian sesuatu kaum atau kelompok,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Setelah mendapat wejangan dari Angku Yus Datuak Parpatih, keesokannya, perjalanan dilanjutkan ke Surau Tuo Inyiak D-R di Kampuang Kabun, Batuang Panjang. Di sana pihak suku Jambak telah merencanakan rehap surau. Di samping surau itu, terdapat rumah gadang kaum suku Jambak, garis keturunan Inyiak Rasul tersebut. &#8220;Hanya Satu Rumah yang di Huni, satu lagi sudah tidak ditempati,&#8221; sebut Ardiansyah Dt. Rajo Ameh, salah satu pemuka suku Jambak tersebut.</p>
<p>Di Jorong Batung Panjang dengan empat tapian (setingkat RT) ini, terdapat banyak situs berupa makam, rumah gadang, rumah tua, surau serta beberapa tempat ulama masalalu beraktifitas di luar bangunan. &#8220;Sangat kita sayangkan, situs tersebut terlupakan dan hampir punah. Padahal dapat membawa keberkahan untuk semua masyarakat. Selain memperdalam sejarah dan peningkatan keimanan serta ketaqwaan kepada Allah SWT, juga mampu membawa keberkahan peningkatan ekonomi. Dengan menjadikannya sebagai objek kunjungan wisata reliqius,&#8221; pungkas Fauzi, Ketua Harian KPGH didampingi Firman dan Akhyar. (<b>rud</b>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/menggali-situs-dan-sejarah-ulama-ini-yang-dilakukan-pemuda-kampung-hamka/">Menggali Situs Dan Sejarah Ulama, Ini yang Dilakukan KPGH TJ</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Masjid Tuo Kayu Jao, Ceritamu Kini</title>
		<link>https://prokabar.com/masjid-tuo-kayu-jao-ceritamu-kini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 May 2019 21:37:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#gas]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[#sejarahminangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[#Solok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=36695</guid>

					<description><![CDATA[<p>Padang, Prokabar — Pagi baru saja menjelang. Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan di Jorong Kayu Jao, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/masjid-tuo-kayu-jao-ceritamu-kini/">Masjid Tuo Kayu Jao, Ceritamu Kini</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Padang</strong>, <strong>Prokabar</strong> — Pagi baru saja menjelang. Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan di Jorong Kayu Jao, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.</p>
<p>Dingin Menusuk Tulang. Dilembah perbukitan itu, sebuah bangunan kayu berbentuk segi empat, tampak berdiri apik. Bangunan ini memiliki lambang bulan dan bintang yang menyembul di ujung atapnya.</p>
<p>Bangunan ini adalah rumah Ibadah, yakni Masjid Tuo Kayu Jao. Masjid ini tercatat telah berdiri sejak tahun 1599 , merupakan masjid tertua di Kabupaten Solok dan tertua kedua di Indonesia yang berdiri sampai saat ini.</p>
<p>Bergoncong, begitulah bangunan seperti “rumah adat” ini. Di samping bangunan ada aliran anak sungai. Alirannya tak begitu deras namun sangat jernih. Saat suasana senyap gemericik air terdengar riuh sangat nyaman didengar.</p>
<p>Masjid ini sudah tua, namun kian eksis saja. Serasa zaman “saisuak” berada disana.</p>
<p>Kayu-kayu jati hitam menandakan bangunan ini pernah menjadi yang termegah pada masanya. Pilar-pilar kayu pun masih kokoh berdiri meski pada beberapa pilar terlihat memiliki warna berbeda menunjukkan bangunan ini pernah direnovasi.</p>
<p>Bagian-bagian masjid sangat sederhana. Tak ada ukiran rumit terpatri di dinding, pilar, mimbar masjid bahkan jendela dan pintu. Hanya saja, jumlah jendela yang ada adalah melambangkan jumlah rukun dalam solat yaitu 13. Seolah tak lengkap masjid tanpa adanya bedug sebagai pengingat waktu salat.</p>
<p>Tepat didepan masjid, sebuah bedug melintang perkasa dibawah bangunan bergonjong pula. Kalau waktu sholat masuk, bedug itulah yang di pukul muadzin. Bedug masjid atau tabuah berbentuk cukup besar, digadang memiliki usia yang sama dengan masjid</p>
<p>Di tebing dekat aliran anak sungai itu, bunga penuh warna berjajar menyambut pengunjung. Cukup besar juga lahan taman itu, ada tulisan Masjid Kayu Jao, juga bisa dijadikan background untuk berofoto bagi pengunjung.</p>
<p>Meski terlihat sepi, ternyata masjid ini telah menjadi salah satu masjid yang ramai dikunjungi wisatawan yang sedang berpelesir di Sumatera Barat.</p>
<p>“Pengunjung dari luar kota banyak datang kesini, meski hanya sekedar melihat dang mengambil foto saja,”sebut seorang pemuda setempat, Rizal.</p>
<p>Tepat disampingnya, ada satu papan nama telah usang yang menginformasikan nama bangunan ini yaitu Masjid Tuo Kayu Jao. Pada papan nama juga tertulis bahwa bangunan ini adalah &#8220;situs cagar budaya&#8221; yang menandakan bangunan ini dilindungi oleh pemerintah daerah.</p>
<p>Masjid ini didirikan oleh pemuka agama, penduduk sekitar menyebutnya dengan Imam Musaur. Ia mengajak penduduk setempat secara bergotong royong mendirikan masjid. Pada masanya, wilayah ini bisa dibilang sebagai pusat penyebaran Agama Islam.</p>
<p>Menurut Rizal, anak-anak kecil disana masih menjadikan masjid sebagai tempat menimba ilmu dengan belajar mengaji pada waktu-waktu tertentu. (<b>gas</b>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/masjid-tuo-kayu-jao-ceritamu-kini/">Masjid Tuo Kayu Jao, Ceritamu Kini</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Peradaban Islam di Ranah Minang Dan Budaya ‘Barantam’ Piaman</title>
		<link>https://prokabar.com/sejarah-peradaban-islam-di-ranah-minang-dan-budaya-barantam-piaman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2019 04:48:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[#Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#Pariaman]]></category>
		<category><![CDATA[#RanahMinang]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#sejarahislam]]></category>
		<category><![CDATA[#sejarahminangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=29809</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejarah Peradaban Islam di Ranah Minang &#160; Padang Pariaman sebagai daerah awal muasal peradapan Islam di Ranah Minang. Dari sinilah, Islam berkembang dan diterima...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sejarah-peradaban-islam-di-ranah-minang-dan-budaya-barantam-piaman/">Sejarah Peradaban Islam di Ranah Minang Dan Budaya ‘Barantam’ Piaman</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpFirst"><b><span>Sejarah Peradaban Islam di Ranah Minang </span></b></p>
<p>&nbsp;</p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpFirst"><span>Padang Pariaman sebagai daerah awal muasal peradapan Islam di Ranah Minang. Dari sinilah, Islam berkembang dan diterima baik masyarakat Minangkabau dahulunya. Ajaran Islam yang dibawa dan disebarkan oleh tokoh ulama terbaik yang bernama Syekh Burhanuddin. Menurut peneliti Azyumardi Azra, ulama ini diperkirakan hidup pada 1056-1104 Hijriah atau 1646 Masehi. Sebagian besar akademisi sepakat, beliau orang tersukses yang mengislamkan orang Minang secara menyeluruh di Ranah Minang.  Pendekatannya melalui permainan anak-anak dan penciptaan teknologi baru (Struktur Bangunan), memudahkan syariat Islam diterima dan disambut masyarakat. Meski sudah banyak ulama terdahulunya menyiarkan islam pada saat itu (seperti Syekh Madinah atau Syekh Abdullah Arief salah satunya) namun masih belum berkembang dengan baik. Dimasa Syekh Burhanuddin beserta para sahabat (diperkirakan 1069 Hijriah/1649 Masehi) inilah syiar Islam mulai berkembang, bahkan memantapkan diri seluruh masyarakat Minang adalah penganut penuh Agama Islam. </span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Setelah perjuangan keras dan kembali pulang menuntut ilmu dari Syekh Abdurrauf Ar-Singkel dari Aceh (murid Syekh Ahmad Qusyaisi di Madinah), Ia bersama sahabatnya Idris Khatib Malelo membangun  pemondokan atau Surau di Tanjung Medan, Ulakan Tapakis. Di sinilah surau pertama yang menjadi cikal bakal lembaga pendidikan agama di Minangkabau. Sejenis Pesantren di Jawa yang pada masa belakangan berkembang luas dan disebarluaskan oleh pengikut dan murid Syekh Burhanuddin. Surau Tanjung Medan juga menjadi kampus universitas yang disekitarnya didirikan surau-surau kecil, dihuni pelajar dari berbagai daerah di Minangkabau, Riau, dan Jambi. Surau tempat pendidikan dalam pengajaran agama Islam.</span><span>Sedangkan ilmu yang dipelajarinya boleh dikatakan semua ilmu yang ada pada gurunya, yaitu Fiqh, Tauhid, Hadîts, Tasawuf dengan jalan Tarekat Syathariyah, ilmu Taqwîm dan ilmu Firasat (Makalah Prof. Dr. Duski Samad dalam Seminar Sehari/17 Juli 2012).</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Melalui pola pemondokan atau pesantren, memusatkan surau tidak hanya pusat pendidikan Islam, juga pengembangan permainan anak nagari. Seperti lahirnya <i>Ulu Ambek</i> sebagai pertunjukan Silat yang satu-satunya ada di Ranah Minang. Pembangunan masjid kuno beratap gonjong menjulang tinggi, salah satu karya teknologi arsistek ulama keturunan aceh dan arab tersebut. Kemampuan tersebut jelas menambah wawasan dan kemampuan masyarakat, sehingga memudahkan ketertarikan masyarakat yang masih menganut animisme beralih ke Islam.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Di Surau Tanjung Medan Ulakan ini ia dibantu 4 orang sahabat sepeguruannya di Aceh. Seperti Datuk Maruhum Panjang dari Padang Gunung, Si Tarapang dari Kubung XII Solok, Muhammad Nasir dari Koto Tangah Surau Batu, dan Syekh Buyung Mudo dari Bayang Pulut-pulut Pesisir Selatan. Sehingga perkembangan peradapan Islam bangkit dan melahirkan generasi ulama terbaik yang menyebar ke seluruh pelosok negeri di Ranah Minang (Amran: 2011).</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Menurut Buya Hamka dalam bukunya “Ayahku”, Islam kembali tersohor di Agam berkat Syekh Abdullah Arif atau lebih dikenal Syekh Tuanku Pariaman atau Tuanku Nan Tuo. Ulama Syatariah keturunan Arab yang berasal dari Ulakan Pariaman. Ulama ini berhasil menyiarkan Islam dan ribuan murid terbaik diberbagai daerah. Termasuk lahirnya Syekh Muhammad Amrullah (Kakek Hamka) dan Syekh Abdul Karim Ambrullah atau Haji Rasul (Ayah Kandung Hamka) keturunan beliau.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Pengembangan pesantren berbasis surau cukup berkembang pesat pada masa itu. Seperti di Sungai Batang, Maninjau, Banuhampu, Koto Gadang, Koto Tuo, Malalak, Lawang, Matua, Ampek Angkek dan sekitarnya. Namun Tuanku Pariaman lebih sering menetap di Surau Koto Tuo, Ampek Angkek. Dan sejarah lahirnya kaum Padri sebagai pejuang pemberontakan melawan penjajahan Kolonial Belanda, tidak lepas dari didikan Tuanku Pariaman sendiri, seperti Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao dan Tuanku Lintau.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Sesuai pepatah minang <i>“Syarak Mandaki, Adaik Manurun”</i>, secara harfiah bermakna merujuk ajaran Islam <i>Habluminallah wa Habluminannas</i>. Agama Islam datang dari dataran rendah pantai barat Sumatra menyebar ke pelosok negeri ranah minang sebagai tuntunan berketuhanan (<i>Habluminallah</i>). Sedangkan adat menjadi tatanan sosial (<i>Habluminnanas</i>) sesuai asal usul orang Minangkabau di daerah Darek atau Luhak Nan Tuo. Pituah minang menyebutkan:</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Si Amaik mandi ka luak, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>luak parigi paga bilah, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>bilah bapilah kasadonyo. </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Adaik Basandi syarakak, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Syarak basandi Kitabullah, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Sanda manyanda kaduonyo</span></i><span>. </span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Pinang masak bungo bakarang,</span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Timpo batimpo kaduonyo, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Jatuah baserak daun sungkai,</span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Tiang batagak sandi dalang, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Kokoh mangokoh kaduonyo, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Adaik jo syarak takkan bacarai. </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Artinya, antara adat istiadat dengan ajaran Islam (Syarak) sudah menjadi jati diri masyarakat Minangkabau sebagai insan manusia (secara individu). Sebagai umat sesama manusia, ia sudah terlahir sebagai suku bangsa dari nenek moyangnya. Dan sebagai ciptaan Rabb, ia diatur dalam syariat Islam. Sehingga Islam adalah akhidah dan agama yang wajib diamalkan dalam berkehidupan dunia dan akhirat.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><b><span>Budaya <i>Barantam</i> Masyarakat Piaman.</span></b></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><b> </b></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Konon awal terjadinya Sumpah Sati Marapalam, cikal bakal lahir Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS, SBK) antara kaum adat dengan kaum ulama, sudah berlangsung di masa penyiaran Islam Syekh Burhanuddin. Nilai-nilai islam di Padang Pariaman dengan falsafah ABS, SBK menjadi titik puncak sebagai landasan kehidupan dari segala pembangunan (fisik dan non fisik) yang diciptakan. Nah, korelasi inilah benang merah nilai-nilai kehidupan yang harus dibangun. Tidak hanya sebatas pembangunan fisik semata, akan tetapi juga nilai-nilai moral dan keagaaman lebih utama. Dan sudah saatnya menggiring pembangunan fisik dan non fisik saat ini menuju nilai akhir yang dibangun secara filosofi ABS, SBK tersebut. Sebagai nilai tertinggi dari peradapan manusia, khususnya di masyarakat Minangkabau.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Budaya gotong royong sudah lahir sejak nenek moyang peradapan manusia. Dari sisi kultur masyarakat, tradisi persaudaraan dan ikatan silahturahmi sangat beragam. Sehingga rasa sama dan nilai korsa masyarakatnya terutama di perantauan sangat tinggi. Sejarah membuktikan, kebersaman dan kerjasama masyarakat Minang sejak dahulunya sangat kompak dan kuat di tatanan masyarakat. </span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Salah satunya tradisi yang terkenal dan membudaya adalah <i>badoncek</i> atau <i>barantam</i>. Tradisi ini sering dilaksanakan setiap alek pernikahan atau di saat <i>batagak kudo-kudo</i>(mendirikan Surau atau Rumah Gadang). Belum diketahui secara rinci sejarah lahirnya tradisi tersebut, namun pada intinya tradisi tersebut salah satu bentuk gotong rotong, <i>saiyo sakato</i>masyarakat untuk saling tolong menolong.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Dan budaya tersebut masih lestari di setiap perkampungan. Pribahasa <i>“Saciok Bak Ayam, Sadanciang Bak Basi”</i> selalu didemokan disetiap kegiatan bulan baik. Sehingga ikatan silahturahmi mereka terus terjalin erat, walau kuatnya arus global menggiring individualisme masyarakat. Masyarakat pesisir pantai barat Sumatra Barat ini mereka beri istilah “<i>Rang</i> <i>Piaman</i>” (Padang Pariaman, Kota Pariaman dan Tiku). Di perantauan, meereka membuat himpunan bernama Persatuan Kekeluargaan Daerah Piaman atau PKDP. Dan himpunan kekeluargaan ini sudah terbentuk di seluruh belahan dunia. Sebagai harapan, menjadi tonggak pemersatu pembangunan fisik dan mental dari perantau ke kampung halamannya.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Dahulu sebelum pemekaran dan dicaplok, Kabupaten Padang Pariaman sangat luas, meliputi Air Bangis, Pasaman Barat, Tiku, Kota Pariaman, hingga Bungus Teluk Kabung, termasuk Kepulauan Mentawai. Dan menurut catatan sejarah diurai <a href="http://republika.co.id/" target="_blank" rel="noopener">Republika.co.id</a> (Nagari Tiku, Kampung di Sumatra yang Tersohor Hingga Eropa) di abad 15 hingga 16, Tiku merupakan gerbang masuk utama ke sejumlah daerah penghasil rempah-rempah. Dan tidak sedikit bangsa Eropa, Gujarat dan Mesir melakukan perjalanan menuju Kerajaan Pagaruyung melalui pelabuhan Tiku. Pertukaran kebudayaan global dan transaksi bisnis atau niaga sudah berlangsung pada saat itu. Termasuk masuknya Islam. </span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Hingga saat ini, meski secara administrasi pemerintahan dan wilayah masuk Kabupaten Agam, secara kebudayaan masyarakat Tiku masih mengakui sangat dekat dan bagian budaya <i>Rang Piaman</i>. Proses panjang catatan sejarah tersebut secara alamiah masyarakat <i>Piaman</i> didominasi budaya berniaga. Hal terbukti banyak orang <i>piaman</i> terkenal sebagai pedagang sukses dan cemerlang diperantauan. Beberapa pedagang sukses asal Piaman ini adalah Asman Abnur (Mantan Menteri Menpan RB RI periode 2016-2018) perantauan Kepulauan Riau serta dan Azwar Sagi Wahid (Haji Sagi) perantauan Jakarta.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Seiring usia sudah lanjut, daerah penyanggah Ibu Kota Provinsi ini masih merupakan pintu masuk orang asing ke Sumbar. Keberadaan BIM atau Bandara Internasional Minangkabau di wilayah Padang Pariaman memiliki keuntungan strategis untuk kesejahteraan masyarakatnya. Tingginya mobilitas dan aktifitas di BIM, membuat perputaran perekonomian cukup kencang berputar di wilayah Padang Pariaman. Hal tersebut dimanfaatkan betul dari Bupati Ali Mukni, menjadikan alasan strategis pembangunan industri dan pendidikan skala nasional berada dekat dengan BIM. Didukung lagi lahan disekitarnya yang sangat luas, diantaranya dikuasai tanah ulayat masyarakat Ketaping, dirajai Mak Datuk Bahrun Rangkayo Rajo Sampono.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Namun yang terpenting adalah sudah saatnya sebagai pintu masuk orang asing, kekuatan reliqius Islam pada masyarakat ditingkatkan di Sumatra Barat, khsusunya di Padang Pariaman. Membentengi masyarakat terutama generasi muda dari budaya asing yang jauh dari karakter budaya sendiri. Sejarah perjuangan Syekh Burhanuddin sebagai ulama yang mengislamkan masyarakat Minangkabau perlu kita ingat pula. Makam yang berdiam di Ulakan Tapakis sebagai simbol dan bukti sejarah keberadaannya, penting dikelola dengan baik sebagaimana mestinya. </span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Keteladanan tokoh pejuang bangsa yang terdahulu, seperti M. Hatta, Sultan Syahril, Agus Salim, Adam Malik, M. Natsir, Rasuna Said, Rahma El-Yunusia, Bagindo Azis Chan dan sebagainnya dapat dipahami dan dicontoh generasi kedepan. Mereka para pejuang didasari keimaman dan ketaqwaan yang kuat, dan berani mati untuk memperjuangkan nusa dan bangsanya. Rela berkorban memberikan kontribusi terbaik, untuk agama dan Negara Republik Indonesia ini.</span></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sejarah-peradaban-islam-di-ranah-minang-dan-budaya-barantam-piaman/">Sejarah Peradaban Islam di Ranah Minang Dan Budaya ‘Barantam’ Piaman</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 38/124 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/14 queries in 0.027 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-08 00:01:18 by W3 Total Cache
-->