<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#patriaki Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/patriaki/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/patriaki/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 Dec 2023 06:53:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#patriaki Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/patriaki/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Budaya Patriarki yang Mendarah Daging di Indonesia</title>
		<link>https://prokabar.com/budaya-patriarki-yang-mendarah-daging-di-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi6]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Dec 2023 06:53:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#patriaki]]></category>
		<category><![CDATA[#Unand]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=117060</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kesetaraan gender saat ini menjadi salah satu isu yang sering diperbincangkan. Hal ini karena banyaknya kekerasaan, konflik, dan berbagai permasalahan lainnya yang ditimbulkan akibat...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/budaya-patriarki-yang-mendarah-daging-di-indonesia/">Budaya Patriarki yang Mendarah Daging di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kesetaraan</strong> gender saat ini menjadi salah satu isu yang sering diperbincangkan. Hal ini karena banyaknya kekerasaan, konflik, dan berbagai permasalahan lainnya yang ditimbulkan akibat adanya perbedaan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, atau disebut juga dengan budaya patriarki.</p>
<p>Patriarki berasal dari kata patriarkat yang memiliki arti bahwa laki-laki ditempatkan sebagai pusat atau memiliki kekuasaan lebih dibandingkan gender lainnya.</p>
<p>Budaya ini berpandangan bahwa perempuan memiliki tingkatan dibawah laki-laki dan memiliki batasan yang tidak dapat melampaui kedudukan laki-laki diatasnya.</p>
<p>Secara singkatnya budaya patriarki merupakan ketidaksetaraan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Perkembangan peradaban di Indonesia sulit untuk dilepaskan dari budaya patriarki, bahkan diturunkan oleh nenek moyang dari generasi ke generasi hingga saat ini.</p>
<p>Jika dilihat kebelakang, banyak kasus yang memperlihatkan laki-laki memiliki kekuasaan lebih tinggi dibandingkan perempuan.</p>
<p>Prakteknya dapat dilihat diberbagai agama seperti, Agama Yahudi menganggap perempuan dianggap sebagai sumber polusi dan najis, sehingga dilarang untuk menghadiri acara keagamaan.</p>
<p>Di Agama Budha di tahun 1500 SM, perempuan dinikahkan sebelum masa pubertas dan tidak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan.</p>
<p>Di Agama Islam ketika jaman jahiliah, anak perempuan yang lahir akan dibunuh karena dianggap lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk ikut berperang.</p>
<p>Di Indonesia ketika jaman penjajahan, perempuan dijadikan sebagai budak seks bagi tentara asing, serta adanya aturan bahwa perempuan tidak boleh mendapatkan pendidikan.</p>
<p>Berbagai pandangan inilah yang turun temurun diwariskan hingga saat ini.</p>
<p>Data yang dipaparkan oleh SIMFONI-PPA (kemenpppa 2023) menyebutkan bahwa jumlah kekerasan berbasis gender yang terjadi di Indonesia tahun 2023 sekitar 25.183 dimana sebanyak 5.210 korban laki-laki dan 22.176 korban perempuan.</p>
<p>Kekerasan yang dilakukan berupa kekerasan seksual, psikis, dan juga fisik. Data ini menunjukkan bahwa tingginya tingkat kekerasan terhadap perempuan hingga saat ini meskipun sudah memasuki era modern.</p>
<p>Tidak hanya hanya kekerasan pada perempuan, budaya patriarki juga memberikan dampak terhadap domestikasi pada perempuan yang merupakan berpandangan bahwa perempuan hanya sebagai makhluk yang berperan dalam urusan rumah tangga saja.</p>
<p>Sementara itu laki-laki berperan sebagai kepala keluarga dan bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga.</p>
<p>Pandangan seperti inilah yang menyebabkan laki-laki merasa memiliki kekuasaan lebih karena berkedudukan sebagai pemimpin dalam rumah tangga, sehingga memunculkan keegoisan dalam berbagai hal yang tak jarang menimbulkan kekerasan.</p>
<p>Mutia Ika pertiwi selaku Sekretaris Nasioanl Perempuan Mahardika menyebutkan bahwa penyebab dari berbagai kekerasan terhadap perempuan karena budaya patriarki yang sudah merekat di Indonesia.</p>
<p>Pemikiran yang menjadikan perempuan sebagai objektifikasi dimana tidak memiliki kontrol dan kuasa terhadap tubuhnya.</p>
<p>Selain kekerasan, diskriminasi kekuasaan juga terjadi pada perempuan di dunia pekerjaan. Laki-laki lebih cerdas, bijaksana, tidak menggunakan hati dalam mengambil keputusan dianggap lebih pantas memimpin suatu perusahaan dibandingkan perempuan yang selalu menggunakan hati, dinilai lemah, dan tidak berani.</p>
<p>Sehingga banyak perempuan yang hanya mendapatkan posisi sebagai pekerja biasa, buruh, dan sebagainya.</p>
<p>Seiring perkembangan zaman, berbagai konflik yang ditimbulkan dari budaya patriarki menimbulkan kesadaraan banyak pihak mengenai pentingnya kesetaraan gender dalam kehidupan.</p>
<p>Hal inilah memunculkan gerakan feminisme yang dilakukan oleh kaum perempuan untuk menghilangkan segala ketimpangan gender yang ada di masyarakat.</p>
<p>Pandangan ini sebenarnya sudah mulai digerakkan dimasa penjajahan oleh Raden Ajeng Kartini, seperti menulis buku yang berjudul “Habis Gelap, Terbitlah Terang”.</p>
<p>Buku ini membahas topik-topik yang relevan dengan kehidupan perempuan di masa penjajahan seperti pendidikan, perkawinan, kesetaraan gender, dan kebebebasan berbicara.</p>
<p>Gerakan tersebut diteruskan oleh para perempuan Indonesia dengan memperlihatkan kemampuan yang dimiliki bisa setara dengan laki-laki, bahkan bisa lebih baik lagi.</p>
<p>Hal ini terlihat dari partisipasi perempuan diberbagai ranah industri, seni, ketenagakerjaan, pemerintahan dan sebagainya yang menarik perhatian publik melalui tema “Women Empowermen”.</p>
<p>Tema ini ditujukan untuk melawan arus patriarki melalui berbagai karya seperti film, buku, ataupun lagu.</p>
<p>Kesetaraan gender juga sudah banyak disadari oleh para laki-laki. Hal ini tak luput karena adanya pengaruh media, pendidikan, edukasi yang diberikan pemerintah, serta banyaknya generasi muda yang lebih terbuka.</p>
<p>Oleh karena itu di era modern ini, tidak hanya perempuan yang menyuarakan hak-haknya, laki-laki yang memiliki pemahaman yang tinggi juga ikut mendukung kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga untuk seluruh dunia.</p>
<p>Meskipun sudah banyak gerakan dan kemajuan, perjuangan dalam mencapai kesetaraan gender harus terus digerakkan agar terciptanya dunia yang lebih adil bagi semua individu. <strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/budaya-patriarki-yang-mendarah-daging-di-indonesia/">Budaya Patriarki yang Mendarah Daging di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 27/43 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/11 queries in 0.026 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 22:09:09 by W3 Total Cache
-->