<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#kolom Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/kolom/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/kolom/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Jul 2026 09:34:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#kolom Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/kolom/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kolom Piala Dunia: Maaf Bro, Hati Saya Telah Dirampas Argentina!</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-maaf-bro-hati-saya-telah-dirampas-argentina/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2026 07:53:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[#argentina]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#piala dunia 2026]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=135336</guid>

					<description><![CDATA[<p>oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama) Kemarin, seorang teman lama ketika sama-sama mengurus sepakbola lokal daerah tiba-tiba muncul tanpa berkabar di pondok kecil lahan bawang...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-maaf-bro-hati-saya-telah-dirampas-argentina/">Kolom Piala Dunia: Maaf Bro, Hati Saya Telah Dirampas Argentina!</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="wp-image-135070 alignleft" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n.jpg" alt="" width="131" height="131" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n.jpg 285w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n-150x150.jpg 150w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n-85x85.jpg 85w" sizes="(max-width: 131px) 100vw, 131px" />oleh: <strong>Rizal Marajo (Wartawan Utama)</strong></p>
<p>Kemarin, seorang teman lama ketika sama-sama mengurus sepakbola lokal daerah tiba-tiba muncul tanpa berkabar di pondok kecil lahan bawang merah saya.</p>
<p>Dia langsung terkekeh melihat penampilan saya yang bak petani tulen. Pakai kupiah koboi, baju kampanye lengan panjang bergambar paslon guberur satu setengah tahun lalu, celana jeans lama yang robek di lutut, lengkap dengan sepatu boot bercorak militer.</p>
<p>Dulu kami saling mengenal, ketika saya jadi CEO merangkap manejer klub Liga 3 Sumbar di Kota Solok. Sedangkan dia menejer klub Liga 3 juga di kota Sawahlunto. Tapi sekarang dia berdomisili di Kota Padang Panjang, dengan status nyaleg gagal tahun 2024 lalu.</p>
<p>Klub kami sempat berhadapan pada babak fase grup di Stadion Muhammad Yamin Muaro Sijunjung, dan klub saya menang tiga gol tanpa balas. Itulah awal perkenalan, saling komunikasi, dan sekarang bertemu lagi.</p>
<p>&#8220;Lebih enak dinikmati, dan uangnya pun lebih manis,&#8221;ucap saya enteng ketika dia menyinggung profesi saya sekarang, yang dilihatnya begitu enjoy jadi seorang petani. Kami kembali terkekeh ketika dia sibuk menghitung-hitung panen bawang merah saya. Tiga pekerja saya yang sedang sibuk menyortir bawang merah ikut tertawa.</p>
<p>Ujung-ujungnya kami kembali ke laptop, cerita soal bola. Bernostalgia soal suka duka mengurus bola di daerah, saling terkekeh dan sesekali saling memanasi.  Terutama ketika dia menyinggung klub saya juara Liga 3 Sumbar 2018, karena ada faktor ownernya Anggota Exco PSSI.</p>
<p>Singkat cerita, kami akhirnya sampai pada pembahasan soal final Piala Dunia malam nanti. Tak disangka dia berceloteh penuh semangat, bak muntahan peluru AK 47. Sibuk memuji-muji manjagokan ayamnya yang bernama Spanyol.</p>
<p>Bak pengamat bola profesional, menyaingi Muhammad Kusnaeni di layar TV, dia mengulas kekuatan Spanyol. Lengkap dengan ramalan AI, statsitik tim terbaru segala macam, dia sudah memastikan keyakinannya bahwa Spanyol akan mengalahkan Argentina, dan tampil sebagai juara. Saya mendengarkan dengan mengangguk-angguk balam.</p>
<p>Tak ketinggalan dia menyebutkan segala kelemahan Argentina yang disebutnya terlalu tergantung pada Lionel Messi. &#8220;Matikan saja Messi, habis Argentina.&#8221;ucapnya berapi-api sambil menyeruput kopi yang saya suguhkan.</p>
<p>Belum puas, dia juga menyentil perjalanan Argentina yang penuh kontroversi untuk sampai ke final. Bermacam sentilan negatif diarahkan ke Argentina, misalnya disebut anak kesayangan FIFA, dibantu wasit, dan VAR yang tak berlaku untuk Timnas Argentina.</p>
<p>&#8220;Bro terlalu banyak scrool short video di Medsos kayak anak ABG.&#8221;ucap saya menyela, sambil menyalai sebatang A Mild mencoba menghentikan cerocosnya yang seperti sepeda tak berlampu dan tak punya rem.</p>
<p>&#8220;Faktanya memang begitu, masa bro tak paham hal itu.&#8221;balasnya sengit.</p>
<p>Singkat cerita saya dapat giliran bicara. Mencoba berargumen dengan analisis yang lebih berimbang. Saya mengakui kompetensi Spanyal yang sangat meyakinkan sampai mendarat di final. Bagaimana Matador menunjukan diri sebagai tim yang konsisten, kuat di segala lini, dan punya kekuatan terbesarnya ada dalam permainan secara tim yang solid.</p>
<p>Tapi saya juga tak bisa menafikan perjuangan keras Argentina untuk sampai bertengger di partai final, terlepas dari beragam kontroversi yang muncul menyertainya. Saya menghargai perjuangan mereka yang tak kenal lelah sampai menit-menit akhir, seperti yang mereka lakoni di empat laga fase gugur.</p>
<p>&#8220;Saya melihat keindahan paling dramatis dari sepakbola pada sisi itu bro. Apapun bisa terjadi, sepanjang pertandingan belum selesai.&#8221;kata saya.</p>
<p>&#8220;Tapi apa artinya kalau perjuangan itu disertai perlakuan istimewa dengan menggunakan perangkat im pertandingan, itu sama saja bermain curang, dimana letaknya fair play.&#8221;potongnya tak mau kalah. Saya tersenyum, lalu melanjutkan penejelasan saya.</p>
<p>&#8220;Okelah, sebuah tim diuntungkan perangkat pertandingan, tapi kalau  tim itu tidak mempunyai kemampuan yang tinggi dan memadai, semua bantuan itu juga tak akan ada artinya, tidak akan bisa berbuat apa-apa.&#8221;kata saya menegaskan. Dia pun terdiam, sampai disana dia sepertinya cukup paham.</p>
<p>Saya katakan lagi, saya juga sangat menghargai totalitas seorang Messi. Pria gaek 39 tahun yang masih punya energi membawa timnya ke final. Saya paparkan sedikit bagaimana perjuangan Lionel Messi sejak tahun 2006 bersama Timnas Argentina.</p>
<p>Dia tak pernah berhenti menggendong timnas Argentina, walau setiap iven besar selalu gagal. Tapi Messi selalu mencoba lagi dan mencoba lagi. Walaupun dia harus menghadapi tekanan demi tekanan dari publik negaranya sendiri  yang sangat kejam, tapi dia tak runtuh.</p>
<p>&#8220;Bayangkan bro, dia sudah dapat segalanya di tempat lain. Semua penghargaan dan gelar terbaik sudah diraihnya di level klub. Hanya juara Piala Dunia bersama Timnas yang belum, dan itu baru didapatkannya saat usianya sudah 35 tahun tahun 2022 di qatar.&#8221;kata saya panjang lebar.</p>
<p>&#8220;Perjuangan jatuh bangun, penuh ujian dan tekanan, itu yang membuat saya suka Messi. Mungkin berbeda dengan banyak orang yang membencinya, tapi Messi telah merampas hati saya bagaimana melihat sebuah perjuangan di lapangan sepakbola.&#8221;lanjut saya.</p>
<p>&#8220;Dasar wartawan, pakai rokok ciek lu ha.&#8221;ucap si bro menjangkau A Mild saya. Sepertinya dia gusar dengan penjelasan saya.</p>
<p>&#8220;Jadi intinya bagaimana, bro pegang Argentina ceritanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya jelas bro, apapun hasilnya nanti. Bagi saya Argentina sudah juara..  Saya akan menikmati pertandingan dengan sepenuh hati, tak perlu sport jantung, sesederhana itu,&#8221;jawab saya terkekeh meniru kalimat khas sang Wapres Konoha itu yang super koplak itu.</p>
<p>Akhirnya pertemuan &#8220;bersejarah&#8221; itu diakhiri dengan sebuah kesepakatan, siapapun jagioannya yang menang dalam final nanti, kita bertemu besoknya di warung kecil di pojok Pasar Kuliner Padang Panjang.</p>
<p>&#8220;Disana teh telurnya lamak,&#8221;ucap teman saya itu. Dia berbasa basi ketika saya tungkuskan bawang merah sekarontong asoy. &#8220;Titip ini untuk nyonya.&#8221;kata saya.</p>
<p>Tiba-tiba saya jadi tak sabar menunggu final Piala Dunia 2026.(*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-maaf-bro-hati-saya-telah-dirampas-argentina/">Kolom Piala Dunia: Maaf Bro, Hati Saya Telah Dirampas Argentina!</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolom; Final Piala Dunia 2026 akan Jadi Panggung Sertijab Raja Messi dan Pangeran Yamal</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-final-piala-dunia-2026-akan-jadi-panggung-sertijab-raja-messi-dan-pangeran-yamal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2026 14:08:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[#Final]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#lamine yamal]]></category>
		<category><![CDATA[#messi]]></category>
		<category><![CDATA[#sertijab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=135266</guid>

					<description><![CDATA[<p>oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama) Tidak salah, jika final Piala Dunia 2026 antara Spanyol menghadapi Argentina sebagai laga puncak paling ideal. Tidak hanya soal...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-final-piala-dunia-2026-akan-jadi-panggung-sertijab-raja-messi-dan-pangeran-yamal/">Kolom; Final Piala Dunia 2026 akan Jadi Panggung Sertijab Raja Messi dan Pangeran Yamal</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="wp-image-135070 alignleft" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n.jpg" alt="" width="118" height="118" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n.jpg 285w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n-150x150.jpg 150w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n-85x85.jpg 85w" sizes="(max-width: 118px) 100vw, 118px" />oleh: <strong>Rizal Marajo (Wartawan Utama)</strong></p>
<p>Tidak salah, jika final Piala Dunia 2026 antara Spanyol menghadapi Argentina sebagai laga puncak paling ideal. Tidak hanya soal pertemuan dua penguasa kutub sepakbola dunia paling depan, Eropa dan Amerika Selatan.</p>
<p>Namun yang lebih menyita perhatian, final kali ini bakal menghadirkan sebuah kesan yang menarik karena mempertemukan sosok dua generasi berbeda. Yang satu sedang diujung usia menguasai panggung sepakbola, yang lain calon pewaris masa depan sepakbola.</p>
<p>Lamine Yamal, remaja 19 tahun dari Catalonia Spanyol dan berdarah Maroko, adalah bakat muda terbesar sepakbola saat ini. Sedangkan Lionel Messi, sang raja sepakbola dunia dalam dua dekade terakhir.  Sudah berusia senja 39 tahun, Messi bersiap menyerahkan tahtanya kepada sang pangeran Yamal.</p>
<p>Tak ayal, final di Stadion MetLife di New York New Jersey, akan menjadi sisi terindah sepakbola karena akan menjadi arena &#8220;sertijab&#8221; antara keduanya. Penggemar sepakbola di seluruh dunia tak hanya akan menyaksikan sebuah laga paling bergengsi dalam olahraga ini, tapi juga akan mengikuti  &#8220;upacara penobatan&#8221; yang dramatis.</p>
<p>Majalah olahraga top dunia Sport Ilustrated menukilkan, laga ini menjadi sebuah kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Raja Messi, sekaligus menyambut Pangeran Yamal di bawah sorotan lampu yang paling terang, yaitu final Piala Dunia.</p>
<p>&#8220;Dari satu GOAT ke GOAT berikutnya, laga ini akan menandakan keberlanjutan mutlak dari permainan indah ini melalui pertandingan tertingginya. Ini terasa puitis. Seperti lingkaran yang sempurna, penyerahan tongkat estafet dari pemain terbaik sepanjang masa kepada sosok yang berpotensi jadi penerusnya,&#8221; tulis majalah itu.</p>
<p>Entah ini sebuah kebetulan atau memang takdir yang sedang berjalan, laga final ini akan menandai pertama kalinya Messi dan Yamal berhadapan di lapangan hijau. Padahal jika ditelusuri, keduanya sebenarnya sudah dipertemukan bertahun-tahun lalu ketika Yamal baru berusia tujuh bulan, dengan satu kata kunci, Barcelona.</p>
<p>Awal ceritanya, tahun 2007, Messi pernah ditunjuk oleh Barcelona untuk berpartisipasi dalam sesi pemotretan amal di Camp Nou. Pemotretan tersebut ditujukan untuk  menggalang dana bagi UNICEF dan program perlindungan anak dari Barca Foundation.</p>
<p>Menariknya, seorang bayi laki-laki asal Catalonia berusia tujuh bulan di dalam bak mandi yang difoto bersama Lionel Messi tersebut tidak lain adalah Lamine Yamal.</p>
<p>Saat itu, UNICEF mengadakan undian di lingkungan tempat tinggal keluarga Lamine. Mereka mendaftar undian untuk mendapatkan kesempatan difoto di Camp Nou bersama seorang pemain Barca. Dan mereka memenangkan undian itu.</p>
<p>Sang fotografer sesi pemotretan amal yang bernama Joan Monfort menggambarkan, saat itu Messi bahkan tidak tahu cara menggendong  bayi itu.  &#8220;Messi orang yang cukup introvert dan pemalu. Dia baru keluar dari ruang ganti dan tiba-tiba mendapati dirinya berada di ruang ganti lain dengan bak plastik berisi air dan ada bayi di dalamnya. Itu situasi yang rumit.&#8221;tulis Monfort.</p>
<p>Siapa sangka, bayi Yamal tumbuh besar menjadi seorang pesepakbola berbakat dan seolah mewarisi seluruh kehebatan Messi, dan yang paling menakjubkan dia memiliki foto bersejarah saat ia dimandikan Messi dan sekarang menjadi viral  menjelang laga final.</p>
<p>Bagi banyak penggemar sepakbola dunia, menganggap pertemuan tahun 2007 itu sebagai simbol yang meramalkan mahkota yang kelak akan diletakkan Messi di atas kepala Yamal. Hampir 20 tahun telah berlalu,  hari itu akhirnya tiba.</p>
<p>Deja vu, ibarat napak tilas, Yamal telah berhasil menggantikan Messi di Barcelona. Raksasa Spanyol tersebut merupakan tempat di mana Lionel Messi meniti kariernya sejak usia 13 tahun hingga akhirnya meraih ketenaran yang tak tertandingi.</p>
<p>Messi telah bermain selama 17 musim di Camp Nou, sering kali beroperasi di posisi sayap kanan. Puncak kejayaannya saat bersama era ikonik trio &#8220;MSN&#8221; yang menampilkan lini serang Messi, Neymar Jr, dan Luis Suarez.</p>
<p>Sepanjang periode itu, ia memenangkan 10 gelar La Liga dan empat trofi Liga Champions untuk mengukuhkan dirinya sebagai satu di antara pemain terbaik sepanjang masa. Tujuh dari delapan penghargaan Ballon d&#8217;Or milik Messi diraih selama masa baktinya di Barcelona.</p>
<p>Setelah itu, Messi meninggalkan Barcelona pada 2021. Tak sampai dua tahun kemudian, andalan baru Blaugrana muncul, seorang pemain sayap kanan juga berkaki kidal, Yamal, yang menimba ilmu di akademi muda Barcelona sejak usia 7 tahun.</p>
<p>Ia melakoni debutnya di tim utama Barcelona pada April 2023 pada usia yang baru menginjak 15 tahun, saat melawan Real Betis. Rekor itu menjadikannya pemain termuda yang pernah bermain untuk Blaugrana.</p>
<p>Yamal pun melejit sejak saat itu, memecahkan berbagai rekor di sana sini. Ia secara resmi menerima jersey nomor 10 klub pada musim panas lalu, tepat setelah ulang tahunnya yang ke-18. Nomor keramat yang sebelumnya pernah dipakai Lionel Messi selama 17 tahun.</p>
<p>Saat mengenakan nomor ikonik tersebut, Yamal mencetak 16 gol liga musim lalu. Sebuah torehan yang tak tertandingi oleh rekan-rekan setimnya, sembari mencatatkan 11 assist di La Liga, dan membantu Barcelona meraih gelar Liga Spanyol kedua mereka secara berturut-turut.</p>
<p>Ada kesamaan lagi, Messi maupun Yamal mengandalkan kemampuan elite mereka dalam membaca permainan di lapangan, dan seolah memiliki magnet yang membuat bola tetap menempel di kaki mereka.</p>
<p>Kini, final Piala Dunia 2026 sedang menanti epilog cerita indah Lionel Messi dan Lamine Yamal di hadapan 80 ribu penonton di MetLifa Stadium hari Minggu 19 Juli mendatang.</p>
<p>Saat ini, Yamal masih dalam proses pemulihan dari cedera hamstring yang dideritanya pada April 2026 dan belum mampu mencapai penampilan terbaiknya bersama Spanyol di Piala Dunia kali ini. Kendati demikian, ia sudah berada di jalur yang tepat untuk mengukir identitasnya sendiri.</p>
<p>Yamal baru mencetak satu gol sejauh ini dalam debutnya di Piala Dunia, ia tetap menjadi alasan signifikan di balik melajunya Spanyol ke final. Ia tetap menjadi ancaman yang menakutkan di sisi sayap, sering kali memaksa pertahanan lawan melakukan penjagaan berlebih di areanya.</p>
<p>Yang terbaru, pergerakannya dengan bola membuahkan hadiah penalti untuk membuka keunggulan Spanyol saat melawan Prancis dalam laga semifinal, yang berakhir dengan kemenangan 2-0. Kontribusi yang terlihat kecil, tapi sangat penting.</p>
<p>Dibanding Messi yang memiliki catatan luar biasa berupa delapan gol dan empat assist sampai mendaratkan Argentina di final, capaian Yamal memang masih jauh. Tapi, Messi tidak dapat final Piala Dunia pertamanya hingga ia berusia 27 tahun, yaitu pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Yamal, sudah berada di final Piala Dunia di usia 19 tahun.</p>
<p>Apapun itu, Messi pun sepenuhnya telah siap menyerahkan mahkotanya dan menaruh kepercayaan penuh pada Yamal. &#8220;Jika saya harus memilih satu karena faktor usia, atas apa yang telah dia lakukan sejauh ini dan untuk masa depan yang mungkin dimilikinya, dia adalah Lamine Yamal,&#8221; kata Messi, sebelum Piala Dunia dimulai.</p>
<p>Ini seakan sebuah isyarat, sang legenda sepakbola dari Argentina itu sudah menyiapkan prosesi yang kemungkinan menjadi salam perpisahan terakhirnya di Piala Dunia pada final nanti.</p>
<p>Yamal? akhirnya dia akan memiliki kesempatan untuk berdiri sendiri, sebagai &#8220;raja sepakbola&#8221; yang baru.(*)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-final-piala-dunia-2026-akan-jadi-panggung-sertijab-raja-messi-dan-pangeran-yamal/">Kolom; Final Piala Dunia 2026 akan Jadi Panggung Sertijab Raja Messi dan Pangeran Yamal</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolom Piala Dunia;  Inggris vs  Argentina, Rivalitas yang Melintasi Batas Lapangan Hijau</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-inggris-vs-argentina-rivalitas-yang-melintasi-batas-lapangan-hijau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2026 13:19:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[#argentina]]></category>
		<category><![CDATA[#inggris]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#moment. #piala dunia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=135224</guid>

					<description><![CDATA[<p>oleh: Rizal Marajo (wartawan Utama) Kalau ada rivalitas atau perseteruan yang tak pernah reda antara dua negara di ajang Piala Dunia, mungkin urutan pertama...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-inggris-vs-argentina-rivalitas-yang-melintasi-batas-lapangan-hijau/">Kolom Piala Dunia;  Inggris vs  Argentina, Rivalitas yang Melintasi Batas Lapangan Hijau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="wp-image-135119 alignleft" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/FIFA-World-Cup-Logo-2026-1-300x300.png" alt="" width="97" height="97" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/FIFA-World-Cup-Logo-2026-1-300x300.png 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/FIFA-World-Cup-Logo-2026-1-1024x1024.png 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/FIFA-World-Cup-Logo-2026-1-150x150.png 150w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/FIFA-World-Cup-Logo-2026-1-768x768.png 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/FIFA-World-Cup-Logo-2026-1-800x800.png 800w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/FIFA-World-Cup-Logo-2026-1-85x85.png 85w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/FIFA-World-Cup-Logo-2026-1.png 1080w" sizes="(max-width: 97px) 100vw, 97px" />oleh: <strong>Rizal Marajo (wartawan Utama)</strong></p>
<p>Kalau ada rivalitas atau perseteruan yang tak pernah reda antara dua negara di ajang Piala Dunia, mungkin urutan pertama adalah antara Inggris dan Argentina. Saking panasnya, kadang merembet kepada hal-hal diluar sepakbola.</p>
<p>Memang ada juga rivalitas lain, semisal Argentina dengan Brasil. Tapi panasnya terbatas pada unjuk taring kehebatan di lapangan sepakbola. Apalagi kalau sudah menyangkut siapa yang terhebat di benua Amerika Selatan. Selepas itu, mereka akur-akur saja.</p>
<p>Di Eropa, ada rivalitas segitiga yang sengit antara Belanda, Jerman, dan Italia. Ketiganya bak mendapat energi berlebih kalau saling bertemu. Uniknya, ada hal tak lazim ditengah rvalitas tiga negara ini.</p>
<p>Rumusnya begini, Belanda sulit mengalahkan Italia, Italia sulit mengalahkan Jerman, dan Jerman sulit mengalahkan Belanda. Maka rivalitas segitiga ini selalu menjadi hal paling ditunggu di Eropa.</p>
<p>Di belahan dunia lain juga ada rivalitas yang cukup sengit. Misalnya AS vs Meksiko di Amerika Tengah, Nigeria vs Kamerun dan Mesir vs Maroko di Afrika, Jepang vs Korea Selatan di Asia. Bahkan di tingkat lebih kecil, Indonesia dan Malaysia ikut-ikutan panas di Asia Tenggara kalau sudah bicara pertemuan Timnas mereka..hehehe.</p>
<p>Tapi semua itu tak ada yang melebihi sengitnya &#8220;permusuhan&#8221; antara Argentina vs Inggris. Setiap pertemuan mereka di ajang seperti Piala Dunia, hampir dipastikan menjadi santapan empuk media yang ikut-ikutan memanaskan persaingan.</p>
<p>Yang diulas tidak pernah hanya sekadar tentang pertandingan sepakbola. Sebab, rivalitas ini mengakar sangat dalam dan turut dibentuk oleh momen-momen yang melintasi batas lapangan hijau.</p>
<p>Namun, tidak banyak yang tahu bagaimana semua ini bermula?<br />
Saat berjumpa pada fase penyisihan Piala Dunia 1962, laga berlangsung aman-aman saja. Inggris dengan nyaman mengalahkan Argentina 3-1. Akan tetapi, rivalitas ini sebetulnya baru benar-benar meledak empat tahun kemudian di tanah Inggris.</p>
<p>Bahkan hingga hari ini setelah lebih dari 60 tahun insiden itu berlalu, masih banyak orang di Argentina menyebut pertandingan perempatfinal Piala Dunia 1966 iyu sebagai El Robo atau &#8220;perampokan&#8221;.</p>
<p>Saat itu Antonio Rattin, kapten Argentina diusir keluar lapangan oleh wasit asal Jerman Barat, Rudolf Kreitlein, karena dituduh melakukan pelecehan verbal terhadapnya. Yang membuat situasi makin runyam Kreitlein tidak bisa berbahasa Spanyol, sementara Rattin tidak mengerti bahasa Jerman maupun Inggris.</p>
<p>Pada masa itu belum ada kartu kuning atau merah dalam sepak bola. Wasit pun hanya memberikan peringatan dan pengusiran pemain melalui keputusan verbal.</p>
<p>Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang dikatakan Rattin, atau apakah dia memang mengatakan sesuatu. Kreitlein di kemudian hari mengklaim bahwa perilaku dan raut wajah kapten Argentina itulah yang membuatnya memutuskan untuk mengusirnya.</p>
<p>Rattin dibuat benar-benar bingung. Dia berulang kali meminta penerjemah dan menolak untuk meninggalkan lapangan karena merasa sangat yakin bahwa dirinya tidak melakukan apa pun yang pantas membuatnya diusir.</p>
<p>Dia akhirnya berjalan keluar setelah penundaan yang cukup lama. Lalu, ia duduk dengan gestur menantang di atas karpet merah di depan Royal Box, dimana tamu-tamu kehormatan kerajaan Inggris duduk. Tak ayal Rattin pun dilempari bir dan cokelat batang oleh sebagian penonton.</p>
<p>Timnas Inggris akhirnya memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 1-0 sebelum akhirnya mengangkat satu-satunya trofi Piala Dunia yang pernah diperoleh tim berjuluk The Three Lions ini. Sementara Argentina pulang dengan gusar dan keyakinan bahwa mereka telah dirampok.</p>
<p>60 tahun kemudian, pertandingan yang penuh kontroversi di Wembley tersebut tetap menjadi momen yang benar-benar memulai satu di antara rivalitas paling sengit dalam sepak bola, meski itu adalah babak sejarah yang tidak terlalu sering dibicarakan orang.</p>
<p>Tidak heran jika setiap Inggris dan Argentina bertemu di Piala Dunia, itu dianggap sebuah moment yang selalu melahirkan banyak cerita.</p>
<p>Misalnya pertemuan Inggris vs Argentina di perempatfinal Piala Dunai 1986. Sebelum laga, suasana sudah dipanasi oleh Perang 74 hari yang meletus di pulau Falklands atau Malvinas tahun 1982.</p>
<p>Argentina yang kalah perang sungguhan itu, mampu membalas dengan gol ‘Tangan Tuhan’ Diego Maradona yang terkenal itu. Inggrispun meradang dipermalukan dan diperdaya manusia cebol yang anehnya bisa menang duel udara dan mencetak gol melawan kiper tinggi besar seperti Peter Shilton.</p>
<p>Makin malu, berapa waktu kemudian Maradona seolah meperolok-olok seluruh Inggris, bahkan dunia dengan mengatakan itu gol &#8220;tangan tuhan&#8221;, ketimbang mengaku secara jujur bahwa tangannya sengaja menonjok bola sehingga Shilton hanya bisa menangkap angin.</p>
<p>Ditambah lagi, tak lama berselang Maradona kembali baraksi mencetak salah satu gol terbaik sepanjang masa. Dia meliuk-liuk memperdaya dan melewati tujuh pemain Inggris, lalu mencetak gol dengan sempurna dan memulangkan Inggris dari Meksiko.</p>
<p>Kejadian di Stadion Azteca tahun 1986 itu semakin menambah sengit rivalitas kedua negara. Ditambah kartu merah David Beckham pada Piala Dunia tahun 1998, yang berujung kekalahan Inggris dari Argentina melalui adu penalti, ikut menambah lapisan ketegangan di antara kedua negara ini.</p>
<p>Kini keduanya kembali bertemu di semifinal Piala Dunia 2026. Inggris tetap sebagai negara yang lebih uring-uringan ketimbang Argentina yang terlihat santai-santai saja dan lebih fokus ke pertandingan.</p>
<p>Bagi orang Inggris, citra Argentina sebagai tim yang licik, sudah tertanam lama. Mereka jelas belum lupa pada tiga momen Piala Dunia yang membekas, Antonio Rattin pada 1966, kartu merah David Beckham setelah terprovokasi Diego Simeone di 1998 dan gol &#8220;Tangan Tuhan&#8221; Diego Maradona pada 1986.</p>
<p>Kini tema serupa kembali dibakar Inggris untuk menghabisi Argentina di Piala Dunia 2026. Argentina disebut menjadi pusat kontroversi setelah menang 3-2 atas Mesir pada babak 16 besar. Kubu Mesir memprotes keputusan wasit setelah satu gol mereka dianulir melalui VAR.</p>
<p>Hal itu jadi santapan media sosial di Inggris, julukan &#8220;VARgentina&#8221; bermunculan. Narasi lama bahwa Albiceleste kerap diuntungkan keputusan penting wasit kembali hidup, meski FIFA menegaskan tidak ada keberpihakan dalam penggunaan VAR.</p>
<p>Kontroversi berlanjut pada perempat final melawan Swiss. Breel Embolo menerima kartu kuning kedua setelah VAR mengoreksi keputusan awal wasit melalui penerapan baru aturan mistaken identity. Pelatih Timnas Swiss, Murat Yakin, menyebut keputusan itu tidak dapat diterima.</p>
<p>Serangkaian insiden itu membuat Argentina kembali dibayangi tudingan lama bahwa mereka menang bukan semata kualitas permainan, tetapi juga karena kemampuan memanfaatkan setiap celah aturan. Hal inilah yang beberapa hari belakangan digoreng kubu Inggris.</p>
<p>Padahal, jurus Inggris menyederhanakan kekuatan Argentina hanya soal &#8220;kelicikan&#8221;, jelas tidak adil.</p>
<p>Mereka lupa, Argentina memiliki fleksibilitas taktik yang membuat mereka mampu berganti pendekatan dalam setiap pertandingan. Mereka bisa sabar menguasai bola, lalu seketika berubah menjadi tim yang menyerang vertikal ketika ruang terbuka.</p>
<p>Ditambah pengalaman sebagai juara bertahan dan kedalaman lini depan yang dihuni Lionel Messi, Julian Alvarez, serta Lautaro Martinez, Argentina tetap menjadi salah satu tim paling lengkap di turnamen.</p>
<p>Mereka juga lupa, kekuatan sesungguhnya Argentina yaitu semangat kebersamaan yang luar biasa. Argentina sejak dilatih Lionel Scaloni telah memiliki ikatan persaudaraan, sebuah identitas yang melampaui sekadar permainan sepakbola.</p>
<p>Sepertinya Inggris sudah kapok, tak mau kena kadali berkali-kali oleh Argentina.(*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-inggris-vs-argentina-rivalitas-yang-melintasi-batas-lapangan-hijau/">Kolom Piala Dunia;  Inggris vs  Argentina, Rivalitas yang Melintasi Batas Lapangan Hijau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolom Piala Dunia; Inggris, Antara Mimpi Football&#8217;s Coming Home dan Kutukan Satu Abad</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-inggris-antara-mimpi-footballs-coming-home-dan-kutukan-satu-abad/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2026 15:30:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[#inggris]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#piala dunia 2026]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=135172</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama) Lolosnya Inggris ke semifinal Piala Dunia 2026, membuat tanah Inggris kembali dilanda euforia. Harapan jutaan rakyat Inggris melihat timnasnya...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-inggris-antara-mimpi-footballs-coming-home-dan-kutukan-satu-abad/">Kolom Piala Dunia; Inggris, Antara Mimpi Football&#8217;s Coming Home dan Kutukan Satu Abad</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-135070 alignleft" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n.jpg" alt="" width="138" height="138" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n.jpg 285w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n-150x150.jpg 150w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n-85x85.jpg 85w" sizes="auto, (max-width: 138px) 100vw, 138px" />Oleh: <strong>Rizal Marajo (Wartawan Utama)</strong></p>
<p>Lolosnya Inggris ke semifinal Piala Dunia 2026, membuat tanah Inggris kembali dilanda euforia. Harapan jutaan rakyat Inggris melihat timnasnya kali ini menjadi finalis dan meraih gelar juara Piala Dunia kembali tumbuh.</p>
<p>Slogan &#8220;Football&#8217;s Coming Home&#8221; kembali menggelegar. Sepakbola pulang ke rumah, kira-kira seperti itu. Jargon sekaligus penggalan lirik lagu ikonik Three Lions yang mengekspresikan kerinduan besar suporter Inggris agar tim nasional mereka memenangkan trofi besar kembali bergema.</p>
<p>Makna slogan lirik buatan grup indie The Lightning Seeds bersama komedian David Baddiel dan Frank Skinner itu mulai didengungkan sejak Inggris menjadi tuan rumah Euro 1996. Sayangnya selama bertahun-tahun cuma jadi harapan kosong belaka, karena faktanya Inggris tak pernah juara, baik di Piala Dunia maupun Piala Eropa.</p>
<p>Slogan itu memiliki dua arti mendalam bagi rakyat Inggris. Pertama frasa ini merujuk pada sejarah bahwa aturan sepakbola modern pertama kali dikodifikasi di London pada tahun 1863, sehingga Inggris dianggap sebagai &#8220;rumah&#8221; dari sepakbola.</p>
<p>Kedua, tak lain tak bukan kerinduan Inggris akan gelar juara. Kabar buruknya, slogan yang sejatinya mencerminkan optimisme, tapi di saat bersamaan ada ironi penderitaan fans Inggris yang sudah berpuluh-puluh tahun berpuasa gelar sejak terakhir kali menjuarai Piala Dunia 1966.</p>
<p>Saat ini, &#8220;Football&#8217;s Coming Home&#8221; kembali bergema sangat kencang di seluruh penjuru Inggris setelah skuad asuhan Thomas Tuchel sukses melaju ke babak semifinal Piala Dunia 2026 berkat kemenangan dramatis 2-1 atas Norwegia.</p>
<p>Para suporter merasa inilah momentum untuk benar-benar &#8220;membawa sepakbola pulang&#8221; sudah sangat dekat. Meskipun mereka harus melewati tantangan berat melawan Argentina terlebih dahulu.</p>
<p>Apakah kali ini kerinduan Inggris itu benar-benar akan bisa terwujud? tunggu dulu, tak semudah itu Fergusso!</p>
<p>Fakta pertama catatan sejarah Inggris di semifinal Piala Dunia, empat kali lolos rapor Inggris lumayan ancur-ancuran. The Three Lions hanya mencatat sekali menang di semifinal Piala Dunia, yakni mengalahkan Portugal 2-1 pada edisi 1966 ketika Inggris menjadi tuan rumah dan akhirnya jadi juara.</p>
<p>Inggris harus menunggu 24 tahun untuk sampai semifinal lagi di Piala Dunia 1990. Itupun berujung kekalahan adu penalti 3-4 melawan Jerman Barat setelah bermain imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu.</p>
<p>28 tahun kemudian Inggris akhirnya mencapai semifinal lagi di Piala Dunia 2018. Kali inipun Inggris kembali kalah dengan tragis 1-2 dari Kroasia melalui babak perpanjangan waktu lewat gol penentu Mario Mandzukic.</p>
<p>Hanya diselingi kegagalan di Piala Dunia 2022, pada edisi tahun ini Inggris kembali mengamankan tiket semifinal keempatnya. Argentina, juara bertahan yang menjadi salah satu rival abadi Inggris di Piala Dunia sudah menunggu.</p>
<p>Kalaupun bisa lolos dari hadangan Argentina, Prancis atau Spanyol akan menjadi lawan Harry Kane cs di final. Dua tim ini adalah momok menakutkan bagi Inggris. Statistik pertemuan terbaru, jika bertemu Prancis pertemuan terakhir di Piala Dunia 2022, Inggris takluk 0-1 di perempatfinal.</p>
<p>Sami mawon lawan Spanyol, Inggris juga terkapar dihajar Spanyol di final Euro 2024 dengan skor 2-4. Artinya, sungguh tak mudah bagi Inggris untuk mewujudkan sepakbola pulang ke rumah aslinya.</p>
<p>Faktor kedua, adalah faktor pelatih. Inggris saat ini ditukangi pria asal Jerman, Thomas Tuchel. Pelatih ini memang tegas, juga hebat soal taktik dan strategi permainan. Tapi Tuchel justru tak disukai oleh pemainnya. Sikapnya yang tegas dan suka berkomentar asal-asalan menyalahkan pemainnya, membuat ruang ganti Inggris panas.</p>
<p>Terbaru, dia terlibat polemik tajam dengan bintang Inggris, Jude Bellingham. Tuchel di media menyebut meski Inggris lolos ke semifinal, tapi penampilan Inggris disebutnya ceroboh, banyak kesalahan teknis, lambat, dan menilai timnya sekadar &#8220;beruntung&#8221; bisa lolos.</p>
<p>Tak ayal, Bellingham yang menjadi pahlawan dengan mencetak dua gol penentu merasa tidak terima. Ia membalas dengan ketus, &#8220;Dia mungkin tidak tahu bagaimana rasanya bermain di kondisi lapangan seperti itu melawan pemain top seperti Erling Haaland dan Martin Ødegaard, jadi terserah dia bicara apa&#8221;.</p>
<p>Konflik diantara mereka memang bukan hal baru, keduanya sudah sering cekcok selama 18 bulan terakhir sejak Tuchel menjabat pelatih Inggris. Komentar kontroversial Juni 2025, Tuchel sempat memicu kemarahan keluarga Bellingham setelah menyebut temperamen agresif sang gelandang di lapangan bisa terlihat &#8220;menjijikkan&#8221;.</p>
<p>Bibit-bibit konflik yang dimulai dari kritik internal tim, bagi orang Jerman itu adalah hal yang biasa. Tapi tidak bagi orang Inggris, termasuk ketika Tuchel membuat ulah lagi dengan komentarnya yang mengatakan slogan &#8220;Football&#8217;s Coming Home&#8221; itu tidak penting, dan hanya akan menjadi tekanan bagi pemainnya saat melawan Argentina.</p>
<p>Kontan saja ucapan Tuchel membuat fans Inggris meradang lagi. Mereka pun menuding komentar itu semata untuk jaga-jaga jika gagal membawa Inggris ke final dan gagal lagi juara. Faktanya, ada catatan sejarah buruk Piala Dunia yang mengiringi Tuchel sebagai orang Jerman.</p>
<p>Sepanjang sejarah hampir satu abad Piala Dunia, belum ada pelatih asing yang mampu membawa timnya Juara PIala Dunia. Bahkan untuk ke final saja baru dua pelatih asing yang sukses, yaitu George Raynor pria Inggris yang membawa Swedia ke babak final Piala Dunia 1958, sebelum akhirnya kalah dari Brasil.</p>
<p>Kemudian Ernst Happel dari Austria, sukses mengantarkan Belanda ke partai puncak Piala Dunia 1978, tetapi harus mengakui keunggulan tuan rumah Argentina 1-3.</p>
<p>Apakah Tuchel bisa melawan kutukan pelatih yang sudah berjalan hampir satu abad itu? Jika bisa, dia akan menjadi manusia spesial yang akan tercatat manis di buku sejarah Piala Dunia.</p>
<p>Kalau gagal, berarti sudah nasib konyol Inggris yang bisa-bisanya menunjuk orang asing jadi arsitek timnasnya tanpa berkaca pada sejarah. Maka, fans Inggris bersiaplah kembali menangis sambil menyanyikan football&#8217;s coming home yang semakin menjauh.(*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-inggris-antara-mimpi-footballs-coming-home-dan-kutukan-satu-abad/">Kolom Piala Dunia; Inggris, Antara Mimpi Football&#8217;s Coming Home dan Kutukan Satu Abad</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolom Piala Dunia: Lionel Scaloni, Pria Berpangku Tangan yang Dibayar Murah untuk Merubah Argentina</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-lionel-scaloni-pria-berpangku-tangan-yang-dibayar-murah-untuk-merubah-argentina/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2026 12:02:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[#argentina]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#scaloni]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=135069</guid>

					<description><![CDATA[<p>oleh Rizal Marajo (Wartawan Utama) Pria itu tetap tenang berpangku tangan. Matanya saja yang fokus mengawasi detik demi detik kejadian di lapangan. Ekspresinya datar,...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-lionel-scaloni-pria-berpangku-tangan-yang-dibayar-murah-untuk-merubah-argentina/">Kolom Piala Dunia: Lionel Scaloni, Pria Berpangku Tangan yang Dibayar Murah untuk Merubah Argentina</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-135070 alignleft" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n.jpg" alt="" width="132" height="132" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n.jpg 285w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n-150x150.jpg 150w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/07/23844464_10210149042310538_4994172966766248277_n-85x85.jpg 85w" sizes="auto, (max-width: 132px) 100vw, 132px" />oleh <strong>Rizal Marajo (Wartawan Utama)</strong></p>
<p>Pria itu tetap tenang berpangku tangan. Matanya saja yang fokus mengawasi detik demi detik kejadian di lapangan. Ekspresinya datar, tidak ada sikap emosional berlebihan saat timnya berselebrasi gol atau merayakan kemenangan.</p>
<p>Dia juga tetap kalem ketika timnya kesulitan dan mengalami tekanan hebat di lapangan. Tidak ada gestur panik atau grasak grusuk berteriak memberi instruksi. Sesekali dia membungkuk untuk mengambil botol air dan minum sekedarnya. Kemudian kembali berpangku tangan.</p>
<p>Itulah Lionel Scaloni, pelatih Timnas Argentina sejak 2018. Pribadi yang terlalu tenang di pinggir lapangan. Bahkan ketika timnya tampil sebagai juara Piala Dunia 2022, mengalahkan Prancis melalui adu penalti, dia tak histeris menyambut kemenangan timnya.</p>
<p>Setelah adu penalti selesai, dia berbalik untuk duduk di bench dengan tenang. Dia hanya terlihat beberapa kali mengusap matanya yang berkaca-kaca menahan tangis bahagia. Tangisnya baru meledak tak tertahan, ketika para stafnya di kepelatihan dan pemainnya mendatanginya dan memeluknya.</p>
<p>Nah, berbicara tentang sepakbola Argentina dengan segala kemegahannya sebagai juara dunia tiga kali, ditambah egosentris sebuah tim yang sarat bintang berlevel internasional, mungkin banyak orang akan memandang remeh pria 48 tahun itu diawal penunjukanannya..</p>
<p>Kita kembali ke awal penunjukan Sacloni sebagai pelatih Tim Tango. Awalnya dia hanya berstatus pelatih sementara, karena dia dianggap belum layak secara permanent untuk menangani Timnas sebesar Argentina.</p>
<p>Saat itu sepakbola Argentina sedang terguncang hebat, carut marut, porak poranda dan terpecah belah usai kegagalan di Piala Dunia 2018. Ditambah rentetan kegagalan sebelumnya di sejumlah turnamen besar.</p>
<p>Tidak ada pelatih yang mau menukangi Argentina, karena beratnya tekanan di tim tersebut. Ditambah, kontrak sebagai pelatih Timnas Argentina yang banyak desebut pelatih-pelatih top dengan &#8220;uang disana sangat sedikit&#8221;.</p>
<p>Sementara tekanan publik dan pers tak kalah kejam, karena sepakbola Argentina benar-benar mengalami sebuah situasi yang sangat buruk. Bayangkan, sejak tahun 1993 sampai 2018 mereka tak pernah lagi memenangi gelar Copa America.</p>
<p>Piala Dunia? lebih parah lagi. Sejak Diego Maradona mengangkat Piala Dunia tahun 1986 di Meksiko, negara sepakbola sebesar Argentina yang tak pernah berhenti melahirkan pemain hebat, tak pernah lagi mencicipi juara Piala Dunia.</p>
<p>Publik Argentina yang menjadikan sepakbola sebagai salah satu nafas kehidupan mereka, tak tahan dengan kondisi tersebut. Mereka tak bisa menerima kegagalan demi kegagalan yang tak pernah berhenti.</p>
<p>Bahkan saking marahnya, seorang Lionel Messi pun pernah dihujat habis-habisan, sehingga sang bintang sempat mundur dari Timnas Argentina. Dia baru mau kembali, setelah jutaan masyarakat Argentina turun ke jalan minta Messi kembali ke Timnas.</p>
<p>Padahal apa yang kurang dari Argentina, silih berganti bintang datang sejak terakhir kali juara Copa America 1993. Mulai dari Gabriel Batistuta, Fernando Redondo, Hernan Crespo, Ariel Ortega, Juan Veron, sampai munculnya era Lionel Messi. Tapi semua nama itu tak kunjung menyumbangkan piala ditengah dahaga publik Argentina.</p>
<p>Ketika itulah, AFA atau PSSI-nya Argentina menunjuk Scaloni sebagai pelatih. Alasannya menggelikan, Sacloni bukan pelatih top dan bisa dibayar murah. Dan hal itu sifatnya hanya sementara, sampai pelatih top datang.</p>
<p>Ya, reputasi Scaloni memang tak ada apa-apanya dibanding sejumlah nama besar yang pernah menukangi Argentina. Sebut saja mulai dari Era Luis Cesar Menotti yang memberi Argentina juara Dunia 1978. Kemudian ada Carlos Bilardo, arsitek juara Piala Dunia 1986.</p>
<p>Selebihnya, sederat nama tenar silih berganti melatih Argentina, sebut saja Alfio Basile, Jose Pakerman, Marcelo Bielsa, Daniel Passarella, Gerardo Martino, Alejandro Sabela, Jorge Sampaio, bahkan super star Diego Armando Maradona pun pernah menukangi Argentina. Tapi semuanya gagal memberikan sebuah trophy juara kepada Argentina.</p>
<p>Apalah arti Scaloni dibanding nama-nama besar itu. Reputasinya sebagai pelatih level internasional belum ada. Semasa jadi pemain dia juga biasa-biasa saja. Dia bukan bintang, apalagi seorang super star. Dia hanya pernah bermain di klub-klub medioker Eropa, dan caps bersama Timnas Argentina hanya 7 kali sepanjang karirnya.</p>
<p>Tapi Scaloni tak peduli hal itu, dia tetap maju walau dipandang sebelah mata. Dia serius bekerja membenahi Timnas Argentina yang ancur-ancuran setelah berpuluh tahun kering prestasi.</p>
<p>Apa yang dilakukan Scaloni ternyata berbeda dengan pelatih-pelatih sebelumnya yang lebih mengedepankan diri sebagai seorang bos yang tak boleh dibantah. Tapi scaloni memilih pendekatan yang lebih manusiawi.</p>
<p>Scaloni menyebut timnya sebagai sebuah keluarga. Tidak ada perlakuan istimewa kepada seorang pemain, termasuk kepada bintang sekaliber Lionel Messi sekalipun. Hal ini langsung mencairkan suasana tim yang sebelumnya terjebak dalam ego pemain yang rata-rata adalah pemain kelas dunia.</p>
<p>Bahkan, seperti pengakuan kiper Emiliano Martinez, Scaloni membuat sebuah grup WA timnas Argentina. Uniknya di Grup itu,. Scaloni tak pernah membahas taktik dan strategi permainan. Dia lebih banyak bicara atau mengecek kabar pemainnya dan hal-hal ringan lainnya.</p>
<p>Pendekatan itu secara perlahan merubah suasana Timnas Argentina yang sebelumnya kaku dan penuh ego, menjadi lebih familiar. Tak ada gap lagi antara pemain bintang dengan pemain muda atau pemain debutan di Timnas.</p>
<p>Hebatnya, hal ini sanggup merubah cara pandang seorang pemain sekaliber Messi dan pemain lainnya. Jika sebelumnya Argentina gampang ditebak mereka bermain seolah untuk Messi, tapi ditangan Scaloni semuanya berubah, semuanya bermain untuk Timnas Argentina dan untuk seluruh rakyat Argentina.</p>
<p>Memang tak langsung membuahkan hasil, ujian pertama Scaloni adalah Copa America 2019. Argentina berhasil masuk final, tapi kalah dari tuan rumah Brasil. Tapi hal itu mulai menerbitkan kepecayaan publik pada Scaloni.</p>
<p>Dan yang lebih penting, para pemain pun sepenuhnya percaya pada kepemmimpian pria yang saat ditunjuk jadi pelatih tahun 2018 baru berusia 40 tahun.</p>
<p>Saking percayanya para pemain, Enzo Fernandez striker andalan Argentina menyebutkan.&#8221;Jika saat matahari terbit Scaloni menyapa kami dengan selamat malam, maka kami tetap akan percaya.&#8221;ujar Enzo terkekeh pada sebuah podcast.</p>
<p>Sacaloni tipikal pelatih yang selalu percaya pada sebuah proses. Dia menjalani setiap proses itu bersama pemainnya. Akhirnya, Scaloni meraih gelar pertamanya bersama Timnas Argentina di Copa America 2021, dengan mengalahkan Brasil di final.</p>
<p>Tidak hanya mengakhiri puasa gelar Argentina sejak tahun 1993, tetapi juga menjadi gelar pertama Lionel Messi di turnamen besar. Messi yang sudah memperkuat Timnas Argentina sejak di Piala Dunia 2006, baru meraih gelar pertamanya tahun 2021 saat usianya sudah 34 tahun. Dan itu didapatkannya di era pelatih Scaloni</p>
<p>Gelar itu menjadi pintu bagi Timnas Argentina untuk meraih gelar demi gelar berikutnya. Tahun berikutnya Argentina meraih Piala Finalissima yang mempertemukan juara Copa Amerika dan Juara Eropa, dimana Argentina mengalahkan Italia.</p>
<p>Puncaknya tentu saja keberhasilan Argentina meraih gelar juara Piala Dunia 2022 di Qatar. sebuah gelar yang sudah ditunggu rakyat Argentina selama 36 tahun, dan itu terwujud ditangan Sacloni. Pelatih yang dibayar murah dan diremehkan, tetapi ternyata punya sentuhan juara.</p>
<p>Tak sampai disitu, Scaloni kembali mengantarkan Argentina tampil sebagai juara Copa America 2024 di Amerika Serikat.  Gelar juara yang sebelumnya sesuatu yang sulit direbut Argentina hampir tiga dekade, ditangan pelatih yang awalnya dipandang remeh itu, gelar demi gelar bergengsi mengalir ke lemari piala Timnas Argentina.</p>
<p>Publik Argentina pun mulai percaya sepenuhnya pada pria tenang itu. Bahkan Federasi sepakbola Argentina dikabarkan telah menawarkan kontrak seumur hidup bagi Scaloni untuk tetap di Timnas Argentina.</p>
<p>Scaloni, pria sederhana dari kota Santa Fe itu telah membuktikan bahwa nama besar bukanlah jaminan untuk meraih sukses. Dia hanya bekerja tanpa banyak bicara, dan dia bisa menaklukan ego dan kesombongan pemain bintang dengan kerendahan hatinya.</p>
<p>Tak ada yang berubah dari Sxaloni, dia tetap pria tenang yang selalu berpangku tangan di bibir banch mengamati anak asuhnya bertarung di lapangan. Kalau merasa perlu memberi sebuah instruksi, dia cukup berbisik kepada asistennya seperti Walter Samuel, Pablo Aimar, atau Roberto Ayala.</p>
<p>Kini, Timnas Argentina sudah berada di perempatfinal Piala Dunia 2026. Scaloni telah melewati pertandingan berat di Piala Dunia kali ini. Ketika orang melihat Argentina disebut-sebut akan berpeluang kembali ke final, Sacloni tetap tenang dan tak banyak bicara.</p>
<p>Baginya, dia cukup meminta pemainnya melakoni setiap pertandingan dengan permainan yang maksimal dan jika itu sudah dilakukan, maka kemenangan akan dapat diraih. Tak perlu berkomentar berlebihan tentang tim lawan. Sesederhana itu saja konsep kepelatihan pria yang satu ini.</p>
<p>Akankah Argentina bisa back to back, menjuarai Piala Dunia dua kali beruntun, yang terakhir kali hanya bisa dilakukan Timnas Brasil tahun 1958 dan 1962. Kalau bisa itu sebuah capaian yang tak terbayangkan bagi Sacaloni.</p>
<p>Apapun hasilnya, dia tetap pria yang suka berpangku tangan dan mata berkaca-kaca jika timnya juara. Tak lebih dari itu. (*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-lionel-scaloni-pria-berpangku-tangan-yang-dibayar-murah-untuk-merubah-argentina/">Kolom Piala Dunia: Lionel Scaloni, Pria Berpangku Tangan yang Dibayar Murah untuk Merubah Argentina</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolom: Belajar dari Maroko; Melalui Diaspora Menuju Panggung Elit Piala Dunia</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-belajar-dari-maroko-melalui-diaspora-menuju-panggung-elit-piala-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2026 01:18:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#maroko]]></category>
		<category><![CDATA[#piala dunia 2026]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=134947</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Rizal Marajo (wartawan Utama) Sebelum Piala Dunia 2022 di Qatar, publik sepakbola dunia mungkin masih melihat Maroko sebagai tim semenjana, tim kuda hitam,...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-belajar-dari-maroko-melalui-diaspora-menuju-panggung-elit-piala-dunia/">Kolom: Belajar dari Maroko; Melalui Diaspora Menuju Panggung Elit Piala Dunia</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-134509 alignleft" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-256x300.jpg" alt="" width="129" height="151" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-256x300.jpg 256w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-872x1024.jpg 872w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-768x902.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-1308x1536.jpg 1308w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-1744x2048.jpg 1744w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-800x939.jpg 800w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1.jpg 1890w" sizes="auto, (max-width: 129px) 100vw, 129px" />Oleh <strong>Rizal Marajo (wartawan Utama)</strong></p>
<p>Sebelum Piala Dunia 2022 di Qatar, publik sepakbola dunia mungkin masih melihat Maroko sebagai tim semenjana, tim kuda hitam, tim medioker, atau dengan sejumlah sebutan lain yang menggambarkan Maroko bukanlah kekuatan elit dunia.</p>
<p>Tapi empat tahun lalu, paradigma itu mulai bergeser ketika Maroko tiba-tiba melesat sampai semifinal. Mereka sempat menyingkirkan dua raksasa Eropa, Spanyol dan Portugal di fase gugur. Mereka baru terhenti di semifinal oleh Prancis.</p>
<p>Walau begitu, capaian epik tim Singa Atlas itu masih ada saja dianggap sebagai sebuah kejutan dan keajaiban Piala Dunia Qatar 2022.</p>
<p>Empat tahun kemudian, tepatnya di Piala Dunia 2026 yang sedang berjalan, seharusnya pandangan yang merendahkan Maroko itu tak relevan lagi. Bahkan mereka mulai layak dilirik sebagai tim yang bisa melangkah lebih jauh dari sekadar semifinal tahun 2022.</p>
<p>Lihat saja faktanya, Maroko yang sudah berada di perempatfinal Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Kanada 3-0, ternyata belum terkalahkan dalam 34 laga beruntun di level internasional di semua kompetisi. Maroko adalah satu-satunya tim Afrika yang masuk 10 besar rangking FIFA.</p>
<p>Bahkan di babak 32 besar, tim sekelas Belanda pun gentar dan ketakutan melawan Maroko, sampai-sampai memilih bermain bertahan yang jauh melenceng dari gaya main Belanda yang selalu menyerang.</p>
<p>Kini, Maroko tak lagi dipandang sebagai kejutan, tetapi sudah disebut-sebut sebagai salah satu calon kuat juara Piala Dunia.</p>
<p>“Ini bukan kejutan, kami bukan lagi tim kejutan saat ini. Saat orang-orang berbicara tentang Maroko mereka berbicara soal calon juara, negara sepak bola besar dan ini jadi sumber kebanggaan,” kata pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi menanggapi hal itu.</p>
<p>Apa kunci melesatnya Maroko ke panggung elit dunia?<br />
Maroko adalah saksi bisu dari transformasi mendalam yang sedang terjadi di lanskap sepak bola internasional. Ada fenomena sosiologis sedang berlangsung di banyak negara yang ramai-ramai memburu pemain diaspora atau naturalisasi.</p>
<p>Maroko berada di garis depan revolusi ini. Bahkan tim elit Eropa pun melakukannya, seperti Jerman, Spanyol, apalagi Prancis yang hanya menyisakan Andras Rabbiot sebagai &#8220;putra daerah&#8221; asli dalam skuadnya di Pildun tahun ini.</p>
<p>Maroko, hampir seluruh pemainnya lahir di luar negara tersebut. Contohnya saat melawan Brasil di fase grup, Hanya Azzedine Ounahi yang lahir di Casablanca, Maroko. Ini manifestasi nyata dari globalisasi sepak bola yang semakin mengaburkan batas-batas geografis dan mendefinisikan ulang konsep kebangsaan olahraga.</p>
<p>Sukses Maroko menembus semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar telah mengejutkan dunia, namun komposisi skuad mereka di tahun 2026 menceritakan kisah yang jauh lebih kompleks. Dari 26 pemain yang dibawa pelatih Mohamed Ouahbi, sebanyak 19 pemain lahir di luar Maroko.</p>
<p>Artinya, hanya tujuh pemain di skuad Maroko saat ini yang lahir di negara tersebut. Angka ini melonjak dari 14 pemain pada edisi 2022. Ini menegaskan strategi rekrutmen diaspora bukanlah solusi sementara, melainkan pilar utama pembangunan Timnas.</p>
<p>Mulai dari sang kapten Achraf Hakimi, adalah salah satu dari enam pemain Maroko yang justru lahir di Spanyol. Selain Hakimiu, ada Brahim Díaz, Chadi Riad, dan pencetak gol ke gawang Brasil, Ismael Saibari yang juga lahir di Negeri Matador.</p>
<p>Enam pemain berasal dari Prancis, yakni Issa Diop, Ayyoub Bouaddi, dan Gessime Yassine. Dari Belanda, diambil tiga pemain penting bagi Maroko, yaitu Sofyan Amrabat, Anass Salah-Eddine, serta bek sayap Manchester United Noussair Mazraoui. Semuanya lahir di Negeri Kincir Angin.</p>
<p>Dua winger muda berbakat, Bilal El Khannouss dan Chemsdine Talbi, lahir di Belgia, begitu juga dengan Zakaria El Ouahdi. Sementara itu, kiper andalan Yassine Bounou lahir di Montreal, Kanada, sebelum kembali ke tanah air orang tuanya di Maroko saat berusia tiga tahun.</p>
<p>Memang ada tudingan negatif bahwa apa yang dilakukan Maroko tak lebih sekadar &#8216;impor&#8217; pemain dan program instant belaka. Para pemain ini hanya memilih Maroko sebagai &#8220;pelarian&#8221;, setelah gagal menembus Timnas negara kelahiran mereka yang merupakan tim elit Eropa.</p>
<p>Namun, analisis mendalam menunjukkan realitas yang berbeda. Dari 61 pemain diaspora yang dievaluasi Maroko antara tahun 2017 dan 2026, ternyata lebih dari separuh dari mereka telah memilih untuk mewakili Maroko sejak awal karier internasional mereka.</p>
<p>Hal ini membantah narasi bahwa para pemain ini hanya memilih Maroko setelah gagal menembus Timnas negara kelahiran mereka. Sebaliknya, ini menunjukkan keberhasilan Maroko dalam memobilisasi identitas sepak bola transnasional yang berakar pada sejarah migrasi, keterikatan keluarga, dan keterlibatan proaktif federasi.</p>
<p>Fenomena yang ditunjukkan Maroko, ternyata mampu memberikan validasi empiris bagi program naturalisasi yang juga digalakkan Indonesia melalui PSSI. Sejak dipimpin Erick Thohir, PSSI secara agresif mencari dan menaturalisasi pemain-pemain keturunan Indonesia yang berkarier di luar negeri, terutama di Eropa.</p>
<p>Langkah ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah, termasuk Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Kementerian Hukum dan HAM . Nama-nama seperti Maarten Paes, Jay Idzes, Calvin Verdonk, kini menjadi tulang punggung skuad Garuda.</p>
<p>Baru-baru ini, di bawah arahan pelatih John Herdman, PSSI bahkan telah memulai proses naturalisasi untuk pemain-pemain dari Australia seperti Mitchell Baker dan Luke Vickery, menandakan ekspansi pencarian bakat di luar Eropa.</p>
<p>Strategi PSSI memiliki kesamaan fundamental dengan pendekatan Maroko. Keduanya tidak sekadar mencari &#8216;tentara bayaran&#8217;, melainkan menargetkan pemain yang memiliki garis keturunan dan ikatan emosional dengan negara tersebut.</p>
<p>Kehadiran pemain diaspora di Timnas Indonesia telah terbukti meningkatkan kualitas permainan secara instan, sekaligus memberikan efek domino berupa peningkatan standar kompetisi domestik dan motivasi bagi pemain lokal.</p>
<p>Erick Thohir, secara konsisten menegaskan program naturalisasi adalah bagian integral dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan level Timnas Indonesia di Asia dan pada akhirnya menembus putaran final Piala Dunia.</p>
<p>Kesuksesan Maroko membuktikan membangun Timnas yang tangguh melalui optimalisasi potensi diaspora adalah strategi yang sah dan terbukti efektif.</p>
<p>Apakah artinya Indonesia sudah ada di jalan yang benar menuju mimpi Piala Dunia?</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-belajar-dari-maroko-melalui-diaspora-menuju-panggung-elit-piala-dunia/">Kolom: Belajar dari Maroko; Melalui Diaspora Menuju Panggung Elit Piala Dunia</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolom Piala Dunia 2026; The Last Philosophy, Ketika Ronald Koeman &#8220;Mengkhianati&#8221; Belanda</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-2026-the-last-philosophy-ketika-ronal-koeman-mengkhianati-belanda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2026 15:32:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[#belanda]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#piala dunia 2026]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=134928</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Rizal Marajo (Wartawan Utama) Babak 32 besar Piala Dunia 2026 sudah tuntas. 16 negara sudah menggenggam tiket untuk pertarungan menuju perempat final. 16...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-2026-the-last-philosophy-ketika-ronal-koeman-mengkhianati-belanda/">Kolom Piala Dunia 2026; The Last Philosophy, Ketika Ronald Koeman &#8220;Mengkhianati&#8221; Belanda</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-134509 alignleft" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-256x300.jpg" alt="" width="100" height="117" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-256x300.jpg 256w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-872x1024.jpg 872w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-768x902.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-1308x1536.jpg 1308w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-1744x2048.jpg 1744w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-800x939.jpg 800w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1.jpg 1890w" sizes="auto, (max-width: 100px) 100vw, 100px" />Oleh <strong>Rizal Marajo (Wartawan Utama)</strong></p>
<p>Babak 32 besar Piala Dunia 2026 sudah tuntas. 16 negara sudah menggenggam tiket untuk pertarungan menuju perempat final. 16 laga di fase gugur 32 besar, telah melahirkan banyak drama dan kejutan di lapangan hijau.</p>
<p>Ada tangis yang pecah setelah perjuangan melelahkan terbayar oleh tiket ke 16 besar. Ada drama pilu, ketika tiket sudah berada dalam genggaman terlepas di menit bahkan detik-detik akhir pertandingan.</p>
<p>Sebut saja drama yang seketika merubah sejarah yang sedang ditulis Senegal di Lumen field Stadium di kota Seattle. Unggul 2-0 sampai menit 86 dari Belgia, tapi dalam tempo tiga menit Belgia mampu mencetak dua gol yang membuat skor 2-2 di ujung waktu normal dan memaksakan perpanjangan waktu.</p>
<p>Ketika suporter kedua tim sudah pasrah pertandingan bakal diakhiri dengan adu penalti, Belgia mendapat penalti di penghukung extra time atau menit 120+5. Gol yang tak ubahnya hukuman mati yang membuat mimpi indah Senegal berantakan untuk lolos ke 16 besar.</p>
<p>Tak kalah dramatis, Jepang wakil kebanggaan dan harapan Asia, memberikan penampilan memikat nan apik, dan mampu memberikan perlawanan setimpal kepada tim sekelas Brasil.</p>
<p>Tapi sebuah gol Brasil di ujung waktu mengakhiri semangat bushido Ayase Ueda dan kawan-kawan. Mimpi mereka untuk meraih kemenangan pertama di fase gugur Piala Dunia, yang sejak tahun 2002 belum juga kesampaian harus dikubur lagi untuk coba diulangi empat tahun lagi.</p>
<p>Lihat pula bagaimana pemain Cape Verde jatuh bangun membuat juara bertahan Argentina hilang akal dan ngos-ngosan. Spirit luar biasa dan tak kendor sedikitpun selama 120 hampir saja mempermalukan sang juara bertahan.</p>
<p>Hanya karena magis seorang Lionel Messi yang harus &#8220;dipaksa&#8221; pelatihnya bermain selama 120 menit, telah menyelamatkan tim Tango. Messi yang sudah berusia 39 tahun harus bermain dua jam demi untuk menjaga semnagat dan kepercayaan diri pemain Argentina di tengah gempuran tim negara kecil debutan Piala Dunia itu.</p>
<p>Karena Messi adalah panglima perang bagi teman-temannya di lapangan. Apa jadinya prajurit Argentina itu, tanpa seorang panglima di medan tempur yang begitu sengit dihadirkan oleh Cape Verde. Takdir pun berkata, sebuah gol bunuh diri pemain Cape Verde yang bermula dari sepak pojok Messi, telah mengakhiri laga heroik itu.</p>
<p>Tapi, dari semua laga 32 besar itu, yang paling jadi perbincangan adalah kekalahan Belanda dari Maroko. Pertempuran dahsyat di Stadion BBVA kota Monterrey di Meksiko itu diakhiri oleh adu penalti yang dimenangkan oleh Maroko.</p>
<p>Belanda, banyak diharapkan bisa melangkah jauh kali ini. Performa luar biasa dan memikat di fase grup, membuat orang mulai melirik De Oranje layak untuk melangkah jauh di Piala Dunia kali ini. Bahkan tak sedikit yang memasukan Belanda sebagai salah satu penantang serius untuk juara.</p>
<p>Harapan itu sebenarnya masuk akal, ketika Cody Gakpo menjebol gawang Maroko menit ke-72. Selama hampir 25 menit, Virgil van Dijk dan kawan-kawan mati-matian untuk mempertahankan keunggulan itu. Tapi pertahanan itu runtuh juga di menit 90+1 ketika Issa Diop menyamakan skor 1-1 dan memaksa perpanjangan waktu.</p>
<p>Disinlah drama Belanda dimulai. Sejak unggul 1-0 sampai habisnya extra time, pelatih Belanda Ronal Koeman justru menyerahkan lehernya dan timnya kepada Maroko yang tampil bak prajurit Hanibal melintasi pebunungan Atlas di Afrika Utara.</p>
<p>Dan itulah yang terjadi, Belanda seperti menunggu waktu untuk memaksakan adu penalti, yang jelas-jelas adalah sisi lemah Belanda. Dari empat kali adu penalti di Piala Dunia, Belanda hanya sekali menang, yaitu melawan Costa Rika di perempatfinal Piala Dunia 2014.</p>
<p>Sementara Maroko, adalah jagonya adu penalti. Empat tahun lalu mereka sampai semifinal menang lewat adu penalti melawan dua raksasa Eropa Spanyol dan Portugal. Kali ini Belanda yang mereka habisi dengan cara itu.</p>
<p>Belanda, tim yang banyak digilai penggemar sepakbola di dunia, termasuk di Indonesia. Sebabnya hanya satu, kalau ada satu negara yang identitas sepakbolanya paling gampang dikenali, jawabannya mungkin Belanda.</p>
<p>Selama puluhan tahun, mereka dikenal sebagai tim yang selalu ingin menguasai bola, mendikte permainan, dan memaksa lawan mengikuti ritme mereka. Filosofi itu sudah melekat begitu kuat sampai orang-orang menyebutnya Total Football. Filosofi yang diciptakan pelatih legendaris Rinus Michel tahun 1970-an, yang berbuah dua kali finalis Piala Dunia 1974 dan 1978.</p>
<p>Bagi Belanda, menang memang penting, tapi cara meraihnya juga selalu jadi bagian dari kebanggaan sepakbola mereka. Bicara Belanda adalah bicara sepakbola full menyerang yang sexy.</p>
<p>Mereka mungkin tak seindah Jogo bonito Brasil di masa jaya atau sekuat Cattenacio Italia dulu, tapi sepakbola Belanda adalah perpaduan skill tinggi dan seni sepakbola menyerang yang penuh totalitas sebagai sebuah tim.</p>
<p>Ketika Ronald Koeman yang semasa jadi pemain adalah seorang bek terbaik dunia, &#8216;mengkhianati&#8221; total football melawan Maroko, maka itu menjadi awal kekalahan Belanda yang sangat menyakitkan.</p>
<p>Melawan Maroko, Koeman memilih bermain dengan lima bek dan hanya dua gelandang. Secara taktik, keputusan itu tentu sah-sah saja, kalau memang harus menyesuaikan diri dengan lawan yang dihadapi.</p>
<p>Masalahnya, buat banyak orang Belanda, memainkan lima bek dan dua gelandang sama artinya memilih bertahan membiarkan diri diserang. Bagi orang Belanda itu jelas menabrak nilai-nilai sepakbola Belanda yang hanya punya satu rumus, yaitu menyerang adalah pertahanan terbaik.</p>
<p>Tidak heran sepanjang pertandingan, Maroko yang lebih sering mengambil inisiatif permainan. Achraf Hakimi Cs tenang saat mengalirkan bola, berani memainkan kombinasi umpan-umpan pendek, dan terus bergerak mencari ruang.</p>
<p>Malah terlihat, permainan Maroko itu terasa seperti sedang &#8220;merampas&#8217; senjata milik Belanda dan dihadapkan kepada tuan pemilik asli senjata itu.</p>
<p>Ironi yang sangat telak bagi Belanda, apalagi beberapa pemain penting Maroko memang tumbuh besar di Belanda. Sebut saja, Noussair Mazraoui lahir di Leiden. Sofyan Amrabat besar di Utrecht. Anass Salah-Eddine juga lahir dan mengawali kariernya di Belanda.</p>
<p>Mereka belajar sepakbola dari sistem yang sama, lalu membawa filosofi itu ke Piala Dunia untuk melawan Belanda. Bedanya, malam itu mereka mengenakan jersey Maroko.  Sementara Belanda yang harusnya lebih banyak pegang bola, justru lebih banyak menunggu.</p>
<p>Tentu ini tak sepenuhnya kesalahan Koeman sebagai pelatih. Dia pasti punya alasan sehingga harus mengingkari identitas sepakbola Belanda sendiri. Bagaimana pun Maroko bukan lawan yang bisa diremehkan. Bermain lebih hati-hati dan tak memaksakan diri menyerang, tentu bukan keputusan yang muncul tanpa pertimbangan.</p>
<p>Bahkan setelah pertandingan, Koeman membela diri dengan mengatakan bahwa kalau saja Maroko tidak mencetak gol penyeimbang di menit-menit akhir, mungkin semua orang justru sedang memuji keputusannya memasang lima bek dan bermain menunggu.</p>
<p>Tapi publik Belanda tak bisa menerima itu, kekalahan Belanda dari Maroko tidak hanya sekedar soal hasil akhir. Mereka marah, karena Timnas Belanda mulai kehilangan sesuatu yang selama ini membuat mereka berbeda.</p>
<p>Belanda memang kalah dari Maroko, namun yang lebih menyakitkan buat suporter dan pendukung Belanda adalah cara mereka kalah. Dimana mereka kalah karena meninggalkan identitas sepakbola mereka.</p>
<p>Kini, Koeman telah mengundurkan diri sebagai Pelatih Belanda. Siapapun penggantinya, PR besarnya bukan mencari formasi baru atau menemukan pemain baru lagi. Tantangan terbesarnya justru adalah menemukan lagi versi Belanda yang selama puluhan tahun sejak era 1970-an membuat dunia jatuh cinta pada sepakbola mereka.</p>
<p>Sebuah dilema memang, karena disaat hampir semua tim di dunia mulai bermain lebih pragmatis, dan hanya menjadikan kemenangan sebagai satu-satunnya tujuan, apakah Belanda akan tetap bersikukuh untuk kembali kepada identitas aslinya. Yang jelas, di Piala Dunia 2026 Koeman sudah menggali kuburan untuk total football.</p>
<p>Menarik dinanti, apakah total footbal akan senasib dengan Jogo Bonito yang sudah dikuburkan Brasil, atau serupa dengan kick and rush yang sudah dipasangi batu nisan oleh Inggris. Bisa jadi akan sama pula dengan Cattenaccio yang sudah mulai ditinggalkan Italia dan pressure football ala Jerman yang tak terlihat lagi.</p>
<p>Kalau tidak, maka kita masih ada harapan untuk menikmati total footbal sebagai &#8220;The last Pholosophy&#8221; di panggung sepakbola dunia.(*)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-piala-dunia-2026-the-last-philosophy-ketika-ronal-koeman-mengkhianati-belanda/">Kolom Piala Dunia 2026; The Last Philosophy, Ketika Ronald Koeman &#8220;Mengkhianati&#8221; Belanda</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolom: Ragam Kejutan di Piala Dunia, dari Tragedi Maracanazo Sampai Keajaiban Cape Verde</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-ragam-kejutan-di-piala-dunia-dari-tragedi-maracanazo-sampai-keajaiban-cape-verde/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2026 16:10:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[#cape verde]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#maracanazo]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=134834</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama) Setiap edisi Piala Dunia selalu punya cerita sendiri. Diantara cerita-cerita itu, selalu ada kejutan-kejutan yang tak terduga dan akan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-ragam-kejutan-di-piala-dunia-dari-tragedi-maracanazo-sampai-keajaiban-cape-verde/">Kolom: Ragam Kejutan di Piala Dunia, dari Tragedi Maracanazo Sampai Keajaiban Cape Verde</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-134509 alignleft" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-256x300.jpg" alt="" width="148" height="173" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-256x300.jpg 256w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-872x1024.jpg 872w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-768x902.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-1308x1536.jpg 1308w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-1744x2048.jpg 1744w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1-800x939.jpg 800w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo-1.jpg 1890w" sizes="auto, (max-width: 148px) 100vw, 148px" />Oleh: <strong>Rizal Marajo (Wartawan Utama)</strong></p>
<p>Setiap edisi Piala Dunia selalu punya cerita sendiri. Diantara cerita-cerita itu, selalu ada kejutan-kejutan yang tak terduga dan akan selalu dikenang, bahkan tercatat dalam sejarah Piala Dunia.</p>
<p>Sejak penyelenggraaan Piala Dunia pertama tahun 1930 sampai edisi 2026 yang sedang berjalan sekarang, tercatat sejumlah kejutan besar.</p>
<p>Dimulai dari Piala Dunia tahun 1950, ketika Brasil sudah bersiap-siap berpesta juara di rumah kebanggaannya Stadion Maracana. Brasil sebenarnya hanya butuh hasil imbang melawan Uruguay di laga terakhir untuk jadi juara.</p>
<p>Siapa sangka, Uruguay yang &#8220;dikepung&#8221; dan diteror 100 ribu pendukung Brasil di Stadion terbesar dunia masa itu, justru mengalahkan Brasil 2-1, dan tampil sebagai juara. Seketika Maracana hening seperti kuburan, karena Brasil sudah yakin 100 persen bakal juara.</p>
<p>Namun, sepakbola adalah tempat hadirnya keajaiban dan kejutan tak terduga. Kejutan itu masih membekas dihati masyarakat Brasil sampai saat ini. Mereka menyebutnya Maracanazo, atau tragedi Maracana.</p>
<p>Setelah itu kejutan demi kejutan terus terjadi di setiap edidi Piala Dunia. Misalnya, masih tahun 1950, Amerika Serikat yang timnya diisi pemain amatiran dan bekerja paruh waktu, justru mampu menjungkalkan Inggris yang diisi pemain top dan profesional.</p>
<p>1966, tim antah berantah Korea Utara mengguncang Piala Dunia yang digelar di Inggris itu. Meraka mampu mengalahkan Italia salah satu tim calon juara 1-0 lewat gol Park do Ik. Tidak hanya mengirim Italia pulang, Korea Utara lolos ke babak berikutnya.</p>
<p>Mereka nyaris membuat kejutan lagi, melawan Portugal yang diperkuat pemain terbaik dunia saat itu Eusebio. Korea utara langsung unggul 3-0 dan membuat dunia melongo seakan tak percaya dengan aksi negara yang tertutup dari dunia luar itu.</p>
<p>Tapi beruntung Portugal punya Eusebio, yang kemudian mengamuk mencetak empat gol dan membalikan keadaan menjadi kemenangan Portugal 5-3 dengan satu gol tambahan dari Agusto. Kejutan Korea Utara pun terhenti dalam sebuah pertandingan paling mendebarkan sepanjang sejarah Piala Dunia.</p>
<p>Aljazair datang bikin heboh Piala Dunia 1982 dengan mempermalukan Jerman Barat 2-1. Ini aib tak terkira bagi Jerman Barat yang berstatus juara Eropa 1980. Kekalahan ini nyaris membuat Jerman Barat teringkir, kalau saja mereka tak bermain mata dengan Austria di laga terakhir grup untuk menyingkirkan Aljazair. Ini juga menjadi salah satu skandal terbesar di Piala Dunia.</p>
<p>Moment kejutan yang monumental juga tersaji di laga pembuka Piala Dunia 2002, tatkala Senegal sebagai tim debutan dari Afrika, mampu mempermalukan Prancis yang sarat bintang sekaligus juara bertahan. Efek dari kekalahan itu, Prancis gagal lolos ke babak gugur.</p>
<p>Masih tahun 2002, tak kalah mengerikan aksi tuan rumah Korea Selatan yang melaju sampai semifinal, dengan menyingkirkan tim-tim elit Eropa seperti Spanyol dan Italia. Tim Asia lolos ke semifinal adalah sebuah kejutan besar di arena sekelas Piala Dunia.</p>
<p>12 tahun kemudian, tepatnya Piala Dunia Brasil 2014. Tuan rumah Brasil yang tengah berambisi meraih gelar juara untuk menebus tragedi Maracanazo 1950, justru kembali menelan pil pahit. Di semifinal, di Stadion Maracana juga, Brasil tanpa ampun dibantai Jerman 1-7.</p>
<p>Jerman memang bukan tim kecil, tetapi kalah dengan skor itu di Maracana adalah aib yang tak terkira dan tak masuk akal bagi publik Brasil. Bahkan mereka menyebutnya sebagai tragedi Maracana jilid 2.</p>
<p>Kejutan terbesar lainnya yang tak akan terlupakan sepanjang sejarah Piala Dunia adalah kemenangan Arab Saudi atas Argentina dengan skor 2-1 pada fase grup Piala Dunia Qatar 2022. Saat itu, Argentina datang sebagai juara bertahan Copa America dan tim unggulan dengan rekor tak terkalahkan dalam 36 pertandingan, namun secara dramatis ditumbangkan oleh Arab Saudi.</p>
<p>Kini, di Piala Dunia 2026, kalau bicara kejutan atau keajaiban mungkin tak bisa dipungkiri itu adalah sepak terjang negara bernama Cape Verde.</p>
<p>Cape Verde atau orang Indonesia menyebutnya Tanjung Verde, mungkin banyak orang mengerinyitkan jidatnya. Dimana negara itu dan kenapa bisa-bisanya ikut Piala Dunia. Sejak zaman Nabi Adam nyaris tak terdengar kiprahnya di sepakbola, tiba-tiba ikut Piala Dunia 2026.</p>
<p>Tidak sekadar ikut, tapi langsung membuat orang terheran-heran dengan aksinya tak terkalahkan di Grup H. Selain menahan imbang dua mantan juara dunia Spanyol dan Uruguay, mereka juga berbagi angka dengan Arab Saudi. Tiga angka yang membuat tim ini lolos ke babak berikutnya atau fase gugur di 32 besar.</p>
<p>Jika dilihat negaranya, Cape Verde hanya negara dari kepulauan kecil di lepas pantai barat Afrika. Ibu kotanya Praia, dan penduduknya hanya 500 ribu orang. Tapi hal itu tak membuat negara kurcaci itu takut membuat sejarah.</p>
<p>Timnas Cape Verde bukanlah tim yang dibangun di atas kemewahan. Ratusan tahun lalu, kepulauan ini hanya hamparan tanah tak berpenghuni di Samudra Atlantik. Kedatangan bangsa Eropa pada abad ke-15 mengubahnya menjadi pusat perdagangan budak. Itu sejarah kelam yang membentuk identitas dan daya juang rakyatnya hingga hari ini.</p>
<p>Dalam dunia sepakbola, Cape Verde lama berkutat di bawah bayang-bayang raksasa Afrika seperti Nigeria, Ghana, Maroko, atau Pantai Gading. Pertandingan internasional pertama mereka baru dimainkan pada 1978, dan selama bertahun-tahun nama Cape Verde nyaris tak terdengar di percaturan sepakbola Afrika, apalagi level dunia.</p>
<p>Pasti banyak yang bertanya-tanya dari mana datannya pemain-pemain Cape Verde, disaat mereka bahkan tak punya liga domestik sendiri. Ternyata, berabad-abad sebagai jalur persinggahan bangsa Eropa membuat keturunan Cape Verde tersebar luas terutama di Portugal, Belanda, dan Prancis.</p>
<p>Beberapa di antara mereka berkarier sebagai pesepakbola profesional di liga-liga top Eropa. Hal inilah yang disambar Federasi Sepakbola Cape Verde yang menjalankan program rekrutmen pemain diaspora secara selektif dan terencana.</p>
<p>Persis seperti yang saat ini lakukan Indonesia melalui PSSI yang memburu para diaspora untuk membangun Timnas. Bedanya, jika program diaspora Cape Verde sudah berbuah tampil di Piala Dunia, Indonesia masih harus bersabar menunggu giliran.</p>
<p>Cape Verde tidak melakukan naturalisasi asal-asalan, melainkan pembangunan identitas tim yang punya akar kuat namun kaki yang berpijak di tanah sepakbola Eropa. Inilah cikal bakal terbentuknya timnas Cape Verde yang hari ini membuat heboh Piala Dunia 2026.</p>
<p>Hari ini, dunia mulai melirik serius ke pulau kecil di lepas pantai barat Afrika itu. Ramai-ramai berselancar di dunia internet untuk memburu apa saja tentang negara bernama Cape Verde, khususnya tenatang sepakbolanya.</p>
<p>Lolos ke babak 32 besar, tentunya bukan akhir cerita negara kecil ini. Justru di sinilah keajaiban Cape Verde di Piala Dunia 2026 mencapai puncaknya. Berjuluk tim &#8220;Hiu biru&#8221; atau Blue Sharks, kini mereka akan berhadapan dengan Argentina di 32 besar.</p>
<p>Melawan Argentina di pentas Piala Dunia, mungkin ini sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikiran dan mimpi pemain-pemain Cape Verde. Tapi keajaiban itu datang, mereka akan melawan tim juara bertahan Piala Dunia dan dihuni sederet pemain terbaik dunia. Apakah kejutan ala Cape Verde akan berlanjut?</p>
<p>Bagi banyak pengamat sepakbola, melawan Argentina dengan Lionel Messi-nya mungkin itu adalah undian terburuk yang mungkin mereka dapatkan. Tapi bagi rakyat Cape Verde, itu adalah anugerah.</p>
<p>Bahkan Presiden Cape Verde Jose Maria Neves angkat bicara atas prestasi 26 pemauda terbaik bangsanya itu. “Jika hari ini, 50 tahun setelah merdeka, kita berada di Piala Dunia, kita telah membuktikan diri sebagai bangsa yang mampu bersaing,” tegas sang Presiden sedikit lebay.</p>
<p>Faktanya, kecil bukan berarti harus minder. Secara historis, Cape Verde kini berdiri di posisi yang sangat langka, yakni negara terkecil kedua berdasarkan populasi yang pernah tampil di Piala Dunia. Mereka hanya kalah kecil dari Islandia tahun 2018.</p>
<p>Di Afrika, mereka adalah yang terkecil yang pernah mencapai turnamen ini. Namun angka-angka itu hanyalah konteks. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi di dalam jiwa sebuah bangsa ketika mimpi yang dulu terasa mustahil akhirnya terrwujud dan nyata, bukan mimpi lagi.</p>
<p>Sementara negara-negara dengan populasi ratusan juta jiwa masih berjuang untuk sekadar lolos kualifikasi. Cape Verde dengan penduduk lebih sedikit dari satu Kabupaten di Sumatra Barat. Bahkan setara populasi sebuah kecamatan di DKI Jakarta sudah berdiri di panggung terbesar sepakbola dunia.</p>
<p>Tanpa terkalahkan sejauh ini. (*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-ragam-kejutan-di-piala-dunia-dari-tragedi-maracanazo-sampai-keajaiban-cape-verde/">Kolom: Ragam Kejutan di Piala Dunia, dari Tragedi Maracanazo Sampai Keajaiban Cape Verde</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolom; Skuad Warna-warni dan Jerman yang Kurang Kerjaan</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-skuad-warna-warni-dan-jerman-yang-kurang-kerjaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2022 12:10:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#Jerman]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#skuad]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=109342</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama) Jerman, negara juara dunia empat kali itu jadi bulan-bulanan setelah melakoni laga pertama di Piala Dunia 2022 di Qatar....</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-skuad-warna-warni-dan-jerman-yang-kurang-kerjaan/">Kolom; Skuad Warna-warni dan Jerman yang Kurang Kerjaan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-21173 alignleft" src="https://www.bolabeten.com/wp-content/uploads/2022/11/011-3.jpg" alt="" width="100" height="133" />Oleh: <strong>Rizal Marajo</strong><br />
<em>(Wartawan Utama)</em></p>
<p>Jerman, negara juara dunia empat kali itu jadi bulan-bulanan setelah melakoni laga pertama di Piala Dunia 2022 di Qatar. Tidak hanya karena kalah dari Jepang, tapi juga karena perangai dan arogansi yang tak berkeruncingan.</p>
<p>Sebelum laga memalukan itu, aksi tutup mulut dalam foto sesion sebelum laga banyak dipertanyakan. Jerman katanya melakukan itu sebagai bentuk protes, karena Qatar sebagai tuan rumah dan didukung FIFA, dengan tegas melarang segala bentuk kampanye LGBT, termasuk memakai ban kapten pelangi, simbol LGBT.</p>
<p>&#8220;Sok-sokan dukung kampanye one love, ujung-ujungnya dibabat Jepang one two.&#8221;olok-olok netizen.</p>
<p>Belum lagi sikap over konfiden para pemainnya di lapangan, karena lawannya &#8220;cuma&#8221; Jepang. Bahkan seorang pemainnya, Antonio Rudiger dikecam habis-habisan karena mengolok-olok gaya lari pemain Jepang, Takuma Asano.</p>
<p>Sialnya, justru si Takuma Akano itulah yang mencetak gol penentu kemenangan Jepang dan membuat Jerman dipermalukan di pentas yang telah empat kali dijuarainya. Der Panzer seketika jadi bahan tertawaan.</p>
<p>Di Jerman sendiri, para pemain dan official juga mendapat banyak hujatan, karena dinilai tak fokus pada pertandingan. Termasuk kritik tajam dari Legenda timnas Jerman Lothar Matthaus.</p>
<p>Mantan Kapten Jerman itu menyebut Der Panzer kurang kerjaan di Qatar dan terlibat terlalu banyak drama tak penting jelang Piala Dunia 2022, sehingga kalah dari Jepang. Pasukan Hansi Flick larut dalam polemik ban kapten LGBT One Love sebelum laga melawan Jepang.</p>
<p>Bahkan para pemain Jerman sempat melakukan protes terhadap keputusan FIFA yang melarang ban kapten One Love dengan berpose menutup mulut sebelum laga. Aetinya, terlalu banyak isu yang dimunculkan diluar sepakbola.</p>
<p>Hal ini sama seperti Piala Dunia 2018, dimana Jerman datang ke Rusia dengan menepuk dada sebagai juara bertahan. Mereka kerap bicara tentang isu-isu diluar sepakbola, ketimbang serius bekerja keras mempertahankan gelar juara yang direbut di Brasil 2014.</p>
<p>Hal seperti itu juga mereka lakukan di Qatar. Bahkan, Kekalahan dari Jepang juga membuat sejumlah media Jerman murka.</p>
<p>Bahkan Die Welt menulis: &#8220;Kekalahan Jerman melawan tim rata-rata, terasa seperti mandi air dingin. Karena kesombongan Jerman yang telah menetes dari setiap pori pemain dalam beberapa minggu terakhir&#8221;kecam media itu.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-21174" src="https://www.bolabeten.com/wp-content/uploads/2022/11/timnas_jerman_tutup_mulut.jpg" alt="" width="1000" height="667" /></p>
<p>Seperti mengalami deja vu, empat tahun lalu Timnas Jerman gagal lolos fase grup di Piala Dunia 2018 setelah dikalahkan Korea Selatan 0-2, dalam sebuah pertandingan yang juga membuat malu Jerman sebagai juara bertahan.</p>
<p>Ketika itu skuad Der Panzer katanya diganggu isu di luar lapangan, yakni munculnya foto Ilkay Gundogan dan Mesut Ozil bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.</p>
<p>Foto itu membuat berang masyarakat Jerman hingga Kanselir Angela Merkel. Ketika itu nasionalisme Gundogan dan Ozil, yang keturunan Turki, dipertanyakan.</p>
<p>Entah mengapa hal itu kembali dipertanyakan Jerman. Padahal kebangkitan kembali sepakbola Jerman tak bisa dilepaskan dari peran para pemain keturunan dan anak-anak para imigran yang datang ke Jerman.</p>
<p>Sedikit kilas balik, ketika sepakbola Jerman terpuruk dan hancur lebur di Piala Dunia 1994 dan Piala Dunia 1998, para petinggi sepakbola Jerman kebakaran jenggot. Tim yang tahun 1990 masih bisa juara dunia, hanya dalam waktu empat tahun, langsung terjun bebas secara beruntun di dua Piala Dunia.</p>
<p>Ini ilustrasinya tahun 1994 sebagai juara bertahan, Jerman kalah 0-2 dari Bulgaria di babak perempatfinal. Empat tahun kemudian di Prancis, giliran Kroasia menggebuk Jerman 3-0 di perempatfinal.</p>
<p>Sempat lolos ke final Piala Dunia 2002, tahun 2006 saat jadi tuan rumah, Jerman justru dipangkas Italia di semifinal. Tahun 2010 pun nama besar Jerman pun belum kembali, karena disikat Spanyol di semifinal.</p>
<p><strong>Apa yang dilakukan Jerman?</strong><br />
Usai Piala Dunia 1994, diam-diam DFB atau PSSI-nya Jerman membuat sebuah program jangka panjang, menyamakan kurikulum Sekolah sepakbola (SSB) dan akademi klub-klub Bundesliga.</p>
<p>Dana puluhan juta Euro dialokasikan untuk mencetak pemain-pemain berbakat dari berbagai SSB dan akademi klub-klub Jerman itu. Yang menonjol akan diambil DFB untuk masuk proyek Timnas Jerman secara berjenjang.</p>
<p>Menariknya, para pemain keturunan atau anak-anak imigram diperbolehkan masuk proyek pengembalian nama besar sepakbola Jerman itu. Jerman yang biasanya nol toleran terhadap hal-hal yang berbau imigran, apalagi menyangkut Timnas Der Panzer, kini mulai terbuka.</p>
<p>Setelah berpuluh-puluh tahun tak ada tempat di Timnas Jerman bagi pemain keturunan dan anak-anak imigran, kini Jerman mulai berwarna dan ramah. Mereka tak lagi sombong dengan semboyan Deutschland Uber Ales, yang merupakan warisan Hitler.</p>
<p>Hanya 20 tahun, di Piala Dunia 2014 di Brasil. Jerman sudah mulai memetik hasil proyek mereka. Bahkan mereka membuat rekor, tim Eropa pertama yang juara dunia saat Piala Dunia digelar di benua Amerika.</p>
<p>Lihat juga pengisi skuad Jerman; ada nama-nama seperti Jerome Boateng, Mesut Ozil, Shokrean Mustafi, Sami Khedira, Emre Can, Ilkay Gundogan, ataupun Antonio Rudiger. Nama-nama yang mustahil ditemukan sampai dua dekade sebelumnya.</p>
<p>Sekarang di Piala Dunia Qatar 2022, semakin banyak warna-warni Timnas Jerman, ketika ada nama-nama seperti Youssoufa Moukoko, Nicklas Sule, Karim Adeyami, Leroy Sane, Armel Bella-Kotchap, atau Jamal Musiala.</p>
<p>Mereka, bisa satu tim dengan Manuel Neuer, Thomas Muller, Mathias Ginter, Joshua Kimmich, ataupun Kai Harvertz, dan lain-lainya yang &#8216;asli&#8221; Jerman.</p>
<p>Entah kenapa, dengan keterbukaan dan warna-warni yang sudah demikian menyatu dalam Die Mannschaft, tapi masih sempat-sempatnya melakukan kampanye kurang kerjaan dan tutup mulut di Qatar.(*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-skuad-warna-warni-dan-jerman-yang-kurang-kerjaan/">Kolom; Skuad Warna-warni dan Jerman yang Kurang Kerjaan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolom: Yasser Al-Shahrani, Dijemput Jet Pribadi Pangeran Arab Saudi</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-yasser-al-shahrani-rahang-patah-dan-dijemput-jet-pribadi-pangeran-arab-saudi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2022 12:56:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=109171</guid>

					<description><![CDATA[<p>oleh: Rizal Marajo Wartawan Utama Pertandingan Argentina versus Arab Saudi sudah memasuki masa injury time babak kedua. Arab Saudi masih unggul 2-1, tapi masih...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-yasser-al-shahrani-rahang-patah-dan-dijemput-jet-pribadi-pangeran-arab-saudi/">Kolom: Yasser Al-Shahrani, Dijemput Jet Pribadi Pangeran Arab Saudi</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-21034 alignleft" src="https://www.bolabeten.com/wp-content/uploads/2022/11/011-2.jpg" alt="" width="148" height="197" />oleh: <strong>Rizal Marajo</strong><br />
Wartawan Utama</p>
<p><strong>Pertandingan</strong> Argentina versus Arab Saudi sudah memasuki masa injury time babak kedua. Arab Saudi masih unggul 2-1, tapi masih jauh dari kata bisa bernafas lega di menit-menit akhir pertandingan itu. Bak gelombang, gempuran Argentina tak henti-hentnya di penghujung laga itu.</p>
<p>Dalam satu moment di menit-menit krusial itu, sebuah crossing Angel de Maria ke kotak penalti membuat panik di area 16 meter tim Elang Hijau. Kiper Mohammed Al-Owais terpaksa terbang dengan kecepatan maksimal ditengah kerumunan untuk menyongsong bola.</p>
<p>Sukses, bola berbahaya itu berhasil diamankan Al-Owais, dan gawang Arab Saudi selamat dari kebobolan, dan Green Falcon masih unggul 2-1.</p>
<p>Tapi tunggu dulu, seorang pemain berseragam hijau jatuh tertelungkup tak bergerak di rumput hijau kotak penalti itu. Sepertinya sudah terjadi sesuatu yang sangat fatal saat itu.</p>
<p>Al Owais dan pemain Saudi lainnya terlihat panik. Bahkan Owais setengah histeris dengan gestur memanggil tim medis secepatnya masuk lapangan. Ketika tim medis sudah bekerja membantu pemain yang tertelungkup itu, kiper 30 itu terhenyak seperti hendak menyesali peristiwa yang baru saja terjadi.</p>
<p>Dia tahu, ketika terbang menjemput bola lututnya telah menghantam wajah rekannya yang datang dari arah berlawanan dengan maksud yang sama, mengamankan bola!.</p>
<p>Begitu telak, begitu keras, terlihat sangat horor dan menakutkan, dalam moment yang sangat cepat itu.</p>
<p>Yasser Al-Shahrani, pria yang yang terhantam lutut itu, mungkin tak menyangka dia akan mengalami insiden seburuk itu. Pemain dan petarung hebat Arab Saudi itu tengah di puncak semangatnya, dan sebentar lagi dia akan merayakan kemenangan negaranya dengan cara yang sangat sensasional itu.</p>
<p>Belakangan diketahui, rahang sang pemain patah. Tapi luar biasanya, ditengah kekhawatiran penonton dan rekan setimnya dengan kondisinya, dari atas tandu Yasser memberi isyarat dengan mengacungkan kedua jempolnya, tanda bahwa dia baik-baik saja.</p>
<p>Moment vital itupun tertangkap kamera televisi, sebuah isyarat penting dari seorang Yasser yang membuat lega penonton dan para pemain Arab Saudi. Karena insiden seperti yang dialami Yasser, sangatlah buruk.</p>
<p>Dalam beberapa kasus, benturan seperti itu ada yang sampai merenggut nyawa. Bahkan salah satunya terjadi di Indonesia, ketika kiper Persela Lamongan Choirul Huda meninggal akibat benturan dengan rekannya sendiri saat sama-sama hendak mengamankan bola.</p>
<p>Beruntung Yasser Al Shahrani, walau sempat dikabarkan kondisinya kritis. Melalui akun Twitter resmi tim sepak bola Arab Saudi, Yasser mengatakan kondisinya sudah semakin baik. Ia mengungkapkan hal itu saat berada di ranjang rumah sakit tempatnya dirawat.</p>
<p>&#8220;Saya ingin meyakinkan Anda bahwa saya baik-baik saja. Doakan saya. Dan selamat untuk fans Saudi kami atas kemenangannya. Kamu pantas mendapatkannya. Saya dalam kondisi baik-baik saja, segala kesalahan yang saya buat, saya minta maaf karena saya manusia biasa,&#8221;kata Yasser, dikutipm Al Arabiya</p>
<p><em>Siapa Yasser Al Shahrani?</em><br />
Arab Saudi memang tampil heroik dalam laga melawan Argentina. Bayangkan, Argentina adalah tim yang tak terkalahkan dalam 36 kali pertandingan terakhirnya, favorit juara di Qatar 2022, dan tentu saja ada sosok pemain seperti Lionel Messi disana.</p>
<p>Untuk meredam Argentina, para pemain Arab Saudi dipaksa melakukan 21 Pelanggaran dan diganjar enam kartu kuning. Salah satu sosok penting untuk meredam serangan Messi cs adalah pria berkulit legam dan rambut setengah gondrong dan acak-acakan, Yasser Al-Shahrani.</p>
<p>Yasser  bermain sebagai bek kiri, namun bergerak lebih ke tengah ketika diserang Argentina. Situs statistik bola, Squawka mencatat, Al-Shahrani benar-benar tampil galak saat memotong rantai bola Argentina.</p>
<p>Ini statistiknya, Yasser menjadi pemain paling banyak lakukan sapuan (6), intersep (6), menangi posisi (5), tekel sukses (3), menangi duel (3), dan tidak pernah didribel pemain Argentina!</p>
<p>Kerja kerasnya itu berbuah manis, walaupun pemain Al-Hilal berusia 30 tahun itu harus meninggalkan lapangan dengan cedera horor. Kisah 90 menit Yasser Al Shahrani ini benar-benar telah membuat seluruh Arab Saudi simpati dan bangga.</p>
<p>Bahkan sang Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman dengan sigap memerintahkan menjemput Yasser dengan jet pribadinya, dan langsung diterbangkan ke Jerman untuk mendapatkan operasi terbaik bagi kesembuhannya..</p>
<p>Yasser Al-Shahrani, sungguh dia telah membela negara dengan segenap tumpah darahnya! <strong>(*)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-yasser-al-shahrani-rahang-patah-dan-dijemput-jet-pribadi-pangeran-arab-saudi/">Kolom: Yasser Al-Shahrani, Dijemput Jet Pribadi Pangeran Arab Saudi</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolom; Qatar 2022 Melahirkan Juara Baru, Belanda?</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-qatar-2022-melahirkan-juara-baru-belanda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2022 07:50:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#juara]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#qatar 2022]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=109078</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh Rizal Marajo (wartawan utama) 966-LPDS/WU/DP/XI/2012/09/08/72 Seperti biasa, setiap Piala Dunia ada satu pertanyaan wajib yang akan terus bermunculan. Siapa yang akan juara? Pertanyaan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-qatar-2022-melahirkan-juara-baru-belanda/">Kolom; Qatar 2022 Melahirkan Juara Baru, Belanda?</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-20947 alignleft" src="https://www.bolabeten.com/wp-content/uploads/2022/11/011-1.jpg" alt="" width="152" height="201" /></p>
<p>Oleh <strong>Rizal Marajo</strong><br />
(wartawan utama)<br />
966-LPDS/WU/DP/XI/2012/09/08/72</p>
<p>Seperti biasa, setiap Piala Dunia ada satu pertanyaan wajib yang akan terus bermunculan. Siapa yang akan juara? Pertanyaan basi, tapi menjadi segar lagi setiap iven empat tahun sekali itu digelar.</p>
<p>Apakah Argentina dengan Lionel Messi-nya yang masih memburu mahkota di penghujung karirnya? Messi yang merana, karena selagi belum meraih juara Piala Dunia untuk Argentina, namanya akan tetap dibawah bayang-bayang Diego Maradona, selamanya.</p>
<p>Atau Brasil, tim yang disebut punya skuad paling berkelas dan komplit tahun ini. Tapi perlu dicatat, Brasil sejak juara tahun 2002, selalu jadi pecundang tim-tim Eropa di empat Piala Dunia terakhir.</p>
<p>Inggris bagaimana?, tim yang punya nilai skuad termahal versi transfermarket ini, disebut berpeluang bagus setelah 56 tahun tak pernah lagi juara.</p>
<p>Start bagus dengan melipat Iran 6-2 dalam pertandingan pertama Grup B tadi malam, setidaknya memberi sedikit tanda, The Three Lions cukup layak masuk kandidat juara.</p>
<p>Jangan lupakan Prancis, juara bertahan yang tetap harus diperhitungkan. Kendati hancur lebur diterpa badai cedera pemain, Prancis tetap layak diunggulkan.</p>
<p>Le Bleus masih punya Kylian Mbappe, pemain sepakbola terbaik di dunia saat ini. Bersama Erling Haaland, dia menjadi simbol peralihan generasi pesepakbola hebat, setelah era Messi dan Cristiano Ronaldo meredup.</p>
<p>Spanyol, dengan deretan pemain muda yang siap menghibur publik planet ini dengan sepakbola mereka yang simple dan dinamis.</p>
<p>Tapi rasanya mereka belum cukup kuat untuk kembali merajai iven-iven besar seperti Piala Dunia ataupun Euro, layaknya era generasi emas mereka seperti Xavi, Gerard Pique, Andreas Iniesta, Xabi Alonso, Sergio Ramos, dan tentu saja IUker Casillas.</p>
<p>Apa kabar Belanda?<br />
Sejak Piala Dunia edisi pertama tahun 1930 sampai Piala Dunia 1994, trophy juara hanya berputar-putar di enam negara saja, Brasil, Italia, Jerman (Barat), Uruguay, Argentina dan Inggris.</p>
<p>Butuh 68 tahun untuk mendapatkan juara baru, ketika Prancis juara di rumah sendiri tahun 1998. Setelah itu hanya perlu dua kali Piala Dunia lagi untuk mendapatkan juara baru lagi, yaitu Spanyol yang juara tahun 2010 di Afrika Selatan.</p>
<p>Setelah dua Piala Dunia sejak Spanyol juara 2010, sekarang muncul lagi pertanyaan apakah akan muncul juara baru lagi di Qatar 2022. Bisa saja, jika teori siklus sejak Prancis juara 1998 butuh dua kali Piala dunia untuk munculnya juara baru.</p>
<p>Berbicara tentang juara baru, dua negara yang punya tampang untuk bisa memegang trophy, adalah Portugal dan Belanda. Tapi diantara keduanya, Belanda lebih berpotensi meng-oranje-kan Qatar.</p>
<p>Portugal kini bermasalah dengan bintang dan kaptennya, Cristiano Ronaldo yang semakin banyak tingkah dan suka membuat gaduh di usia senjanya. Diyakini dia tak akan cukup kuat terbang sampai tangga juara di Qatar bersama Portugal.</p>
<p>Tinggal Belanda, negara yang paling apes nasibnya di Piala Dunia. Tiga kali maju ke final, 1974, 1978, dan 2010, semuanya diunggulkan untuk jadi juara. Tapi tiga final itu de Oranje gagal merengkuh trophy, miris.</p>
<p>Belanda hari ini memang tak lagi punya pemain seperti era Arjen Robben, Wesley Sneijder, atau Robin van Persie. Juga sangat jauh dari kualitas tim era Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard dan kawan-kawan.</p>
<p>Apalagi dibandingkan tim era total Fottball era 1970-an yang berujung dua final Piala Dunia 1974 dan 1978.</p>
<p>Tapi dibawah pelatih jenius, Louis van Gaal, Belanda bisa melakukan apa saja dengan skuad semenjananya, termasuk mengangkat trophy di Lusail Iconic Stadium, 18 Desember 2022 mendatang.</p>
<p>Langkah awal sudah dilalui Belanda dengan mulus, walau harus susah payah mengalahkan Senegal 2-0 di Grup A. Cukup menjanjikan permainan Virgil Van Dijk, Nathan Ake, Frankie De Jong, dan tentu saja bintang muda yang sedang jadi rebutan klub-klub besar, Cody Gakpo.</p>
<p>Berlebihan dan subjektif? Tidak juga, dalam sepakbola apapun bisa terjadi.<br />
Hayya&#8230;hayya&#8230;.hayya, Nikmati Qatar 2022.(*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-qatar-2022-melahirkan-juara-baru-belanda/">Kolom; Qatar 2022 Melahirkan Juara Baru, Belanda?</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolom; Hayya..Hayya..Hayya, Nikmati Saja Qatar 2022</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-hayya-hayya-hayya-nikmati-saja-qatar-2022/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2022 12:37:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#qatar 2022]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=109014</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama); 966-LPDS/WU/DP/XI/2012/09/08/72 Piala Dunia 2022 di Qatar, sudah resmi bergulir, Minggu (20/11) malam WIB. Walau dinilai tak seheboh opening ceremony...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-hayya-hayya-hayya-nikmati-saja-qatar-2022/">Kolom; Hayya..Hayya..Hayya, Nikmati Saja Qatar 2022</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-20880 alignleft" src="https://www.bolabeten.com/wp-content/uploads/2022/11/011.jpg" alt="" width="155" height="206" /></p>
<p>Oleh: <strong>Rizal Marajo</strong><br />
<em>(Wartawan Utama);<br />
966-LPDS/WU/DP/XI/2012/09/08/72</em></p>
<p>Piala Dunia 2022 di Qatar, sudah resmi bergulir, Minggu (20/11) malam WIB. Walau dinilai tak seheboh opening ceremony Piala-Piala Dunia sebelumnya, tapi Qatar tetap mampu membuat dunia takjub.</p>
<p>Qatar telah membuktikan mereka sanggup jadi tuan rumah iven olahraga terbesar itu dengan cara yang sangat elegant dan ramah. Konsep acara yang simple, tapi sangat bersahabat dan terbuka, adalah cara cerdas yang dipilih Qatar.</p>
<p>Banyak isu kontroversial menerpa Qatar menjelang Piala Dunia dimulai, tapi negara The Maroon itu tak gentar.</p>
<p>Digoyang mulai dari isu pelanggaran HAM, perlakuan buruk terhadap pekerja infrastruktur, sampai kecaman dari negara peserta yang menyebut sebuah kegilaan menggelar Piala Dunia di tengah kompetisi yang sedang berjalan.</p>
<p>Namun Qatar tetap kukuh mempertahankan prinsip dan identitas mereka sebagai sebuah negara. Untuk hal ini, Qatar tak main-main, semua gaya atau perilaku yang dianggap menyalahi aturan sebagai negara muslim, dilibas.</p>
<p>Sebut saja, tak ada tempat untuk alkohol, sex bebas, LGBT, atau pertunjukan urat, semuanya tabu di Piala Dunia kali ini. Sanksi sudah menanti jika ada yang coba-coba melanggar.</p>
<p>Itulah Qatar, negara kecil yang tercatat sebagai negara terkaya di dunia saat ini. Mereka tak gampang didikte negara-negara besar yang mengaku lebih hebat sebagai tuan rumah sebuah Piala Dunia. Qatar tak runtuh diserang dan disudutkan dari berbagai sisi dengan isu-isu minor.</p>
<p>Uang senilai 250 miliar dollar AS atau setara Rp3000 triliun lebih yang mereka investasikan untuk Piala Dunia kali ini, tidak akan sia-sia. Cita-cita Qatar sangat tinggi. Mereka ingin dikenang sebagai salah satu penyelenggara Piala Dunia terbaik.</p>
<p>Show must go on! apapun kata dunia, pertunjukan sudah dibuka dan akan terus bergulir sampai pertandingan final selesai digelar 18 Desember mendatang di Lusail Iconic Stadium di Lusail.</p>
<p>Hayya&#8230;hayya&#8230;.hayya, Nikmati Qatar 2022.(*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-hayya-hayya-hayya-nikmati-saja-qatar-2022/">Kolom; Hayya..Hayya..Hayya, Nikmati Saja Qatar 2022</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kolom: Jalan Terjal Prancis dan Italia di Jalur Kiri 16 Besar</title>
		<link>https://prokabar.com/kolom-jalan-terjal-prancis-dan-italia-di-jalur-kiri-16-besar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2021 15:09:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[#italia]]></category>
		<category><![CDATA[#kolom]]></category>
		<category><![CDATA[#prancis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=89729</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo BAGAN atau bracket babak 16 besar hingga final Euro 2021 sudah dirilis oleh UEFA. Sebanyak 16 tim bersiap mengadu ketangguhan di...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-jalan-terjal-prancis-dan-italia-di-jalur-kiri-16-besar/">Kolom: Jalan Terjal Prancis dan Italia di Jalur Kiri 16 Besar</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Rizal Marajo</strong></p>
<p><strong>BAGAN</strong> atau bracket babak 16 besar hingga final Euro 2021 sudah dirilis oleh UEFA. Sebanyak 16 tim bersiap mengadu ketangguhan di fase gugur. Pilihannya hanya satu, menang atau pulang.</p>
<p>Delapan laga akan digelar di babak 16 besar di tujuh stadion yang sudah ditetap UEFA. Laga-laga itu; Wales vs Denmark, Italia vs Austria, Belanda vs Republik Ceko, Belgia vs Portugal, Kroasia vs Spanyol, Prancis vs Swiss, Inggris vs Jerman dan Swedia vs Ukraina.</p>
<p>UEFA pun sudah membagi 16 tim di atas ke dalam dua jalur, yaitu perjalanan tim sampai final.</p>
<p>Jalur satu atau jalur kiri yang diprediksi lebih &#8216;sangar&#8221;, berisikan laga Belgia vs Portugal, Italia vs Austria, Prancis vs Swiss dan Kroasia vs Spanyol.</p>
<p>Sementara jalur kedua dinilai lebih enteng, ditempati Swedia vs Ukraina, Inggris vs Jerman, Belanda vs Republik Ceko dan Wales vs Denmark.</p>
<p>Jalur kiri banyak dibahas, karena diisi laga-laga ketat dan diisi tim-tim favorit juara.</p>
<p>Sebut saja, pemenang laga Belgia vs Portugal, akan menghadapi pemenang pertandingan Italia vs Austria di babak perempatfinal. Selanjutnya, pemenang Prancis vs Swiss akan bertemu pemenang Kroasia vs Spanyol.</p>
<p>Sorotan banyak diarahkan kepada Prancis dan Italia, dua tim yang dianggap favorit kuat untuk juara Euro 2021.</p>
<p>Prancis dinilai berada dalam siklus juara 20 tahunan, yang berpotensi mengawinkan juara Piala Dunia dengan juara Euro untuk kedua kalinya, seperti yang mereka lakukan saat juara Piala Dunia 1998 dan juara Euro 2000.</p>
<p>Banyak yang meyakini Prancis akan mengulang Euro 2000, bertemu Italia di final. Apalagi, Italia tahun ini juga sangat meyakinkan, bahkan tim paling konsisten dan stabiil di Euro 2021.</p>
<p>Sayangnya, final impian seperti tahun 2000 itu dipastikan tidak akan terwujud. Karena keduanya berada di jalur yang sama di babak 16 besar.</p>
<p>Jika sama-sama sukses mengalahkan lawan-lawan mereka di 16 besar dan perempatfinal, Prancis dipastikan akan bertemu Italia di semifinal.</p>
<p>Tapi sebelum berfikir semifinal itu, Prancis dan Italia harus melewati jalan terjal dulu.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-14906" src="https://www.bolabeten.com/wp-content/uploads/2021/06/16.jpg" alt="" width="720" height="731" /></p>
<p>Prancis jika lolos dari hadangan Swiss, Kroasia atau Spanyol sudah menunggu. Jika melawan Kroasia, Francis akan mengulangi final Piala Dunia 2018. Sedangkan Spanyol yang mulai bangkit, bisa jadi ancaman serius Karim Benzema dan kawan-kawan.</p>
<p>Begitupun Italia, kalaupun sukses mengatasi Austria, &#8220;monster&#8221; berbahaya macam Belgia atau Portugal ada di depan mata untuk disingkirkan. Bukan lawan yang main-main untuk Azzurri. Belgia tim peringkat 1 FIFA, sementara Portugal dengan Cristiano Ronaldo-nya adalah juara bertahan Euro.</p>
<p>Kalaupun semifinal Prancis vs Italia ini terwujud, sulit memprediksi siapa yang akan lolos ke final. Tapi, jika melihat konsistensi kedua tim di fase grup, Italia lebih layak dikedepankan untuk satu tiket final.</p>
<p>Bagaimana dengan jalur dua atau jalaur kanan?<br />
Tidak seberat jalur kiri, dua tim dengan rivalitas tinggi, Jerman dan Belanda berpotensi bertemu di semifinal. Ini adalah pertarungan klasik di Eropa, rivalitas yang sudah terbangun sejak final Piala Dunia 1974, ketika Franz Beckenbauer dan Johan Cruyff memimpin tim masing-masing.</p>
<p>Jerman, harus berkeringat dulu menghentikan Inggris di 16 besar. Jika sejarah dan statistik pertemuan berjalan mulus, Jerman yang superior atas Inggris akan lolos dari terkaman &#8220;Tiga Singa&#8221; di Wembley.</p>
<p>Setelah itu Jerman tinggal memikirkan pemenang antara Swedia atau Ukraina di perempatfinal. Diatas kertas, siapapun diantara kedua tim itu, akan mampu digilas &#8220;Panser&#8221;.</p>
<p>Belanda, sangat impresif di Euro kali ini, walau skuadnya miskin dari nama-nama besar. Tapi Belanda tetaplah Belanda, negara penghasil talenta sepakbola terbaik di Eropa.</p>
<p>Jika misi menyingkirkan Republik Ceko di 16 besar berjalan sukses, Georginio Wijnaldum Cs, &#8220;hanya&#8221; akan bertemu pemenang antara Wales dan Denmark di perempatfinal. Jika konsisten, Belanda diyakini bisa melewatinya.</p>
<p>Nah, disinilah Belanda akan menjumpai Jerman di semifinal. Pertarungan yang akan sangat ketat. Jerman memang punya DNA turnamen besar, tetapi di Euro kali ini Jerman tak lagi terlihat terlalu &#8220;wow&#8221;.</p>
<p>Kalah dari Prancis dan nyaris dipermalukan Hungaria di Grup F, bukti Jerman tak lagi tim super. Artinya, kesempatan Belanda lolos ke final untuk menantang Italia cukup terbuka.</p>
<p>Siapa jagoan Anda?.<strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kolom-jalan-terjal-prancis-dan-italia-di-jalur-kiri-16-besar/">Kolom: Jalan Terjal Prancis dan Italia di Jalur Kiri 16 Besar</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 32/227 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/21 queries in 0.034 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 20:18:50 by W3 Total Cache
-->