<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#maracanazo Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/maracanazo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/maracanazo/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Jun 2026 16:10:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#maracanazo Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/maracanazo/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kolom: Ragam Kejutan di Piala Dunia, dari Tragedi Maracanazo Sampai Keajaiban Cape Verde</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-ragam-kejutan-di-piala-dunia-dari-tragedi-maracanazo-sampai-keajaiban-cape-verde/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2026 16:10:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[#cape verde]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#maracanazo]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=134834</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama) Setiap edisi Piala Dunia selalu punya cerita sendiri. Diantara cerita-cerita itu, selalu ada kejutan-kejutan yang tak terduga dan akan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-ragam-kejutan-di-piala-dunia-dari-tragedi-maracanazo-sampai-keajaiban-cape-verde/">Kolom: Ragam Kejutan di Piala Dunia, dari Tragedi Maracanazo Sampai Keajaiban Cape Verde</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="wp-image-134509 alignleft" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-256x300.jpg" alt="" width="148" height="173" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-256x300.jpg 256w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-872x1024.jpg 872w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-768x902.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-1308x1536.jpg 1308w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-1744x2048.jpg 1744w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-800x939.jpg 800w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1.jpg 1890w" sizes="(max-width: 148px) 100vw, 148px" />Oleh: <strong>Rizal Marajo (Wartawan Utama)</strong></p>
<p>Setiap edisi Piala Dunia selalu punya cerita sendiri. Diantara cerita-cerita itu, selalu ada kejutan-kejutan yang tak terduga dan akan selalu dikenang, bahkan tercatat dalam sejarah Piala Dunia.</p>
<p>Sejak penyelenggraaan Piala Dunia pertama tahun 1930 sampai edisi 2026 yang sedang berjalan sekarang, tercatat sejumlah kejutan besar.</p>
<p>Dimulai dari Piala Dunia tahun 1950, ketika Brasil sudah bersiap-siap berpesta juara di rumah kebanggaannya Stadion Maracana. Brasil sebenarnya hanya butuh hasil imbang melawan Uruguay di laga terakhir untuk jadi juara.</p>
<p>Siapa sangka, Uruguay yang &#8220;dikepung&#8221; dan diteror 100 ribu pendukung Brasil di Stadion terbesar dunia masa itu, justru mengalahkan Brasil 2-1, dan tampil sebagai juara. Seketika Maracana hening seperti kuburan, karena Brasil sudah yakin 100 persen bakal juara.</p>
<p>Namun, sepakbola adalah tempat hadirnya keajaiban dan kejutan tak terduga. Kejutan itu masih membekas dihati masyarakat Brasil sampai saat ini. Mereka menyebutnya Maracanazo, atau tragedi Maracana.</p>
<p>Setelah itu kejutan demi kejutan terus terjadi di setiap edidi Piala Dunia. Misalnya, masih tahun 1950, Amerika Serikat yang timnya diisi pemain amatiran dan bekerja paruh waktu, justru mampu menjungkalkan Inggris yang diisi pemain top dan profesional.</p>
<p>1966, tim antah berantah Korea Utara mengguncang Piala Dunia yang digelar di Inggris itu. Meraka mampu mengalahkan Italia salah satu tim calon juara 1-0 lewat gol Park do Ik. Tidak hanya mengirim Italia pulang, Korea Utara lolos ke babak berikutnya.</p>
<p>Mereka nyaris membuat kejutan lagi, melawan Portugal yang diperkuat pemain terbaik dunia saat itu Eusebio. Korea utara langsung unggul 3-0 dan membuat dunia melongo seakan tak percaya dengan aksi negara yang tertutup dari dunia luar itu.</p>
<p>Tapi beruntung Portugal punya Eusebio, yang kemudian mengamuk mencetak empat gol dan membalikan keadaan menjadi kemenangan Portugal 5-3 dengan satu gol tambahan dari Agusto. Kejutan Korea Utara pun terhenti dalam sebuah pertandingan paling mendebarkan sepanjang sejarah Piala Dunia.</p>
<p>Aljazair datang bikin heboh Piala Dunia 1982 dengan mempermalukan Jerman Barat 2-1. Ini aib tak terkira bagi Jerman Barat yang berstatus juara Eropa 1980. Kekalahan ini nyaris membuat Jerman Barat teringkir, kalau saja mereka tak bermain mata dengan Austria di laga terakhir grup untuk menyingkirkan Aljazair. Ini juga menjadi salah satu skandal terbesar di Piala Dunia.</p>
<p>Moment kejutan yang monumental juga tersaji di laga pembuka Piala Dunia 2002, tatkala Senegal sebagai tim debutan dari Afrika, mampu mempermalukan Prancis yang sarat bintang sekaligus juara bertahan. Efek dari kekalahan itu, Prancis gagal lolos ke babak gugur.</p>
<p>Masih tahun 2002, tak kalah mengerikan aksi tuan rumah Korea Selatan yang melaju sampai semifinal, dengan menyingkirkan tim-tim elit Eropa seperti Spanyol dan Italia. Tim Asia lolos ke semifinal adalah sebuah kejutan besar di arena sekelas Piala Dunia.</p>
<p>12 tahun kemudian, tepatnya Piala Dunia Brasil 2014. Tuan rumah Brasil yang tengah berambisi meraih gelar juara untuk menebus tragedi Maracanazo 1950, justru kembali menelan pil pahit. Di semifinal, di Stadion Maracana juga, Brasil tanpa ampun dibantai Jerman 1-7.</p>
<p>Jerman memang bukan tim kecil, tetapi kalah dengan skor itu di Maracana adalah aib yang tak terkira dan tak masuk akal bagi publik Brasil. Bahkan mereka menyebutnya sebagai tragedi Maracana jilid 2.</p>
<p>Kejutan terbesar lainnya yang tak akan terlupakan sepanjang sejarah Piala Dunia adalah kemenangan Arab Saudi atas Argentina dengan skor 2-1 pada fase grup Piala Dunia Qatar 2022. Saat itu, Argentina datang sebagai juara bertahan Copa America dan tim unggulan dengan rekor tak terkalahkan dalam 36 pertandingan, namun secara dramatis ditumbangkan oleh Arab Saudi.</p>
<p>Kini, di Piala Dunia 2026, kalau bicara kejutan atau keajaiban mungkin tak bisa dipungkiri itu adalah sepak terjang negara bernama Cape Verde.</p>
<p>Cape Verde atau orang Indonesia menyebutnya Tanjung Verde, mungkin banyak orang mengerinyitkan jidatnya. Dimana negara itu dan kenapa bisa-bisanya ikut Piala Dunia. Sejak zaman Nabi Adam nyaris tak terdengar kiprahnya di sepakbola, tiba-tiba ikut Piala Dunia 2026.</p>
<p>Tidak sekadar ikut, tapi langsung membuat orang terheran-heran dengan aksinya tak terkalahkan di Grup H. Selain menahan imbang dua mantan juara dunia Spanyol dan Uruguay, mereka juga berbagi angka dengan Arab Saudi. Tiga angka yang membuat tim ini lolos ke babak berikutnya atau fase gugur di 32 besar.</p>
<p>Jika dilihat negaranya, Cape Verde hanya negara dari kepulauan kecil di lepas pantai barat Afrika. Ibu kotanya Praia, dan penduduknya hanya 500 ribu orang. Tapi hal itu tak membuat negara kurcaci itu takut membuat sejarah.</p>
<p>Timnas Cape Verde bukanlah tim yang dibangun di atas kemewahan. Ratusan tahun lalu, kepulauan ini hanya hamparan tanah tak berpenghuni di Samudra Atlantik. Kedatangan bangsa Eropa pada abad ke-15 mengubahnya menjadi pusat perdagangan budak. Itu sejarah kelam yang membentuk identitas dan daya juang rakyatnya hingga hari ini.</p>
<p>Dalam dunia sepakbola, Cape Verde lama berkutat di bawah bayang-bayang raksasa Afrika seperti Nigeria, Ghana, Maroko, atau Pantai Gading. Pertandingan internasional pertama mereka baru dimainkan pada 1978, dan selama bertahun-tahun nama Cape Verde nyaris tak terdengar di percaturan sepakbola Afrika, apalagi level dunia.</p>
<p>Pasti banyak yang bertanya-tanya dari mana datannya pemain-pemain Cape Verde, disaat mereka bahkan tak punya liga domestik sendiri. Ternyata, berabad-abad sebagai jalur persinggahan bangsa Eropa membuat keturunan Cape Verde tersebar luas terutama di Portugal, Belanda, dan Prancis.</p>
<p>Beberapa di antara mereka berkarier sebagai pesepakbola profesional di liga-liga top Eropa. Hal inilah yang disambar Federasi Sepakbola Cape Verde yang menjalankan program rekrutmen pemain diaspora secara selektif dan terencana.</p>
<p>Persis seperti yang saat ini lakukan Indonesia melalui PSSI yang memburu para diaspora untuk membangun Timnas. Bedanya, jika program diaspora Cape Verde sudah berbuah tampil di Piala Dunia, Indonesia masih harus bersabar menunggu giliran.</p>
<p>Cape Verde tidak melakukan naturalisasi asal-asalan, melainkan pembangunan identitas tim yang punya akar kuat namun kaki yang berpijak di tanah sepakbola Eropa. Inilah cikal bakal terbentuknya timnas Cape Verde yang hari ini membuat heboh Piala Dunia 2026.</p>
<p>Hari ini, dunia mulai melirik serius ke pulau kecil di lepas pantai barat Afrika itu. Ramai-ramai berselancar di dunia internet untuk memburu apa saja tentang negara bernama Cape Verde, khususnya tenatang sepakbolanya.</p>
<p>Lolos ke babak 32 besar, tentunya bukan akhir cerita negara kecil ini. Justru di sinilah keajaiban Cape Verde di Piala Dunia 2026 mencapai puncaknya. Berjuluk tim &#8220;Hiu biru&#8221; atau Blue Sharks, kini mereka akan berhadapan dengan Argentina di 32 besar.</p>
<p>Melawan Argentina di pentas Piala Dunia, mungkin ini sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikiran dan mimpi pemain-pemain Cape Verde. Tapi keajaiban itu datang, mereka akan melawan tim juara bertahan Piala Dunia dan dihuni sederet pemain terbaik dunia. Apakah kejutan ala Cape Verde akan berlanjut?</p>
<p>Bagi banyak pengamat sepakbola, melawan Argentina dengan Lionel Messi-nya mungkin itu adalah undian terburuk yang mungkin mereka dapatkan. Tapi bagi rakyat Cape Verde, itu adalah anugerah.</p>
<p>Bahkan Presiden Cape Verde Jose Maria Neves angkat bicara atas prestasi 26 pemauda terbaik bangsanya itu. “Jika hari ini, 50 tahun setelah merdeka, kita berada di Piala Dunia, kita telah membuktikan diri sebagai bangsa yang mampu bersaing,” tegas sang Presiden sedikit lebay.</p>
<p>Faktanya, kecil bukan berarti harus minder. Secara historis, Cape Verde kini berdiri di posisi yang sangat langka, yakni negara terkecil kedua berdasarkan populasi yang pernah tampil di Piala Dunia. Mereka hanya kalah kecil dari Islandia tahun 2018.</p>
<p>Di Afrika, mereka adalah yang terkecil yang pernah mencapai turnamen ini. Namun angka-angka itu hanyalah konteks. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi di dalam jiwa sebuah bangsa ketika mimpi yang dulu terasa mustahil akhirnya terrwujud dan nyata, bukan mimpi lagi.</p>
<p>Sementara negara-negara dengan populasi ratusan juta jiwa masih berjuang untuk sekadar lolos kualifikasi. Cape Verde dengan penduduk lebih sedikit dari satu Kabupaten di Sumatra Barat. Bahkan setara populasi sebuah kecamatan di DKI Jakarta sudah berdiri di panggung terbesar sepakbola dunia.</p>
<p>Tanpa terkalahkan sejauh ini. (*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-ragam-kejutan-di-piala-dunia-dari-tragedi-maracanazo-sampai-keajaiban-cape-verde/">Kolom: Ragam Kejutan di Piala Dunia, dari Tragedi Maracanazo Sampai Keajaiban Cape Verde</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Features: Maracanazo, Tragedi Sepakbola Brasil dan Pemain-pemain Timnas Dianggap Penjahat Terkutuk</title>
		<link>https://prokabar.com/features-maracanazo-tragedi-sepakbola-brasil-dan-pemain-pemain-timnas-dianggap-penjahat-terkutuk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2020 14:57:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#brasil]]></category>
		<category><![CDATA[#maracanazo]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#penjahat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=69769</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Rizal Marajo Stadion Maracana, Rio de Janeiro, 16 Juli 1950, adalah adalah waktu dan tempat yang pasti tak akan pernah dilupakan oleh rakyat...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/features-maracanazo-tragedi-sepakbola-brasil-dan-pemain-pemain-timnas-dianggap-penjahat-terkutuk/">Features: Maracanazo, Tragedi Sepakbola Brasil dan Pemain-pemain Timnas Dianggap Penjahat Terkutuk</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong>Oleh Rizal Marajo</strong></p>
<p>Stadion Maracana, Rio de Janeiro, 16 Juli 1950, adalah adalah waktu dan tempat yang pasti tak akan pernah dilupakan oleh rakyat Brasil. Cerita duka kegagalan Brasil meraih gelar juara dunia di rumah sendiri hari itu dan di tempat itu, menyisakan luka teramat dalam, bahkan sampai hari ini.</p>
<p>Hari itu final Brasil melawan Uruguay di Piala Dunia 1950. Seluruh Brasil sepakat, negara mereka sudah ditakdirkan menjadi juara dunia kali ini. Sombong, percaya diri, dan memandang Uruguay sebelah mata, ternyata berakhir pahit.</p>
<p>Selain faktor tuan rumah, ambisi besar, dukungan penuh publik, bermain di &#8220;katedral&#8221; sepakbola Brasil, Stadion Maracana, membuat tak ada keraguan secuilpun, mereka akan jadi juara dunia dan bersiap menggelar pesta besar.</p>
<p>Kemudian skuad Brasil di Piala Dunia 1950 adalah salah satu yang terbaik sepanjang sejarah. Anak asuh Flavio Costa punya trisula terlalu mumpuni, Friaca-Ademir-Chico, di lini depan. Ada pula si gelandang serang ajaib yang juga pemain idola Pele sejak kecil, Zizinho; serta bek dan kiper tangguh, Juvenal dan Moacyr Barbosa.</p>
<p>Sejak turnamen dibuka hingga menjelang laga terakhir, Seleccao menjadi tim dengan paling sangar dan merajalela menggebuk setiap lawan. Lihatlah statistiknya; mereka mencetak 21 gol dalam lima pertandingan (rata-rata 4,2 gol per laga). Bahkan sebelum laga terakhir, mereka sempat membantai Swedia 7-1 dan Spanyol 6-1.</p>
<p>Dengan format final Piala Dunia 1950 yang memakai aturan round-robin (seperti fase grup), yang dibutuhkan Brazil untuk juara tinggal satu: bermain minimal imbang melawan Uruguay dalam partai terakhir di Stadion Maracana pada 16 Juli 1950 itu.</p>
<p>Maka, pertandingan yang dianggap cuma formalitas belaka itu, Brasil sudah &#8220;dipastikan&#8221; akan juara. Rakyat Brasil sudah siap melakukan berbagai persiapan pesta untuk Seleccao. Di Maracana yang berkapasitas 200 ribu pentonton, catatan sejarah menunjukan, hari itu menunjukan sebanyak 199.854 tiket pertandingan ludes terjual. Fakta, laga Brasil vs Uruguay menjadi pertandingan dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.</p>
<p>Gilanya, staf FIFA bahkan telah mengukir nama setiap pemain Brasil di atas 22 medali emas yang mereka siapkan menjelang laga terakhir. Bahkan koran terbesar di Brazil saat itu, O Mundo, pada pagi hari sebelum laga menerbitkan headline lengkap disertai foto para pemain Brazil dengan judul “Inilah para juara dunia”.</p>
<p>Belum cukup? Walikota Rio de Janeiro Angelo Mendes de Moraes telah memberi pidato kemenangan untuk para pemain Seleccao beberapa jam sebelum sepak mula. “Kalian, para pemain, dalam beberapa jam ke depan akan dipuji sebagai juara, kalian tidak akan punya pesaing lagi di belahan bumi ini. Kalian lah juara dunia,” tutur Moraes lantang.</p>
<p><strong><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-69771" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-1-300x169.jpg" alt="" width="593" height="334" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-1-300x169.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-1-1024x576.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-1-768x432.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-1-1536x864.jpg 1536w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-1.jpg 1920w" sizes="(max-width: 593px) 100vw, 593px" /></strong></p>
<p>Brasil telah mendahului takdir. Karena hasil pertandingan berbanding terbalik, Brasil kalah 1-2, dan gagal menjadi juara dunia. Saat babak pertama Brasil sudah unggul 1-0 melalui Friaca, makin membuat Brasil sombong dan makin yakin juara sudah di depan mata.</p>
<p>Tapi kenyataan pahit itu datang, menit ke-66, Uruguay mencetak gol penyama kedudukan lewat sepakan terukur Juan Alberto Schaffino dari jarak dekat. Lalu 13 menit berselang sebuah tembakan ke tiang dekat, yang dilepaskan winger Edgardo Alcides Ghiggia, memuat Uruguay berbalik unggul.</p>
<p>Gol Ghiggia menandai perubahan suasana di Maracana. Saat wasit asal Inggris, George Reader, meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan, skor akhir 1-2 untuk kemenangan Uruguay. Seketika, tribun di Stadion Maracana menjadi muram, sunyi seperti kuburan.</p>
<p>Bahkan Ghiggia, pemain Uruguay yang mencetak gol &#8220;pembunuh&#8221; Brasil, ikut merinding melihat situasi di stadion. “Saya senang mencetak gol kemenangan Uruguay. Tapi, ketika melihat ke tribun dan mendapati orang-orang Brasil semuanya menangis tidak terkontrol, saya tidak bisa tidak merasa sedih,”kenang Ghiggia.</p>
<p>Mengerikan, laporan Guardian menyebutkan, sekurang-kurangnya 165 suporter terkena serangan jantung setelah pertandingan. Tiga di antaranya dikabarkan tewas meski telah mendapat pertolongan di rumah sakit. Seorang suporter Brazil membuat testimony di beberapa media mengklaim ada tiga orang—yang menyimak laga itu dari siaran radio melakukan aksi bunuh diri.</p>
<p>Di lapangan, saking tidak percaya dengan kekalahan Brasil, panitia Piala Dunia dari FIFA sempat lupa menggelar upacara penyerahan trofi juara untuk Uruguay. Presiden FIFA Jules Rimet akhirnya turun tangan dan menyerahkan sendiri trofi tersebut kepada kapten Uruguay, Obdulio Varela, meski tanpa seremonial dan podium. Tidak ada pula penyerahan medali pada hari itu karena 22 medali yang disiapkan FIFA sudah terlanjur dihiasi ukiran nama-nama pemain Brazil.</p>
<p>Tragedi yang dialami Brazil pada 16 Juli 1950, sekitar 70 tahun lalu, itu biasa disebut dengan istilah &#8216;Maracanazo&#8217; alias &#8216;pukulan untuk Maracana&#8217;. Tragedi ini membekas di ingatan semua orang, tak terkecuali bagi pemain legendaris Brazil, Pele, yang saat itu masih berusia 10. Pele mengaku, hari itu dia melihat pertama kali ayahnya menangis.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-69770" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-300x169.jpg" alt="" width="566" height="319" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana-300x169.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/06/maracana.jpg 640w" sizes="(max-width: 566px) 100vw, 566px" /></p>
<p><strong>Bagaimana pemain-pemain Brasil itu sendiri?</strong><br />
Sungguh menyedihkan, skuad Brasil sat itu mengalami pukulan psikologis yang luar biasa, dan juga mendapat perlakuan yang tak terbayangkan. Bahkan berpuluh-puluh tahun mereka mendapat perlakuan bak penjahat terkutuk.</p>
<p>Striker Brazil, Ademir, mengaku usai laga itu dia tidak berani bertemu kekasih dan keluarganya. Sekeluarnya dari Maracana, dia memacu mobil pribadinya sejauh mungkin, menuju sebuah dermaga terpencil. Dia menghabiskan waktu 15 hari hanya berdiam dan mengurung diri di dermaga itu.</p>
<p>Pemain lain, Zizinho, merasakan trauma tidak kalah telak. Sampai 50 tahun sejak kekalahan itu, setiap tanggal 16 Juli Zizinho selalu mematikan telepon maupun jaringan internet di rumahnya. “Jika tidak, telepon hanya akan berdering sepanjang hari. Orang-orang di seluruh Brazil akan terus menanyakan kenapa kami kalah di Piala Dunia [1950],” akunya seperti dikutip Guardian.</p>
<p>Dampak signifikan juga terjadi dalam karier masing-masing pemain. Sebagian besar penggawa Seleccao tidak pernah lagi mendapat kesempatan memperkuat tim nasional untuk ajang Piala Dunia. Hanya dua pemain yang masih boleh memperkuat timnas untuk Piala Dunia, yakni Nilton Santos dan Carlos Jose Castilho.</p>
<p>Keduanya lantas berhasil membawa Brazil juara Piala Dunia 1958 dan 1962. Tapi ironisnya, di dua edisi itu Santos dan Castilho tidak diberi jatah medali emas sebagaimana rekan-rekan setim mereka, karena mereka adalah sisa &#8220;penjahat&#8221; 1950.</p>
<p>Aturan yang tidak kalah kejam: CBF melarang kiper kulit hitam memperkuat timnas Brasil. Kiper kulit hitam dianggap bisa mengingatkan publik kepada Moacyr Barbosa, kiper Brasil di laga kontra Uruguay.</p>
<p>Barbosa memang sosok yang dicap paling hina atas kekalahan Brazil. Dia adalah orang yang paling disalahkan atas dua gol Uruguay. Sejak kekalahan itu sahabat-sahabat terdekatnya mulai menjauh dan Barbosa hidup terkucilkan dan terlunta-lunta selama puluhan tahun. “Di Brazil hukuman pidana paling berat adalah 30 tahun. Tapi saya menjalani hukuman atas sesuatu yang bukan kesalahan saya selama 50 tahun,” keluh Barbosa.</p>
<p>Barbosa memang pantas merasa tidak bersalah, sebab dua gol Uruguay ke gawang Brazil memang bukan terjadi atas kesalahannya. Keduanya murni karena kecerdikan pemain Uruguay, Schaffino dan Ghiggjo, menempatkan bola ke ruang sempit.</p>
<p>Kiper Brazil di akhir 1990-an dan 2000-an, Nelson Dida, adalah orang yang paham betul akan hal itu. Dida merupakan orang kulit hitam pertama yang diperkenankan memperkuat Brazil di ajang Piala Dunia (edisi 2006) sejak kasus Barbosa.</p>
<p>Dida mengajukan pembelaan untuk salah sosok idolanya tersebut. “Faktanya dia adalah kiper nomor satu dan telah menunjukkan jasa besarnya untuk sepakbola Brazil. Sudah seharusnya orang-orang menghargai jasanya,” ungkap Dida.</p>
<p>Namun sia-sia, pembelaan Dida tak berdampak besar untuk memulihkan reputasi Barbosa. Hingga meninggal pada 7 April 2000, kiper kelahiran Campinas, Sao Paulo itu tetap diperlakukan seperti makhluk terkutuk. Tak banyak orang menghadiri pemakamannya. Dia meninggal dalam kesepian dan kemiskinan setelah menghabiskan masa tua dengan bekerja sebagai petugas honorer di Stadion Maracana.</p>
<p>Sembilan mantan pemain Brazil 1950 lain juga telah meninggal sepanjang periode 1990-an hingga 2000-an. Meski demikian, kematian-kematian itu tak mengubah fakta bahwa luka Maracanazo masih hidup sampai detik ini.(*)</p>
<p><strong><em>*) dari berbagi sumber</em></strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/features-maracanazo-tragedi-sepakbola-brasil-dan-pemain-pemain-timnas-dianggap-penjahat-terkutuk/">Features: Maracanazo, Tragedi Sepakbola Brasil dan Pemain-pemain Timnas Dianggap Penjahat Terkutuk</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 30/77 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/15 queries in 0.019 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 22:35:11 by W3 Total Cache
-->