<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#IrsyadSyafar Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/irsyadsyafar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/irsyadsyafar/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 30 Mar 2025 14:59:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#IrsyadSyafar Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/irsyadsyafar/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ramadhan Telah Pergi, Terimalah Yaa Allah</title>
		<link>https://prokabar.com/ramadhan-telah-pergi-terimalah-yaa-allah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2025 14:59:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#IrsyadSyafar]]></category>
		<category><![CDATA[#Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=126652</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Irsyad Syafar Seiring dengan terbenamnya matahari sore ini, maka berakhir pulalah Ramadhan yang penuh berkah ini. Ia telah pergi dan tak akan pernah...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/ramadhan-telah-pergi-terimalah-yaa-allah/">Ramadhan Telah Pergi, Terimalah Yaa Allah</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Irsyad Syafar</p>
<p>Seiring dengan terbenamnya matahari sore ini, maka berakhir pulalah Ramadhan yang penuh berkah ini. Ia telah pergi dan tak akan pernah kembali. Ramadhan tahun depan adalah makhluk baru. Dan kitapun, entah akan bersua lagi atau tidak, hanya Allah saja Yang Tahu.</p>
<p>Ramadhan berlalu meninggalkan dua kelompok manusia. Kelompok pertama adalah orang-orang yang beruntung. Yaitu mereka yang dimudahkan Allah mengisi hari-harinya dengan berbagai amal shaleh. Siangnya berpuasa, malamnya qiyam dan bermunajat kepadaNya. Bibir dan lidahnya senantiasa basah dalam dzikir, tilawah Al Quran dan istighfar. Jasadnya &#8220;capek&#8221; dalam agenda-agenda kebaikan. Berbahagialah mereka dengan janji balasan terbaik dari Allah.</p>
<p>Sedangkan kelompok kedua adalah orang-orang yang merugi. Karena waktunya banyak yang sia-sia selama Ramadhan. Kalaupun puasa di siang hari, hanya sekedar menahan haus dan lapar. Sedangkan perbuatannya tidak mencerminkan standar orang yang berpuasa. Kalaupun malamnya diisi dengan qiyam, namun dilaksanakan asal-asalan. Hampa dari kekhusyukan dan lemah dalam keikhlasan. Adapun orang-orang yang memang tidak berpuasa dan tidak qiyam serta tak bersama Al Quran, tentu mereka lebih merugi serta jauh dari rahmat Allah.</p>
<p>Dengan usainya rangkaian ibadah Ramadhan, yang menggelayut dalam fikiran orang-orang beriman adalah, &#8220;apakah Allah berkenan menerima semua amal shaleh kita?&#8221;.</p>
<p>Di dalam surat Al Mukminun Allah Swt berfirman:</p>
<p>﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴾ [المؤمنون: 60].</p>
<p>Artinya: &#8220;Dan orang-orang yang telah memberikan apa yang mereka berikan, tapi hati mereka penuh rasa takut, bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.&#8221; (QS Al Mukminun: 60).</p>
<p>Di hadits Imam At Tirmidzi, diriwayatkan bahwa Ummul Mukminin Aisyah ra bertanya tentang ayat ini kepada Rasulullah Saw: &#8220;Apakah yang dimaksud oleh ayat ini mereka yang minum tuak dan mereka yang mencuri?&#8221; Rasulullah Saw menjawab pertanyaan Aisyah:</p>
<p>(لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ).</p>
<p>Artinya: &#8220;Bukan itu maksudnya wahai anak Abu Bakar Shiddiq. Mereka itu adalah orang-orang yang berpuasa, orang yang menunaikan shalat dan bersedekah. Akan tetapi mereka takut amal shaleh tersebut tidak diterima oleh Allah. Mereka itulah yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.&#8221; (HR Tirmidzi).</p>
<p>Jadi orang-orang shaleh yang dipuji oleh Allah itu adalah mereka yang mencemaskan akankah amal shaleh mereka diterima Allah atau tidak. Sehingga ketika usai dari sebuah amal shaleh, mereka tidak eforia apalagi hura-hura. Mereka tetap merasa sedih karena berpisah dengan musim kebaikan, dan takut bila amalan mereka tidak diterima.</p>
<p>Adalah generasi terbaik umat ini dahulu (salaf) di hari Idul Fitri tetap tergurat kesedihan di wajah mereka. Lalu ada yang berkata kepada mereka, &#8220;Bukan hari ini hari raya dan hari bergembira ria?&#8221;. Mereka menjawab, &#8220;Iya kalian benar. Akan tetapi aku diperintahkan oleh Tuanku untuk beribadah. Namun aku tidak tahu apakah Dia berkenan menerimanya?&#8221;</p>
<p>Beribadah itu memang sangat penting. Akan tetapi lebih penting lagi dari itu adalah diterimanya ibadah tersebut oleh Allah. Malik bin Dinar yang merupakan senior Tabi&#8217;in yang tsiqah, pernah berkata: &#8220;Takut terhadap amalan tidak akan diterima Allah, itu lebih utama dari pada amalan itu sendiri.&#8221;</p>
<p>Wuhaib bin Al Warad (Tabi&#8217; Tabi&#8217;in dan rawi hadits) menyaksikan sekelompok orang merayakan Idul Fitri dengan tertawa terbahak-bahak dan berbahagia secara berlebihan. Maka Beliau berkomentar, &#8220;Mereka itu seandainya diterima ibadah puasa mereka, bukanlah seperti itu cara orang bersyukur kepada Allah. Dan seandainya mereka itu tidak diterima ibadah puasa mereka, maka tidak seperti itu perilaku orang yang cemas (takut) kepada Allah.&#8221;</p>
<p>Sangat ingin amalannya diterima, itu adalah perilaku dan karakter generasi salaf. Fudhalah bin &#8216;Ubaid seorang sahabat Anshar, ikut berjihad bersama Rasulullah dan menjadi Qadhi Damaskus di masa Mu&#8217;awiyah, penah berkata: &#8220;Jika aku tahu bahwa Allah menerima amalanku hanya sebesar biji sawi, maka itu lebih aku cintai dari pada dunia dan segala isinya. Sebab Allah sudah menjanjikan di dalam firmanNya: &#8220;Allah hanya menerima amalan dari orang-orang bertaqwa saja.&#8221; (QS Al Maidah: 32).</p>
<p>Bila usai dari sebuah amal shaleh, apalagi amal-amal besar di musim Ramadhan ini, maka yang menjadi harapan serta fikiran orang beriman setelah itu adalah amal itu maqbul disisi Allah. Doa Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail usai membangun Ka&#8217;bah kiranya perlu diulang-ulang terus:</p>
<p>(ربنا تقبَّل منا إنك أنت السميع العلم، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم).</p>
<p>&#8220;Ya Tuhan kami, terimalah dari kami amal shaleh kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami, sesunggunya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.&#8221;</p>
<p>Tidak ada tempat untuk berhura-hura di Idul Fitri, apalagi berbuat maksiat. Boikot acara joget-joget dan sejenisnya yang dibuat oleh orang-orang yang tidak takut kepada Allah. Jangan anda ikut menyumbang atau mensuppor acara yang sia-sia tersebut. Dan mari &#8220;kita biasakan yang benar&#8221; dalam beridul fitri, dan &#8220;jangan membenarkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak jelas.&#8221;</p>
<p>Wallahu A&#8217;lam bishshawab.</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/ramadhan-telah-pergi-terimalah-yaa-allah/">Ramadhan Telah Pergi, Terimalah Yaa Allah</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dekat dengan Allah dan Dekat dengan Ka&#8217;bah</title>
		<link>https://prokabar.com/dekat-dengan-allah-dan-dekat-dengan-kabah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2025 15:13:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#IrsyadSyafar]]></category>
		<category><![CDATA[#Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=126631</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Irsyad Syafar Dekat dekat Ka&#8217;bah bisa dibeli dengan uang. Bila anda punya banyak uang, anda bisa ambil kamar hotel di depan pelataran Masjidil...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/dekat-dengan-allah-dan-dekat-dengan-kabah/">Dekat dengan Allah dan Dekat dengan Ka&#8217;bah</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Oleh: Irsyad Syafar</strong></p>
<p>Dekat dekat Ka&#8217;bah bisa dibeli dengan uang. Bila anda punya banyak uang, anda bisa ambil kamar hotel di depan pelataran Masjidil Haram. Begitu keluar pintu hotel, anda sudah langsung berada di halaman Masjidil Haram. Bahkan dari kamarpun anda sudah bisa melihat Ka&#8217;bah dengan jelas.</p>
<p>Begitulah suasana Masjidil Haram kalau sudah di bulan Ramadhan. Penuh sesak, rapat dan padat manusia yang beribadah. Apalagi di sepuluh malam terakhir. Praktis yang bisa &#8220;dekat&#8221; dari Ka&#8217;bah adalah orang-orang yang mampu mengambil kamar di hotel-hotel elit di depan Masjidil Haram. Harganya tentu sangat fantastis. Puluhan bahkan ratusan juta rupiah harga satu kamarnya.</p>
<p>Bahkan, para pejabat tinggi negara, pada momen tertentu bisa dapat fasilitas masuk ke dalam Ka&#8217;bah. Dikawal dengan ketat, disediakan jalur khusus untuk masuk, dan kemudian bisa shalat sunat di dalam dengan sangat nyaman. Beberapa Presiden (pemimpin) negara Islam sudah &#8220;merasakan&#8221; fasilitas ini.</p>
<p>Namun, dekat dengan Ka&#8217;bah tidak serta merta dekat pula dengan Allah Swt. Ini urusan lain, dan tidak bisa dibeli dengan uang. Kedekatan kepada Allah bukan karena berada dekat dengan Ka&#8217;bah. Kedekatan dengan Allah adalah buah dari ibadah kepadaNya secara maksimal dan berkualitas. Ibadah yang dikerjakan penuh ikhlas, mentauhidkanNya dan terbebas dari nilai-nilai duniawi, walaupun berada sangat jauh dari Ka&#8217;bah itu sendiri.</p>
<p>Rumusnya sudah ada Allah Ta&#8217;alaa sampaikan dalam hadits Qudsi yang shahih:</p>
<p>وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيءٍ أحبَّ إليَّ ممَّا افترضتُ عليه ، وما يزالُ عبدي يتقرَّبُ إليَّ بالنَّوافلِ حتَّى أُحبَّه.</p>
<p>Artinya: &#8220;Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun mencintainya.&#8221; (HR Bukhari).</p>
<p>Maksudnya, anda sangat bisa menjadi dekat dengan Allah Swt dengan cara menunaikan ibadah-ibadah wajib dengan sebaik mungkin, lalu memperbanyak ibadah-ibadah sunat. Maka anda akan menjadi kekasih Allah Swt dengan fasililitas-fasilitas khusus dariNya, berupa pertolongan dan pembelaanNya.</p>
<p>Karenanya, jangan pernah putus asa atau berkecil hati kalau belum pernah atau belum berada dekat dengan Ka&#8217;bah. Yang penting adalah dekat dengan Allah Swt. Dan perlu digaris bawahi, sebesar apapun ibadah itu, kalau tidak ikhlas karena Allah, tidak akan diterimaNya. Bahkan bisa menjadi penyebab masuk neraka. Dan sekecil apapun ibadah itu, tapi sangat ikhlas, maka itulah yang diterimaNya dan menjadi penyelamat di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>Artinya: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.&#8221; (QS. Az-Zumar: 65).</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ</p>
<p>Artinya: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, &#8220;Aku tidaklah butuh adanya sekutu-sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal dalam keadaan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkannya dan perbuatan sekutunya itu.’” (HR. Muslim no. 7666).</p>
<p>Oleh karena itu, apabila ada orang yang rajin shalat, rajin berpuasa, berhaji dan umrah ke Baitullah, namun itu semua dikerjakan bukan demi Allah semata, demi konten, demi status, prestise atau kepentingan dunia lainnya, tentu semua ibadah itu tidak akan berbuah dekatnya kepada Allah. Wallahu A&#8217;lam bishshawab.</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/dekat-dengan-allah-dan-dekat-dengan-kabah/">Dekat dengan Allah dan Dekat dengan Ka&#8217;bah</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Beribadah dengan Bersih dan Wangi</title>
		<link>https://prokabar.com/beribadah-dengan-bersih-dan-wangi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2025 13:30:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#IrsyadSyafar]]></category>
		<category><![CDATA[#Tausyiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=126524</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Irsyad Syafar Rasulullah Saw memerintahkan kita untuk menghadiri shalat Jumat dan Shalat Ied dengan tampilan yang rapi (berhias), bersih sekaligus wangi. Dan itu...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/beribadah-dengan-bersih-dan-wangi/">Beribadah dengan Bersih dan Wangi</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em><strong>Oleh: Irsyad Syafar</strong></em></p>
<p>Rasulullah Saw memerintahkan kita untuk menghadiri shalat Jumat dan Shalat Ied dengan tampilan yang rapi (berhias), bersih sekaligus wangi. Dan itu juga berlaku untuk shalat berjamaah 5 waktu, yang dihadiri oleh jumlah yang banyak. Termasuk juga saat menunaikan shalat tarawih yang kebiasaannya jumlah yang hadir melebihi jumlah jamaah rutin masjid di hari biasa. Allah Swt berfirman:</p>
<p>يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ.</p>
<p>Artinya: &#8220;Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.&#8221; (QS Al A&#8217;raf: 31).</p>
<p>Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan agar setiap muslim memakai pakaian yang indah setiap kali pergi (memasuki) ke masjid. Dan maksudnya adalah bukan sekedar pakaian, akan tetapi yang menutup aurat, bersih dari kotoran dan najis serta pakaian yang baik.</p>
<p>Terkait mandi, memggosok gigi dan memakai wewangian di hari Jumat, Rasulullah Saw bersabda:</p>
<p>الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ ، وَأَنْ يَسْتَنَّ ، وَأَنْ يَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَ.</p>
<p>Artinya: &#8220;Mandi pada hari Jumat adalah kewajiban (sangat dianjurkan) bagi orang dewasa. Dan hendaklah ia bersiwak dan memakai wewangian jika ada.&#8221; (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Banyak lagi hadits lain yang memerintahkan setiap muslim agar datang ke masjid untuk shalat Jumat dan shalat Ied, dalam keadaan bersih badan dan pakaian serta memakai wangi-wangian. Sedangkan untuk shalat berjamaah harian diqiyaskan kepada kedua shalat tersebut.</p>
<p>Terdapat juga larangan keras dari Rasulullah Saw bagi siapa yang baru saja memakan makanan yang beraroma tajam (tidak sedap) untuk tidak hadir ke masjid. Sebab itu akan mengganggu jamaah yang lain dan juga mengganggu para Malaikat. Beliau bersabda:</p>
<p>مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ, الْبَقْلَةِ، الثّومِ (وَقَالَ مَرّةً: مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثّومَ وَالْكُرّاثَ) فَلاَ يَقْرَبَنّ مَسْجِدَنَا، فَإِنّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذّى مِمّا يَتَأَذّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ”. (رواه مسلم)</p>
<p>Artinya: &#8220;Barangsiapa yang memakan biji-bijian ini, yakni bawang putih (suatu kali beliau mengatakan, “Barangsiapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan kurrats -sejenis daun bawang-), maka janganlah ia mendekati masjid kami, sebab Malaikat merasa terganggu dengan hal (bau) yang membuat manusia terganggu.” (HR Muslim).</p>
<p>Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa bau bawang di dalam hadits tersebut hanyalah sebagai contoh saja. Semua bau yang menyengat dan tidak sedap yang keluar dari mulut karena faktor makanan (bukan puasa), masuk dalam kategori larangan. Beliau berkata</p>
<p>وقال ابن حجر : وقد ألْحَقَ بها الفقهاء ما في معناها من البقول الكريهة الرائحة، كالفجل.</p>
<p>“Para ulama ahli fikih menyamakan hal ini kepada sesuatu yang semakna dengannya (bawang) seperti sayuran (polongan) dan lobak yang baunya menyengat.”</p>
<p>Maka orang yang baru saja makan petai, jengkol atau bahkan merokok, apalagi kombinasi itu semua, itu pastilah mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Bila ia shalat disamping orang lain, desahan nafas dan sendawanya akan sangat mengganggu. Apalagi jika shalatnya cukup panjang seperti shalat tarawih. Bisa menimbulkan rasa mual atau pusing, dan hilangnya kekhusyukan.</p>
<p>Para ulama bahkan memperluas cakupan masalah aroma tidak sedap ini kepada bau badan, bauk ketek, dan bau pakaian yang penuh keringat atau sudah lama tidak dicuci. Atau orang-orang yang bekerja di tempat yang penuh dengan aroma tidak sedap seperti tukang daging, tukang ikan dan sejenisnya.</p>
<p>Atau bahkan Ulama juga memasukkan bau badan yang ditimbulkan oleh adanya penyakit di badan atau di mulut yang akan menggangu orang lain. Siapa saja yang dalam situasi tersebut dilarang hadir ke masjid dan mendapat rukhsah sampai bau tersebut hilang dari badannya.</p>
<p>Karena itu, mari kita yang dalam kondisi sehat untuk membiasakan hadir ke masjid dengan pakaian dan badan yang bersih, menyikat gigi, menghentikan rokok dan disempurnakan dengan memakai wangi-wangian. Jangan sampai kehadiran kita justru menyebabkan tidak khusyuknya shalat orang lain dan terganggunya Malaikat.</p>
<p>Rasulullah Saw sendiri memang sangat menyukai wangi-wangian. Dari hadits Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda:</p>
<p>حُبِّبَ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ ، وَجُعِلت قُرَّةُ عَيْنِى فِى الصَّلاَةِ.</p>
<p>Artinya: &#8220;Aku dikaruniai rasa cinta dari dunia kalian: wanita dan wangi-wangian dan dijadikan shalat sebagai penyejuk mataku.&#8221; (HR. An Nasa’i no. 3879 dan Ahmad no. 11845).</p>
<p>Khusus tentang wewangian ini tentunya hanya untuk kaum lelaki saja. Adapun kaum wanita diharamkan keluar rumah memakai wewangian. Mereka cukup dengan kondisi bersih dan rapi menutup aurat tanpa wewangian.<br />
Wallahu A&#8217;lam bishshawab.</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/beribadah-dengan-bersih-dan-wangi/">Beribadah dengan Bersih dan Wangi</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Antara Al Mahrum dan orang Dermawan</title>
		<link>https://prokabar.com/antara-al-mahrum-dan-orang-dermawan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2025 03:34:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#IrsyadSyafar]]></category>
		<category><![CDATA[#Tausyiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=126526</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Irsyad Syafar Jika anda seorang yang dermawan dan mudah memberi, itu adalah karunia dari Allah Swt. Semoga nikmat kedermawanan tersebut senantiasa dilimpahkan Allah...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/antara-al-mahrum-dan-orang-dermawan/">Antara Al Mahrum dan orang Dermawan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em><strong>Oleh: Irsyad Syafar</strong></em></p>
<p>Jika anda seorang yang dermawan dan mudah memberi, itu adalah karunia dari Allah Swt. Semoga nikmat kedermawanan tersebut senantiasa dilimpahkan Allah sampai akhir hayat kelak.</p>
<p>Namun dalam memberi atau berbagi kepada orang lain, perlu juga anda perhatikan orang yang kondisinya di sebutkan dalam Al Quran sebagai AL MAHRUM. Seperti dalam firmanNya:</p>
<p>والذين في أموالهم حق معلوم للسائل والمحروم.</p>
<p>Artinya: &#8220;Dan orang-orang yang di dalam hartanya ada bagian tertentu. Untuk orang (miskin) yang meminta-minta dan untuk orang (miskin) yang menahan diri daei meminta-minta.&#8221; (QS Al Ma&#8217;arij: 24-25).</p>
<p>Dari ayat ini Allah menyebutkan dua tipe orang miskin. Yang pertama yang meminta-minta. Dan yang kedua yang menahan diri dari meminta-minta, yang nama lainnya adalah Al mahrum. Tipe kedua ini orangnya pemalu atau yang menjaga harga dirinya. Sehingga mereka tidak mau meminta-minta, padahal mereka memang sedang butuh pertolongan atau bantuan.</p>
<p>Maka bagi para dermawan atau hamba Allah yang sedang diberi Allah kelapangan harta, perlu juga &#8220;mencari-cari, mengintai-intai&#8221; atau menggali informasi tentang orang tipe ini, untuk kemudian diberikan bantuan yang layak. Sebab orang Al Mahrum ini kadang tak mendapat bantuan karena mereka menutupi kemiskinannya.</p>
<p>Orang-orang Al Mahrum sering &#8220;kalah&#8221; dari yang suka meminta-minta. Mereka pasti ada disekitar kita. Tapi rasa malu dan kehormatan diri telah menghalangi mereka untuk mengemis. Mereka sangat layak dibantu dan diprioritaskan. Bila dibulan Ramadhan ini anda membagi sedekah, zakat atau &#8220;takjil&#8221;, perlu juga anda dahulukan mereka ini.</p>
<p>*****</p>
<p>Kalau anda seorang yang sering dibantu oleh seseorang yang dermawan, baik itu untuk kepentingan anda pribadi atau untuk kepentingan yang lebih luas, perlu juga anda &#8220;menenggang&#8221; perasaan orang yang dermawan tersebut. Yaitu dengan tidak terlalu sering atau terlalu dekat jaraknya anda meminta kepadanya.</p>
<p>Banyak orang yang dermawan itu bukan karena hartanya yang melimpah ruah. Melainkan karena hatinya yang mudah tersentuh dan peduli kepada orang lain. Maka dia memberi itu juga dalam keterbatasan. Karenanya bila ia memberi, bukan berarti ia selalu ada harta dan kelapangan. Itu sebabnya perlu berjarak untuk meminta kepadanya dan tidak berketerusan. Jangan tiap sebentar, meminta kepadanya. Walaupun itu bukan untuk kepentingan pribadi.</p>
<p>Ada juga sebagian orang yang merasa kalau dia sudah sering diberi dan dibantu, seolah-olah itu sudah hak dia yang harus diterimanya. Dan seolah-olah sipemberi memang WAJIB membantunya. Dan kalau sekali-sekali tidak dibantu, maka ia menjadi marah atau tersinggung. Ini adalah sifat yang tidak baik.</p>
<p>Kita harus menjaga hubungan baik dengan orang lain dengan menjaga hati orang tersebut. Agar tentunya kebaikan demi kebaikan bisa berlanjut. Wallahu A&#8217;lam bishshawab.</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/antara-al-mahrum-dan-orang-dermawan/">Antara Al Mahrum dan orang Dermawan</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 50/52 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 4/6 queries in 0.004 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-08 08:09:22 by W3 Total Cache
-->