<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#sejarahislam Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/sejarahislam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/sejarahislam/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Aug 2019 05:31:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#sejarahislam Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/sejarahislam/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mantap, Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka Semakin ‘Tacilak’</title>
		<link>https://prokabar.com/mantap-museum-rumah-kelahiran-buya-hamka-semakin-tacilak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Aug 2019 05:31:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#buyahamka]]></category>
		<category><![CDATA[#hamka]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#museumhamka]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#rumahbuyahamka]]></category>
		<category><![CDATA[#sejarahislam]]></category>
		<category><![CDATA[#SumateraBarat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=43521</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sungai Batang, Prokabar – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam, bersama Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatra Barat bekerjasama melakukan rehap penataan Museum Rumah Kelahiran Buya...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/mantap-museum-rumah-kelahiran-buya-hamka-semakin-tacilak/">Mantap, Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka Semakin ‘Tacilak’</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sungai Batang, Prokabar –</strong> Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam, bersama Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatra Barat bekerjasama melakukan rehap penataan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, di Jorong Batung Panjang, Nagari Sungai Batang beberapa waktu lalu. Museum ulama besar sekaligus Pahlawan Nasional tersebut ditata sedemikian rupa, sehingga semakin indah dan ‘tacilak’. Foto-foto yang terpajang yang awalnya tidak beraturan, kini telah tersusun rapi sesuai alur cerita zaman foto ulama tersebut. Buku-buku dalam lemari pajangan, juga telah tersusun dibantu penyanggah putih yang dibuat Tim Ahli Museum Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatra Barat.</p>
<p>Menurut Noviyanti, Ketua Tim Ahli Museum dari Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatra Barat mengatakan upaya tersebut salah satu langkah peningkatan penataan dan okservasi, sehingga tampilan museum semakin menarik dan indah. Hal tersebut akan membuat kunjungan wisatawan semakin lebih baik. “Kami telah melakukan sebaik dan semaksimal usaha kami. Kini, semoga masyarakat setempat menjaganya dan memelihara dengan baik,” ujarnya.</p>
<p>Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Agam, Yelidar menjelaskan kegiatan berkat bantuan DAK tahun 2019, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan RI melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatra Barat. “Sejumlah penataan dan pengadaan tambahan koleksi atau sarana maupun prasarana akan kita tingkatkan. Tahun ini, pemandu yang memiliki pengalaman dan pengetahuan luas tentang Buya Hamka telah kita dapatkan. Kita harapkan bersama masyarakat, kita bisa memajukan museum ini,” harapnya.</p>
<p>Muhammad Jasir, selaku Kasi Cagar Budaya dan Pemusiuman Kabupaten Agam menambahkan selain pemandu, sekelompok pemuda dengan pergerakann yang telah dilakukannya, sangat membantu perkembangan museum. “Komunitas Generasi Buya Hamka atau KPGH Tanjung Raya baru saja dilanting Camat Tanjung Raya. Dan pemuda ini bahkan telah melakukan sejumlah pergerakan dengan Pemerintah Kecamatan. Kami sangat terbantu karnannya,” terang Jasir.</p>
<p>Ia melanjutkan kita akan meningkatkan program lebih lanjut dengan KPGH dan Pemerintah Kecamatan Tanjung Raya. Dengan kondisi museum semakin baik, akan berdampak kunjungan semakin baik pula. Selain penataan dalam museum, lahan parkir dan pengembangan destinasi wisata lainnya, juga akan dikembangkan. “Pimpinan kami berencana akan membuat dermaga di bawah tepian danau yang masih di sekitar museum. Pembangunan tersebut jelas perencanaan destinasi wisata akan semakin maju nantinya,” ungkapnya.</p>
<p>Dasri, pemandu di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka sekaligus mubaliq setempat mengungkapkan, Museum tersebut memiliki nilai-nilai keteladanan yang terdapat dalam diri Buya Hamka. Sangat besar harapan masyarakat, museum tersebut selalu dikunjungi masyarakat, terutama generasi muda. “Satu perubahan yang ada pada museum kiat, sejak dari dinas ini. Pengunjung pada saat ini akan mengajukan pertanyaan perubahan terkait sudut-sudut penataan menjadi penerjemah kehidupan Buya. Ada sudut keluarga, ada sudut pribadi buya dan ada lagi kebudayaan-kebudayaan lama yang dilalui Buya terdahulu,” terang Dasri.</p>
<p>Beliau melanjutkan alat-alat tradisional tersebut seperti alat tangkap ikan, mesin ketik, kopor, baju dan sebagainnya. Alat-alat tersebut salah satu bukti sejarah yang pernah digunakan dan dilalui Buya Hamka saat dimasa hidupnya, terutama di kampung halaman ini. Selain itu, suasana alam yang ada di dalam maupun di luar museum, benar-benar menjadi inspirasi kuat seiring kata-kata ulama tersebut dituangkan dalam buku-bukunya.</p>
<p>“Suatu ketika, seorang pengarang buku hebat dari Kuwat berkunjung ke Museum Buya Hamka. Saat berhenti di sebuah kedai di kelok 44, beliau berkata, Negeri ini satu potong dengan surga,” ungkap Pemandu tersebut.</p>
<p>Keindahan alam inilah yang menggugah hati Hamka, sehingga terjemahlah dalam tafsirnya, keindahan alam ini nikmat dari Allah SWT. Di museum tersebut keindahan tersebut sangat tergambarkan. “Satu kemajuan dalam museum ini adalah sudut-sudut tertentu sudah dalam museum ini. Dapat orang berkunjung dan dapat ia menanggapi bagaimana Hamka dari awal hidupnya sampai ia meninggal dunia. Satu keuntungannya, hampir menerjemah prihidup Buya Hamka,” terangnya lagi.</p>
<p>Banyak ulama-ulama saat ini lanjutnya, berharap ada Buya Hamka-hamka berikutnya. Melalui museum ini, bisa menjadi bagian terpenting, mewujudkan cita-cita tersebut sehingga melahirkan Buya Hamka dengan berjalan seribu langkah, pungkas Dasri. (<b>rud</b>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/mantap-museum-rumah-kelahiran-buya-hamka-semakin-tacilak/">Mantap, Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka Semakin ‘Tacilak’</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tikam Jejak Surau Gadang, Saksi Bisu Tarikat Naqsabandiyah Di Tanjung Raya</title>
		<link>https://prokabar.com/tikam-jejak-surau-gadang-saksi-bisu-tarikat-naqsabandiyah-di-tanjung-raya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jul 2019 00:30:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Naqsabandiyah]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#sejarahislam]]></category>
		<category><![CDATA[#sejarahminangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=42508</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanjung Raya, Prokabar — Islam sebagai agama terkuat dan mutlak diamalkan Suku Bangsa Minangkabau. Sejak dulu, pengamalannya sangat kental hingga ke seluruh pelosok negeri...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/tikam-jejak-surau-gadang-saksi-bisu-tarikat-naqsabandiyah-di-tanjung-raya/">Tikam Jejak Surau Gadang, Saksi Bisu Tarikat Naqsabandiyah Di Tanjung Raya</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanjung Raya, Prokabar —</strong> Islam sebagai agama terkuat dan mutlak diamalkan Suku Bangsa Minangkabau. Sejak dulu, pengamalannya sangat kental hingga ke seluruh pelosok negeri penganut sistem kekerabatan Matriakat ini.</p>
<p>Dulunya, Islam dengan alirannya, didomimasii Tarikat Syatariah dan Tarikat Naqsabandiyah. Islam semakin berkembang sejak Syekh Burhanuddin kembali menyiarkan Islam, setelah belajar banyak dari guru besarnya di Aceh, Syekh Abdur Rauf As-Singkili.</p>
<p>Sejak itu, penyiaran Islam di Ranah Minang terus berkembang pesat. Hal tersebut juga berkembang pesat di Selingkar Danau Maninjau berpusat di Nagari Sungai Batang dulunya. Berkembang sampai ke Nagari Duo Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.</p>
<p>Salah satu bukti kuat perkembangan tarikat Naqsabandiyah di sana adalah, masih berdiri kokohnya Surau Gadang dengan corak arsitektur beratap menjulang tinggi dan bertingkat-tingkat. Memiliki tonggak besar dibagian tengah (tongga macu), disertai 8 tonggak pendampingnya.</p>
<p>Semua bangunan terbuat dan berlantai kayu andalas. Di halaman surau tuo ini selalu ada kolam ikan dan tempat berwuduk. Bangunan tersebut sangat dirawat masyarakat setempat. Sangat langka masih ada surau tua dengan tongga macu yang utuh.</p>
<p>Menurut Haji Lukman Khatib Pamuncak (83), salah satu tokoh agama setempat, Surau Gadang dibangun pada 1800-an oleh Syekh Abdullah. Kemudian dilanjutkan muridnya Haji Hasanuddin. Kedua ulama tersebutlah yang menyiarkan Islam di Koto Baru, Jorong Mudiak, Nagari Duo Koto tersebut.</p>
<p>Ia melanjutkan kayu surau diambil dari hutan daerah Taban, 1 km dari Surau Gadang. &#8220;Sulit kita logikakan, membawa tongga macu yang sangat besar itu dibawa melalui tenaga manusia. Apalagi ditambah 8 tonggak pendampingnya yang juga lumayan panjang dan besar,&#8221; terangnya.</p>
<p>Konon menurut orang tua-tua dulu lanjutnya, untuk mendirikan tonggak macu yang besar dan tinggi sekitar 10 meter itu dengan zikir. &#8220;Orang tua-tua dulu banyak yang kiramat dan sangat dekat dengan Sang Pencipta. Sehingga doa mereka sangat mabrur dan cepat diridhoi Illahi,&#8221; ungkap Lukman.</p>
<p>Sementara itu, kegiatan keagamaan setiap malam melaksanakan pengajian, salawat dulang, zikir, dan belajar membaca hingga hafalan Al-Quran. &#8220;Dulu di saat zaman pergejolakan, ada tentara yang memanfaatkan surau sebagai tempat persembunyian. Karena sempat berbuat tidak sesuai ajaran Islam, tiba-tiba Ular besar datang dari atas tonggak macu. Seluruh tentara tersebut langsung berhamburan keluar surau,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Setiap pasukuan seperti Suku Piliang, Caniago, Koto, Guci dan lainnya memiliki surau kecil. Dan masing-masing miliki Kadi, Khatib, Imam dan Bilal. Dan setiap pasukuan mendapat giliran untuk menjadi Imam, Khatib dan Bilal khusus di hari Jum&#8217;at (Sholat Jum&#8217;at). Dan hal ini melatih masyarakat untuk siap dan taat beragama.</p>
<p>Namun sejak masjid baru telah berdiri, peranan Imam, Khatib dan Bilal di setiap pasukuan, mulai dilakukan regenerasi. &#8220;Peranan Imam, Khatib dan Bilal sudah mulai digantikan anak-anak dan remaja. Bertujuan generasi penerus memiliki bekal dan ilmu agama yang lebih baik,&#8221; ujar Haji Khatib Pamuncak tersebut.</p>
<p>Tidak hanya itu, di depan halaman surau, terdapat kolam ikan, pemandian dan tempat wuduk. &#8220;Mau hujan atau kemarau, air selalu lancar dan tidak pernah keruh. Konon air tersebut berasal dari Bonjol Pasaman,&#8221; katanya.</p>
<p>Sementara itu, Walinagari Duo Koto, Joni Safri menambahkan, Surau Gadang merupakan peninggalan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Salah satu bukti sejarah dengan peradapan Islam tempo dulu.</p>
<p>&#8220;Surau ini belum terdaftar sebagai situs cagar budaya. Dan kami berencana akan mendaftarkanya ke Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Agam serta Balai Cagar Budaya di Batu Sangkar. Untuk pelestarian, kami Pemerintah Nagari dan masyarakat akan terus menjaga dan merawatnya,&#8221; pungkas Walinagari Duo Koto tersebut. (<b>rud</b>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/tikam-jejak-surau-gadang-saksi-bisu-tarikat-naqsabandiyah-di-tanjung-raya/">Tikam Jejak Surau Gadang, Saksi Bisu Tarikat Naqsabandiyah Di Tanjung Raya</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Peradaban Islam di Ranah Minang Dan Budaya ‘Barantam’ Piaman</title>
		<link>https://prokabar.com/sejarah-peradaban-islam-di-ranah-minang-dan-budaya-barantam-piaman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2019 04:48:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[#Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#Pariaman]]></category>
		<category><![CDATA[#RanahMinang]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<category><![CDATA[#sejarahislam]]></category>
		<category><![CDATA[#sejarahminangkabau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=29809</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejarah Peradaban Islam di Ranah Minang &#160; Padang Pariaman sebagai daerah awal muasal peradapan Islam di Ranah Minang. Dari sinilah, Islam berkembang dan diterima...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sejarah-peradaban-islam-di-ranah-minang-dan-budaya-barantam-piaman/">Sejarah Peradaban Islam di Ranah Minang Dan Budaya ‘Barantam’ Piaman</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpFirst"><b><span>Sejarah Peradaban Islam di Ranah Minang </span></b></p>
<p>&nbsp;</p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpFirst"><span>Padang Pariaman sebagai daerah awal muasal peradapan Islam di Ranah Minang. Dari sinilah, Islam berkembang dan diterima baik masyarakat Minangkabau dahulunya. Ajaran Islam yang dibawa dan disebarkan oleh tokoh ulama terbaik yang bernama Syekh Burhanuddin. Menurut peneliti Azyumardi Azra, ulama ini diperkirakan hidup pada 1056-1104 Hijriah atau 1646 Masehi. Sebagian besar akademisi sepakat, beliau orang tersukses yang mengislamkan orang Minang secara menyeluruh di Ranah Minang.  Pendekatannya melalui permainan anak-anak dan penciptaan teknologi baru (Struktur Bangunan), memudahkan syariat Islam diterima dan disambut masyarakat. Meski sudah banyak ulama terdahulunya menyiarkan islam pada saat itu (seperti Syekh Madinah atau Syekh Abdullah Arief salah satunya) namun masih belum berkembang dengan baik. Dimasa Syekh Burhanuddin beserta para sahabat (diperkirakan 1069 Hijriah/1649 Masehi) inilah syiar Islam mulai berkembang, bahkan memantapkan diri seluruh masyarakat Minang adalah penganut penuh Agama Islam. </span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Setelah perjuangan keras dan kembali pulang menuntut ilmu dari Syekh Abdurrauf Ar-Singkel dari Aceh (murid Syekh Ahmad Qusyaisi di Madinah), Ia bersama sahabatnya Idris Khatib Malelo membangun  pemondokan atau Surau di Tanjung Medan, Ulakan Tapakis. Di sinilah surau pertama yang menjadi cikal bakal lembaga pendidikan agama di Minangkabau. Sejenis Pesantren di Jawa yang pada masa belakangan berkembang luas dan disebarluaskan oleh pengikut dan murid Syekh Burhanuddin. Surau Tanjung Medan juga menjadi kampus universitas yang disekitarnya didirikan surau-surau kecil, dihuni pelajar dari berbagai daerah di Minangkabau, Riau, dan Jambi. Surau tempat pendidikan dalam pengajaran agama Islam.</span><span>Sedangkan ilmu yang dipelajarinya boleh dikatakan semua ilmu yang ada pada gurunya, yaitu Fiqh, Tauhid, Hadîts, Tasawuf dengan jalan Tarekat Syathariyah, ilmu Taqwîm dan ilmu Firasat (Makalah Prof. Dr. Duski Samad dalam Seminar Sehari/17 Juli 2012).</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Melalui pola pemondokan atau pesantren, memusatkan surau tidak hanya pusat pendidikan Islam, juga pengembangan permainan anak nagari. Seperti lahirnya <i>Ulu Ambek</i> sebagai pertunjukan Silat yang satu-satunya ada di Ranah Minang. Pembangunan masjid kuno beratap gonjong menjulang tinggi, salah satu karya teknologi arsistek ulama keturunan aceh dan arab tersebut. Kemampuan tersebut jelas menambah wawasan dan kemampuan masyarakat, sehingga memudahkan ketertarikan masyarakat yang masih menganut animisme beralih ke Islam.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Di Surau Tanjung Medan Ulakan ini ia dibantu 4 orang sahabat sepeguruannya di Aceh. Seperti Datuk Maruhum Panjang dari Padang Gunung, Si Tarapang dari Kubung XII Solok, Muhammad Nasir dari Koto Tangah Surau Batu, dan Syekh Buyung Mudo dari Bayang Pulut-pulut Pesisir Selatan. Sehingga perkembangan peradapan Islam bangkit dan melahirkan generasi ulama terbaik yang menyebar ke seluruh pelosok negeri di Ranah Minang (Amran: 2011).</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Menurut Buya Hamka dalam bukunya “Ayahku”, Islam kembali tersohor di Agam berkat Syekh Abdullah Arif atau lebih dikenal Syekh Tuanku Pariaman atau Tuanku Nan Tuo. Ulama Syatariah keturunan Arab yang berasal dari Ulakan Pariaman. Ulama ini berhasil menyiarkan Islam dan ribuan murid terbaik diberbagai daerah. Termasuk lahirnya Syekh Muhammad Amrullah (Kakek Hamka) dan Syekh Abdul Karim Ambrullah atau Haji Rasul (Ayah Kandung Hamka) keturunan beliau.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Pengembangan pesantren berbasis surau cukup berkembang pesat pada masa itu. Seperti di Sungai Batang, Maninjau, Banuhampu, Koto Gadang, Koto Tuo, Malalak, Lawang, Matua, Ampek Angkek dan sekitarnya. Namun Tuanku Pariaman lebih sering menetap di Surau Koto Tuo, Ampek Angkek. Dan sejarah lahirnya kaum Padri sebagai pejuang pemberontakan melawan penjajahan Kolonial Belanda, tidak lepas dari didikan Tuanku Pariaman sendiri, seperti Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao dan Tuanku Lintau.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Sesuai pepatah minang <i>“Syarak Mandaki, Adaik Manurun”</i>, secara harfiah bermakna merujuk ajaran Islam <i>Habluminallah wa Habluminannas</i>. Agama Islam datang dari dataran rendah pantai barat Sumatra menyebar ke pelosok negeri ranah minang sebagai tuntunan berketuhanan (<i>Habluminallah</i>). Sedangkan adat menjadi tatanan sosial (<i>Habluminnanas</i>) sesuai asal usul orang Minangkabau di daerah Darek atau Luhak Nan Tuo. Pituah minang menyebutkan:</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Si Amaik mandi ka luak, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>luak parigi paga bilah, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>bilah bapilah kasadonyo. </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Adaik Basandi syarakak, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Syarak basandi Kitabullah, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Sanda manyanda kaduonyo</span></i><span>. </span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Pinang masak bungo bakarang,</span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Timpo batimpo kaduonyo, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Jatuah baserak daun sungkai,</span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Tiang batagak sandi dalang, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Kokoh mangokoh kaduonyo, </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><i><span>Adaik jo syarak takkan bacarai. </span></i></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Artinya, antara adat istiadat dengan ajaran Islam (Syarak) sudah menjadi jati diri masyarakat Minangkabau sebagai insan manusia (secara individu). Sebagai umat sesama manusia, ia sudah terlahir sebagai suku bangsa dari nenek moyangnya. Dan sebagai ciptaan Rabb, ia diatur dalam syariat Islam. Sehingga Islam adalah akhidah dan agama yang wajib diamalkan dalam berkehidupan dunia dan akhirat.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><b><span>Budaya <i>Barantam</i> Masyarakat Piaman.</span></b></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><b> </b></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Konon awal terjadinya Sumpah Sati Marapalam, cikal bakal lahir Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS, SBK) antara kaum adat dengan kaum ulama, sudah berlangsung di masa penyiaran Islam Syekh Burhanuddin. Nilai-nilai islam di Padang Pariaman dengan falsafah ABS, SBK menjadi titik puncak sebagai landasan kehidupan dari segala pembangunan (fisik dan non fisik) yang diciptakan. Nah, korelasi inilah benang merah nilai-nilai kehidupan yang harus dibangun. Tidak hanya sebatas pembangunan fisik semata, akan tetapi juga nilai-nilai moral dan keagaaman lebih utama. Dan sudah saatnya menggiring pembangunan fisik dan non fisik saat ini menuju nilai akhir yang dibangun secara filosofi ABS, SBK tersebut. Sebagai nilai tertinggi dari peradapan manusia, khususnya di masyarakat Minangkabau.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Budaya gotong royong sudah lahir sejak nenek moyang peradapan manusia. Dari sisi kultur masyarakat, tradisi persaudaraan dan ikatan silahturahmi sangat beragam. Sehingga rasa sama dan nilai korsa masyarakatnya terutama di perantauan sangat tinggi. Sejarah membuktikan, kebersaman dan kerjasama masyarakat Minang sejak dahulunya sangat kompak dan kuat di tatanan masyarakat. </span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Salah satunya tradisi yang terkenal dan membudaya adalah <i>badoncek</i> atau <i>barantam</i>. Tradisi ini sering dilaksanakan setiap alek pernikahan atau di saat <i>batagak kudo-kudo</i>(mendirikan Surau atau Rumah Gadang). Belum diketahui secara rinci sejarah lahirnya tradisi tersebut, namun pada intinya tradisi tersebut salah satu bentuk gotong rotong, <i>saiyo sakato</i>masyarakat untuk saling tolong menolong.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Dan budaya tersebut masih lestari di setiap perkampungan. Pribahasa <i>“Saciok Bak Ayam, Sadanciang Bak Basi”</i> selalu didemokan disetiap kegiatan bulan baik. Sehingga ikatan silahturahmi mereka terus terjalin erat, walau kuatnya arus global menggiring individualisme masyarakat. Masyarakat pesisir pantai barat Sumatra Barat ini mereka beri istilah “<i>Rang</i> <i>Piaman</i>” (Padang Pariaman, Kota Pariaman dan Tiku). Di perantauan, meereka membuat himpunan bernama Persatuan Kekeluargaan Daerah Piaman atau PKDP. Dan himpunan kekeluargaan ini sudah terbentuk di seluruh belahan dunia. Sebagai harapan, menjadi tonggak pemersatu pembangunan fisik dan mental dari perantau ke kampung halamannya.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Dahulu sebelum pemekaran dan dicaplok, Kabupaten Padang Pariaman sangat luas, meliputi Air Bangis, Pasaman Barat, Tiku, Kota Pariaman, hingga Bungus Teluk Kabung, termasuk Kepulauan Mentawai. Dan menurut catatan sejarah diurai <a href="http://republika.co.id/" target="_blank" rel="noopener">Republika.co.id</a> (Nagari Tiku, Kampung di Sumatra yang Tersohor Hingga Eropa) di abad 15 hingga 16, Tiku merupakan gerbang masuk utama ke sejumlah daerah penghasil rempah-rempah. Dan tidak sedikit bangsa Eropa, Gujarat dan Mesir melakukan perjalanan menuju Kerajaan Pagaruyung melalui pelabuhan Tiku. Pertukaran kebudayaan global dan transaksi bisnis atau niaga sudah berlangsung pada saat itu. Termasuk masuknya Islam. </span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Hingga saat ini, meski secara administrasi pemerintahan dan wilayah masuk Kabupaten Agam, secara kebudayaan masyarakat Tiku masih mengakui sangat dekat dan bagian budaya <i>Rang Piaman</i>. Proses panjang catatan sejarah tersebut secara alamiah masyarakat <i>Piaman</i> didominasi budaya berniaga. Hal terbukti banyak orang <i>piaman</i> terkenal sebagai pedagang sukses dan cemerlang diperantauan. Beberapa pedagang sukses asal Piaman ini adalah Asman Abnur (Mantan Menteri Menpan RB RI periode 2016-2018) perantauan Kepulauan Riau serta dan Azwar Sagi Wahid (Haji Sagi) perantauan Jakarta.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Seiring usia sudah lanjut, daerah penyanggah Ibu Kota Provinsi ini masih merupakan pintu masuk orang asing ke Sumbar. Keberadaan BIM atau Bandara Internasional Minangkabau di wilayah Padang Pariaman memiliki keuntungan strategis untuk kesejahteraan masyarakatnya. Tingginya mobilitas dan aktifitas di BIM, membuat perputaran perekonomian cukup kencang berputar di wilayah Padang Pariaman. Hal tersebut dimanfaatkan betul dari Bupati Ali Mukni, menjadikan alasan strategis pembangunan industri dan pendidikan skala nasional berada dekat dengan BIM. Didukung lagi lahan disekitarnya yang sangat luas, diantaranya dikuasai tanah ulayat masyarakat Ketaping, dirajai Mak Datuk Bahrun Rangkayo Rajo Sampono.</span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Namun yang terpenting adalah sudah saatnya sebagai pintu masuk orang asing, kekuatan reliqius Islam pada masyarakat ditingkatkan di Sumatra Barat, khsusunya di Padang Pariaman. Membentengi masyarakat terutama generasi muda dari budaya asing yang jauh dari karakter budaya sendiri. Sejarah perjuangan Syekh Burhanuddin sebagai ulama yang mengislamkan masyarakat Minangkabau perlu kita ingat pula. Makam yang berdiam di Ulakan Tapakis sebagai simbol dan bukti sejarah keberadaannya, penting dikelola dengan baik sebagaimana mestinya. </span></p>
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle">
<p class="m_-7521678485790277401gmail-MsoNormalCxSpMiddle"><span>Keteladanan tokoh pejuang bangsa yang terdahulu, seperti M. Hatta, Sultan Syahril, Agus Salim, Adam Malik, M. Natsir, Rasuna Said, Rahma El-Yunusia, Bagindo Azis Chan dan sebagainnya dapat dipahami dan dicontoh generasi kedepan. Mereka para pejuang didasari keimaman dan ketaqwaan yang kuat, dan berani mati untuk memperjuangkan nusa dan bangsanya. Rela berkorban memberikan kontribusi terbaik, untuk agama dan Negara Republik Indonesia ini.</span></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sejarah-peradaban-islam-di-ranah-minang-dan-budaya-barantam-piaman/">Sejarah Peradaban Islam di Ranah Minang Dan Budaya ‘Barantam’ Piaman</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 40/84 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/12 queries in 0.024 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-08 00:24:05 by W3 Total Cache
-->