<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#Margiono Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/margiono/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/margiono/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Feb 2022 08:40:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#Margiono Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/margiono/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ini Memoriam Margiono</title>
		<link>https://prokabar.com/ini-memoriam-margiono/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi6]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2022 08:40:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[#ilham bintang]]></category>
		<category><![CDATA[#Margiono]]></category>
		<category><![CDATA[#mbb]]></category>
		<category><![CDATA[#PWI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=100331</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selamat jalan Mas Margiono, wartawan senior, sejawat, sahabat, sosok hangat, yang berpulang ke Rakhmatullah Selasa (1/2) pagi pukul 09.45 WIB di RSPP Modular, Jakarta....</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/ini-memoriam-margiono/">Ini Memoriam Margiono</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Selamat</strong> jalan Mas Margiono, wartawan senior, sejawat, sahabat, sosok hangat, yang berpulang ke Rakhmatullah Selasa (1/2) pagi pukul 09.45 WIB di RSPP Modular, Jakarta. Ia mengembuskan nafas terakhir dalam usia 62 tahun. Meninggalkan isteri dan tujuh anak.</p>
<h4><strong>Mulanya, hanya mau kontrol di RS</strong></h4>
<p>Margiono masuk RSPP Modular, Jakarta, Sabtu (22/1) lalu. Ia pasien RS Eka BSD ( Bumi Serpong Damai) yang dirujuk ke RSPP Modular, Jakarta, karena terkonfirmasi Covid19.</p>
<p>Sabtu siang itu, Margiono ke RS Eka hanya untuk check up rutin. Ia memang mengidap sakit ginjal. Setahun terakhir ia rutin sebulan sekali kontrol di RS itu.</p>
<p>&#8220;Terkonfirmasi Covid19 pas siang itu di RS Eka. Papa tiba-tiba sesak nafas ketika tiba di RS. Dokter UGD kemudian melakukan swab PCR yang hasilnya positif,&#8221; cerita Rivo salah satu putra Margiono, Selasa (1/2) pagi, pertelepon.</p>
<p>Rivo mendapat berita duka tentang ayahnya langsung dari dokter di RSPP tadi pagi. Tidak lama setelah Margiono dinyatakan wafat. Rivo mengaku itu tidak ada keluarga yang sempat melepas kepergian Margiono, karena RS melarang pasien Covid19 ditunggui oleh keluarga.</p>
<p>Rivo terakhir ngobrol dengan ayahnya di kantornya, Sabtu (22/1) pagi di gedung Intermark, milik Margiono, di kawasan BSD.</p>
<p>&#8220;Baik saja. Tidak ada tanda menderita sakit. Kami ketemu jam 10 pagi. Sedangkan Papa ke ke RS Eka untuk kontrol pukul 13.30 hari itu. Malamnya baru ketemu lagi di RS, tapi tidak bicara apa-apa lagi,&#8221; cerita Rivo.</p>
<h4><strong>Semalam sempat membaik</strong></h4>
<p>Kondisi Margiono selama diopname di ICU RSPP setelah beberapa kali cuci darah, naik turun. Sempat membaik empat hari lalu. Ini menurut cerita Ratna Susilawati, salah satu direktur di &#8220;Rakyat Merdeka&#8221;, kelompok usaha milik Margiono.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah, kondisi Pak Margiono makin baik. Laporan dari dokternya saturasi bagus, semua parameter menunjukkan perbaikan. Mohon doa,&#8221; kata Ratna melalui chat di WhatsApp Sabtu (29/1) malam.</p>
<p>&#8220;Tadi malam juga kondisi Papa dilaporkan dokter, membaik. Tensi dan saturasi normal. Tapi kondisi itu tidak bertahan lama. Setelah itu tensinya drop lagi, berkisar 62/47, saturasi 88-90. Kemudian, pagi tadi dikabarkan telah tiada,&#8221; papar Rivo.</p>
<h4><strong>Pimpin PWI 2 Periode </strong></h4>
<p>Margiono adalah mantan Ketua Umum PWI Pusat dua periode.<br />
Dua periode dalam kepengurusan PWI Pusat (2008-2018) itu kami bahu membahu menjalankan roda organisasi wartawan tertua di Indonesia itu. Saya Sekretaris dan Ketua Dewan Kehormatan PWI. Ada masa-masa sulit, tapi kesulitan itu bisa dibuat mudah oleh Margiono. Bahkan pada priode kepemimpinannya iuran anggota yang sulit ditagih, dibebaskan. Free of charge.</p>
<p>Tidak hanya itu. Margiono sering pula membiayai atau sekurangnya menalangin kebutuhan dana organisasi PWI dari kantong pribadinya. Dan, itu sejak awal. Dimulai ketika terpilih sebagai Ketua Umum PWI di Kongres Aceh tahun 2008. Renovasi kantor PWI besar-besaran dibiayainya sendiri.</p>
<p>Sebagai Ketua Umum PWI Pusat, Margiono memang dibekali banyak &#8220;perlengkapan&#8221;. Nama dan reputasinya cukup membanggakan. Dia dikenal sebagai wartawan pemberani. Salah satu media yang dipimpinnya dulu, Majalah &#8220;Detektif Romantika&#8221; pernah bikin geger Indonesia. Sampul depannya menampilkan Presiden Soeharto dalam bingkai kartu King.</p>
<p>Seperti bisa ditebak, dan sudah diperhitungkannya, media itu memang kena breidel penguasa. Margiono juga dapat sanksi dari organisasi PWI.</p>
<p>Margiono adalah wartawan dan direksi group media besar &#8220;Jawa Pos&#8221;. Dua puluh tahun terakhir ia mengembangkan grup media sendiri Rakyat Merdeka. Media ini termasuk berani.</p>
<p>Pernah dalam satu kurun, terutama di awal-awal, Rakyat Merdeka menyajikan isu-isu sensitif yang menyerempet kekuasaan. Salah satu headline nya yang sempat digugat di pengadilan, berjudul &#8220;Megawati Minum Solar&#8221; terbit di masa pemerintahan Megawati sebagai Presiden RI.</p>
<p>Margiono cerita, masa itulah dia kebingungan. Bersamaan di satu hari medianya menghadapi sidang gugatan di banyak pengadilan. Untuk mengatasinya, dia pun memutuskan mengangkat 11 pemimpin redaksi.</p>
<p>&#8220;Supaya semua sidang gugatan bisa dilayani,&#8221; katanya.</p>
<p>Kenapa headline Rakyat Merdeka keras semua? Suatu kali ia ditanya itu.<br />
&#8220;Ini era yang kalau tidak berteriak keras, tidak ada yang mau perduli aspirasi rakyat,&#8221; alasannya.</p>
<p><strong>Kembang HPN</strong></p>
<p>Margiono telah tiada. Ia pergi sepekan sebelum peringatan Hari Pers Nasional 2022 di Kendari, 7-9 Februari mendatang.<br />
Salah satu daya tarik HPN selama masa kepemimpinannnya, adalah dirinya sendiri. Dia adalah &#8220;kembang&#8221; HPN.<br />
Kemampuannya berpidato memukau mulai wartawan muda dari daerah terpencil hingga orang nomer satu di republik ini.</p>
<p>Saya kira pidato itu salah satu yang akan dikenang banyak orang dari Margiono. Ia hanya bisa ditandingi oleh Tarman Azzam, dalam urusan pidato. Tarman adalah Ketua Umum PWI Pusat, juga dua periode, yang digantikan oleh Margiono. Tarman Azzam wafat 2016.</p>
<p>Pidato Margiono selalu dinanti. Tadi pagi saya sempat jogging dengan Marah Sakti Siregar, wartawan senior, mantan Ketua PWI Jaya. &#8220;Masih ada nggak daya tarik HPN sekarang tanpa pidato Margiono,&#8221; tanyanya. Satu jam setelah itu Marah pula orang pertama mengirimi saya kabar duka mengenai Margiono.</p>
<p>Tidak berlebihan mengatakan memang banyak yang menghadiri HPN, di mana pun acaranya diselenggarakan, karena mau dengar pidato Margiono. Ah, saya masih terbayang gesture Margiono tiap kali berpidato. Bagaikan aktor Stand Up Komedi menyihir audience.</p>
<p>Margiono sosok wartawan yang sukses sebagai jurnalis dan pengusaha media. Ia mengawali kariernya dari bawah. Makanya ia dekat dengan bawahan. Sikap egaliter itu terbawa hingga menjadi boss besar di kerajaan medianya.<br />
Kebetulan hobbi makan pula. Seperti ditulis Dahlan Iskan, mantan bossnya di Jawa Pos, Margiono cuma mengenal dua kategori makanan. Enak dan enak sekali. Hobbi makan itu menambah sarananya untuk intens bergaul dan urun rembuk dengan para karyswab dan wartawannya. Ketika memimpin PWI ia berlaku seperti itu juga. Mengutamakan kebersamaan dan mau mendengar curahan hati maupun kritik. Lapang dada menerima koreksi dan kritik terhadapnya. Saya termasuk yang sering melakukannya.<br />
Margiono paham para pengurus PWI datang dari berbagai latar belakang dan pengalaman. Ia tidak menjadikan itu kendala, tetapi dihadapi sebagai kelebihan. Mendengar masukan dan aspirasi seluruh pengurus, dia anggap memudahkan pekerjaannya. Tak percaya? Faktanya banyak hasil rapat PWI yang digodok dalam diskusi para pengurus, tinggal dibungkus Margiono. Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.</p>
<p>Dia mendesain ruang rapat yang besar dan nyaman di kantor PWI Pusat untuk tujuan itu. Agar seluruh komponen pengurus membiasakan diri mengambil keputusan dari mendengar banyak masukan. Caranya, ya itu tadi : melibatkan semua komponen ambil peran. Memberi masukan dan pertimbangan. &#8220;Artinya putusan itu adalah tanggung jawab bersama. Tidak ada yang merasa ditinggal,&#8221; katanya.</p>
<p>Margiono telah pergi. Rasanya cuma sekejap saja. Semoga almarhum mendapat tempat lapang, nyaman, dan indah di sisi Allah SWT. <strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/ini-memoriam-margiono/">Ini Memoriam Margiono</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>​Mokasih Margiono</title>
		<link>https://prokabar.com/%e2%80%8bmokasih-margiono/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[prokabar]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Feb 2018 06:19:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[#IlhamBintang]]></category>
		<category><![CDATA[#Margiono]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<category><![CDATA[#PWI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=4155</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Ilham Bintang Margiono bisa dicatat sebagai salah satu wartawan yang ikut menggelindingkan reformasi untuk menggantikan pemerintahan Orde Baru lewat medianya.&#160; Salah satu karya...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/%e2%80%8bmokasih-margiono/">​Mokasih Margiono</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Ilham Bintang<br />
Margiono bisa dicatat sebagai salah satu wartawan yang ikut menggelindingkan reformasi untuk menggantikan pemerintahan Orde Baru lewat medianya.&nbsp;</p>
<p>Salah satu karya jurnalistiknya pernah menggegerkan Tanah Air di ujung pemerintahan rezim Orde Baru . Majalah D&amp;R miliknya menyajikan cover story tentang Pak Harto. Covernya &nbsp;: gambar Presiden Soeharto berpakain raja dalam kartu King.&nbsp;</p>
<p>Tindakan itu luar biasa berani di tengah kekuasan rezim &nbsp;Orde Baru.&nbsp;</p>
<p>Departemen Penerangan kemudian membatalkan SIUPP majalah tersebut, &nbsp;dan tamatlah riwayat D&amp;R.&nbsp;</p>
<p>Saya berkenalan pertama kali dengan &nbsp;Margiono saat bertemu di PWI Jaya untuk mendiskusikan kasus itu.&nbsp;</p>
<p>Semakin &nbsp;akrab setelah kami bergabung &nbsp;dalam kepengurusan Tarman Azzam priode kedua, 2003 &#8211; 2008. Margiono Ketua Bidang Daerah PWI Pusat.&nbsp;</p>
<p><b>Bersedia dikoreksi</b></p>
<p>Ketika Margiono terpilih pertama kali sebagai Ketua Umum dalam Kongres PWI di Aceh 2008, saya duduk &nbsp;sebagai Sekretaris Dewan Kehormatan mendampingi Tarman Azzam sebagai ketuanya. Berlanjut pada Kongres PWI di Banjarmasin, September 2013.&nbsp;</p>
<p>Menjelang rapat pemilihan pengurus priode baru, mantan pria rendah hati ini memberi tahu &nbsp;katanya ia dititipi dari mayoritas pengurus PWI Cabang yang menginginkan saya maju jadi Ketua Dewan Kehormatan PWI.&nbsp;</p>
<p>Ketua Umum dan Ketua Dewan Kehormatan memang dipilih kongres yang pesertanya seluruh &nbsp;pengurus cabang &nbsp;PWI.&nbsp;</p>
<p>Permintaannya &nbsp;tidak langsung saya penuhi. Sempat saya tanya &nbsp;banyak hal dan kami diskusikan bersama.&nbsp;</p>
<p>Juga soal sensitif ini : dapatkah &nbsp;yang bersangkutan menerima &nbsp;koreksi jika melakukan kekeliruan. Saya ingat pesan leluhur dari tanah Bugis : &#8221; jangan bermitra dengan orang yang tidak berani kau lawan berkelahi.&#8221;</p>
<p>Berkelahi di sini bukan konteksnya fisikal. Mungkin terjemahannya &nbsp;di zaman now, harus berani &nbsp;mengingatkan kawan seiring supaya tidak melenceng saat mengemban amanah. Hanya dengan cara itulah manfaat kolaborasi atau bekerjasama bisa dicapai. Margiono setuju.&nbsp;</p>
<p><b>Cium tangan</b></p>
<p>Margiono &nbsp;teman yang menyenangkan memang. Tidak usil, tidak cerewet dan tidak suka &nbsp;kasak &#8211; kusuk. Rendah hati pula. Sangat hormat pada senior. Tak sungkan dia mencium tangan orang yang dihormatinya. Ketika fotonya beredar mencium tangan Presiden SBY nitizen di sosial media geger, &nbsp;juga &nbsp;kawan-kawan internal PWI sempat menggunjingkan dia. Padahal, itu lazim saja bagi orang yang dididik di lingkungan pesantren. Cium tangan tanda penghormatan, bukan simbol menghamba.</p>
<p>Dalam rapat pun ia irit bicara, &nbsp;tidak njelimet. Dia percaya saja laporan teman-teman pengurus lain tanpa banyak cincong. Meski, sesekali juga ia dapati fakta di lapangan berbeda dengan yang dilaporkan. &nbsp;Sebaliknya Margiono malah rikuh hadapi beberapa gelintir oknum yang menghamba kepada dia. Sebab motifnya beda, bukan penghormatan. Dalsm melaksanakan prinsip kerja pers secara profesional, dia &nbsp;keras. Dia tahu fungsi pers sebagai alat kontrol kekuasaan.</p>
<p>Koran &#8220;Rakyat Merdeka&#8221; miliknya identik betul dengan sikap dan gaya Margiono. Judul headlinenya khas, tajam tapi lucu. Saya masih ingat headline &nbsp;RM : &#8220;Mulut Megawati Bau &nbsp;Solar&#8221;. Headline itu disiarkan di masa pemerintahan Presiden Megawati, untuk menyindir kenaikan BBM.</p>
<p>Di tahun-tahun awal &#8220;Rakyat Merdeka&#8221; terbit Margiono cukup repot melayani &nbsp;sumber berita &nbsp;yang memperkarakannya. Alhasil, Koran Rakyat Merdeka satu-satunya media di dunia ini yang pernah punya sebelas pemimpin redaksi.&nbsp;</p>
<p>&#8221; Setiap hari bisa sampai 11 perkara yang harus dihadapi di Pengadilan atau panggilan pemeriksaan polisi. Makanya angkat saja sebelas pemimpin &nbsp;redaksi,&#8221;katanya suatu hari. Tapi, dia tidak mengeluh.</p>
<p>Salah satu acara menarik tiap kali perayaan HPN adalah mendengarkan &nbsp;pidatonya. Tak berlebihan jika ada audiens yang jumlahnya cukup besar &nbsp;hadir di HPN khusus &nbsp;untuk mendengar pidatonya semata.&nbsp;</p>
<p>Tanpa terasa tahun ini sudah dua priode atau sepuluh tahun Margiono menjabat Ketua Umum PWI. Pria kelahiran Tulung Agung 58 tahun lalu itu akan mengakhiri masa baktinya sebagai Ketua Umum &nbsp;PWI pada bulan September mendatang. Tetapi karena ia akan maju sebagai calon Bupati di daerah kelahirannya dalam kontestasi Pilkada, maka terhitung 12 Februari 2018 ia &nbsp;non aktif. Pelaksana Tugas Ketua Umum PWI &nbsp;telah diputuskan dalam rapat pleno PWI. &nbsp;Yaitu : Sasongko Tedjo, &nbsp; Ketua Bidang Organisasi. Penunjukan ini seduai preseden yang pernah terjadi di masa Ketua Umum PWI Harmoko. Tahun 1983 Harmoko diangkat sebagai Menteri Penerangan, Ketua Bidang Organisasi ( Atang Ruswita) &nbsp;yang menggantikannya. Sasongko adalah mantan Pemred Harian Suara Merdeka, Semarang.</p>
<p><b>Pidato terakhir</b></p>
<p>Pidato di HPN 2018 Padang 9 Februari lalu sekaligus pidato terakhir Margiono sebagai Ketua Umum PWI dan Penanggung Jawab &nbsp;HPN.&nbsp;</p>
<p>Gaya pidato ketika tampil di HPN Padang memang tidak berubah, kata-katanya tetap tertata rapi disampaikan dengan gaya bertutur. Dia bisa mengatur naik turun emosi pendengarnya.Ia memang dalang. Dalang wayang sesungguhnya yang biasa mengatur konstruksi &nbsp;dramatik cerita wayang.&nbsp;</p>
<p>Namun, entah &nbsp;dapat wangsit darimana, hari itu isi pidato Margiono sarat &nbsp;muatan politis praktis. Bersebaran pujian kepada Presiden Jokowi. Berbanding terbalik dengan pidato-pidato sebelumnya yang sarat muatan kritik kepada penguasa dan kekuasaan.&nbsp;</p>
<p>Saya menduga dia kebablasan hari itu. Tak menyadari materi pidatonya menyimpang seakan dia tim sukses mengkampanyekan Jokowi menjadi presiden RI untuk dua priode. Ia mengajak pula seluruh masyarakat Sumatera Barat untuk memilih Jokowi. Ini jelas mubazir. Membentur kultur orang Minang yang sensitif dalam soal memilih pemimpin. Masyarakat Padang dikenal sebagai paling demokratis di Tanah Air. Tak mempan dibujuk, diperdaya apalagi didikte. Mereka punya ungkapan nyelekit menyindir &#8220;Alun takile&#8217; alah takalam&#8221; artinya &nbsp;belum kelihatan sudah terbaca . Soal memilih pemimpin mereka cukup &nbsp;minum kopi sambil maota sudah ketahuan apa pilihannya. Kurang apa tim sukses pasangan Jokowi -JK pada Pilpres 2014, di Sumbar itulah justru mengalami &nbsp;kekalahan telak.&nbsp;</p>
<p>Sebagai wartawan Margiono juga tahu persis : haram bagi wartawan jadi partisan. &nbsp;</p>
<p>Amanah pasal 1 KEJ : wartawan bersikap obyektif, independen dan selalu menjunjung tinggi kode etik profesi. Apalagi sepekan sebelum HPN 2018 di Padang, Dewan Kehormatan PWI mengeluarkan maklumat agara di tahun politik wartawan harus obyektif, bersikap independen dan menjungjung tinggi kode etik jurnalistik.</p>
<p>Tak sak lagi, menit itu juga pidato Margiono yang mengkampanyekan Jokowi langsung disantap dan dikunyah- dikunyah oleh nitizen di media sosial.&nbsp;</p>
<p>Sampai hari ini, &nbsp;soal itu masih menjadi sorotan di media sosial. Bukan hanya Margiono yang dibully dengan kata-kata kasar, tetapi juga institusi PWI. Kritik terhadap organisasi wartawan terbesar ini lebih parah. Sampai ada yang memplesetkan &nbsp;PWI dengan kasar, seperti &#8221; Partai Wongjilat Indonesia&#8221;.</p>
<p>Rasanya belum pernah PWI mengalami gelombang reaksi sebesar ini gara &#8211; gara pidato ketua umum. PWI &nbsp;pernah hadapi kritik keras pada masa reformasi. Sampai dituntut mau dibubarkan karena digolongkan seperti Golkar : dianggap bertanggung jawab atas kerusakan tatanan berbangsa. Itu akibat &nbsp;kedekatan elit pengurus PWI dengan pemerintah seluruh wartawan kena getahnya. Beruntung &nbsp;waktu itu belum ada media sosial seperti sekarang yang membuat hujatan di media sosial bisa &nbsp;mengejar dimana pun kita berada.</p>
<p>Margiono mustahil lupa pada sejarah kelam yang pernah dilalui PWI karena ulah sebagian elit yang berselingkuh dengan kekuasaan. Dia sendiri pernah merasakan pahitnya akibat perselingkuhan itu.Dulu medianya dibredel dan puluhan media lainnya. Itu yang menjelaskan sejak reformasi PWI sudah talaktiga dengan &nbsp;kekuasaan. &#8220;Rakyat Merdeka &#8221; nama surat kabarnya, jelas sekali maknanya apa.</p>
<p>Ribuan mention di akun twitter dan FB saya mempertanyakan pidato Ketua Umum PWI di Padang. Sebagian juga dengan kata-kata kasar.&nbsp;</p>
<p>Untuk sementara saya cuma menjawab begini. &nbsp;Dalam Kode Etik Jurnalistik wartawan &nbsp;dituntut bersikap independen. Jika &nbsp;tidak independen berarti bukan wartawan. Saya berharap dengan jawaban itu semua orang bisa mengerti, bisa paham yang mereka soal itu hanya pandangan pribadi &nbsp;Margiono. Bukan pandangan komunitas pers. Komunitas pers di Indonesia ini banyak. PWI cuma salah satu. Secara &nbsp;institusi PWI tentu tidak membenarkan wartawan bersikap partisan karena itu pelanggara berat &nbsp;kode etik jurnalistik.&nbsp;</p>
<p>Secara universal etika memang &nbsp;mahkota wartawan. Kode etik adalah konsep operasional wartawan. Kedudukannya di atas aturan lain bahkan aturan hukum. Apalagi sekedar Peraturan Dasar/ Peraturan Rumah Tangga organisasi.&nbsp;</p>
<p>Senin, 12 Februari Margiono resmi non aktif sebagai Ketua Umum PW. Mokasih Margiono. Bagaimanapun mantan pemred Jawa Pos ini &nbsp;telah &nbsp;berjasa &nbsp;menakhodai PWI selama 10 tahun dan terutama memelihara semangat di masa-masa yang cukup sulit.</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/%e2%80%8bmokasih-margiono/">​Mokasih Margiono</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 31/63 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/12 queries in 0.019 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 22:10:32 by W3 Total Cache
-->