<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#RizalMarajo Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/rizalmarajo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/rizalmarajo/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Apr 2020 14:58:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#RizalMarajo Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/rizalmarajo/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Malam Syahdu di Langit Iskandariah</title>
		<link>https://prokabar.com/malam-syahdu-di-langit-iskandariah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2020 14:58:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#RizalMarajo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=64646</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rizal Marajo Iskandariah di bibir Laut Tengah pada malam yang gulita di awal April, merobek langit dengan doa-doanya. Kota setua Roma ini,...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/malam-syahdu-di-langit-iskandariah/">Malam Syahdu di Langit Iskandariah</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Oleh</strong> : <strong>Rizal Marajo</strong></p>
<p>Iskandariah di bibir Laut Tengah pada malam yang gulita di awal April, merobek langit dengan doa-doanya.</p>
<p>Kota setua Roma ini, seperti menghanyutkan surat dalam botol, tapi bukan di laut tapi di langit. Malam-malam syahdu ditengah pandemi yang semakin meruyak.<br />
Ini terjadi setelah hal yang sama terjadi di Tangier, Maroko, negara tetangganya di negeri-negeri Maghribi, Afrika Utara.</p>
<p>Iskandariah didirikan penguasa legendaris Yunani-Macedonia Alexander the Great atau Iskandar Agung pada 331 sebelum Masehi. Sejak itu, kota tersebut berperan dalam berbagai kisah sejarah besar Mesir, mulai dari Ratu Cleopatra dan penguasa Mesir kuno lain dari Dinasti Ptolomeus, kemajuan peradaban Islam, Perang Salib, sampai Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte.</p>
<p>Iskandariah adalah kota idaman, setidaknya bagi pakar sejarah dan arkeolog. Tak sedikit dari para ahli itu yang rajin mencari sisa-sisa kebesaran sejarah Iskandariah. Misalnya lorong kanopi tua salah satu jalan terbesar memasuki kota atau menara mercusuar Dinasti Ptolomeus, dan lokasi istana Ratu Cleopatra.</p>
<p>Tapi malam itu, pada awalnya seseorang berdiri di balkon apartemennya. Lalu, ia membaca Asmaul Husna. sekejap saja, suaranya mampu membuka pintu-pintu apartemen. Warga menjulurkan kepala, lalu membakar lilin. Langit Iskandariah sekejap bagai dipenuhi kunang-kunang, seruan nama-nama Allah diiringi memuji kebesaran-NYA, bersahutan dari satu balkon ke balkon lain di apartemen itu.</p>
<p>Di sebuah apartemen di Kairo, ibukota Mesir, seorang musisi bernama Mohammed Adel, setiap malam memainkan biolanya di balkon. Gesekan biolanya mendayu-dayu dan merintih, merobek perasaan penghuni lain. Tidak dengan doa atau lantunan Asmaul Husna, lelaki itu melalui konser tunggalnya tiap malam mengungkapkan perasaan dan harapannya dengan biolanya, sebuah keahlian yang juga datangnya dari Yang Maha Kuasa.</p>
<p>Itulah malam-malam di Mesir, ditengah karantina untuk menghambat penyebaran Covid-19. Pastilah harapan dan doa mereka satu saja, kehidupan kembali normal dan Wabah yang telah membuat dunia kalang kabut, panik, tak berdaya ini, segera berakhir.</p>
<p>Nun, ribuan kilometer dari Mesir, seorang amak-amak tua merasa risau tak kepalang. Aktifitas hari tua-nya menghadiri pengajian dan tertatih-tatih menuju mesjid untuk shalat berjamah, sekarang terhenti oleh sebab yang mungkin terlalu berat untuk difikirkan otak tuanya. Pertanyaan terbaiknya hanya; Sampai kapan?</p>
<p>Ya, hanya dalam tempo tiga bulan, Covid ini telah membuat bumi yang tua ini berubah drastis. Lihatlah di kota Bergamo, Italia utara, truk-truk militer lalu lalang setiap hari membawa korban meninggal akibat virus corona.</p>
<p>Rekaman truk-truk militer pembawa jenazah telah beredar di jagat maya dan mejadi perhatian dunia. Pesan kelabu yang tersirat adalah ketika orang meninggal di tengah pandemi virus corona, mereka tidak didampingi oleh orang-orang tercinta di sisinya. Karena virus tidak peduli tentang penghormatan terakhir, atau duka keluarga, kerabat, atauapun teman.</p>
<p>virus corona telah membuat aturan sendiri. Yang paling ekstrim kematian yang disebabkan oleh virus corona tidak dapat ditangani seperti biasanya. Pemakaman yang belum pernah terjadi sebelumnya, berlangsung sangat cepat dan tidak adanya pelayat. Model pemakaman begini berlaku di seluruh dunia, apapun agamanya.</p>
<p>Di tengah aturan untuk menjaga jarak, orang-orang tidak dapat mengunjungi satu sama lain, teman dan kerabat tidak dapat berkumpul secara langsung untuk berbagi kenangan tentang almarhum. Tidak ada pelukan yang menghibur setelah upacara pemakaman yang dihadiri keluarga dan teman.</p>
<p>Tampaknya virus tidak hanya menentukan bagaimana kehidupan kita sehari-hari, tetapi juga bagaimana kita meninggalkan kehidupan, atau berkabung. Jelas bahwa, pesan maut yang dikirim corona telah membuat kematian benar-benar dekat dan terlihat.</p>
<p>Sudah 90 ribu orang meninggal di seluruh dunia dalam tempo singkat, seharusnya menyadarkan manusia bahwa kematian itu memang nyata adanya, hadir di tengah-tengah kehidupan, tentunya mustahil untuk diabaikan.</p>
<p>Wabah ini telah memaksa manusia kembali bermukim di kediamannya masing-masing. Pastilah waktu seakan berjalan lambat dan membosankan. Kabar baiknya, akhirnya manusia mempunyai waktu luang. Mungkin inilah saatnya manusia dari tempat kediamannya masing-masing berintrospeksi diri.</p>
<p>Seharusnya inilah moment dapat lebih mengenal Sang Pencipta. Sebagai umat manusia kita benar-benar kecil dan tak berdaya di hadapan-NYA. Merenung dan menyelami batin terdalam. Menendang semua sifat tak terpuji dan memunculkan kembali sifat sejati manusia yang penuh kasih sayang, respect, dan penuh hasrat berbagi untuk sesama.</p>
<p>Saatnya nilai kemanusiaan kembali menerobos ke dalam hati sanubari setiap manusia di manapun ia berada. Corona telah mengggiring manusia kembali menemukan &#8220;peradaban&#8221; yang mungkin telah berangsur punah hari ini. Mungkin Tuhan telah mengirim Corona untuk kembali memanusiakan manusia.(*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/malam-syahdu-di-langit-iskandariah/">Malam Syahdu di Langit Iskandariah</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Semen Padang di Liga 2; Nama Besar dan Tongkrongan Sangar, Cukupkah?</title>
		<link>https://prokabar.com/semen-padang-di-liga-2-nama-besar-dan-tongkrongan-sangar-cukupkah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[prokabar]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Feb 2020 12:22:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#RizalMarajo]]></category>
		<category><![CDATA[#SemenPadangFC]]></category>
		<category><![CDATA[#SPFC]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=59653</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo Wartawan Utama Harus diakui, nama besar sebuah tim tetap menjadi referensi pertama dalam membuat prediksi tim yang akan naik kasta di...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/semen-padang-di-liga-2-nama-besar-dan-tongkrongan-sangar-cukupkah/">Semen Padang di Liga 2; Nama Besar dan Tongkrongan Sangar, Cukupkah?</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em><strong>Oleh: Rizal Marajo </strong></em><br />
<em><strong>Wartawan Utama</strong></em></p>
<p>Harus diakui, nama besar sebuah tim tetap menjadi referensi pertama dalam membuat prediksi tim yang akan naik kasta di sebuah kompetisi sepakbola. Di Indonesia misalnya, tim-tim eks Liga 1 yang berlaga di Liga 2, lebih dilirik bakal promosi lagi. Nama menterang dan perjalanan historis klub tetap jadi salah satu pegangan utama.</p>
<p>Semen Padang FC misalnya, tim yang terdegradasi ke Liga 2 musim 2019. Seburuk apapun pusaran badai kendala finansial yang dihadapi jelang kompetisi, atau persiapan yang sangat tergesa-gesa menuju Liga 2 2020, tim ini tetap diperhitungkan sebagai salah satu kandidat serius lolos ke Liga 1.</p>
<p>Salah satu alasan, tim yang &#8220;terusir&#8221; dari Liga 1 itu dipandang lebih berpengalaman, sudah paham seluk beluk Liga 1. Kemudian, materi pemain pun dinilai lebih plus dari tim lain, karena bagaimanapun daya tarik eks Liga 1 masih bisa menjadi magnet pemain-pemain beken untuk bergabung.</p>
<p>Liga 2 musim lalu, tim-tim sekelas Sriwijaya FC, Mitra Kukar, dan PSMS Medan disebut akan dengan mudah beranjak kembali ke kasta tertinggi itu. Tapi apa daya, prediksi ternyata tak seindah fakta. Ketiganya terpental sebelum memastikan langkah ke Liga 1. Bukti, tak selamanya nama besar, materi pemain berkelas, atau uang berlimpah, jadi jaminan sebuah tim akan mudah melenggang naik kasta.</p>
<p>Faktanya yang akhirnya promosi ke Liga 1 2020 adalah Persik Kediri, Persita Tangerang, dan Persiraja Banda Aceh. Bisa dikatakan, tak banyak yang percaya ketiga tim itu bisa mengubur mimpi klub-klub beken mantan Liga 1 itu.</p>
<p>Apa kunci keberhasilan mereka?<br />
Yang pasti ini bukan cerita Seribu satu malam, pasti pula bukan karena sulap dengan password-nya Sim salabim. Yang ada, keberhasilan bukanlah hasil kerja instan, tapi penuh drama, menguras tenaga, dan pikiran. O ya, satu lagi hal non teknis yang selalu menjadi kiblat mereka; serius.</p>
<p>Persik Kediri, dua musim lalu, mereka masih berada di Liga 3. Ketika promosi ke Liga 2 2019, materi pemainnya juga tak muluk-muluk. Mereka kerja keras membentuk tim untuk bersaing di kasta kedua. Dari pengakuan manajemen tim, tak ada pemain Persik yang berstatus bintang, apalagi berbanderol mahal. Hasilnya, mereka promosi ke Liga 1 2020 dengan status juara Liga 2 2019</p>
<p>Cigap juga Persiraja, tim paling barat Indonesia ini benar-benar hanya mengandalkan semangat fanatisme. Berkali-kali gagal menggapai mimpi ke Liga 1, akhirnya terbayar dengan dramatis di tahun 2019.</p>
<p>&#8220;Salah satunya kuncinya adalah kedekatan semua unsur tim, manajemen, tim pelatih, dan pemain. Kita sebuah keluarga dengan satu lambang di dada. di Grup WA pemain bisa menyampaikan apa saja, mereka anggap saya abangnya, saya anggapip mereka adik-adik saya. Ini membuat kami menjadi lebih kuat, meski secara finansial dan materi pemain kami tidak mewah.&#8221;ujar CEO Persiraja Nazarudin Dek Gam suatu ketika.</p>
<p>Berkaca dari Persik, Persiraja, plus Persita yang kurang lebih sama situasi dan kondisinya itu, sukses mereka tak melulu soal aspek teknis. Tambahan yang tak kalah penting adalah attitude, loyalitas, kebanggaan, dan tidak merasa rendah diri bersaing di kompetisi.</p>
<p>Bagaimana Semen Padang di Liga 2 2020?<br />
Oke, nama besar dan rasa segan lawan sudah ditangan Semen Padang. Mungkin tak ada salahnya mengadopsi apa yang dilakukan tiga tim promosi diatas, dimana faktor pendekatan psikologis dan sisi non teknis yang lebih familiar dalam internal tim juga memegang peran sangat signifikan.</p>
<p>Jika dilihat calon-calon punggawa &#8220;Kabau Sirah&#8221; musim 2020, tongkrongan &#8220;Kabau Sirah&#8221; cukup sangar dan diyakini bisa membuat lawan &#8220;ngilu perut&#8221; duluan. Ditambah sosok sekaliber Eduardo Almeida sebagai pemegang komando tim. Walau persiapan singkat dan kilat, lawan-lawan tak akan peduli itu, mereka hanya melihat Semen Padang adalah tim Liga 1.</p>
<p>Eduardo Almeida dihadapan manajemen tim, dengan sangat percaya diri sudah menabur janji akan membawa Semen Padang kembali ke Liga 1. Orang ini begitu &#8220;pede&#8221; dengan kemampuannya, walau cara dia mempersiapkan timnya kali ini cenderung &#8220;tidak normal&#8221;. Tapi dia tetap yakin dengan kerja kilatnya, karena dia berbicara dengan ilmu kepelatihannya dan sikap profesionalnya.</p>
<p>Baiklah, anggap saja semua kendala sisi teknis sudah bisa diatasi Eduardo Almeida dan asistennya, tapi apakah pendekatan psikologis yang nyaman terhadap pemain juga akan berjalan aman tenteram juga? Almeida adalah perfect Man dan pekerja keras, lazimnya para profesional dari benua biru. Kabarnya satu peringatan keras sudah dikeluarkannya, jangan diintervensi atau &#8220;dicikaraui&#8221; kerjanya. Karena itu akan membuka jalan baginya &#8220;going home&#8221; ke Portugal.</p>
<p>Manajemen timlah yang akan menjadi penawar terbaik nantinya, yaitu manajemen yang menjadikan pemain adalah anak-anak mereka, manajemen yang tak akan bermain-main dengan kehidupan para pemain, dan manajemen yang bisa menjaga semen Padang FC sebuah keluarga yang harmonis dan punya mimpi besar yang harus diwujudkan.</p>
<p>Jika sisi teknis dan non teknis itu sudah terkolaborasi dalam internal tim, mungkin akan ada hasil positif yang bisa didapatkan, tim ini akan kembali ke Liga 1. Kalaupun nanti endingnya tetap negatif, sesungguhnya juga bukan hal mengejutkan. Itu tandanya Semen Padang masih seperti dulu, masih terlalu banyak orang &#8220;pintar&#8221; dan &#8220;berkuasa&#8221; disana. &#8220;Semen Padang komah diak.&#8221;paling itu kata para mantan pemain sambil nyengir.<strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/semen-padang-di-liga-2-nama-besar-dan-tongkrongan-sangar-cukupkah/">Semen Padang di Liga 2; Nama Besar dan Tongkrongan Sangar, Cukupkah?</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Features: Minangkabau Cup di Persimpangan Jalan</title>
		<link>https://prokabar.com/features-minangkabau-cup-di-persimpangan-jalan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[prokabar]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Nov 2019 13:09:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#minangkabaucup]]></category>
		<category><![CDATA[#RizalMarajo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=51604</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama) Tiga tahun terakhir, sepakbola Sumbar dibuat bergairah dan hidup, dengan adanya Turnamen antar Kecamatan. Turnamen yang berjudul Minangkabau Cup...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/features-minangkabau-cup-di-persimpangan-jalan/">Features: Minangkabau Cup di Persimpangan Jalan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em><strong>Oleh: Rizal Marajo</strong></em><br />
<em><strong>(Wartawan Utama)</strong></em></p>
<p>Tiga tahun terakhir, sepakbola Sumbar dibuat bergairah dan hidup, dengan adanya Turnamen antar Kecamatan. Turnamen yang berjudul Minangkabau Cup dikemas sedemikian rupa dengan berbagai inovasi dan kreatifitas sehingga tampil beda, dan punya tarik tersendiri.</p>
<p>Misi awal yang hendak dicapai Turnamen ini, adalah untuk mengeksplorasi dan memberi panggung bakat-bakat muda dari berbagai pelosok nagari. Muara dari tujuan itu adalah mencari dan menjaring pemain untuk cikal bakal tim Pra PON Sumbar untuk PON 2020.</p>
<p>Tiga tahun berlangsung 2016-2018, misi yang dilabeli &#8220;Mambangkik Batang Tarandam&#8221; untuk membentuk tim hebat yang akan membawa nama Sumbar ke PON 2020, terus digaungkan Panpel Minangkabau Cup. Apalagi ditambah tagline yang menyentuh, &#8220;Bakti untuk Nagari&#8221;, membuat turnamen ini serasa benar-benar milik dan kebanggaan warga Sumbar.</p>
<p>Akhirnya, medio 2019 terbentuklah tim Pra PON Sumbar dengan mengedapankan satu pesan, bahwa pemain-pemain yang mengisi skuad Sumbar adalah jebolan Minangkabau Cup, setidaknya pernah bermain membela kecamatannya di Minangkabau Cup.</p>
<p>Sampai disini misi sukses. karena tujuan menjaring potensi-potensi muda terbaik Ranah Minang melalui Minangkabau Cup sudah terwujud. Makin klop, tim ini disiapkan dibawah manajemen Minangkabau Cup.</p>
<p>Sayangnya, saat terjun di gelanggang sesungguhnya, yakni Porwil Bengkulu sebagai arena kualifikasi untuk merebut tiket ke Papua 2020, tak berhasil. Terjegal oleh Sumut di langkah terakhir, membuat impian melihat &#8220;The Dream Taam&#8221; Sumbar di Papua harus disimpan lagi.</p>
<p>Tak perlu diuraikan disini mengapa misi ini &#8216;failed&#8221;, yang jelas sebuah pelajaran terpentingnya adalah, bahwa mengurus dan menciptakan sebuah tim yang solid dan kompetitif itu tidaklah semudah itu. Butuh harmonisasi, satu visi dan tujuan, bekerja dengan hati, dan selanjutnya saluang sajalah yang menyampaikan.</p>
<p>Sekarang pertanyaannya, bagaimana nasib Turnamen Minangkabau Cup, pasca kegagalan tim Sumbar lolos ke PON. Yang pasti, turnamen ini sudah kehilangan tema utama yang sudah diusung sejah edisi pertama turnamen. Perlu dipikirkan tema baru jika turnamen memang akan dilanjutkan.</p>
<p>Hardimen Koto, Sang Sutradara dibalik Turnamen Minangkabau Cup dan tim Pra PON sumbar, pastinya kini sedang puyeng memikirkan apakah turnamen yang dibidaninya bersama Spartan Enterprise perlu dilanjutkan atau tidak.</p>
<p>Kalau dhentikan, sudah pasti banyak yang merasa kehilangan dan kecewa. Yang paling kehilangan tentu saja para pemain. Mereka akan kehilangan ajang untuk menampilkan kebolehan dalam sebuah turnamen yang tertata rapi, dan gaungnya sampai terdengar di tingkat nasional.</p>
<p>Tidak ada Turnamen yang bisa melibatkan 5000 orang pemain dan ratusan pelatih dari berbagai pelosok Sumbar. Tidak ada turnamen yang membuat nadi sepakbola di seluruh Sumbar berdenyut kencang.</p>
<p>Belum lagi gairah sosial yang ditimbulkan turnamen. Masyarakat punya tontonan, ikut bangga mendukung dan menyaksikan anak kemenakan mereka di lapangan, Pak Camat dan Walinagari ikut sibuk, Pak Dewan ikut pula &#8220;sato sakaki&#8221; membantu tim dapilnya. O ya, Pedagang kuliner di seputar lapangan terlihat bersiul-siul senang, senyumnya merekah.</p>
<p>Di bench, pelatih-pelatih terlihat bergaya, walau ada belum punya lisensi kepelatihan, tapi semangatnya dan gesturnya membuat kita tersenyum senang melihatnya saat memberi instruksi. Walau ada kesan copy paste gaya pelatih-pelatiuh ternama, tapi semuanya terlihat bahagia.</p>
<p>Ya, bahagia itulah kata kuncinya: &#8220;Membuat turnamen seperti MKC ini tidak mudah. Semua hal harus terencana. Kadang harus jumpalitan dibuatnya untuk mencari dana dan sponsor. Melelahkan, tetapi membuat bahagia. Terharu saya ketika netizen seperti satu suara meminta turnamen dilanjutkan. Bukankah mereka butuh dan berhak bahagia juga dengan adanya turnamen ini.&#8221;ujar Hardimen Koto, Steven Spielberg-nya turnamen.</p>
<p>Entahlah, apakah itu sebuah sinyal bahwa Turnamen MKC akan tetap berlanjut? Belum dapat dipastikan, hanya Tuhan dan Hardimen Koto dan kawan-kawan di Spartan Enterprise yang tahu jawabannya. Mungkin analoginya seperti itu. Idealnya, memang turnamen ini harus tetap ada.</p>
<p>Tetapi, jika pada akhirnya MKC tidak berlanjut, maka makin paripurnalah nasib bola Sumbar dalam mendung dan kelesuan. Tidak ada gairah, kehilangan darah, dan tak ada lagi identitas bola yang membanggakan Sumbar yang tersisa.</p>
<p>Faktanya, dunia sepakbola Sumatra Barat memang sedang dirundung mendung. Berbagai kegagalan dan prestasi tak bagus mewarnai kiprah tim-tim boal Ranah Minang. Paling tidak bisa dibentang satu-persatu kegagalan itu.</p>
<p>Selain kegagalan tim Sumbar yang gagal lolos ke PON 2020 seperti yang sudah dipaparkan diatas, tentu harus menyebut sang icon bola Sumbar, yakni tim Semen Padang FC yang berlaga di Liga 1. Jika diibaratkan, eksitensi &#8220;Kabau Sirah&#8221; di kasta tertinggi sudah sperti telur diujung tanduk.</p>
<p>Sampai pekan ke-27, tim ini masih berada di dasar klasemen. Realistis saja, butuh keajaiban bagi Semen Padang untuk bisa selamat. emenangkan tujuh laga sisa baik dikandang maupun tandang, adalah pekerjaan maha berat yang akan dilakoni tim ini. Walau begitu, Pecandu bola Ranah Minang, masih berharap tim ini tetap berlaga di Liga 1.</p>
<p>Apa lagi? O ya.. satu-satunya tim Liga 3 Sumbar yang berada di Pra Nasional, Solok FC juga sudah ngos-ngosan. Pindah kandang dan beralih pemilik ke ke 50 Kota dengan nama SEL 50 FC, tim ini juga hanya menjadi bulan-bulanan lawan di tiga laga yang sudah dimainkan.</p>
<p>Seperti halnya Semen Padang yang butuh miracle, SEL 50 FC juga butuh itu untuk bisa bertahan di level nasional. Kalau tidak, tahun depan harus mulai lagi dari bawah, bermain di tingkat Provinsi.</p>
<p>Masih Ada Lagi?</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/features-minangkabau-cup-di-persimpangan-jalan/">Features: Minangkabau Cup di Persimpangan Jalan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Eduardo Almeida, 8 Laga Final Pembuktian Sang The Magicians</title>
		<link>https://prokabar.com/eduardo-almeida-8-laga-final-pembuktian-sang-the-magicians/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[prokabar]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Nov 2019 15:11:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#Bola]]></category>
		<category><![CDATA[#EduardoAlmeida]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#RizalMarajo]]></category>
		<category><![CDATA[#SemenPadangFC]]></category>
		<category><![CDATA[#SPFC]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=50878</guid>

					<description><![CDATA[<p>Siapapun pendukung atau suporter Semen Padang FC saat ini, pastilah tak bisa tidur nyenyak. Dalam bahasa yang lebih gaul, sedang galau. Bayang-bayang degradasi yang...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/eduardo-almeida-8-laga-final-pembuktian-sang-the-magicians/">Eduardo Almeida, 8 Laga Final Pembuktian Sang The Magicians</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Siapapun pendukung atau suporter Semen Padang FC saat ini, pastilah tak bisa tidur nyenyak. Dalam bahasa yang lebih gaul, sedang galau. Bayang-bayang degradasi yang mengintai tim kesayangan, menjadi momok yang akan selalu menghantui sampai akhir kompetisi Liga 1 2019 ini.</p>
<p>Betul, masih banyak yang optimis tim ini bisa bertahan, tapi sebanyak itu pula yang setengah pasrah, bersiap melihat Kabau Sirah kembali turun kasta ke Liga 2.</p>
<p>Menyisakan delapan laga, empat kandang dan empat tandang, benar-benar<br />
menjadi pertaruhan nasib Semen Padang. 8 laga itu ibaratnya adalah laga<br />
final yang harus dimenangkan.</p>
<p>Ketatnya persaingan keluar dari jurang degradasi, Semen Padang dituntut meraih hasil maksimal, tak peduli hasil kandang ataupun tandang. Minimal, semua laga kandang dimenangkan, sementara di laga tandang bisa mencuri satu poin.</p>
<p>Tugas berat jelas ada di bahu Eduardo Almeida, sang pelatih berpaspor Portugal. Sebagai leader team, sekaligus juru taktik dan startegi, nasib Semen Padang di kompetisi ini akan banyak tergantung pada pria 41 tahun ini.</p>
<p>Sejak mengambilalih tampuk kepelatihan Kabau Sirah, sejatinya ada progres signifikan terlihat pada permainan Semen Padang. Fakta pertama, ditangan Eduardo pertama kali Semen Padang keluar dari dasar klasemen pada pekan ke-22. Ditandai kemenangan atas Persija Jakarta di kandang lawan.</p>
<p>Asa seketika melambung, terutama di kalangan fans Semen Padang. Karena langsung nampak bukti tangan dingin Eduardo. 5 laga berujung 3 kali menang dan dua seri, tanpa terkalahkan sejak pekan ke-18. Bahkan pundit sepakbola Indonesia menyebut hasil sebagai progres terbaik tim Liga 1. Cap The Magician pun dirasa cocok disematkan pada lelaki yang satu ini.</p>
<p>Sayangnya, setelah masa bangkit itu tak bertahan lama. Tiga laga berikutnya berujung kekalahan. Bahkan dua diantaranya di kandang, yakni melawan Madura United dan Persipura Jayapura Semen Padang terkapar. Ditambah kalah lawan Arema, membuat Semen Padang kembali ke dasar klasemen.</p>
<p>Sayang memang, jika trend positif usai laga lawan Persija bisa dipertahankan, dengan memaksimalkan lawan Madura United dan Persipura Jayapura, mungkin posisi Semen Padang saat ini sudah sedikit aman dari ancaman degradasi, berada di posisi 13.</p>
<p>Itulah permasalahan terbesar Semen Padang, konsistensi dari pertandingan ke pertandingan yang belum terjaga. Inilah PR terbesar Almeida dalam mengharungi 8 laga sisa.</p>
<p>Lebih khusus lagi, anomali Semen Padang musim ini adalah hilangnya &#8220;tuah&#8221; bermain di kandang. Sejak awal musim, delapan dari 13 kali kekalahan justru diderita di kandang sendiri. Musim-musim sebelumnya, Semen Padang sangat beken dengan sebutan &#8220;jago kandang&#8221;.</p>
<p>Tak mudah bagi tim lain untuk meraup angka di Stadion H,. Agus Salim Padang. Bahkan saat ISC 2016, Semen Padang sama sekali tak tersentuh kekalahan dika bermain di Stadion H. Agus Salim.</p>
<p>Musim ini keangkeran Stadion yang mulai dioperasikan tahun 1983 itu sirna.<br />
Justru Semen Padang lebih lepas jika bermain diluar kandang, hanya lima kekalahan saat tandang.</p>
<p>Untungnya, Almeida adalah sosok pelatih yang &#8220;tahan banting&#8221;, tetap cool dan optimis dengan prospek timnya. Dalam situasi sulit timnya saat ini, dia tetap menebar optimistis, bahwa dia bisa menyelamatkan Semen Padang.</p>
<p>Ditambah riwayat kepelatihannya yang beberapa kali menyelamatkan timnya dari degradasi, menjadi semacam referensi khusus bagi fans Semen Semen Padang bahwa Almeida akan menjadi penyelamat tim kebanggaan Ranah Minang ini.</p>
<p>Eduardo diibarat bak panglima perang yang datang dengan gagah menunggangi kuda putih, pedang yang terhunus menebas semua kendala di hadapannya.<br />
Sulit memastikan apakah sang panglima berlisensi A UEFA ini dengan pedang taktical dan strateginya bisa menebas semua lawan di laga sisa, agar bisa membawa Semen Padang pada status aman.</p>
<p>Faktanya, tak banyak panglima asing yang bisa sukses di kursi pelatih Semen Padang. Kursi yang tak pernah empuk bagi pelatih luar Sumbar. Karena kalau dibuka catatan prestasi terbaik Semen Padang, nama pelatih yang muncul adalah pelatih lokal seperti Suhatman Imam, Jenniwardin, Nimaizar, ataupun Jafri Sastra. Apakah Eduardo akan jadi sebuah anomali?</p>
<p>Hanya waktu yang bisa menjawabnya<strong>.(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/eduardo-almeida-8-laga-final-pembuktian-sang-the-magicians/">Eduardo Almeida, 8 Laga Final Pembuktian Sang The Magicians</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 32/86 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/12 queries in 0.018 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 19:18:54 by W3 Total Cache
-->