<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#pribadihebat Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/pribadihebat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/pribadihebat/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 22 Aug 2020 01:12:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#pribadihebat Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/pribadihebat/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>&#8220;Pribadi Hebat&#8221; Buya Hamka (Bagian II)</title>
		<link>https://prokabar.com/pribadi-hebat-buya-hamka-bagian-ii/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2020 00:30:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[#buyahamka]]></category>
		<category><![CDATA[#hamka]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#pribadihebat]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=72901</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar — Kisah inspiratif dan motivasi Buya Hamka kita lanjutkan dari Buku Pribadi. Setelah mengupas pendahuluan, sekarang kita masuk pembahasan satu tentang arti...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pribadi-hebat-buya-hamka-bagian-ii/">&#8220;Pribadi Hebat&#8221; Buya Hamka (Bagian II)</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar —</strong> Kisah inspiratif dan motivasi Buya Hamka kita lanjutkan dari Buku Pribadi. Setelah mengupas pendahuluan, sekarang kita masuk pembahasan satu tentang arti dari &#8220;Pribadi&#8221;. Buya Hamka mengupas habis tentang &#8220;Orang Budiman&#8221;, &#8220;Orang Cerdas&#8221;, &#8220;Orang Masyarakat&#8221;, &#8220;Orang Sehat&#8221;, dan &#8220;Orang Cerdik Pandai&#8221;.</p>
<p>Sering kali kita membicarakan orang yang kita cintai atau hormati atau yang telah berpisah dengan kita. Kita ingat segala kebaikannya dan tidak ketinggalan juga kita membicarakan kelemahannya.</p>
<p>Perangainya halus, hatinya suci, sikapnya jujur, perkataannya teratur, dan budinya mulia. Kelakuannya baik, mukanya jernih karena ia memandang hidup dengan penuh pengharapan dan tidak pernah putus asa. Apa yang diyakini, itulah yang dikatakannya dan apa yang dikatakannya, itu yang diyakininya. Karena itu, kita memgambil kesimpulan bahwa dia seorang &#8221; budiman&#8221;.</p>
<p>Dia cerdas, akalnya tajam, buah pikirannya baik, dan ia pun cepat mengambil keputusan, terang otaknya, luas pandangannya, Dan jauh tiliknya. Karena itu, kita katakan Bahwa ia &#8220;cerdas&#8221;.</p>
<p>Dia suka bergaul, suka menolong, tidak menyisih dari masyarakat, tidak memikirkan kepentingan diri sendiri atau keluarganya saja, tidak gila pangkat, mengerti kedudukan orang lain, dan merasa dirinya ikut dalam kedudukan itu. Hormat pada orang tua, kasih kepada yang muda, pandai bergaul, pandai berkawan. Kita gelarilah dia gelar &#8220;orang masyarakat&#8221;.</p>
<p>Tubuhnya sehat, mukanya berseri-seri karena kesehatan tubuh dan jiwanya. Pakaiannya bersih karena bersih hatinya. Dia gemar olahraga untuk kesehatan tubuh dan suka untuk kesehatan batin. Kita namai dia orang &#8220;sehat&#8221;.</p>
<p>Pemahamannya luas, penyelidikannya dalam, bacaannya banyak. Karena itu, banyak yang diketahuinya sehingga Dia tidak merasa canggung dalam pergaulan dengan segala lapisan. Oleh karena ada pengetahuannya dalam suatu hal, dia bertanggung jawab. Kita namai dia orang yang &#8220;cerdik pandai&#8221;.</p>
<p>Semuanya, yaitu budi, akal, pergaulan, kesehatan dan pengetahuan, berkumpul menjadi satu pada satu orang. Kumpulan itulah yang membantuk suatu &#8220;pribadi&#8221;. Lemah atau kuat, berlebih atau berkurang dari yang disebutkan itu menyebabkan lemah atau kuat, lebih atau kurangnya pribadi. Dialah yang menentukan mutu seseorang.</p>
<p>A. Nilai Seseorang adalah Pribadinya.</p>
<p>Dua ekor kerbau yang sama gemuknya, sama kuat dan sama pula kepandaiannya menarik pedati, tentu harganya tidak jauh berbeda. Akan tetapi, dua puluh manusia yang sama tinggi dan sama kuat, belum tentu sama &#8220;harganya&#8221;. Sebab bagi kerbau tubuhnya saja yang berharga. Bagi manusia adalah pribadinya.</p>
<p>Orang yang berilmu saja, walau ia sangat ahli dalam satu bidang, belum tentu berharga dan belum tentu memperoleh kekayaan dalam hidup apabila sekiranya bahan pribadinya yang lain tidak lengkap atau tidak kuat terutama budi dan akhlak.</p>
<p>Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, dan orang yang memiliki banyak koleksi buku serta diplomanya segulung besar dalam masyarakat dia menjadi mati sebab dia bukan &#8220;orang masyarakat&#8221;. Hidupnya hanya mementingkan diri sendiri dan diplomanya, hanya untuk mencari harta. Hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita-cita selain kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat, karena ia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Dan kepandaiannya yang banyak sering menimbulkan ketakutan, bukan menimbulkan keberanian untuk memasuki dan menjalani hidup.</p>
<p>Jangan disangka bahwa pribadi yang besar dan kuat hanya semata-mata memakai sifat yang terpuji saja. Tidak! Bahkan sebaliknya, bertambah besar pribadi seseorang, bertambah jelas letak kelemahan dan kekurangannya. Orang Arab berkata, &#8220;Idzaa Tamma syai&#8217;un Badar naqshuhu,&#8221; yang artinya apabila sesuatu telah sempurna, jelaslah kekurangannya.</p>
<p>Hal itu sangat penting! Jika kita berkawan atau bersahabat dengan orang, harus kita ketahui bahwa sebagai manusia dia harus mempunyai suatu sisi yang dipenuhi perasaan semata. Hanya orang bodoh yang dipenuhi perasaan dan sentimen. Apabila ia sayang, ia lupa segala kesalahan dan apabila ia berani, ia pun lupa segala kebajikan.</p>
<p>B. Arti Pribadi<br />
Bukan pula hal yang mudah mengupas dan menunjukan arti pribadi. Hal itu termasuk perkara gaib yang hanya dapat ditunjukan bekasnya, tetapi tidak dapat diraba barangnya. Tidak ada bedanya dengan listrik, aether dan radio. Pribadi seseorang dapat diketahui setelah melihat perjalanan hidupnya dan rekam jejak usahanya.</p>
<p>Sudah ringkas namanya, jika kita katakan bahwa pribadi itu sebagai berikut.<br />
1). Kumpulan sifat dan kelebihan diri yang menunjukan kelebihan seseorang daripada orang lain sehingga ada manusia besar dan manusia kecil. Ada manusia yang sangat berarti hidupnya dan ada yang tidak berarti sama sekali. Kedatangannya tidak menggenapkan dan kepergiannya tidak pula mengganjilkan.</p>
<p>2). Kumpulan sifat akal budi, kemauan, cita-cita dan bentuk tubuh. Hal itu menyebabkan harga kemanusiaan seseorang berbeda dari yang lain.</p>
<p>Tinggi rendahnya pribadi seseorang adalah karena usaha hidupnya, caranya berfikir, tepatnya berhitung, jauhnya memandang dan kuatnya semangat diri sendiri. Meneropong suatu pribadi tidak boleh terpengaruh oleh rasa sayang dan benci. Sering kali terjadi, baru saja kita bertemu dengan seseorang, lantas kita menyayanginya atau kebalikannya. Padahal, belum patut ada hubungan sayang dan benci dalam perkara itu. Memang, terkadang kita sayang kepadanya karena keikhlasannya, kemuliaan hatinya, kesetiaan dan keberaniannya. Kita benci karena dia curang, tidak mengenal kejujuran dan kejujurannya pun tidak pernah pula berkenaan dengan dia, bakhil, benalu, penohok kawan, dan penggunting dalam lipatan. Akan tetapi, terkadang juga kita menyayangi seseorang karena orang itu mau kita perkuda untuk kepentingan kita sendiri. Atau, kita membenci bukan karena ia bersalah hanya karena kita sendiri orang pendengki.</p>
<p>Sangat perlulah kita mempelajari pribadi manusia. Akan tetapi, lebih penting lagi seperti kata Socrates yang terkenal, &#8220;Kenalilah siapa dirimu, kenalilah pribadimu sendiri!&#8221;.</p>
<p>Namun, haruslah kita sadar pula bahwa mengenal diri sendiri seribu kali lebih sukar dari pada keinginan mengetahui pribadi orang lain. Nabi Muhammad SAW bersabda, &#8220;Berbahagialah orang yang mementingkan memperhatikan cela diri sendiri sehingga tidak sempat memperhatikan cela orang lain.&#8221; (HR. Al-Bazzar).</p>
<p>&#8220;Jelaskanlah siapa engkau dan tentukanlah maksut ujudmu,&#8221; kata Fichte.</p>
<p>Apakah karakter suatu pribadi merupakan bawaan lahir atau dapat diusahakan? Sudah jelas bahwa bentuk kehidupan manusia telah ada sejak dalam rahim ibu. Dahulu hal itu masih diragukan dan dipandang sebagai dongeng saja. Akan tetapi, menurut majalah Woman bahwa di Universitas Antioche di Ohio (Amerika) perkumpulan dokter yang meneliti ibu hamil telah mendapatkan beberapa bukti bahwa kegembiraan atau kesedihan seorang ibu yang sedang mengandung berpengaruh juga kepada berat atau ringannya timbangan bayi setelah ia dilahirkan. Penjagaan kesehatan dan perasaan ibu saat mengandung sangat mempengaruhi perkembangan pribadi kandungannya kelak. Setelah anak lahir, dunia telah menunggu lingkungan tempat dia diasuh dan dibesarkan. Setelah dewasa menunggu pula pergaulan yang lebih luas yaitu masyarakat.</p>
<p>Sangat penting juga pendidikan di Delilah. Apabila suatu masyarakat telah merdeka, berdemokrasi, berbudi tinggi, sangguplah masyarakat itu menimbulkan pribadi yang kuat.</p>
<p>C. Pribadi Tidak Berkembang karena Tekanan.<br />
Kerasnya didikan orang tua merampas kemerdekaan anaknya. Kurangnya tanggung jawab seorang guru saat mengajar, masyarakat yang masih kolot, bodoh dan belum pandai menghargai pertumbuhan seseorang serta penjajahan bangsa atas bangsa. Semuanya itu dan beberapa sebab yang lain menghalangi tumbuhnya pribadi.</p>
<p>Bersyukurlah kita tidak terjajah lagi. Satu penyakit yang menjadi pangkal dari banyak penyakit yang lain telah terhindar. Akan tetapi, sisa penjajahan jiwa masih melekat dan sukar mengikisnya. Misalnya dua perkara yang besar. Pertama, kebelanda-belandaan dan kedua, pergaulan kolot. Dua hal itu masih mempengaruhi sebagian besar masyarakat. Bagaimana seorang ayah atau seorang guru akan cepat melepaskan diri dari ikatan itu? Padahal ayah dan gurulah yang wajib terlebih dahulu menuntun kemerdekaan tumbuhnya pribadi anak. Ayah dan guru belum berani menentang pendapat umum dan sulit melepaskan diri dari pengaruh didikan sendiri. Sebab itu, &#8220;plat&#8221; pikiran dan pandangan hidupnyalah yang hanya dapat dialihkan kepada putra dan muridnya. Didikan selama ini hanya menurut, berpikir dengan pikiran orang lain, dan tidak berani atau tidak sanggup menyatakan pendirian sendiri.</p>
<p>Selama masa penjajahan, bangsa yang menjajah berusaha menekan pribadi kita supaya tidak tumbuh. Diberinya kita ilmu, tetapi keberanian kita dihambat. Sampai kepada hal terkecil menimbulkan kesan semakin lama semakin masuk ke dalam pikiran kita bahwa kita tidak sanggup dan tidak mampu mendapatkan sesuatu. Meskipun bangsa kita telah diberi banyak gelar Arts, Mr, Dr, It dan lain-lain dalam pemberian pangkat yang bertanggung Kawan, bangsa kita tidak mendapat kepercayaan. Setinggi-tingginya pangkat bangsa Indonesian adalah regent atau demang. Walaupun tua dan banyak pengalamannya, dia tidak dapat membatasi kedudukan seorang kontelir. Kelihatanlah di kantor-kantor, orang-orang yang telah kehilangan pribadi dan kehilangan cita-cita. Suburlah jiwa budak yang cita-citanya hanyalah pensiun di hari tua. Untuk itu, dia bersedia menerima kehinaan dan tekanan.</p>
<p>Jiwa rakyat yang telah sangat menderita itu, niscaya akan muncul pribadi-pribadi besar yang sanggup mencabik dan merobek segala dinding yang mengurungnya. Pribadi yang besarlah yang dapat menimbulkan kebangsaan dan keteguhan bangsalah yang dapat memupuk pribadi.</p>
<p>Negara dan bangsa yang merdeka juga dapat menumbuhkan kemerdekaan pribadi. Orang menerima pembagian pekerjaannya dengan rela. Biarpun dia menjadi supir, tukang becak, penjual sayur, tidak dirasakan ada manusia yang menekannya. Segala kewajiban itu akan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Dia yakin bahwa pekerjaan yang lain tidak akan selesai, sekiranya pekerjaannya tidak selesai pula. Dia adalah anggota dari satu bangsa besar dan kumpulan segenap pribadi, itulah yang menjelmakan pribadi bangsa. (**)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pribadi-hebat-buya-hamka-bagian-ii/">&#8220;Pribadi Hebat&#8221; Buya Hamka (Bagian II)</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8220;Pribadi Hebat&#8221; Buya Hamka (Bagian I)</title>
		<link>https://prokabar.com/pribadi-hebat-buya-hamka-i/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2020 02:11:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[#buyahamka]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#pribadihebat]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=70497</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar — Kepada pemuda: Bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Tetapi aku percaya langkahmu akan jaya. Kuatkam pribadimu (Buya Hamka: Pribadi Hebat/ Jayakarta, 1950)....</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pribadi-hebat-buya-hamka-i/">&#8220;Pribadi Hebat&#8221; Buya Hamka (Bagian I)</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar — </strong>Kepada pemuda: Bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. Tetapi aku percaya langkahmu akan jaya. Kuatkam pribadimu (Buya Hamka: Pribadi Hebat/ Jayakarta, 1950).</p>
<p>Setelah suatu bangsa yang telah terjajah selama ratusan tahun mencapai kemerdekaan dengan perjuangan yang hebat, munculah beberapa orang berjalan di permukaan. Mereka terdiri hanya beberapa orang, namun bernilai ratusan orang. Orang-orang seperti itulah yang membentuk sejarah hebat dan besar karena berani bertanggung jawab dan tangkas menetapkan suatu jalan yang akan ditempuh. Karena itu, boleh dikatakan bahwa pikiran umum dibentuk oleh beberapa orang saja.</p>
<p>Kita teringat kepada nama-nama besar bangsa ini, seperti Soekarno dan Hatta yang memenuhi catatan sejarah kemerdekaan sejak awal sampai akhir hayatnya, Syahrir yang menciptakan Perjanjian Linggarjati, Muso yang memberontak di Madium, Hamengku Buwono, Roem, dan lain-lainnya yang ikut berjuang.</p>
<p>Jika orang seperti itu (sebelum namanya muncul) dapat berdiri di tengah-tengah orang banyak, apakah kelebihan dirinya daripada orang lain, sementara dia juga merasakan lapar dan haus serta sedih dan bahagia? Bahkan, pada masa-masa ketenarannya, mereka masih tetap manusia. Jelas, kemanusiaannya terlihat ketika mereka dilepaskan dari ikatan tradisi atau pakaian resmi, yakni ketika mereka duduk bercengkerama dan bersenda gurau dengan teman-temannya.</p>
<p>Lalu, dinamakan letak kemanusiaannya yang pada suatu waktu mampu mencapai derajat luar biasa?</p>
<p>Sekarang, baru tampak beberapa orang yang terkenal karena kemerdekaan atau karena kepandaiannya berpolitik. Padahal, di bidang lain pun juga ada orang-orang seperti itu. Ingatlah Sasda dalam perlombaan ekonomi, Chairul Anwar dalam bersisir, Dr. H. A. Karim Ambrullah dalam keteguhan beragama, Adinegoro dalam jurnalistik angkatan tua dan Muchtar Kubis dalam angkatan muda.</p>
<p>Jangan hanya pada kalangan orang yang terkenal saja. Mari kita tilik petani yang turut berjuang memberikan harta bendanya pada masa perjuangan. Atau tukang becak yang mendapat penghormatan istimewa dari Bungkarno ketika beliau pindah dari Yogyakarta ke Istana Gambir. Ataupun para pegawai pamong praja yang bekerja di kantor-kantor. Semua itu dan semua nama lain juga selalu terlintas di hadapan mata, terdengar di telinga, dan terbaca dalam surat-surat kabar. Mengapa ada nama-nama itu? Padahal masih banyak lagi yang tidak tersebut, yang tidak terkenal?</p>
<p>Setiap hari kita tidak lepas membicarakan orang-orang terkenal atau tidak terkenal, orang yang sangat luar biasa atau orang yang biasa saja. Kita akan mengatakan kemuliaan dan kekurangan seseorang. Seorang pencuri atau perampok besar yang berani merampok rumah orang di siang hari dan di tempat ramai pun tidak akan lepas dari perbincangan kita. Sahabat karib kita yang paling kita cintai atau musuh kita yang dipandang sangat buruk dan paling dibenci, semuanya menjadi pembicaraan kita, semuanya mendapatkan kupasan kita.</p>
<p>Hal apakah yang kita bicarakan?<br />
Jika kita membicarakan Presiden Soekarno misalnya, hal apakah yang kita bicarakan? Mengapa setiap hari Soekarno tidak lepas dari mulut orang? Baik yang memuji maupun yang mencela.</p>
<p>Yang kita bicarakan adalah &#8220;diri&#8221; orang. Diri yang manakah itu? Tubuhnya yang gagahkah? Padahal, banyak juga orang yang lebih gagah darinya. Kepandaiannya berpidatokah? Padahal, ucapannya yang dikeluarkannya pun dapat ditiru oleh orang lain. Bahkan, pidato orang lain lebih berisi dari pidatonya. Itulah suatu pengkajian yang telah lama sekali.</p>
<p>Diogenes pernah dituduh sebagai orang tua yang gila karena selalu membawa lentera, ditiliknya semua wajah orang yang ditemui karena ia sedang mencari. Mencari! Mencari sesuatu yang sulit dioerolehnya, yaitu mencari orang! Siang hari dia membawa lampu, ditiliknya wajah orang karena di dalam manusia yang banyak itu belum juga ia menemukan apa yang dicari, yaitu yang sebenarnya manusia!</p>
<p>Ali bin Abi Thalib pernah menyairkan, &#8220;Manusia dipandang dari segi tubuh hanya sama Ayahnya Adam dan Ibunya Hawa. Jika mereka membanggakan keturunan-keturunannya pun sama, tanah dan air,&#8221;.</p>
<p>Jika demikian, mengapa timbul keistimewaan, baik atau mulia pada beberapa orang atau beberapa golongan? Mengapa ada yang datang ke dunia tidak terkenal dan hilang dari dunia pun tidak terkenal? Tidak pantaslah lagi kita menuduh Diogenes karena kita pun sedang mencari apa yang dicarinya!</p>
<p>Orang yang luar biasa dalam sejarah adalah orang yang menciptakan pekerjaan yang besar-besar, baik yang sangat mulia maupun yang menjadikan dia sangat terkenal karena sangat hina seperti Alcapone di Amerika.</p>
<p>Karena ilmu pengetahuan tentang manusia belum maju, orang yang luar biasa disisihkan dari golongan manusia. Jika ia orang baik, derajatnya disamakan dengan malaikat, bahkan disamakan dengan Tuhan atau di-Tuhan-kan, dan dibuat patung-patung berhala untuk memuja namanya. Sebaliknya, jika dia penjahat, ia disamakan dengan setan.</p>
<p>Semakin lama semakin majulah ilmu pengetahuan. Sejak 2000 tahun lalu, Socrates menyuruh mempelajari manusia dan mengetahui siapa dirinya sendiri. Ajaran Socrates dilanjutkan orang hingga sekarang. Kemanusian dikupas, diri manusia dikupas. Binatangkah ia semata-mata ataukah setan semata-mata, atau kumpulan keduanya? Dikupas apa yang dinamakan &#8220;Nafsu, aku dan diri&#8221; serta apa yang dinamakan &#8220;Akal, pikiran, cita-cita kemanusiaan dan perasaan&#8221; dan lain-lain. Pada akhirnya, orang dapat mempelajari siapa awak, tubuh ia atau nyawakah? Atau kumpulan kedua-duannya? Sifat kelebihan atau kekurangan yang ada padanya?</p>
<p>Di sanalah pokok pembicaraan tentang &#8220;diri pribadi&#8221;. Ketika ilmu pengetahuan tentang hal itu belum dipopulerkan dikalangan orang-orang yang berilmu (karena membaca buku berbahasa asing) lebih cepat diterima oleh akalnya jika disebut dalam bahasa Inggris, personality atau dalam bahasa Belanda disebut persooinlijkheid.</p>
<p>Sebelum zaman Jepang dan kemerdekaan, telah dicoba untuk mengindonesiakan kata itu disebut dengan menyebut &#8220;diri pribadi&#8221;. Akan tetapi, pada zaman kemerdekaan orang mencari kata-kata yang baru, yang mulanya dirasakan tidak tepat, tetapi semakin lama semakin tepat dan semakin diterima pikiran untuk mengartikan bahasa asing itu, diri pribadi. Akhirnya lebih singkat dan masuk dalam pikiran orang, Pribadi.</p>
<p>Kemajuan pribadi suatu bangsa dan kemerdekaannya tidak akan tercapai jika belum ada kemajuan dan kemerdekaan pribadi individu. Tanda-tanda menunjukan bahwa derajat kemajuan dan kejayaan yang didapat oleh beberapa orang manusia di bidang yang dimasukinya, dapat pula dicapai oleh orang lain asalkan orang itu mempunyai pribadi yang kuat. Kemajuan pribadi sendiri akan menentukan tempat kita yang pantas dalam pergaulan hidup di bidang apa pun.</p>
<p>(<i>Buya Hamka, Dalam Pribadi Hebat, Jayakarta/Januari 1950-Penerbit Gema Insani, April 2019).</i></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pribadi-hebat-buya-hamka-i/">&#8220;Pribadi Hebat&#8221; Buya Hamka (Bagian I)</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 29/59 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/12 queries in 0.013 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-08 00:23:37 by W3 Total Cache
-->