<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#labuanbajo Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/labuanbajo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/labuanbajo/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Jan 2020 10:56:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#labuanbajo Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/labuanbajo/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dukung Destinasi Wisata Premium, Kementerian PUPR Kembangkan 5 Zona Waterfront Labuan Bajo</title>
		<link>https://prokabar.com/dukung-destinasi-wisata-premium-kementerian-pupr-kembangkan-5-zona-waterfront-labuan-bajo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jan 2020 11:00:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[#beb]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[#kemenpupr]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=57600</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, Prokabar — Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia ke depan akan berubah wajahnya. Kegiatan penataan kawasan ini dilakukan oleh...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/dukung-destinasi-wisata-premium-kementerian-pupr-kembangkan-5-zona-waterfront-labuan-bajo/">Dukung Destinasi Wisata Premium, Kementerian PUPR Kembangkan 5 Zona Waterfront Labuan Bajo</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Prokabar —</strong> Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia ke depan akan berubah wajahnya. Kegiatan penataan kawasan ini dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).</p>
<p>Salah satunya adalah melanjutkan Penataan kawasan Waterfront Labuan Bajo untuk mendukung peningkatan jumlah dan lama kunjungan wisatawan.</p>
<p>Pasalnya, Labuan Bajo yang berada di Pulau Flores itu, merupakan gerbang bagi wisatawan yang ingin meneruskan eksplorasinya hingga ke Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar.</p>
<p>Menteri Basuki mengatakan upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo dilakukan secara bertahap, dengan pembenahan infrastruktur yang akan menjadi prioritas.</p>
<p>Lima penataan Zona Waterfront dimaksud kini akan memasuki tahap lelang yang terdiri atas Zona A Bukit Pramuka, Zona B Kampung Air, Zona C Dermaga, Zona D kawasan Pantai Marina (Inaya Bay), Zona E Kampung Ujung.</p>
<p>&#8220;Sesuai arahan Presiden Joko Widodo seluruh pembangunan infrastruktur untuk Labuan Bajo harus selesai tahun 2020. Semua desain sudah selesai, sudah mulai lelang pada Desember 2019, sehingga kegiatan konstruksi fisik dapat dimulai pada Februari-Maret dan selesai akhir Desember 2020,&#8221; kata Menteri Basuki.</p>
<p>Penataan Waterfront Labuan Bajo di lima zona tersebut meliputi Pengembangan Zona A yang dilakukan dengan membangun promenade atau zona pejalan kaki, dilengkapi dengan fasilitas yang nyaman, termasuk taman, kios-kios dan menara pandang di Bukit Pramuka.</p>
<p>Penataan Zona B merupakan lanjutan pengerjaan yang telah dilakukan Kementerian PUPR di Kampung Air yang meliputi penataan ruang-ruang terbuka dengan tema &#8220;Tangga Bajo&#8221; yang didesain agar setiap sudut ruang dapat diakses publik, termasuk masyarakat lokal, nelayan, dan warga kampung pesisir.</p>
<p>Panggung-panggung terbuka juga dibangun agar masyarakat dan wisatawan dapat berbaur menikmati pertunjukkan seni tradisional atau atraksi seni lainnya.</p>
<p>Selanjutnya pada Zona C akan dilakukan penataan Dermaga di kawasan sekitar Pelabuhan Petikemas Bajo yang akan dipindah ke wilayah Wae Klambu.</p>
<p>Penataan dilakukan dengan memperlebarkan ruang publik lebih menjorok ke laut dengan membangun sculpture dan fasilitas ruang tunggu, kantor pengelola, pusat informasi serta plaza festival.</p>
<p>Saat ini pesisir pantai tersebut menjadi lokasi bersandar kapal-kapal wisata berbagai jenis, phinisi maupun yacht, dan menjadi pintu masuk wisatawan mancanegara melalui laut, sementara semua kegiatan wisata laut masih bercampur aksesnya dengan kegiatan peti kemas.</p>
<p>Selanjutnya Zona D, merupakan area komersial yang disebut dengan kawasan Pantai Marina yang dikelola oleh ASDP Kementerian BUMN. Pada zona ini akan dilakukan penyelarasan trotoar dengan desain yang sama di sepanjang Jalan Soekarno Hatta Bawah.</p>
<p>Penataan Zona E merupakan pengembangan dari kawasan wisata kuliner Kampung Ujung yang telah dibangun oleh Kementerian PUPR pada TA. 2017-2018 berupa deretan tenda untuk menjual makanan yang didesain berwarna putih dengan sistem knock-down.</p>
<p>Pada kawasan ini wisatawan dapat menikmati beragam olahan seafood ditepi laut dengan tenda-tenda yang bisa menjadi spot untuk swafoto.</p>
<p>Untuk mendukung penataan Waterfront Labuan Bajo, Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Marga antara lain juga melakukan peningkatan jalan, penataan trotoar, dan drainase pada ruas Jalan Soekarno Hatta atas dan bawah, termasuk Jalan Pantai Pede.</p>
<p>Di kawasan ini juga dilengkapi jalur pedestrian yang nyaman dengan desain artistik seperti pencahayaan (lighting) dan street furniture dengan konsep walking distance.</p>
<p>&#8220;Ini destinasi wisata premium, jadi hasil kerja harus artistik, craftmanship-nya. Mudah-mudahan pada Tahap II akan lebih baik mulai dari penataan lansekap, lighting dan lain-lainnya,&#8221; tutur Menteri Basuki. (<b>beb</b>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/dukung-destinasi-wisata-premium-kementerian-pupr-kembangkan-5-zona-waterfront-labuan-bajo/">Dukung Destinasi Wisata Premium, Kementerian PUPR Kembangkan 5 Zona Waterfront Labuan Bajo</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kapal Terbalik di Labuan Bajo, Seluruh Wartawan Peliput Presiden Selamat</title>
		<link>https://prokabar.com/kapal-terbalik-di-labuan-bajo-seluruh-wartawan-peliput-presiden-selamat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi6]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jan 2020 06:15:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<category><![CDATA[#mbb]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=57586</guid>

					<description><![CDATA[<p>Labuan Bajo, Prokabar &#8211; Seluruh wartawan yang meliput kegiatan Presiden Joko Widodo di Labuan Bajo dilaporkan selamat dari insiden kapal terbalik. Seperti dilaporkan Nita...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kapal-terbalik-di-labuan-bajo-seluruh-wartawan-peliput-presiden-selamat/">Kapal Terbalik di Labuan Bajo, Seluruh Wartawan Peliput Presiden Selamat</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr"><strong>Labuan Bajo, Prokabar &#8211;</strong> Seluruh wartawan yang meliput kegiatan Presiden Joko Widodo di Labuan Bajo dilaporkan selamat dari insiden kapal terbalik.</p>
<p dir="ltr">Seperti dilaporkan Nita dari Biro Pers Kepresidenan, semua wartawan yang ikut dapat menyelamatkan diri.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Semua wartawan selamat, namun ada sejumlah kamera dan peralatan yang hilang,&#8221; katanya.</p>
<p dir="ltr">Adapun wartawan yang ikut dalam kapal yang terbalik di Labuan Bajo adalah Dyka SCTV, Edo TVRI, kKristo Berita Satu, Aesca Antara, Liza Ehem Liputan6, Ombew Agus Vivanews dan Nita Biro Pers Kepresidenan.</p>
<p dir="ltr">Sebelumnya dilaporkan Kapal pinisi wisata yang ditumpangi dia oleh sejumlah wartawan terbalik dihantam ombak di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Selasa.</p>
<div align="left">
<p dir="ltr">“Tiba-tiba angin kencang dan ombak ‘gede’ langsung hitungan detik langsung kapal terbalik,” demikian laporan Desca Natalia, wartawan ANTARA yang turut dalam kapal nahas itu.<strong>(*/mbb)</strong></p>
</div>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kapal-terbalik-di-labuan-bajo-seluruh-wartawan-peliput-presiden-selamat/">Kapal Terbalik di Labuan Bajo, Seluruh Wartawan Peliput Presiden Selamat</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Presiden Serahkan 2.500 Sertifikat Hak Atas Tanah untuk Rakyat Labuan Bajo</title>
		<link>https://prokabar.com/presiden-serahkan-2-500-sertifikat-hak-atas-tanah-untuk-rakyat-labuan-bajo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jan 2020 04:55:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[#jokowidodo]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<category><![CDATA[#SertifikatTanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=57573</guid>

					<description><![CDATA[<p>Labuan Bajo, Prokabar — Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo menyerahkan 2.500 sertifikat hak atas tanah untuk rakyat dalam kunjungan kerjanya...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/presiden-serahkan-2-500-sertifikat-hak-atas-tanah-untuk-rakyat-labuan-bajo/">Presiden Serahkan 2.500 Sertifikat Hak Atas Tanah untuk Rakyat Labuan Bajo</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="auto">
<p><strong>Labuan Bajo, Prokabar — </strong>Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo menyerahkan 2.500 sertifikat hak atas tanah untuk rakyat dalam kunjungan kerjanya ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (21/1). Pada acara yang digelar di halaman Kantor Bupati Kabupaten Manggarai Barat, NTT ini, Presiden Jokowi secara simbolis menyerahkan sertifikat tanah kepada 12 orang perwakilan penerima.</p>
</div>
<p>Dalam sambutannya, Presiden menjelaskan bahwa di seluruh Indonesia seharusnya ada 126 juta bidang tanah yang bersertifikat. Tetapi hingga tahun 2015, menurut Presiden, baru 46 juta sertifikat yang diberikan kepada masyarakat.</p>
<p>“Yang belum 80 juta sertifikat (tanah) yang harus sudah dipegang (masyarakat), artinya punya tanah tapi enggak pegang sertifikat, kemudian tumpang tindih, akhirnya sengketa di mana-mana,” ujar Kepala Negara.</p>
<p>Untuk itu, ujar Presiden, ia segera memerintahkan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk mempercepat penerbitan sertifikat hak atas tanah untuk rakyat melalui Program Percepatan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL).</p>
<p>“Setelah saya perintah (penerbitan) 5 juta (sertifikat), 2017 rampung 5,4 (juta), 2018 7 juta saya perintah, rampung juga, malah melebih 9 juta, 2019 9 juta rampung,” kata Presiden Joko Widodo.</p>
<p>Dengan adanya percepatan penerbitan sertifikat ini, diyakini Presiden, sengketa lahan dan lahan yang kerap terjadi di masyarakat akan menjadi berkurang.</p>
<p>“Ini adalah tanda bukti hukum hak atas tanah yang kita miliki,” tukas Presiden.</p>
<p>Dalam sambutannya, Presiden juga berpesan kepada penerima sertifikat untuk menjaga sertifikat yang dimiliki dengan baik, dengan cara memberi plastik, memfotokopi, dan menyimpan di tempat yang aman.</p>
<p>“(Sertifikat) yang asli taruh di lemari satu, yang fotokopi taruh lemari yang 2, kalau yang asli hilang masih ada fotokopinya, <i>ngurusnya</i> mudah ke BPN karena ada fotokopinya,” terang Kepala Negara.</p>
<p>Presiden pun menambahkan, jika pemegang sertifikat ingin menjadikan sertifikatnya sebagai agunan ke bank, maka harus dikalkulasi terlebih dahulu.</p>
<p>“Saya titip kalau mau pinjam uang ke bank hati-hati, dihitung, dikalkulasi dulu, jangan sampai sertifikat jadi, pinjam ke bank, enggak bisa mengembalikan, sertifikatnya hilang,” kata Presiden mengingatkan. <b>(*)</b></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/presiden-serahkan-2-500-sertifikat-hak-atas-tanah-untuk-rakyat-labuan-bajo/">Presiden Serahkan 2.500 Sertifikat Hak Atas Tanah untuk Rakyat Labuan Bajo</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Presiden Minta Gubernur dan Bupati Selesaikan Soal Sengketa Tanah Di Labuan Bajo</title>
		<link>https://prokabar.com/presiden-minta-gubernur-dan-bupati-selesaikan-soal-sengketa-tanah-di-labuan-bajo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Jan 2020 07:31:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[#Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[#jokowidodo]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=57496</guid>

					<description><![CDATA[<p>Labuan Bajo, Prokabar — Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa masih banyak tanah sengketa di Manggarai Barat sehingga perlu diselesaikan oleh Kepala Daerah karena menjadi...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/presiden-minta-gubernur-dan-bupati-selesaikan-soal-sengketa-tanah-di-labuan-bajo/">Presiden Minta Gubernur dan Bupati Selesaikan Soal Sengketa Tanah Di Labuan Bajo</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="auto">
<p><strong>Labuan Bajo, Prokabar — </strong>Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa masih banyak tanah sengketa di Manggarai Barat sehingga perlu diselesaikan oleh Kepala Daerah karena menjadi perhatian bagi investor yang ingin menanamkan modal.</p>
</div>
<p>“Ini mungkin untuk Pak Gubernur, Pak Bupati mengenai masih banyaknya tanah sengketa yang ada di sini. Ini tolong menjadi catatan karena ini juga menjadi perhatian dari para investor yang ingin menanamkan modalnya di sini. Jadi betul-betul diselaraskan antara hukum adat yang ada dengan hukum positif yang kita miliki,” ujar Presiden Jokowi saat memimpin Rapat Terbatas (ratas) mengenai Pengembangan Destinasi Wisata Labuan Bajo di Plataran Komodo Resort, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (20/1).</p>
<p>Mengenai kapal besar yang masuk ke Labuan Bajo, Presiden minta semua teregistrasi. “Jangan sampai di sini hanya membuang sampahnya, menikmati, dan membuang sampahnya,</p>
<p>tetapi masyarakat di sini tidak mendapatkan sebuah pemanfaatan dari datangnya kapal-kapal besar yang masuk,” tambah Presiden.</p>
<p>Terkait sampah baik yang di darat maupun di laut, Presiden minta untuk dibuat acara gerakan nanti dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk pembersihan sampah di dalam laut, di karang. Menurut Presiden, dirinya telah mendapatkan keluhan dari orang-orang yang datang ke sini untuk <i>diving</i> soal kebersihan tersebut.</p>
<p>“Meskipun belum banyak tetapi harus mulai kita bersihkan sebelum menjadi sebuah jumlah yang sangat banyak. Juga di darat saya harapkan nanti di Kementerian PU, LHK juga menyiapkan infrastruktur untuk pembuangan sampah baik berupa <i>incenerator</i> maupun dengan sistem yang lainnya, tapi ini juga harus segera diselesaikan,” tambah Presiden.</p>
<p>Soal air baku, Presiden meminta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyiapkan tambahan untuk air baku karena ini juga menjadi salah satu keluhan dari para pemilik-pemilik hotel yang ada di Labuan Bajo.</p>
<p>“Kemudian yang terakhir, yang berkaitan dengan promosi. Saya kira target kita akhir tahun 2020, apabila semuanya sudah rapi, sudah tertata, promosi secara besar-besaran saya minta segera dilakukan oleh Kementerian Pariwisata, termasuk digelarnya <i>event-event</i> internasional yang menarik para wisatawan agar datang ke Labuan Bajo,” ujar Presiden.</p>
<p>Di akhir pengantar, Kepala Negara menyampaikan agar disiapkan organisasi baik dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk membantu dalam hal memberikan keamanan para wisatawan. “Paling tidak kalau mereka melihat di sini ada SAR-nya, ada BNPB-nya rasa aman, rasa nyaman itu akan muncul karena memang bisa kita lihat kesiapan kita dalam mengatasi hal-hal seperti,” pungkas Presiden. <b>(*)</b></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/presiden-minta-gubernur-dan-bupati-selesaikan-soal-sengketa-tanah-di-labuan-bajo/">Presiden Minta Gubernur dan Bupati Selesaikan Soal Sengketa Tanah Di Labuan Bajo</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Awal Tahun Ini, Pengembangan Destinasi Superpremium Labuan Bajo Mulai Dibenahi</title>
		<link>https://prokabar.com/awal-tahun-ini-pengembangan-destinasi-superpremium-labuan-bajo-mulai-dibenahi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Jan 2020 04:29:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[#jokowidodo]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=57484</guid>

					<description><![CDATA[<p>Labuan Bajo, Prokabar — Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa pengembangan destinasi superpremium Labuan Bajo akan mulai dibenahi pada awal tahun ini dan setidaknya ada 5...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/awal-tahun-ini-pengembangan-destinasi-superpremium-labuan-bajo-mulai-dibenahi/">Awal Tahun Ini, Pengembangan Destinasi Superpremium Labuan Bajo Mulai Dibenahi</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="auto">
<p><strong>Labuan Bajo, Prokabar — </strong>Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa pengembangan destinasi <i>superpremium </i>Labuan Bajo akan mulai dibenahi pada awal tahun ini dan setidaknya ada 5 (lima) zona atau kawasan yang perlu ditata. Hal tersebut diungkapkan Presiden Jokowi saat memimpin Rapat Terbatas (ratas) mengenai Pengembangan Destinasi Wisata Labuan Bajo di Plataran Komodo Resort, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (20/1).</p>
</div>
<p>“Yang pertama, yang berkaitan dengan penataan kawasan. Kita memang ingin agar segmen pasar wisatawan yang hadir disini adalah yang pengeluarannya lebih besar dari wisatawan kebanyakan. Dan oleh sebab itu, kita perlu sekali melakukan integrasi, baik yang berkaitan dengan kerapian, kebersihan, dan kenyamanan, keamanan bagi para wisatawan,” ujar Presiden mengawali arahan.</p>
<p>Lebih lanjut, Presiden menyampaikan bahwa meski ada beberapa hotel berbintang dengan berbagai fasilitas yang ada, tetapi dirinya juga melihat masih sangat diperlukan lagi tambahan hotel untuk Labuan Bajo.</p>
<p>“Ada lima zona yang harus kita tata, yaitu yang pertama yang ada di Bukit Pramuka, kemudian kedua yang di Kampung Air, ketiga di pelabuhan peti kemas dan dermaga penumpang, dan kemudian yang keempat di kawasan marina, yang kelima di zona Kampung Ujung,” ujar Presiden.</p>
<p>Kepala Negara menyampaikan bahwa lima zona tersebut akan menjadi sebuah ruang publik tidak terputus yang menghadirkan sebuah <i>landscaping</i>yang indah dan menjadi generator penggerak pembangunan serta pusat aktivitas masyarakat di Labuan Bajo.</p>
<p>“Yang kedua, yang berkaitan dengan Infrastruktur. Saya berharap ini awal tahun ini <i>runway</i> dan terminal akan segera dimulai,” tutur Presiden seraya memastikan hal itu kepada Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. Jika semuanya sudah siap, lanjut Presiden, diharapkan nantinya bandara ini akan mendapatkan sebuah lalu lintas, <i>traffic,</i> yang semakin banyak karena dari segi pengelolaan memiliki kemampuan serta jaringan dalam rangka mendatangkan wisatawan ke Labuan Bajo.</p>
<p>Berkaitan dengan penyiapan SDM, Kepala Negara menginginkan masyarakat lokal harus menikmati dan menjadi bagian dari pembangunan yang dilakukan. “Karena itu SDM masyarakat lokal cepat-cepat harus kita tingkatkan keahliannya, kompetensinya, baik dari sisi keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di industri pariwisata yang ingin kita kerjakan,” ujar Presiden.</p>
<p>Soal usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah yang ada di sini, Presiden meminta jangan sampai ditinggal. Ia berharap nanti juga ada sebuah <i>creative hub</i> yang akan menggarap produk-produk lokal, baik dari sisi <i>packaging/</i>kemasan<i>,</i> sisi desain, sisi harga, dan yang lain-lainnya. “Kita harapkan nantinya tenun, kopi, kerajinan, makanan khas betul-betul bisa tumbuh. Dan seiring dengan itu juga atraksi budaya lokal, kesenian daerah juga harus semakin hidup dan menghidupkan area yang ada di Labuan Bajo,” ujar Presiden. <b>(*)</b></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/awal-tahun-ini-pengembangan-destinasi-superpremium-labuan-bajo-mulai-dibenahi/">Awal Tahun Ini, Pengembangan Destinasi Superpremium Labuan Bajo Mulai Dibenahi</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Suku Modo di Wae Rebo, Sang Penjaga Warisan Leluhur</title>
		<link>https://prokabar.com/suku-modo-di-wae-rebo-sang-penjaga-warisan-leluhur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Aug 2019 10:37:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[#Flores]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<category><![CDATA[#laf]]></category>
		<category><![CDATA[#Manggarai]]></category>
		<category><![CDATA[#Waerebo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=44616</guid>

					<description><![CDATA[<p>Flores, Prokabar &#8211; Jam 4 Subuh. Dingin di Desa Denge menusuk tulang. Kamar yang dihuni oleh para jurnalis digedor Blasius. Terpaksa, air sedingin es...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/suku-modo-di-wae-rebo-sang-penjaga-warisan-leluhur/">Suku Modo di Wae Rebo, Sang Penjaga Warisan Leluhur</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Flores, Prokabar</strong> &#8211; Jam 4 Subuh. Dingin di Desa Denge menusuk tulang. Kamar yang dihuni oleh para jurnalis digedor Blasius. Terpaksa, air sedingin es dibasuhkan ke muka. Sebagian dari jurnalis bahkan memilih untuk mandi.</p>
<p>Setelah Shalat Subuh dan sarapan seadanya, tim ekspedisi ini bersiap menjajal jalan terjal. Dari homestay, kami diantar oleh ojek menuju posko pertama. Raungan sepeda motor memecah subuh buta, meliuk diantara rimba. Menggigil karena dingin.</p>
<p>Matahari belum sempurna. Kami sudah berkumpul di ujung jalan aspal. Pemandu yang akan membawa kami ke puncak Wae Rebo bernama Long melakukan briefing singkat. Menjelaskan jalur yang akan dilalui. Dan perjalanan menuju kampung saudara jauh Minangkabau itu dimulai.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44619" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0086-1024x473.jpg" alt="" width="1000" height="462" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0086-1024x473.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0086-300x139.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0086-768x355.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0086.jpg 1152w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Dua ratus meter pertama, jalur mendaki dilalui dengan mudah. Semuanya baik baik saja. Ada yang berlari, ada yang berjalan cepat. Selepas itu, nafas beberapa tim mulai sesak. Jalur pendakian itu mulai berat.</p>
<p>Dari Denge ke Wae Rebo, normalnya ditempuh 2,5 jam berjalan kaki. Itupun hanya dengan istirahat sebentar. Jalur yang dilewati penuh dengan tanjakan, nyaris tidak ada jalur mendatar atau menurun.</p>
<p>&#8220;Berat, lebih berat dari jalur Marapi, Singgalang ataupun Talang. Tidak ada bonus jalan mendatar disini,&#8221; ujar Toad sambil terengah &#8211; engah mengambil nafas.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44620" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0142-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0142-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0142-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0142-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0142.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>&#8220;Beruntung saya rajin jalan kaki ke Gunung Padang,&#8221; sambung Defri Mulyadi, atau akrab dipanggil Imung.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44622" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0065-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0065-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0065-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0065-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0065.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Selain tanjakan, pengunjung juga harus ekstra hati hati, karena jalanan lumayan licin. &#8220;Sudah banyak yang jatuh di jalur ini, bahkan ada yang masuk jurang,&#8221; jelas Long, pemandu tim ekspedisi ini.</p>
<p>Makin tinggi, jalur tanjakan makin curam. Fisik sudah terkuras. Berjalanpun semakin pelan. Posko 2 tinggal beberapa puluh meter di depan.</p>
<p>&#8220;Saya tunggu di posko dua saja, tanggung istirahat di sini,&#8221; kata Aries, staf Kemendes yang mendampingi jurnalis selama di NTT.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44625" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190814-WA0021-1024x473.jpg" alt="" width="1000" height="462" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190814-WA0021-1024x473.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190814-WA0021-300x139.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190814-WA0021-768x355.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190814-WA0021.jpg 1152w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Jarak yang harus ditempuh sekitar 5 km. 3 km adalah jalan menanjak. Sedangkan 2 km Selanjutnya jalan mulai landai dan menurun. Jalur ini terdiri dari 3 posko. Posko 1 lokasi <em>start</em> jalan. Posko 2 dengan pemandangan laut Flores. Dan Posko 3, tak jauh dari Wae Rebo.</p>
<p>Badan sudah basah oleh peluh. Akhirnya tim ekspedisi sampai di Posko 3. Artinya tidak jauh lagi akan sampai di Rumah Kasih Ibu. Rumah ini terdapat sebuah kentongan. Setiap tamu datang wajib memukul kentongan itu. Dari rumah ini sudah terlihat Mbaru Niang.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44626" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0247-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0247-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0247-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0247-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0247.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>&#8220;Sebelum masuk ke Rumah Gendang, tidak boleh mengambil foto dan video,&#8221; perintah Long.</p>
<p>Kami patuh, dan langsung masuk ke rumah utama untuk melakukan prosesi adat <em>Waelu&#8217;u.</em> Di dalam rumah, sudah menunggu tetua adat Rafael serta penerjemah Lucki. <em>Waelu&#8217;u</em> adalah prosesi untuk menyambut semua tamu. Tujuannya adalah mendoakan tamu agar selamat. Selain itu juga sebagai penghormatan terhadap arwah leluhur, yang dipercaya masyarakat bersemayam di kampung mereka.</p>
<p>&#8220;Selamat datang di Wae Rebo, kami senang dengan kehadiran bapa bapa, apalagi dari Minangkabau. Leluhur kita satu, dan jelas kita bersaudara,&#8221; kata Lucki setelah prosesi selesai.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44627" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190820-WA0016-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190820-WA0016-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190820-WA0016-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190820-WA0016-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190820-WA0016.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Kampung Wae Rebo terletak di lembah, diapit oleh pegunungan. Kampung ini berada di 1270 Mdpl. Rumah adat yang disebut Mbaru Niang, berdiri kokoh, jumlahnya 7 buah. Tidak boleh ditambah dan dikurangi. Jumlah tersebut dipercaya merupakan cerminan kepercayaan leluhur untuk menghormati tujuh arah puncak gunung di sekeliling Kampung Wae Rebo, yang dipercaya sebagai pelindung kemakmuran kampung.</p>
<p>Rumah utama di Wae Rebo adalah Rumah Gendang. Di sini tetua adat tinggal. Di dalamnya terdapat 8 kamar, mewakili 8 keluarga di Suku Modo.</p>
<p>Rumah berbentuk kerucut itu memiliki 5 lantai dengan fungsi berbeda. Lantai pertama untuk aktivitas, ditengahnya terdapat 8 tungku memasak. Lantai 2 untuk menyimpan makanan yang akan dimasak. Lantai 3 menyimpan benih yang akan ditanam pada saat Penti atau tahun baru suku Modo. Lantai 4 menyimpan stok makanan jika terjadi kekeringan, dan lantai paling atas menyimpan barang barang sakral yang hanya dipakai pada saat upacara Penti.</p>
<p>Di Wae Rebo bermukim sekitar 130 jiwa. Rata rata penduduknya bercocok tanam kopi. Sementara untuk kebutuhan lain, dibawa dari Desa Kombo. Desa ini, kampung kedua suku Modo. Rata rata mereka punya rumah di Kombo. Begitupun anak anak mereka, untuk sekolah, mereka tinggal di Kombo.</p>
<p>Tim ekspedisi menghabiskan waktu di Wae Rebo mengeksplorasi alam dan kekayaan budaya. Tidak lupa, secangkir kopi menemani di pagi yang berkabut itu.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44628" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0025-1024x472.jpg" alt="" width="1000" height="461" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0025-1024x472.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0025-300x138.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0025-768x354.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190815-WA0025.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>&#8220;Apakah kalian tidak terasing di tengah globalisasi yang semakin menggila?&#8221; pancing Agusmardi kepada Lucki, Patris dan Long ketika bicara santai.</p>
<p>&#8220;Tidak bapa, kami bangga, sampai mati kami akan menjaga tradisi, adat dan budaya leluhur kami,&#8221; jawab Lucki dengan sorot mata tajamnya.</p>
<p>Tiga anak muda Wae Rebo ini menjadi gambaran, bagaimana suku Modo sangat menghargai budaya mereka. Keselarasan dengan alam membuat mereka menjadi pribadi pribadi hebat. Masa depan Wae Rebo ada di tangan mereka.</p>
<p>Tim ekspedisi tidak bisa berlama lama di Wae Rebo. Masih ada perjalanan yang harus dituntaskan. Namun, Setidaknya Wae Rebo mengajarkan kepada kami bahwa Ada kebahagiaan lebih hakiki, yaitu hidup selaras dengan alam, menjunjung tinggi kebersamaan, dan menghormati orang lain seperti saudara sendiri. Sementara teknologi tidak berarti apa apa di Wae Rebo.</p>
<p>Di tempat lain, Stafsus Mendes PDTT, Febby Dt Bangso berharap, perjalanan ini memberikan gambaran baru tentang bagaimana desa wisata bisa mensejahterakan masyarakat.</p>
<p>&#8220;Bukan tidak mungkin di Sumatera Barat ada desa wisata seperti Wae Rebo ini, yang dicari bukan kemewahan destinasi, tapi malah kesederhanaan, ini yang mahal,&#8221; kata Febby.</p>
<p>&#8220;Bayangkan orang datang dari penjuru dunia ke Wae Rebo, jalannya saja tidak mulus, tidak ada listrik, mereka pun harus membayar mahal, tapi ratusan orang datang tiap bulan ke desa ini,&#8221; sambung Febby.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44631" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0237-682x1024.jpg" alt="" width="682" height="1024" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0237-682x1024.jpg 682w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0237-200x300.jpg 200w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0237-768x1152.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190817-WA0237.jpg 853w" sizes="auto, (max-width: 682px) 100vw, 682px" /></p>
<p>Cerita Wae Rebo harus kami akhiri di sini. Tapi goresan keindahan jadi memori seumur hidup. Wae Rebo tidak hanya desa terindah di dunia, tapi juga desa yang punya banyak pelajaran penting tentang kehidupan.</p>
<p>Tim ekspedisi merdeka tidak banyak bicara ketika turun dari Wae Rebo. Masing masing kami punya catatan sendiri di kepala. Kami belajar banyak dari Wae Rebo, tentang mengelola wisata, sekaligus tentang hakikat kehidupan.(laf)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/suku-modo-di-wae-rebo-sang-penjaga-warisan-leluhur/">Suku Modo di Wae Rebo, Sang Penjaga Warisan Leluhur</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wae Rebo, Rantau Jauh Orang Minangkabau</title>
		<link>https://prokabar.com/wae-rebo-rantau-jauh-orang-minangkabau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Aug 2019 15:06:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[#kemedes]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<category><![CDATA[#laf]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<category><![CDATA[#Waerebo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=44454</guid>

					<description><![CDATA[<p>Flores, Prokabar &#8211; Pagi di Labuan Bajo, gerah seperti biasa. Jam 7 pagi, aktivitas masyarakat bergerak. Ke sekolah, kantor dan pasar. Sementara di depan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/wae-rebo-rantau-jauh-orang-minangkabau/">Wae Rebo, Rantau Jauh Orang Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Flores, Prokabar</strong> &#8211; Pagi di Labuan Bajo, gerah seperti biasa. Jam 7 pagi, aktivitas masyarakat bergerak. Ke sekolah, kantor dan pasar. Sementara di depan hotel, belasan pemandu dan driver sudah menunggu tamu yang akan pergi sesuai dengan rencana liburan mereka.</p>
<p>Tim ekspedisi merdeka sudah berkumpul di lobby hotel. <em>Trip plan</em> dibahas, tujuannya adalah Wae Rebo. Untuk menuju desa di atas awan ini, bisa melalui dua jalur. Pertama melalui Ruteng dan terus ke Iteng. Jalur kedua melalui Lembor, belok kanan lewat Nang Lili. Kami memilih jalur kedua karena pertimbangan jarak dan waktu.</p>
<p>Labuan Bajo menuju Lembor ditempuh selama 2 jam. Melewati pegunungan dengan pepohonan yang kering. Tapi pemandangan tidak kalah indahnya. Melihat lautan dari ketinggian, sungguh pengalaman yang sulit dilupakan. Liukan jalan yang mulus, mengantarkan kami ke desa pemasok beras Manggarai itu.</p>
<p>Lembor tidak seperti desa sebelumnya yang dilewati. Di sini ratusan hektar sawah membentang. Hijau. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah sawah.</p>
<p>&#8220;Sawah ini dibuat tahun 80 an, sekaligus dibangun irigasi. Makanya sepanjang tahun, masyarakat bisa menanam padi. Lembor pemasok utama beras di Manggarai,&#8221; cerita Ajo Johan, orang Lubuk Alung yang berjualan nasi Padang di jantung Lembor.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan menyisiri pantai Nang Lili. Pantai berbatu dengan aspal yang kurang mulus, menemani perjalanan. Tak lama, sebuah pulau terlihat. Pulau Molas (baca moles) mengintip dibalik birunya laut. Molas dalam bahasa Manggarai adalah cantik. Jika diamati benar, pulau itu terlihat seperti perempuan yang sedang tidur menelentang. Di bawahnya terlihat pasir putih. Kami akan ke sana, tapi tidak hari ini.</p>
<p>Hampir 2 jam melewati jalan tepi pantai, akhirnya tim ekspedisi sampai di gerbang Wae Rebo. Namanya Desa Dintor. Desa ini menjadi satu satunya pintu masuk ke Wae Rebo. Di desa ini juga sinyal seluler terakhir muncul. Itupun hanya sekedar untuk melakukan sambungan telepon dengan kekuatan sinyal ala kadarnya.</p>
<p>Jam menunjukkan pukul 16.00 WITA, tim Ekspedisi menapaki Desa Denge. Di desa ini akhir dari jalan beraspal. Selepasnya hanya ada jalan setapak menuju Kampung Wae Rebo. Tempat yang kami tuju adalah Tourist Information Centre. Beruntung, kami disambut tuan rumah yang ramah, Blasius.</p>
<p>&#8220;Selamat datang di Wae Rebo, saya Blasius, lebih baik bapa bapa, tinggal di sini dulu, karena kalau berangkat sore ini, dipastikan akan sampai di Wae Rebo malam hari. Silahkan nikmati kopi kampung kami,&#8221; sapa Blasius.</p>
<p>Akhirnya setelah diskusi singkat, kami memutuskan untuk menginap di homestay sederhana milik Blasius. Alasannya, selain karena terlalu sore, ternyata upacara penyambutan oleh tetua adat, hanya bisa dilakukan sebelum matahari terbenam.</p>
<p>Sore itu dihabiskan dengan mengulik sejarah Wae Rebo. Blasius yang juga seorang guru ini bercerita panjang tentang desa adat ini.</p>
<p>&#8220;Kami adalah keturunan Minangkabau, kata orang tua saya, leluhur kami bernama Empo Maro, berlayar dari tanah Minang ke Flores ini, kita adalah saudara&#8221; tutur Blasius.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44455" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Kalimat yang kami tunggu &#8211; tunggu. Sebelumnya tim ekspedisi merdeka ini sudah membaca sejumlah literasi tentang kaitan Wae Rebo dengan Minangkabau. Lalu kami terpana sambil bertanya dengan cerita Blasius.</p>
<p>Alkisah, Empo Maro dengan saudaranya, kehabisan bekal di tengah Laut Flores. Mereka terpaksa menepi untuk bertahan hidup. Nun jauh di atas gunung dua bersaudara ini melihat kepulan asap membumbung tinggi. Filsafat alam takambang jadi guru dipakai, karena dimana ada asap, berkemungkinan besar ada kehidupan. Maka berjalanlah adik beradik ini menyusuri hutan. Tempat asap tersebut benar benar sebuah perkampungan, disebutkan nama kampung tersebut adalah Todo. Empo Maro dan saudaranya akhirnya tinggal disitu, hidup bersama warga. Dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Maro berasimiliasi dengan budaya Todo.</p>
<p>Entah terjadi konflik, atau memang ingin pindah, Maro memilih untuk meninggalkan Kampung Todo. Setelah berjalan jauh ke tengah rimba, Maro menemukan sebuah lembah. Disana dia hidup dan bercocok tanam. Anehnya, tidak sekalipun kebunnya diganggu oleh binatang buas. Akhirnya Maro membangun rumah di lokasi itu.</p>
<p>&#8220;Waktu itu belum ada nama, maka suatu malam leluhur kami itu bermimpi, untuk memberi nama tempat tinggalnya dengan Wae Rebo. Dalam bahasa Manggarai, tidak ada kata rebo. Sampai sekarang kami tidak tahu arti kata rebo itu,&#8221; tutur Blasius.</p>
<p>Kopi Wae Rebo di meja, hampir habis. Blasius mengerti, datang lagi beberapa gelas kopi panas, dan cerita itupun dilanjutkan.</p>
<p>Bicara tentang kemiripan budaya dan kata, lanjut Blasius, memang tidak ada. Begitupun dengan keilmuan, belum ada penelitian tentang keterkaitan suku kami dengan Minangkabau. Kami hanya mendapatkan cerita itu hanya secara turun temurun.</p>
<p>&#8220;Ada beberapa kemiripan, seperti kain khas Wae Rebo adalah Songkek, nah di Minangkabau katanya punya songket, lalu tentang nama Maro, dulu ada orang Minang berkunjung kesini, katanya ada nama Tuanku Maro di Minangkabau, saya tidak tahu, karena memang saya belum pernah ke tanah leluhur saya, Sumatera Barat,&#8221; cerita Blasius.</p>
<p>Blasius adalah generasi ke 21 suku Modo, suku yang tinggal di Wae Rebo. Dirinya adalah salah satu penggerak wisata di kampung ini. Dulu, sebelum dunia mengenal Wae Rebo, Blasius bersama beberapa saudaranya, merasa terenyuh, dari tujuh Mbaru Niang, hanya tersisa empat saja, itupun dengan kondisi reot. Sedangkan tiga rumah sudah hancur.</p>
<p>Blasius dengan segala keterbatasan, mencari jalan. Bagaimana warisan leluhur mereka bisa diselamatkan. Gayung bersambut, melalui sejumlah araitek yang dimotori Yori Antar, berhasil meyakinkam Yayasan Tirto Utomo untuk ikut merestorasi rumah adat ini. Bersama Laksamana Sukardi dan Arifin Panigoro, Mbaru Niang kembali ke jumlah asalnya.</p>
<p>Perjuangan banyak orang itu berbuah manis, tahun 2012 Wae Rebo dianugerahi Award of Excellence pada UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation. Sebuah penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi warisan budaya.</p>
<p>Kembali ke asal usul Wae Rebo. Dari sisi fisik terdapat perbedaan wajah mencolok antara suku Modo suku Flores lainnya. &#8220;Pak Blasius ini perawakannya lebih mirip orang minang, dibandingkan orang Flores,&#8221; kelakar Firdaus Abi.</p>
<p>Hal itu diamini Blasius, beberapa orang memang tidak berwajah Flores, kecuali turunan yang sudah terjadi perkawinan campuran beberapa generasi dengan suku lain di Manggarai.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44456" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Malam di Denge terasa hening. Yang terdengar hanya suara generator, pembangkit listrik mini. Kopi sudah habis bergelas gelas. Sungguh nikmat Kopi Arabika Wae Rebo itu. &#8220;Jam 22.00 WIB, generator akan dimatikan, tidak boleh ada lilin,&#8221; tegas Blasius.</p>
<p>&#8220;Sekarang hujan, tidak kelihatan bintang di langit, tapi saya punya bintang di lemari kaca, harganya Rp 50 ribu,&#8221; candanya.</p>
<p>Tapi kami tidak tertarik dengan bintang. Bercengkrama tanpa gangguan gadget jauh lebih menarik. &#8220;Sudah lama kita tidak merasakan suasana ini, tidak ada HP ditangan, tapi entah bagaimana kata istri di rumah, saya belum sempat kasih tahu, disini tidak ada sinyal,&#8221; kata Adrian Tuswandi.</p>
<p>Malam makin hening, sebentar lagi genset akan dipadamkan. Besok pagi pagi sekali, tim ekspedisi bergerak ke negeri di atas awan. Malam ini kami tidur berkelambu, mengingatkan pada tidur di rumah gadang yang berjarak ratusan kilometer dari Wae Rebo.(laf)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/wae-rebo-rantau-jauh-orang-minangkabau/">Wae Rebo, Rantau Jauh Orang Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Labuan Bajo, Negeri Gersang yang Mendunia</title>
		<link>https://prokabar.com/labuan-bajo-negeri-gersang-yang-mendunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Aug 2019 04:25:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[#kemendes]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<category><![CDATA[#laf]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<category><![CDATA[#Waerebo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=44346</guid>

					<description><![CDATA[<p>Labuan Bajo, Prokabar &#8211; Siang itu, matahari tegak tali. Panasnya menyentuh ubun ubun. Tergesa &#8211; gesa, rem pesawat Batik Air mencicit di landasan pacu...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/labuan-bajo-negeri-gersang-yang-mendunia/">Labuan Bajo, Negeri Gersang yang Mendunia</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Labuan Bajo, Prokabar</strong> &#8211; Siang itu, matahari tegak tali. Panasnya menyentuh ubun ubun. Tergesa &#8211; gesa, rem pesawat Batik Air mencicit di landasan pacu sepanjang 2.250 meter itu. Setelah pesawat parkir dengan sempurna, satu per satu, penumpang turun. Sengaja tidak melalui garbarata, karena terlalu sia sia jika tidak menyempatkan diri berswafoto di landasan, dengan latar belakang tulisan Bandar Udara Komodo.</p>
<p>Bandara Komodo, tidak pernah sepi pengunjung. Rata-rata, penerbangan selalu penuh. Penumpang dari Jakarta, Surabaya dan Bali, turun silih berganti. Tujuannya adalah menikmati keindahan Flores.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44350" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190812-WA0028-1-1024x473.jpg" alt="" width="1000" height="462" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190812-WA0028-1-1024x473.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190812-WA0028-1-300x139.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190812-WA0028-1-768x355.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190812-WA0028-1.jpg 1152w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Bandara ini diresmikan Desember 2015 lalu, oleh Presiden Jokowi. Bandara dengan arsitektur modern ini menjadi pintu gerbang utama untuk berwisata ke Flores. Daya tampung Bandara dengan sign LBJ ini mencapai 1,5 juta orang. Cukup mumpuni untuk menyambut tamu di Destinasi prioritas nasional ini.</p>
<p>Senin (12/8), enam jurnalis asal Sumatera Barat menginjakkan kaki pertama kali di Labuan Bajo. Mereka datang mengikuti ekspedisi yang difasilitasi oleh Kementrian Desa dan PDTT, melalu Staf Khusus Menteri, Febby Datuak Bangso. Peserta ekspedisi ini adalah Firdaus Abi, Revdi &#8220;Ope&#8221;, Adrian Tuswandi, Defri Mulyadi, Agusmardi dan Nofal Wiska.</p>
<p>&#8220;Panas, suhunya diatas rata rata,&#8221; ujar Adrian Tuswandi, ketika keluar dari bandara.</p>
<p>Flores ini memang unik. Suhunya terbilang panas. Maklum saja hujan tidak selalu datang. &#8220;Hujan terakhir di sini Bulan Februari lalu,&#8221; kata Marthen, Driver yang menyambut tim ekspedisi di pintu kedatangan.</p>
<p>Bentang alam Flores, memang terlihat unik dari udara. Pepohonan merenggas karena kekurangan air. Rumput di perbukitan tidak lagi hijau. Air bagi sebagian masyarakat NTT memang barang langka. Tapi ini adalah keunikan tanah Flores.</p>
<p>Setelah istirahat sekedarnya di hotel. Lapar menjalar. Tim melanjutkan ekspedisi berburu kuliner. &#8220;Ada Se&#8217;i dan ikan kuah asam,&#8221; kata Marthen, driver yang merangkap pemandu.</p>
<p>&#8220;Kita cari nasi Padang saja lah,&#8221; timpal Defri Mulyadi. &#8220;Dasar orang Padang,&#8221; sambut Adrian Tuswandi, diikuti tawa yang lain.</p>
<p>Alhasil, tim tersesat di Rumah Makan Padang milik Uniang Siti. &#8220;Pergedel kentangnya, rasa Pariaman sekali,&#8221; ulas Agusmardi. Uniang Siti sudah melanglang Nusantara berjualan nasi. Bahkan sampai ke Papua.</p>
<p>Keindahan Labuan Bajo adalah saat matahari terbenam. Matahari perlahan turun, dibalik pulau nan tandus. Di ujung sana Pulau Padar dan Pulau Komodo menunggu. Cara yang paling indah menikmati keindahan, dengan menginap di kapal. Tapi kami tidak ke pulau. Cukup menikmati flores di tepian dermaga.</p>
<p>Nama kawasan favorit pada malam hari adalah Kampung Tengah. Di sini, berjejer kuliner khas Labuan Bajo. Seperti pujasera. Desain pondok dibuat semenarik mungkin. Makanannya jangan ditanya, ikan panggang menjadi menu istimewa di malam itu.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44351" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190813-WA0001-1024x768.jpg" alt="" width="1000" height="750" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190813-WA0001-1024x768.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190813-WA0001-300x225.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190813-WA0001-768x576.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190813-WA0001.jpg 1040w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung harus membeli voucher. Voucher itu lalu ditukar pada saat belanja. Harganya tidak mahal mahal sekali.</p>
<p>&#8220;Pantai Padang seharusnya bisa dibuat seperti ini, tidak ada kendaraan lalu lalang, dan suasananya tertib, bersahabat dan jauh dari pakuak mamakuak,&#8221; komentar Firdaus Abi.</p>
<p>Sementara itu, disepanjang Pantai Bajo, bule lalu lalang saja, kafe, homestay dan dive centre tampak ramai. Labuan Bajo memang terus berkembang. Pariwisata mengangkat ekonomi masyarakat.</p>
<p>&#8220;Sudah seperti Legian dan Kuta, sebentar lagi mungkin lebih ramai,&#8221; komentar Nofal.</p>
<p>Malam itu, tim ekspedisi harus rehat. Besoknya akan dimulai petualangan utama, ke Kampung Wae Rebo, Negeri Diatas awan.(laf)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/labuan-bajo-negeri-gersang-yang-mendunia/">Labuan Bajo, Negeri Gersang yang Mendunia</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejak 2014, Jumlah Wisatawan ke Taman Nasional Komodo Naik 2 Kali Lipat</title>
		<link>https://prokabar.com/sejak-2014-jumlah-wisatawan-ke-taman-nasional-komodo-naik-2-kali-lipat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jul 2019 07:45:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#komodo]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<category><![CDATA[#pulaukomodo]]></category>
		<category><![CDATA[#wisataindonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=41668</guid>

					<description><![CDATA[<p>Labuan Bajo, Prokabar — Terhitung sejak tahun 2014 sampai dengan 2018, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo, di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sejak-2014-jumlah-wisatawan-ke-taman-nasional-komodo-naik-2-kali-lipat/">Sejak 2014, Jumlah Wisatawan ke Taman Nasional Komodo Naik 2 Kali Lipat</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Labuan Bajo, Prokabar — </strong>Terhitung sejak tahun 2014 sampai dengan 2018, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo, di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami mengalami peningkatan dua kali lipat lebih. Tahun 2014 berjumlah 80 ribu orang, tahun 2018 sebanyak 170 ribu orang lebih.</p>
<p>“Dari jumlah tersebut rata-rata 60 persen merupakan wisatawan mancanegara,” kata Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Lukita Awang , saat mendampingi Presiden Jokowi mengunjungi Pulau Rinca, salah satu lokasi di kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, NTT , Kamis (11/7).</p>
<p>Sementara mengenai jumlah satwa Komodo, menurut Lukita, kurang lebih 2.800 ekor. Khusus di Pulau Rinca berdasarkan kajian data kami tahun 2018 berjumlah kurang lebih 1.040 ekor.</p>
<p>Namun Kepala Taman Nasional Komodo itu menjelaskan, jumlah Komodo ini selalu fluktuatif, tidak flat, karena kondisi alam. Ketika jumlah mangsa naik, populasi komodo akan naik, dan sebaliknya.</p>
<p>“Memang kondisi rantai makanan seperti itu, tapi optimalnya, stabilnya, jumlah komodo di seluruh kawasan taman nasional antara 2.000 sampai 3.000 ekor,” jelas Lukita.</p>
<p>Kawasan Taman Nasional Komodo, menurut Lukita, terdiri dari 147 pulau, di antaranya 5 pulau besar yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Nusa Kode, dan Gili Motang. Dari 137 ribu hektare Kawasan Taman Nasional Komodo, 60 persennya adalah perairan.</p>
<p>Dalam kesempatan itu, Kepala Taman Nasional Komodi Lukita Awang memohon arahan Presiden terkait peningkatan fasilitas penunjang di Pulau Rinca, misalnya dermaga yang perlu ada peningkatan kapasitas dermaga untuk mengantisipasi penambahan wisatawan. Selain itu, jalan menuju kawasan Loh Buaya di Pulau Rinca juga perlu peningkatan karena pada musim tertentu kerap terjadi banjir.</p>
<p>Lukita juga menyampaikan, bahwa Komodo tidak hanya ada di Taman Nasional Komodo, tetapi ada juga di dataran Flores. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya kesadaran kita bersama untuk ikut menjaga, sekaligus untuk mengembangkan destinasi baru di dataran Flores<strong>. (*/hdp)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/sejak-2014-jumlah-wisatawan-ke-taman-nasional-komodo-naik-2-kali-lipat/">Sejak 2014, Jumlah Wisatawan ke Taman Nasional Komodo Naik 2 Kali Lipat</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 43/203 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/18 queries in 0.029 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 19:19:15 by W3 Total Cache
-->