<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#scaloni Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/scaloni/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/scaloni/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Jul 2026 14:30:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#scaloni Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/scaloni/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kolom Piala Dunia: Lionel Scaloni, Pria Berpangku Tangan yang Dibayar Murah untuk Merubah Argentina</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-lionel-scaloni-pria-berpangku-tangan-yang-dibayar-murah-untuk-merubah-argentina/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2026 12:02:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[#argentina]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#scaloni]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=135069</guid>

					<description><![CDATA[<p>oleh Rizal Marajo (Wartawan Utama) Pria itu tetap tenang berpangku tangan. Matanya saja yang fokus mengawasi detik demi detik kejadian di lapangan. Ekspresinya datar,...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-lionel-scaloni-pria-berpangku-tangan-yang-dibayar-murah-untuk-merubah-argentina/">Kolom Piala Dunia: Lionel Scaloni, Pria Berpangku Tangan yang Dibayar Murah untuk Merubah Argentina</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="wp-image-135070 alignleft" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n.jpg" alt="" width="132" height="132" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n.jpg 285w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n-150x150.jpg 150w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n-85x85.jpg 85w" sizes="(max-width: 132px) 100vw, 132px" />oleh <strong>Rizal Marajo (Wartawan Utama)</strong></p>
<p>Pria itu tetap tenang berpangku tangan. Matanya saja yang fokus mengawasi detik demi detik kejadian di lapangan. Ekspresinya datar, tidak ada sikap emosional berlebihan saat timnya berselebrasi gol atau merayakan kemenangan.</p>
<p>Dia juga tetap kalem ketika timnya kesulitan dan mengalami tekanan hebat di lapangan. Tidak ada gestur panik atau grasak grusuk berteriak memberi instruksi. Sesekali dia membungkuk untuk mengambil botol air dan minum sekedarnya. Kemudian kembali berpangku tangan.</p>
<p>Itulah Lionel Scaloni, pelatih Timnas Argentina sejak 2018. Pribadi yang terlalu tenang di pinggir lapangan. Bahkan ketika timnya tampil sebagai juara Piala Dunia 2022, mengalahkan Prancis melalui adu penalti, dia tak histeris menyambut kemenangan timnya.</p>
<p>Setelah adu penalti selesai, dia berbalik untuk duduk di bench dengan tenang. Dia hanya terlihat beberapa kali mengusap matanya yang berkaca-kaca menahan tangis bahagia. Tangisnya baru meledak tak tertahan, ketika para stafnya di kepelatihan dan pemainnya mendatanginya dan memeluknya.</p>
<p>Nah, berbicara tentang sepakbola Argentina dengan segala kemegahannya sebagai juara dunia tiga kali, ditambah egosentris sebuah tim yang sarat bintang berlevel internasional, mungkin banyak orang akan memandang remeh pria 48 tahun itu diawal penunjukanannya..</p>
<p>Kita kembali ke awal penunjukan Sacloni sebagai pelatih Tim Tango. Awalnya dia hanya berstatus pelatih sementara, karena dia dianggap belum layak secara permanent untuk menangani Timnas sebesar Argentina.</p>
<p>Saat itu sepakbola Argentina sedang terguncang hebat, carut marut, porak poranda dan terpecah belah usai kegagalan di Piala Dunia 2018. Ditambah rentetan kegagalan sebelumnya di sejumlah turnamen besar.</p>
<p>Tidak ada pelatih yang mau menukangi Argentina, karena beratnya tekanan di tim tersebut. Ditambah, kontrak sebagai pelatih Timnas Argentina yang banyak desebut pelatih-pelatih top dengan &#8220;uang disana sangat sedikit&#8221;.</p>
<p>Sementara tekanan publik dan pers tak kalah kejam, karena sepakbola Argentina benar-benar mengalami sebuah situasi yang sangat buruk. Bayangkan, sejak tahun 1993 sampai 2018 mereka tak pernah lagi memenangi gelar Copa America.</p>
<p>Piala Dunia? lebih parah lagi. Sejak Diego Maradona mengangkat Piala Dunia tahun 1986 di Meksiko, negara sepakbola sebesar Argentina yang tak pernah berhenti melahirkan pemain hebat, tak pernah lagi mencicipi juara Piala Dunia.</p>
<p>Publik Argentina yang menjadikan sepakbola sebagai salah satu nafas kehidupan mereka, tak tahan dengan kondisi tersebut. Mereka tak bisa menerima kegagalan demi kegagalan yang tak pernah berhenti.</p>
<p>Bahkan saking marahnya, seorang Lionel Messi pun pernah dihujat habis-habisan, sehingga sang bintang sempat mundur dari Timnas Argentina. Dia baru mau kembali, setelah jutaan masyarakat Argentina turun ke jalan minta Messi kembali ke Timnas.</p>
<p>Padahal apa yang kurang dari Argentina, silih berganti bintang datang sejak terakhir kali juara Copa America 1993. Mulai dari Gabriel Batistuta, Fernando Redondo, Hernan Crespo, Ariel Ortega, Juan Veron, sampai munculnya era Lionel Messi. Tapi semua nama itu tak kunjung menyumbangkan piala ditengah dahaga publik Argentina.</p>
<p>Ketika itulah, AFA atau PSSI-nya Argentina menunjuk Scaloni sebagai pelatih. Alasannya menggelikan, Sacloni bukan pelatih top dan bisa dibayar murah. Dan hal itu sifatnya hanya sementara, sampai pelatih top datang.</p>
<p>Ya, reputasi Scaloni memang tak ada apa-apanya dibanding sejumlah nama besar yang pernah menukangi Argentina. Sebut saja mulai dari Era Luis Cesar Menotti yang memberi Argentina juara Dunia 1978. Kemudian ada Carlos Bilardo, arsitek juara Piala Dunia 1986.</p>
<p>Selebihnya, sederat nama tenar silih berganti melatih Argentina, sebut saja Alfio Basile, Jose Pakerman, Marcelo Bielsa, Daniel Passarella, Gerardo Martino, Alejandro Sabela, Jorge Sampaio, bahkan super star Diego Armando Maradona pun pernah menukangi Argentina. Tapi semuanya gagal memberikan sebuah trophy juara kepada Argentina.</p>
<p>Apalah arti Scaloni dibanding nama-nama besar itu. Reputasinya sebagai pelatih level internasional belum ada. Semasa jadi pemain dia juga biasa-biasa saja. Dia bukan bintang, apalagi seorang super star. Dia hanya pernah bermain di klub-klub medioker Eropa, dan caps bersama Timnas Argentina hanya 7 kali sepanjang karirnya.</p>
<p>Tapi Scaloni tak peduli hal itu, dia tetap maju walau dipandang sebelah mata. Dia serius bekerja membenahi Timnas Argentina yang ancur-ancuran setelah berpuluh tahun kering prestasi.</p>
<p>Apa yang dilakukan Scaloni ternyata berbeda dengan pelatih-pelatih sebelumnya yang lebih mengedepankan diri sebagai seorang bos yang tak boleh dibantah. Tapi scaloni memilih pendekatan yang lebih manusiawi.</p>
<p>Scaloni menyebut timnya sebagai sebuah keluarga. Tidak ada perlakuan istimewa kepada seorang pemain, termasuk kepada bintang sekaliber Lionel Messi sekalipun. Hal ini langsung mencairkan suasana tim yang sebelumnya terjebak dalam ego pemain yang rata-rata adalah pemain kelas dunia.</p>
<p>Bahkan, seperti pengakuan kiper Emiliano Martinez, Scaloni membuat sebuah grup WA timnas Argentina. Uniknya di Grup itu,. Scaloni tak pernah membahas taktik dan strategi permainan. Dia lebih banyak bicara atau mengecek kabar pemainnya dan hal-hal ringan lainnya.</p>
<p>Pendekatan itu secara perlahan merubah suasana Timnas Argentina yang sebelumnya kaku dan penuh ego, menjadi lebih familiar. Tak ada gap lagi antara pemain bintang dengan pemain muda atau pemain debutan di Timnas.</p>
<p>Hebatnya, hal ini sanggup merubah cara pandang seorang pemain sekaliber Messi dan pemain lainnya. Jika sebelumnya Argentina gampang ditebak mereka bermain seolah untuk Messi, tapi ditangan Scaloni semuanya berubah, semuanya bermain untuk Timnas Argentina dan untuk seluruh rakyat Argentina.</p>
<p>Memang tak langsung membuahkan hasil, ujian pertama Scaloni adalah Copa America 2019. Argentina berhasil masuk final, tapi kalah dari tuan rumah Brasil. Tapi hal itu mulai menerbitkan kepecayaan publik pada Scaloni.</p>
<p>Dan yang lebih penting, para pemain pun sepenuhnya percaya pada kepemmimpian pria yang saat ditunjuk jadi pelatih tahun 2018 baru berusia 40 tahun.</p>
<p>Saking percayanya para pemain, Enzo Fernandez striker andalan Argentina menyebutkan.&#8221;Jika saat matahari terbit Scaloni menyapa kami dengan selamat malam, maka kami tetap akan percaya.&#8221;ujar Enzo terkekeh pada sebuah podcast.</p>
<p>Sacaloni tipikal pelatih yang selalu percaya pada sebuah proses. Dia menjalani setiap proses itu bersama pemainnya. Akhirnya, Scaloni meraih gelar pertamanya bersama Timnas Argentina di Copa America 2021, dengan mengalahkan Brasil di final.</p>
<p>Tidak hanya mengakhiri puasa gelar Argentina sejak tahun 1993, tetapi juga menjadi gelar pertama Lionel Messi di turnamen besar. Messi yang sudah memperkuat Timnas Argentina sejak di Piala Dunia 2006, baru meraih gelar pertamanya tahun 2021 saat usianya sudah 34 tahun. Dan itu didapatkannya di era pelatih Scaloni</p>
<p>Gelar itu menjadi pintu bagi Timnas Argentina untuk meraih gelar demi gelar berikutnya. Tahun berikutnya Argentina meraih Piala Finalissima yang mempertemukan juara Copa Amerika dan Juara Eropa, dimana Argentina mengalahkan Italia.</p>
<p>Puncaknya tentu saja keberhasilan Argentina meraih gelar juara Piala Dunia 2022 di Qatar. sebuah gelar yang sudah ditunggu rakyat Argentina selama 36 tahun, dan itu terwujud ditangan Sacloni. Pelatih yang dibayar murah dan diremehkan, tetapi ternyata punya sentuhan juara.</p>
<p>Tak sampai disitu, Scaloni kembali mengantarkan Argentina tampil sebagai juara Copa America 2024 di Amerika Serikat.  Gelar juara yang sebelumnya sesuatu yang sulit direbut Argentina hampir tiga dekade, ditangan pelatih yang awalnya dipandang remeh itu, gelar demi gelar bergengsi mengalir ke lemari piala Timnas Argentina.</p>
<p>Publik Argentina pun mulai percaya sepenuhnya pada pria tenang itu. Bahkan Federasi sepakbola Argentina dikabarkan telah menawarkan kontrak seumur hidup bagi Scaloni untuk tetap di Timnas Argentina.</p>
<p>Scaloni, pria sederhana dari kota Santa Fe itu telah membuktikan bahwa nama besar bukanlah jaminan untuk meraih sukses. Dia hanya bekerja tanpa banyak bicara, dan dia bisa menaklukan ego dan kesombongan pemain bintang dengan kerendahan hatinya.</p>
<p>Tak ada yang berubah dari Sxaloni, dia tetap pria tenang yang selalu berpangku tangan di bibir banch mengamati anak asuhnya bertarung di lapangan. Kalau merasa perlu memberi sebuah instruksi, dia cukup berbisik kepada asistennya seperti Walter Samuel, Pablo Aimar, atau Roberto Ayala.</p>
<p>Kini, Timnas Argentina sudah berada di perempatfinal Piala Dunia 2026. Scaloni telah melewati pertandingan berat di Piala Dunia kali ini. Ketika orang melihat Argentina disebut-sebut akan berpeluang kembali ke final, Sacloni tetap tenang dan tak banyak bicara.</p>
<p>Baginya, dia cukup meminta pemainnya melakoni setiap pertandingan dengan permainan yang maksimal dan jika itu sudah dilakukan, maka kemenangan akan dapat diraih. Tak perlu berkomentar berlebihan tentang tim lawan. Sesederhana itu saja konsep kepelatihan pria yang satu ini.</p>
<p>Akankah Argentina bisa back to back, menjuarai Piala Dunia dua kali beruntun, yang terakhir kali hanya bisa dilakukan Timnas Brasil tahun 1958 dan 1962. Kalau bisa itu sebuah capaian yang tak terbayangkan bagi Sacaloni.</p>
<p>Apapun hasilnya, dia tetap pria yang suka berpangku tangan dan mata berkaca-kaca jika timnya juara. Tak lebih dari itu. (*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-lionel-scaloni-pria-berpangku-tangan-yang-dibayar-murah-untuk-merubah-argentina/">Kolom Piala Dunia: Lionel Scaloni, Pria Berpangku Tangan yang Dibayar Murah untuk Merubah Argentina</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 29/50 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/13 queries in 0.018 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 20:54:41 by W3 Total Cache
-->