<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#features Archives - Prokabar</title>
	<atom:link href="https://prokabar.com/tagar/features/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://prokabar.com/tagar/features/</link>
	<description>Profesional Mengabarkan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Jun 2026 05:43:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://prokabar.com/wp-content/uploads/2017/08/cropped-1.-logo-prokabar-P-transparan--32x32.png</url>
	<title>#features Archives - Prokabar</title>
	<link>https://prokabar.com/tagar/features/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kolom: Kesalahan Terbesar Brasil Bernama Don Carlo</title>
		<link>https://prokabar.com/features-kesalahan-terbesar-brasil-bernama-don-carlo-oleh-rizal-marajo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2026 02:56:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia 2026]]></category>
		<category><![CDATA[#brasil]]></category>
		<category><![CDATA[#don carlo]]></category>
		<category><![CDATA[#features]]></category>
		<category><![CDATA[#piala dunia 2026]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=134444</guid>

					<description><![CDATA[<p>oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama) Seantero Brasil tiba-tiba buncah, ketika dari Stadion MetLife di East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat wasit meniup pluit akhir...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/features-kesalahan-terbesar-brasil-bernama-don-carlo-oleh-rizal-marajo/">Kolom: Kesalahan Terbesar Brasil Bernama Don Carlo</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="wp-image-134260 alignleft" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2026/06/ambo.jpg" alt="" width="131" height="128" />oleh: <strong>Rizal Marajo (Wartawan Utama)</strong></p>
<p>Seantero Brasil tiba-tiba buncah, ketika dari Stadion MetLife di East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat wasit meniup pluit akhir pertandingan antara Brasil melawan Maroko, Minggu pagi. Papan skor menunjukan hasil akhir 1-1.</p>
<p>Melawan Maroko, hasil imbang bagi publik Brasil yang gila sepakbola adalah sebuah aib. Apalagi terjadinya di ajang Piala Dunia. Lain cerita kalau hasil itu didapat dari tim seteru yang dianggap layak menahan Brasil, semisal Argentina, Prancis, Jerman, Belanda, atau Spanyol.</p>
<p>Tapi ini Maroko, negara Afrika yang kebetulan empat tahun lalu membuat keajaiban melaju sampai ke semifinal di Qatar 2022. Reputasi Brasil pun runtuh seketika dan semakin menegaskan bahwa Brasil memang tak layak jadi kandidat juara tahun ini.</p>
<p>Dari segi apapun, Maroko jelas tak sebanding dengan Brasil yang datang ke Piala Dunia 2026 dengan lima bintang di Jersey, sebagai penanda lima kali mereka juara Piala Dunia. Tidak ada negara lain yang bisa menyamai jumlah bintang Brasil itu.</p>
<p>Tapi kini, bisa-bisanya negara Maghribi yang pemainnya yang merumput di klub elit Eropa tak sampai sebanyak jari di satu tangan, bisa membuat Brasil terlihat bodoh selama 90 menit. Tidak hanya bodoh, tapi juga buruk, gugup, dan bukan seperti tim yang selalu dijagokan juara setiap helat Piala Dunia.</p>
<p>Inilah yang membuat Brasil heboh, marah, dan malu tentu saja. Nama besar Brasil sebagai pemilik sejati gaya permainan legend yang dulu dikenal dunia dengan tarian Samba, seperti menguap entah kemana. Yang ada hanya Brasil yang biasa-biasa saja.</p>
<p>Parahnya, yang ada hanya Brasil yang terlihat gentar dengan style petarung tanpa rasa takut yang ditunjukkan Achraf Hakimi dan kolega. Jelas, laga perdana Brasil di Stadion yang bakal jadi venue partai final pada 19 Juli 2026 mendatang itu sangat buruk.</p>
<p>Hasilnya, pelatih Carlo Ancelotti jadi sasaran kemarahan para fans, dan menjadi tumpuan kritik tajam media. Bahkan para legenda sepakbola Brasil semacam Ronaldo, Romario, atau Roberto Carlos, juga tak terima Brasil bermain dengan kualitas seperti itu di ajang Piala Dunia.</p>
<p>Tidak salah, jika reaksi negatif dan gelombang kritik tajam datang dari penjuru negara terbesar di Amerika Selatan itu. Bagi rakyat Brasil sepakbola tak hanya sekadar pemainan, tapi sudah menjadi identitas, kebanggaan, bahkan &#8220;agama&#8221;.</p>
<p>Bagaimana mungkin, Brasil yang menjadi salah satu nafas, acuan, dan barometer tertinggi peta sepakbola duni, bermain melawan Maroko tanpa arah yang jelas. Padahal, skuad yang dibawa Ancelotti cukup bertabur bintang Eropa.</p>
<p>Tapi mereka gagal bermain sebagai sebuah kesatuan tim yang solid. Lini tengah mereka dikritik karena terlalu mudah ditembus oleh para gelandang Maroko yang agresif, percaya diri, dan sama sekali tidak minder dengan kemewahan skuad Brasil.</p>
<p>Dengarlah pengakuan pencetak gol penyelamat Brasil, Vinícius Júnior, yang secara jujur mengakui bahwa timnya memulai turnamen dengan catatan yang sangat buruk. Bintang Real Madrid bernilai 150 juta Euro itu mengakui timnya kesulitan menguasai bola, pergerakan antarpemain sangat kaku, dan pertahanan mereka sangat rapuh terhadap serangan balik cepat Maroko.</p>
<p>Tidak salah Vini Junior berkomentar seperti itu, faktanya berdasarkan data dari opta super komputer, rapor rata-rata pemain Brasil sangat buruk dalam pertandingan itu. Hanya Vinicius yang mendapat nilai 8 dan kiper Alison yang dinilai 7,5.</p>
<p>Selebihnya, rata-rata nilai penampilan mereka ada di angka 6. Bahkan ada yang penampilannya hanya layak dinilai dengan angka 5. Sialnya yang mendapat angka rendah itu semuanya pemain tengah yang menjadi urat nadi permainan, seperti Lucas Paqueta, Casemiro, dan Bruno Guimareas.</p>
<p>Jika Brasil tak mampu meningkatkan kualitas permainan di laga-laga berikutnya, maka ambisi Brasil untuk kembali mengangkat piala emas sebagai juara dunia yang terakhir mereka rebut 24 tahun lalu di Piala Dunia 2002 patut dipertanyakan.</p>
<p>Faktanya dari sekian banyak prediksi dan analisis tentang calon juara Piala Dunia 2026, tak ada satupun yang menempatkan Brasil sebagai kandidat juara, Bahkan untuk sekadar masuk semifinal pun tidak ada. Sepertinya takdir Brasil memang sedang berjalan, dan harus siap-siap memperpanjang puasa gelar Piala Dunia mereka.</p>
<p>Brasil sekarang bukanlah Brasil yang dulu. Brasil yang sejak era 1950-an tak pernah kehabisan dan silih berganti melahirkan talenta terhebat sepakbola dunia, kini mulai ditelan perubahan zaman. Mulai dari Pele, Zico, Romario, Ronaldo, Kaka, Ronaldinho, sampai Vinicius Junior sakarang.</p>
<p>Sepakbola era sekarang sudah berubah, berevolusi dengan cepat, dan kekuatan sepakbola dunia itu sudah semakin merata. Tidak ada lagi istilah super power dalam sepakbola. Karena sekarang negara-negara Asia atau Afrika yang di era tahun 1970 &#8211; 1990 an selalu menjadi lumbung gol di setiap Piala Dunia, kini sudah bisa memberikan level perlawanan yang setara.</p>
<p>Mungkin betul ulasan media besar Brasil O Globo, bahwa Brasil telah membuat kesalahan besar merekrut Carlo Ancelotti sebagai pelatih Timnas mereka. Bagaimanapun Don Carlo adalah pria Italia, yang dalam otakya sudah terpatri gaya sepakbola tanah asalnya yang kaku, dan tak ada indah-indahnya.</p>
<p>Kini gaya kaku itu terbawa ke sepakbola Brasil yang pada dasarnya adalah perpaduan atraktif, kegembiraan, dan keindahan jogo bonito, yaitu seni olah bola mematikan.</p>
<p>Dalam konteks Piala Dunia, dari lima kali jadi juara Brasil selalu ditangani oleh pelatih lokal mereka. Sepertinya nama besar Ancelotti yang mengkilap dan disegani saat menangani berbagai klub raksasa di Erpa, membuat PSSI-nya Brasil tergiur mengambil Don Carlo. Menarik ditunggu apa yang akan dilakukan Ancelotti di laga Brasil berikutnya.(*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/features-kesalahan-terbesar-brasil-bernama-don-carlo-oleh-rizal-marajo/">Kolom: Kesalahan Terbesar Brasil Bernama Don Carlo</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Features Lebaran: Nenek dan Gulai Itik Lado Hijau</title>
		<link>https://prokabar.com/features-lebaran-nenek-dan-gulai-itik-lado-hijau/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 May 2021 17:19:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#features]]></category>
		<category><![CDATA[#hijau]]></category>
		<category><![CDATA[#lado]]></category>
		<category><![CDATA[#nenek]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=87320</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo LAUNGAN  takbir itu masih terdengar mendayu-dayu dari mesjid  di kampung saya. Gerimis membuat suara takbir terkadang menjadi hilang-hilang timbul. Ramadhan sudah...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/features-lebaran-nenek-dan-gulai-itik-lado-hijau/">Features Lebaran: Nenek dan Gulai Itik Lado Hijau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Rizal Marajo</strong></p>
<p><strong>LAUNGAN</strong>  takbir itu masih terdengar mendayu-dayu dari mesjid  di kampung saya. Gerimis membuat suara takbir terkadang menjadi hilang-hilang timbul.</p>
<p>Ramadhan sudah pergi, dilepas dengan rasa sedih. Penghulu bulan itu dilepas dengan suara takbir yang bersahutan, menikam ulu hati.</p>
<p>Suara yang didengar itu adalah suara fitrah manusia, suara kesucian. Setiap anak manusia memiliki fitrah itu, terbawa serta sejak lahir.</p>
<p>Namun, sering terabaikan karena kesibukan dan dosa-dosa. Suaranya begitu lemah, hanya sayup-sayup terdengar. Kini suara itulah yang dikumandangkan pada Idul Fitri ini.</p>
<p><em>Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar..</em><br />
<em>Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allahu akbar wa lillaahil-hamd.</em><br />
semoga kita kembali dapatkan Fithrah itu.</p>
<p>Seorang nenek, termenung diterpa rasa sangat rindu ingin melihat wajah anak dan cucunya. Ini lebaran kedua, tak bertemu orang-orang tersayang yang jauh di tanah seberang.</p>
<p>Pandemi masih menjadi pembatas ruang rindu sang nenek. Gulai Itik lado hijau sudah dimasak. Gulai ini kebanggaannya, tidak ada yang bisa manandingi kelezatan gulai buatannya di kampung ini.</p>
<p>Kalamai dan anak inti juga sudah dibuat. Jenis makanan yang memang sengaja nenek bikin hanya setahun sekali saat lebaran.</p>
<p>Biasanya makanan itu luar biasa enak, apalagi dimakan bersama-sama dengan anak cucu yang pulang dari rantau. Karena dibikin dengan melibatkan cinta di dalamnya. Ini alasan yang mungkin sangat sentimentil, tapi sangat masuk akal.</p>
<p>Tapi corona telah menghancurkan banyak hal, salah satunya adalah kebahagiaan nenek yang sudah sangat rindu ingin melihat wajah anak dan cucu mereka.</p>
<p>Hanya bisa mengurut dada, video call dengan anak cucu sedikit mengobati rindu. Tapi pastinya tidak akan paripurna,</p>
<p>Bagi nenek, mungkin sudah tak ada kebahagiaan lain selain melihat saudara-saudaranya, anak-anak, cucu-cucu berkumpul. Mereka saling mengenal, sambil berharap semoga kelak mereka akan saling melanjutkan persaudaraan.</p>
<p>Kebahagiaan yang hanya bisa tervalidasi tiap kali lebaran datang. Tapi apa daya, ketika pandemi corona ini bertamu dan tak kunjung beranjak pergi, bisa dibayangkan betapa akan sunyi dan senyapnya pengalaman lebaran nenek tahun ini.</p>
<p>Saya membayangkan, betapa ia akan tetap memasak gulai itik lado ijau,, kalamai, dan anak inti dengan jumlah yang sama, untuk kemudian menatapnya lekat-lekat di hari kedua lebaran, sebab tak banyak yang berkurang.</p>
<p>Ia juga akan menatap toples-toples berisi kue-kue kering, kacang tojin, kue kamaloyang, atau kue sapik. Aneka kudapan yang sudah ia sediakan khusus untuk anak cucunya yang ternyata tidak jadi pulang.</p>
<p>Nenek tahu apa itu corona, ia tahu bahwa corona adalah penyakit berbahaya dan menular, namun tentu saja ia tak akan menyangka. bahwa penyakit itu sedemikian jahatnya sampai mencegah anak-anak cucunya untuk pulang dan menemuinya.</p>
<p>Saya yakin, perempuan tua tak takut dengan corona atau penyakit apa pun, ia jauh lebih takut pada sepi dan kesendirian yang perlahan akan mulai ia cicil di masa lebaran tahun ini.</p>
<p>Nenek itu, hanya salah satu orang tua kesepian di kampung saya. Dia masuk dalam parade wajah-wajah tua dan renta dari kakek dan nenek di banyak daerah di Indonesia.</p>
<p>Parade wajah sendu yang harus menerima kenyataan bahwa corona menghancurkan salah satu kebahagiaan terbesar mereka. Hari ini begitu berbeda dari hari raya tahun-tahun sebelumnya.</p>
<p>Seperti ada yang hilang, ada yang berjalan tak seperti biasanya. Kesepian ini terlalu menikam ulu hati, menyusup jauh ke relung hati terdalam.</p>
<p>Banyak maaf, lahir dan bathin. <strong>(*)</strong></p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/features-lebaran-nenek-dan-gulai-itik-lado-hijau/">Features Lebaran: Nenek dan Gulai Itik Lado Hijau</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Features: Ketika Anak Nunang Menembus Eropa, Dingin dan Membeku di Kota Praha</title>
		<link>https://prokabar.com/features-ketika-anak-nunang-menembus-eropa-dingin-dan-membeku-di-kota-praha/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi7]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 May 2020 15:11:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bola]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[#features]]></category>
		<category><![CDATA[#mht]]></category>
		<category><![CDATA[#NilMaizar]]></category>
		<category><![CDATA[#nunang]]></category>
		<category><![CDATA[#Praha]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://prokabar.com/?p=67555</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Rizal Marajo (Wartawan Utama) &#8220;Saat Kurniawan Dwi Julianto diblow-up media Indonesia ketika bermain di klub Eropa bersama FC Lucerne Swiss, dan Bima Sakti...</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/features-ketika-anak-nunang-menembus-eropa-dingin-dan-membeku-di-kota-praha/">Features: Ketika Anak Nunang Menembus Eropa, Dingin dan Membeku di Kota Praha</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li style="text-align: center"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-67594" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/medal-219x300.jpg" alt="" width="207" height="284" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/medal-219x300.jpg 219w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/medal-747x1024.jpg 747w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/medal-768x1053.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/medal-1120x1536.jpg 1120w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/medal.jpg 1331w" sizes="(max-width: 207px) 100vw, 207px" /><br />
Oleh: <strong>Rizal Marajo<br />
(Wartawan Utama)</strong></li>
</ul>
<p style="text-align: center"><em><strong>&#8220;Saat Kurniawan Dwi Julianto diblow-up media Indonesia ketika bermain di klub Eropa bersama FC Lucerne Swiss, dan Bima Sakti di klub Helsingborg Swedia, ternyata jauh sebelum itu tanpa gembar-gembor media sudah ada putra Indonesia yang menembus tembok tebal kompetisi Eropa. Empat pemain muda dari proyek Garuda II, ternyata sudah mencicipi kompetisi Eropa awal 1990-an. Salah satunya, adalah Nilmaizar, anak Minang tulen dari Nunang. Payakumbuh</strong></em></p>
<p style="text-align: center"><strong>**********</strong></p>
<p>Setelah tim Garuda II berlatih selama dua bulan di Cekoslowakia, tim kembali ke Tanah Air. Tapi seminggu kemudian, empat pemain harus terbang kembali ke Praha. Mereka adalah Agus Yuwono, Rochy Poetiray, Heriansyah, dan Nilmaizar.</p>
<p>Penanggungjawab Tim Garuda II Sigit Hardojuyanto dan Ismet Tahir memerintahkan empat pilar itu harus berlatih di Ceko, karena dinilai berpotensi besar menjadi pemain sepakbola yang berkualitas.</p>
<p>&#8220;Agustus 1990, saya bersama Agus, Rochy dan Herry kembali ke Praha, membuat kami dijuluki media sebagai “Kwartet Eropa”. Alasan pengiriman kami ke Eropa lagi, seperti disebutkan penanggungjawab Tim Garuda II, karena kami adalah pemain yang sangat potensial, dan perlu diberi pengalaman bermain lebih banyak di Eropa.&#8221;ujar Nil memulai cerita.</p>
<p>Selain itu, pelatih Josef Masopust juga menyebutkan, sejumlah klub di Praha tertarik untuk memberikan kesempatan kepada keempat pemain itu untuk berlatih di sana. &#8220;Hal ini tentu sejalan dengan status kami sebagai pilar Tim Garuda II dan Tim Pra Olimpiade, kami diharapkan bisa mengecap pengalaman bermain di Eropa dengan iklim kompetisi yang sehat dan kompetitif.&#8221;ucap Nil</p>
<p>Nil mengisahkan, berangkat ke Praha bulan Agustus 1990. Saat itu, mulai memasuki musim gugur, dan cuacanya mulai dingin. &#8220;Jika rencana trial itu benar-benar berlangsung selama empat setengah bulan, maka kami akan ada disana sampai akhir tahun. Itu artinya kami akan berhadapan dengan musim dingin.&#8221;</p>
<p>Sungguh sebuah pengalaman yang berharga, empat pemain muda yang baru berumur 20 tahun, harus bertarung dengan segala kondisi yang serba baru. Harus mandiri, bertarung dan beradaptasi dengan cuaca, juga dengan gaya hidup masyarakat setempat. &#8220;Kami juga harus siap berkomunikasi apa adanya, karena kami tak dibekali bahasa setempat. Bahasa Inggris kamipun, boleh dikatan cuma pas-pasan.&#8221;</p>
<p>Namun tekad kuat mengalahkan segalanya, keinginan mencari ilmu dan menambah pengalaman sebagai pemain sepakbola, lebih menantang ketimbang mengeluhkan cuaca dingin dan suasana asing di sekeliling. &#8220;Satu tekad, kami datang kesini pasti karena PSSI dan Indonesia ingin menjadikan kami pesepakbola yang baik, dan pada akhirnya berguna untuk membela negara, hanya itu.&#8221;tegas Nil</p>
<p>Di Praha, Nil bersama Agus dititipkan berlatih di klub terkemuka di Cekoslowakia waktu itu, Sparta Praha. Sedangkan Rochy dan Herry berlatih di klub Dukla Praha. Meskipun berstatus pemain “tamu” dari negara yang secara kultur dan reputasi hanya negara “antah berantah” di jagat sepakbola dunia, tapi mereka mendapat sambutan sangat bersahabat.</p>
<p>Di Sparta Praha itulah, Nil mendapat kesempatan berlatih dengan bintang-bintang timnas Cekoslowakia. Sebut saja Jan Stejskal, Julius Bielik, Michael Bilek, Thomas Hasek, Vaclav Nemecek, dan Thomas Skuhravy. Mereka semuanya anggota tim nasional Cekoslowakia yang baru saja pulang dari Piala Dunia 1990 di Italia sebulan sebelumnya.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-67557" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/anil-4-300x232.jpg" alt="" width="572" height="442" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/anil-4-300x232.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/anil-4.jpg 502w" sizes="(max-width: 572px) 100vw, 572px" /></p>
<p>&#8220;Saya dan Agus memang hanya berlatih di Sparta Praha, begitupun Rochy dan Herry di Dukla. Tapi untuk berkompetisi saya dan Agus bermain untuk klub Benesov . Sedangkan Rochy dan Herry di klub Montaza. Baik Benesov maupun Montaza adalah klub Divisi II Liga Cekoslowakia.&#8221;</p>
<p>Benesov adalah kota di wilayah Bohemian Tengah Cekoslowakia, berjarak sekitar 40 km sebelah Tenggara ibukota Praha. Sedangkan Montaza adalah kawasan masih di sekitar kota Praha.</p>
<p>Selama empat setengah bulan berlatih di Cekoslawakia. Hal positif yang Nil dapatkan, dapat merasakan suasana sepakbola yang sesungguhnya. Berlatih di klub yang sangat profesional, dan bertanding di kompetisi yang tertata rapi, dan dikelola secara profesional pula.</p>
<p>&#8220;Saya dan Agus selama empat bulan, memang tak masuk dalam pemain reguler yang selalu dimainkan sebagai starting XI di setiap laga Benesov. Saya terkadang masuk sejak menit pertama, tapi di ganti di babak kedua. Atau saya masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua. Bahkan, ada yang sama sekali tak dimainkan dalam satu pertandingan.&#8221;kenang Nil</p>
<p>&#8220;Empat setengah bulan, memang bukan waktu yang cukup untuk menyerap semua ilmu yang ada disana. Namun, banyak pengalaman yang kami dapatkan dengan waktu sesingkat itu. Setidaknya, kami sudah punya pengalaman bermain di Eropa.&#8221;lanjutnya.</p>
<p>Bisa dikatakan, Nil dan kawan-kawan adalah pemain-pemain Indonesia pertama yang mampu menembus tembok tebal bermain di Eropa. Tanpa gembar-gembor dan publikasi berlebihan. Beberapa pemain generasi dibawah mereka, seperti pemain PSSI Primavera di Italia, yang sempat bermain di Eropa mendapat porsi publikasi yang begitu luas, dan sedikit berlebihan ketika mereka mendapat kesempatan bermain di klub benua biru itu.</p>
<p>Sebutlah misalnya Kurniawan Dwi Julianto dan Indriyanto Nugroho di FC Luzerne, Swiss, Kurnia Sandy di Sampdoria, atau Bima Sakti di Helsingborg, Swedia. Sepertinya, mereka dianggap pioneer pemain Indonesia yang mampu menembus Eropa.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-67558" src="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/2019-5-300x165.jpg" alt="" width="638" height="351" srcset="https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/2019-5-300x165.jpg 300w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/2019-5-1024x564.jpg 1024w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/2019-5-768x423.jpg 768w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/2019-5-1536x847.jpg 1536w, https://prokabar.com/wp-content/uploads/2020/05/2019-5.jpg 1669w" sizes="auto, (max-width: 638px) 100vw, 638px" /></p>
<p>&#8220;Tapi sesungguhnya jauh sebelum mereka, saya, Agus, Rochy, dan Herry sudah lebih dulu merasakannya. Itu semua karena publikasi media yang terlalu berlebihan akan kiprah Eropa mereka.&#8221;</p>
<p>Selain pengalaman berlatih dan bermain di Cekoslowakia, Nil mengaku juga merasakan bagaimana hidup mandiri di kota seperti Praha. Semuanya harus dipelajari dan dibiasakan sendiri, misalnya soal transportasi, tinggal di aparteman, kuliner, dan tentunya beradaptasi dengan cuaca musim dingin.</p>
<p>Tapi untunglah mereka tak benar-benar kesepian disana. Karena disaat-saat senggang mereka bisa merasakan suasana yang Indonesia sekali, ketika berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia. Bertemu dengan orang-orang sebangsa, sungguh sebuah obat yang ampuh untuk mengobat kerinduan pada Tanah Air.</p>
<p>Tapi, musim dingin bagi mereka yang dari negara tropis, sejatinya memang cukup menyiksa diri dan membutuhkan kekuatan fisik dan mental untuk menghadapinya.  Kedinginan dan seolah membeku di Praha. Pernah mereka berlatih dibawah suhu minus 2 derajat.</p>
<p>&#8220;Saya dan Agus masih ingat, setiap kembali dari lapangan, hal pertama yang dicari adalah sesuatu yang bisa memanaskan badan. Berpegangan pada pipa gas pemanas ruangan sangat efektif untuk menghangatkan badan. Selain itu, kami juga memilih berdiam di apartemen, kalau tak ada keperluan yang benar-benar penting keluar.&#8221;</p>
<p>Tapi sebagai pemain muda, situasi seperti itu tak urung membuat  home sick. Ya, merindukan rumah dan Tanah Air yang hangat. &#8220;Saking rindunya, sebulan sebelum pulang setiap hari saya dan Agus yang tinggal satu apartemen, merasa perlu menyilangi satu tanggal di kalender setiap hari. Untuk menghitung mundur hari kepulangan kami ke Indonesia.&#8221;</p>
<p>Akhirnya, setelah empat setengah bulan, waktu yang dinanti pun datang. Empat pemain muda itupun terbang menuju Jakarta. Mereka  rasanya tak sabar,  kalau bisa pesawat ini terbang lebih cepat dan segera mendaratkan rodanya di Tanah Air. Ketika roda pesawat menyentuh landasan di Bandara Cengkareng,  menjadi sebuah kebahagiaan yang tak terkira.</p>
<p>&#8220;Kami pun berempat “histeris” dan bertepuk tangan gembira, meluapkan kegembiraan dengan cara kami berempat. Tak peduli penumpang lain melihat kami dengan pandangan penuh tanda tanya. Yang jelas kami sangat bahagia bisa kembali menginjakan kaki di Tanah Air tercinta.&#8221;</p>
<p>Untuk selanjutnya keempat pemain bergabung kembali bersama rekan-rekannya di Tim Garuda II, menjalani berbagai program latihan, dan dipersiapkan sebagi proyek timnas masa depan Indonesia, yang salah satunya adalah untuk mencoba meraih tiket ke Olimpiade Barcelona 1992.(*)</p>
<p>The post <a href="https://prokabar.com/features-ketika-anak-nunang-menembus-eropa-dingin-dan-membeku-di-kota-praha/">Features: Ketika Anak Nunang Menembus Eropa, Dingin dan Membeku di Kota Praha</a> appeared first on <a href="https://prokabar.com">Prokabar</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 31/96 objects using Memcached
Page Caching using Disk: Enhanced 
Lazy Loading (feed)
Database Caching 3/15 queries in 0.018 seconds using Redis

Served from: prokabar.com @ 2026-10-08 00:00:54 by W3 Total Cache
-->