<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#kampung Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/kampung/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/kampung/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 May 2020 16:03:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#kampung Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/kampung/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Orang Kampung Bertanya, Apa Itu New Normal?</title>
		<link>https://prokabar.com/ketika-orang-kampung-bertanya-apa-itu-new-normal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 May 2020 06:50:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#corona. #Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[#kampung]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#newnormal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=68502</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama) Seorang perempuan paroh baya, tergopoh-gopoh datang bertanya. Dia mencirotet saja, sebelum masuk ke inti pertanyaan. Saya dengan sabar mendengarkan,...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/ketika-orang-kampung-bertanya-apa-itu-new-normal/">Ketika Orang Kampung Bertanya, Apa Itu New Normal?</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong>Oleh: Rizal Marajo</strong><br />
<strong>(Wartawan Utama)</strong></p>
<p>Seorang perempuan paroh baya, tergopoh-gopoh datang bertanya. Dia mencirotet saja, sebelum masuk ke inti pertanyaan. Saya dengan sabar mendengarkan, sembari menghembuskan asap kretek dengan sero-nya.</p>
<p><em>&#8220;New normal tu apo lo tu Marajo, iyo lah buliah anak-anak wak sikola liak? Lai ndak baa tu? lai ndak ka kanai corona lo anak-anak wak du?. Itu berita nan kalua di Tipi santa ko ha.&#8221;</em></p>
<p>Saya tergalenjek tagang mendapat rentetan pertanyaan mengketutus bak peluru yang berhamburan dari mulut AK-47 itu. Tak tentu apa yang akan saya jawab. Bukan apa-apa, saya tak menguasai bahan, kalau pertanyaannya hal-hal seperti itu. Lagi pula saya tak begitu peduli dan tak  berminat untuk terlalu kepo dengan new normal yang diusung-usung kian kemari oleh presiden Jokowi itu.</p>
<p>Kalau saja yang ditanyakan amak-amak tadi soal kelanjutan Liga Jerman, Liga Inggris, tentang AC Milan, soal bursa transfer pemain, atau setidaknya tentang Semen Padang FC  dan semua yang berkaitan dengan sepakbola, mungkin saya tak akan sepaniang ini. Berkepicing saja mungkin bisa saya jawab.</p>
<p><em>&#8220;Sabanta yo Ni, wak tanyoan ka mamak wak lu.&#8221;</em> jawab saya sambil mengutak-atik android tua saya. Maksudnya  dibuka-buka dulu &#8220;mak google&#8221; , tentunya dengan menekan keyword, Apa itu new normal?. Seketika mengketutus pula dari atas sampai bawah link-link berita tentang new normal.</p>
<p>Makin paniang saya dibuatnya, sembari sedikit menyesali amak-amak  itu. Dikiranya wartawan itu orang yang serba tahu semuanya. Padahal tidak juga. Tapi setidaknya perempuan sebelah rumah itu telah menobatkan saya sebagai orang yang tepat sebagai tempat bertanya.</p>
<p>Bayangkan kalau dia bertanya misalnya kepada sesama amak-amak yang sama tak tahunya,  tentu  akan semakin tak jelas ujung pangkalnya karena terjebak opini masing-masing.  Yang seorang  bersitegang mengatakan ke mudik,  yang satu lagi <em>mangareh</em> pula ke hilir, alamat makin jauh panggang dari api.</p>
<p>Setelah mendapat definisi dari sebuah link, saya berusaha menjelaskan semampu saya apa itu new normal, dengan bahasa yang kira-kira dapat dimengertinya. Sebab, kalau dipakai pula bahasa Jokowi nan hebat luar biasa itu, bakal tambah pusing pula dia.</p>
<p>Dia mengangguk-angguk, entah mengerti entah tidak dia dengan penjelasan saya, yang jelas dia pamit dengan sepotong kalimat standar. <em>&#8220;Yo lah Marajo, untuang-untuang capek barangkek corona ko</em>,&#8221;ucapnya.</p>
<p>Sepeninggal perempuan itu, saya tuncik-tuncik lagi android untuk lebih memahami apa itu new normal. Nanti kalau ada yang bertanya lagi, saya tak terlalu stress menjawab seperti tadi. Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita, ternyata new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal.</p>
<p>Namun, perubahan ini ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Prinsip utama dari new normal, adalah menyesuaikan dengan pola hidup. Protokol kesehatan menjadi aturan yang disebutkan dalam implementasi new normal, yakni menjaga jarak sosial dengan mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Selebihnya tetap pakai masker kemana-mana dan rajin-rajin cuci tangan.</p>
<p>Artinya, masyarakat akan menjalani kehidupan new normal hingga ditemukan vaksin, yang dapat digunakan untuk menangkal virus corona. &#8220;Transformasi ini adalah untuk menata kehidupan dan perilaku baru, ketika pandemi, yang kemudian akan dibawa terus ke depannya sampai ditemukan vaksin untuk Covid-19,&#8221;kecek  apak tu dalam link.</p>
<p>Jika merujuk pendapat para ahli dan pakar kesehatan dunia, vaksin corona baru akan tersedia pada tahun 2021 mendatang. Artinya, new normal yang harus dijalani oleh masyarakat harus dilakukan paling tidak hingga tahun depan, bahkan kemungkinan lebih lama lagi.</p>
<p>Itu sebabnya Presiden Jokowi mengajak hidup berdamai dengan Covid-19. New normal pada akhirnya menjadi kondisi yang harus dihadapi masyarakat agar dapat hidup berdampingan dengan ancaman virus corona baru ini.</p>
<p>Lalu bagaimana prosedur new normal itu?<br />
Lagi-lagi saya terpaksa mengandalkan link, menurut Keputusan Menteri Kesehatan, setiap perusahaan wajib punya Tim Penanganan Covid-19 di tempat kerja dan mengatur sejumlah kebijakan terkait pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah dan tidak. Perusahaan diharapkan meniadakan shift 3 dan kalaupun terpaksa ada, pekerja di jadwal tersebut diutamakan berusia kurang dari 50 tahun.</p>
<p>Pekerja diwajibkan menggunakan masker sejak perjalanan dari rumah menuju tempat kerja. Perusahaan juga wajib memastikan seluruh area kerja bersih dan menjaga kualitas udara kantor.</p>
<p>Di beberapa negara, pelonggaran lockdown tidak berbuah baik. Di Prancis misalnya, yang kasus positif disana mulai menurun, tetapi justru kasus positif Covid-19 meningkat lagi sehari setelah lockdown dilonggarkan. Kasus serupa terjadi di Italia.</p>
<p>Bagaiamana jadinya jika pelonggaran tetap  dilakukan di tengah kurva yang masih menanjak seperti di negeri +62 ini? Apakah pemerintah mengorbankan kesehatan masyarakat demi perekonomian?</p>
<p>Menteri Keuangan Sri Mulyani pun setengah ngeles mengatakan, kesehatan dan ekonomi tak dapat dipisahkan. Prosedur new normal ini dinilai paling tepat dilakukan. &#8220;Tidak ada trade-off (pertukaran) antara kesehatan dan ekonomi. Keduanya ibarat bayi kembar siam yang tidak dipisahkan, maka kalau tidak ada kesehatan, tidak ada ekonomi, begitu juga sebaliknya,&#8221; ujar ibuk menteri keuangan yang disebut-sebut terbaik di dunia itu.</p>
<p>Entahlah, setelah dua bulan lebih rakyat negeri ini terbiasa menjaga jarak dan mengurangi aktivitas di luar rumah, seharusnya, tidak akan sulit  untuk memasuki era normal baru. Tetapi, ini tidak akan berjalan &#8216;normal&#8217; apabila tidak didukung dengan kebijakan yang tepat, misalnya, jam kerja kantor, operasi angkutan umum, aktifitas  pendidikan dan sekolah, mall, pasar rakyat, dan lain sebagainya.</p>
<p>Pemerintah diharapkan benar-benar membuat skenario yang utuh sebelum benar-benar masuk ke era normal baru dimaksud. Jika tidak, new normal hanya akan jadi senjata terbaik bagi Covid-19 untuk menciptakan gelombang kedua penularan.</p>
<p>Makin paniang! Saya teringat lagi amak-amak tadi, kalau betul informasi sekolah-sekolah akan dibuka normal kembali, tentunya wajar dia mencemaskan anak-anaknya yang &#8220;dilepas&#8221; kembali keluar rumah, walaupun itu  ke sekolah. Mungkin kecemasan itu mewakili kecemasan ribuan, bahkan jutaan  ibu-ibu lain di negeri ini.</p>
<p>Ah sudahlah, untuk saat ini saya tak tertarik dengan itu semua. Saya lebih senang memakai sepatu boot, pakai kupiah, dan pakai &#8220;seragam dinas&#8221; seperti biasanya, lalu melangkah ke parak. Rutinitas <em>day by day</em> yang saya lakoni beberapa bulan terakhir, dan sangat saya nikmati.</p>
<p>Well,  disambut hamparan hijau yang tumbuh subur dan rimbun itu luar biasa rasanya.  Bercengkrama dengan tanaman cabe, jehe, buncis, bawang prei, seledri dan terong dalam satu lahan itu, membuat mata lebih sehat, perasaan lebih tenteram, dan pikiran pun jadi jernih, sembari tak henti-henti mengucap rasa syukur.  Mudah-mudahan semua yang tumbuh subur itu menjadi rezeki yang berkah untuk keluarga. Alhamdulillah Ya Allah.<strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/ketika-orang-kampung-bertanya-apa-itu-new-normal/">Ketika Orang Kampung Bertanya, Apa Itu New Normal?</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Robohnya Kehangatan Lebaran di Kampung Kami</title>
		<link>https://prokabar.com/robohnya-kehangatan-lebaran-di-kampung-kami/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2020 05:34:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#covid-19. #corona]]></category>
		<category><![CDATA[#kampung]]></category>
		<category><![CDATA[#Lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=68318</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo Luar biasa cerah pagi ini, matahari bersinar sempurna menyungkup kampung indah di kaki Gunung Marapi ini. Cahayanya kuning keemasan, berkilau menyinari...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/robohnya-kehangatan-lebaran-di-kampung-kami/">Robohnya Kehangatan Lebaran di Kampung Kami</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><em><strong>Oleh: Rizal Marajo</strong></em></p>
<p>Luar biasa cerah pagi ini, matahari bersinar sempurna menyungkup kampung indah di kaki Gunung Marapi ini. Cahayanya kuning keemasan, berkilau menyinari embun dingin yang pasrah untuk dipecahkan sinar sang mentari. Hari ini, 1 Syawal 1441 H.</p>
<p><em>Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar&#8230;.laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allahu akbar wa lillaahil-hamd.</em> Laungan takbir itu masih terdengar mendayu-dayu dari mesjid.</p>
<p>Tapi hari ini begitu berbeda dari hari raya tahun-tahun sebelumnya. Seperti ada yang hilang, ada yang berjalan tak seperti biasanya. Kesepian ini terlalu menikam ulu hati, menyusup jauh ke relung hati terdalam.</p>
<p>Masih ada shalat Ied, tapi untuk pertama kali sepanjang sejarah, shalat Ied harus dengan protokoler khusus. Harus memakai kupon, sebagai jaminan menunjukkan warga setempat, suhu badan diukur dengan thermogun, shaf jaga jarak, bawa sajadah sendiri. Dan, khotbah pun dibatasi hanya 10 menit.</p>
<p>Kegembiran yang terkungkung di hari yang fitri, kemeriahan yang tak lepas seperti layaknya hari Raya. Ritual suci sekali setahun yang biasanya begitu hangat terjalin di kampung kecil itu, tiba-tiba berjalan dingin dan tak sempurna lagi.</p>
<p>Tak banyak jabat tangan hangat usai Shalat, karena ada was-was menyelinap dalam hati.  Semuanya bergegas keluar mesjid dan melangkah pulang. Dingin, lebaran yang kehilangan suara  riuh kegembiraan. Tak ada perantau yang pulang tampil beda dengan membawa style berpakaian dan gaya bicara yang sudah kerantau-rantauan.</p>
<p>Dulu seusai shalat Ied, jalanan kampung akan ramai, tuan rumah yang tegak di teras rumah akan memanggil dan menyapa siapapun lewat untuk singgah. Anak-anak, berkelompok-kelompok menyapu bersih semua rumah untuk sekadar singgah.</p>
<p>Ya, mereka &#8220;menambang&#8217; untuk sekadar mendapat uang baru 2000 rupiah yang garing. Senyum malu-malu dari wajah-wajah polos itu  saat menerima uang baru,  membuat kita tersenyum, tak tahan untuk membelai kepala mereka.</p>
<p>Para remaja putra dan putri, mereka yang selalu jadi pagar dan bunga nagari, biasanya dengan tingkah mereka yang lugas, blak-blakan, tapi tetap santun, akan kompak menjejak setiap rumah penduduk, walau sekedar untuk bersalaman dan bermaaafan. Sekarang tak tampak lagi.</p>
<p>Kini kampung kecil itu sepi, lengang tak terkira. Tak ada lagi suara riuh anak-anak berbaju baru,  berbincang tentang rencana mereka membeli pistol mainan atau mobil tamiya,  Juga tak ada lagi panggilan untuk singgah, walau hanya  sekadar untuk berjabat tangan dan saling mengucapkan Minal Aidin Wal Faidzin.</p>
<p>Kehangatan dan kegembiraan yang telah roboh begitu saja. Sedikit tawa hanya datang dari rumah masing-masing dengan anggota keluarga masing-masing. Sungguh, ini 1 Syawal paling syahdu dan sentimentil sepanjang usia.</p>
<p>Lalu, seorang teman menulis seperti ini; Corona datang, semua direnggutkan dengan amat paksa, seperti menarik aur rebah dari ujung, sunsang. Wabah jahat itu, melumpuhkan negeri dan melenyapkan kegembiraan di desa kecil kami.</p>
<p>Sejak Ramadhan di banyak masjid tak ada lagi shalat berjemaah, karena dihimbau untuk menghindari wabah. Ibu-ibu kami dalam rindu paling dalam, menatap lewat jendela orang yang lalu lalang, tak ada anak bujangnya. Ia di rantau sedang dirundung corona, jalan pulang dihambatnya.</p>
<p>Tapi apapun itu,  rasa syukur tak boleh hilang.  Masih bisa bertemu 1 Syawal setelah 30 hari menempa diri di bulan Ramadhan.  Yang pasti, dibalik Corona, akan ada keindahan yang disiapkan-NYA untuk kita. Bersyukurlah dari lubuk hati paling dalam.  Banyak maaf, lahir dan bathin. <strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/robohnya-kehangatan-lebaran-di-kampung-kami/">Robohnya Kehangatan Lebaran di Kampung Kami</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 29/61 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/12 queries in 0.018 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 09:39:59 by W3 Total Cache
-->