<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#penyintas Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/penyintas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/penyintas/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Dec 2021 00:04:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#penyintas Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/penyintas/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimanakah Ciri Penyintas Lansia dalam Menghadapi Bencana? (Bagian 3 &#8211; Habis)</title>
		<link>https://prokabar.com/bagaimanakah-ciri-penyintas-lansia-dalam-menghadapi-bencana-bagian-3-habis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Dec 2021 00:04:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[#Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[#lansia]]></category>
		<category><![CDATA[#penyintas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=99327</guid>

					<description><![CDATA[<p>Halaman Sebelumnya: &#8230;&#8230;&#8230;.. faktor dari luar, seperti gempa, faktor dari dalam, seperti bangunan yang sudah tua, dan faktor kesalahan manusia, seperti tidak menerapkan SOP...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/bagaimanakah-ciri-penyintas-lansia-dalam-menghadapi-bencana-bagian-3-habis/">Bagaimanakah Ciri Penyintas Lansia dalam Menghadapi Bencana? (Bagian 3 &#8211; Habis)</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center">Halaman Sebelumnya:<strong><em><br />
&#8230;&#8230;&#8230;.. faktor dari luar, seperti gempa, faktor dari dalam, seperti bangunan yang sudah tua, dan faktor kesalahan manusia, seperti tidak menerapkan SOP pengelolaan terhadap teknologi tersebut&#8230;&#8230;..</em></strong><br />
****</p>
<p>Pertama, dalam tahap prabencana perlu diadakan pencegahan dan mitigasi. Upaya atau kegiatan dalam rangka pencegahan dan mitigasi yang dilakukan, bertujuan untuk menghindari terjadinya bencana serta mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh bencana.</p>
<p>Tindakan mitigasi dilihat dari sifatnya dapat digolongkan menjadi 2 (dua) bagian, yaitu mitigasi pasif dan mitigasi aktif.</p>
<p>Tindakan pencegahan yang tergolong dalam mitigasi pasif antara lain adalah penyusunan peraturan perundang-undangan, pembuatan peta rawan bencana dan pemetaan masalah, Pembuatan pedoman/standar/prosedur.</p>
<p>Selanjutnya, pembuatan brosur/leaflet/poster, penelitian / pengkajian karakteristik bencana, pengkajian / analisis risiko bencana, internalisasi penanggulangan bencana dalam muatan lokal pendidikan, pembentukan organisasi atau satuan gugus tugas bencana, perkuatan unit-unit sosial dalam masyarakat, seperti forum, pengarusutamaan penanggulangan bencana dalam perencanaan pembangunan.</p>
<p>Sedangkan tindakan pencegahan yang tergolong dalam mitigasi aktif antara lain, yaitu pembuatan dan penempatan tanda-tanda peringatan, bahaya, larangan memasuki daerah rawan bencana, pengawasan terhadap pelaksanaan berbagai peraturan tentang penataan ruang, ijin mendirikan bangunan (IMB), dan peraturan lain yang berkaitan dengan pencegahan bencana.</p>
<p>Pelatihan dasar kebencanaan bagi aparat dan masyarakat, pemindahan penduduk dari daerah yang rawan bencana ke daerah yang lebih aman, penyuluhan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat, perencanaan daerah penampungan sementara dan jalur-jalur evakuasi jika terjadi bencana, pembuatan bangunan struktur yang berfungsi untuk mencegah, mengamankan dan mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana, seperti: tanggul, dam, penahan erosi pantai, bangunan tahan gempa dan sejenisnya.</p>
<p>Kemudian, pada tahap ini juga diperlukan kesiapsiagaan. Kesiapsiagaan dilaksanakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda dan berubahnya tata kehidupan masyarakat.</p>
<p>Upaya kesiapsiagaan dilakukan pada saat bencana mulai teridentifikasi akan terjadi, kegiatan yang dilakukan antara lain, pengaktifan pos-pos siaga bencana dengan segenap unsur pendukungnya, pelatihan siaga / simulasi / gladi / teknis bagi setiap sektor, penanggulangan bencana (SAR, sosial, kesehatan, prasarana dan pekerjaan umum).</p>
<p>Inventarisasi sumber daya pendukung kedaruratan, penyiapan dukungan dan mobilisasi sumberdaya/logistik, penyiapan sistem informasi dan komunikasi yang cepat dan terpadu guna mendukung tugas kebencanaan. Penyiapan dan pemasangan instrumen sistem peringatan dini (early warning), penyusunan rencana kontinjensi (contingency plan), dan mobilisasi sumber daya (personil dan prasarana/sarana peralatan).</p>
<p>Tahap kedua dalam manajemen ini adalah penanggulangan. Pada tahap ini diperlukan adanya tanggap darurat. Tahap Tanggap Darurat merupakan tahap penindakan atau pengerahan pertolongan untuk membantu masyarakat yang tertimpa bencana, guna menghindari bertambahnya korban jiwa.</p>
<p>Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada sat tanggap darurat meliputi pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi kerusakan, kerugian, dan sumber daya; penentuan status keadaan darurat bencana; penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana; pemenuhan kebutuhan dasar; perlindungan terhadap kelompok rentan; dan pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital.</p>
<p>Selanjutnya, tahap ketiga dari manajemen ini adalah tahap pasca bencana. Pada tahap ini terdapat tahap pemulihan dan rekronstruksi. Tahap pemulihan meliputi tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Upaya yang dilakukan pada tahap rehabilitasi adalah untuk mengembalikan kondisi daerah yang terkena bencana yang serba tidak menentu ke kondisi normal yang lebih baik, agar kehidupan dan penghidupan masyarakat dapat berjalan kembali.</p>
<p>Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi, perbaikan lingkungan daerah bencana; perbaikan prasarana dan sarana umum; pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat; pemulihan sosial psikologis; pelayanan kesehatan; rekonsiliasi dan resolusi konflik; pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya; pemulihan keamanan dan ketertiban; pemulihan fungsi pemerintahan; dan pemulihan fungsi pelayanan publik.</p>
<p>Selanjutnya, tahap rekonstruksi merupakan tahap untuk membangun kembali sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana secara lebih baik dan sempurna. Oleh sebab itu pembangunannya harus dilakukan melalui suatu perencanaan yang didahului oleh pengkajian dari berbagai ahli dan sektor terkait.</p>
<p>Yang harus dilakukan dalam tahap ini adalah pembangunan kembali prasarana dan sarana; pembangunan kembali sarana sosial masyarakat; pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana; partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha dan masyarakat; peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya peningkatan fungsi pelayanan publik; atau peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat.</p>
<p>Disusun Oleh (*):<br />
Cikita Aidha Putri<br />
Nabilah Dina Humaidah<br />
Faulina Adma<br />
Belinnaya Rachmitha Primadhiati<br />
Riska Faradila<br />
Hany Lutfia</p>
<p>*) Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Program Studi Psikologi</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/bagaimanakah-ciri-penyintas-lansia-dalam-menghadapi-bencana-bagian-3-habis/">Bagaimanakah Ciri Penyintas Lansia dalam Menghadapi Bencana? (Bagian 3 &#8211; Habis)</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimanakah Ciri Penyintas Lansia dalam Menghadapi Bencana? (Bagian 2)</title>
		<link>https://prokabar.com/bagaimanakah-ciri-penyintas-lansia-dalam-menghadapi-bencana-bagian-2/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Dec 2021 00:39:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[#lansia]]></category>
		<category><![CDATA[#penyintas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=99248</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; Kejadian bencana alam berupa banjir, tanah longsor serta kebakan hutan dan lahan. Peristiwa yang terjadi pada banjir sebanyak 891 kejadian, 406 tanah longsor,...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/bagaimanakah-ciri-penyintas-lansia-dalam-menghadapi-bencana-bagian-2/">Bagaimanakah Ciri Penyintas Lansia dalam Menghadapi Bencana? (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left"><strong>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; Kejadian bencana alam berupa banjir, tanah longsor serta kebakan hutan dan lahan. Peristiwa yang terjadi pada banjir sebanyak 891 kejadian, 406 tanah longsor, 258 kebakaran hutan dan lahan. Hal ini banyak terjadi di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Aceh &#8230;&#8230;&#8230;..</strong></p>
<p>Bencana alam yang terjadi akibat ulah manusia yang pertama yaitu banjir. Banjir sering terjadi saat musim hujan dapat membuat bangunan dan tempat tinggal makhluk hidup rusak, lapisan tanah yang subur hilang karena terbawa arus air, serta tanaman menjadi rusak.</p>
<p>Selain karena ulah manusia, banjir juga dapat terjadi karena faktor alam, misalnya hujan terus menerus. Curah hujan yang tinggi membuat sistem pengaliran air yang dari sungai dan anak sungai alamiah meluap, serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan tidak mampu menampung akumulasi air hujan tersebut.</p>
<p>Secara umum, penyebab terjadinya banjir karena ulah manusia, seperti penebangan hutan secara liar tanpa reboisasi, membuang sampah sembarangan, pendangkalan sungai, pembuatan saluran air kurang baik.</p>
<p>Kedua adalah tanah longsor. Tanah longsor adalah salah satu jenis bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia selain gempa bumi, banjir, kekeringan, dan angin topan.</p>
<p>Bencana tanah longsor sering muncul di musim hujan, setelah musim kering yang menyebabkan permukaan tanah retak dan berpori. Saat tanah retak, maka air hujan makin mudah meresap ke bagian dalam tanah, membuat kandungan air dalam tanah menjadi jenuh.</p>
<p>Bencana alam yang terjadi akibat ulah manusia yang ketiga yaitu kebakaran hutan. Berikut penyebab terjadinya kebakaran hutan karena ulah manusia yaitu kecerobohan manusia dalam membuang puntung rokok sembarangan karena sering terjadi mereka membuang puntung rokok begitu saja tanpa benar-benar mematikannya.</p>
<p>Lupa mematikan api saat berkemah atau api unggun yang dinyalakan di perkemahan bisa bahaya jika tidak dimatikan dengan benar karena bisa memicu kebakaran hutan yang lebih luas, membakar sampah sering dilakukan oleh masyarakat, yang mana hal ini menjadi kebiasaan tanpa menyadari dampaknya seperti menyebabkan polusi udara hingga berisiko membakar hutan.</p>
<p>Seiring dengan banyaknya aktivitas manusia yang membuat lingkungan menjadi parah dan mengakibatkan kerusakan lingkungan sehingga memicu terjadinya bencana oleh ulah manusia itu sendiri, permasalahan yang tampak secara langsung mengakibatkan terjadi bencana ialah seringnya membuang sampah sembarangan.</p>
<p>Sampai saat ini permasalahan mengenai kondisi tersebut sulit untuk dicegah. Secara empiris mengenai efek kesehatan mental dari bencana buatan manusia pada orang dewasa yang lebih tua terkait dengan bencana alam, karena tidak mengungkapkan kerentanan diferensial yang konsisten terkait dengan usia.</p>
<p>Individu yang lebih tua ini lebih memiliki masalah kesehatan mental yang persisten, terutama gejala terkait kecemasan dan depresi berat lainnya. Oleh karena itu, diperlukannya upaya untuk mencegah bencana ini tidak terjadi dikarenakan oleh ulah manusia itu sendiri.</p>
<p>Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi terjadi banjir maupun longsor ialah dengan menjaga dan membersihkan saluran air agar tetap berjalan dengan baik tanpa adanya penyumbatan yang disebabkan sampah.</p>
<p>Bencana lainnya seperti longsor juga dapat dicegah dengan tidak menebang pohon sembarangan dan mendirikan bangunan di sekitaran sungai, untuk menjaga terjadinya banjir diupayakan juga untuk melakukan penyuluhan kepada warga. Kemudian, pencegahan pada kekeringan dapat kita lakukan dengan pembuatan waduk agar air selalu mengalir saat musim kemarau.</p>
<p>Dengan begitu, apapun bencana yang terjadi di sekitaran kita, hendaknya selalu menjaga lingkungan sekitar agar menjadi lebih baik dan dapat meminimalisir terjadi bencana.</p>
<p>Jenis bencana selanjutnya adalah bencana yang disebabkan kegagalan teknologi. Bencana ini adalah semua kejadian bencana yang diakibatkan oleh kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam penggunaan teknologi dan/atau industri.</p>
<p>Gagalnya sebuah sistem teknologi yang mengakibatkan terjadinya malapetaka teknologi (technological disaster) selalu bersumber pada kesalahan sistem (system error) yang bersumber pada desain sistem yang tidak sesuai dengan kondisi di mana sistem itu bekerja.</p>
<p>Hal ini terjadi karena perancangan sistem yang gagal mempertemukan sistem teknis dan sistem sosial. Hal yang demikian sering terjadi di Indonesia dan menjadi bencana yang mengakibatkan kerugian jiwa seperti kecelakaan transportasi (kapal laut, pesawat udara dan kereta api), kecelakaan industri (kebocoran gas, keracunan dan pencemaran lingkungan) dan kecelakaan rumah tangga (hubungan arus pendek listrik dan kebakaran).</p>
<p>Kegagalan teknologi transgenik juga merupakan salah satu ancaman potensial terkait dengan posisi Indonesia sebagai pasar yang terbuka terhadap produk &#8211; produk transgenik.</p>
<p>Kecelakaan transportasi merupakan bencana kegagalan teknologi yang paling sering terjadi di Indonesia dan setiap tahun tercatat rata-rata 30.000 nyawa melayang karena bencana ini. Dengan angka ini Indonesia menempati peringkat ketiga di ASEAN.</p>
<p>Diantara penyebab terjadinya kegagalan teknologi adalah adanya kebakaran, kecelakaan industri, kesalahan desain dan prosedur, kecelakaan transportasi, dan jebolnya bendungan.</p>
<p>Tingkat kerentanan bencana gagal teknologi ini bergantung pada 3 faktor, yaitu manusia sebagai pengguna teknologi, teknologi sebagai media yang digunakan, serta proses dan prosedur yang dijalankan.</p>
<p>Hingga saat ini pembuatan mengenai standar yang terkait dengan bencana gagal teknologi, sebagai misalnya kecelakaan industry, secara teoritik hancurnya bangunan industri atau alat transportasi atau mesin &#8211; mesin buatan manusia bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor dari luar, seperti gempa, faktor dari dalam, seperti bangunan yang sudah tua, dan faktor kesalahan manusia, seperti tidak menerapkan SOP pengelolaan terhadap teknologi tersebut.</p>
<p><strong><em>Bersambung ke bagian 3</em></strong></p>
<p><strong>Disusun Oleh (*):</strong><br />
Cikita Aidha Putri<br />
Nabilah Dina Humaidah<br />
Faulina Adma<br />
Belinnaya Rachmitha Primadhiati<br />
Riska Faradila<br />
Hany Lutfia</p>
<p><em>*) Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Program Studi Psikologi</em></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/bagaimanakah-ciri-penyintas-lansia-dalam-menghadapi-bencana-bagian-2/">Bagaimanakah Ciri Penyintas Lansia dalam Menghadapi Bencana? (Bagian 2)</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimanakah Ciri Penyintas Lansia dalam Menghadapi Bencana? (Bagian 1)</title>
		<link>https://prokabar.com/bagaimanakah-ciri-penyintas-lansia-dalam-menghadapi-bencana-bagian-1/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2021 23:12:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[#lansia]]></category>
		<category><![CDATA[#penyintas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=99197</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bencana merupakan sebuah peristiwa yang terjadi karena kehendak Allah SWT sehingga tidak bisa diduga kapan dan dimana bencana itu akan terjadi. Bencana itu sendiri...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/bagaimanakah-ciri-penyintas-lansia-dalam-menghadapi-bencana-bagian-1/">Bagaimanakah Ciri Penyintas Lansia dalam Menghadapi Bencana? (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong><em>Bencana merupakan sebuah peristiwa yang terjadi karena kehendak Allah SWT sehingga tidak bisa diduga kapan dan dimana bencana itu akan terjadi. Bencana itu sendiri didefinisikan sebagai suatu kejadian atau serangkaian kejadian yang dapat mengancam maupun mengganggu kehidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor dari alam atau faktor dari non-alam maupun faktor manusia sehingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda, kerusakan pada lingkungan, serta dampak psikologis (Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2021).</em></strong></p>
<p>Definisi tersebut menyatakan bahwa bencana itu disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor alam, faktor non alam, dan faktor yang berasal dari manusia. Selain itu berdasarkan United Nation Development Program (UNDP) yang menyatakan bahwa bencana merupakan suatu peristiwa ekstrem dalam cakupan lingkungan alam maupun lingkungan manusia yang menyebabkan kerugian serta dapat mempengaruhi kehidupan manusia, harta benda ataupun hingga tingkat yang dapat menyebabkan kesulitan atau kesusahan <em>(Salamor, dkk., 2020).</em></p>
<p>Dari beberapa definisi tersebut dapat diketahui bahwa bencana merupakan peristiwa yang dapat mengancam dan merugikan serta memberikan dampak negatif terhadap psikologis korban yang mengalaminya.</p>
<p>Dari berbagai peristiwa bencana yang terjadi dan dampak yang ditimbulkan, tentu memberikan duka yang berbeda-beda terhadap setiap orang yang menjadi korbannya. Seperti mengalami rasa takut yang berlebihan, merasa pada situasi yang tidak tenang, serta rasa kegelisahan yang selalu ada.</p>
<p>Selain itu hal yang juga dialami korban adalah sering mengalami panik yang berlebihan. Menurut Nawangsih (2014) serangan panik yang dialami individu dapat melibatkan reaksi kecemasan yang cukup intens dengan disertai simptom-simptom fisik berupa kesulitan bernafas, jantung berdebar-debar, banyak berkeringat serta merasa pusing dan lemas.</p>
<p>Selain itu juga disertai dengan perasaan takut yang luar biasa dan merasa adanya bahaya yang dapat mengancam dirinya yang diikuti dengan rasa ingin melarikan diri. Seperti pendapat yang disampaikan oleh Giller (2018) yang menjelaskan bahwa trauma psikologis adalah sebuah pengalaman individu ataupun suatu kondisi yang sedang dialami, yang mana individu tersebut akan merasa kesulitan secara emosi, fisik, serta kognitif yang mengakibatkan kemampuan dalam mengatasi kondisinya akan terganggu.</p>
<p>Selain itu trauma yang dimaksud merupakan respon emosional terhadap suatu peristiwa yang buruk ataupun kejadian yang tidak menyenangkan seperti kejahatan, kecelakaan, kejadian mengerikan, pencurian ataupun bencana alam lainnya.</p>
<p>Lansia menjadi salah satu kelompok rentan terhadap bencana yang dapat menimbulkan dampak pada dirinya sendiri baik secara fisik maupun psikologis. Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat Jannah, dkk (2021) bahwa usia rentan seperti lansia merupakan kelompok masyarakat yang tampak kurang siap dan lebih rentan terhadap bencana, serta banyak dampak yang mengancam lansia itu sendiri.</p>
<p>Selain itu menurut Surwaningsih, dkk. (2019) bahwa dampak yang ditimbulkan bencana itu seperti adanya korban yang meninggal dunia, cidera fisik, kerusakan rumah, kehilangan harta benda, kerusakan lahan, hilangnya mata pencaharian, kerusakan fasilitas umum seperti jalan dan gedung-gedung, dan masih banyak lainnya yang dapat merugikan korban yang mengalaminya.</p>
<p>Lansia dibandingkan dengan kelompok usia lain dalam suatu komunitas rentan untuk terisolasi secara sosial dan memiliki beberapa kondisi kronis, keterbatasan dalam melakukan melakukan aktivitas sehari-hari, penurunan penglihatan dan pendengaran, cacat fisik dan kognitif yang dapat menghambat kemampuan mereka dalam berkomunikasi, mempersiapkan diri, dan menanggapi suatu bencana alam yang terjadi<em> (Shih et al., 2018).</em></p>
<p>Dalam hal ini gangguan psikologis yang mungkin terjadi pada lansia sebagai korban pasca bencana adalah Post-Traumatic Syndrome Disorder atau yang dikenal sebagai PTSD. Seperti pendapat yang disampaikan oleh Mustikasari, dkk. (2018) bahwa ketika individu mengalami trauma yang berkepanjangan dan sampai dapat mengganggu kehidupan sehari harinya maka itu mengantarkan individu tersebut kepada Post-Traumatic Syndrome Disorder (PTSD) itu sendiri.</p>
<p>Post-Traumatic Syndrome Disorder (PTSD) merupakan suatu reaksi maladaptif yang bersifat berkelanjutan terhadap suatu kejadian atau peristiwa traumatis yang mengakibatkan cedera fisik yang serius atau suatu hal yang dapat mengancam keselamatan diri sendiri dan orang lain hingga bisa mengakibatkan kematian (Nevid, 2005 dalam Sakuma, dkk., 2020).</p>
<p>Hal tersebut menjelaskan bahwa Post-Traumatic Syndrome Disorder (PTSD) merupakan reaksi yang timbul pada diri individu yang diakibatkan terjadinya peristiwa traumatis seperti cidera fisik, bencana yang mengancam kehidupan serta kehilangan akibat kematian.</p>
<p>Dalam situasi tersebutlah sangat penting untuk lansia mendapatkan perhatian khusus dari orang terdekat dan masyarakat sekitar. Berbagai usaha dapat dilakukan dalam menangani dampak yang dirasakan oleh lansia akibat terjadinya bencana alam tersebut.</p>
<p>Pengalaman yang sudah dialami oleh lansia mungkin dapat membantu mengatasi peristiwa serupa di masa depan, beberapa bukti menunjukkan bahwa akumulasi trauma dan stres seumur hidup dapat meningkatkan kerentanan terhadap psikopatologi terkait bencana <em>(Shih et al., 2018).</em></p>
<p>Selain itu, faktor-faktor yang berkaitan dengan penuaan seperti keterbatasan fisik dan kognitif dapat mengganggu dan membatasi lansia dalam melakukan persiapan pra-bencana, respons ketika menghadapi bencana, dan penyesuaian pasca bencana terjadi sehingga memerlukan perhatian khusus dalam hal ini.</p>
<p>Berbagai organisasi yang terlibat dalam kesiapsiagaan bencana dapat digalakan sebagai upaya dalam kesiapsiagaan bencana pada lansia. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan keterlibatan sehari-hari lansia dengan keluarga, teman, tetangga, dan lembaga terpercaya yang mendukung kerja kesiapsiagaan organisasi dan lembaga lain dengan memperkuat ikatan informal dan membangun jaringan informasi.</p>
<p>Dengan demikian, hal tersebut dapat memberikan kesempatan bagi lansia untuk terlibat dengan orang lain dan mempelajari keterampilan yang dibutuhkan untuk tetap tinggal dengan aman di rumah seiring bertambahnya usia mereka (Shih et al., 2018).</p>
<p>Selain bencana yang diakibatkan oleh alam itu sendiri, bencana juga dapat disebabkan karena ulah manusia. Bencana ini terjadi karena ulah manusia yang dapat menyebabkan kerusakan maupun kematian pada korban bencana, hal ini dipicu dengan adanya perilaku masyarakat yang tidak tertib dan patuh akan kebersihan lingkungan sekitar.</p>
<p>Dengan terjadinya bencana tersebut, korban itu tidak hanya kehilangan harta benda saja, melainkan korban juga mengalami kerugian secara langsung dalam perekonomian, jumlah krisis ekonomi pada korban yang mengalami kejadian itu meningkat pada kondisi bencana tersebut.</p>
<p>Bencana alam mungkin memang peristiwa yang terjadi secara alami, namun tidak dipungkiri bahwa bencana alam terjadi akibat ulah manusia yang semena-mena terhadap lingkungannya. Bencana akibat manusia disebut man-made disaster, bencana yang diakibatkan oleh perbuatan manusia misalnya konflik horizontal, konflik vertikal dan terorisme<em> (Beach, 2010).</em></p>
<p>Namun, tak sedikit bencana alam yang terjadi karena ulah manusia yang abai terhadap alam, seperti banjir, kebakaran hutan hingga tanah longsor. Terjadinya bencana ini, memberikan dampak langsung dari berbagai kalangan. Ditinjau dari kesehatan lingkungan, sosial ekonomi, dan kondisi lingkungan membuat golongan dewasa akhir menjadi populasi yang berkembang pesat.</p>
<p>Bencana buatan manusia memiliki unsur dari niat manusia, kelalaian, dan kesalahan atau melibatkan kegagalan sistem (misalnya, terorisme, keruntuhan struktural, kecelakaan transportasi).</p>
<p>Dibandingkan dengan bencana alam, jauh lebih sedikit yang diketahui tentang efek dari bencana buatan manusia dalam kehidupan orang dewasa yang lebih tua. Baik kerugian materi maupun pribadi atau menyaksikan sisa-sisa manusia dikaitkan dengan diagnosis depresi pada individu yang lebih tua, sedangkan kerugian materi dikaitkan dengan depresi pada kelompok yang lebih muda.</p>
<p>Berdasarkan Badan Penanggulangan Bencana (BNPB), menyatakan bahwa bencana yang sering terjadi di Indonesia diakibatkan oleh ulah manusia. Bencana yang terjadi oleh ulah manusia ini diantaranya banjir, longsor, kebakaran hutan, kekeringan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Pada tahun 2020, peristiwa bencana ini mengalami penurunan presentase dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, bencana yang menjadi pusat utama peristiwa ini ialah banjir, puting beliung, dan tanah longsor. Data yang tercatat oleh BNPB terdapat 2.203 bencana alam yang telah terjadi di Indonesia, terhitung sejak 1 januri &#8211; 30 oktober 2021.</p>
<p>Kejadian bencana alam berupa banjir, tanah longsor serta kebakan hutan dan lahan. Peristiwa yang terjadi pada banjir sebanyak 891 kejadian, 406 tanah longsor, 258 kebakaran hutan dan lahan. Hal ini banyak terjadi di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Aceh.</p>
<p><em>Bersambung ke bagian 2</em></p>
<p><strong>Disusun Oleh:</strong><br />
Cikita Aidha Putri<br />
Nabilah Dina Humaidah<br />
Faulina Adma<br />
Belinnaya Rachmitha Primadhiati<br />
Riska Faradila<br />
Hany Lutfia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/bagaimanakah-ciri-penyintas-lansia-dalam-menghadapi-bencana-bagian-1/">Bagaimanakah Ciri Penyintas Lansia dalam Menghadapi Bencana? (Bagian 1)</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 45/48 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/7 queries in 0.005 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-08 07:46:05 by W3 Total Cache
-->