<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#kemedes Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/kemedes/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/kemedes/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Oct 2019 03:23:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#kemedes Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/kemedes/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Direktur PMD : Gelorakan Semangat Gotong Royong Masyarakat Aceh Jadi Contoh Nasional</title>
		<link>https://prokabar.com/direktur-pmd-gelorakan-semangat-gotong-royong-masyarakat-aceh-jadi-contoh-nasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Oct 2019 03:23:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[#kemedes]]></category>
		<category><![CDATA[#rls]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=47896</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aceh, Prokabar &#8211; Nilai local wisdom seperti gotong royong yang telah mengakar di tengah masyarakat Aceh hendaknya terus digelorakan sehingga menjadi contoh positif bagi...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/direktur-pmd-gelorakan-semangat-gotong-royong-masyarakat-aceh-jadi-contoh-nasional/">Direktur PMD : Gelorakan Semangat Gotong Royong Masyarakat Aceh Jadi Contoh Nasional</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Aceh, Prokabar</strong> &#8211; Nilai <em>local wisdom</em> seperti gotong royong yang telah mengakar di tengah masyarakat Aceh hendaknya terus digelorakan sehingga menjadi contoh positif bagi Desa-desa lain secara nasional. Nilai khas masyarakat Desa tersebut diharapkan tidak hanya menjadi slogan saja, namun dibutikan dalam sikap dan tindakan nyata oleh seluruh lapisan masyarakat.</p>
<p>Direktur Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), Ditjen PPMD, Kemendesa PDTT, M. Fachri menyampaikan hal itu saat menghadiri peringatan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XVI dan Hari Kesatuan Gerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga ke 47 di Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh, Senin (30/9).</p>
<p>M. Fachri juga mengajak seluruh masyarakat, terutama OPD, PKK, pendamping desa dan stakehokder lainnya di Kabupaten tersebut untuk berkolaborasi dan berpartisipasi aktif membantu Pemerintah Daerah dalam menyukseskan program-programnya.</p>
<p>&#8220;Program BBGRM ini bisa menjadi model dan metode dalam membangun daerah itu yang lebih maju. Pendekatannya bisa dengan pola Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD), dengan penguatan local wisdom di Desa-desa&#8221;, katanya.</p>
<p>Diakuinya, pola pemberdayaan masyarakat memiliki peran penting dan strategis dalam menggerakkan kekuatan di masyarakat. Salah satunya dalam aspek tumbuh kembang dan kualitas tumbuh anak.</p>
<p>Untuk itu, ia berharap melalui APBN, APBD, dan APBDes perlu diberikan fokus perhatian khusus sehingga lebih memberi manfaat bagi masyarakat desa.</p>
<p>“Atas nama Kementerian Desa, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bupati dan Pemda Kabupaten Bireun atas terselenggaranya kegiatan ini. Dengan semangat yang ditularkan oleh bupati, angka kemiskinan Bireun bisa diturunkan. Target tahun depan, sebanyak tiga ribu desa yang akan diturunkan angka kemsikinannya,” terang Direktur PMD.</p>
<p>Selain itu, M. Fachri juga berharap kegiatan BBGRM perlu menyasar hingga ke kelompok terpelajar dan anak-anak sehingga tertanam nilai-nilai gotong royong sejak usia dini.</p>
<p>Kegiatan tersebut, selain dihadiri oleh Bupati Bireun, H. Saifannur juga Kepala Dinas PMD Kabupaten Bireun, OPD terkait, Camat, Kepala Desa, Tim Penggerak PKK dan Kader Desa serta ratusan Tenaga Pendamping Profesional Indonesia se-Kabupaten Bireun.<br />
(rls)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/direktur-pmd-gelorakan-semangat-gotong-royong-masyarakat-aceh-jadi-contoh-nasional/">Direktur PMD : Gelorakan Semangat Gotong Royong Masyarakat Aceh Jadi Contoh Nasional</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Wae Rebo, Rantau Jauh Orang Minangkabau</title>
		<link>https://prokabar.com/wae-rebo-rantau-jauh-orang-minangkabau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Aug 2019 15:06:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[#kemedes]]></category>
		<category><![CDATA[#labuanbajo]]></category>
		<category><![CDATA[#laf]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<category><![CDATA[#Waerebo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=44454</guid>

					<description><![CDATA[<p>Flores, Prokabar &#8211; Pagi di Labuan Bajo, gerah seperti biasa. Jam 7 pagi, aktivitas masyarakat bergerak. Ke sekolah, kantor dan pasar. Sementara di depan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/wae-rebo-rantau-jauh-orang-minangkabau/">Wae Rebo, Rantau Jauh Orang Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Flores, Prokabar</strong> &#8211; Pagi di Labuan Bajo, gerah seperti biasa. Jam 7 pagi, aktivitas masyarakat bergerak. Ke sekolah, kantor dan pasar. Sementara di depan hotel, belasan pemandu dan driver sudah menunggu tamu yang akan pergi sesuai dengan rencana liburan mereka.</p>
<p>Tim ekspedisi merdeka sudah berkumpul di lobby hotel. <em>Trip plan</em> dibahas, tujuannya adalah Wae Rebo. Untuk menuju desa di atas awan ini, bisa melalui dua jalur. Pertama melalui Ruteng dan terus ke Iteng. Jalur kedua melalui Lembor, belok kanan lewat Nang Lili. Kami memilih jalur kedua karena pertimbangan jarak dan waktu.</p>
<p>Labuan Bajo menuju Lembor ditempuh selama 2 jam. Melewati pegunungan dengan pepohonan yang kering. Tapi pemandangan tidak kalah indahnya. Melihat lautan dari ketinggian, sungguh pengalaman yang sulit dilupakan. Liukan jalan yang mulus, mengantarkan kami ke desa pemasok beras Manggarai itu.</p>
<p>Lembor tidak seperti desa sebelumnya yang dilewati. Di sini ratusan hektar sawah membentang. Hijau. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah sawah.</p>
<p>&#8220;Sawah ini dibuat tahun 80 an, sekaligus dibangun irigasi. Makanya sepanjang tahun, masyarakat bisa menanam padi. Lembor pemasok utama beras di Manggarai,&#8221; cerita Ajo Johan, orang Lubuk Alung yang berjualan nasi Padang di jantung Lembor.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan menyisiri pantai Nang Lili. Pantai berbatu dengan aspal yang kurang mulus, menemani perjalanan. Tak lama, sebuah pulau terlihat. Pulau Molas (baca moles) mengintip dibalik birunya laut. Molas dalam bahasa Manggarai adalah cantik. Jika diamati benar, pulau itu terlihat seperti perempuan yang sedang tidur menelentang. Di bawahnya terlihat pasir putih. Kami akan ke sana, tapi tidak hari ini.</p>
<p>Hampir 2 jam melewati jalan tepi pantai, akhirnya tim ekspedisi sampai di gerbang Wae Rebo. Namanya Desa Dintor. Desa ini menjadi satu satunya pintu masuk ke Wae Rebo. Di desa ini juga sinyal seluler terakhir muncul. Itupun hanya sekedar untuk melakukan sambungan telepon dengan kekuatan sinyal ala kadarnya.</p>
<p>Jam menunjukkan pukul 16.00 WITA, tim Ekspedisi menapaki Desa Denge. Di desa ini akhir dari jalan beraspal. Selepasnya hanya ada jalan setapak menuju Kampung Wae Rebo. Tempat yang kami tuju adalah Tourist Information Centre. Beruntung, kami disambut tuan rumah yang ramah, Blasius.</p>
<p>&#8220;Selamat datang di Wae Rebo, saya Blasius, lebih baik bapa bapa, tinggal di sini dulu, karena kalau berangkat sore ini, dipastikan akan sampai di Wae Rebo malam hari. Silahkan nikmati kopi kampung kami,&#8221; sapa Blasius.</p>
<p>Akhirnya setelah diskusi singkat, kami memutuskan untuk menginap di homestay sederhana milik Blasius. Alasannya, selain karena terlalu sore, ternyata upacara penyambutan oleh tetua adat, hanya bisa dilakukan sebelum matahari terbenam.</p>
<p>Sore itu dihabiskan dengan mengulik sejarah Wae Rebo. Blasius yang juga seorang guru ini bercerita panjang tentang desa adat ini.</p>
<p>&#8220;Kami adalah keturunan Minangkabau, kata orang tua saya, leluhur kami bernama Empo Maro, berlayar dari tanah Minang ke Flores ini, kita adalah saudara&#8221; tutur Blasius.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44455" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0013.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Kalimat yang kami tunggu &#8211; tunggu. Sebelumnya tim ekspedisi merdeka ini sudah membaca sejumlah literasi tentang kaitan Wae Rebo dengan Minangkabau. Lalu kami terpana sambil bertanya dengan cerita Blasius.</p>
<p>Alkisah, Empo Maro dengan saudaranya, kehabisan bekal di tengah Laut Flores. Mereka terpaksa menepi untuk bertahan hidup. Nun jauh di atas gunung dua bersaudara ini melihat kepulan asap membumbung tinggi. Filsafat alam takambang jadi guru dipakai, karena dimana ada asap, berkemungkinan besar ada kehidupan. Maka berjalanlah adik beradik ini menyusuri hutan. Tempat asap tersebut benar benar sebuah perkampungan, disebutkan nama kampung tersebut adalah Todo. Empo Maro dan saudaranya akhirnya tinggal disitu, hidup bersama warga. Dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Maro berasimiliasi dengan budaya Todo.</p>
<p>Entah terjadi konflik, atau memang ingin pindah, Maro memilih untuk meninggalkan Kampung Todo. Setelah berjalan jauh ke tengah rimba, Maro menemukan sebuah lembah. Disana dia hidup dan bercocok tanam. Anehnya, tidak sekalipun kebunnya diganggu oleh binatang buas. Akhirnya Maro membangun rumah di lokasi itu.</p>
<p>&#8220;Waktu itu belum ada nama, maka suatu malam leluhur kami itu bermimpi, untuk memberi nama tempat tinggalnya dengan Wae Rebo. Dalam bahasa Manggarai, tidak ada kata rebo. Sampai sekarang kami tidak tahu arti kata rebo itu,&#8221; tutur Blasius.</p>
<p>Kopi Wae Rebo di meja, hampir habis. Blasius mengerti, datang lagi beberapa gelas kopi panas, dan cerita itupun dilanjutkan.</p>
<p>Bicara tentang kemiripan budaya dan kata, lanjut Blasius, memang tidak ada. Begitupun dengan keilmuan, belum ada penelitian tentang keterkaitan suku kami dengan Minangkabau. Kami hanya mendapatkan cerita itu hanya secara turun temurun.</p>
<p>&#8220;Ada beberapa kemiripan, seperti kain khas Wae Rebo adalah Songkek, nah di Minangkabau katanya punya songket, lalu tentang nama Maro, dulu ada orang Minang berkunjung kesini, katanya ada nama Tuanku Maro di Minangkabau, saya tidak tahu, karena memang saya belum pernah ke tanah leluhur saya, Sumatera Barat,&#8221; cerita Blasius.</p>
<p>Blasius adalah generasi ke 21 suku Modo, suku yang tinggal di Wae Rebo. Dirinya adalah salah satu penggerak wisata di kampung ini. Dulu, sebelum dunia mengenal Wae Rebo, Blasius bersama beberapa saudaranya, merasa terenyuh, dari tujuh Mbaru Niang, hanya tersisa empat saja, itupun dengan kondisi reot. Sedangkan tiga rumah sudah hancur.</p>
<p>Blasius dengan segala keterbatasan, mencari jalan. Bagaimana warisan leluhur mereka bisa diselamatkan. Gayung bersambut, melalui sejumlah araitek yang dimotori Yori Antar, berhasil meyakinkam Yayasan Tirto Utomo untuk ikut merestorasi rumah adat ini. Bersama Laksamana Sukardi dan Arifin Panigoro, Mbaru Niang kembali ke jumlah asalnya.</p>
<p>Perjuangan banyak orang itu berbuah manis, tahun 2012 Wae Rebo dianugerahi Award of Excellence pada UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation. Sebuah penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi warisan budaya.</p>
<p>Kembali ke asal usul Wae Rebo. Dari sisi fisik terdapat perbedaan wajah mencolok antara suku Modo suku Flores lainnya. &#8220;Pak Blasius ini perawakannya lebih mirip orang minang, dibandingkan orang Flores,&#8221; kelakar Firdaus Abi.</p>
<p>Hal itu diamini Blasius, beberapa orang memang tidak berwajah Flores, kecuali turunan yang sudah terjadi perkawinan campuran beberapa generasi dengan suku lain di Manggarai.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-44456" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012-1024x682.jpg" alt="" width="1000" height="666" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012-1024x682.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012-300x200.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012-768x512.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2019/08/IMG-20190819-WA0012.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Malam di Denge terasa hening. Yang terdengar hanya suara generator, pembangkit listrik mini. Kopi sudah habis bergelas gelas. Sungguh nikmat Kopi Arabika Wae Rebo itu. &#8220;Jam 22.00 WIB, generator akan dimatikan, tidak boleh ada lilin,&#8221; tegas Blasius.</p>
<p>&#8220;Sekarang hujan, tidak kelihatan bintang di langit, tapi saya punya bintang di lemari kaca, harganya Rp 50 ribu,&#8221; candanya.</p>
<p>Tapi kami tidak tertarik dengan bintang. Bercengkrama tanpa gangguan gadget jauh lebih menarik. &#8220;Sudah lama kita tidak merasakan suasana ini, tidak ada HP ditangan, tapi entah bagaimana kata istri di rumah, saya belum sempat kasih tahu, disini tidak ada sinyal,&#8221; kata Adrian Tuswandi.</p>
<p>Malam makin hening, sebentar lagi genset akan dipadamkan. Besok pagi pagi sekali, tim ekspedisi bergerak ke negeri di atas awan. Malam ini kami tidur berkelambu, mengingatkan pada tidur di rumah gadang yang berjarak ratusan kilometer dari Wae Rebo.(laf)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/wae-rebo-rantau-jauh-orang-minangkabau/">Wae Rebo, Rantau Jauh Orang Minangkabau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tim Jelajah Desa Kemendes Sambangi Sumbar</title>
		<link>https://prokabar.com/tim-jelajah-desa-kemendes-sambangi-sumbar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi5]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Jun 2018 10:59:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[#hdp]]></category>
		<category><![CDATA[#kemedes]]></category>
		<category><![CDATA[#ProKabar]]></category>
		<category><![CDATA[#Sumbar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=9234</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, Prokabar &#8211; Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggelar Jelajah Desa Ramadan untuk meningkatkan sosialisasi dana desa serta memantau pelaksanaan dan...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/tim-jelajah-desa-kemendes-sambangi-sumbar/">Tim Jelajah Desa Kemendes Sambangi Sumbar</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Prokabar &#8211; </strong>Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggelar Jelajah Desa Ramadan untuk meningkatkan sosialisasi dana desa serta memantau pelaksanaan dan pemanfaatan dana desa 2018.</p>
<p>Tim Jelajah Desa (Nagari) Ramadan Kemendes PDTT direncanakan akan mengadakan kunjungan kesejumlah daerah di Sumatera Barat, dari tanggal 9 Juni hingga 12 Juni 2018.</p>
<p>Dalam rangkaian acara yang di terima, kunjungan pertama ke Kabupaten Padangpariaman, pada Sabtu, 09 Juni 2018. Sebelum berangkat tim akan dilepas oleh Kadis Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Sumatera Barat. Di Padang Pariaman tim direncanakan mengunjungi Badan Usaha Milik Nagari (Bumnag) Pakandangan Ameh.</p>
<p>Selanjutnya tim akan mengunjungi Hutan Adat, dan dilanjutkan dengan berziarah ke Ulakan dan Angku Saliah Kiramaik. Kemudian kunjungan ke Pondok Pesantren Mato Aie, yang dilanjutkan buka bersama pendamping desa dan tenaga ahli Kabupaten Padangpariaman, tarawiah.</p>
<p>Usai tarawih tim meneruskan perjalanan ke Simpang IV, Pasaman Barat, dan direncanakan akan makan sahur bersama banser dan kader NU.</p>
<p>Pada Minggu 10 Juni, tim yang telah berada di Pasaman Barat akan melakukan kegiatan pertama, yakni</p>
<p>ziarah ke Sasak di makam Buya Lubuk Landua, dan mengunjungi jembatan yang dibangun dari dana desa di daerah itu.</p>
<p>Kegiatan selanjutnya kunjungan ke Bumnag Ranah Pasisie, dan kunjungan ke panti asuhan. Bertolak ke Pasaman, tim berbagi bingkisan di Rumah Singgah Kebangsaan. Lalu buka bersama dengan pendamping desa dan tenaga ahli Pasaman, yang dilanjutkan sahur bersama kader NU dan Banser Pasaman.</p>
<p>Pada Senin 11 Juni, tim berangkat dari Lubuksikaping, ziarah di Surau Batu, Kunjungan ke Bumnag dan Pondok Pesantren, berbagi dengan anak Panti Asuhan, kunjungan ke Surau Suluak, berbuka bersama dengan pendamping desa dan tenaga ahli di Novotel Bukittinggi, sahur bareng Komunitas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Desa Wisata.</p>
<p>Di hari terakhir, Selasa, 12 Juni tim berkegiatan di Kabupaten Agam yang dimulai ziarah ke makam Inyiak Canduang, kunjungan ke Bumnag di Bukit Batabuah, kunjungan ke Ponpes Almakmur Situjuh Tungka dan Ponpes Sudirman Sair Alma&#8217;rif as Syakdiah, buka puasa bersama pendamping desa dan tenaga ahli, serta penerima bantuan Bumnag se Limapuluh kota bersama Wabup Limapuluh Kota.</p>
<p>Kegiatan Jelajah Desa Ramadan dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan sosialisasi aspek-aspek penting dalam pemanfaatan dan tata kelola dana desa yang telah disalurkan <strong>(*/hdp)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/tim-jelajah-desa-kemendes-sambangi-sumbar/">Tim Jelajah Desa Kemendes Sambangi Sumbar</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 29/87 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/16 queries in 0.406 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 20:56:39 by W3 Total Cache
-->