<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#historia Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/historia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/historia/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 04 Jul 2021 14:43:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#historia Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/historia/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Historia: Final Horor Italia 1938, Telegram &#8220;Menang atau Mati&#8221; dari Musolini</title>
		<link>https://prokabar.com/historia-final-horor-italia-1938-telegram-menang-atau-mati-dari-musolini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2021 14:02:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[#Final]]></category>
		<category><![CDATA[#historia]]></category>
		<category><![CDATA[#Horor]]></category>
		<category><![CDATA[#italia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=90318</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo Timnas Italia disebut-sebut sebagai tim paling solid, konsisten, dan paling minim kelemahan di Euro 2021. Susah mencari celah untuk mengalahkan Italia...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/historia-final-horor-italia-1938-telegram-menang-atau-mati-dari-musolini/">Historia: Final Horor Italia 1938, Telegram &#8220;Menang atau Mati&#8221; dari Musolini</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Rizal Marajo</strong></p>
<p>Timnas Italia disebut-sebut sebagai tim paling solid, konsisten, dan paling minim kelemahan di Euro 2021. Susah mencari celah untuk mengalahkan Italia besutan Roberto Mancini ini.</p>
<p>Fakta dari segala gembar-gembor kehebatan Italia itu, mereka sudah lolos ke semifinal dan akan bertemu Spanyol, 6 Juli 2021 mendatang. Lima laga diselesaikan dengan hasil sempurna.</p>
<p>Mencetak 11 gol dan hanya kebobolan dua gol melengkapi menterengnya reputasi Italia di Euro 2021 ini. Tak ayal, Italia sejauh ini semakin kokoh bertengger kokoh sebagai favorit juara.</p>
<p>Benar-benar tim yang nyaris sempurna. Lini per lini semuanya solid, nyaris tanpa kelemahan. Nyaris tak ada perbedaan kualitas antara pemain inti dan cadangan. Pemain senior dan pemain muda saling melengkapi dan saling mengisi.</p>
<p>Bahkan media olahraga Spanyol <em>Marca</em>, memberi penilaian tersendiri, dan seolah memberi peringatan kepada timnas Spanyol yang akan jadi lawan Italia di semifinal. Marca menyebut, Italia tim yang sangat menakutkan.</p>
<p>Jika sukses melewati Spanyol, Italia sudah berada di partai puncak menunggu pemenang antara Inggris vs Denmark.</p>
<p>Berbicara tentang final sebuah turnamen besar, Italia pernah mengalami &#8220;horor&#8221; yang menakutkan. Karena ancamannya tidak main-main. &#8220;menang atau mati!&#8221;</p>
<p>*******</p>
<p>Bagaimana ceritanya?<br />
1938, Timnas Italia berangkat menuju Parancis untuk mempertahankan gelar juara Piala Dunia 1934 yang mereka rebut empat tahun sebelumnya di negeri sendiri.</p>
<p>Dua tantangan berat yang dihadapi Italia saat itu. Pertama ingin membuktikan keraguan banyak pihak tentang kemenangan mereka di Piala Dunia 1934 karena adanya campur tangan diktator Italia, Benito Musolini, yang menekan lawan Italia di final untuk mengalah.</p>
<p>“Tim Azzurri mesti menjawab keraguan terkait kemenangan mereka empat tahun sebelumnya, apakah mampu menang jika bukan tuan rumah dan bermain di tempat lain. Mereka juga harus membuktikan bahwa tim mereka punya kemampuan mumpuni, mengingat banyaknya tuduhan pengaturan skor atau suap dalam kemenangan mereka di 1934,” tulis Tim Harris dalam Sport: Almost Everything You Ever Wanted to Know.</p>
<p>Yang kedua adalah tekanan dari sang diktator berpaham fasis itu. Sampai-sampai Italia harus mengganti kostum kebanggaan biru putih dengan kostum serba hitam khas “Fascio”. Para pemain juga diwajibkan melakukan hormat ala fasis jelang kickoff.</p>
<p>Jalan Italia pun berjalan mulus di Piala Dunia Prancis melewati fase demi fase. Mereka menyingkirkan Norwegia 2-1, tuan rumah Prancis 3-1, serta Brasil 2-1 di semifinal. Akhirnya, di final Giuseppe Meazza dan kawan-kawan harus bertemu Hungaria yang sedang hebat-hebatnya di Eropa saat itu.</p>
<p>Disnilah horor final itu dimulai. Diktator Mussolini mengirim telegram berisi ancaman: “Vincere o morire!” yang artinya “Menang atau mati!”</p>
<p>Ancaman itulah yang mungkin membuat para pemain Italia mati-matian di final yang akhirnya mereka menangkan dengan skor 4-2. Lega, nyawa para pemuda Italia masih utuh melekat di badan sepulangnya ke Italia.</p>
<p>Walaupun usai laga final, kiper Hungaria Antal Szabo langsung &#8220;bernyanyi&#8221; Dia mengaku tak menyesal timnya kalah dari Italia di final Piala Dunia 1938,</p>
<p>“Saya mungkin membiarkan terjadinya empat gol ke gawang saya, namun setidaknya saya menyelamatkan nyawa mereka,” kenang Szabo sebagaimana dikutip Diane Bailey dalam Great Moments in World Cup History.</p>
<p>Tapi setelah Musolini meninggal, banyak sejarwan Italia yang meneliti, apakah benar tim Italia tampil disertai ancaman pertaruhan nyawa pada laga final di Stade Olympique de Colombes, Paris, 19 Juni 1938 itu?</p>
<p>“Beberapa orang menafsirkan bahwa pesan telegram itu tidak secara harfiah. Pesan ‘Menang atau Mati’ mungkin hanya sebagai ungkapan dengan cara ekstrem oleh Mussolini untuk menyatakan: ‘Lakukan yang terbaik!’,” lanjut Bailey.</p>
<p>Bertahun-tahun kemudian, bantahan juga datang dari Pietro Rava, salah satu punggawa Italia di Piala Dunia 1938. Dia menyanggah timnya mendapat telegram ancaman mati itu dari Mussolini.</p>
<p>“Tidak, tidak, tidak. Itu tidak benar. Dia (Mussolini) mengirim telegram hanya untuk mendoakan kami, bukan ancaman menang atau mati,” kata Rava kala diwawancara Simon Martin dari The Guardian pada 2001.</p>
<p>Lepas dari benar-tidaknya telegram ancaman yang memunculkan beragam versi itu, Rava dkk diundang Mussolini ke Palazzo Venezia di Roma pasca-kemenangan mereka. Setiap pemain diguyur bonus 8000 lira dan masing-masing sekeping medali emas fasis.</p>
<figure id="attachment_90319" aria-describedby="caption-attachment-90319" style="width: 300px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-medium wp-image-90319" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/07/muso-300x192.jpg" alt="" width="300" height="192" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/07/muso-300x192.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2021/07/muso.jpg 512w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-90319" class="wp-caption-text">Foto: guardian</figcaption></figure>
<p>*******</p>
<p>Itulah drama sejarah yang pernah mewarnai perjalanan Timnas Italia di final Piala Dunia 1938, dan menjadi perdebatan sejarah yang panjang selama bertahun-tahun.</p>
<p>Tak banyak final turnamen besar seperti Piala Dunia dan Piala Eropa yang bisa dicapai Italia setelah itu. di Piala Dunia Italia lolos ke final tahun 1970 di Meksiko, dan kalah 1-4 dari Brasil.</p>
<p>Setelah juara Piala Dunia 1982,  mereka kembali ke final Piala Dunia 2006 di Jerman, dan tampil sebagai juara dengan mengalahkan Prancis di final melalui adu penalti. Selebihnya capaian terbaik Italia hanya semifinal saat jadi tuan rumah tahun 1990.</p>
<p>Di Piala Eropa atau Euro, Italia pernah juara tahun 1968, dengan mengalahkan Yugoslavia di final. setelah itu, Italia juga pernah ke final tahun 2000 dan kalah dari Prancis melalui golden goal David Trezeguet.</p>
<p>Terakhir, Euro 2012 Italia juga ke final. Tapi lagi-lagi kalah, Italia dipermak Spanyol 4-0.</p>
<p>Kini peluang Italia terbuka untuk membalas kekalahan dari Spanyol itu di semifinal Euro 2021, sekaligus mencatatkan final keempat mereka di ajang Euro.</p>
<p>Jika berhasil, Italia tak perlu khawatir horor final 1938 akan terulang. Tak ada lagi telegram &#8220;menang atau mati&#8221;, dan Musolini sang diktator bengis itu juga sudah mati.(*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/historia-final-horor-italia-1938-telegram-menang-atau-mati-dari-musolini/">Historia: Final Horor Italia 1938, Telegram &#8220;Menang atau Mati&#8221; dari Musolini</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Historia: Bung Hatta Ternyata Jago Main Sepakbola, Dijuluki Onpas Serbaar</title>
		<link>https://prokabar.com/historia-bung-hatta-ternyata-jago-main-sepakbola-dijuluki-onpas-serbaar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2020 14:16:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[#bung hatta]]></category>
		<category><![CDATA[#historia]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#SepakBola]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=69834</guid>

					<description><![CDATA[<p>prokabar – Sejak kecil, Muhammad Hatta atau Bung Hatta, suka dengan sepakbola. Suatu hari, dia terlambat pulang karena bermain sepakbola. Dia pun dihukum neneknya,...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/historia-bung-hatta-ternyata-jago-main-sepakbola-dijuluki-onpas-serbaar/">Historia: Bung Hatta Ternyata Jago Main Sepakbola, Dijuluki Onpas Serbaar</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<header class="entry-header entry-header-01"></header>
<div class="g1-content-narrow g1-typography-xl entry-content">
<div id="essb_displayed_top_1084388334" class="essb_links essb_displayed_top essb_share essb_template_color-leafs essb_1084388334 essb_size_xl essb_links_center print-no" data-essb-postid="7474" data-essb-position="top" data-essb-button-style="icon" data-essb-template="color-leafs" data-essb-counter-pos="hidden" data-essb-url="https://www.bolabeten.com/bola/historia-bung-hatta-ternyata-jago-main-sepakbola-dijuluki-onpas-serbaar/" data-essb-twitter-url="https://www.bolabeten.com/bola/historia-bung-hatta-ternyata-jago-main-sepakbola-dijuluki-onpas-serbaar/" data-essb-instance="1084388334">
<p><strong>prokabar</strong> – Sejak kecil, Muhammad Hatta atau Bung Hatta, suka dengan sepakbola. Suatu hari, dia terlambat pulang karena bermain sepakbola. Dia pun dihukum neneknya, disuruh berdiri di bawah pohon jambu. Dia tidak boleh keluar dari garis lingkaran di sekitar pohon itu.</p>
<p>“Neneknya tidak mengizinkan dia sering bermain karena dia satu-satunya anak lelaki di kalangan keluarga, sehingga neneknya takut kalau Hatta main dengan teman-temannya. Kepada Hatta inilah tertumpah harapan seluruh keluarga,” tulis Solichin Salam dalam Bung Hatta: Profil Seorang Demokrat.</p>
<p>Hatta akhirnya bisa bebas bermain bola ketika sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau sekolah menengah pertama) di Padang. Tidak seperti ketika masih di Bukittinggi, neneknya melarang Hatta bermain bola karena cemas cucu kesayangannya cedera.</p>
<p>“Aku tidak boleh bermain bola, dia (neneknya, red) takut kakiku patah. Sekarang aku bebas. Aku bermain di tanah lapang dengan bola yang agak kecil, bola kulit yang dipompa. Saban sore pukul 17.00, aku sudah di tanah lapang. Kalau tidak bertanding, kami berlatih menyepak bola dengan tepat ke gawang,” kata Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku.</p>
<p>Hatta masuk perkumpulan sepakbola Swallow. Keahlian olah bolanya mulai terasah lantaran sering berlatih dan bermain di Plein van Rome (kini Lapangan Imam Bonjol, Kota Padang). Teman-temannya mengenal Hatta sebagai pemain bertahan yang tangguh. Sukar dilewati pemain lawan sehingga dijuluki Onpas Serbaar (sulit ditembus).</p>
<p>Di perkumpulan Swallow, Hatta tidak hanya menjadi pemain. Dia juga diminta kawan-kawannya sesama penghuni voorklas (kelas pendahuluan MULO) untuk menjadi bendahara. Dia dianggap cakap mengelola keuangan. Apalagi untuk bisa bermain, bolanya harus beli sendiri dari uang iuran perbulan. “Bola harus dibeli dan uang pembeliannya harus dikumpulkan berangsur-angsur dengan jalan membayar kontribusi tiap-tiap bulan,” ujar Hatta.</p>
<p>Hatta masih sering bermain bola meski sudah menjadi anggota Jong Sumatranen Bond (JSB). Bersama tim sepakbola asuhan JSB, Hatta berubah posisi menjadi penyerang tengah. Kendati tidak ada catatan berapa gol yang disarangkan, Hatta berhasil mempersembahkan juara Piala Sumatra Selatan tiga tahun beruntun.</p>
<p>Kegemarannya terhadap sepakbola tak pernah hilang meski diasingkan pemerintah Hindia Belanda ke Boven Digul, Papua. Bersama Sutan Sjahrir, Mohamad Bondan dan beberapa tahanan politik lainnya, Hatta menggelar friendly match antara pendatang baru dan penghuni lama Boven Digul pada 1935. Penghuni lama menang dengan skor 3-1.</p>
<p>Dalam Memoar Seorang Eks-Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan, Mohamad Bondan masih ingat posisi pemain pendatang baru: Marwoto sebagai penjaga gawang, di depannya berjaga dua pemain bertahan Bung Hatta dan Burhanuddin. Tiga pemain gelandang Datuk Singo di kiri, Maskun di tengah, serta Sabilal Rasad di kanan. Di depan berjejer lima penyerang yakni Suka, Bondan, Sjahrir, Lubis dan Muhidin.</p>
<p>Setahun berikutnya jelang Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke Banda Neira, mereka menggelar laga perpisahan pada 1 Februari 1936. Entah ketika itu berapa skornya dan siapa yang menang.</p>
<p>Seiring waktu berjalan, Hatta yang telah menjadi dwitunggal dengan Sukarno, masih terus menyukai sepakbola. Meski tidak lagi bermain, dia masih sering mengikuti beberapa pertandingan klub-klub lokal maupun tim nasional PSSI.</p>
<p>Pada medio Mei 1952 di Lapangan Ikada (kini Kompleks Monas) digelar pertandingan persahabatan antara PSSI melawan tim dari India, Aryan Gymkhana. Dalam laga itu, PSSI kalah dan Hatta nyaris tiada habisnya beradu argumen dengan Sukarno yang ketika itu juga nonton di tribun kehormatan.</p>
<p>“Begitu pertandingan usai dengan 1-0, Bung Hatta jadi agresif dan antusias membahas kekalahan PSSI yang diutarakan dengan amat sistematik dan mendetail kepada Bung Karno seperti membicarakan politik yang urgent dan rumit. Bung Karno tampak terpojok dan keteter menjawab argumentasi Bung Hatta,” kenang Guntur Sukarnoputra dalam “Nonton Bola, Apa Tafakur?” termuat dalam Pribadi Manusia Hatta.</p>
<p>Sumber: <em>historia.id</em></p>
</div>
</div>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/historia-bung-hatta-ternyata-jago-main-sepakbola-dijuluki-onpas-serbaar/">Historia: Bung Hatta Ternyata Jago Main Sepakbola, Dijuluki Onpas Serbaar</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Historia Karir Singkat Nilmaizar: Antara Marzuki Nyakmad, Juergen Kohler, dan Lutut yang &#8220;Hancur&#8221;</title>
		<link>https://prokabar.com/historia-karir-singkat-nilmaizar-antara-marzuki-nyakmad-juergen-kohler-dan-lutut-yang-hancur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2020 04:39:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#historia]]></category>
		<category><![CDATA[#karir]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#NilMaizar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=69549</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo &#8220;Kalau ada hal yang membuat saya sedih luar biasa selama menggeluti sepakbola, tentulah karir saya sebagai pemain sepakbola yang tergolong singkat...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/historia-karir-singkat-nilmaizar-antara-marzuki-nyakmad-juergen-kohler-dan-lutut-yang-hancur/">Historia Karir Singkat Nilmaizar: Antara Marzuki Nyakmad, Juergen Kohler, dan Lutut yang &#8220;Hancur&#8221;</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><em><strong>Oleh: Rizal Marajo</strong></em></p>
<p style="text-align: center"><em><strong>&#8220;Kalau ada hal yang membuat saya sedih luar biasa selama menggeluti sepakbola,</strong></em><br />
<em><strong>tentulah karir saya sebagai pemain sepakbola yang tergolong singkat dan hanya seumur jagung. Saya harus gantung sepatu diusia 28 tahun. Cedera yang tak bisa disembuhkan, itulah penyebabnya. Tapi ada hikmah besar dibalik itu semua&#8221;</strong></em></p>
<p style="text-align: center">********</p>
<p>Mungkin sudah menjadi takdir Nilmaizar, kalau durasi karirnya sebagai pemain sepakbola  tergolong sangat singkat. Dia harus merelakan karirnya terhenti di usia yang seharusnya sedang menuju kematangan. Umur 28, bagi pemain sepakbola secara teori adalah klimaksnya. Tapi Nilmaizar harus berhenti di usia emas itu.</p>
<p>&#8220;Saya tak hendak menyesali hal itu, tapi menerima dengan kesedihan yang tak bisa disembunyikan. Saya hanya mencoba mengambil hikmahnya, itu adalah kehendak Yang Maha Kuasa.&#8221;ujarnya.</p>
<p>Cedera pemutus karir itu didapatkan Nil ketika tak lagi bermain di Semen Padang, tapi semasa di PSP Padang. Di kompetisi Divisi I tahun 1998/99, PSP Padang berhadapan dengan Persita Tangerang di Stadion Benteng Tangerang.</p>
<p>Dalam sebuah moment perebutan bola, lutut kanannya dihantam telak oleh pemain asing Persita asal Kamerun, Bako Sadissou. Cedera yang lazim disebut hamstring itu, lututnya “hancur”. Dan upaya pengobatan, baik secara medis maupun tradisional tak banyak membantu.</p>
<p>Memang untuk beraktifitas ringan atau bermain bola sekadarnya, pria kelahiran 2 Januari 1970 itu  masih bisa, tapi untuk bertarung di sebuah kompetisi yang keras, lutut itu terlalu beresiko untuk dibawa kembali ke lapangan hijau.</p>
<p>Sebelumnya, Nil juga sudah punya riwayat cedera yang cukup parah, dan harus absen di lapangan hijau selama tiga bulan. Itu terjadi saat masih di Galatama Semen Padang. Saat melawan Assyabaab SG di Surabaya, lutut yang satunya lagi juga sudah invalid diterjang Toyo Haryono.</p>
<p>Dengan dua lutut yang sudah rusak, praktis dia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena lutut, adalah komponen fisik paling vital seorang pemain sepakbola. Tragisnya, Nil justru mengalami masalah serius di kedua lutut itu. Itu sinyal yang sudah sangat jelas, bahwa karir bermainnya cukup sampai disini.</p>
<p>Ini sebuah ironi buat Nil, karena sebelumnya dia jarang mengalami cedera, baik semasa di PSSI Garuda II maupun Timnas Pra Olimpiade 1991. Secara fisik dia yang terbaik, bahkan untuk VO2 Max, dia adalah yang tertinggi saat itu. Tapi ketika terjun di kompetisi nasional,  dua kali mendapat cedera, keduanya parah dan langsung menghabisi karirnya.</p>
<p>&#8220;Tapi itulah sepakbola, dunia lelaki yang memang keras dan rentan benturan fisik seperti itu. Karena tak hanya saya yang mengalami, banyak pemain-pemain lain, bahkan ditingkat dunia yang mengalaminya.&#8221;cerita Nil</p>
<p>Ironisnya lagi, dua pemain yang menjadi idolanya sebagai pemain sepakbola justru berperan menghentikan karir pemain lain. Idolanya  untuk pemain Indonesia adalah Marzuki Nyak Mad. Stoper yang mulai dikaguminya ketika dia membela Timnas Indonesia di Pra Piala Dunia 1985, justru membuat karir Tiastano Taufik, rekannya sesama Timnas berakhir. Marzuki mematahkan tulang kering Tiastano  dalam sebuah sesi latihan Timnas.</p>
<p>Sedangkan pemain idolanya di tingkat dunia adalah Juergen Kohler, stopper Timnas Jerman, yang pernah bermain di Borussia Dortmund. Kohler adalah salah satu orang paling bertanggungjawab terputusnya karir striker Belanda, Marco van Basten di usia 30 tahun.</p>
<p>Kohler adalah satu-satunya orang Jerman yang dianggap mampu menghentikan van Basten. Itu sebabnya, dalam setiap pertemuan Belanda versus Jerman, Kohler akan menghentikan van Basten dengan berbagai cara, termasuk menghantamnya hingga cedera.</p>
<p>Tingginya intensitas pertemuan dan rivalitas tinggi Jerman vs Belanda waktu itu, ditambah bergabungnya Kohler ke Juventus,  membuat van Basten yang bermain di AC Milan makin sering berbenturan dengan Kohler. Bahkan salah satu media ternama Belanda, De Telegraf,  dengan sinis berteriak, Kohler adalah “pembunuh” sejati karir van Basten.</p>
<p>Itulah bedanya Nil dengan para idolanya diatas. Kalau sang idola menghentikan karir pemain lain, tapi  dia justru jadi korban pemain lain. &#8220;Tapi sudahlah, itu sudah kehendak-Nya, dan saya yakin ada rencana lain dari-NYA, dibalik singkatnya karir saya sebagai pemain sepakbola.&#8221;</p>
<p>Tapi karena sepakbola sudah menjadi pilihan hidupnya, dan tak bisa lepas dari olahraga itu, Nil tetap berkiprah di bola melalui  jalur lain, menjadi pelatih adalah solusi. Tekad baja untuk menjadi pelatih, membuat Nil terus belajar, dan terus mengambil lisensi demi lisensi kepelatihan, sampai tingkat teringgi.</p>
<p>Usaha keras dan keseriusannya menggali potensinya sebagai pelatih, tak sia-sia. Hanya dalam rentang satu dekade, orang sudah mengenal dan menempatkannya sebagai salah satu pelatih level atas nasional, sampai hari ini.(*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/historia-karir-singkat-nilmaizar-antara-marzuki-nyakmad-juergen-kohler-dan-lutut-yang-hancur/">Historia Karir Singkat Nilmaizar: Antara Marzuki Nyakmad, Juergen Kohler, dan Lutut yang &#8220;Hancur&#8221;</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 30/83 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/13 queries in 0.017 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-07 21:36:28 by W3 Total Cache
-->