<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#kisah Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/kisah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/kisah/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 May 2022 23:46:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#kisah Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/kisah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kisah Sedih Alexander Pulalo, Legenda Timnas Indonesia yang Hidup Pas-pasan, dan Ditinggal Istri di Masa Tua</title>
		<link>https://prokabar.com/kisah-sedih-alexander-pulalo-legenda-timnas-indonesia-yang-hidup-pas-pasan-dan-ditinggal-istri-di-masa-tua/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 May 2022 23:46:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[#kisah]]></category>
		<category><![CDATA[#Legenda]]></category>
		<category><![CDATA[#sedih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=103333</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, prokabar &#8211; Kisah sedih Alexander Pulalo, legenda Timnas Indonesia yang jadi supir, hidup pas-pasan, dan ditinggal istri di masa tua menarik dikulik. Sebab,...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-sedih-alexander-pulalo-legenda-timnas-indonesia-yang-hidup-pas-pasan-dan-ditinggal-istri-di-masa-tua/">Kisah Sedih Alexander Pulalo, Legenda Timnas Indonesia yang Hidup Pas-pasan, dan Ditinggal Istri di Masa Tua</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, prokabar</strong> &#8211; Kisah sedih Alexander Pulalo, legenda Timnas Indonesia yang jadi supir, hidup pas-pasan, dan ditinggal istri di masa tua menarik dikulik. Sebab, pencinta sepakbola Indonesia sendiri mungkin tak asing dengan nama Alexander Pulalo.</p>
<p>Alexander Pulalo pernah menjadi salah satu bek kiri tangguh Indonesia. Dia pernah mengukir kisah jaya bersama Arema FC. Namun selepas pensiun, hidup sang legenda kelahiran 8 Mei 1973 ini menjadi nelangsa.</p>
<p>Alex malang-melintang di kompetisi sepakbola Indonesia selama 1993-2011. Ia tercatat membela delapan klub berbeda, yakni Semen Padang, Pelita Bakrie, PSM Makassar, PSIS Semarang, Persija Jakarta, Persib Bandung, Arema Malang, dan Mitra Kukar.</p>
<p>Selepas pensiun, hidup Alex bak terjun bebas. Pemegang 8 caps Timnas Indonesia senior ini bahkan sempat menjadi sopir di salah satu stasiun televisi swasta nasional dari 2012 hingga 2016.</p>
<p>Kala itu, sehabis pensiun dari sepakbola, Alex juga tak memiliki pekerjaan dan aktivitas. Bertepatan, ada tawaran dan lamaran di TV. Ia pun mencoba dan langsung diterima.</p>
<p>Alex membeberkan jika saat itu ingin kerja di kantornya menjadi pegawai, bukan menjadi sopir. Hanya saja, dia salah memasukkan lamaran sehingga mau tidak mau menerima pekerjaan menjadi sopir.</p>
<p>Saat menjadi sopir, gaji Alexander Pulalo terbilang pas-pasan. Ia bahkan harus bekerja lembur untuk menghasilkan uang lebih banyak.</p>
<p>Beberapa orang bahkan ada yang bertanya-tanya kenapa Alex mengambil pekerjaan tersebut. Ia mengaku sempat gengsi, namun tak ada pilihan lain selain menjalaninya saja.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-18706" src="https://www.bolabeten.com/wp-content/uploads/2022/05/al.jpg" alt="" width="700" height="463" /></p>
<p><strong>Tak Memiliki Biaya Sekolah Pelatih</strong><br />
Saat ditanya soal mengapa tak memilih menjalani karier sebagai pelatih sepakbola, Alex mengatakan ia terkendala biaya. Apalagi, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja, ini sudah sulit baginya.</p>
<p>Alex juga menyebut dirinya tidak pernah mendapat bantuan atau sekadar janji dari pemerintah atau PSSI. Di sisi lain, ia pun tak mau terlalu mengharapkan.</p>
<p>Meski tak pernah melatih di level nasional, Alex rupanya pernah didaulat menjadi pelatih beberapa sekolah sepakbola (SSB). Ia mulai menekuninya usai keluar dari pekerjaan sebagai sopir stasiun televisi swasta.</p>
<p>Ia menyebutkan, sebelum pandemi, telah melatih dua SSB. Ada SSB Bintang Fajar di Sawangan dan SSB Evano di Jakarta Selatan.</p>
<p>Selain itu, jika melihat situs web resmi Indonesia Junior League (operator kompetisi sepakbola usia dini), Alexander Pulalo tertulis pernah melatih Parung Soccer School (PaSS) di Kabupaten Bogor pada 2018.</p>
<p>Kala pandemi Covid-19 melanda dunia dan Indonesia, Alex menuturkan jika tidak ada kesibukan, PPKM di rumah saja. Selama pandemic, ia tak ada pemasukan sehingga bekerja serabutan.(*)</p>
<p>Sumber: okezone</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-sedih-alexander-pulalo-legenda-timnas-indonesia-yang-hidup-pas-pasan-dan-ditinggal-istri-di-masa-tua/">Kisah Sedih Alexander Pulalo, Legenda Timnas Indonesia yang Hidup Pas-pasan, dan Ditinggal Istri di Masa Tua</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Pilu Nenek Imah, Habiskan Waktu Senja bersama Hewan Peliharaannya</title>
		<link>https://prokabar.com/kisah-pilu-nenek-imah-habiskan-waktu-senja-bersama-hewan-peliharaannya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2022 01:50:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#kisah]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=99513</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar &#8211; Nenek Halimah, mungkin tak pernah mengira, dia mesti hidup sebatang kara dalam rumah sempit ukuran lima kali empat di usia senjanya....</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-pilu-nenek-imah-habiskan-waktu-senja-bersama-hewan-peliharaannya/">Kisah Pilu Nenek Imah, Habiskan Waktu Senja bersama Hewan Peliharaannya</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam, Prokabar</strong> &#8211; Nenek Halimah, mungkin tak pernah mengira, dia mesti hidup sebatang kara dalam rumah sempit ukuran lima kali empat di usia senjanya. Tapi inilah jalan hidup yang harus ditempuhnya. Nenek yang akrab dipanggil nenek Imah (76), ia tinggal satu atap bersama ayam, tiga ekor kucing dan dua ekor anjing peliharaannya.</p>
<p>Nenek Imah hidup di desa kecil pinggiran Danau Maninjau, tepatnya di Jorong Nagari, Kenagarian Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Agam. Ia lahir bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, tepatnya &#8220;Patang kamih malam jumahaik,&#8221; enek Imah menjelaskan kelahirannya.</p>
<p>Dengan melihat kondisinya, tak ada yang menyangka nenek Imah masih keturunan Buya Hamka atau Prof. Dr. Hj. Abdul Malik Karim Amrullah. Siapa yang tidak kenal Hamka? Seorang ulama besar, politikus dan sastrawan yang mendunia. Hingga kini karya-karyanya masih bersinar di hati para pencintanya.</p>
<p>&#8220;Kakek nenek merupakan cucu dari Hamka yang bernama Abu Hasan,&#8221; ungkap Nenek Halimah.</p>
<p>Lebih dalam mengenai sosok nenek Imah, ketika berusia 7 tahun ia telah ditinggal oleh sang ibu, bisa dibilang telah piatu sejak kecil. Tiga tahun berlalu, sang ayah pun melepas gelar dudanya dengan menikah lagi. Nenek Imah kecil hidup bersama ibu tiri dan adik tirinya merantau di Lampung. Seperti halnya kisah ibu tiri di dalam dongeng, begitulah hidup yang dirasainya. Perlakuan yang tidak adil antara ia dan adik tirinya membuat nenek Imah hidup dalam tekanan.</p>
<p>Takdir hidup siapa yang tahu, kita manusia tinggal menjalankannnya. Begitulah takdir bermain dengan nenek Imah, ketika kelas 5 SD ia sudah menikah karena dijodohkan oleh mamak (saudara laki-laki ibu) kala itu.</p>
<p>Selama perjalanan hidupnya, nenek Imah menikah dua kali, selang beberapa tahun pernikahannya, suaminya meninggal dan ia tidak memiliki anak dari suami pertama maupun kedua. Entah apa rencana langit kala itu dan rencana apa yang sedang dipersiapkan tuhan untuk dirinya. Sehingga diusia senja setelah kepergian suaminya, ia kembali hidup seorang diri. Hidup sebatang kara, berjuang untuk bertahan hidup, menghabiskan masa senja di kampung halamannya, Sungai Batang.</p>
<p>Kini nenek Halimah menjalani kesehariannya dengan menjalankan kotak amal dari pasar ke pasar. Karena keterbatasan fisik dan tenaga, inilah cara yang dapat ia lakukan untuk menopang hidup sambil beramal di sisa hidupnya. Dari hasil kotak amal tersebut sebagian ia sisihkan untuk pembangunan Masjid Syekh Amrullah yang merupakan peninggalan kakek Buya Hamka, borderlands dengan tempat tingga sang nenek.</p>
<p>Sebagian lagi ia gunakan untuk penyambung hidup bersama hewan peliharaan, teman setia dalam hidupnya.</p>
<p>Nenek Imah sudah menjalani profesi ini kurang lebih 12 tahun. Mungkin inilah rencana indah langit, Allah mengambil orang yang disayang dan dicintainya namun selalu merangkulnya dengan rahmat dan kedamaian hidup. Pahit, manis, suka, dan dukanya tentu telah banyak ia rasakan.</p>
<p>Sudah banyak peristiwa menyenangkan, mengharukan, menyedihkan bahkan hujatan dari manusia lain yang ia terima, tak jarang ia pingsan ditengah pasar dikarenakan kondisi fisik dan tenaga yang semakin melemah, berdesak-desakkan ketika ditengah pasar. Ada yang acuh saja ketika nenek Imah menjulurkan kotaknya, ada yang mengajak nenek Imah bersenda gurau dan masih banyak lagi. Semua kepahitan seolah terasa sangat manis karena ia selalu bersyukur di setiap langkah kecilnya.</p>
<p>Doa sekaligus semboyan Nenek Imah ketika menjalankan kotak amal ialah &#8220;Murah rasaki, batambah anak, sehatkan juo sakeluarga, dapek anak kamba, dilindungi dek Allah yang kuaso,&#8221; begitulah kira-kira ungkapannya.</p>
<p>Meskipun berkerabat dekat dengan Hamka tak membuat kehidupan nenek Imah seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Malang sekali nasibnya karna tak banyak yang tahu asal usulnya bahkan jarang yang peduli. Walaupun sebenarnya nenek Imah memiliki saudara tiri yang saat ini diketahui tinggal menetap di ibu kota namun sama halnya dengan ungkapan &#8220;No One Cares Until You Die.&#8221;</p>
<p>Dari kisah nenek Imah kita belajar bahwa kebahagiaan hidup bukan tentang kemewahan atau materi melainkan rasa syukur atas apa yang kita peroleh untuk hidup orang banyak. Itulah sedikit motivasi hidup dari nenek Halimah. (*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-pilu-nenek-imah-habiskan-waktu-senja-bersama-hewan-peliharaannya/">Kisah Pilu Nenek Imah, Habiskan Waktu Senja bersama Hewan Peliharaannya</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Firman Juliansyah: Pemulung Botol Bekas Itu Akhirnya Jadi Pemain Semen Padang FC</title>
		<link>https://prokabar.com/kisah-firman-juliansyah-pemulung-botol-bekas-itu-akhirnya-jadi-pemain-semen-padang-fc/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2021 00:21:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[#firman]]></category>
		<category><![CDATA[#kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=90476</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: ADRIL MY WELCOME TO SPFC. “Semen Padang FC Kembali Gaet Dua Pemain Muda Berbakat Sumatera Barat”. Tersiar kabar dari website resmi ofisial media...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-firman-juliansyah-pemulung-botol-bekas-itu-akhirnya-jadi-pemain-semen-padang-fc/">Kisah Firman Juliansyah: Pemulung Botol Bekas Itu Akhirnya Jadi Pemain Semen Padang FC</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>ADRIL MY</strong></p>
<p><strong>WELCOME TO SPFC.</strong> “Semen Padang FC Kembali Gaet Dua Pemain Muda Berbakat Sumatera Barat”. Tersiar kabar dari website resmi ofisial media Semen Padang FC, pada Minggu 27 Juni 2021.</p>
<p>Menginformasikan manajemen Semen Padang FC (SPFC) telah merekrut dua pemain muda berbakat Ranah Minang. Mengisi skuad tim yang akan ikut kompetisi Liga 2 2021/2022.</p>
<p>Firman Juliansyah di posisi gelandang dan Guruh Guwino di pos penjaga gawang. Kontrak berdurasi panjang mereka dapatkan setelah mampu memikat hati tim pelatih SPFC, Weliansyah, Hendra Susila dan Hengki Ardiles.</p>
<p>“Alhamdulillah.. sangat bersyukur dan senang, bisa membela tim kebanggaan dan satu seragam dengan idola saya Manda Cingi. Semoga saya bisa menjadi penerus senior-senior di tim kebanggan kita. Pastinya saya akan bekerja keras dan terus belajar untuk mendapatkan kepercayaan pelatih,” sebut salah satu pemain muda itu.</p>
<p>****</p>
<p>Namanya Firman Juliansyah. Baru lulus sekolah tahun 2021 ini dari SMA 4 Sumbar. Usianya masih belasan tahun. Kelahiran Padang, 7 Juli 2003. 18 tahun tepat hari ini Rabu, 7 Juli 2021.</p>
<p>Di usia semuda itu kontrak pesepakbola profesional diraihnya. Bakat dan talenta nya telah dihargai manajemen klub Semen Padang FC. Masuk skuad tim untuk Liga 2 2021/2022.</p>
<p>Terbuka sudah pintu kehidupan baru. Cita-cita sejak cilik menggandrungi sepakbola juga . harapan orang tua yang sangat diinginkan pada masa-masa kecil dulu mulai menampakan wujud. Kerja keras, pantang menyerah dalam memilih kehidupan sebagai pesepakbola. Firman diberikan kesempatan menjelmakan mimpi menjadi nyata</p>
<p>“Pekerja keras, pantang menyerah dan tak kenal takut saat duel.” ujar Media Officer Semen Padang FC memberitahukan karakter permainan Firman sepanjang trial di klub berjulukan Kabau Sirah.</p>
<p>Pendapat yang tidak berlebihan. Meski tinggi badan 163 cm dan berat badan 55 kg, nyali Firman tidak mungil seperti postur nya.</p>
<p>Bagi publik sepakbola Kota Padang khususnya pembina-pembina sepakbola usia dini/muda Sekolah Sepak Bola (SSB) tahu. Bagaimana perjuangan seorang Firman untuk kehidupan orang tua nya. Melalui talenta dan bakat yang dia punya.</p>
<p>Spesial bagi SSB Muspan, tempat bakatnya dipupuk dan menemukan jati diri selaku pesepakbola.</p>
<p>Kepada bolabeten.com, kisah kehidupan itu diceritakan. Inspiratif dan mengharukan. Ikon untuk yunior-yunior Firman di SSB Muspan dan SSB-SSB di Kota Padang.</p>
<p>******</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-90477" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/07/firman-300x184.jpg" alt="" width="399" height="245" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/07/firman-300x184.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/07/firman.jpg 758w" sizes="(max-width: 399px) 100vw, 399px" /></p>
<p>“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nama saya Firman Juliansyah, saya akan menceritakan kisah hidup saya,” ucapnya membuka percakapan.</p>
<p>Masa kecilnya bermain bola di depan rumah bersama teman-teman. Kaki ayam. Tidak pakai sepatu. “Suatu hari, ada teman yang mengajak untuk ikut latihan ke sebuah Sekolah Sepak Bola (SSB)”.</p>
<p>“Dan saya pun mau”, kata Fiman. Dia menyebutkan, “Kamu tunggu saya hari minggu di rumah”</p>
<p>“Sampailah pada Minggu. Saya dibawa ke lapangan TVRI Padang. Buat latihan di SSB Muspan. Di sana, perdana saya latihan bola. Pas juga ada seleksi buat ikut Piala Walikota Padang antar SSB tahun 2012. Dan Alhamdulilah, saya lolos seleksi di SSB Muspan,”</p>
<p>Firman mengakui pertandingan pertamanya di SSB pada Piala Walikota Padang. Bermain di tim (B). “Alhamdulilah waktu itu saya yang mencetak gol satu-satu nya. Sayang, kami gugur karena kalah selisih gol”.</p>
<p>Firman pun terus berlatih, berlatih dan berlatih. Hingga suatu hari, bertemu dengan manejer SSB Muspan. “Dia yang sangat baik, yang mau mengurus saya. Namanya, Bapak drg. Irsyadi Jamanar. Mulai dari sepatu dan macam-macam, dia inilah yang membelikan”.</p>
<p>“Saya pun mulai berlatih dengan keras. Latihan tidak saja di lapangan TVRI saja. Saya latihan di rumah Bapak yang seorang pemulung. Tiap hari juga dilatih oleh Bapak juga”.</p>
<p>Firman melanjutkan, pada suatu ketika ada pasar malam. Tempatnya lumayan jauh dari rumah. “Bapak saya memulung di sana. Pagi-pagi sekali sehabis Subuh Bapak dan saya ke sana. Bapak pakai motor dan saya jogging sampai ke tempat pasar malam itu. Kemudian, kami memilih botol-botol bekas di sana”.</p>
<p>“Sehabis memungut botol-botol, saya jogging lagi pulang ke rumah. Bapak mengikuti dari belakang dengan motornya. Di saat itulah saya sangat bersemangat. Berpikir panjang untuk giat latihan”.</p>
<p>Waktu berlalu, Firman masih dengan SSB Muspan. Dia menamatkan Sekolah Dasar. Dan meneruskan sekolah di MTsN 3 Padang. “Lumayan jauh dari rumah saya, Dadok Tunggul Hitam. Rutinitas saya, pergi sekolah diantar, pulang naik angkot. Kalau mau latihan dari rumah ke sekolah bawa sepatu bola, bawa nasi. Joging ke lapangan TVRI buat latihan ke Muspan. Ini berlangsung sampai kelas 3 MTsN”</p>
<p>Pas kelas 3 ini, kata Firman menejer Bapak Irsyadi menyarankan ikut tes ke tim sepakbola PPLP Sumbar. “Saya memberanikan diri ikut tes di PPLP Sumbar. Alhamdulilah. terpilih masuk skuad”</p>
<p>Di PPLP Sumbar dengan Coach Dedi Umar, Coach Depta dan Coach Dodi Leo, Firman mengikuti berbagai kejuaraan. Kejurnas Antar PPLP se-Indonesia, POPWIL dan POPNAS. “Alhamdulilah di ajang kejurnas, nomor 4 se-Indonesia.”</p>
<p>Hingga jelang menamatkan SMA. Firman mengungkapkan dipantau tim senior Semen Padang untuk mengikuti trial. “Alhamdulilah, SMA saya lulus. Dan trial di Semen Padang, Alhamdulilah saya direkrut manajemen,” tuturnya mengakhiri pembicaraan.</p>
<p>******</p>
<p>Bendera start kehidupan pesepakbola profesional baru saja dikibaskan. Garis finish tentu belum tampak. Masih teramat jauh untuk dapat melihatnya.</p>
<p>Baru permulaan Firman! SELAMAT ULANG TAHUN ke-18 tahun.</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-firman-juliansyah-pemulung-botol-bekas-itu-akhirnya-jadi-pemain-semen-padang-fc/">Kisah Firman Juliansyah: Pemulung Botol Bekas Itu Akhirnya Jadi Pemain Semen Padang FC</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Inspiratif Dari Kampar, Provinsi Riau. &#8220;Gadis Tangguh Itu Bernama Sari Santika&#8221;</title>
		<link>https://prokabar.com/kisah-inspiratif-dari-kampar-provinsi-riau-gadis-tangguh-itu-bernama-sari-santika/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2019 02:47:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[#guru]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#Inspiratif]]></category>
		<category><![CDATA[#kampar]]></category>
		<category><![CDATA[#kisah]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<category><![CDATA[#Riau]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=29204</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kampar, Prokabar —  Jauh dari pedalaman Desa Balung, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, terdapat kisah tangguh seorang gadis manis berhijab. Kisah perjuangannya...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-inspiratif-dari-kampar-provinsi-riau-gadis-tangguh-itu-bernama-sari-santika/">Kisah Inspiratif Dari Kampar, Provinsi Riau. &#8220;Gadis Tangguh Itu Bernama Sari Santika&#8221;</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kampar</strong>, <strong>Prokabar</strong> —  Jauh dari pedalaman Desa Balung, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, terdapat kisah tangguh seorang gadis manis berhijab. Kisah perjuangannya hampir seperti manusia setengah malaikat.</p>
<p>Bagaimana tidak, meski sebagai guru hononer yang dinilai hanya Rp350 ribu perbulan, harus menempuh perjalanan puluhan kilometer dengan medan jalan dan jembatan rusak parah. Meski pahit, namun senyum gadis manis itu, masih terpancar indah dan menawan. Ketabahan menjalani hidup, memberi makna mendalam setiap insan.</p>
<p>Kepedihan cukup ia pendam dalam dalam hati. Teringat perjuangan kedua orang tuannya, yang telah membesarkannya, hingga mengantarkan ia menjadi seorang sarjana pendidikan.</p>
<p>&#8220;Nama saya Sari Santika, putri sulung dari tiga bersaudara. Saya terlahir dari rahim seorang Ibu bernama Desmawati dan ayah bernama Yan Elvi. Pekerjaan orang tua saya, pedagang sayur dan dimulai semenjak tahun 2016 lalu. Sebelum menjadi pedagang, orang tua saya adalah petani karet,&#8221; ungkap Sari kepada Prokabar.com melalui pesan Whatshapp.</p>
<p>Ia melanjutkan, saya lahir di Desa Balung, 19 Oktober 1994. Dan mendapatkan ilmu sekolah di SDN 028 Balung selama 6 tahun tamat tahun 2006/2007. Sekarang namanya sudah SDN 016 Balung. Kemudian melanjutkan pendidikan ke Madrasah Tsanawiyah Balung selama 3 tahun tamat pada tahun 2010. Seterusnya, masuk ke Madrasah Aliyah Negeri Kuok (MAN KUOK), jurusan IPA 1 di kelas XI, sekarang namanya sudah berganti MAN 1 KAMPAR Akreditasi A. Dan saya berhasil tamat pada tahun 2013.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-29205" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/9DBC50CE-5200-426F-A26C-867389D5DABB-225x300.jpeg" alt="" width="225" height="300" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/9DBC50CE-5200-426F-A26C-867389D5DABB-225x300.jpeg 225w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/9DBC50CE-5200-426F-A26C-867389D5DABB-768x1024.jpeg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/9DBC50CE-5200-426F-A26C-867389D5DABB.jpeg 960w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /><br />
Nasip baik terus berlanjut hingga ia masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Ia berhasil kuliah di Kampus 2 Air Pacah, Universitas Bung Hatta. &#8220;Saya berhasil masuk di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Alhamdulillah, lulus tepat waktu, pada 16 Juni 2017 lalu,&#8221; terangnya.</p>
<p>Setelah wisuda lanjutnya, saya berkeinginan untuk melanjutkan S2 di UNP. Akan tetapi dikarenakan biaya dan raut lelah di wajah kedua orang tua, saya merasa tidak sanggup untuk melanjutkannya. Keinginan tersebut terpaksa saya urung karena melihat kedua orang tua saya sudah terlalu lelah untuk mencari biaya.</p>
<p>&#8220;Saya ingin mencari beasiswa namun apalah daya keadaan jaringan di Desa Balung tidaklah mengizinkan untuk mendapatkan informasi. Lalu, pupuslah sudah mencapai keinginan untuk mendapatkan S2,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Gagal mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2, gadis periang ini pun mengajar di MTs Balung dan dimulai pada Agustus 2017. Sejalan dengan waktu, saya memasukkan lamaran ke SMP SATU ATAP XIII KOTO KAMPAR pada 28 Januari 2018.</p>
<p>Ia langsung diterima karena kondisi jalan menuju sekolah sangat mengkhawatirkan dan mengerikan untuk dilewati masyarakat. Maka tidak jarang guru yang pernah mengajar di sana tidak akan ada yg bertahan sampai 1 tahun.</p>
<p>Lokasi sekolah SD-SMP Satu Atap XIII Koto Kampar terletak di Dusun V  Siasam. Tepatnya jalan Lipat Kain &#8211; Balung KM.12, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar,  Provinsi Riau.</p>
<p>&#8220;Saya tidak berkecil hati untuk tidak dapat mencapai keinginan melanjutkan S2 di UNP. Namun saya sangat merasa sedih dengan nasib yang kami jalani sekeluarga. Ayah dan Ibu setiap minggu melewati jalan Balung-Siasam. Sebagai pedagang sayuran dan saya sebagai guru honor, harus menempuh jalan puluh kilometer dengan lumpur yang sangat tebal. Belum lagi melalui pendakian terjal serta beberapa jembatan yang rusak parah. Bahkan ada melalui sungai, dengan dalam mencapai ketiak orang dewasa&#8221; tutur Sari.</p>
<p>Anak Sulung dari tiga bersaudara tersebut kembali menceritakan, Ia mengajar setiap hari Senin hingga Rabu. Sekali seminggu, ibunya juga melewati jalan tersebut. &#8220;Ibu saya berangkat Rabu siang ke Siasam. Dan Jumat siang, baru bisa pulang ke rumah di Balung,&#8221; kisahnya.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-29206" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/F27A3949-6116-4396-8143-0A9D995C97C2-225x300.jpeg" alt="" width="225" height="300" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/F27A3949-6116-4396-8143-0A9D995C97C2-225x300.jpeg 225w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/F27A3949-6116-4396-8143-0A9D995C97C2-768x1024.jpeg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/F27A3949-6116-4396-8143-0A9D995C97C2.jpeg 960w" sizes="auto, (max-width: 225px) 100vw, 225px" /><br />
Situasi yang saya hadapi selama 1 tahun mengajar di SMP SATU ATAP XIII KOTO KAMPAR ini bercampur suka dan duka. Namun cerita duka, selalu menjadi bagian tidak terlupakan. Dimulai dari guru yang mengajar sampai terhadap siswa dan siswi yang menuntut ilmu di sekolah ini.</p>
<p>&#8220;Jalan menuju sekolah terdapat satu perlintasan melewati sungai. Apabila memasuki musim hujan, airnya akan naik dan tidak akan bisa menyeberang. Air sungai sangat deras dan mencapai setinggi pinggang orang dewasa. Bahkan sampai setinggi ketiak orang dewasa,&#8221; ungkap gadis manis berhijab tersebut.</p>
<p>Selain sungai, ada pula beberapa jembatan maut. &#8220;Jalan menuju sekolah jika musim hujan, akan sangat licin. Hanya Allah Mahakuasa yang tahu penderitaan kami selaku guru yang berjuang dengan maut menuju sekolah ini. Kondisi jalan yang masih bertanah kuning belum pernah ada pengerasan selama saya ketahui. Sangat licin dan lumpurnya tidak jarang mencapai setinggi lutut. Dengan susah payah saya selalu turun dari sepeda motor butut yang saya miliki supaya sepeda motornya bisa naik ke puncak pendakian.</p>
<p>&#8220;Walaupun sudah turun dari sepeda motor dan kaki bertumpu pada tanah yang berlumpur, serta tangan yang memegang stang gas sepeda motor, tetap saja tidak bisa naik. Dan pada akhirnya saya duduk berjam-jam untuk menunggu orang lewat supaya bisa minta tolong untuk mendorong sepeda motor saya,&#8221; urainya.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-29207" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/4E254727-7C13-4AD4-8D86-FF43C7A2A31E-225x300.jpeg" alt="" width="225" height="300" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/4E254727-7C13-4AD4-8D86-FF43C7A2A31E-225x300.jpeg 225w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/4E254727-7C13-4AD4-8D86-FF43C7A2A31E-768x1024.jpeg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/4E254727-7C13-4AD4-8D86-FF43C7A2A31E.jpeg 960w" sizes="auto, (max-width: 225px) 100vw, 225px" /></p>
<p>Sepanjang perjalanan menuju sekolah SD-SMP SATU ATAP XIII KOTO KAMPAR, ada empat titik yang membuat detak jantung berdetak kencang tidak beraturan gadis teguh dan berwatak keras ini. Pertama pendakian Batang Samir. Kedua, Jembatan Kotua Kociak, ketiga Jembatan Kotua Godang, dan keempat Pendakian Sungai Merbau.</p>
<p>Pendakian Batang Samir sangat licin ketika musim hujan. &#8220;Untuk menurun pun kendaraan harus digas, kalau nggak digas nggak akan turun karena jalannya berlumpur tanah napa. Air selalu mengalir dan menggenangi jalur di sepanjang jalan. Bayangkan saja bagaimana lumpurnya. Tentu saja kita tidak mau melewati jalan yang seperti itu, bila ada jalan alternatif lain. Namun apa boleh buat, itu jalan satu-satunya,&#8221; terangnya lagi.</p>
<p>Setelah Batang Samir, sekitar 5 KM perjalanan akan melewati Jembatan Kotua Kociak. &#8220;Dengan memperbanyak istighfar, berulang-ulang saya coba untuk melanjutkan perjalanan. Setelah melewati jalan licin dan berlumpur saya harus melewati jembatan yang saya beri nama jembatan Siratal Mustaqim,&#8221; Ungkap Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra UBH Padang ini.</p>
<p>Walaupun tidak ada persamaan dengan jembatan yang dijelaskan dalam Al Qur&#8217;an terangnya, namun karena rasa takut dan cemas yang saya alami disepanjang jalan, maka saya beranggapan bahwa saya sudah mencapai penderitaan selanjutnya, yaitu jembatan Siratal Mustaqim. Dan ada dua jembatan yangg sangat parah kondisinya.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-29208" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/62819A04-5493-44DD-B97E-0194F0BB2E9C-225x300.jpeg" alt="" width="225" height="300" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/62819A04-5493-44DD-B97E-0194F0BB2E9C-225x300.jpeg 225w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/62819A04-5493-44DD-B97E-0194F0BB2E9C-768x1024.jpeg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/01/62819A04-5493-44DD-B97E-0194F0BB2E9C.jpeg 960w" sizes="auto, (max-width: 225px) 100vw, 225px" /><br />
Walaupun jalan ini hak paten dari pihak pemerintah, namun sedikit pun belum pernah ada tindakan dari desa. Semisalnya, mengajak masyarakat gotongroyong atau mendatangkan alat berat untuk memperbaiki jalan.</p>
<p>&#8220;Kondisi lantai jembatan di tengahnya sudah 90 derajat miring, bayangkan saja jika telapak tangan dimiringkan. Nah seperti itulah kondisi jembatan Kotua Kociak ini,&#8221; paparnya lagi.</p>
<p>Papan untuk ditengahnya itu untuk jalan sepeda motor. Sisi kiri dan sisi kanan dibuat titian untuk ban mobil. Yang lebih menakutkan lagi, jarak papan tengah yang miring dengan setinggi paha orang dewasa. Jika kita mengendarai sepeda motor dan melewati papan ditengah yang miring tersebut, separoh badan kita tidak akan kelihatan diantara titian mobil yang posisinya di kiri dan kanan.</p>
<p>Pernah saya sekali mencoba mencari jalan pintas karena saking sudah parahnya kondisi jembatan tersebut. Namun sia-sia, meski sudah berusaha mencari dan bertanya kepada masyarakat setempat, tidak ada ditemukan jalan pintas. &#8220;Dengan memperbanyak Istigfar dan bertasbih kepada Allah, saya kembali memberanikan diri melewati jembatan tersebut,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ada suatu ketika, gadis berhijab ini pernah mencoba mengikuti tes CPNS. Dengan hati yang penuh kecemasan dan bercampur ketakutan, ia melewati jembatan yang panjang lebih kurang 3 meter tersebut. Ia agar bisa lulus menjadi seorang PNS. &#8220;Saya selalu berdoa, ya Allah jika doa orang teraniaya benar-benar dikabulkan, sekarang hamba dalam keadaan teraniaya, mohon luluskan hamba CPNS, Ya Allah. lalu mulailah saya mengucapkan Basmallah sambil berujar lulus PNS ya Allah, Lulus PNS Ya Allah, sepanjang meniti jembatan Siratal Mustaqim,&#8221; terang Sari.</p>
<p>Jika diingat-ingat sepanjang jalan lanjutnya, saya tersenyum-senyum terhadap apa yang saya lakukan disepanjang jembatan. Betis dan telapak kaki yang sering hijau berminggu-minggu terkena sepeda motor, dan bertumpu ke tanah. Serta terkena kayu yang melintang di badan jalan.</p>
<p>&#8220;Saya berdoa semoga saya panjang umur dan setiap gerak-gerik yang saya lakukan ini bernilai ibadah yang berlipat ganda. Serta menjadi penyelamat saya di akhirat nantinya. Aamiin,&#8221; ungkapnya lagi.</p>
<p>Tangan kecil kurus ini terasa sangat lelah dan memerah bahkan sampai melepuh karena meng-gas sepeda motor menuju sekolah SMP SATAP XIII KOTO KAMPAR. Terkadang saya ingin menangis, akan tetapi saya teringat wajah kedua orang tua saya. Sudah puluhan tahun mereka merasakan yang saya rasakan hari ini. Dengan begitu saya mendapatkan kembali rasa berjuang untuk melanjutkan perjalanan menuju sekolah.</p>
<p>Bukannya tidak bersyukur, akan tetapi saya ini juga manusia biasa. Dengan gaji 350 ribu sebulan dan keluar sekali dalam delapan bulan. Saya mewakili teman-teman seperjuangan &#8220;merasa tidak adil&#8221; karena diluar sana diberikan insentif khusus, dan segala macamnya, walaupun daerah mereka tidak terisolir. Sekolah kami sudah melebihi 3 T nya. Namun tidak ada upaya pemerintah untuk mensejahterakan guru-guru yang mengabdi di sini.</p>
<p>&#8220;Walaupun kami tidak mempunya NUPTK Dan lain sebagainya atau guru-gurunya tamat SMA, bukankah ini daerah pengecualian, tidak bisa disamakan dengan sekolah diluar sana,&#8221; harapnya.</p>
<p>Sari kembali mengungkapkan ini adalah segelintir cerita pahit, menakutkan, dan menyedihkan disepanjang hidup saya yang harus saya lewati. Berharap adanya tindakan dari pemerintah kabupaten dan pemerintah pusat untuk lebih memperhatikan daerah telisolir tersebut.</p>
<p>&#8220;Terkadang saya merasa kecewa dengan keadaan. Tidak ada satupun tindakan baik dari masyarakat, desa maupun kabupaten untuk memperbaiki jalan Balung- Siasam ini. Pada hal ini adalah jalan lintas yang tembus ke Lipat Kain, dan bisa tembus ke Payakumbuh melewati kampar kiri,&#8221; pungkasnya. (<b>rud</b>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-inspiratif-dari-kampar-provinsi-riau-gadis-tangguh-itu-bernama-sari-santika/">Kisah Inspiratif Dari Kampar, Provinsi Riau. &#8220;Gadis Tangguh Itu Bernama Sari Santika&#8221;</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Menarik Azwar, Pemetik Kelapa Asal Sungai Batang</title>
		<link>https://prokabar.com/kisah-menarik-azwar-pemetik-kelapa-asal-sungai-batang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2019 03:36:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#kisah]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=28022</guid>

					<description><![CDATA[<p>Agam, Prokabar — Kisah menarik dari seorang pemetik kelapa Asal Ekor Pisang, Jorong Nagari, Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumbar. Azwar Sutan Sari Endah (61),...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-menarik-azwar-pemetik-kelapa-asal-sungai-batang/">Kisah Menarik Azwar, Pemetik Kelapa Asal Sungai Batang</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Agam</strong>, <strong>Prokabar</strong> — Kisah menarik dari seorang pemetik kelapa Asal Ekor Pisang, Jorong Nagari, Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumbar. Azwar Sutan Sari Endah (61), dan sudah 10 tahun berprofesi sebagai jasa pemetik kelapa sekitar Nagari Maninjau dan Sungai Batang. Hampir seluruh masyarakat mengenalnya, karena ia tidak pernah menggunakan motor atau kendaraan. Berjalan kaki puluhan kilometer bersama Beruknya, adalah ciri khas dimiliki bapak berbadan tegap ini.</p>
<p>Meski hanya sebagai pemetik kelapa menggunakan hewan peliharaannya seekor Beruk, penghasilannya bisa mencapai Rp150 ribu perhari. Setiap hari, ia bisa mendapatkan 15 injik dan dijual ke kedai-kedai langganannya. Untuk 1 injik saja sama dengan 4 buah kelapa. Saat ini, satu buah kelapa dijual perbiji seharga Rp2500.</p>
<p>Untuk rute kerja, cukup di wilayah dua Nagari yakni Nagari Maninjau dan Nagari Sungai Batang. Pohon kelapa di dua nagari ini banyak terdapat di Jorong Bancah Maninjau, Jorong Data Kampuang Dadok Sungai Batang, Tanjung Sani serta di Kampung Tangah. Kadang ada juga ke luar area itu. Ia dapat memenuhi permintaan, jika panen kelapanya banyak. Sehingga tidak terlalu rugi waktu dan tenaga.</p>
<p>Kedai langganan bapak 4 istri ini biasanya berada di beberapa tempat, seperti Kedai Ni Mai di Jorong Bancah dan Kedai Si Adek Di Pasar Maninjau. Permintaan selalu terpenuhi, karena kebutuhan masyarakat terhadap jasanya juga cukup melimpah.</p>
<p>Kisahnya bermula 10 tahun atau sekitar tahun 2008. Ada tetangga yang juga seorang penjual jasa pemetik buah kelapa di Nagari Sungai Batang. Pada saat itu istrinya sakit dan butuh orang lain menggantikan profesinya. Tetangga tersebut bernama Yus.</p>
<p>Pada saat itu, Azwar belum memiliki kemampuan dan tidak biasa dengan Beruk. Setelah belajar banyak melalui Yus, akhirnya ia bisa menghasilkan 2 karung atau 15 injik kelapa dalam waktu sehari.</p>
<p>Pada saat itu satu injik atau 4 buah kelapa seharga Rp12 ribu. Dan setelah banyak belajar dengan banyak pengalaman, ia pun mandiri melakoni profesi tersebut.</p>
<p>Melalui pekerjaan tersebut ia berhasil menyekolahkan anak-anaknya. Saat ini, ia tinggal di rumah istri ke empatnya di Jorong Nagari, Nagari Sungai Batang. Ke empat anaknya sudah tamat sekolah dan sudah bekerja.</p>
<p>&#8220;Sebelum berprofesi ini, saya sempat merantau ke Palembang dan Jakarta. Di sana saya bekerja sebagai pedagang kain. Bahkan sempat menjadi kuli bangunan,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Pulang ke kampung halaman lanjutnya, berkenaan orang tua saya sakit. Dan saya harus pulang untuk merawatnya. Karena saudara yang lain, tidak bisa menjaga dan merawat ibu saya. Azwar anak ke tiga dari 8 bersaudara. Meski usia sudah mulai lanjut, tidak menyurutkan diri untuk tetap bekerja, menafkahi istrinya.</p>
<p>Tidak hanya menjadi jasa pemetik kelapa saja,<span class="Apple-converted-space">  </span>tidak jarang pula ia bertani ke sawah. &#8220;Ada sekitar 4 petak sawah milik tetangga yang juga saya garap. Hasilnya lumayan, sekali panen menghasilkan 9 sukek atau 1 sukek setara dengan 2,5 kilogram,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Gigiah, giat sehingga sehat, begitulah moto dan motivasi hidup Azwar. &#8220;Setiap pagi sesudah bangun tidur dan sebelum buang air kecil, saya memiliki kebiasaan meminum 1 teko panjang air minum. Bekerja dengan berjalan kaki, agar tetap sehat dan bugar,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Selain itu lanjutnya, ada rahasia kesehatan yang perlu saya bagi kepada ananda. &#8220;Minumlah satu telur ayam kampung yang sudah dicampur 4 biji asam. Cara membuatnya, masukan dalam gelas, campur hingga gelas itu ditutup rapat dengan plastik. Setelah uap naik, buka dan campur sedikit merica. Kasianya akan dapat dirasakan setelah meminum ramuan tersebut,&#8221; pungkasnya. (rud)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-menarik-azwar-pemetik-kelapa-asal-sungai-batang/">Kisah Menarik Azwar, Pemetik Kelapa Asal Sungai Batang</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rawat Adik Berkebutuhan Khusus, Riri Menyimpan Asa Ingin Bersekolah Kembali</title>
		<link>https://prokabar.com/rawat-adik-berkebutuhan-khusus-riri-menyimpan-asa-ingin-bersekolah-kembali/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2018 14:20:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[#Agam]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#kisah]]></category>
		<category><![CDATA[#Maninjau]]></category>
		<category><![CDATA[#Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=22756</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh : Rudi Yudhistira &#160; Sungai Batang, Prokabar — Kisah ini berasal dari Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/rawat-adik-berkebutuhan-khusus-riri-menyimpan-asa-ingin-bersekolah-kembali/">Rawat Adik Berkebutuhan Khusus, Riri Menyimpan Asa Ingin Bersekolah Kembali</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : <em>Rudi</em> <em>Yudhistira</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Sungai</strong> <strong>Batang</strong>, <strong>Prokabar</strong> — Kisah ini berasal dari Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Riri (18) harus menanggung beban sebagai kakak untuk merawat adiknya Aditya (15), mengalami cacat mental dan fisik.</p>
<p>Akibatnya, ia harus putus sekolah dan hingga saat ini tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Petaka itu berawal kepergian sang ibu, meninggalkan Ayah beserta 2 orang adik laki-lakinya.</p>
<p>&#8220;Ibu pergi dan entah kemana. Saya harus merawat adik dan tidak bisa sekolah lagi,&#8221; tutur Riri disertai linangan air mata tak terbendung mengungkapkan curahan hati selama ini terpendam dalam.</p>
<p>Riri anak pertama dari Fajri (46) dan memiliki 2 orang adik laki-laki. Adik dibawahnya, bernama Aditya mengalami step dan lemah. Ia harus inten merawan dan menjaga adiknya tersebut.</p>
<p>Bila ditinggal sendiri, maka sang adik akan berbuat tidak karuan dan bahkan membahayakan diri sendiri. Sedangkan si bungsu bernama Farel (11), berhasil bertahan menjalani pendidikannya.</p>
<p>&#8220;Saya sangat berharap bisa menjalani kehidupan bersekolah dan sukses seperti kebanyakan orang. Tapi apa daya, saya harus menjaga dan merawat Adit,&#8221; Ungkap Riri sambil menangis.</p>
<p>Walinagari Sungai Batang, Jhon Hendra mengatakan keluarga kecil Riri salah satu dari 200 KK miskin yang ada di Sungai Batang. &#8220;Jumlah penduduk mencapai 6 ribu jiwa dan keluarga Riri ini salah satu rumah tangga yang mengalami masalah tersulit,&#8221; kata Jhon Hendra.</p>
<p>Kami sangat berharap lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Agam, Khususnya Dinas Pendidikan dan stakeholder lainnya, dapat memberikan solusi. &#8220;Kami akan mencoba lagi untuk menghubungi pihak terkait tersebut,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Sementara itu, Dodi bersama Hendra, Amil Pelaksana Teknis Baznas Kabupaten Agam mengungkapkan informasi tersebut menjadi studi kasus paling menarik untuk dituntaskan. &#8220;Kondisi Riri sangat memprihatinkan. Putus sekolah akibat merawat dan menjaga adik kandungnya Aditya menderita penyakit kelainan,&#8221; terang Dodi.</p>
<p>Ayahnya Fajri cukup gigih dan masih kuat untuk bekerja mencukupi kebutuhan harian anak-anak mereka. &#8220;Hanya saja persoalan ini berbeda. Aditya dan Riri membutuhkan penanganan khusus pada semua pihak. Ini harus segera kita carikan solusinya, terutama berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Agam dan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatra Barat,&#8221; terangnya lagi.</p>
<p>Akan tetapi, laporan harus diajukan Walinagari, Kecamatan dan sampai ke Pemerintah Daerah. &#8220;Untuk semetara, kami akan memberikan program pemberdayaan atau bantuan konsumtif, bila memang dibutuhkan keluarga kecil ini,&#8221; tutup Dodi.</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/rawat-adik-berkebutuhan-khusus-riri-menyimpan-asa-ingin-bersekolah-kembali/">Rawat Adik Berkebutuhan Khusus, Riri Menyimpan Asa Ingin Bersekolah Kembali</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Nenek Penjual Pical Di Kios Pasar Maninjau.</title>
		<link>https://prokabar.com/kisah-nenek-penjual-pical-di-kios-pasar-maninjau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2018 13:34:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[#feture]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#kisah]]></category>
		<category><![CDATA[#Maninjau]]></category>
		<category><![CDATA[#RUD]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=22747</guid>

					<description><![CDATA[<p>Maninjau, Prokabar — Hidup adalah kisah perjuangan untuk bertahan dan melaluinya dengan baik. Begitu pula yang dilalui nenek Erna (70), penjual pical di Los...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-nenek-penjual-pical-di-kios-pasar-maninjau/">Kisah Nenek Penjual Pical Di Kios Pasar Maninjau.</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Maninjau</strong>, <strong>Prokabar</strong> — Hidup adalah kisah perjuangan untuk bertahan dan melaluinya dengan baik. Begitu pula yang dilalui nenek Erna (70), penjual pical di Los Pasar Maninjau, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumbar ini.</p>
<p>Sejak puluhan tahun lalu, ia setia berprofesi pedagang pical. Meski sudah memiliki 6 orang anak dan 9 orang cucu. Proses fase kehidupannya tidak banyak berubah, kecuali dengan perjuangan dan keikhlasan.</p>
<p>&#8220;Amak jualan setiap hari kecuali selasa, karano hari Balai. Di hari biasa lebih nyaman, saingan tidak terlalu banyak,&#8221; kata nenek itu.</p>
<p>Hasil jual beli kurang dari Rp100 ribu perhari. Meski demikian, itu sudah mencukupi memenuhi kebutuhan dirinya seorang diri. Setidaknya dapat mengisi kekosongan hari dan melewati kehidupan yang terlalu pahit dirasakan.</p>
<p>&#8220;Amak sekarang tinggal sama anak perempuan satu-satunya dan minantu. Mereka hanya mampu hidup dan mencukupi kehidupan mereka saja. Jadi amak juga harus berjuang pula sendiri, agar tidak terlalu bergantung pada mereka,&#8221; ungkapnya lagi.</p>
<p>Ia sering merasa sedih dan terhiba hati. Anak banyak, namun susah diperantauan. &#8220;Amak hanya butuh bantuan modal dan lebih pingin mandiri,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Tinggal berdekatan dengan Kios Pasar Maninjau, memberi kemudahan untuk berjualan. &#8220;Pical amak berbeda dengan milik orang. Bahan rempah seperti cakua, bawang putih dan kuah sup, menjadi ciri khas tersendiri. Bumbu ini dapat dari orang tua nenek dulunya,&#8221; tutup Mak Erna. (<b>rud</b>)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/kisah-nenek-penjual-pical-di-kios-pasar-maninjau/">Kisah Nenek Penjual Pical Di Kios Pasar Maninjau.</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Senandung Pilu dari Palu, Kita Balik Kampung ya Nak..!</title>
		<link>https://prokabar.com/senandung-pilu-dari-palu-kita-balik-kampung-ya-nak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2018 07:41:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[#EYM]]></category>
		<category><![CDATA[#feture]]></category>
		<category><![CDATA[#gempapalu]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#kisah]]></category>
		<category><![CDATA[#Palu]]></category>
		<category><![CDATA[#TanahDatar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=22116</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanah Datar, Prokabar — Senandung Nazwa, balita berusia 14 bulan itu, empuk digendong ibunya. Mata bulatnya memandang apa yang bisa ia lihat Ini Selasa (23/10)....</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/senandung-pilu-dari-palu-kita-balik-kampung-ya-nak/">Senandung Pilu dari Palu, Kita Balik Kampung ya Nak..!</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tanah</strong> <strong>Datar</strong>, <strong>Prokabar — </strong>Senandung Nazwa, balita berusia 14 bulan itu, empuk digendong ibunya. Mata bulatnya memandang apa yang bisa ia lihat</p>
<p>Ini Selasa (23/10). Malam telah hitam. Ia bersama 3 kakak serta ayah bundanya tiba di Ladang Batur, Jorong Luak Gadang, Gurun, Kecematan Sungai Tarab, Tanah Datar. Warga menunggu rombongan kecil ini dengan deru dada tak menentu.</p>
<p>Siapa Senandung Nazwa? Dia adalah balita yang tak diamuk gempa dan tsunami Palu, meski begitu rumah orang tuanya habis sudah, beserta semua harta benda.</p>
<p>Maka Afrianto dan istrinya Zulandriani, papa di rantau orang. Ia kundang anak bininya balik ke kampung du jantung Minangkabau, tempat ia dulu tumbuh sebagai lelaki remaja.</p>
<p>Anak-anaknya<span class="Apple-converted-space">  </span>Bima Afrel berusia 10 tahun, Rafa Dwi Pratama 4 tahun dan si kecil dalam gendongan, Senandung.</p>
<p>Kala pesawat terbang meninggalkan palu serasa ada yang menikam ulu hatinya, sesuatu yang ia cari. Rumah yang ia bangun bata demi bata kini hilang.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Tatkala pesawat mendarat di BIM, ada lagi yang menyesak di dadanya. Ia seperti menemukan lagi kisah maca kecil. Di Gurun, nagarinya, meluap.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Pria berbaju kaos merah lengan panjang itu, membiarkan saja tas tas bawannya dibawa naik ke rumah. Ia tenggelam dalam sanubari persaudaraan yang diberikan dunsanaknya. Sebuah episode kehidupan berakhir dan episode lain dimulai.</p>
<p><b>Di</b> <b>Kampung</b></p>
<p>Begitulah, keharuan pihak keluarga tak terbendung saat Afrianto (34) tiba di rumah orang tuanya, Selasa malam<span class="Apple-converted-space">  </span>Afrianto yang akrab disapa Af ini merupakan salah satu korban selamat<span class="Apple-converted-space">  </span>gempa 7,4 SR dan Tsunami serta pergeseran tanah (likuifaksi) yang melanda Kabupaten Donggala, Sigi Palu dan Petobo Sulawesi Tengah 28 September lalu.</p>
<p>Af mengisahkan, saat Dia bersama isterinya Zulandriani (32), Bima Afrel Pratama (10) Rafa Dwi Pratama (4) dan Senandung Nazwa (1,2) selamat dari bencana besar yang melanda Sulawesi Tengah, Ia merasa bersyukur karena masih dipersatukan dengan keluarganya, walau sempat terpisah dengan anak sulungnya Bima selama sehari semalam.</p>
<p>Af yang berprofesi sebagai pedagang asesoris ini sehari sebelum kejadian berencana akan berjualan di tepi Pantai Talise ujung Jembatan Kuning yang sudah terkenal itu. Katanya disana ada acara besar dan merupakan acara tradisi yang selalu ramai dikunjungi orang.</p>
<p>Namun karena firasat buruk, menyebabkan Ia malas berjualan pada hari itu, maka ia putuskan berjualan keesokan harinya. Ternyata firasat itu pertanda baik baginya. Af bersama keluarganya selamat dari bencana dan berkumpul bersama keluarga kecilnya dan tinggal dipengungsian karena rumah dan seluruh harta bendanya ludes disapu tsunami.</p>
<p>Dikabarkan ada anggota keluarga isteri Af ini yang menjadi korban meninggal, pasangan suami isteri, karena mereka sempat berjualan pada saat bencana menimpa, yang laki-laki merupakan sepupu isterinya sudah ditemukan, namun sang isteri hingga saat ini belum ditemukan, sementara mertua Af selamat dan masih tinggal di posko pengungsian.</p>
<p>Kehilangan harta benda akibat bencana,<span class="Apple-converted-space">  </span>membuat af pulang ke kampung halaman. Kepulangannya ini pun sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah kabupaten Tanah Datar, melalui dinas sosial.</p>
<p>&#8220;Terima kasih pak Bupati, Ketua DPRD dan semua unsur yang telah berupaya memulangkan kami sekeluarga ke kampung halaman Tanah Datar, karena kami tidak ada biaya untuk pulang, jika bertahan di Palu kami dengan keluarga apa lagi anak-anak sangat trauma tinggal disana walau isteri saya orang palu Pak,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Sementara itu, Ketua DPRD Tanah Datar Anton Yondra, yang saat pemulangan keluarga Af bersama orang tua Af dan keluarga serta Wali Nagari, Wali Jorong serta puluhan masyarakat setempat sudah menunggu sedari sore itu, menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemda setempat, karena telah membantu pemulangan Af bersama keluarganya.</p>
<p>Menurutnya upaya pemerintah daerah ini patut diapresiasi karena telah peduli dengan warga Tanah Datar yang mendapat musibah di perantauan.</p>
<p>&#8220;Kita ucapkan terima kasih kepada bupati yang telah menginstruksikan Dinas Sosial untuk membantu warga kita ini. Dan sebenarnya jika kepulangan Af bersama keluarga ini lebih awal maka akan ditunggu Bupati bersama Forkopimda di Gedung Indo Jolito, namun karena bupati ada tugas lain dan begitu juga kapolres maka Af langsung diantar kekampungnya,&#8221; kata Anton.</p>
<p>Kepala Dinas Sosial Yuhardi di dampingi salah seorang kabid. Mashuri Maiza, membenarkan jika Ia telah diperintah bupati untuk membantu saudar kita ini dan menjemput ke BIM Padang Pariaman.</p>
<p>&#8220;Karena ketidak adaan ongkos untuk pulang maka kita kirimkan biaya sebesar Rp. 10 juta yang diperuntukkan untuk tiket pesawat dan kebutuhan selama perjalanan, yang diambilkan dari dana sosial,&#8221; ucapnya.</p>
<p>&#8220;Sementara untuk saudara kita yang mendapatkan musibah yang sama di Palu dan sudah lebih dahulu pulang dan sudah tiba di kampung halaman seperti warga Padang Ganting, Lintau Buo dan Andaleh Kecamatan Sungayang juga akan dibantu Pemerintah Daerah masing-masing KK sebesar Rp. 4 juta, dan itu direncanakan akan diantar langsung oleh Bupati,&#8221; sebut Dia.</p>
<p>&#8220;Dari informasi yang didapat saat ini di pengungsian kota Palu masih ada saudara kita sebanyak 25 Kepala Keluarga (KK) dan masih tetap bertahan disana, itu juga akan kita berikan bantuan dan rencana akan diantarkan langsung sekaligus melihat kondisi keluarga kita ini,&#8221; tutupnya.</p>
<p>Wali Nagari Gurun Hanisben, yang turut menyambut kedatangan Af beserta keluarga ini, juga sampaikan ucapan terima kasih, sembari memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp.1.146.000, yang dikumpulkan dari rumah-kerumah, himbauan di Masjid dan bantuan dari jamaah BKMT nagari setempat.(eym)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/senandung-pilu-dari-palu-kita-balik-kampung-ya-nak/">Senandung Pilu dari Palu, Kita Balik Kampung ya Nak..!</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 41/169 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/16 queries in 0.037 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 20:18:45 by W3 Total Cache
-->