<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#otodidak Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/otodidak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/otodidak/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 01 Apr 2021 01:17:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#otodidak Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/otodidak/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pertanian Paninjauan, Kisah Petani Otodidak dan Produk yang Lintas Provinsi</title>
		<link>https://prokabar.com/pertanian-paninjauan-kisah-petani-otodidak-dan-produk-yang-lintas-provinsi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Mar 2021 13:15:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#otodidak]]></category>
		<category><![CDATA[#Paninjauan]]></category>
		<category><![CDATA[#Petani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=84255</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rizal Marajo Paninjauan, nama nagarinya. Letaknya di kaki gunung Marapi, dengan ketinggian 700-800 dpl. Udaranya sejuk dan bersih, bahkan seorang teman dari...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pertanian-paninjauan-kisah-petani-otodidak-dan-produk-yang-lintas-provinsi/">Pertanian Paninjauan, Kisah Petani Otodidak dan Produk yang Lintas Provinsi</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="wp-image-84272 alignleft" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/aq-251x300.jpg" alt="" width="144" height="172" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/aq-251x300.jpg 251w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/aq-768x917.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/aq.jpg 799w" sizes="(max-width: 144px) 100vw, 144px" />Oleh : <strong>Rizal Marajo</strong></p>
<p><strong>Paninjauan</strong>, nama nagarinya. Letaknya di kaki gunung Marapi, dengan ketinggian 700-800 dpl. Udaranya sejuk dan bersih, bahkan seorang teman dari negeri seberang yang datang bertamu spontan mengatakan, hawanya serasa berada di kawasan Batu, Malang.</p>
<p>Ibarat sekeping tanah surga yang diturunkan ke bumi. Indah alamnya, hijau, dan dari titik tertinggi akan terlihat keindahan Danau Singkarak nun jauh disana. Dan, tanahnya subur, para petaninya menikmati itu.</p>
<p>Petani dan pertanian itulah kata kuncinya, jika berbicara tentang Paninjauan. Mayoritas warganya menggantungkan hidup sebagai petani. Tanah yang subur, adalah aset bernilai tinggi, hadiah terbaik dari langit.</p>
<p>Bersua benar di Paninjauan idiom yang mengatakan; &#8220;Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu jadi tanaman.&#8221;</p>
<p>Disana apa yang ditanam akan tumbuh, menghasilkan, dan bisa memberi nilai lebih pada warganya. Kecuali karambie, tetap bisa tumbuh, tapi tak bisa berbuah di Paninjauan.</p>
<p>Pertanian di Paninjauan tak melulu soal sawah, padi, gabah, atau beras, yang selalu jadi objek ocehan para pakar dan pengamat pertanian kalau berbicara tentang statistik angka-angka pertanian.</p>
<p>Bagi petani Paninjauan, tanaman padi hanya selingan, karena yang lebih banyak adalah dijadikan lahan kering untuk tanaman palawija atau holtikultura.</p>
<p>Sawah dan tanaman padi sekaligus berfungsi untuk mengembalikan kesuburan tanah. Karena kalau terus-terusan dijadikan lahan kering, kesuburan tanah semakin lama kian berkurang, semakin kurus.</p>
<p>Faktanya, memang holtikultura lebih dominan di Paninjauan, bahkan bisa disebut brand-nya pertanian Paninjauan. Orang akan berbicara tentang pedasnya cabai Paninjauan, berkualitasnya sawi Paninjauan, hijaunya seledri Paninjauan, terkenalnya bawang daun Paninjauan, atau jahe Paninjauan yang selalu dicari.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-84258" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/31a88643-39f1-4c85-bcd1-d5a95936c440-300x142.jpg" alt="" width="585" height="277" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/31a88643-39f1-4c85-bcd1-d5a95936c440-300x142.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/31a88643-39f1-4c85-bcd1-d5a95936c440-1024x485.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/31a88643-39f1-4c85-bcd1-d5a95936c440-768x364.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/31a88643-39f1-4c85-bcd1-d5a95936c440.jpg 1040w" sizes="(max-width: 585px) 100vw, 585px" /></p>
<p>Jika Anda berada di Pasar Padang Luar, Koto Baru, atau Pasar Sayur Padang Panjang, mungkin sekitar 50-60 persen produk holtikultura yang beredar disana adalah hasil keringat para petani Paninjauan.</p>
<p>Di Pasar-pasar itu, truk-truk sayur siap membawa produk itu ke berbagai daerah, termasuk lintas Provinsi, seperti Riau atau Jambi. Tentunya juga dibawa ke kota-kota di Sumbar, Padang, Pariaman, Batusangkar, Solok, Painan, dan sebagainya.</p>
<p>Petani Paninjauan itu tidak hebat, tetapi ulet. Mereka para pekerja keras, walau belum begitu tersentuh inovasi dan teknologi pertanian. Bisa dikatakan mereka adalah orang-orang otodidak, dengan pola dan sistem pertanian yang turun temurun.</p>
<p>Seperti di tempat-tempat lain juga, mereka juga orang-orang yang selalu berkutat dengan permasalahan pupuk yang langka, pestisida yang mahal, atau selalu berhadapan dengan fluktuasi harga pasar yang begitu dinamis. Tapi mereka tak goyah oleh permasalahan itu.</p>
<p>Mereka tetap ke lahan dengan pola pertanian unik dan mungkin jarang ditemui di daerah lain. Mereka merasa enjoy bertani dengan style mereka. Mereka terbiasa membuat satu lahan mengisinya dengan beragam tanaman.</p>
<p>Dalam satu musim tanam, satu tahun misalnya, lahan itu diisi dengan tanaman yang bertingkat, dari umur panen paling singkat, sampai yang paling lama. Tak heran di satu lahan itu bisa ditemui 6-8 jenis tanaman. Semuanya menghasilkan profit.</p>
<p>Nyaris seragam, itulah cara kerja petani Paninjauan yang sistematis. Entah siapa yang mengajarkan, yang jelas pola itu bertahan sampai sekarang. Walaupun satu-satu sudah ada yang bereksperimen setelah belajar pada youtube.</p>
<p>Setelah lahan dipasangi plastik mulsa, tanaman pertama masuk adalah bawang daun. Disusul sawi dan seledri disemai. Setelah itu menyusul cabai dan terong. Ada juga yang mnyelingi di sekeliling pinggir parak dengan jagung manis, buncis, bahkan bengkoang. Terakhir,  barulah masuk jahe.</p>
<p>20 hari Sawi sudah panen. Jika dapat harga bagus, hasil dari sawi ini sudah bisa menutup sewa lahan.  Selederi, terong, dan bawang daun menyusul setelah itu. Jika sukses, pendapatan dari tiga jenis tanaman ini bisa menutupi biaya pupuk dan pestisida untuk tanaman utama, yakni cabai.</p>
<p>Tahap selanjutnya, tinggal menikmati hasil dari tanaman utama. Jika cabai harganya bagus, maka para petani akan &#8220;kaya mendadak&#8221;, setidaknya akan makmur sentosa selama masa panen cabai.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-84260" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/15356649_10207475959845147_70757212296587236_n-300x185.jpg" alt="" width="582" height="359" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/15356649_10207475959845147_70757212296587236_n-300x185.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/15356649_10207475959845147_70757212296587236_n-768x473.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/03/15356649_10207475959845147_70757212296587236_n.jpg 900w" sizes="(max-width: 582px) 100vw, 582px" /></p>
<p>Cukup sampai disitu? tentu saja belum, karena masih ada jahe sebagai &#8220;kacio&#8221; yang dibongkar paling terakhir.  Tanaman yang satu ini tak rewel, tak butuh perhatian khusus. Si Jahe ini cuma nebeng pupuk dan pestisida dari tanaman lain.</p>
<p>Jika harga jahe bagus, misalnya Rp20 ribu saja/kg, maka Jahe adalah sebuah bonus yang luar biasa. Jika lahan 25&#215;40 meter saja bisa menghasilkan 2 ton jahe, kalikan saja berapa hasilnya.</p>
<p>Nah, dengan pola pertanian yang natural dan otodidak seperti itu saja, petani Paninjauan bisa berbuat hal yang spektakuler. Tak bisa dibayangkan jika mereka disentuh oleh inovasi, teknologi, atau modernisasi pertanian.</p>
<p>Sepertinya nagari yang satu memang membutuhkan hal itu, supaya potensi pertanian yang begitu besar bisa dieksplorasi lebih maksimal.</p>
<p>Hanya saja, pertanian tetap bukanlah matematika. Tak ada hitung-hitungan pasti.  Ada kalanya sukses dan lancar jaya, tapi ada pula masanya tambin.  Kalau rezeki sedang bagus,  tanaman bagus dan dapat harga yang bagus. Maka petani pun tersenyum riang, rupiah pun mengalir lancar dan deras.</p>
<p>Sebaliknya kalau datang ujian, tanaman tak jadi tumbuh maksimal. Entah pupuknya yang terlambat, atau hama penyakit tanaman yang makin kebal, sehingga tak mempan lagi oleh pestisida yang sudah dibeli mahal-mahal. Belum lagi harga di pasar ikut terjerambab ke titik terendah, tambah litak tulang dibuatnya.<strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/pertanian-paninjauan-kisah-petani-otodidak-dan-produk-yang-lintas-provinsi/">Pertanian Paninjauan, Kisah Petani Otodidak dan Produk yang Lintas Provinsi</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 29/58 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/14 queries in 0.016 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-08 06:36:01 by W3 Total Cache
-->